“Melukis Gua”. Lukisan karya Charles R. Knigh, 1920 (sumber: http://www.wacana.co/2015/07/lukisan-gua-prasejarah/)

Dalam kehidupan masyarakat kapitalis, pembentukan division of labour adalah suatu hal yang dianggap sudah dari sananya, sesuatu yang alamiah, dan barangkali sudah jadi dogma. Kita dapat melihat justifikasi itu mulai dari pandangan Thomas Hobbes, J. J. Rousseau, John Locke, dan para filsuf lainnya perihal state of nature.[1] Tapi benarkah hal tersebut alamiah? Jangan-jangan hal tersebut hanya merupakan dongeng yang dibuat-buat guna melanggengkan prinsip kapitalisme yang menyamar dalam bentuk demokrasi liberal?

Guna menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita membuat telaah kritis pelaksanaan politik pada era prasejarah. Sebab, pandangan perihal evolusi spesies manusia dan juga jejak politik masyarakat manusia saat itu adalah satu-satunya cara yang relevan guna menjustifikasi kondisi alamiah manusia. Artikel ini bertujuan untuk membuktikan bahwa manusia sejak zaman prasejarah tidak mengenal adanya pembagian kerja secara alamiah, melainkan lebih karena adanya desakan kondisi material hidupnya. Dengan demikian, paparan bagaimana politik masyarakat prasejarah dapat menjustifikasi state of nature secara materialistik, bukan secara idealistik macam Hobbes, dkk.

Konsekuensi logis jika state of nature ternyata bersifat materialistik adalah runtuhnya asumsi yang menyatakan bahwa pembagian kerja merupakan sesuatu yang sudah terjadi secara alamiah. Pasalnya dalam diskursus konstelasi politik—dari zaman dahulu hingga sekarang—pembahasan division of labour masihlah sangat relevan. Sialnya pembagian kerja di era kapitalisme lanjut sudah menjalar ke berbagai bidang kehidupan manusia. Misalnya, di bidang seni lewat pengklasifikasian antara seniman (produsen), kritikus seni (yang menilai kelayakan sesuatu sebagai seni/distributor), kolektor seni (konsumen), pemilik galeri seni (tuan tanah), dan artefak/produk kesenian (komoditas yang diperdagangkan). Di bidang pendidikan. lewat pangkat bertingkat mulai dari dosen biasa sampai guru besar, bahkan di dalam birokrasi pemerintahan pun sudah terjadi pembagian kerja secara spesifik. Maka dari itu, perlu adanya pembuktian secara materialistik kondisi alamiah manusia. Konsekuensi logis lainnya ialah membuktikan bahwa materialisme dialektis sebagai pisau analisis Marxisme terbukti kebenarannya. Pasalnya dunia ini bergerak secara dialektis dari kondisi material yang riil dan bukan dari rasio atau Idea semata.

Evolusi Politik Spesies Manusia

Pada era prasejarah suku Hominini (leluhur manusia) mulai terpisah dari suku Panini (sebangsa simpanse dan bonobo) sejak sekitar 8 juta tahun yang lalu.[2] Dalam sejarah panjang evolusi, Hominini dan Panini mulai terpisah dan puncaknya terjadi dalam peralihan modus gerak kuadrupedal (berjalan dengan empat kaki) ke modus gerak bipedal (berjalan dengan dua kaki). Peralihan ke bipedal meninggalkan riwayat penyakit yang masih jamak hingga saat ini: terkilir, radang sendi (encok), hernia, buruknya sirkulasi darah di kaki—juga masalah seperti penyempitan jalur lahir.[3] Para ahli mengatakan kekurangan ini ditutupi dengan efisiensi energi (dibanding kuadrupedal) dan memungkinkan gerak tangan yang bebas serta berguna bagi produksi perkakas. Perluasan daya jelajah Hominini juga meningkat dibanding simpanse dan bonobo sehingga memungkinkan akses atas berbagai sumber makanan yang jauh dan terpencar. Hasil akhir dari cakrawala kerja yang dibukakan oleh bipedalisme ini adalah pembesaran volume otak manusia (esenfalisasi).

Konsekuensi logis jika state of nature ternyata bersifat materialistik adalah runtuhnya asumsi yang menyatakan bahwa pembagian kerja merupakan sesuatu yang sudah terjadi secara alamiah.

Masalah lain bipedalisme ialah keamanan. Dengan berdiri tegak, hominin lebih mudah terlihat hewan pemangsa. Selain tanpa taring seperti saudara mereka, bangsa babun, para hominin nyaris tak punya harapan berhadapan dengan hewan pemangsa. Lantas cara mereka bertahan ialah dengan menggunakan siasat politik. Mereka mengorganisasikan diri ke dalam kelompok, mempraktikkan pembagian kerja, dan mengelola hubungan sosialnya agar mampu bertahan hidup di tengah buasnya alam.

Masyarakat hominin primitif adalah masyarakat gerombolan yang belum mengenal individualitas. Pembagian kerja ekonomis terwujud dalam masyarakat hominin purba mencerminkan kenyataan tersebut. Pencaharian utama Masyarakat Homo erectus bukan berburu, melainkan memulung (scavenge) sisa makanan hewan-hewan pemangsa.[4] Mereka berebut dengan gerombolan burung pemakan bangkai dan menggunakan perkakas batu sederhana guna memecah tulang lalu mengambil sumsumnya. Manurut Dede Mulyanto, pembagian kerja dalam masyarakat Homo erectus sangatlah cair.[5] Tidak ada pembagian kerja berdasarkan kelamin atau usia, melainkan antara anggota kelompok yang produktif (jantan dan betina yang tidak sedang dalam masa reproduktif) dan anggota kelompok yang non-produktif (anak-anak, anggota tua, betina yang tengah mengandung atau menyusui, anggota yang sedang sakit). Dari sini terlihat bahwa konsepsi tentang pembagian kerja yang kita anggap “kolot” (lelaki bekerja, perempuan mengurus anak) bukanlah tatanan kodrati, melainkan merupakan bentuk evolusi lanjutan dari masyarakat egalitarian Homo erectus.

Jika kita beralih ke Homo sapiens, kita menjumpai perubahan dalam cara berproduksi masyarakat hominin. Mereka tidak lagi bergantung pada aktivitas pemulungan sisa makanan, melainkan secara aktif dan kolektif berburu hewan seperti kijang, kuda, bison, dan kerbau. Dengan adanya perburuan masyarakat hominin memerlukan organisasi sosial yang lebih kompleks. Perburuan mensyaratkan komunikasi terperinci dan karenanya sistem linguistik yang kompleks,[6] aparatus ideologis yang memungkinkan pemaknaan atas teknik berburu (syamanisme, “agama”, “seni”), produksi sistematis atas sarana produksi, domestifikasi anjing, dan juga metode perhitungan kontribusi sosial setiap anggota kelompok yang berdampak pada sistem bagi hasil yang pelik. Pemutakhiran perkakas ideologis dan teknis pun berlanjut sampai perkembangan manusia saat ini.

 konsepsi tentang pembagian kerja yang kita anggap “kolot” (lelaki bekerja, perempuan mengurus anak) bukanlah tatanan kodrati, melainkan merupakan bentuk evolusi lanjutan dari masyarakat egalitarian Homo erectus.

Dari penjelasan sebelumnya jelas terlihat bagaimana pelbagai bentuk evolusi perkembangan manusia secara riil mempengaruhi corak produksi masyarakat hominin purba. Pada titik inilah pembahasan materialisme dialektis pada era prasejarah menjadi relevan. Sebab, mengikuti padangan Tran Duc Thao lewat analisa historis-antropologis, “formasi kesadaran yang konstitutif secara mutlak terhadap realitas adalah cerminan dari formasi kepemilikan privat atas realitas”.[7]

Materialisme Dialektis Hominin Purba

Realitas tidak memberikan dirinya sendiri pada kesadaran secara kognitif saja, melainkan memberikan dirinya sebagai sesuatu untuk diolah melalui kerja. Dengan kerjanya, kesadaran masyarakat hominin purba dapat menyematkan makna pada dunia sehingga mentransformasi dunia objektif—rimba raya yang buas—menjadi dunia manusia. Dengan mengerjakan realitas, dengan memaknainya secara konkret, sebagian dari realitas menjadi milik manusia, menjadi realitas yang manusiawi. Konstitusi kerja atas dunia ini mengemuka dalam organisasi masyarakat hominin purba. Melalui pembagian kerja yang spesifik seturut fungsi-fungsinya dalam masyarakat saat itu, manusia yang hakikatnya kolektif—cakrawala pemikirannya kolektif—bertransformasi menjadi manusia yang individual seperti saat ini.

Dalam masyarakat “berburu dan meramu”, misalnya, senjata pemburuan dan perkakas dimiliki secara individual, sementara ladang perburuan dimiliki secara komunal. Kepemilikan privat atas sarana produksi dalam masyarakat purba ini dialami sebagai unio mystica (kesatuan mistik) antara pemilik dan benda miliknya.

Dalam cakrawala realitas kepemilikan privat saat ini, realitas eksternal ditolak karena satu-satunya realitas yang diakui hanyalah realitas yang dapat dimiliki. Hal tersebut bagi masyarakat hominin purba terjadi ketika kondisi alam memaksa mereka untuk menemukan sebuah bentuk aparatus ideologis yang tepat guna kelancaran berburu. Pembagian kerja secara spesifik inilah yang mengakibatkan realitas eksternal ditolak karena ia hanya dapat diakui sejauh dapat dimiliki—hal yang berguna bagi kelangsungan hidup manusia akan diperbaharui terus.

Konstitusi kerja atas dunia berangkat dengan penemuan perkakas kerja sederhana macam batu-batuan. Dengannya masyarakat hominin purba mengolah dunia menjadi cakrawala yang bermakna baginya. Proses individual pun terjadi pada masyarakat hominin melalui pembagian kerja. Melaluinya terbentuk sistem kepemilikan privat atas alat-alat produksi dalam bentuknya yang sederhana. Dalam masyarakat “berburu dan meramu”, misalnya, senjata pemburuan dan perkakas dimiliki secara individual, sementara ladang perburuan dimiliki secara komunal. Kepemilikan privat atas sarana produksi dalam masyarakat purba ini dialami sebagai unio mystica (kesatuan mistik) antara pemilik dan benda miliknya.[8]

Kesatuan mistik dengan objek kemudian melahirkan aparatus ideologis baru guna menjustifikasi lahan kepemilikan, yaitu dengan menggunakan mitos. Kekerabatan mistik suku Aborigin misalnya, menyebut sebuah suku akan menyebut kelompoknya seturut nama bintang atau tumbuhan yang ada di wilayah mereka. Dengan kekerabatan mistik itu ditegaskan bahwa tanah ini adalah milik suku kami sejak zaman alcheringa (masa mimpi).[9] Efektivitas sarana produksi yang ditopang oleh justifikasi mistik dengan demikian mampu mengkonsolidasikan hierarki ekonomi feodal dalam bentuk purbanya. Konsep supranatural kemudian menemukan abstraksi lebih lanjut dalam bentuk dewa-dewa. Kegaiban mulai terstartifikasi melalui formasi tuan-tuan tanah feodal yang juga inheren dengan kepemilikan tanah.

Pada titik ini, menjadi jelas bahwasanya segala sesuatunya pada awalnya bergerak dari hal yang materialistik, kemudian karena munculnya mistifikasi pada objek dan dewa-dewa pembagian kerja dialihkan secara idealistik nan penuh akan mitos. Kembali pada hal yang material adalah seruan yang tak bisa lagi dielakkan. Mistifikasi atas agama akhir-akhir ini dijadikan pula sebagai alat pelegitimasian penindasan atas sesama manusia. Bentuk tatanan sosial patriakhis pun juga dipermak sedemikian rupa untuk mempertahankan privilese yang ada. Dengan kembali kepada yang material, eksploitasi manusia atas manusia perlahan-lahan dibebaskan dari mitos dan pada muaranya ditunjukkan pada pertentangan kelas.


Catatan Akhir:

[1] Lih., “State of Nature.” New Dictionary of the History of Ideas. Encyclopedia.com. (December 17, 2017). http://www.encyclopedia.com/history/dictionaries-thesauruses-pictures-and-press-releases/state-nature

[2] Lih., Martin Suryajaya, Sejarah Pemikiran Politik Klasik dari Prasejarah Hingga Abad ke-4 M, Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2016, hal. 23.

[3] Lih., Robert F. Wenke dan Deborah J. Olszewski, Pattern in Prehistory: Humankind’s First Three Million Years (Fifth Edition), Oxford: Oxford University Press, 2007, hal. 116.

[4] Ibid., Robert F. Wenke dan Deborah J, hal. 137.

[5] Lih., Dede Mulyanto, “Kontradiski bipedal-ensefalisasi dan prakondisi biologis organisasi sosial primitif manusia: sebuah tafsir materialis-dialektis”. Dalam Jurnal IndoProgress Vol. II Agustus 2014, hal. 31-50.

[6] Lih., Wendy K. Wilkins, “Mosasic neurobiology an anatomical plausibility”. Dalam Rudolf Botha dan Chris Knight, De. The Prehistory of Language, Oxford: Oxford University Press, 2009, hal. 266-285.

[7] Lih., Martin Suryajaya, Materialisme Dialektis Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer, Yogyakarta: Resist Book, 2012, hal. 198.

[8] Ibid., Martin Suryajaya, hal. 200.

[9] Lih., Tran Duc Thao, Existensialisme et Materialisme Dialectique. Dalam jurnal Revue Ed Metaphysique et Ed Morale vol. 58, No. 2-3. Diakses via (http://www.viet-studies.info/TDThao/TDThao_existensialisme_materialism.htm).

Daftar Pustaka:

“State of Nature.” New Dictionary of the History of Ideas. Encyclopedia.com. (December 17, 2017). Diakses via http://www.encyclopedia.com/history/dictionaries-thesauruses-pictures-and-press-releases/state-nature.

Mulyanto, Dede. “Kontradiski bipedal-ensefalisasi dan prakondisi biologis organisasi sosial primitif manusia: sebuah tafsir materialis-dialektis”. Dalam Jurnal IndoProgress Vol. II Agustus 2014, hal. 31-50.

Suryajaya, Martin. 2012, Materialisme Dialektis Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer, Yogyakarta: Resist Book.

Suryajaya, Martin. 2016, Sejarah Pemikiran Politik Klasik dari Prasejarah Hingga Abad ke-4 M, Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

Tran Duc Thao, Existensialisme et Materialisme Dialectique. Dalam jurnal Revue Ed Metaphysique et Ed Morale vol. 58, No. 2-3. Diakses via (http://www.viet-studies.info/TDThao/TDThao_existensialisme_materialism.htm).

Wenke, Robert F. dan Deborah J. Olszewski. 2007, Pattern in Prehistory: Humankind’s First Three Million Years (Fifth Edition), Oxford: Oxford University Press.

Wilkins, Wendy K. “Mosasic neurobiology an anatomical plausibility”. Dalam Rudolf Botha dan Chris Knight, De. The Prehistory of Language, Oxford: Oxford University Press, 2009, hal. 266-285.

 

Facebook Comments