Ilustrasi (sumber: https://www.mexperience.com/mexicos-time-zones/)

Apakah keberadaan “masa lalu” dan “masa depan” dimungkinkan ada? Selama ini, manusia, selalu disuguhkan dengan pemahaman bahwa persepsi tentang waktu itu linier: ada masa lalu, ada masa kini, dan ada masa depan. Penjelasannya, “masa lalu” adalah apa yang telah terjadi dan manusia telah lewati, dan “masa depan” adalah apa yg belum terjadi dan mungkin saja terjadi atau terlewati[1]. Pertanyaannya, apakah persepsi tentang waktu benar linier? Mengapa persepsi tentang waktunya seolah hanya berjalan satu arah? Pernahkah mencoba untuk menggugatnya?

Kekeliruan dalam mempersepsikan pola waktu menjadi liner adalah wajar, terlebih mengadopsi pola waktu tersebut ketika populer, karena persepsi populer memberikan manusia impresi yang begitu kuat bahwa manusia adalah being yang hidup dan berusaha menafsirkan semesta, namun tidak berusaha menjelaskan bagaimana keadaan semesta yang manusia tinggali.

Artikel ini, berupaya untuk menggugat pemahaman populer[2] bahwa persepsi tentang waktu adalah linier, melalui perandaian dalam film fiksi ilmiah populer: “2001: A Space Odyssey” tahun 1968 dan “Arrival” tahun 2016. Peneliti menyadari bahwa dalam kedua film tersebut, terdapat sebuah proposisi menarik perihal persepsi manusia atas waktu yang berbeda dengan persepsi manusia atas waktu populer saat ini. Pembahasan artikel ini menjadi menarik, khususnya mengenai kemungkinan bahwa bisa saja, persepsi manusia atas waktu populer yang diyakini merupakan bentuk penalaran yang mungkin keliru atas persepsi waktu. Melalui pembahasan tersebut, akan peneliti ungkapkan beberapa kemungkinan kekeliruan persepsi yang mungkin manusia terima atas waktu, namun sebelum itu, akan peneliti terlebih dulu bahas mengenai persepsi waktu linier yang diterima secara populer secara singkat.

Sejenak mengandaikan, jika “masa lalu” dan “masa depan” itu ada, maka bagaimana kita mengetahuinya? Padahal manusia hanya mungkin untuk memahami dan benar-benar yakin dengan “masa kini”. Argumentasi yang mudah untuk memahami “masa lalu” adalah dengan meyakini bahwa hal tersebut merupakan kejadian yang benar terjadi dan telah terjadi di belakang[3]. Argumentasi yang mudah untuk memahami “masa depan” adalah dengan menyakini bahwa hal tersebut merupakan kejadian yang mungkin terjadi dan mungkin terlewati di depan[4]. Kedua argumentasi tersebut merupakan argumentasi yang populer untuk menjelaskan persepsi waktu secara linier[5].

Kemungkinan kekeliruan persepsi atas waktu yang linier, peneliti sadari bahwa: 1) semesta adalah pengamat yang mandiri[6], 2) ketiadaan otentisitas yang benar-benar dapat dipegang teguh atas “masa lalu” dan “masa depan”[7], 3) ketidakmungkinan untuk meyakini benar-benar selain “masa kini”, 4) bila pun “masa depan” dianggap sebagai hal yang belum terjadi dan mungkin saja terjadi, tetap dalam penalaran tersebut, “masa depan” meminta “masa kini” untuk terjadi sebagai dasarnya, sehingga “masa depan” tetap terjadi dalam “ke-kini-an” yang berbeda tempat[8]. Peneliti meyakini bahwa persepsi atas waktu, yakni “masa lalu” dan “masa depan”, yang dipahami secara populer sebenarnya bila mungkin untuk dipikirkan lebih jauh hanyalah “kata” yang diungkapkan untuk menyatakan “masa kini” dalam bentuk dan tempat lain. “Masa lalu”, “masa kini”, dan “masa depan” adalah kesadaran manusia (dapat berlaku individu) tentang berbagai “masa kini” yang berjalan simultan. Sederhananya, “masa lalu” atau “masa depan” adalah kesadaran manusia di “masa kini” yang berusaha membayangkan ke-kini-an dalam keadaan dan situasi yang berbeda dalam semesta.

Peneliti mendasarkan pola penalaran tersebut pada argumentasi, bahwa suatu kejadian tidak dapat diyakini benar-benar terjadi tanpa ada subjek yang sadar atas peristiwa tersebut. Perandaian sederhana, anggap peneliti berada di dapur dan sedang memasak mie instan. Kejadian tersebut peneliti dapat yakini oleh sebab peneliti benar-benar sadar atas peristiwa tersebut. Akan tetapi bagaimana bila pada “peneliti yang berada di dapur” tersebut berandai bahwa peneliti sedang makan mie instan di ruang tamu, apakah kejadian tersebut dapat diyakini sebagai benar adanya? Tentu jawabannya adalah mustahil untuk diyakini dalam persepsi pola waktu linier, sebab hanya “masa kini” dengan ke-kini-annya yang dirasakan lah yang dapat meyakinkan subjek atas peristiwa yang terjadi[9].

Argumentasi yang mudah untuk memahami “masa lalu” adalah dengan meyakini bahwa hal tersebut merupakan kejadian yang benar terjadi dan telah terjadi di belakang. Argumentasi yang mudah untuk memahami “masa depan” adalah dengan menyakini bahwa hal tersebut merupakan kejadian yang mungkin terjadi dan mungkin terlewati di depan.

Berlaku hal yang sama dengan “masa lalu” dalam persepsi pola waktu linier, anggap “peneliti yang berada di ruang tamu” sedang berandai bahwa peneliti tadi sedang berada di dapur dan memasak mie instan. Kejadian tersebut secara populer dianggap sebagai “masa lalu” yang benar terjadi, namun bukankah dua perandaian tersebut sama? Kedua perandaian tersebut berada dalam ke-kini-annya masing-masing dan saling berandai satu sama lain, lantas bagaimana peneliti mampu meyakini siapa yang benar dan siapa yang salah? Jangan-jangan ketika peneliti sedang berada di dapur, di waktu yang sama, “peneliti yang sedang berada di ruang tamu” sedang memikirkan “peneliti yang di dapur” sebagai “masa lalu”.

Jadi, mustahil untuk meyakini secara benar-benar keberadaan “masa lalu” dan “masa depan”, karena yang dapat diterima adalah “masa kini” yang dirasakan saat ini juga. Gambaran sederha penalaran atas waktu ini[10] terdapat dalam film “2001: A Space Odyssey” (1968) dan “Arrival” (2016). Konsep waktu dalam film tersebut dijelaskan tidak se-linier yang manusia kira dan pahami. Persepsi atas waktu diyakini memiliki bentuk lingkaran yang berjalan secara simultan, masing-masing ke-kini-an dalam konteks “masa lalu”, “masa kini”, dan “masa depan” berjalan secara mandiri namun memiliki kesadaran satu yang utuh. Pada film “2001: A Space Odyssey” (1968) sosok David Bowman pada suatu kejadian ketika bersentuhan dengan idol monolith ketiga yang mengambang pada medan Jupiter, membuat David tertarik dan berpindah pada dimensi “Sang Pengamat Semesta[11]”. Pada satu titik, David tiba di sebuah ruangan bergaya klasik, dan di sana David melihat ke arah ruangan lain, di saat yang bersamaan David melihat bayangan dirinya sendiri yang telah berumur dan keriput sedang duduk di meja makan. Pada “David yang sedang duduk di meja makan”, secara tidak sengaja ketika ia menjatuhkan wine, ia melihat dirinya sendiri yang sedang terbaring tidak berdaya di peraduan menunggu ajal. Pada “David yang sedang di peraduan”, ia menunjuk lurus ke depan ke arah idol monolith keempat, dan melihat dirinya sendiri terlahir sebagai “fetus semesta”[12].

Tentu penggambaran David yang melihat bayangan ke-kini-an kehidupannya secara simultan dan mandiri satu sama lain dalam film digambarkan begitu ghaib. Akan tetapi, satu hal yang dapat ditarik adalah pola persepsi atas waktu. Persepsi atas waktu pada dimensi “Sang Pengamat Semesta” memiliki bentuk yang sirkular atau melingkar, dan masing-masing David menjalani ke-kini-annya secara sadar dan mandiri, dan itu terjadi secara simultan.

 

Pada film “Arrival” (2016), semenjak Louise Banks melakukan kontak dengan higher-being[13]pada lapisan kaca, Louise mulai mampu merasakan gesekan antar ke-kini-an yang dirasakan. Seakan-akan, pada film tersebut, Louise mampu merasakan kejadian bersama bayangan sosok perempuan yang belum pernah ia kenal atau temui dan lewati dalam perjalanan hidupnya. Kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin ia memiliki kesadaran atas kejadian tersebut yang tidak pernah dilewati sebelumnya? Pada penalaran “masa depan” yang dipahami secara populer, tentu kejadian tersebut adalah sama, namun pertanyaannya adalah bagaimana mungkin Louise mampu melihat, merecap, dan membau kejadian itu secara detil dan baik?

Penjelasan yang paling mungkin tentang persepsi manusia atas waktu adalah, bahwa “masa lalu” dan “masa depan” adalah “masa kini” yang dapat manusia (sebagai individu) rasakan, cerna, dan sentuh dalam situasi atau keadaan yang berbeda. Jika mendalami lebih jauh, maka dapat ditarik penalaran khusus, bahwa masing-masing “masa kini” terpecah dalam berbagai realitas, namun tetap memiliki kesadaran yang satu[14]. Oleh sebab itu, manusia (sebagai individu) dapat mercena dan mengakses realitas lain[15] yang secara populer diungkapkan sebagai “masa lalu” dan “masa depan”. Penjelasan tersebut tergambarkan dalam perandaian film “Arrival” (2016), ketika Louise dihadapkan pada suatu masalah setelah diberikannya semasiographic dari Heptapods, yakni Jendral Shang telah siap untuk membombardir kapal Heptapods.

Pada upaya untuk mencegah kejadian tersebut, Louise dalam ke-kini-an di “masa depan” membaca buku yang ditulis oleh dirinya sendiri berjudul “The Universal Language”, yang berisi pehaman akan semasiographic. Pemahaman akan semasiographic diperjelas oleh Louise akan membuka jalan bagi manusia untuk mempersepsikan waktu dalam bentuk sirkular, sebagaimana Heptapods. Di waktu yang bersamaan, Louise dalam ke-kini-an di “masa depan” lain sedang menghadiri acara perayaan keberhasilan manusia memahami Heptapods dan persatuan aliansi manusia, dalam kejadian tersebut Jendral Shang berterima kasih pada Louise atas pengingat penggalan kalimat milik mendiang istri Jendral Shang melalui telefon menjelang detik pembombardiran kapal Heptapods. Pada kejadian perayaan tersebut, Louise menepis ucapan terima kasih Jendral Shang, oleh sebab ketidakmungkinan mengetahui nomor personal Jendral Shang, namun Jendral Shang menunjukkan nomor pribadinya saat itu juga dan menceritakan kalimat mendiang sang isteri yang diucapkan oleh Louise melalui telefon. Melalui akses kejadian ke-kini-an di “masa depan” lain, Louise dalam ke-kini-an di “masa sekarang[16], menerapkan hal tersebut kepada Jendral Shang, dan menyebabkan pembatalan perintah membombardir kapal Heptapods.

 

Perandaian lain dapat ditemukan dalam film “Arrival” (2016) pada gambaran ketika, Louise dalam ke-kini-an di “masa depan” diberikan pertanyaan oleh sang anak tentang istilah ilmiah dari win-win berbagai pihak dalam kompetisi, dan Louise tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Di waktu yang bersamaan, dalam ke-kini-an di “masa kini”, di tengah rapat besar antara petinggi militer, perwakilian negara, dan peneliti (salah satu di antaranya adalah Louise), seorang peneliti yang bernama Ian Donnelly mengusulkan bentuk non-zero sum game. Non-zero sum game adalah istilah ilmiah dari suatu kompetisi yang menghasilkan win-win solution berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Seketika itu, kembali dalam ke-kini-an di “masa depan”, Louise mengungkapkan dengan lantang istilah non-zero sum game kepada sang anak. Melalui penalaran yang saling berjalan simultan tanpa mematahkan satu sama lain, memunculkan keraguan besar dalam diri Louise bahwa persepsi tentang waktu populer adalah keliru.

 

Kekeliruan dalam mempersepsikan pola waktu menjadi liner adalah wajar, terlebih mengadopsi pola waktu tersebut ketika populer, karena persepsi populer memberikan manusia impresi yang begitu kuat bahwa manusia adalah being yang hidup dan berusaha menafsirkan semesta, namun tidak berusaha menjelaskan bagaimana keadaan semesta yang manusia tinggali[17]. Ke-kini-an adalah hal yang paling mungkin untuk dirasakan secara personal oleh manusia, sebab cerapan atas keberadaan ke-kini-an membuat manusia (sebagai individu) seketika mengalami, merasakan, dan menyadari kejadian tersebut. Pada “masa lalu” dan “masa depan”, ke-kini-an juga berlaku hal yang sama, manusia di “masa kini” yang mengakses dalam perandaian “masa lalu” dan “masa depan” dapat merecap kejadian tersebut oleh sebab ke-kini-an yang terjadi pada situasi dan keadaan tersebut secara simultan. Penjelasan sederhana adalah karena memang manusia (sebagai individu) benar-benar melewati perandaian tersebut pada “satu tempat” yang lain, atau ungkapkan lah dengan dimensi bila mungkin berkenan. Manusia dalam ke-kini-an “yang di masa sekarang” dapat mengakses dengan baik semua hal yang terjadi pada dirinya dalam ke-kini-an “yang di masa lalu” dan dalam ke-kini-an “yang di masa depan”. Semua disebabkan oleh kesadaran utuh manusia (sebagai individu) dalam berbagai tempat yang lain dan ke-kini-an yang berjalan secara simultan.

Jika mendalami lebih jauh, maka dapat ditarik penalaran khusus, bahwa masing-masing “masa kini” terpecah dalam berbagai realitas, namun tetap memiliki kesadaran yang satu. Oleh sebab itu, manusia (sebagai individu) dapat mercena dan mengakses realitas lain.

Penarikan lebih ekstrem dari penalaran tersebut adalah bahwa manusia (sebagai individu) dalam ke-kini-an di “masa kini” yang mengakses ke-kini-an di “masa depan”, dapat merancang jalan yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang berbeda dari ke-kini-an di “masa depan”, namun proses merancang jalan yang berbeda tersebut tidak sama sekali mengubah ke-kini-an yang ada di “masa depan”. Penalaran tersebut dipahami oleh sebab dengan mengubah jalan dari ke-kini-an “masa depan a” manusia dapat mengakses ke-kini-an “masa depan b”. Masing-masing “masa depan a” dan “masa depan b” berada dalam posisi yang mandiri dan tidak menghapus keberadaan satu sama lain.

Perandaian tersebut dapat ditemukan dalam film “Arrival” (2016), ketika Louise mengetahui[18]menikah dengan Ian dapat menyebabkan lahirnya keturunan yang membawa penyakit mematikan yang belum manusia ketahui, namun Louise tidak berusaha untuk mengubah rancangan jalan ke-kini-an “masa kini”. Tindakan Louise seakan menegaskan bahwa meski manusia dalam ke-kini-an di “masa sekarang” dapat mengakses kejadian dalam ke-kini-an di berbagai “masa lalu” dan “masa depan”, manusia (sebagai individu) memiliki pilihan untuk menentukan apa yang akan mereka lalui. Pilihan tersebut tidak memiliki risiko bagi ke-kini-an di berbagai “masa lalu” dan “masa depan”, oleh sebab sifat yang mandiri dan tidak mematahkan satu sama lain. Penalaran tersebut dibangun oleh kesadaran bahwa manusia dalam posisi subjek hanya mungkin untuk menyadari, merasakan, dan meyakini ke-kini-an yang dilalui bersama dalam “masa sekarang”. Bahkan, dengan mengakses kejadian dalam ke-kini-an di berbagai “masa lalu” dan “masa depan”, manusia (sebagai individu) mampu mengubah yang sebelumnya dianggap tidak mungkin menjadi sesuatu yang mungkin.

Pada penalaran persepsi atas waktu berbentuk sirkular, menjadi jelas bahwa manusia tidak lagi mengenal awal dan akhir sebagaimana penalaran persepsi atas waktu berbentuk linier, oleh sebab kemungkinan manusia yang hanya mampu menyadari, merasakan, dan meyakini ke-kini-an dalam “masa sekarang”. Jadi, penalaran persepsi atas waktu berbentuk sirkular sebagaimana yang diajukan dan dinarasikan pada film fiksi ilmiah “2001: A Space Odyssey” (1968) dan “Arrival” (2016), merupakan proposisi yang menarik untuk menggugat kebenaran atas persepsi yang manusia yakini atas waktu sebagai bentuk linier. Tentu peneliti sadari, pembuktian atas persepsi waktu sirkular membutuhkan waktu yang lama, dan mungkin saja baru dapat terjadi ketika manusia bersentuhan dengan faktor lain yang ghaib sebagai pemicu anomali, sebagaimana yang ditampilkan dalam kedua film tersebut dengan sosok yang lain[19]. Satu hal yang pasti, upaya menggugat proposisi persepsi manusia atas waktu secara linier yang dipahami secara populer dan proposisi persepsi atas waktu dalam bentuk lain, seharusnya bisa menjadi topik yang menarik untuk dikaji lebih lanjut oleh para kosmolog dan fisikawan teoritis”.


Catatan Akhir: 

[1] “Masa kini” adalah yang terjadi sekarang (now present), dan ia merupakan “masa depan” yang telah terjadi (was), dan ia akan menjadi (will) “masa lalu”. Lih. Jan Faye, 1993, “Is the Future Really Real?”, Jurnal American Philosophical Quarterly, Vol. 30 No. 3 (Jul.), hal. 259, 265.

[2] Penggunaan istilah “populer” di sini, peneliti maksudkan sebagai sesuatu yang telah diterima secara umum.

[3] Penggunaan istilah “belakang” di sini, peneliti maksudkan sebagai penyederhanaan atas ungkapan apa yang telah terjadi atau dilalui.

[4] Penggunaan istilah “depan” di sini, peneliti maksudkan sebagai penyederhanaan atas ungkapan apa yang mungkin akan terjadi atau dilalui.

[5] Lih. Jan Faye, 1993, “Is the Future Really Real?”, Jurnal American Philosophical Quarterly, Vol. 30 No. 3 (Jul.), hal. 259.

[6] Lih. Ibid, hal. 259.

[7] Peneliti meyakini bahwa tidak seorang pun yang mampu benar-benar meyakini bahwa apa yang dianggap sebagai “masa lalu” benar-benar terjadi, dan “masa depan” benar-benar belum terjadi.

[8] Perandaian sederhana, anggap a adalah “masa kini” dan b adalah “masa depan”. Secara populer b berasal dari a, sehingga b adalah sama posisinya dengan a sebagai “masa kini” yang bergerak dalam situasi dan tempat yang berbeda. Tetapi peneliti memberi catatan bahwa b untuk dapat terjadi diharuskan berasal dari a, oleh sebab ketiadaan jaminan bahwa a dan b adalah linier. Bahkan dalam penalaran ekstrem dapat dipahami bahwa a dan b adalah benar terjadi tanpa diharuskan menjadi subjek terlebih dulu untuk merasakan apabila ia adalah semesta. Penalaran tersebut ditarik atas argumentasi bahwa semesta tidak lah mewaktu, yang mewaktu adalah mereka yang bergerak di dalamnya. Lih. Jan Faye, 1993, “Is the Future Really Real?”, Jurnal American Philosophical Quarterly, Vol. 30 No. 3 (Jul.), hal. 260.

[9] Lih. Ibid, hal. 261.

[10] Penggunaan istilah “ini” di sini, peneliti maksudkan sebagai bukan bentuk linier.

[11] Penggunaan istilah “Sang Pengamat Semesta” di sini, peneliti maksudkan sebagai sesuatu dalam film yang tidak terjelaskan secara baik, namun ia telah ada sejak awal semesta sebagai sang pengamat.

[12] Penggunaan istilah “fetus semesta” di sini, peneliti maksudkan sebagai sesuatu dalam film yang menggambarkan David sebagai sosok fetus dalam semesta.

[13] Penggunaan istilah “higher-being” di sini, peneliti maksudkan sebagai sesuatu dalam film yang digambarkan sebagai sosok Heptapods, yang memiliki persepsi atas waktu berbentuk sirkular, yang tidak memiliki awal dan akhir.

[14] Penggunaan istilah “kesadaran yang satu” di sini, peneliti maksudkan sebagai bentuk kemungkinan unity consciousness, yakni kesadaran utuh sebagai individu yang dimiliki secara kolektif dalam berbagai situasi dan keadaan yang tersebar dalam semesta. Tentu kebenaran akan konsep unity consciousness di tingkat ilmiah masih menjadi perdebatan, namun konsep unity consciousness peneliti gunakan dalam artikel ini, sebagai alasan satu-satunya yang dapat dicerna dengan baik melalui perandaian yang dipaparkan.

[15] Penggunaan istilah “realitas yang lain” di sini, peneliti maksudkan sebagai bentuk “masa kini” yang berada dalam situasi dan keadaan yang berbeda, namun tidak saling tumpang tindih dan mengintervensi satu sama lain.

[16] Penggunaan istilah “realitas yang lain” di sini, peneliti maksudkan sebagai bentuk Louise yang berada di kejadian untuk mencegah bombardir kapal Heptapods.

[17] Lih. Jan Faye, 1993, “Is the Future Really Real?”, Jurnal American Philosophical Quarterly, Vol. 30 No. 3 (Jul.), hal. 268.

[18] Penggunaan istilah “mengetahui” di sini, peneliti maksudkan sebagai bentuk keadaan Louise mengakses ke-kini-an “masa depan a”.

[19] Penggunaan istilah “mengetahui” di sini, peneliti maksudkan sebagai bentuk “Sang Pengamat” dalam film “2001: A Space Odyssey” (1968) dan bentuk “Heptapods” dalam film “Arrival” (2016).

Daftar Pustaka:

Faye, Jan, 1993, “Is the Future Really Real?” dalam Jurnal American Philosophical Quarterly, Vol. 30 No. 3 (Jul.).

Kubrick, Stanley, 1968, “2001: A Space Odyssey” dalam Film, Stanley Kubrick Productions, United Kingdom.

Villeneuve, Denis, 2016, “Arrival” dalam Film, Film Nation Entertainment, Lava Bear Films, 21 Laps Entertainment, United States.

Facebook Comments