sumber gambar: urbanomic.com

Ada dua hal yang dapat dihasilkan dari karya filsafat dengan karakteristik “tinjau-meninjau”, seperti misalnya sistem filsafat X ditinjau dari sistem filsafat Y. Pertama, pencocokan; kedua, kritik. Kritik adalah pembuktian bahwa suatu sistem filsafat X dibatasi, dipermasalahkan atau dan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan yang diajukan oleh dirinya sendiri. Otomatis, kritik memberikan kebaruan pengetahuan baik secara negatif (X salah, titik) atau positif (X salah, maka…). Namun berbeda dengan kritik, pencocokan lebih rendah hati. Apa yang didapatkan dari karya tinjau-meninjau ini adalah sekadar pengetahuan, misal sistem filsafat X berbeda dengan Y dan karenanya mereka tidak cocok atau, sebaliknya, cocok dan sesuai.

Keduanya memberikan kebaruan dan keberagaman pengetahuan, juga mempertontonkan ciri khas teoretis pendekatannya dengan berbagai gaya selingkung yang diyakini. Hanya saja saat model kritis harus menggugurkan luas klaim teoretis tertentu, model pencocokan tetap sah tanpa perlu membatalkan klaim (si)apa pun. Karya model ini hanya ingin menunjukkan “pas” atau tidaknya suatu sudut pandang (objek formal/ perspektif) terhadap objeknya dan apa implikasi dari ke”pas”an itu.

Meillassoux menunjukkan materialismenya, bahwa meskipun tanda berdimensi immaterial (lepas ruang waktu) ia tetap membasis secara empiris. Begitu juga sikapnya pada penggali asal-usul tanda dari irasionalitas. Bukan berarti asal-usul subjektif ini tidak penting, namun dalam kaitannya dengan yang mungkin, atau yang di luar korelat, asal-usul subjektif ini tetap mengandaikan adanya tanda yang dapat diindeks secara kontingen, dan tidak sebaliknya. Kontingensi tanda acuh terhadap apa pun subjektifitas manusia.

Beberapa waktu lalu saya membaca ringkasan disertasi Hizkia Yosias Simon Polimpung (berikutnya disingkat menjadi HYP) yang berjudul “Kritik terhadap Proyek Filsafat Realisme Spekulatif Quentin Meillassoux dari Perspektif Psikoanalisis Jacques Lacan”. Sebagai orang yang juga membaca karya-karya Meillassoux, saya sedikit kebingungan dengan klaim-klaim yang dilancarkan HYP. Beberapa tidak akurat, beberapa lainnya malah justru mendukung klaim Meillassoux dan terang-terangan mengasumsikannya. Sontak saya langsung mengambil kesimpulan bahwa kata “kritik” dalam disertasi tersebut kurang pas. Dalam kosakata saya, kata pencocokan lebih tepat karena karya tersebut lebih mem”pas”kan Lacan dengan Meillassoux dan tanpa membatalkan satu pun klaimnya. Mari kita lihat mengapa.

***

Berikut adalah beberapa klaim utama HYP terhadap Meillassoux yang menurut saya bermasalah:

  1. Meillassoux tidak mempertanyakan status kemanusiaan (mengabaikannya) (3, 16 & 20-21)
  2. Meillasoux tidak memiliki mantra yang kuat untuk membayangkan dunia tanpa manusia dan menjadi makhluk astral sepenuhnya (10 & 14)
  3. Meillassoux kebingungan membedakan “dalam” dan “luar” (11-12)
  4. Tiada-nya Meillassoux adalah bentuk negasi yang mengasumsikan bahwa yang ada saat ini tidaklah sejati, sehingga suatu saat nanti akan hadir keberadaan yang absolut (15)
  5. Memasukkan sisi irasionalitas matematika untuk membatalkan derivasi tanda tak bermakna Meillassoux (18-19)

Mari mulai dari yang pertama dan kedua. Apakah Meillassoux tidak mempertanyakan status kemanusiaan yang dengan kata lain mengabaikannya? Jawabannya tentu saja: Meillassoux mempertanyakannya, bahkan sangat dalam sehingga dia perlu untuk mengambilnya dan meradikalkannya. Apakah Meillassoux tidak memiliki mantra yang kuat untuk membayangkan dunia tanpa manusia dan menjadi menjadi makhluk astral sepenuhnya? Jawabannya tentu saja: punya, atau paling tidak ia punya peta untuk mengambil mantranya. Saya akan memperjelas jawaban ini.

Apa yang disebut dengan pengabaian kemanusiaan? Tidak jelas apa yang dimaksud HYP dengan hal tersebut. Namun saya menebak bahwa pengabaian atas kemanusiaan berarti tidak melihat bagaimana kondisi relasi subjek dengan dunianya, seperti situasi bahasa, ketidaksadaran, hasrat, sejarah, subjektivitas emosi dan lain-lain. Mengapa ini penting? Karena hal-hal tersebut punya potensi besar untuk berimplikasi pada arah abstraksi filsafati kita (20). Intinya: pengabaian kemanusiaan adalah meninggalkan “kenyataan bahwa bisa jadi yang historis ini justru mendeterminasi, menstruktur, dan mengarahkan pembayangan ontologis yang kita lakukan dengan pikiran” (10). Dengan kata lain, apa yang terberi pada kita (for-us) sekarang (present) belum tentu benar jika tanpa kita (unthinkable) dan belum tentu mengarah ke apa yang sebenarnya ingin kita tuju (in-itself). Klaim pertama memuncak pada klaim kedua: jika manusia itu tidak bisa lepas dari kemanusiaannya, bagaimana mungkin ia memikirkan hal yang berada di luar kemanusiaannya? (14)

Kita perlu melihat bagaimana Meillassoux membahas hal ini. Pembaca Meillassoux pasti tahu bahwa apa yang disebut dengan era korelasionisme lahir setelah Berkeley, walaupun memuncak di Kant. Namun chef-d’oevere dari korelasionisme adalah Fichte dalam Science of Knowledge. Fichte dengan tepat mengeksplisitkan tantangan dari para korelasionis yang disebutnya dengan kontradiksi pragmatik atau kontradiksi yang terjadi antara isi proposisi dan tindakan pengucapan proposisi tersebut (SR: 411; TWB: 10; IRR: 1-2).

Ini bukan kontradiksi seperti “aku berpikir dan tidak berpikir”, namun lebih mengarah pada ketidakkonsistenan para filsuf dogmatis yang mengatakan bahwa, misal X mandiri dari pikiran, namun dengan mengatakannya ia baru saja membuktikan bahwa X tergantung pada pikiran (dengan mengonseptualisasinya yang konseptualisasi tersebut persis dalam ranah ketergantungan X dengan pikiran). Inilah argumen pertama para korelasionis yang disebut dengan lingkaran korelasi (circle of correlation) atau rutinnya pikiran untuk selalu jogging pagi di alun-alun korelasi: selama manusia berpikir tentang yang di luar korelat, ia akan selalu kembali berpikir di dalam korelat (AF: 5; SR: 413; IRR: 2). HYP kemudian mengulang kontradiksi pragmatik ini untuk menjatuhkan Meillassoux.

Sayangnya, Meillassoux, berlawanan dengan klaim HYP, tidak pernah mengabaikannya. Ia justru membuat lelucon untuk mereka yang mengabaikan serangan korelasionisme ini. Suatu saat jari Captain Haddok (tokoh di komik Tintin) tertempel plester. Ia ingin melepasnya, namun setiap kali ia ingin melepas, plester itu malah menempel di tangan yang lain. Karena tidak lepas setelah sekian kali, Captain Haddok marah-marah. Plester tersebut ibarat argumen lingkaran korelasi, dan Captain Haddok yang marah-marah dan akhirnya menyerah, persis seperti pengabai kontradiksi pragmatik (kemanusiaan). Meillassoux menyebut logika mereka dengan “logika pemisahan” (logic of seccession) (SR: 422).

Para filsuf yang menggunakan logika pemisahan ini ada dua jenis: yang pertama adalah filsuf-filsuf yang berpegang dengan semangat Schopenhauer bahwa tidak berguna menanggapi hal ikhwal tersebut, karena masih banyak hal kaya lain di luar argumen membosankan (dan mungkin tidak berarti) para korelasionis (argumen ini biasa disebut rich elsewhere rhetoric); dan para pencuriga yang malah bertanya mengapa para korelasionis memikirkan hal tersebut (theory of suspicion). Marx, Nietzsche dan Freud tepat di posisi pencuriga, ungkap Meillassoux. Bagi Meillassoux, dua macam logika pemisahan di atas lebih tepat disebut sebagai diskualifikasi argumen lingkaran korelasi daripada pembatalan atasnya. Meillassoux memilih jalan yang berbeda, dan ia menyebutnya dengan pembatalan kreatif (creative refutation), yakni menemukan kebenaran absolut di dalam lingkaran (kemanusiaan) itu sendiri (SR: 426). Menemukan kelemahan tepat di jantung argumen musuh.

Fichte, walaupun berhasil mengeksplisitkan dengan tepat argumen lingkaran korelasi, masih kurang berhasil mempertahankan korelasionisme. Adalah para korelasionisme model kuat yang akhirnya memperkuatnya. Korelasionisme kuat berjasa dalam membendung serangan subjektalis atau idealis atau subjektivis atau vitalis yang mengkonstruksi relasi pikiran dan ada dalam term absolutisasi korelasi. Tidak perlu saya mengulang bagaimana para korelasionisme kuat menjatuhkan argumen para subjektalis terkait problem yang absolut. Apa yang kita perlukan adalah mengeksplisitasi argumennya (argumen kedua korelasionisme) yang disebut argumen lingkaran faktisitas (circle of facticity).

Argumen faktisitas berbunyi ketidakmampuan kita menggapai yang absolut karena manusia dalam kemanusiaannya faktis, sehingga korelat hanyalah salah satu fakta dan bukan yang absolut seperti dipikirkan oleh para idealis (SR: 429; AF: 40; IRR: 9). Orang yang paling peduli terhadap kemanusiaan mau tidak mau paling tidak adalah seorang korelasionisme kuat. Alasannya mereka mempertimbangkan ketersituasian manusia yang mereka sadari bahwa situasi tersebut dalam dirinya terbatas. Situasi yang terbatas itu membuat para korelasionisme kuat paham diri bahwa mereka dibatasi oleh fakta korelasi: manusia tidak mampu berbicara di luar korelasi yang ketidakmungkinan dan kemungkinannya tidak dapat dipikirkan. Bahasa faktisnya: tidak dapat dipikirkan bahwa yang tak terpikirkan itu tidak mungkin (AF: 41). Dalam konteks ini, hampir semua filsuf jalur Heidegger dan Wittgenstein, dan orang-orang yang tidak sengaja memiliki pemikiran yang sama dengan mereka, berada dalam jalur ini. Memakai bahasa HYP, jalur ini adalah jalur orang-orang yang peduli terhadap (batas dan konsekuensi) kemanusiaan kita.

Jika HYP mengatakan bahwa manusia adalah hasrat yang kontingen-historis dan tidak lebih dari konstruksi makna (dengan berbagai macam konsepnya) (7 & 16), saya menduga berat bahwa HYP masuk dalam jalur ini. Membuat faktisitas kita yang kontingen sebagai pembatas untuk berbicara yang absolut. Manusia hanya tahu kebermaknaan manusianya, atau ranah for-us (realitas seksual yang hadir karena seksualisasi), sedangkan pada ranah in-itself, tidak tahu. Sebagaimana HYP menyebut yang absolut sebagai tiada, dan yang ada hanyalah ada karena korelat kemanusiaan (21). Ini sangat korelasionis, terlebih saat HYP menyebut bahwa tiada-nya adalah ketiadaan makna (17) (sehingga bukan eksistensi, yang berarti korelasionis).[1]

Pada titik ini, Meillassoux sama sekali tidak mengabaikan fakta tersebut. Ia menyetujuinya, sangat menyetujuinya. Ia begitu yakin dengan kebenaran argumen faktisitas. Saking setujunya (saking perhatiannya; baca: saking tidak mau mengabaikannya) Meillassoux tidak setuju dengan faktisitas yang dianggap hanya sebagai fakta oleh para korelasionisme kuat. Faktisitas harus diabsolutkan, jika tidak ia akan kontradiktif. Faktisitas sebagai fakta mempresuposisikan absolutisasi faktisitas yang tidak lain adalah kontingensi radikal yang benar-benar radikal. Bahwa segalanya dapat berubah menjadi apa pun tanpa alasan apa pun. Inilah cikal bakal prinsip faktialitas: hanya kontingensi yang niscaya (absolut) (AF: 79). Bukannya de-absolutisasi yang-absolut, namun mengabsolutkan de-absolutisasi, sehingga tanpanya para korelasionisme kuat akan terjatuh ke jurang idealisme (tidak ada yang di luar korelat).

Jika HYP mengatakan bahwa manusia adalah hasrat yang notabenenya adalah kontingensi-historis, ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada manusia 200 tahun lagi, kecuali bahwa ia tetap kontingen-historis. Sayangnya kontingensi model ini tidak radikal, karena masih mengandaikan bahwa hukum alam tetap sehingga manusia masih paling tidak berciri tertentu. Bagaimana jika hukum alam berubah 200 tahun lagi? Bagaimana jika manusia terhempas ke luar angkasa dan terkena penyakit Papa punah, dan tidak ada lagi kelahiran anak laki-laki? Bagaimana jika semua Mama hanya mengandung anak perempuan persis seperti kerajaan wanita di kera sakti Sun Go Kong? Bagaimana jika hasrat manusia semua tumpul? Pengandaian faktisitas HYP oleh karenanya masih bertumpu pada keyakinan hukum fisika dan manusia dalam situasi keterbatasan sekarang, padahal di tempat lain ia membicarakan kontingensi.

Namun apa kata Hume tentang ini? Bisakah kita mendemonstrasikan bahwa hukum alam itu niscaya? Bagaimana kita membuktikan hukum alam niscaya di saat yang kita tahu hanya 1) pengalaman dan 2) non-kontradiksi. Bagaimana dengan model kontingensi HYP kita tahu bahwa 200 tahun lagi hal tersebut tidak terjadi? Ketidakterpikirkannya totalitas, karenanya, tidak dapat dijustifikasi secara empiris (karena kita harus imortal) dan teoretis (karena aksioma total hanyalah satu di antara aksioma lain). Pada titik ini agama vs fisika (yang percaya pada keniscayaan [totalitas] ketetapan hukum fisika) bersama bertarung kepercayaan. Untuk membebaskan fisika dari dogma, kita harus membuang keyakinan keniscayaan (SS: 4). Pikiran non-kontradiktif memberitahukan pada kita bahwa tidak ada alasan apa pun untuk membuat hukum alam (yang manusia berada di dalamnya) tetap niscaya (PV: 227). Sebagaimana korelasionisme kuat, Hume juga secara implisit mengajarkan bahwa faktisitas kita (for-us), atau korelat, justru membukakan pintu kapasitas pikiran mencapai yang absolut (in-itself) yang mandiri dari pikiran.

Dengan pertimbangan tersebut, HYP, pada argumen ini, tentu saja salah saat mengatakan bahwa Meillassoux mengabaikan kemanusiaan. Justru ia sangat memperhatikannya dan menariknya pada titik paling radikal. Bahkan pada kemanusiaan yang tidak dipikirkan oleh model kemanusiaan HYP. Artinya, Meillassoux membalik plester kontradiksi pragmatik yang sebelumnya ditujukan oleh lawan korelasionisme justru ke korelasionisme itu sendiri. Kontingensi korelasionisme akan kontradiktif secara pragmatik jika mereka tidak mengakui kontingensi Meillassoux. Kontingensi HYP akan kontradiktif jika tidak mengakui kontingensi Meillassoux (TWB: 24).

Kontingensi ini jelas di luar korelat dan mandiri dari pikiran, karena kita tidak tahu apa pun tentangnya dalam situasi korelasi. Argumen Meillassoux ini tentu tidak bisa diputar dengan argumen bahwa kontingensi itu adalah kontingensi yang terberikan pada kita (for-us). Argumen tersebut sama dengan mengandaikan adanya kontingensi dari kontingensi, yang tidak lain mengakui prinsip kontingensi radikal Meillassoux. Sebagaimana saat memikirkan kematian, para korelasionisme kuat tidak dapat mengatakan bahwa ketidakmampuan memikirkan hal setelah mati dapat disimpangkan ke argumen keterberian ketidakmampuan memikirkan dunia setelah kematian (for-us, misal bahwa kontingensi yang diandaikan Meillassoux adalah realitas seksual seperti yang dilakukan HYP), sedangkan kematian sendiri (in-itself) tetap misteri (tidak tersentuh oleh kontingensi Meillassoux). Ini justru mengandaikan adanya faktisitas level kedua yang akan terus dapat ditarik hingga tak terbatas (AF: 55). Konsekuensinya cuma satu, kita tidak tahu apa yang akan muncul setelah kita mati (atau sebelum kita hidup) selain mengakui kemampuannya untuk menjadi apa pun (capacity-to-be-other) (AF: 57), alias hanya kontingensi yang niscaya.

Salah tangkap terhadap problem Meillassoux biasanya terjadi karena kita tidak tepat menempatkan problemnya. Perlu saya perjelas bahwa kotak problematik dari Meillassoux adalah ranah kemungkinan (may-be/ perhaps) (TWB: 27; IWB: 463) dan kapasitas pikiran mengaksesnya (IRR: 1). Ia tidak begitu peduli dengan yang ada, karena yang ada itu kontingen. Dalam satu situasi yang sangat berbeda dengan kondisi kontingensi HYP, apa yang absolut, abadi dan mungkin adalah kontingensi situasi tersebut.

Apa yang Meillassoux pedulikan kemudian adalah mengapa kontingensi tetap mungkin sebagai kontingensi. Itulah sebabnya Meillassoux menyasar “figure” atau: kondisi kontingensi (AF: 80). In- itself bagi Meillassoux adalah apa yang absolut di luar korelat, yang tidak lain adalah kontingensi itu sendiri. Meillassoux oleh karenanya tidak mau menjawab apa itu in-itself (secara faktual), tapi kondisi yang membuat in-itself tetap menjadi in-itself, sehingga deskripsi atasnya dapat mungkin (berbeda dengan harus benar) (AF: 113 & 114) dan berciri spekulatif (AF: 119).

Meillassoux tidak ingin menjawab apakah teori X tentang kutu yang akan memegang pantatnya di saat seluruh manusia belum ada atau setelah mereka tiada, benar atau tidak, seperti yang ditanyakan HYP. Ini problem filsafat ilmu Popperian ketimbang Meillassouxian. Apa yang ingin dikerjakannya adalah bagaimana ciri spekulatif teori itu dapat mungkin sehingga pernyataan saintifik benar/salah itu menjadi bermakna. Artinya, saat Meillassoux bertanya tentang problem kepurbaan, apa yang dibicarakan Meillassoux kemudian bukan kepastian ketepatan pernyataan fosil-purba dalam matematika,[2] namun kemungkinan matematika membicarakannya.

Kejelasan ini membuat kita dapat menjawab klaim kedua, yakni bagaimana Meillassoux dapat menjadi mahluk astral, dan juga kelima, yakni bagaimana sisi irasionalitas tidak membatalkan tanda tak bermakna. Dari awal, Meillassoux sudah sangat concern dengan hal ini, sehingga pertanyaan HYP yang berbunyi: “mantra keramat apa yang memampukan para realis untuk dapat meninggalkan tubuh manusia mereka dan melayang-layang mengamati dunia yang tanpa manusia? Tapi lantas “mereka” ini apa sekarang?” (10) dapat dijawab dengan satu kata: matematika. Sebagaimana HYP mengutip Jaynes bahwa matematika dapat selalu bias karena memiliki konjektur, penjelasan HYP tentang matematika Meillassoux juga bias.

Bagaimana jawaban itu terlegitimasi bisa dijawab dengan prinsip yang dipegang hampir semua matematikawan di seluruh dunia, dan yang juga dipegang oleh Meillassoux, tapi kurang intensif dibahas dalam ringkasan HYP, yakni bahwa apa yang termatematisasi itu mungkin. Sudah kita tahu bahwa hanya kontingensilah yang absolut, dan kontingensi HYP mempresuposisikan kontingensi Meillassoux. Maka, jika kontingensi ini adalah hal yang di luar korelat, matematika mungkin untuk membicarakan hal yang di luar korelat, karena sebagaimana yang disingkap oleh ilmu modern Galilean, formulasi matematika bersifat spekulatif dan hipotetis; akan terus eksis dan cocok dengan Meillassoux karena fungsi matematika menunjukkan kemungkinan eksistensi faktial (kontingensi sesuatu) di luar pikiran daripada keniscayaan eksistensi di luar pikiran (AF: 117 & 51). Dengan menolak rujukan teorinya yang mandiri dari pikiran (spekulatif), ilmu menjadi non-sense (problem kepurbaan).

Newton dan Einstein tidak pernah menciptakan persamaan matematis tentang dunia, mereka, menggunakan bahasa Heidegger, menyingkapnya. Teori mereka sangat mungkin bisa salah, dan mungkin juga benar. Namun kesalahan mereka tidak mengubah dunia. Hanya teorinya yang berubah. Inilah mengapa kata konstruksi matematis, menurut Meillassoux, lebih berkmakna konstruksi arkeologis (penemuan) daripada konstruksi arsitektural (IQM: 167). Konstruksi arkeologis tidak pernah membuat (arsitektural) objek, mereka mengevakuasi, mengumpulkan, dan membersihkan objeknya. Pada titik itulah kita memikirkan dimensi eksperimental ilmu.

Namun karena tidak mungkin mengabaikan sumbangan korelasionisme tentang batas manusia (TWB: 17) (sungguh berbeda dengan tafsir HYP), Meillassoux perlu memberikan status absolut bagi matematika, atau yang disebutnya dengan deutero-absolutizing, yakni pendasaran bahwa rujukan pernyataan ilmiah dapat memiliki sifat mandiri dari pikiran walaupun tidak niscaya. Dengan kata lain, kita dapat memposisikan proyek Meillassoux sebagai: pelanjut ilmu Galilean, tanpa kembali ke metafisika Cartesian (keniscayaan) dan terperangkap ke revolusi korelasi Kantian (ketakterpikiran). Untuk itu Meillassoux perlu mendemonstrasikan bahwa setiap proposisi matematika 1) diturunkan dari prinsip faktialitas dan 2) mungkin. Meillassoux belum menyelesaikan persoalan kedua, juga yang pertama, namun ia cukup gemilang untuk memberitahukan pada kita bahwa ia di jalan yang tepat.

HYP mempertanyakan mengapa Meillassoux tidak mempertimbangkan asal-usul tanda tak bermakna, yang menurut HYP berasal dari sisi irasionalitas manusia (17-18). Ia menjustifikasi hal tersebut selain lewat Lacan juga lewat temuan E.T. Jaynes bahwa, sebagaimana ditulis HYP, “keterbukaan terhadap kekeliruan karena bias personal adalah apa yang membuat matematika bisa terus berada di jalur absolut”. Puncaknya berada pada titik pengakuan akan bias personal yang “memampukan matematika secara rasional untuk membatalkan bias subjektif manusia sang matematikawan/filsuf” (20). Terlepas dari bagaimana seharusnya Jaynes ditafsirkan dengan tepat secara filsafati, saya akan langsung menyetujui tafsir HYP. Namun, pengakuan ini sama sekali tidak membuat klaim Meillassoux gugur atau bermasalah. Apa yang saya lihat justru terbawanya Jaynes sebagai seorang Lacanian entah itu diyakini oleh Jaynes sendiri atau tidak.

Andaikan ada Jaynesian versi HYP datang ke seseorang yang percaya absolutisasi kontingensi dan berkata bahwa kontingensi-mu atau matematika-mu sangat mungkin bias karena berasal dari irasionalitas dan dalam dirinya matematika itu bersifat konjektur, tidakkah ini bisa dibalas secara trivial dengan juga mengatakan bahwa kata-kata mu juga bias (kebetulan orang ini biasa diskusi di Pos Ronda). Bagaimana mungkin dengan alat yang sama-sama bias, kita tahu bahwa orang lain bias, tanpa meragukan bahwa kita juga mungkin bias? (SR: 330) Bagi saya, lagi-lagi HYP mengatakan bahwa kontingensi itu kontingen. Namun itu adalah bahasa lain dari: hanya kontingensi yang niscaya, alias: setuju dengan Meillassoux. Begitu juga dengan Meillassoux, ia pasti setuju dengan Jaynes.

Jika kita konsisten dengan tafsir HYP, apa yang dikatakan Jaynes adalah hal yang justru ingin didasari oleh Meillassoux, yakni bahwa bagaimana proposisi matematika, dan juga logika (Jaynes), itu mungkin (dan berciri spekulatif), sehingga cukup mungkin untuk mengatakan bahwa ia mungkin, atau cukup mungkin untuk mengaplikasikan teori probabilitas.[3] Karena yang ada itu kontingen, apa yang bisa kita lakukan dengannya adalah mendeskripsikannya, namun atas dasar apa kemudian kita bisa mengatakan bahwa deskripsi ontis kita dapat sesuai dengan sifat dunia yang kontingen?

Itulah mengapa Meillassoux merasa perlu untuk menjalankan proyek absolutisasi matematika: memberikan fondasi untuk deskripsi. Meillassoux sudah punya dasarnya (faktialitas), dan ia punya problemnya (kepurabaan). Implikasinya: jika nantinya absolutisasi matematika (kontingen dan mungkin) itu berhasil, Meillassoux tidak perlu diangkat ke surga untuk melihat dunia prahayati di masa lalu atau antroposida di masa depan; cukup bermatematika, Matematika akan menjadi suara (sebagaimana yang ditanyakan HYP (10)) untuk memberikan kemungkinan (bukan kepastian) bagi deskripsi tentang dunia saat manusia tidak ada. Matematika akan memberitahukan pada HYP apakah mungkin kutu air memegang pantatnya atau tidak. Jaynes pun akan tersenyum karena, rumusannya terjustifikasi secara absolut, walaupun benar salahnya urusan lain. Proyek ini belum selesai, dan argumen HYP malah menunjukkan pentingnya proyek ini.

Problem tersebut membawa kita untuk melihat relevansi tanda tak bermakna sekali lagi. Meillassoux menunjukkan bahwa repetisi pada tanda tidak bersifat repetisi yang terbatas. Tanda (tak bermakna) mampu memproduksi secara tak terbatas dalam artian peran ganda tanda dan isi. Hal ini kemudian menjadi legitimasi bagi aksioma baru Meillassoux yang disebut reiterasi yang langsung dikondisikan dari repetisi iterasi. Reiterasi menunjukkan bahwa tanda itu tidak terbatas dan pengulangannya bisa dilakukan secara diferensial. Multiplisitasnya, karenanya, immaterial.Inilah landasan ontologis bagi semua aritmatika dan geometri. Tidak ada matematika tanpa memikirkan reiterasi (IRR: 34). Dunia reiterasi karenanya adalah dunia yang dapat memberikan matematika kemampuan tak terbatas untuk membedakan secara deutro-absolute satu hal dengan hal lainnya. Sebuah semesta yang perbedaan karakteristik inorganiknya dapat dibedakan dan diukur dengan ilmu secara matematis. Inilah jalan yang coba digagas oleh Meillassoux untuk memikirkan perbedaan di luar ranah repetisi, atau di luar kotak ruang dan waktu. Bahwa Matematika memiliki potensi dimensi memikirkan sesuatu di luar korelat. Walaupun masih belum selesai, pertimbangannya patut diperhatikan karena tanda tak bermakna memiliki status ontologis yang cocok dengan kontingensi, yakni ketakterbatasan dan diferensi dari reiterasi.

Arbitari makna bagi Meillassoux diturunkan (memiliki asal-usul) dari prinsip faktialitas. Jawaban ini membuat Meillassoux menunjukkan materialismenya, bahwa meskipun tanda ini berdimensi immaterial (lepas ruang waktu) ia tetap membasis secara empiris (IRR: 35). Begitu juga sikapnya pada penggali asal-usul tanda dari irasionalitas. Bukan berarti asal-usul subjektif ini tidak penting, namun dalam kaitannya dengan yang mungkin, atau yang di luar korelat, asal-usul subjektif ini tetap mengandaikan adanya tanda yang dapat diindeks secara kontingen, dan tidak sebaliknya. Kontingensi tanda acuh terhadap apa pun subjektifitas manusia. Sehingga meskipun ada seorang matematikawan yang memiliki hasrat tak karuan gila, selama ia bermain dalam ranah tanda, tandanya selalu kontingen. Dibahasakan secara lain: tanda tak bermakna tak terbatalkan dan bermasalah walaupun orang yang menggunakannya maskulin, psikotik dan pervert sekalipun (CBI: Q6). Sampai di sini kita dapat mengerti mengapa HYP masih berkata: “mereka” ini jadi apa sekarang? HYP masih mengandaikan bahwa matematika yang beroperasi dengan tanda tak bermakna tidak berdasar pada kontingensi sehingga tidak mungkin berbicara hal di luar ruang waktu korelat.

Mungkin perlu diperjelas mengapa pada satu kesempatan Meillassoux sendiri mengatakan bahwa ia belum mendemonstrasikan kemampuan matematika mendeskripsikan (dan bukan membuktikan, karena sudah dibuktikan) dunia eksternal? Alasannya justru inheren dalam debat internal logiko-matematis itu sendiri dan bukan pada argumen korelasionisme. Kedatangan logika parakonsisten dan dialetheisme dengan problem inkonsistensinya dan tentang adanya (bukan semua) kontradikasi yang bernilai benar membuat Meillassoux masih menahan klaimnya tentang kemungkinan absolutisasi non-kontradiksi, yang dapat saja berimplikasi pada kemungkinan status matematika-nya. Untuk itulah ia menunggu untuk mendapat ilham bahwa 1) tidak ada yang mampu inkonsisten  karena tidak ada yang niscaya, 2) logika baru tersebut hanya hidup di ranah pernyataan tentang dunia dan bukan tentang kontradiksi di dunia nyata, (AF: 78-79) dan 3) ketiadaan totalitas yang dipikirkan itu absolut (AF: 127). Karena “There could be tensions, conflicts, and collisions, certainly, but contradiction, never” (IQM: 168).

Saya akan menyebut Tantangan Meillassoux untuk memudahkan siapa saja—terutama korelasionis, entah kuat atau lemah—menempatkan problem materialisme spekulatif (paling tidak di medio 2016) secara lebih tepat sebelum tanpa arah menjawabnya:

  1. Tantangan Kemandirian Kontingensi: Bagaimana kita bisa mendemonstrasikan bahwa kontingensi adalah korelat manusia tanpa terjebak ke dalam ketakterbatasan penarikan kontingensi atau absolutisasi korelasi?
  2. Tantangan Kepurbaan (Kemungkinan Matematika): Bagaimana kita bisa mendemonstrasikan bahwa pernyataan ilmiah tentang fosil-purba (dan lainnya) tetap bermakna walaupun unsur spekulatifnya dibuang?
  3. Tantangan Tanda tak Bermakna: Bagaimana kita bisa mendemonstrasikan bahwa sifat reiterasi tanda tak bermakna terbatalkan oleh unsur subjektif (entah rasional atau irasional) manusia?

Setelah uraian di atas, sulit bagi saya mengatakan bahwa HYP telah menjawab tantangan tersebut.

***

Kita akan beralih ke dua klaim bermasalah HYP yang terakhir, yakni susahnya Meillasoux menentukan “luar-dalam” dan tentang problem ketiadaan. Kita akan mulai dari yang terakhir. Benarkah  Tiada-nya Meillassoux adalah bentuk negasi yang mengasumsikan bahwa yang ada saat ini tidaklah sejati, sehingga suatu saat nanti akan hadir keberadaan yang absolut? Saya akan menjawab: salah. Ketiadaan Meillassoux bukan bentuk negasi apa pun. Tidak jelas juga negasi apa yang dimaksud HYP. Padahal setelah Filsafat Negasi (2016), kita dapat melihat tentang berbagai macam bentuk negasi. HYP hanya menyebut bahwa ketiadaan negasi adalah yang bukan, yang tanpa, dan yang melampau, dan tidak sejati.

Klaim ini menyimpan dua ketidaktepatan HYP tentang terminologi khas Meillassoux. Pertama apa yang dimaksud keberadaan absolut oleh HYP ini? Apakah ini merujuk pada Tuhannya Meillassoux yang mungkin datang suatu saat nanti? Saya menduga seperti itu, karena di kalimat berikutnya HYP berkata bahwa “Tuhan, sebagai suatu absolut, akan datang”. Tapi kita perlu jelas membedakan. Bagi Meillassoux yang absolut hanyalah kontingensi. Sejauh Tuhan diartikan absolut, hal tersebut tidak pernah ada. Yang absolut itu tidak bernilai. Sebaliknya, Tuhan adalah efek dari kontingensi (absolut). Oleh karenanya Tuhan adalah yang Akhir, yang-ultimate, dan bukan yang-absolut (IWB: 463). Tuhan tidak harus datang, tapi mungkin datang, dan tidak dapat dikatakan tidak mungkin datang. Ia adalah kondisi bagi keabadian jiwa saat dunia keempat (keadilan) datang. Ketidaktepatan HYP membedakan antara yang absolut dan yang akhir ini, kemudian membuatnya terjatuh pada ketidaktepatan kedua, yakni salah tempat memaknai ex-nihilo Meillassoux.

Ketiadaan adalah ranah virtual (PV: 233). Ia laten tanpa potensi. Ia tidak seperti yang dikatakan HYP, sebagai yang bukan dan yang melampaui. Dua makna negasi di awal itu lebih mirip sifat ketiadaan Heideggerian (pernah saya bahas di artikel sebelumnya) daripada Meillasouxian. Walaupun saya setuju dengan ‘yang tanpa’, tapi ‘yang tanpa’ dari Meillassoux bukanlah negasi. Virtualitas adalah daya (power) (DI: 178). Daripada negasi, ia lebih merupakan kekuatan yang siap meledak. Ia seperti api magma yang siap keluar kapan saja. Apakah kita akan berkata bahwa daya magma itu negasi? Bedanya, jika magma memiliki alasan mengapa ia keluar dan kemagmaannya terkandung dalam kesekarangannya, virtualitas tidak memiliki satu pun alasan dan potensi terkandung dalam kesekarangan. Ia keluar tanpa alasan, tanpa terkandung sebagai potensi, bahkan dapat memutus kontinuitas hukum sebelumnya (PV: 235). Inilah mengapa Meillassoux tidak menyebut creatio (penciptaan), sebagaimana ditulis HYP, tapi surgissement (kedatangan).

Kedatangan dari ketiadaan datang tanpa diundang (tanpa alasan) dan tanpa dibuat (tanpa transendensi) (DI: 176: PV: 232; IWB: 461), karena sudah tersimpan tanpa secara aktual terkandung dan laten tanpa potensi. Lebih tepat sebagai yang belum daripada yang bukan. Hal ini membuat Meillassoux melantik dirinya sebagai pemegang imanensi murni. Dalam imanensi Meillassoux, tidak ada misteri seperti yang digadang HYP tersembunyi pada pemikiran Meillassoux. Justru, karena tidak ada alasan, dan tidak terjebak dengan mengatakan bahwa problem yang absolut adalah problem palsu, tidak ada misteri dalam dunia Meillassoux karena dunia telah dibebaskan dari prinsip kecukupan alasan. Tidak ada misteri karena tidak ada alasan (AF: 110). Implikasinya: tidak tepat saat HYP mengatakan bahwa ketiadaanya Meillassoux 1) belum direfleksikan (ternyata: sudah), 2) membuatnya tidak dapat membedakan antara mengabsolutkan prinsip dan entitas (ternyata: dapat, karena ketiadaan itu datang dan bukan cipta (creatio), dan tuhan juga bukan yang absolut), 3) menandakan ketidaksejatian (ternyata: sejati, bahwa mereka ada, hanya tidak niscaya).

Benarkah Meillassoux kesulitan menentukan luar dalam? Klaim luar dalam sudah sedikit saya singgung di awal. Di sini, saya hanya akan menambahkan sedikit. Tentang luar dalam, HYP berkata bahwa: “kualifikasi… nir-manusia..selalu mengacu kepada segala sesuatu yang berada di luar batasan kulit manusia.” Kita sudah menjelaskan bahwa kontingensi berada di luar korelat manusia dan tidak dapat disimpangkan ke kontingensi bagi kita (for-us/ dalam korelat). Kontingensi Meillassoux selalu kontingensi dalam dirinya (in-itself/luar korelat). Sehingga saat HYP bertanya: “apa status ontologis dari pikiran manusia ini saat instansiasinya di tubuh manusia telah dilenyapkan sama sekali dari muka bumi?” (10) Jawabannya tetap: pikiran adalah ada yang kontingen. Ia dapat lahir lagi, atau tetap hilang, atau menjadi apa pun. Namun ia akan selalu terhitung sebagai virtualitas. Bedanya, pikiran ini, sebagai ada yang berpikir, mampu memahami kontingensinya (IWB: 462; DI: 191 & 209). Saat saya melihat botol di depan saya, saya mempresepsikan berbagai sifat sekundernya, tapi saya juga dapat memikirkan yang niscaya dari dirinya, yakni botol itu faktis, ia kontingen, dan dapat berubah menjadi apa pun. Kemampuan kontingensi botol tadi tentu acuh pada apakah ada manusia atau tidak. Kontingensi tidak mengacu pada kulit siapa pun. Namun kita dapat memikirkannya.

Jawaban tersebut dapat menyapu habis semua kegelisahan HYP di halaman 12. Kegelisahan tentang status objek hidung, lendir, mulut, paha, dsb., adalah gambaran tentang betapa HYP kurang perhatian atas teks-teks Meillassoux.[4] Bagi HYP, Meillassoux akan mengkontradiksikan dirinya jika mengatakan hal-hal tersebut sebagai objek. Hal ini sulit diterima, karena Meillassoux menjelaskan adanya fakta yang tidak dapat direduksi, dan karenanya dapat dipisahkan. Fakta itu adalah materi, kehidupan, dan pikiran. Materi adalah hal yang bisa diteorisasikan dalam term fisiko-matematis; kehidupan adalah afeksi, sensasi, persepsi kualitatif, dan hal lain yang tidak bisa direduksi ke proses material; dan pikiran adalah kapasitas untuk memikirkan yang absolut, yang tidak bisa direduksi ke term lain (IWB: 461). Walaupun secara kualitas tidak dapat direduksi, mereka hadir dalam term pengondisian secara simultan. Urut dari materi, ke kehidupan, dan ke pikiran (DI: 191).

Dengan pembagian tersebut akan mudah untuk menjawab mana yang Aku atau badan dalam pemikiran Meillassoux. Aku (walaupun jelas Meillassoux tidak menggunakan term ini) adalah pikiran, yang dengan berbagai keterbatasannya (potensi kontingennya; misal dalam HYP: objek ganjil) tetap mampu memikirkan yang absolut (sebagaimana didemonstrasikan oleh Meillassoux). Aku adalah materi yang memiliki kualitas kehidupan dan dapat berpikir. Lalu bagaimana dengan lendir, tangan, paha atau hal lain yang dikhawatirkan oleh HYP. Tentu saja itu adalah materi. Tanpa perlu merusak luar dan dalam, Meillassoux dapat membagi hal ini dengan rapi. Pertanyaan tentang luar-dalam HYP ini lebih cocok bagi penganut Hylozoisme yang mengasumsikan bahwa kualitas kehidupan dan pikiran tersimpan dalam (potensialitas) materi (DI: 182; SS: 7).

Meillassoux justru menolak hal ini. Kehidupan dan pikiran adalah kedatangan dari ketiadaan (virtualitas) yang muncul secara simultan dan putus dari hukum sebelumnya, dan dengannyalah kita dapat menjelaskan munculnya multiplisitas sifat kehidupan dari materi, dan mulitplisitas pikiran dari kehidupan dan materi yang menjadi kesulitan bagi para evolusionisme (DI: 185-186). Dengan gagasan itu, Meillassoux akan jelas mengatakan bahwa pikiran tidak berada di dalam kulit, namun kualitas yang datang bersama kesimultanan dan konfigurasi materi dan kehidupan, namun putus dari hukum keduanya. Tentu saat tubuh dicacah, pikiran tidak ikut tercacah karena pikiran bukan tubuh. Tidak ada yang kontradiktif dari pemisahan Meillassoux. Namun sepertinya pertimbangan ini tidak dikawal dengan baik oleh HYP begitu juga tentang pertimbangan ketiadaan.

***

Roy Bhaskar adalah penganut realisme kritis. Ia tidak bisa disamakan dengan realisme empiris atau pun realisme fenomenologis, karena tentu saja ia sendiri menolaknya, dan asumsinya berbeda. Jika kita mengatakan bahwa Roy Bhaskar adalah penganut realisme empiris, tentu akan menjadi klaim problematis, walaupun keduanya memiliki nama realisme. Hal yang sama juga berlaku bagi Meillassoux. Jika Meillassoux mengatakan bahwa ia adalah seorang materialisme spekulatif, dan menolak dengan tegas asumsi realisme spekulatif, bahkan mengklaim pandangan tersebut sebagai lawannya (IRR: 6), tentu akan menjadi hal yang bermasalah, bahkan sangat bermasalah, saat kita masih menggunakan kata realisme spekulatif untuk Meillassoux, walaupun keduanya memiliki nama spekulatif. Terlebih jika hal sepenting itu tidak dibahas dan langsung diandaikan. Biasanya, problem penamaan ini akan dibahas dahulu karena akan memandu jalannya narasi dan argumentasi (misalnya, dalam Materialisme Dialektis (2012) saat Martin Suryajaya mengkotakkan varian post-strukturalisme sebagai idealisme).[5]

Jika masalahnya karena ini adalah ringkasan disertasi, saya sangat berharap bahwa ada argumen yang lebih tajam di versi lengkapnya, walaupun tetap cukup kecewa mengapa bukan argumen terbaik yang ditampilkan dalam ringkasan (saya hanya mengeksplisitikan ulang antisipasi Meillassoux). Jika versi lengkapnya menyimpan argumen yang lebih baik dan akan dicetak dan disebarluaskan, semoga tanggapan ini dipertimbangkan dan dapat membantu. Jika tidak, sebagaimana saran saya, kata pencocokan lebih pas, karena tidak ada pembatalan, pembatasan, atau permasalahan apa pun. Tidak ada yang salah atau jelek dalam model tersebut. Sumbangan teoretisnya masihlah besar. Terutama tentang penegasannya bahwa pendekatan lacanian bukan menjadi masalah bagi Meillassoux, paling tidak yang versi HYP. Semoga mendatangkan simpul silahturahmi baru. Begitu, kurang lebih.

Temuwuh Kidul, 16 Agustus 2016


Daftar Pustaka dan Singkatan:

Al-Fayyadl, Muhammad, Filsafat Negasi, Aurora, Bantul, 2016.

Polimpung, Hizkia Yosias Simon, “Kritik terhadap Proyek Filsafat Realisme Spekulatif Quentin Meillassoux dari Perspektif Psikoanalisis Jacques Lacan”, Ringkasan Disertasi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok, 2016

Meillassoux, Quentin,

  • AF: After Finitude: an Essay on the Necessity of Contigency, terjemahan Ray Brassier, Continuum: London, 2011.
  • CBI: “There is contingent being independent of us, and this contingent being has no reason to be of a subjective nature”, dalam New Materialism: Interview and Cartographies, terjemahan Marie-Pier Boucher, 2012 diakses dari: http://dx.doi.org/10.3998/ohp.11515701.0001.001
  • DI: “Appendix: Excerpts from L’Inexistence Divine”, terjemahan Graham Harman, dalam Graham Harman, Quentin Meillassoux: Philosophy in The Making, Edinburgh University Press, Edinburgh, 2011.
  • IQM: “Interview with Quentin Meillassoux”, wawancara, agustus 2010, terjemahan Graham Harman, dalam Graham Harman, Quentin Meillassoux: Philosophy in The Making, Edinburgh University Press, Edinburgh, 2011.
  • IRR: “Iteration, Reiterarion, Repetition: A Speculative Analysis of Meaningless Sign”, transkrip kuliah di Freie Universitat, Berlin, 20 April 2012, diakses dari: https://cdn.shopify.com/s/files/1/0069/6232/files/Meillassoux_Workshop_Berlin.pdf.
  • IWB: “The Immanence of World Beyond” dalam Cannor Cuningham and Peter Candler (Eds), The Grandeur of Reason: Religion, Tradition and Universalism, terjemahan P. M. Candler Jr, A. Pabst & A. Riches, London: SCM Press, 2010. Hal. 444-78.
  • SR: “Speculative Realism” dalam Robin Mackay (Ed), Collapse Vol. 3, 2008, hal. 306-449.
  • TWB: Time Without Becoming, Mimesis International, 2014.
  • PV: “Potentiality and Virtuality”, terjemahan R. Mackay, dalam Levi Bryant, dkk. (Eds), The Speculative Turn: Continental Materialism and Realism, Re-press, Melbourne, 2011, hal. 224-236.
  • SS: “Speculative Solution: Quentin Meillassoux and Florian Hecker Talk Hypercahos” dalam Urbanomic Document, wawancara, 22 July, 2010, diakses dari: https://www.urbanomic.com/wp-content/uploads/2015/06/Urbanomic_Document_UFD001.pdf

Suryajaya, Martin, 2012, Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer, Resist Book,Yogyakarta.

[1] Untuk masalah ini, saya hanya membatasi diri pada tafsir Lacan versi HYP tanpa berambisi mengatakan bahwa Lacan adalah seorang korelasionisme kuat. Tidak mengeksplisitkan posisi pendekatan Lacanian dalam rekonstruksi Meillassoux menurut saya merupakan hal yang problematis. Bahkan jikalau HYP tidak setuju dengan rekonstruksi tersebut, para pembaca Meillassoux akan dapat memposisikan di mana kebarauan HYP dan apakah kebaruannya benar-benar keluar dari rekonstruksi Meillassoux tentang yang-absolut.

[2] Pada artikel sebelumnya saya menyebut term ini dengan fakta purba. Itu kurang tepat, karena Meillassoux membedakan antara arche-fact, yang memiliki makna yang sama dengan faktisitas, dan arche-fossil yang memiliki makna kejadian sebelum adanya pikiran (IRR: 9).

[3] Problem ini juga berlaku untuk debat fisika kuantum (AF: 114). Adanya pengaruh pengamat terhadap hasil observasi justru juga memberikan bukti bahwa ia tetap berjalan tanpa manusia. Bagaimana deskripsi fisika kuantum dapat benar dengan segala klaimnya adalah apa yang ingin disasar Meillassoux. Jika argumen ini ditarik dengan tafsir model korelasionisme (misal kita tidak tahu apa yang berada dalam korelat pengamatan fisika), maka temuan tersebut akan juga kembali terperangkap plester kontingensi. Artinya, deskripsi keterbatasan pengamat juga harus menspekulasikan asumsi kontingensi dan kemampuannya untuk diakses independensinya.

[4] Argumen ini memang tidak dibahas di AF, tapi cukup jelas di DI. Saya berani menulisnya karena DI sudah terdaftar dalam daftar pustaka HYP.

[5] Bagi saya, pengantar AF terlengkap dalam bahasa Indonesia, hingga saat ini, masih dipegang oleh buku ini.

LEAVE A REPLY