Blackhole (sumber: https://nerdist.com/we-may-be-about-to-see-a-black-hole-for-the-first-time-ever/)

Sekitar pertengahan bulan April lalu, setelah melalui pembicaraan yang cukup panjang, saya dan teman-teman di Zeno-Centre for Logic and Metaphysics  merasa beruntung karena diberi kepercayaan untuk membaca salah satu makalah Stephen Mumford, filsuf kontemporer Inggris, tentang absensi dan ketiadaan.[i] Artikel yang berguna untuk memberikan gambaran awal tentang kuliah yang akan ia ampu di Yogyakarta medio Mei nanti tersebut memberikan gagasan pada saya tentang penting dan praktisnya membicarakan absensi (ketidakhadiran) atau ketiadaan. Dan, memang, saya tidak pernah berpikir sejauh itu.

Ada beberapa hal yang membuat saya berpikir bahwa ketiadaan tidak memainkan peran penting, terlebih praktis, terutama secara filsafati. Pertama, saya adalah penikmat keras video-video sains di YouTube, yang saya yakin beberapa dari antara kalian juga begitu (karena hanya dengan ini kita dapat mengerti banyak hal tanpa perlu sekolah lanjut dan mengerjakan tugas dosen). Dan pada video-video tersebut, setiap kali saya mencari pembahasan tentang ketiadaan, saya hanya selalu menemukannya dalam pembahasan fisika, yakni “kekosongan” (emptiness) atau tentang ruang kosong.

Harus diakui, manuver Heidegger mencerahkan. Namun, lagi-lagi, dengan itu, Heidegger memiliki jawaban yang hampir sama dengan para fisikawan, ketiadaan hanyalah pembantu untuk mencapai kemengertian ada.

Dengan kata lain, sains tidak benar-benar berbicara tentang yang-tiada, tetapi yang-kosong. Sebagai contoh, apa yang terjadi pada suatu ruang yang tidak memiliki satu zat, partikel, atau atom? Atau jika terdapat dua planet yang terpisah, apakah mereka dipisahkan oleh kekosongan atau sesuatu? Jawaban umum dari dua pertanyaan tersebut adalah energi. Karenanya, bagi fisika, tidak ada yang tidak ada. Energi di mana-mana. Saya menerima pemahaman tersebut begitu saja, dan langsung menganggap bahwa pembahasan tentang ketiadaan kurang berharga karena sudah selesai di Fisika.

Kedua, adalah dari ranah filsafat itu sendiri. Waktu itu, saya membaca salah satu artikel seminal Martin Heidegger, “Apa Itu Metafisika?”. Artikel itu memang mencerahkan dan menempatkan problem ketiadaan sebagai lokus pembahasan. Namun, terdapat dua masalah. Masalah pertama lebih praktis, teks Heidegger hampir tidak dapat dipenetrasi tanpa membacanya berkali-kali. Dan itupun masih diragukan apakah pembacaan kita benar atau tidak! Banyak kata yang harus dipahami dalam konteks historisnya.

Masalah sisanya adalah posisi ketiadaan itu sendiri dalam teks Heidegger, yang alih-alih membahas pertanyaan-pertanyaan dasar dan praktis seperti apakah ketiadaan itu ada dan nyata dan adakah cara positif untuk menjelaskan ketiadaan, Heidegger malah menggunakan ketiadaan untuk menunjuk momen penyingkapan kita terhadap totalitas kebermaknaan kehadiran (bahasa sulitnya: ada). Harus diakui, manuver Heidegger mencerahkan. Namun, lagi-lagi, dengan itu, Heidegger memiliki jawaban yang hampir sama dengan para fisikawan, ketiadaan hanyalah pembantu untuk mencapai kemengertian ada.

Hingga titik tersebut saya tidak teryakinkan bahwa ketiadaan mungkin menjadi bagian esensial dari realitas. Juga, saya tidak dapat menemukan bagaimana ketiadaan dan absensi dapat ditunjuk.

***

Bagi Stephen Mumford, adalah tindakan yang terlalu terburu-buru untuk menghapus ketiadaan dari kamus teoretis. Ketiadaan, dalam sejarah filsafat, justru memainkan peran yang cukup signifikan. Banyak alasan mengapa kita membutuhkan (paling tidak butuh untuk membicarakan) ketiadaan atau absensi. Pada kesempatan kali ini kita coba mendalami dua di antaranya.

Pertama, karena ketiadaan memiliki peran penting (indispensability thesis) dalam penjelasan ilmu-ilmu. Apa yang dimaksud di sini bukanlah ruang kosong yang dijelaskan di awal, tetapi bagaimana ilmu sering menggunakan sifat negatif untuk menjelaskan suatu fenomena karena dirasa entitas yang-ada tidak dapat menjelaskan hal tersebut. Contoh paling mudah dan sering digunakan adalah bagaimana ilmu menjelaskan fenomena mati lemas dengan “ketiadaan” oksigen.

Sains tidak benar-benar berbicara tentang yang-tiada, tetapi yang-kosong. Sebagai contoh, apa yang terjadi pada suatu ruang yang tidak memiliki satu zat, partikel, atau atom? Atau jika terdapat dua planet yang terpisah, apakah mereka dipisahkan oleh kekosongan atau sesuatu? Jawaban umum dari dua pertanyaan tersebut adalah energi.

Pada kasus di atas, tidak ada entitas positif yang dapat menjelaskan sesak nafas. Mati lemas hanya dapat dipahami jika oksigen tiada. Implikasinya, kita harus mengakui bahwa ketiadaan, atau unsur negatif, memiliki daya kausal (causal power). Jika ditilik lebih dalam, memang kita sering menemukan kasus yang cukup absurd seperti ini, seperti ketiadaan Tarantula di kamar kita pada malam hari saat kita tidur nyenyak, atau ketiadaan meteorit yang menyerang bumi, menyelamatkan hidup kita. Menariknya, justru daya kausal itulah yang umumnya menjadi pembeda antara apa yang nyata dan tidak nyata. Kita bisa mengatakan bahwa gravitasi itu ada karena ia memiliki daya kausal, sedangkan, misal, ether, tidak.

Di sini kita menemukan paradoks. Ketiadaan, yang tidak-ada, yang-absen, justru seakan memiliki sifat utama dari lawannya, yang-ada, yakni daya kausal. Pertanyaannya, apakah dengan ini yang-tidak-ada itu menjadi ada? Jika ada, ia berarti bukan lagi menjadi yang-tidak-ada, padahal jelas ia tidak-ada. Tetapi, jika ia tidak-ada, mengapa ia bertingkah layaknya hal yang-ada? Jadi, apa itu yang-tidak-ada? Belum jelas! Seperti biasa, dilematik, kita biasa menggunakan sesuatu yang bahkan kita tidak tahu.

Kedua, karena ketiadaan penting untuk menentukan batas (boundaries). Plato adalah pemikir utama yang menjelaskan ini, dan ia melawan doktrin Parmenides yang mengatakan bahwa dunia ini hanya terdiri dari yang-ada. Plato, sebaliknya, berpendapat bahwa ketiadaan dan absensi adalah bagian tak terpisahkan dari realitas, karena hanya dengan ketiadaanlah yang positif dapat ada. Dengan kata lain, bagi Plato, di mana ada yang-positif, yang positif selalu membawa serta yang-negatif sebagai konsekuensi.

Sebagai contoh, kita bisa mendefinisikan manusia, jika kita memasukkan yang-bukan-manusia dalam kerangka pikir. Ini berlaku universal. Jika ada cantik, pasti ada yang-tidak-cantik. Jika ada X, kita butuh non-X, setiap ada X, pasti ada non-X. Namun, apa itu yang bukan-manusia, dan tidak cantik? Tentu saja itu adalah yang-tiada, yang-absen, yang-bukan. Manuver ini mengingatkan kita pada apa yang dilakukan Hegel dengan negasinya, bahwa jika terdapat ada, pasti ada yang-tidak-ada. Dalam posisi ini, kita seakan tidak dapat menghindari fungsionalitas dari ketiadaan atau absensi dalam konsepsi sehari-hari.

Namun, sama seperti pada persoalan sebelumnya, memasukkan ketiadaan dalam kerangka analisis membawa problem praktis baru, yang dalam hal ini biasa disebut dengan problem kesatuan (unity problem). Secara singkat, problem ini mempertanyakan status dari unsur atau sifat negatif yang membentuk batas dari yang-positif. Dengan kata lain, problem kesatuan bertanya: apa itu yang-negatif?

Jika kita mengakui bahwa hal-negatif, yang-tiada, atau yang-absen, membentuk hal positif, yang-ada, atau yang-hadir, kita akan terjatuh pada pada kesimpulan yang justru anti pada yang-tiada sebagai bagian dari realitas.

Pertanyaan tersebut muncul karena pada unsur atau sifat positif, kita dengan mudah dapat menentukan entitas yang ditunjuk olehnya. Sebagai contoh, saat kita menunjuk “kuda”, kita dapat dengan mudah menentukan ciri-ciri utamanya. Bahkan, karena kita telah memiliki pemahaman tertentu tentang ke-umum-an kuda, meskipun kita tidak tahu bahwa misal Y adalah kuda, saat Y memiliki ciri-ciri yang sama dengan kuda, kita bisa mengatakan bahwa Y adalah kuda.

Bagaimana dengan unsur atau sifat negatif? Di situlah masalahnya. Berbeda dari yang-positif, kita sulit untuk menunjuk yang-negatif dalam realitas. Misalnya, apa yang kita maksud dengan yang-bukan-lingkaran? Kesimpulan absurd akan mengikuti saat jalur Plato ini dipilih.

Jika kita menghitung semua yang-bukan-lingkaran sebagai yang-negatif, maka ia dapat menunjuk ke semua hal yang ada asal bukan lingkaran. Hal tersebut bisa dimulai dari unsur atau sifat yang setara, seperti persegi atau trapesium, hingga yang tidak memiliki persamaan sama sekali, seperti harimau dan atau ide. Ini belum memikirkan ketidaksetaraan antara yang ideal dan material. Implikasinya, yang-negatif adalah apa pun yang bukan-lingkaran.

Kesimpulan ini absurd karena jika yang ditunjuk hanya satu unsur atau sifat, misal persegi, pemilihannya akan arbriter. Selain itu, saat kita hanya memilih satu unsur atau sifat, kita sama dengan menolak hal-hal lain yang juga masuk sebagai bagian dari yang-bukan-lingkaran. Di tempat yang sama, jika yang ditunjuk adalah semua hal dan yang penting bukan hal yang ditunjuk, yang dalam hal ini lingkaran, yang negatif akan menjadi semua hal, yang berarti tidak lagi menjadi negatif karena ia menunjuk semua yang positif (ada). Artinya, apa pun pilihan yang dipilih, manuver ini hanya membawa kita pada bagian lain dari yang-ada, dan bukan yang-tidak-ada.

Sampai sini, kita kembali lagi masuk ke situasi yang membingungkan. Jika kita mengakui bahwa hal-negatif, yang-tiada, atau yang-absen, membentuk hal positif, yang-ada, atau yang-hadir, kita akan terjatuh pada pada kesimpulan yang justru anti pada yang-tiada sebagai bagian dari realitas. Namun, jika kita menerima penuh bahwa memang tidak ada yang-tidak-ada dalam realitas, kita akan kebingungan menunjukkan mengapa sifat atau unsur negatif itu benar-benar tidak ada, yang padahal selalu kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misal, dalam kalimart “X bukan lingkaran”. X jelas adalah sifat atau unsur nengatif dari lingkaran. Masalahnya, bagaimana jika sifat negatif itu benar-benar tidak ada? apa yang kita tunjuk? Masih bermaknakah kalimat tersebut?

***

“Adakah yang-tidak-ada?” Pertanyaan tersebut tampak sangat paradoksal sebagai sebuah pertanyaan. Namun, sebagaimana sudah dibahas, penting dan praktisnya peran ketiadaan dalam berbagai lini kehidupan (kemungkinannya mempunyai daya kausal dan sebagai pembatas) membuat diskusi atasnya menjadi sebuah hal berharga untuk dikejar.

Selama ini kita terbiasa untuk memahami segalanya dari persepketif yang ada dan melupakan bahwa ketiadaan selalu menyelip masuk tanpa disadari. Mungkin kelupaan ini yang membuat kita tidak dapat melihat hal-hal yang harusnya bisa dilihat dengan konsep yang jernih, seperti misal, dalam agama, konsep penciptaan dari ketiadaaan, atau dalam politik, konsep ketidakhadiran pemerintah, atau dalam etika, ketiadaan kejahatan. Belum lagi dengan misal, problem hal ghaib, entitas potensial, seni dan virtual. Ketiadaan dan absensi merupakan hal vital dalam kehidupan kita sehar-hari.

Saya tidak mengatakan bahwa membicarakan ketiadaaan akan membantu kita mendapatkan banyak keuntungan praktis dalam artian umum secara cepat. Namun, saya yakin bahwa tanpa memperbincangkan dan akhirnya menjawab problem-problem ketiadaan dan absensi, kita akan kesulitan untuk mencapai level baru dalam memahami dunia ini. Stephen Mumford dengan baik telah menunjukkan masalahnya. Sekarang saatnya kita dengan keras menagih jawabannya.


Catatan Akhir:

[i] Makalah tersebut diberikan secara gratis bagi peserta kuliah Ze-No International Lecture I: The Metaphysics of Absence. Lih: https://zenocentre.org/en_US/international-lecture/ . Artikel ini adalah resume singkat bagian-bagian awal makalah tersebut.

Facebook Comments