Ilustrasi : Guru Gobind Singh Ji (sumber: www.santabanta.com/photos/guru-gobind-singh-ji/9105018.htm)

Dalam hidup yang kian hari kian terasa hambar, kita seakan dituntut oleh situasi zaman untuk semakin menjadi manusia yang berjiwa Spartan. Hambar, lantaran kita semakin tak mampu untuk menyadari makna dari setiap peristiwa yang kita alami. Hambar lantaran kehidupan yang kita lewati begitu-begitu saja. Kita jatuh kepada ritual yang diulang setiap hari. Dan dengan pola seperti itu, kita akan mudah jatuh kepada pengkhianatan diri. Kita mengkhianati diri kita sendiri. Kita tak lagi menganggap diri kita mampu untuk bertindak lebih jauh, lebih baik, dan lebih berguna bagi orang lain. Dengan demikian kita telah menistakan panggilan hidup kita sendiri.

Dengan mengacu pada judul di atas, tentu saja tidak memaksudkan untuk menyalahkan guru sebagaimana seorang maling mengambil sandal jepit yang bukan miliknya. Bukan pula untuk memojokkan dan akhirnya menyimpulkan bahwa guru bukanlah sebuah profesi yang tepat. Bukan. Namun tulisan ini semata-mata ingin memberi gambaran bagaimana sebuah panggilan hidup menjadi guru menemukan berbagai macam tantangan di zaman ini. Yang menjadi soal bukanlah apakah layak seseorang yang cerdas hanya menjadi seorang guru, namun dapatkah seseorang itu menjadi guru yang semakin memanusiakan manusia?

Panggilan Guru

Siapapun anda, dan apapun predikat yang anda miliki, sesungguhnya anda tak lebih dari seorang manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama dengan orang lain. Namun, kerap kali, kita semua jatuh pada kebanggan diri berlebih. Kita seringkali lupa bahwa status dan predikat yang menempel pada kita hanyalah bonus dari rahmat Tuhan (istilah orang beragama). Begitu pula dengan posisi dan profesi guru. Seringkali guru dianggap tidak penting dan tidak menarik untuk dibicarakan. Padahal panggilan menjadi guru adalah sesuatu yang luhur. Sama seperti Yesus, Muhammad, ataupun Sidharta adalah guru kehidupan, sosoknya pada masa kehidupannya seringkali dicemooh. Ceramah dan pengajarannya seringkali dianggap “ngelantur” pada zamannya. Banyak perdebatan tentu saja yang ada soal ini.

Sebab manusia adalah makluk yang kompleks dan dinamis. Dan ketika hal yang kompleks dan dinamis itu kita definisikan, maka kita telah melakukan dosa besar, yakni mereduksi manusia sebagai sesuatu yang ajeg.

Bicara soal panggilan menjadi guru yang professional, tak dapat kita lihat hanya dari satu sisi saja. Sama halnya ketika kita bicara soal definisi apa yang pas untuk manusia? Apakah memadai jika manusia kita definisikan hanya sebatas makluk ciptaan Tuhan yang paling luhur yang dianugrahi akal budi? Tentu saya rasa tidak. Sebab manusia adalah makluk yang kompleks dan dinamis. Dan ketika hal yang kompleks dan dinamis itu kita definisikan, maka kita telah melakukan dosa besar, yakni mereduksi manusia sebagai sesuatu yang ajeg. Maka mari kita lihat persoalan panggilan menjadi guru ini juga dari beberapa segi.

Panggilan bukanlah sesuatu yang terjadi dari ruang kosong. Panggilan bukanlah seperti sebuah mimpi: ada seorang kakek tua datang dan berkata “hei kau, jadilah guru!”. Lantas orang yang bermimpi itu mengatakan bahwa ia sudah dipanggil menjadi guru? Itu bukanlah panggilan, sebab lagi-lagi sulit bagi kita untuk percaya begitu saja dengan yang namanya mimpi. Namun sebuah panggilan sebenarnya adalah irisan antara apa yang kau lakukan dengan baik, apa yang membuatmu merasa dihargai, dan apa yang kau lakukan membuat hidup orang lain lebih baik. Dengan kata lain, sebuah panggilan hidup selalu berasal dari hal yang dekat dengan kita. Bukan hal yang berasal dari ruang kosong. Bukan pula mimpi di siang hari bolong.

Demikian pulalah panggilan menjadi guru. Menjadi guru bukanlah perkara deliver message, bukan hanya menyajikan bahan ajaran, tetapi juga berkaitan erat dengan bagaimana membentuk karakter seseorang. Dalam literatur psikologi misalnya, dikatakan bahwa dalam kepribadian kita, ada bagian yang dinamakan superego. Secara sederhana, bagian ini merupakan bentukan dari pengalaman masa lalu yang mendarah daging dalam alam bawah sadar. Disanalah peran serta guru nampak. Guru membantu tiap pribadi dari kita untuk menjadi manusia yang utuh. Menjadikan kita semakin berkarakter dan peduli dengan sesamanya. Masih ingat dalam benak kita, ketika suatu kali kita ribut dengan teman kita ataupun melakukan hal bodoh, guru pasti mengambil sikap tegas: menegur kita. Teguran itu secara tak sadar membentuk konstruksi kepribadian kita. Misalnya: bahwa mencuri itu tidak baik.

Guru yang Profesional

Profesional sesungguhnya berasal dari bahasa latin, profesio yang berarti menghamba pada publik. Dalam arti tertentu, kita dapat mengatakan seseorang itu professional atau tidak bukan lagi dari kemahirannya dalam perkara teknis, namun sejauh mana tindakan yang ia lakukan berdampak baik bagi orang lain atau tidak. Dalam hal ini profesionalitas seseorang erat dengan hal etis. Maka tidak mungkin seseorang yang professional mampu diajak main belakang. Tidak akan mungkin. Dengan demikian guru yang profesional tidak akan mau terlibat dalam huru hara penipuan berkas. Juga guru yang professional tidak mungkin mau terlibat hanya dalam perkara sertifikasi, namun guru yang professional adalah mereka yang sungguh mendedikasikan hidupnya sepenuhnya demi kemajuan anak didiknya, sebab dalam diri orang lain, dalam diri anak didiknya termanifestasi kehadiran penciptanya.

Dalam literatur psikologi misalnya, dikatakan bahwa dalam kepribadian kita, ada bagian yang dinamakan superego. Secara sederhana, bagian ini merupakan bentukan dari pengalaman masa lalu yang mendarah daging dalam alam bawah sadar. Disanalah peran serta guru nampak.

Maka, sesungguhnya panggilan guru professional adalah sebuah daya upaya dalam diri tiap guru untuk semakin mengembangkan kecakapannya dalam mengabdikan dirinya bagi pembentukan karakter anak didiknya tanpa memandang predikat yang menempel dalam diri anak didiknya. Dengan demikian jelas, bahwa guru bukanlah sesuatu pekerjaan sebagaimana pelayan restoran yang menyajikan menu sesuai permintaan customer, namun guru adalah seorang pribadi yang mampu mewujudnyatakan perannya di tengah masyarakat dalam hal mendidik dan mengajar sekaligus membentuk kepridadian seseorang yang semakin manusiawi.

Mungkinkah?

Namun, mungkinkah ada guru yang mampu memiliki kapasitas seperti itu? Itulah gugatan yang harus terus menerus kita pertanyakan kepada guru. Gugatan itu bukanlah seperti penghakiman terakhir, namun gugatan ini adalah bentuk cinta akan panggilan guru. Sebagai seorang guru ataupun bukan, kita harus sadar bahwa apa yang kita kerjakan, apa yang kita lakukan bukan hanya bagi kepentingan perusahaan dimana kita bekerja, namun semua yang kita lakukan adalah demi diri kita dan demi apa yang menjadi tujuan hidup kita. Maka penting bagi seorang guru, untuk terus sadar dan tau apa yang menjadi tujuan hidupnya. Dan dengan menyadari semua hal ini, bukan tidak mungkin akan lahir sosok guru yang sungguh mengimani panggilannya sebagai guru professional. Semoga.

Facebook Comments
Pranowo Yogie
Alumnus STF Driyarkara. Saat ini bekerja di Kalbis Institute sebagai dosen struktural yang mengurusi seluruh mata kuliah di bawah rumpun humaniora, serta aktif menjadi sutradara dibeberapa teater independen di Jakarta.