The report proposes a kill switch on robots. © Francois Lenoir / Reuters (Sumber: www.rt.com)

Robot menjadi fenomena sosial yang relevan untuk direfleksikan. Robot-robot diproyeksikan dapat mengambil alih pekerjaan manusia. Tidak hanya pekerjaan yang sifatnya fisik, mereka didesain agar dapat membuat keputusan-keputusan strategis. Sebagai contoh, seiring dengan berkembangnya teknologi internet, banyak perusahaan menggunakan robot perangkat lunak ATS (Applicant Tracking Systems) untuk menyaring resume para pelamar kerja. Robot dengan logika binernya memutuskan kandidat yang tepat untuk kemudian dapat dipertimbangkan.  Ini tentunya mengubah cara pandang kita dalam menyusun resume, ia tidak ditujukan untuk manusia, tapi pertama-tama untuk robot.

Dalam praktik mengajar, perangkat lunak untuk menilai esai (grading essays robots) telah memunculkan kontroversi di Amerika Serikat. Teknologinya menggunakan algoritma machine learning seperti Google Translate yang memiliki kemampuan membaca dan menerjemahkan kalimat (Martin Ford, 2015). Dengan teknologi ini, guru tidak perlu lagi membaca dan memeriksa tugas, robotlah yang melakukannya. Fenomena MOOC (Massive Online Open Course) juga mengubah metode pembelajaran dalam pendidikan tinggi. MOOC menggunakan perangkat lunak interaktif termasuk grading essays robots. Dengan robot-robot tersebut, metode pengajaran yang pada dasarnya bersifat sosio-psikologis tergantikan dengan yang kalkulatif dan rasional.

Dalam wacana filsafat teknologi, keberadaan robot dapat dijelaskan melalui perspektif pascafenomenologi. Tidak seperti teknologi lainnya, relasi-relasi fungsional manusia-robot dalam teori ini didefinisikan sebagai relasi alteritas. Dalam relasi ini, kita melihat teknologi seolah-olah mereka manusia, hewan dan kekuatan supranatural.

Kita juga temui teknologi robotik menggantikan kerja fisik manusia. Drone dan mobil automatis merupakan contoh robot-robot yang kini telah digunakan dalam ranah publik. Amazon.com, toko online global, di Inggris mulai mempekerjakan drone untuk mengirimkan barang-barang dagangannya. Di Singapura, taksi automatis tanpa pengemudi (self-driving) telah beroperasi di daerah-daerah tertentu melalui pemesanan online. Transportasi publik ini dioperasikan oleh nuTonomy, sebuah perusahaan pengembang perangkat lunak dan algoritma mobil otonom berbasis di MIT.

Dalam wacana filsafat teknologi, keberadaan robot dapat dijelaskan melalui perspektif pascafenomenologi. Tidak seperti teknologi lainnya, relasi-relasi fungsional manusia-robot dalam teori ini didefinisikan sebagai relasi alteritas. Dalam relasi ini, kita melihat teknologi seolah-olah mereka manusia, hewan dan kekuatan supranatural. Don Ihde, filsuf teknologi yang mengajukan kerangka filosofis ini, mengacu pada konsep Emmanuel Levinas tentang ‘alteritas’ yang menjelaskan keberadaan wajah (atau keunikan) manusia-manusia yang lain (Ihde, 1990). Ada banyak teknologi dirancang dalam bentuk relasi alteritas. Sebagai contoh, mesin e-toll card yang menggantikan pekerjaan manusia di gerbang tol adalah teknologi dalam kategori relasi alteritas.

Ada beberapa pendapat yang saya ingin ajukan berkenaan dengan fenomena robot-robot. Pertama, ia harus dipahami dalam konteks sistem dan objek yang dapat menghasilkan efek-efek sosial-budaya. Meski tindakannya dikendalikan (dan dirancang) secara artifisial untuk kepentingan manusia, eksistensinya telah mengubah cara kita melihat teknologi. Kita memiliki kesan dan reaksi tertentu ketika berinteraksi dengan robot. Jadi masalah utamanya, menurut saya, bukanlah potensinya mengambil alih pekerjaan, tapi bagaimana mendefinisikan posisinya secara sosiologis di tengah masyarakat. Dengan kata lain, ada pelaku lain yang berperilaku seolah-olah ia itu manusia.

Riccardo Campa, dalam bukunya “Humans dan Automata: A Social Study of Robotics” (2015), membuat analisa sistematis tentang dimensi sosial dari robot. Ia membuat kesimpulan bahwa ilmuwan sosial harus berperan dalam merancang dan mengimplementasikan robot. Karena ia bukanlah teknologi dengan makna generiknya, robot meniru manusia, para ahli robot perlu berkolaborasi dengan para ilmuwan sosial untuk mengantisipasi dampak-dampaknya. Robot secara teknis berciri otomatis dan otonom, berbeda dengan teknologi lainnya, karena itu kita memiliki tanggung jawab moral jika ingin mempekerjakan robot.

Kedua, perlunya mensosialisasikan fungsi dengan sifat membantu yang ada pada robot. Ciri umum teknologi robotik adalah kemampuannya membantu pekerjaan mekanis (dan berulang-ulang) yang pada awalnya dikerjakan manusia. Tapi ada fungsi-fungsi strategis lainnya selain mekanisasi digunakan terutama dalam sektor industri. Sebagai contoh, kita dapat memanfaatkan robot untuk ilmu pengetahuan. Instrumentasi berdasarkan sistem dan objek robotik telah berkembang ke dalam berbagai bidang termasuk instrumentasi keilmuan.

Instrumen keilmuan robotik, misalnya, digunakan untuk observasi, eksplorasi dan pengukuran seperti Curiosity Mars rover, Deep-sea robot, dan teknologi penginderaan jarak jauh. Instrumen-instrumen tersebut telah membuka cakrawala baru dibandingkan instrumen- instrumen non-robotik. Selain itu, teleskop robotik yang diprogram untuk melakukan observasi astronomis secara otomatis tanpa dikontrol oleh manusia. Dengan teknologi ini, ilmuwan tidak harus selalu berada di depan teleskop.

Kemudian yang terakhir, munculnya fenomena robot-robot perlu dipertimbangkan melalui pendekatan edukasional. Di Indonesia, ilmu bagaimana membuat sistem dan objek robotik, seperti mekatronika dan kecerdasan buatan (AI), tidak sepopuler bidang lainnya. Kita bisa lihat sejarah kontes robot di Indonesia. Kontes pernah diadakan di ITB pada tahun 1987 untuk semua mahasiswa teknik di Indonesia. Pidato pembukaan secara resmi disampaikan oleh Prof. BJ. Habibie, namun hanya 9 peserta yang mengirimkan inovasi mereka. Semua peserta kemudian langsung masuk final (AKUTAHU / No. 57 / November 1987).

Kini kontes robot di Indonesia (KRI), yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, menarik banyak peminat muda berbakat. Simposium diadakan sebagai bagian dari kontes tahunan ini. Bahkan sering kali kita dengar mahasiswa Indonesia menjuarai kontes robot internasional. Kabar terakhir mahasiswa Indonesia yang diwakili oleh Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Malang menjadi juara umum kontes robot di Trinity College, Amerika Serikat, yang diselenggarakan pada 1-2 April 2017. Mereka menjuarai kontes robot pemadam kategori berkaki dan beroda.

Kita telah memasuki zaman robot. Meski sebagian besar tidak dalam wujud humanoid (apalagi android) seperti dalam film-film sains-fiksi: Bicentennial Man (1999), A.I. Artificial Intelligence (2001) dan Ex Machina (2014), namun ia tetap menyerupai gerakan tubuh dan kecerdasan manusia. Kita selalu melihatnya sebagai teknologi yang bersifat otonom dirancang berdasarkan ilmu dan teknologi. Inilah yang membuat keberadaannya menghasilkan refleksi-refleksi filosofis. Kita mesti percaya robot suatu saat akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

LEAVE A REPLY