COMMUNIST PARTY OF THE RUSSIAN FEDERATION Sumber: (http://cprf.ru)

Telah banyak kritik yang dilancarkan pada Goenawan Mohamad (GM) oleh kaum kiri atau Marxis, seterusnya saya sebut saja kaum kiri. Mulai dari Martin Suryajaya, Muhammad Al-Fayyadl, juga Roy Murtadho. GM seakan sudah menjadi musuh bersama bagi kaum kiri. Kritik terhadap GM, juga dilancarkan oleh seorang pegiat di LSF Cogito, yakni Taufiqurrahman. Bulan lalu, ia menulis sebuah tulisan yang mempermasalahkan dakwaan GM bahwa komunisme telah gagal.

Saya punya beberapa problem dengan tulisan Taufiqurrahman. Namun, di sini, posisi saya tidak berlawanan dengannya. Di sisi lain, saya juga tidak berlawanan dengan GM. Penjelasannya akan saya jabarkan setelah ini. Pertama, kita mulai dari kritik Taufiqurrahman terhadap GM. Dari penjabarannya, GM salah ketika menyatakan bahwa komunisme telah gagal. Ia membuat persamaan antara proposisi GM dengan falsifikasionisme Popperian. Kurang lebih, saya parafrase, suatu teori bersifat falsifiable atau dapat disalahkan. Teori x adalah teori yang mapan karena telah teruji dengan berbagai eksperimen. Ketika ada eksperimen lain yang bertentangan dengan teori x, maka teori x dapat dinyatakan gugur. Komunisme bersifat falsifiable. Komunisme coba diterapkan di beberapa tempat. Namun, hasilnya gagal. Maka, komunisme bisa disebut gagal.

Taufiqurrahman menolak hal tersebut karena, prinsip falsifikasi; a. “tidak melihat kemungkinan bahwa keterangan observasi juga dapat salah (falsifiable)”, b. “Jangan-jangan eksperimennya yang salah.”[1] Maka, dengan mengutip Badiou, Taufiqurrahman menjelaskan bahwa “Kegagalan komunisme di Soviet dan China, bagi Badiou, hanyalah kegagalan yang eksternal dari hipotesis komunis. Dengan kata lain, yang gagal bukan hipotesis komunisnya, melainkan eksperimen tertentu atas hipotesis komunis.”

“Ide komunisme sendiri belum terbuktikan gagal, sebab ia masih bisa diwujudkan dengan beragam cara yang mungkin di masa-masa mendatang”. Sembari mempertahankan kemungkinan menerapkan komunisme kembali, Tafiqurrahman mengingatkan agar kita tidak “keburu mewartakannya telah gagal”.

Saya akan jabarkan lebih panjang tentang argumen Alain Badiou di atas. Ia mengibaratkan kegagalan komunisme layaknya perjalanan hipotesis matematika. Misalkan ada seseorang yang mengajukan hipotesis tertentu. Ilmuwan lain akan mencoba membuktikan hipotesis tersebut. Mungkin akan ada yang gagal, mungkin ada yang berhasil. Namun, hipotesis itu adalah landasan pacu dalam proses pengembangan matematika. Maka, kita harus melihat komunisme layaknya hipotesis itu. Percobaan yang dilakukan di abad 20 mungkin memang gagal. Namun, hipotesis itu tak boleh ditinggal begitu saja. Menurut Badiou, “fail­ure is noth­ing more than the his­tory of the proof of the hypo­thesis, provided that the hypo­thesis is not aban­doned. As Mao puts it, the logic of imper­i­al­ists and all reac­tion­ar­ies the world over is ‘make trouble, fail, make trouble again’, but the logic of the people is ‘fight, fail, fail again, fight again … till their vic­tory’.”[2] Mudahnya, mengutip Samuel Beckett; try again, fail again, fail better; coba lagi, gagal lagi, gagal lebih baik.

Apa yang bisa dipetik dari penjabaran di atas ialah bahwa “Ide komunisme sendiri belum terbuktikan gagal, sebab ia masih bisa diwujudkan dengan beragam cara yang mungkin di masa-masa mendatang”. Sembari mempertahankan kemungkinan menerapkan komunisme kembali, Tafiqurrahman mengingatkan agar kita tidak “keburu mewartakannya telah gagal”.

Saya sepakat sepenuhnya atas penjabaran di atas. Namun, saya merasa ada yang kurang. Di satu sisi, Taufiqurrahman (atau lebih pas Alain Badiou) membuka suatu jalan untuk menerima bahwa komunisme sebagai ide masih memiliki kemungkinan untuk diterapkan. Di sisi lain, kita tak boleh berhenti hanya mempertahankan komunisme tanpa mempertimbangkan kondisi saat ini. Dalam kata lain, kritiknya atas GM tidak cukup dan kita perlu melangkah lebih jauh.

Sebelum melanjutkan berjalan, saya akan menjabarkan mengapa di awal saya menyatakan bahwa saya tidak berlawanan dengan GM. Dalam arti, saya mengafirmasi penuh bahwa, menyitir pernyataan Slavoj Žižek, komunisme abad 20 telah berakhir secara mengenaskan. Dalam bahasa Žižekmalah disebut “total failure”.[3] Hal itu dapat kita lihat dari, misalnya, kehancuran Uni Soviet. berubahnya Tiongkok menjadi kapitalis raksasa, atau kelangkaan pangan di Venezuela.[4] Ya. Kita harus mengakui, percobaan komunisme atau sosialisme di abad 20 gagal. Namun, mengutip Bertolt Brecht, “kekalahan harus diakui, tapi bukan berarti kita harus berhenti berjuang.”[5]

Menurut Žižek, setelah kekalahan kaum Kiri pada perang dingin yang ditandai rubuhnya Uni Soviet dan tembok Berlin, kaum Kiri seakan mengamini secara otomatis tesis Francis Fukuyama. Sederhananya, Francis Fukuyama menyatakan bahwa dengan tumbangnya kaum Kiri, kini kapitalisme dan demokrasi liberal telah menang. Hal ini menguatkan pernyataan Thatcher bahwa ‘there is no alternative’. Alternatif terhadap apa? Apa lagi kalau bukan kapitalisme dan demokrasi liberal.

Kaum Kiri pasca kekalahannya pada periode 90 hingga 2000-an semacam kehilangan daya radikalnya. Menurut Žižek, orang-orang tak lagi mempertanyakan “apakah kapitalisme satu-satunya cara?”. Justru, kaum Kiri seakan mengamini apa yang dinyatakan Fukuyama dan Thatcher. Lalu, apa yang mesti dilakukan kaum Kiri?

Langkah awal telah dilakukan Taufiqurrahman (bersama Badiou) bahwa ide tentang komunisme harus dipertahankan. Namun, apakah cukup? Sudah sejak awal saya katakan: tidak. Pertanyaannya saat ini adalah, mengutip Žižek kembali: “apakah kita menerima “naturalisasi” kapitalisme, atau apakah kapitalisme global saat ini mempunyai antagonisme tersendiri yang cukup kuat untuk mencegah reproduksinya yang terus-menerus?”[6]

Menjawab pertanyaan tersebut, Žižek menawarkan empat hal[7]; a. masalah ekologi; b. Masalah hak kepemilikan pribadi dan hubungannya dengan hak kepemilikan intelektual; c. implikasi dari perkembangan sains dan teknologi, khususnya bioteknologi; d. Terbentuknya tembok-tembok baru. Kita akan bahas poin per poinnya.

Pertama, masalah ekologi. Banyak sekali masalah ekologi yang tengah umat manusia hadapi, contoh paling mudahnya pemanasan global. Saya kira ini sudah menjadi fakta umum dan tak perlu saya jabarkan panjang lebar lagi fakta tentang itu. Pertanyaan yang kemudian muncul ialah: bagaimana manusia akan menyelesaikan masalah pemanasan global dengan kapitalisme? Roy Scranton, seorang penulis asal Amerika Serikat, dalam Learning to Die in the Anthropocene menjelaskan bahwa jalan satu-satunya mencegah pemanasan global untuk semakin meningkat adalah dengan mengedalikan pembuangan gas CO2 sesegera mungkin. Menurutnya, saat ini bumi kita sudah dua hingga tiga derajat fahrenheit lebih panas dibanding masa praindustri. Bahkan, lanjut Scranton, meskipun kita berhenti mengeluarkan CO2 sekarang juga, kita akan tetap terkena imbasnya hingga berabad-abad.

Menurut Scranton, solusi terbaik membatasi pengeluaran limbah CO2 adalah mengurangi ketergantungan dari bahan bakar fosil. Dalam kata lain dekarbonisasi ekonomi global. Namun, menurut Scranton, “Masalahnya adalah dekarbonisasi global secara efektif bertentangan dengan kapitalisme global. Kapitalisme butuh profit untuk menarik investasi. Profit membutuhkan pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi global, bahkan stabilitas ekonomi, bergantung pada energi yang murah dan efisien.”[8] Mudahnya, kapitalisme mereproduksi diri secara tak terbatas, sedang sumber daya (alam) sangat terbatas.

Kedua, masalah tentang hak kepemilikan pribadi dalam era internet. Saya akan melakukan jalan memutar terlebih dahulu. Kita harus pahami terlebih dahulu bahwa secara umum saat ini teori ekonomi yang berlaku adalah marginalisme atau teori utilitas marginal. Salah satu pendirinya adalah Léon Walras. Secara sederhana, teori utilitas marginal menyatakan bahwa “tidak ada nilai intrinsik pada apapun, kecuali apa yang diinginkan pembeli untuk dibayar pada waktu tertentu.”[9] Walras sendiri menekankan bahwa “Harga jual suatu produk ditentukan oleh pasar … dengan mengacu pada utilitas dan kuantitas. Tidak ada kondisi lain untuk dipertimbangkan karena ini adalah keniscayaan dan kondisi yang pas.”[10] Marginal dalam artian ini secara sederhana berarti nilai yang ada ada di lebihannya yang ingin dibeli, bukan di produk itu sendiri. Maka, harga cabai terakhir di pasar lebih tinggi dari yang lain.

Ada penekanan lain dalam marginalisme, yakni pasar pasti rasional. Pasar dipandang sebagai ekspresi keinginan kolektif yang rasional. Sehingga, pasar yang bebas dan penuh kompetisi akan mencapai equilibrium. Contoh yang digunakan Walras adalah: harga adalah hasil dari pilihan pribadi, jika suplai menurun maka pilihan rasionalnya adalah untuk berhenti membeli. Sebaliknya, jika suplai meningkat, maka secara rasional orang akan menginginkanya dan memutuskan harga untuk membelinya. Namun, para marginalis mengasumsikan bahwa jika terjadi krisis, maka penyebabnya pasti bukan ekonomi. Sebab, kapitalisme bertendensi untuk mencapai equilibrium.

Bagaimana marginalisme saat ini? Menurut Paul Mason, jurnalis asal Inggris, munculnya barang informasi menggoyahkan pondasi marginalisme sebab asumsi dasarnya adalah kelangkaan. Sedangkan, informasi sendiri sangat berlebih. Jika Walras menyatakan bahwa tidak ada produk yang bisa dilipatgandakan tanpa batas, Mason langsung menyergapnya dengan cerdas: Ya, bilang saja ke pembuat Game of Thrones yang episode dua dari musim keempat-nya diunduh secara ilegal oleh 1,5 juta orang hanya dalam 24 jam.[11]

Mason menjelaskan bahwa secara potensi, informasi bisa diproduksi secara unlimited. Konsekuensinya, harga produksi marginalnya akan menjadi nol. Ditambah lagi dengan harga marginal beberapa teknologi informasi fisik juga berkurang menuju nol. Di lain pihak, konten informasi banyak barang fisik juga bertambah, memungkinkan komoditas tersebut menurun ongkos produksinya secara drastis. Dengan begitu, mekanisme harga dalam marginalisme akan runtuh.

Kita, kaum kiri, mungkin belum bisa memberi alternatif komunisme macam apa yang akan dijadikan arah pandang. Namun, kita tahu betul bahwa ide tersebut yang dibawa merupakan suatu jawaban atas permasalahan yang ada. Ide tersebut tidak datang dari langit, melainkan hasil dari analisis mengenai permasalahan konkret.

Maka, dengan kemungkinan adanya full information economy, Mason menjelaskan bahwa: “di mana kebanyakan utilitas/kegunaan dipenuhi melalui informasi dan barang fisik secara relatif cukup banyak tersedia, mekanisme harga yang dijelaskan marginalisme akan hancur berantakan. Sebab marginalisme adalah teori harga dan hanya harga, ia tak bisa menjelaskan dunia di mana barang berharga nol, adanya ruang pembagian ekonomi, organisasi non-pasar dan produk yang tidak bisa dimiliki sendiri.”[12] Maka, dapat kita lihat bahwa tendensi perkembangan ekonomi adalah menuju ekonomi berbasis informasi. Konsekuensinya, bisa jadi kita tidak perlu lagi punya barang pribadi bahkan tak perlu uang. Bisa kita simpulkan bahwa dalam jangka waktu tertentu, kapitalisme tidak bisa bekerja dengan marginalismenya.

Ketiga, mengenai permasalahan bioteknologi. Perkembangan bioteknologi sangatlah cepat. Beberapa minggu lalu bahkan para ilmuwan dari Salk Institute di California melaporkan keberhasilannya memasukkan gen manusia ke dalam babi untuk menciptakan suatu chimera yang menyatukan manusia dan babi. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk menyediakan donor bagi yang membutuhkan.[13] Di lain bagian di dunia, tim Ilmuwan yang dipimpin Craig Venter, Ph.D bahkan sudah mampu menciptakan organisme sintetis dari laboratorium.[14] Bukankah perlahan-lahan kita menjadi Tuhan?

Apa konsekuensi dari perkembangan sains dan teknologi seperti di atas? Žižek menyatakan bahwa “kita memasuki suatu fase baru di mana alam (nature) sendiri menguap di udara: konsekuensi utama dari terobosan saintifik dalam biogenetik adalah berakhirnya alam.[15] Dengan semakin berkembangnya bioteknologi, batas-batas antara manusia dan alam semakin kabur. Lalu, apa yang terjadi? “Alam tak lagi “alami”, “kepadatan” yang menjadi latar belakang kehidupan kita; sekarang terlihat serupa mekanisme ringkih, yang kapan saja, bisa meletup ke arah bencana.” [16]

Keempat, dan yang terakhir, terciptanya tembok-tembok baru. Kapitalisme global yang menjanjikan keterbukaan dan inklusi justru menciptakan pembatas besar antara Yang-di-dalam dan Yang-di-luar. Peter Sloterdijk, filsuf Jerman yang juga karib Žižek, menjelaskan bahwa kapitalisme global justru menbangun eksklusivitas. Ia menjelaskan bahwa dalam kapitalisme mutakhir ada yang namanya ‘world interior’. Secara sederhana Žižek, menginterpretasi teks Sloterdijk, menjelaskan dalam Trouble in Paradise (2014) bahwa ‘world interior’ itu “bangunan dan ekspansi…yang batasannya tak terlihat namun tak tertembus dari luar”.[17] Konsekuensinya adalah kapitalisme global, atau globalisasi, tidak hanya membuka ruang keterbukaan seluas-luasnya. Namun, ia juga menciptakan suatu globe yang memisahkan Yang-di-dalam dan Yang-di-Luar. Mengutip Žižek kembali: “rengkuhan kapitalisme secara global didasarkan pada caranya menunjukkan pembagian kelas yang radikal di seluruh dunia, memisahkan mereka yang terlindungi lingkarannya dari mereka yang tersisih dari lindungannya.”[18] Siapa Yang-di-dalam’? Tentu para pemenang globalisasi, atau mudahnya para kapitalis atau borjuis. Sedang Yang-di-luar siapa lagi kalau bukan prolerariat.

Maka, kini kita sudah mengerti apa masalah-masalah fundamental dalam kapitalisme, meski baru dieksplorasi argumen Žižek semata. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa kapitalisme bukan satu-satunya cakrawala masa depan. Ia mempunyai berbagai masalah yang kemungkinan besar tak bisa diselesaikan oleh mekanismenya sendiri. Sebab, masalah yang dihadapinya ialah inheren, artinya ada pada dirinya sendiri.

Tepat di sinilah kita butuh untuk mempertahankan ide tentang komunisme. Kita, kaum kiri, mungkin belum bisa memberi alternatif komunisme macam apa yang akan dijadikan arah pandang. Namun, kita tahu betul bahwa ide tersebut yang dibawa merupakan suatu jawaban atas permasalahan yang ada. Ide tersebut tidak datang dari langit, melainkan hasil dari analisis mengenai permasalahan konkret. Itulah mengapa saya tekankan di awal bahwa saya tidak menolak pendapat Taufiqurrahman atau pun GM. Sebab, bagi saya, hanya dengan menerima bahwa komunisme abad 20 gagal, kita bisa merumuskan ulang segala sesuatunya.

Ada guyonan Soviet tentang Lenin yang sering dilontarkan Žižek. Dalam sosialisme, Lenin selalu menyarankan pada para pemuda untuk selalu “belajar, belajar, dan belajar!” Nah, guyonannya begini: Marx, Engels, dan Lenin ditanya apakah mereka lebih memilih istri atau pacar. Marx sebagai seorang yang konservatif dalam hal seperti itu berkata “Istri!”. Engels, orang yang lebih terbuka lebih memilih pacar. Secara mengejutkan, Lenin berkata, “Saya memilih keduanya!” Mengapa? Apakah karena hasratnya? Tidak. Lenin menjelaskan: “Jadi, saya bisa bilang ke istri saya kalau saya pergi ke pacar saya dan bilang ke pacar saya kalau saya bersama istri saya…” “Lalu, anda ke mana, kamerad Lenin?” “Saya pergi ke tempat sepi untuk belajar, belajar dan belajar!”

Nah, sekarang, ketika kita tahu permasalahan fundamental dari kapitalisme hari ini, kita harus meniru Lenin. Kita mesti banyak-banyak belajar, belajar dan belajar. Hal yang harus menjadi prioritas adalah lebih banyak berpikir guna menawarkan solusi atas masalah-masalah yang telah kita ketahui. Lagi-lagi saya harus setuju dengan Žižek yang mungkin dengan sembrono ingin membalik tesis kesebelas Marx. Jika awalnya berbunyi: Philosophers have hitherto only interpreted the world in various ways; the point is to change it. Maka, Žižek mengusulkan: “In the twentieth century, we maybe tried to change the world too quickly. The time is to interpret it again, to start thinking.[19]

 

~See you, either in hell or in communism.


Catatan Akhir:

[1] Lih. Taufiqurrahman, “GM dan Kepikunan Popperian”, http://lsfcogito.org/gm-dan-kepikunan-popperian/

[2] Lih. Alain Badiou, “The Communist Hypothesis”, (London: Verso, 2015), hal. 7

[3] Lih. Wawancara Slavoj Žižek dengan BBC, http://news.bbc.co.uk/2/hi/programmes/hardtalk/8374940.stm

[4] Meski, saya mengakui, kita bisa berdebat panjang bahwa hal tersebut tidak semata-mata karena masalah internal sosialisme tapi serangan dari pihak luar, semisal Amerika Serikat, dll.

[5] Lih. Bertolt Brech. “Against Georg Lukács.” New Left Review 84 (1974): 39.

[6] “[do] we endorse this “naturalization” of capitalism, or does contemporary global capitalism contain antagonisms which are sufficiently strong to prevent its indefinite reproduction? dlm. Slavoj Žižek, “In Defense of Lost Cause”, (London: Verso, 2009), hal. 421

[7] Bdk. Slavoj Žižek, First as Tragedy, then as Farce(London: Verso, 2009), pp. 90-91

[8] “The problem is that global decarbonizaation is effectively irreconcilable with global capitalism. Capitalism needs to produce profit in order to spur investment. Profit requires growth. Global economic growth, even basic economic stability, depends on cheap, efficient energy.” dlm. Roy Scranton, “Learning to Die in the Anthropocene”. (San Fransisco: City Lights, 2015), hal. 27

[9] “there is no intrinsic value to anything, except what a buyer will pay for it at a given moment.” dlm. Paul Mason, “Postcapitalism: A Guide to Our Future”, (London: Macmillan, 2016), hal. 191

[10] “The selling prices of products are determined in the market…by reason of their utility and their quantity. There are no other conditions to consider for these are necessary and sufficient conditions.” dlm. Ibid

[11] Lih. http://www.ibtimes.co.uk/game-thrones-purple-wedding-becomes-most-shared-illegal-download-ever-1445057 dalam Ibid, hal. 195

[12] “where much of the utility was provided through information and physical goods were relatively abundant, the price mechanism as described by marginalism would fall apart. Because marginalism was theory of prices and prices only, it cannot comprehend a world of zero-priced goods, shared economic space, non-market organization and non-ownable products.” dlm. Ibid, hal. 197

[13] Untunk paparan lengkapnya sila kunjungi http://www.balairungpress.com/2017/02/manusia-babi-antara-keselamatan-dan-etika/

[14] Lih. http://www.rdmag.com/article/2016/03/scientists-create-revolutionary-synthetic-life-form

[15] “[w]e are entering a new phase in which it is simply nature itself which melts into air: the main consequence of the scientific breakthroughs in biogenetics is the end of nature.” dlm. Slavoj Žižek, “Censorship Today: Violence, or Ecology as a New Opium for The Masses”, Lacan.com, 2008;18, hal. 42-3.

[16] “Nature is no longer “natural,” the reliable “dense” background of our lives; it now appears as a fragile mechanism which, at any point, can explode in a catastrophic direction.” dlm. Ibid

[17] “[t]he construction and expansion…whose boundaries are invisible yet virtually insurmountable from without” dlm. Slavoj Žižek, “Trouble in Paradise: From the end of history to the end of capitalism”, (New York: Melville House, 2015), hal. 78

[18] “[c]apitalism’s global reach is grounded in the way it introduces a radical class division across the entire globe, separating those protected by the sphere from those outside its cover.” dlm. Ibid. hal. 79

[19] Lih. “Slavoj Žižek: Don’t Act. Just Think.”, https://www.youtube.com/watch?v=IgR6uaVqWsQ

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY