Ilustrasi dari dokumen pribadi penulis

Beberapa hari yang lalu, salah satu teman saya mengeluhkan kondisi ‘gila’ yang dialaminya di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Sesalan yang dia sasar bukan pada wabah secara umum, akan tetapi dampak sosiologis. Ia mengaku tidak memahami kebanyakan orang yang masih saja mengeluhkan kondisi ini, terutama karena alasan terbatasnya hubungan sosial. Padahal baginya selama ini pola hubungan sosial yang terjadi sudah tidak baik-baik saja, dan jika membandingkannya dengan kondisi hari ini maka menurutnya tidak ada bedanya. Ya, terlepas dari pembatasan kegiatan sosial dan ancaman kehancuran ekonomi, baginya situasi yang dilebih-lebihkan ini adalah bentuk romantisasi masa lalu yang justru tidak pernah ada dan kehangatan sosial sejak dari lama sudah tidak terasa. Sebelumya, sebagai seorang jurnalis, ia sendiri tidak memberatkan dirinya jika harus di rumah dan tidak bisa liputan ke lapangan dan lain sebagainya. Sebaliknya ia merasa dirinya cukup menikmati kebijakan kerja dari rumah tersebut karena pada momen ini ia menemukan titik di mana ia harus menghindari keriuhan.

Dalam kesempatan lain, setelah rutinitas work from home, saya juga kedatangan seorang teman baik lainnya. Sangat mengejutkan, sebab sudah cukup lama tidak berjumpa dengannya, mungkin sejak pertama kali merebaknya virus ini pada pertengahan maret lalu.  Rumahnya tidak cukup jauh dengan indekos saya, akan tetapi kami lama tidak berjumpa karena anjuran pembatasan sosial yang diberlakukan. Saya pun cukup senang dengan kedatangnya yang bertujuan untuk mengambil satu barang penting. Kita berbicara banyak hal meskipun dalam tempo yang tak lama, mulai dari membahas kegiatan keseharian terkini, dampak pekerjaan di tengah pandemi, dan berbagi cara menjaga kewarasan dengan kritis terhadap masifnya informasi. Namun, ada satu hal yang dikeluhkan sang sahabat yang menarik perhatian saya, yakni bagaimana dirinya sangat menderita dengan berbagai macam bentuk nostalgia yang menghampirinya. Serba tidak jelas, ia tak habis pikir, dalam kekosongan khayalannya, nostalgia bisa membawanya sangat jauh bahkan ke masa-masa dirinya masih kanak-kanak. Sama halnya dengan teman yang mengeluhkan bagaimana kondisi komunikasi hari ini membawanya pada bias-bias masa lalu pola interaksi kita. Akhirnya saya menemukan korelasi masalah yang terjadi: di tengah kondisi yang sepi dan menakutkan seperti ini, apakah nostalgia sungguh berbahaya?

Persis dengan apa yang diajarkan Freud dalam psikoanalisis, nostalgia dianggap tidak hanya sebagai kerinduan akan masa lalu, tetapi kerinduan untuk masa yang benar-benar tidak pernah ada.

Masa lalu, Masa yang Tidak Pernah Ada

Memahami masa lalu, masa kini, dan masa depan jauh lebih rumit dari apa yang kita bayangkan. Bukan melulu soal kalkulasi fisika dan matematis-kuantitatif—‘waktu’ ternyata juga melibatkan dimensi diri, aspek ontis-ontologis dari keberadaan manusia di dunia itu sendiri. Tentu masalah datang ketika kita dihadapkan pada berbagai persoalan, di antarnya seperti nostalgia dan bentuk romantisasi masa lalu lainnnya. Akan tetapi saya sungguh-sungguh menolak sentimentalitas berlebih terhadap masa lalu dalam bentuknya yang ‘semu’. Sebab, di masa pandemi yang gila ini kita sebenarnya tidak betul-betul diisolasi. Sama halnya dengan kasus yang teman saya bawa di atas, kita lebih dari apapun lebih terbelenggu pada layar gawai kita yang bisa mengakses media apa saja yang mempermudah kita.

Sebelum masuk pada poin utama, kita perlu menguji terlebih dahulu beberapa hal. Kesemuan yang saya tunjukan terhadap kondisi ini adalah konteks di mana momen yang gila ini seakan-akan menjadi pembenaran atas digitalisasi dan otomatisasi yang sudah menubuh menjadi bagian dari manusia. Secara kebudayaan, nostalgia  bisa dikatakan menjadi bagian yang meresap pada momen kontemporer kita dewasa ini. Hal ini karena kontsruksinya yang selalu berhubungan dengan kerinduan bernada mitos akan perasaan atau harapan kembalinya momen masa lalu yang ideal. Persis dengan apa yang diajarkan Freud dalam psikoanalisis, nostalgia dianggap tidak hanya sebagai kerinduan akan masa lalu, tetapi kerinduan untuk masa yang benar-benar tidak pernah ada. Oleh karena itu dapat dikatakan, nostalgia ini tak lebih dari logika budaya populer yang membentuk realitas menggunakan fantasi dan imajinasi masa lalu yang tujuannya untuk mencampur, menghidupkan, atau mereformasi ide, ideologi, atau narasi dengan cara yang bertujuan dan berulang—dan di sini budaya populer tampaknya kecanduan masa lalunya sendiri.

Medium yang dipakainya juga tak lebih dari rupa-rupa bentuk budaya pop. Seperti contoh, tak ada yang bisa mengalahkan perasaan atau ingatan luar biasa yang membanjiri fantasi kita ketika mendengarkan lagu yang mengingatkan pada sang mantan, cinta pertama, masa kanak-kanak, atau liburan terbaik yang biasa kita habiskan bersama sahabat. Dengan berbahaya, nostalgia ini memuncak, saat secara kolektif banyak orang yang mengharapkan satu puncak besar terkait wabah ini yang memberi kejelasan dan setelah itu semuanya akan secara bertahap kembali normal. Tak dapat disangkal, akhir-akhir ini hampir semua orang tejebak dalam kebijaksaan naif yang merindu untuk menyaksikan semua orang berkumpul, bertepuk tangan, melihat keterampilan yang dipelajarinya, hubungan yang dibentuk atau diperkuat, dan mode yang kita ikuti atau keramahan yang terpancar pada setiap orang.

Bagaimanapun, apa yang ingin saya katakan adalah nostalgia memerankan peranan penting tentang bagaimana teknologi dipersepsikan dan diterima, atau bagaimana narasi dalam budaya populer dipahami dan diproduksi terus menerus–nostalgia di sini memiliki kekuatan untuk memberikan rasa aman dan kepastian.

Masihkah Ada Harapan?

Masalah muncul saat konsekuensi rasa aman dan nyaman yang dimunculkan secara sistemik dari proses digitalisasi ini juga sungguh sangat berbahaya. Seakan mendapat momentumnya, wacana Soshana Zuboff tentang fase baru dari kapitalisme ‘surveillance capitalism’ atau kapitalisme pengawasan, kini mendapatkan wujudnya. Hal ini tak lain berkat isolasi sosial virus corona yang semakin menuntut banyak interaksi manusia yang bergerak secara daring dan dimediasi oleh perusahaan teknologi yang haus data. Terlebih lagi, Google dan Apple sedang bekerja untuk mengembangkan aplikasi pelacakan kontak yang dapat digunakan oleh departemen kesehatan masyarakat untuk memantau virus. Penggunaan perangkat pengawasan yang luas juga diterima tanpa hambatan. Drone kini tidak hanya digunakan di Cina tetapi juga di Italia dan Spanyol. Belum lagi menyebut proyek singularitas ekstem yang dapat menghilangkan batas individualitas jasmani kita dalam bentuk intervensi otak langsung yang kini tengah di garap, seperti Neuralink milik Elon Musk dan program seruapa lainnya.

Lantas, apakah masa depan kita betul-betul tanpa harapan? “We learn from history that we do not learn from history”, satu yang bisa kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak belajar apapun dari sejarah. Begitulah kutipan terkenal salah satu filsuf besar Jerman, Hegel. Posisi saya sebenarnya sangat skeptis dengan kebijaksanaan yang memberitahukan kita bahwa pandemi ini akan membuat hidup manusia lebih baik. Fakta yang tersaji sungguh jelas, selain korban yang banyak berjatuhan, ancaman kekacauan ekonomi yang mungkin membawa dampak lebih buruk daripada kriris finansial 2008 juga kini di depan mata.

Harapan selalu ada dan justru ini adalah momentum terbaik untuk suatu perubahan. Akan tetapi kita harus berhenti mengaggap situasi akan kembali normal seperti dahulu. Karena, jika saya menggunakan bahasa Heidegger, temporalitas selalu terstrukturkan dalam kesatuan masa lalu, masa kini, dan masa depan—di mana manusia atau dasein sebagai makhluk yang-berada-di-dunia memahami bahwa ia bergerak, melaju, dan berjalan dalam lintasan waktu. Perubahan momen dan pengalaman pahit ini harus dimaknai sebagai antisipasi dan penambahan kesadaran manusia. Tidak akan ada yang kembali normal; mengikuti Slavoj Zizek, jika kita tidak ingin terjebak dalam barbarisme baru yang tanda-tandanya sudah sangat terlihat jelas, maka “normal” baru harus dibangun di atas fondasi kekacauan kehidupan lama kita.

 

Facebook Comments
Daniel Ahmad
Penulis adalah jurnalis Kompas dan peneliti lepas. Tertarik dalam kajian sastra, filsafat, dan studi kultural.