Sumber: http://marvel.com/doctorstrangepremiere

Apa yang terselip dari setiap untaian kata kita pada Dormammu? Doctor Strange, alih-alih sebagai sebuah film, bagi saya, merupakan sebuah problem filsafati. Ia dengan tegas mengambil posisi berisiko pada sebuah perdebatan kuno yang masih menjadi misteri hingga sekarang: bagaimana mungkin ada pertemuan dalam dunia “tanpa waktu”?

Sebagai sebuah film, Doctor Strange (2016)[1] menyuguhkan kemenarikan tersendiri. Ia tidak bermain di level fisik. Tidak ada robot (Iron Man), alien (Thor), atau manusia eksperimen jadi-jadian (Hulk) sebagaimana The Avenger. Doctor Strange bermain di level yang lebih imajinatif: level mistik. Walaupun ia juga berada dalam semesta Marvel, Doctor Strange dengan apik memberikan kepada kita nuansa kuno tanpa harus menjadi old-fashioned; atau bagaimana menghadirkan secara modern dalam animasi canggih seorang pahlawan super yang bertarung tanpa bantuan teknologi. Ide idaman bagi pecinta kekuatan murni dalam cerita fiksi: gambaran manusia supranatural.

Semua berjalan baik-baik saja hingga pada satu adegan terdapat eksplanasi tentang mahluk purba yang diceritakan jahat: Dormammu. Apa yang menarik dari Dormammu adalah sifat eksistensinya yang melampaui (tanpa) waktu (beyond time). Ia tinggal dalam dimensi di mana waktu tidak berjalan. Apa yang kemudian ia lakukan dengan ciri itu adalah penyerapan semesta-semesta di dunia untuk ditarik ke dalam dimensinya. Ia memiliki misi untuk menyatukan dunia di bawah panji keabadian tanpa waktu. Kemudian, misi ini diartikulasikan dengan baik oleh Kaecilius, pengikut Dormammu, “jika kita bisa hidup tanpa waktu, mengapa kita mempertahankan hidup di dunia yang mortal.”[2] Mengapa kita perlu mati jika kita bisa abadi? Kurang lebih itulah yang diinginkan oleh setiap penyihir yang membukakan jalan bagi Dormammu ke semesta mereka.

Sebagai sebuah film, Doctor Strange (2016) menyuguhkan kemenarikan tersendiri. Ia tidak bermain di level fisik. Tidak ada robot (Iron Man), alien (Thor), atau manusia eksperimen jadi-jadian (Hulk) sebagaimana The Avenger. Doctor Strange bermain di level yang lebih imajinatif: level mistik.

Namun, dari seluruh adegan yang ada, bagi saya, terdapat adegan yang sangat berisiko: titik pertemuan antara dr. Strange, makhluk mortal, yang sehari-harinya hidup bersama waktu, dengan Dormammu, makhluk tanpa waktu. Terlebih, pertemuan itu terjadi di dimensi tanpa waktu. Di sini ada dua pertanyaan yang harus dijawab: 1) mungkinkah kita menerima fenomena dunia tanpa waktu?; dan 2) setanpa apa term tanpa waktunya Dormammu?

Mari memulai dengan satu pertanyaan sederhana: apa yang kita pahami saat kita berbicara tentang waktu? Umumnya, kita membicarakan waktu seperti garis lurus. Garis lurus ini membentang sedemikian rupa. Tergantung mazhab dan kepercayaan kita. Jika kita percaya totalitas, garis waktu ini memiliki garis start dan finish. Jika kita hanya percaya pada awal, atau akhir, kita dapat membuang salah satu sisinya. Atau jika tidak percaya keduanya, bayangkan garis ini terus memanjang tanpa batas. Garis lurus ini juga memiliki banyak bentuk: spiral, longitudinal, zig-zag, dan lainnya. Tergantung pesanan.

Namun, dari semua variasi waktu tersebut, ada hal yang menyatukan mereka semua. Mereka memperlakukan waktu sebagai “benda”, sebagai sesuatu. Alhasil, meskipun mereka menggambarkan waktu seperti lingkaran sekalipun, lingkaran ini tetap berupa kontainer: satu bentuk penggambaran dari waktu linear kita. Titik A1, A2, A3, dst. adalah kejamakan yang terjadi karena pembedaan dalam ruang yang dipahami sebagai waktu. Inilah mengapa, waktu selalu sering dinarasikan sebagai suksesi titik, atau dalam bahasa Hegel, sebagai Punktualität[3] dalam dimensi yang secara imajiner memiliki keluasan tertentu.

Hal umum lain yang sering kita gunakan dalam penggambaran waktu adalah penempatan posisi manusia sebagai titik untuk memisahkan masa lalu dan masa depan. Manusia adalah titik di mana kita menentukan realitas kewaktuan dari suatu entitas. Satu entitas “X adalah mungkin, atau tidak mungkin” adalah contoh proposisi yang dibuat dengan mengandaikan titik pijak, yaitu manusia dalam kesekarangannya. Entah itu berbicara kemungkinan masa lalu atau masa depan. Masalahnya, kita sering melupakan pengandaian yang lebih dalam sehingga kita menganggap waktu yang ditunjuk oleh instrumen keilmuan adalah waktu yang benar-benar mandiri dari keterbukaan makna manusia.

Bagi saya, waktu Heideggerian memberikan jawaban yang lebih baik. Mengapa postulat Aku-berpikir tidak dapat mewaktukan waktu justru terjadi karena Aku-berpikir sendiri sebenarnya adalah waktu. Aku-berpikir adalah waktu itu sendiri.

Dari penempatan posisi manusia sebagai titik tersebut, hal yang menarik adalah keselaluberlabuhannya term waktu pada momen sekarang. Kita memisahkan masa lalu sebagai, “yang sekarang sudah tidak terjadi”, dan masa depan sebagai “yang sekarang belum terjadi”. Momen sekarang berperan penting dalam konstruksi pemahaman waktu kita. “Belum” adalah “belum dari sekarang”, “dua detik lalu” adalah “dua detik lalu dari sekarang”. Karenanya, saat kita mengatakan satu peristiwa X terjadi 2.500.000 tahun yang lalu, kita sebenarnya berkata, 2.500.000 tahun yang lalu dari sekarang. Begitu juga untuk peristiwa Y yang terjadi 2.500.000 tahun ke depan, kita berkata, 2.500.000 tahun ke depan dari sekarang. Dengan kata lain, tindak “penyekarangan”, atau Gegenwärtigen, atau menghadirkan sesuatu dalam term temporal sekarang (Gegenwart), adalah kondisi dari setiap pengetahuan manusia atas suksesi waktu.[4]

Mengingat tindak “penyekarangan” selalu juga tindak kita untuk memahami waktu sebagai suksesi, ini berarti di setiap penyekarangan selalu ada kehadiran (Anwesenheit) yang datang, atau hal-hal yang kita tunjuk untuk dilabuhkan dalam term sekarang. Hal-hal tersebut bisa apa pun, baik di masa lalu atau di masa depan, dapat berupa ikan purba atau Ironman berwarna hijau. Dari sini kita bisa mendapatkan struktur yang tidak terpisahkan: Gegenwart dan Anwesenheit, penyekarangan dan kehadiran.[5] Saat kita menyekarangkan sesuatu berarti juga selalu-sudah (always-already)[6] ada kehadiran atas sesuatu yang kita interpretasikan sebagai sesuatu. Dalam bahasa Aristoteles, λόγος (logos) selalu bericiri ἀποφαίνεσθαι (apophainesthai), manifestasi selalu membiarkan sesuatu datang terlihat sebagai sesuatu.

Masalahnya, saat kita melakukan tindak penyekarangan, bagaimana dan pada konteks apa kita memahami kehadiran sesuatu sebagai sesuatu ini?

Pada titik inilah kita bisa melihat bahwa term Gegenwart pada dirinya sudah selalu menunjuk hal yang fungsional. Berlabuh pada kesekarangan sebenarnya adalah kata lain dari melabuhkan diri pada konteks keduniaan yang melakukan tindak penyekarangan tersebut. Dan apa yang tak terhindarkan dari konteks keduniaan? Tidak lain adalah apa yang disebut Heidegger dengan Worum-willen[7], atau demi-kepentingan-kemungkinan kemengadaan eksistensi kita sendiri. Penglihatan kita pada sesuatu karenanya selalu berkonteks pada dunia apa dan di mana kita hidup dan bagaimana dunia tersebut mengartikan kepentingan proyeksi masa depannya.

Seorang ilmuwan astro-fisika, dengan konteks dunianya, dapat melihat X dan menginterpretasikannya sebagai ledakan supernova yang terjadi ribuan tahun yang lalu di jarak tertentu karena ia tinggal dalam dunia ilmuwan astro-fisika dimana ia melihat X sebagai persoalan yang harus dipecahkan. Sejarawan, dengan konteks dunianya, dapat melihat X dan menginterpretasikannya sebagai tanda perang Diponegoro karena ia tinggal dalam dunia ilmuwan sejarawan. Dalam tinggal di dunia masing-masing, di mana tindak penyekarangan selalu operatif, kita memaknai sesuatu (fenomena yang kita tangkap) sebagai sesuatu (entitas apa pun) dengan berdasar pada bagaimana kita memahami relasi fungsional dunia yang kita tinggali dengan bagaimana kita menghadapi kemungkinan yang lahir karenanya.

Ini tidak berarti bahwa supernova atau tanda perang Diponegoro itu hanya sekadar buatan manusia, atau hanya eksis sebagai pseudo-entitas. Namun, kita tidak akan memahami itu semua sebelum kita memahamii relasi kita dengan waktu, yakni masa lalu dan masa depan yang dipahami dalam konteks sekarang. Horizon itulah yang membuat kita memahami adanya masa lalu dan masa depan, dan juga pengandaian atas waktu yang mandiri, dan mengapa kita bisa mendiskursuskan benar salahnya suatu proposisi keilmuan tentang hal tersebut. Bayangkan saja, bagaimana mungkin kita memahami hal-hal tersebut sebagai masa lalu tanpa memahami kemasalaluan tersebut sebagai “yang sekarang sudah terjadi”?

Pertanyaannya, jika waktu sebagai suksesi, sebagai garis lurus, sebagai entitas, hanya mungkin dengan pengandaian tindak penyekarangan yang kontekstual dalam fungsionalitas dunia masing-masing, karakter waktu apa yang membuat mungkin tindak penyekarangan tersebut? Bukankah tindak penyekarangan juga berada dalam kesekarangan yang berarti ia juga dalam waktu? Bagaimana mungkin sesuatu yang “di dalam” waktu, mewaktukan waktu?

Pada titik ini kita sampai pada waktu yang sama sekali non-tematik. Daripada sebagai entitas, waktu ini lebih merupakan waktu primordial yang memungkinkan segala waktu mewaktu sebagai waktu. Bagi penikmat filsafat, mungkin akan melihat narasi ini sebagai bentuk lain waktu Kantian, waktu sebagai intuisi kewaktuan, yang memungkinkan segala waktu. Namun, waktu Kantian ini menyimpan kelemahan, tepat karena ia berhenti di pertanyaan kita sebelumnya. Apa yang memungkinkan intuisi waktu Kantian adalah resiprokalitasnya dengan postulat struktur non-tematik Aku-berpikir. Namun bagaimana Aku-berpikir yang adalah sesuatu dalam waktu, mewaktukan waktu? Dalam Kant, walaupun waktu masih subjektif, waktu tetap dilihat sebagai sesuatu yang ditancapkan pada subjek yang awalnya berbeda.[8]

Bagi saya, waktu Heideggerian memberikan jawaban yang lebih baik. Mengapa postulat Aku-berpikir tidak dapat mewaktukan waktu justru terjadi karena Aku-berpikir sendiri sebenarnya adalah waktu. Aku-berpikir adalah waktu itu sendiri. Menggunakan bahasa kita sebelumnya, dengan tindak penyekarangannya, manusia tidak lain adalah tindak penyekarangan murni itu sendiri[9] atau, menggunakan bahasa yang lebih tegas, manusia adalah waktu[10] yang mewaktukan waktu itu sendiri. Ia selalu operatif memberikan ruang kebermaknaan untuk kehadiran makna entitas. Dengan dasar itu, kata aneh “penyekarangan” mulai sekarang kita ganti dengan “penghadiran”, karena tindak inilah yang dengan kesekarangan murninya menghadirkan entitas dalam artian awal dalam momen waktu sekarang.

Waktu yang dipahami dalam artian penghadiran karenanya bukanlah entitas. Kopula dalam waktu adalah (is)… tidak menunjuk pada sesuatu “di dalam” waktu, karena waktu sebagai penghadiran adalah kondisi bagi “waktu” sebagai suksesi entitas yang kita pahami sebagai garis. Mengingat kondisi tidak mungkin  apa yang dikondisikan, karenanya, lain dari itu, waktu sebagai penghadiran adalah apa yang secara konstan membuka ruang kehadiran kebermaknaan temporalitas “waktu” itu sendiri. Menggunakan bahasa Heidegger untuk menghindari kata “waktu adalah”,  kita dapat memilih Zeltigung als Sich-zetigen, waktu mewaktukan waktu (membuka ruang kehadiran kebermaknaan).[11]

Kita bisa membuat ilustrasi sederhana untuk penjelasan waktu ini. Heidegger dalam Zollikoner Seminare, salah satu seminar terakhirnya, mengatakan bahwa yang dia maksudkan sebagai ek-sis (atau yang di sini kita sebut tindak penghadiran murni) bukan seperti Descartes yang berarti berdiri di luar dan mengamati. Menghadirkan (ek-sis), bagi Heidegger, berarti Ausstehen eines Offenheitsbere, atau: secara operatif dan terus-menerus mengaktifkan ruang keterbukaan.

Keterbukaan yang dimaksud di sini adalah keterbukaan atas kehadiran yang bermakna. Kita yang selalu membuka diri pada kehadiran makna adalah waktu yang memungkinkan “waktu suksesi” sebagai rangkaian entitas dapat mewaktu, atau dengan penggambaran agak kasar, dipahami dalam term ruang.

Gambaran yang baik untuk keterbukaan ini adalah saat kita berdiri di padang rumput. Padang rumput selalu memberikan keterbukaan di depan kita tanpa kita perlu menjadikannya objek. Ia selalu operatif untuk memberikan keterbukaan ruang. Namun bayangkan bahwa jika sebenarnya kita selalu membuka keterbukaan padang rumput tersebut. Itulah yang Heidegger maksud sebagai waktu primordial yang selalu operatif sebagai, dalam bahasa kita, tindak penghadiran murni. Gambaran ini, dalam Heidegger awal kita kenal dengan Horizon. Horizon ini yang memungkinkan ada sesuatu untuk disintetis, disatukan, dipisah, dan dipilah sebagai sesuatu  dengan keterangan waktu.

Dengan pemahaman penghadiran ini, kita dapat mereinterpretasi ulang bagaimana makna terbentuk. Sejauh penghadiran adalah penyekarangan sesuatu sebagai sesuatu, pengambilan kesesuatuan ini tentu tidak diambil dari ruang kosong. Pengambilan ini diambil dari penglihatan atas masa depan sebagai kemungkinan. Kemungkinan ini adalah apa yang kita sebut di awal dengan Worum-willen. Namun sekarang mendapat artian barunya sebagai Zu-kunft, atau auf sich zu-kommen, atau (diartikan secara kasar) “menangkap kemungkinan kemenjadian-diri”.[12]

Pada titik ini, dalam artian primordial, kita dapat membuang tiga pembagian tradisional waktu menuju pewaktuan eksistensial yang bivalen, bahwa dalam keselalu-sudahannya, pemaknaan terbentuk bukan dengan rentetan kesekarangan, tetapi gerak bolak-balik, yang selalu-sudah berhubungan, dari penglihatan kita atas kemungkinan masa depan untuk kembali lagi dalam konteks dunia sekarang yang dihidupi. Dengan kata lain, suatu X dipahami sebagai Y, hanya mungkin saat kita sudah menangkap kemungkinan totalitas kemenjadian kita sendiri dalam satu konteks dunia. Inilah mengapa dalam waktu yang bivalen, kita bisa menjelaskan bahwa masa lalu hanya bermakna dalam penglihatan kita pada masa depan.

Keterarahan kita untuk selalu bergerak dalam kemungkinan ke depan inilah yang memungkinkan kita memahami bagaimana waktu mewaktukan dirinya sebagai keterbukaan kita terhadap kebermaknaan kehadiran. Kita selalu-sudah “Terarah ke horizon kemungkinan diri untuk kembali  memaknai entitas yang kita hadapi.”[13] Hal tersebut tidak mungkin jika kita bukan sang pembuka waktu itu sendiri. Inilah kondisi, atau horizon, atau ruang, atau keterbukaan, yang memungkinkan kita memiliki pemahaman atas waktu, yang juga berarti pemahaman waktu sebagai suksesi yang di sana kita menginterpretasikan kehadiran sesuatu sebagai sesuatu.

Sumber: http://marvel.com/doctorstrangepremiere
Sumber: http://marvel.com/doctorstrangepremiere

Sekarang, kita dapat melihat mengapa adegan Dormammu dan pertemuannya dengan dr. Strange di dunia tanpa waktu menjadi aneh?

Pertama, apa yang disebut tanpa waktu sebagai ciri dimensi kegelapan? “Tanpa waktu” dalam adegan kemunculan Dormammu dipandang sebagai berhentinya waktu. Saat waktu terhenti segalanya abadi, karena organisme material sangat bergantung pada suksesi penuaan yang terjadi dalam waktu. Namun dalam dimensi kegelapan, lucunya, kita masih bisa memaknai. Dengan kata lain, dimensi kegelapan tidak benar-benar dimensi yang melampaui waktu, karena “kesekarangan” yang notabennya adalah momen waktu masih operatif dalam kemungkinan manusia yang menjadi sebagai aktivitas.

Buktinya, Dormammu dan dr. Strange masih bisa bertengkar. Dr. Strange masih dapat memiliki horizon waktu. Bahkan walaupun tidak ada waktu sejauh diartikan sebagai ketidakbergerakan. Dr.Strange masih mendapatkan masa lalu sebagai sesuatu yang sekarang sudah selesai dan tetap mendapatkan masa depan sebagai sesutu yang sekarang belum terjadi. Konsekuensinya, sejauh suksesi bersyarat pada momen kesekarangan dan tindak penghadiran, suksesi masih ada dalam dimensi kegelapan.

Dari sini kita dapat melihat bahwa, daripada tanpa atau melampaui waktu, lebih tepat, mungkin dimensi kegelapan hanya memberhentikan suksesi material. Namun, juga ada masalah dengan pilihan ini. Bukankah syarat pergerakan apa pun, yang dilakukan Dr. Strange, masih membutuhkan jalannya organisme? Artinya, dimensi kegelapan mungkin hanya menghentikan penuaan, walaupun suksesi material tetap ada. Tetapi jika begitu, misal dr. Strange tidak merusak alur waktu dalam dimensi kegelapan, bukankah dr. Strange akan meninggal terkena serangan Dormammu? Ini artinya, ia sebenarnya juga tidak benar-benar memberhentikan suksesi material.

Jika dimensi kegelapan benar-benar tanpa waktu, seharusnya pertemuan dr. Stragne dan Dormammu tidak akan pernah terjadi. Pertemuan mensyaratkan ada sesuatu yang hadir, sedangkan sesuatu yang hadir hanya bisa hadir jika berarti ada tindak penghadiran. Tindak penghadiran membukakan ruang makna sehingga momen waktu sekarang konstitutif dalam pemaknaan kemungkinan manusia. Dengan kata lain, sejauh masih ada pertemuan, masih ada waktu. Pertemuan dr. Strange dengan Dormammu karenanya sangatlah aneh.

Sepertinya masih jauh bagi kita untuk memikirkan sesuatu tanpa atau di luar waktu dalam artian primordialnya. Bahkan animasi tingkat tinggi dan peradaban maju Amerika pun belum bisa memvisualisasikan keadaan tersebut, dan justru berakhir dengan penggambaran makhluk di luar manusia dan dunianya sebagai mahluk yang sangat manusiawi dan duniawi. Doctor Strange menjadi karya yang komit pada satu pandangan filosofis tertentu tanpa berhasil menggambarkan kemungkinannya. Ia mengumbar kata “tanpa waktu” tanpa bisa membuktikannya.

Kedua, apa yang disebut tanpa waktu yang melekat pada Dormammu? Saya memiliki dua sangkaan. Pertama, Dormammu adalah makhluk tak-terbatas, karena ia melampaui waktu, sedangkan batas kita selalu konstitutif dengan waktu. Kedua, Dormammu adalah makhluk terbatas yang hanya tinggal di dunia lain. Pilihan pertama problematis, karena jika Dormammu adalah makhluk tak terbatas, ia tidak memiliki perspektif. Apa yang membuat kita menjadi terbatas karena kita dibatasi sudut pandang (yang dalam nama terbarunya sekarang kita sebut waktu primordial). Konsekuensinya, Dormammu dapat melihat dunia secara utuh, tanpa sisa.

Namun di film tersebut, Dormammu justru dilihatkan seolah ia mengambil perspektif, karena ia punya keinginan (analisis waktu kita sebenarnya bisa menunjukkan mengapa keinginan hanya mungkin pada entitas yang terbatas dan memiliki waktu; tidak mungkin dibahas lebih lanjut karena keterbatasan tempat), ia punya misi, dan juga ketidaktahuan (tidak tahu dengan jurus dan rencana dr. Strange). Dalam artian ini, Dormammu sangat mirp manusia. Ia juga melakukan tindak penyekarangan yang juga menghadirkan sesuatu sebagai sesuatu, seperti menghadirkan dr. Strange sebagai orang yang layak mati, menangkap peristiwa perputaran dengan kebingungan, dan masih takut dengan perputaran yang ia interpretasikan sebagai ketiadaan-batas yang tak berguna, sehingga Dormammu mau berunding. Hal-hal tersebut mengantar kita ke pilihan kedua.

Pilihan kedua ternyata juga problematis. Karena jika Dormammu adalah makhluk terbatas, ia berarti bukan makhluk tanpa waktu. Cukup makhluk yang berbeda dimensi. Dengan kata lain, sebelum dr. Strange menunjukkan lingkaran waktu, Dormammu sebenarnya telah cukup lama hidup sebagai dan dalam waktu. Kata “tanpa waktu”, dengan demikian, selalu terselip saat kita membicarakan Dormammu. Film Doctor Strange tidak benar-benar keluar dari interpretasi eksistensial dengan waktu sebagai pusat teoretiknya.

Sepertinya masih jauh bagi kita untuk memikirkan sesuatu tanpa atau di luar waktu dalam artian primordialnya. Bahkan animasi tingkat tinggi dan peradaban maju Amerika pun belum bisa memvisualisasikan keadaan tersebut, dan justru berakhir dengan penggambaran makhluk di luar manusia dan dunianya sebagai mahluk yang sangat manusiawi dan duniawi. Doctor Strange menjadi karya yang komit pada satu pandangan filosofis tertentu tanpa berhasil menggambarkan kemungkinannya. Ia mengumbar kata “tanpa waktu” tanpa bisa membuktikannya.

Memang ada anggapan bahwa saat kita menikmati fiksi, kita perlu membuang rasionalitas kita. Namun saya tidak setuju dengan hal tersebut. Apa yang membuat kita menikmati fiksi justru adalah kemungkinan aktualitas fiksi tersebut. Rasionalitas yang natural yang kita yakin itu masuk akal dan aktual di semesta lain walaupun tidak aktual di semesta kita. Naturalitas itulah yang membuat, semisal, serial Star Trek, Smallvile, atau Beauty and the Beast, dan bahkan juga The Avenger menjadi menarik untuk diperbincangkan walaupun ia tidak aktual di tempat kita. Adanya naturalitas yang rasional itu jugalah yang membuat kita bisa menghakimi suatu film memiliki alur yang natural (bagus) atau tidak, “maksa” atau tidak.[14]

Di luar keanehan, daripada bilang ketidakberhasilan, Doctor Strange menggambarkan dimensi dan makhluk tanpa waktu, film ini lucu. Begitulah catatan kecil saya, dokter. Jangan sia-siakan Christine: dia cantik!

Temuwuh Kidul, 11 November 2016


[1] Dr. Strange yang diacu di artikel ini adalah Dr. Strange dalam artian film yang ditayangkan tahun 2016. Artikel ini tidak berbicara segala modifikasi varian dr. Strange di film kartun, maupun versi komik.

[2] Kutipan tersebut adaah parafrase sejauh yang saya ingat dari menonton bioskop secara langsung. Saat artikel ini ditulis, subtitle film dr. Strange untuk mempermudah proses pengutipan belum dirilis.

[3] Lih. G.W.F. Hegel, Hegel’s Philosophy of Nature, terjemahan M.J. Petry, London, Humanities Press, 1970, hal. 224 ($254), untuk waktu memiliki kontinuitas seperti ruang, hal. 230 ($258)

[4] Lih, Martin Heidegger, Logic: The Question of Truth, terjemahn Thomas Sheehan, Bloomington, Indiana University Press, 2010, hal. 331. “Making-present is first of all a condition of the possibility that a “now” can become explicit as “now something” and “now something else.”

[5] Bahasa Jerman menangkap kesalingsudahterkaitan dua term ini dengan baik. Di bahasa Jerman, ekspresi, misal: “in my Gegenwart”, berarti juga “in my Anwensenheit”, atau “kehadiranku padanya” juga berarti “kehadirannya padaku.” Lih. Ibid., hal. 333.

[6] Setiap artikel ini mengekspresikan kata selalu-sudah, ini sama sekali bukan suksesi, atau proses. Bahwa ada A kemudian B. Namun kesalingterkaitan yang tak bermula dan berakhir, yang selalu operatif, dan dipahami secara holistik.

[7] Lih, Martin Heidegger, Being and Time, terjemahan J. Macquarrie dan E. Robinson, Oxford, Blackwell, 2001, hal. 116. Lihat juga note 2 di halaman yang sama.

[8] Heidegger menangkap poin dari kekosongan penjelasan ini, dengan alasan “for Kant it is equally impossible to reduce the “I think” to time.” Lih. Martin Heidegger, Logic:…, hal. 335.

[9] Lih. Ibid. “time itself is pure making-present, pure letting-something-encounter.”

[10] Lih. Martin Heidegger, History of the Concept of Time, prolegomona, terjemahan Theodore Kisiel, Bloomington, Indana University Press, 1985, hal. 197. Untuk referensi ke Seminar Zoolikon,  Lih. Martin Heidegger, Zollikon Seminars, terjemahan Franz Mayr & Richard Askay, Evanston, Northwestern University Press, 2001, hal. 218. Sedangkan gambaran tentang Horizon bisa saya dapatkan atas interpretasi yang kaya dari Thomas Sheehan. Karena pada teks yang sama, makna keterbukaan padang rumput tersebut sangat samar dalam terjemahan bahasa Inggrisnya yang menerjemahkan die Gegend sebagai region-that-region atau daerah yang mendaerah. Sheehan menerjemahkan die Gegend sebagai expansive countryside. Yang menggambarkan daerah pinggiran yang luas. Saya terjemahkan secara kasar sebagai padang rumput, mengingat country side di Indonesia lebih merupakan hutan atau kawasan kumuh. Lih. Thomas Sheehan, Making Sense of Heidegger, Maryland, Rowman & Littlefield, 2015, hal. 221-222; bdk, Martin Heidegger, Country Path Conversation, terjemahan Bret W. Davis, Bloomington, Indiana University Press, 2010, hal. 73.

[11] Lih. Martin Heidegger, Being and Time,… hal. 377. Gestur ini kemudian dimodifikasi Heidegger di tempat lain dengan frase yang lebih mencerahkan “…it gives time”, yang berarti “waktu terberi.” Ini tidak lain menandakan proses operatif (a priori) dari dimensi keempat waktu, yaitu pendekatan (Nahheit). Pendekatan adalah nama lain yang Heidegger rasa lebih baik dari penghadiran. Fungsinya sama, menyatukan tiga dimensi sukesi waktu. Lih. Martin Heidegger, On Time and Being, terjemahan J. Stambaugh, New York, Harprer Torchbook, 1972, hal. 16,

[12] “This sort of thing is possible only in that Dasein can, indeed,  come towards itself in its ownmost possibility, and that it can put up with this possibility as a possibility in thus letting itself come towards itself-in other words, that it exists. This letting-itself-come-towards-itself in that distinctive possibility which it puts up with, is the primordial phenomenon of the  future  as  coming  towards.” Lih. Martin Heidegger, Being and Time,… hal. 372. Masa depan di sini bukan masa depan dalam artian ontis sebagai rentetan suksesi, tetapi adalah keterselaluab terarahnya kemungkinan pada totalitas keterbukaan. Daripada future, becoming adalah term yang lebih tepat karena menunjukkan aprioritas interpretasi dari eksitensi manusia itu sendiri.

[13] Parafrase, Ibid. hal. 417.

[14] Untuk rasionalitas dalam mengkonsumsi fiksi, lih. Henry Jenkins, Textual Poacher: Telvision Fans and Praticipatory Culture, New York, Routledge, 1992, bab. 2 tentang landasan teoretisnya, dan bab 3 tentang tindak aksi fans fiksi yang menuntut produser karena film mereka tidak lagi memiliki runtutan rasional.

LEAVE A REPLY