http://www.iwebc.com/Photos/Art/ezpics.com/barbieri/Welcome/Large24.jpg?20091224_233823.277_3Td05NQ9

Tulisan ini dimulai dari argumentasi: hak dasar manusia adalah kehidupan, maka dari itu manusia berupaya mempertahankan kehidupannya. Manusia dan makhluk lain, dalam bentuknya yang primitif, hidup untuk mempertahankan kehidupannya—entah melalui perburuan atau seksualitas. Perburuan dipahami sebagai upaya bertahan hidup dengan mengonsumsi bahan makanan yang ada di alam meski dalam praktiknya harus mengorbankan makhluk hidup yang lain. Pada perkembangannya perburuan dapat berubah menjadi upaya ekonomis seperti berdagang atau mata pencaharian lain selain berburu yang tetap dapat menghasilkan sesuatu yang dapat dikonsumsi atau dalam bentuk modern, uang.

Di sisi lain, makhluk hidup juga berusaha melanggengkan hegemoninya sebagai individu atau kelompok dengan seksualitas. Seks dipandang sebagai upaya untuk mempertahankan identitas individu dan kelompok pada generasi selanjutnya. Jika tak melakukan seks, makhluk hidup harus rela kehilangan ciri unik entitas atau dalam kata lain, punah. Tanpa berusaha menyanggah homoseksualitas, seks yang dilakukan makhluk hidup untuk bertahan hidup haruslah seks yang pro-natalis/pro-creation.

Dengan mencermati argumen di atas, bentuk moralitas primitif manusia haruslah dipahami sebagai upaya untuk mempertahankan hidup. Kerangka moral masyarakat manusia primitif berusaha untuk membentuk keteraturan sosial yang tidak membahayakan kehidupan kelompok yang berdasar pada hak hidup anggota kelompoknya.

Perkembangan Moralitas

Hukum sosial (moralitas) dibangun dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap hukum itu sendiri. Dalam hal ini, moral berusaha menutupi kemungkinan kematian manusia yang mungkin dapat dihindari. Bayangkan seperti ini, hak dasar manusia adalah hidup dan manusia berusaha mempertahankan hak hidupnya; lalu pertimbangkan berapa kemungkinan manusia akan mati. Manusia mungkin mati jika diterkam binatang buas, tua dan dibunuh oleh manusia. Jika moral tidak mampu berkompromi dengan binatang buas dan malaikat maut, maka berusahalah untuk membentuk konsensus dengan manusia. Di atas kepentingan yang samalah, konsensus itu akhirnya terbentuk.

Setelah membayangkan permulaan moral, dapat dimengerti betapa pentingnya bahasa, sebagai simbol komunikasi, untuk menyampaikan kepentingan bersama sebagai fondasi moral. Bahasa harus dapat membuat anggota kelompok mengerti kepentingan yang mereka bagi dalam moralitas (shared norms). Bahasa juga harus dapat menyampaikan keputusan moral kepada anggotanya. Tindakan menjadi baik saat tindakan selaras dengan moral yang terbentuk, sebaliknya saat tindakan tak selaras dengan moral maka tindakan dikategorikan sebagai tindakan buruk. Barulah setelahnya membicarakan konsekuensi tindakan.

Konsekuensi tindakan sejalan dengan kerumitan kepentingan bersama. Semakin rumit kepentingan yang ada dalam moralitas, semakin rumit pula konsekuensi yang dihadapi. Sedangkan implikasi bagi moralitas yang muncul dari kerumitan kepentingan bersama tersebut adalah terbentuknya aturan-aturan berkaitan dengan kepentingan itu sendiri. Konsekuensi dihadirkan dalam aturan sebagai pemberi pesan larangan pelanggaran terhadap moralitas.

Misalnya saat kepemilikan pribadi muncul di masyarakat manusia, di mana manusia merasa berhak atas suatu hal. Kepemilikan pribadi dapat muncul apabila manusia merasa berkepentingan terhadap sesuatu atau sesuatu dianggap penting. Penilaian penting tersebut berangkat dari kondisi sosial yang ada di sekitar individu, maka tidak mengherankan apabila masyarakat dapat memiliki selera yang sama akan sesuatu. Ketika kepemilikan pribadi, sebagai struktur sosial yang ada, bertemu dengan moralitas, yang terjadi adalah pembentukan hak dan aturan.

Melalui kepemilikan pribadi, hak individu terhadap sesuatu muncul dan aturan dibuat untuk melindungi hak tersebut. Di kehidupan primitif tentu saja klaim atas kepemilikan terjadi atas hasil tangkapan, panen garapan dan alat berburu atau sederhananya hal-hal yang berhubungan dengan produksi dan konsumsi. Perkembangan hak kepemilikan terjadi saat ada inovasi, penemuan yang didorong daya kreasi (saya menyebutnya keinginan) manusia untuk membuat perbedaan atas alam dan sosialitasnya.

Daya kreasi manusia inilah yang kemudian memberi imbas negatif pada perkembangan moralitas. Moralitas akan dipandang usang ketika manusia melalui kreativitasnya berusaha menemukan pembaharuan dari moralitas itu sendiri, baik kemungkinan yang ingin dihindari, kepentingan bersama yang menjadi fondasi moral, atau konsekuensi tindakan.

Perkembangan moral yang terjadi selama ini terjadi dalam tiga hal ini. Pertama, kemungkinan yang dihadapi berubah-ubah sepanjang peradaban manusia. Jika masyarakat primitif berusaha menghindari hewan buas atau kematian, maka manusia modern berusaha menghindari kemungkinan yang lebih kompleks sejalan dengan inovasi yang ada di masyarakat. Misalnya penemuan kendaraan yang membutuhkan keputusan moral untuk kemungkinan-kemungkinan peristiwa yang akan terjadi di jalanan. Hal ini menunjukan moral bersifat relatif berkaitan dengan perkembangan masyarakat, di contoh ini, teknologi.

Kedua, perbedaan kepentingan bersama yang dapat menguatkan moralitas atau bahkan meruntuhkannya. Kepentingan bersama yang membuat anggota masyarakat rela berbagi norma yang sama dapat goyah ketika sebagian anggota tidak lagi sepaham perihal moralitas. Daya kreasi manusia menciptakan perbedaan bagi manusia sebagai individu atau kolektif dan dari perbedaan ini muncul kepentingan yang berbeda pula. Perihal kesepemahaman dalam memandang kepentingan dapat menunjukkan mengapa masyarakat modern rentan terhadap konflik karena masyarakat modern memiliki komposisi masyarakat yang individualistis. Individualistis dalam hal ini berarti daya hidup individu didorong oleh kepentingannya sendiri yang diperparah oleh rendahnya interaksi antaranggota masyarakat yang seharusnya dapat membantu penyebaran paham tentang kepentingan bersama.

Ketiga, pergantian konsekuensi tindakan. Konsekuensi yang diberikan atas sebuah tindakan berhubungan dengan dua poin sebelumnya. Apa kemungkinan yang dihadapi dan bagaimana kepentingan bersama menanggapi hal tersebut akan melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang berbeda. Perkembangan masyarakat yang bertalian dengan berbagai kemungkinan yang dihadapi dan perbedaan kepentingan terkait hal tersebut tentu membuat judgement tindakan berbeda oleh tiap individu atau masyarakat secara kolektif.

Penutup

Uraian di atas tentang moralitas ditinjau dari perkembangannya sejak masyarakat primitif berusaha menegaskan bahwa moralitas dan perkembangannya, berkaitan dengan perkembangan yang terjadi dalam tiap aspek masyarakat. Perubahan masyarakat, penemuan dan pergantian komposisi masyarakat akan mengubah penilaian terhadap ketiga faktor moralitas seperti yang telah diuraikan tersebut.

Di sisi lain, uraian ini juga berusaha menegaskan bahwa hak dasar manusia adalah hak hidup dan segala perkembangan yang terjadi di masyarakat selalu berpusat pada hak hidup. Namun, pada akhirnya toh kita semua akan mati dan seluruh moralitas yang dibangun manusia  tidak akan berarti lagi. Bagaimana caranya menikmati putusan moral saat kita mati?

LEAVE A REPLY