Sumber: essaysbymontaigne.blogspot.com
Sumber: www.uri.edu
Sumber: www.uri.edu

Tugas saya kita pada diskusi kali ini adalah menimbang kemungkinan-kemungkinan filsafat sebagai kritik. Topik ini diangkat untuk paling tidak menjadi respon atas dua hal: a) jargon kematangan ilmu-positif yang membuat segalanya seakan sudah tidak perlu diperdebatkan lagi secara filosofis, dan b) pandangan anti-representasionalisme yang menganggap segala pandangan itu relatif dengan kontingensi keadaan terberi, dan filsafat, sejauh dipandang sebagai usaha mencari kebenaran, tak lebih dari kesia-siaan untuk merepresentasikan dunia, atau tidak lebih dari karya sastra.

Untuk menjawab dua hal tersebut tulisan ini akan dibagi menjadi tiga bagian: 1) saya akan mencoba menarik garis tentang apa itu filsafat, dan batas-batas yang membuat sesuatu dapat dikatakan sebagai filsafat, melakukannya disebut dengan berfilsafat, dan tinjauannya disebut sebagai kritik, serta hubungan filsafat dan kritik; 2) saya akan mengeksplisitasi dua kritik yang saya sebutkan sebelumnya (a dan b), dan menunjukkan, dari sudut pandang tersebut, bahwa filsafat sudah tidak penting! mungkin lagi sebagai kritik; 3) saya akan mempersoalkan lagi kemungkinan-kemungkinan filsafat sebagai kritik dengan menanggapi pandangan yang telah disebutkan dalam nomor 2. Kesimpulan yang ingin saya capai adalah kejelasan tentang masa depan filsafat sebagai kritik.

Filsafat dan Kritik

Tujuan saya kita adalah ingin mendapatkan kejelasan posisi filsafat sebagai kritik. Hal yang berbahaya adalah titik pijak yang berbeda. Jangan-jangan filsafat yang saya maksud dan yang Anda maksud adalah hal yang berbeda? Untuk itu mari melihat dari hal yang biasanya sudah disetujui kaitannya dengan filsafat, yaitu secara etimologisnya.

Berangkat dari kata philos dan sophos, filsafat biasa diartikan secara etimologis sebagai “cinta kepada kebijaksanaan” atau juga “teman kebijaksanaan”. Arti etimologis ini berkembang secara terminologis menjadi banyak hal. Tapi mari memahami term kebijaksanaan ini dalam kerangka Yunani, dalam asal-usulnya, yaitu bahwa menurut Yunani filsafat adalah “keterbukaan terhadap pertanyaan tentang ada (realitas) dan esensi, sebuah keinginan untuk menemukan dasar ada (realitas) dan ada (realitas) sebagaimana adanya”.

Dengan melihat definisi tersebut menjadi jelaslah, mengapa orang-orang Yunani, seperti Plato dan Aristoteles berangkat dari pertanyaan-pertanyaan fundamental, karena memang mencintai kebijaksanaan, dalam artian Yunani, adalah untuk menggapai totalitas realitas yang masih misterius tersebut dalam kefundamentalannya. Pengertian ini tentu perlu dibedakan dari ilmu, sejauh ilmu dipahami sebagai penelitian tentang ada (realitas) yang dibatasi dengan metode-metode tertentu. Realitas filsafat tidak dibatasi.[1]

Filsafat dalam artian ini kemudian menjadi usaha manusia untuk menemukan ‘kebenaran sejati’, dan karena kita adalah penerus tradisi ini, maka kutukan ‘filsafat pertama’ ini masih kita warisi. Filsafat dalam berbagai varian analisisnya yang abstrak, fundamental, dan konseptual akhirnya selalu membuat kita bertanya tentang “what is the real truth” dan apa implikasinya. Dengan bantuan dari Aristoteles, usaha mencapai hal tersebut dipersenjatai Logika, yang intinya adalah konsistensi berpikir. Jadi, berfilsafat setelah Aristoteles adalah bertanya dengan logos. Bertanya tentang the real truth dengan cara yang logis (konsisten).

Konsistensi berpikir inilah yang kemudian melahirkan konsepsi filsafat sebagai kritik. Sejarah filsafat kemudian adalah pertarungan konsistensi. Bahwa A kurang konsisten, B tidak konsisten, dan C konsisten namun kurang radikal. Kritik, oleh karena itu, adalah usaha untuk menunjukkan bahwa pemikiran X tidak benar karena tidak logis. Namun apa itu yang-logis?

Yang-Logis dipahami berbeda oleh masing-masing filsuf dalam sejarah filsafat. Namun, kita bisa mengatakan bahwa sesuatu dapat dikatakan tidak logis jika dia tidak benar. Tidak benar bisa berarti dua hal: 1) penarikan kesimpulan yang salah, dan 2) pengambilan premis yang salah. Saat kita memeriksa persoalan pertama, itu murni urusan logika. Namun saat memasuki persoalan kedua, hal tersebut membuat kita masuk pada ranah umum filsafat, yaitu metafisika. Pemeriksaan atas apakah premis, contoh: Manusia adalah binatang rasional, itu benar atau tidak. Lebih lengkap lagi, sesuai kenyataan atau tidak.

Sebagai contoh tentang hal tersebut bisa diambil perdebatan, anggaplah, antara kapitalisme dan sosialisme. Dalam penarikan kesimpulan, saya rasa tidak ada yang salah dari mereka. Namun, yang perlu dipertanyakan adalah apakah premis yang mereka ambil sebagai premis universal itu sudah benar atau belum.

Premis universal kapitalisme dalam hubungannya dengan manusia adalah: manusia adalah makhluk yang serakah, oleh karena itulah pasar, sebagai tempat interaksi antar manusia, perlu dibebaskan dari intervensi negara. Hal itu perlu dilakukan karena keserakahan manusia akan membatasi keserakahan yang lain sehingga akan terjadi suatu keseimbangan keserakahan pasar akibat pembatasan diri tersebut secara natural dan tentu saja semuanya akan senang. Jadi kapitalisme berangkat dari keserakahan, menuju kebebasan, dan akhirnya sampai pada keseimbangan.

Berbeda dengan kapitalisme, sosialisme beranggapan justru sifat manusia secara historis tidak serakah. Struktur kapitalismelah yang membuat manusia menjadi serakah dan menindas. Tidak akan ada keseimbangan yang diimpikan oleh para kapitalis karena kapitalisme adalah sistem yang kontradiktif dalam dirinya sendiri. Oleh karenanya, penghapusan total akan kapitalisme menjadi jalan satu-satunya keluar atas bentuk keserakahan manusia. Tanpa adanya sistem kapitalisme manusia akan hidup dalam naturnya. Sama, dalam keseimbangan.[2]

Di sini kita melihat perdebatan, contoh kritik, yang terjadi dalam sejarah pemikiran. Dengan melihat contoh tersebut, kritik yang pada mulanya kita pahami hanya sebagai inkonsistensi penarikan kesimpulan menjadi tidak cukup.

Batas ontologi logika ditemukan. Secara logis, keduanya benar, tapi secara metafisis, belum tentu. Justifikasi manusia serakah atau tidak menjadi lebih penting daripada pengambilan keputusannya, karena jika premis universalnya salah, runtuhlah semua. Pada titik seperti ini, filsafat menjadi alat legitimasi agar orang memisahkan diri dari dirinya dan dunia untuk melihat kenyataan secara reflektif. Tidak hanya melihat objek secara inderawi, tetapi juga objek dalam hubungannya dengan keseluruhan sistem dunia, melampaui fakta. Filsafat, dalam artian ini menjadi suatu usaha manusia untuk, meminjam istilah al-mukarom L.O. Kattsoff, membentuk sistem pandangan dunia “yang memberikan keterangan tentang dunia dan semua hal yang ada di dalamnya”.[3]

Dengan penjelasan tersebut, maka, kritik secara filsafati juga berarti kritik metafisika. Kritik bahwa, “X Anda itu tidak benar karena X Anda tidak ada. X yang benar adalah milik saya, yang seharusnya Y, karena Y lah yang ada. Y lah yang benar.” Atau dengan kata lain, perlu ada penentuan kondisi atau sistem metafisika terlebih dahulu sebelum kritik inkonsistensi dapat dilakukan, terlepas kondisi tersebut spiritual atau material.

Namun, sekali lagi, kritik metafisika juga tidak cukup. Kritik metafisika, ternyata, bagi sebagian orang memerlukan suatu alat yang disebut epistemologi: konsepsi tentang bagaimana manusia bisa mengetahui ada X, dan X adalah benar. Jika menggunakan bahasa Immanuel Kant: perlu adanya investigasi tentang the condition of possibility terhadap metafisika sehingga dia dapat sah sebagai ilmu, dapat diketahui benar salahnya[4]. Oleh karenanya bagi Kant janganlah muluk-muluk bicara substansi, bicara monade, bicara atribut, jika kita belum memeriksa sebenarnya bagaimana kita bisa berpikir. Marilah mencoba memikirkan bagaimana kita bisa menyerap objek yang terberi dengan indera kita. Berikut kutipan aslinya:

Let us then make the experiment whether we may not be more successful in metaphysics, if we assume that the object must conform to our cognition. This appears, at all events, to accord better with the possibility of our gaining the end we have in view, that is to say, of arriving at the cognition of objects, before they are given to us.[5]

Tanpa adanya suatu usaha epistemologis seperti itu, kritik metafisika menjadi kritik kosong, karena kita mengandaikan sesuatu yang tidak diketahui. Kritik dalam artian ini kemudian dipahami sebagai keharusan manusia untuk memahami diri mereka sendiri sebelum berbicara mengenai kondisi metafisik. Dengan kata lain kritik metafisika tidak dapat berjalan sebelum ada kritik epistemologi.

Namun sejak Hegel membuka jalan bahwa kesadaran manusia adalah kesadaran sejarah, dalam artian kesadaran manusia bersifat historis dan menjadi dalam sejarah, kritik epistemologi Kantian seakan mendapat serangan besar. Bahwa kesadaran manusia tidak statis dan a-historis pada faculty of reason, tetapi dinamis dan historis.[6] Teori selalu berhubungan dengan praktik. Setiap kesadaran lama akan menjadi dalam sejarah dan membentuk kesadaran baru. Jadi refleksi Kantian 300 tahun lalu dapat saja berbeda hasilnya. Jika mengikuti kata-kata Herbert Marcuse: “Individu gagal dan mati; ide menang dan abadi”.[7]

Pada posisi inilah perdebatan radikal menjadi berlanjut. Kritik epistemologi atas metafisika dapat dikritik dengan asumsi bahwa usaha mengetahui batas pengetahuan manusia memerlukan basis metafisika tertentu. Suatu pengandaian tentang kondisi yang harus dimiliki subjek, yang contoh  dalam Hegel adalah dialektika kesadaran yang mewujud dalam sejarah.

Bahwa manusia adalah mahluk historis (Hegel), bahwa kesadaran terbentuk dalam sejarah (Hegel), bahwa kesadaran terbentuk lewat kerja (Marx), bahwa terjadi saling pembentukan diri antara alam dan manusia lewat kerja (Marx), merupakan contoh kritik-kritik atas kritik epistemologi model Kantian. Model kritik macam itulah yang biasa disebut Meta-kritik—jika meminjam ungkapan Habermas. Disebut seperti itu karena kritiknya melampaui kritik metafisika biasa. Jika kritik metafisika sebelumnya dipahami sebagai determinasi kondisi metafisis tanpa adanya investigasi epistemologis, maka meta-kritik justru adalah usaha mencari kondisi yang mensyaratkan investigasi epistemologis tersebut. Atau dapat dikatakan, kritik yang sadar akan asal-usulnya.[8]

Dengan penjabaran tersebut kita setidaknya dapat mengambil kesimpulan sementara bahwa Filsafat dapat dikatakan sebagai kritik selama filsafat dipahami sebagai usaha pembukaan manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang ada (Realitas) dan esensi. Kritik inkonsistensi, kritik epistemologi, kritik metafisika, dan meta-kritik, semuanya adalah bentuk berfilsafat. Contoh dari usaha manusia untuk menjawab pertanyaan fundamental, atau bentuk pembukaan manusia terhadap ada, dan penolakan terhadap yang tidak ada.

Dengan demikian berfilsafat adalah mengkritik dalam artian ingin menunjukkan kebenaran, dan secara tidak langsung harus mengeliminasi hal-hal yang tidak benar. Sedangkan meninjau secara filsafati adalah penunjukan kesalahan, atau kelupaan terhadap asumsi-asumsi dasar (logika, metafisika, dan epistemologi) manusia tentang “the real truth”, terlepas penunjukan itu merupakan suatu kelupaan juga atau tidak. Bagi saya, sejarah filsafat selanjutnya juga tidak terlalu berbeda. Kritik adalah konsekuensi dari filsafat. Konsekuensi dari kutukan filsafat pertama. Hanya saja, pada titik apa penekanannya, metafisika atau epistemologi, itu yang perlu kita kaji lebih jauh lagi.

Berakhirnya Kritik dalam Ilmu Positif dan Anti Representasionalisme-Fondasionalisme

Ada dua fenomena yang menurut saya perlu direspon kaitannya dengan filsafat sebagai kritik. Pertama adalah jargon kemantapan ilmu-positif, dan yang kedua adalah jargon anti representasioanlisme-fondasionalisme. Semuanya menginginkan satu hal: kematian filsafat! Itu juga berarti: selesainya kritik dalam artian filosofis. Bagaimana kedua hal tersebut melegitimasi pernyataanya?

Sebelum menjawab hal tersebut, kita perlu mengkondisikan satu hal terkait kesimpulan kita mengenai relasi filsafat dan kritik, yaitu: kritik hanya akan ada saat ada sesuatu yang dilawan. Artinya, saat kritik dianggap sudah mencapai titik radikalnya, dan dirasa telah mengeliminasi segala bentuk kebenaran yang lain, maka kritik tersebut menjadi selesai. Atau dengan kata lain, kebenaran sudah ditemukan. Dan itulah yang terjadi pada dua hal yang ingin saya kita respon, yaitu ilmu dalam artian positivistik yang berkembang dari Mach, dan anti representasionalisme-fondasionalisme yang berkembang dari Rortry.

Mari mulai dari positivisme terlebih dahulu. Aliran yang menyatakan filsafat sudah dan harus mati.

Positivisme lahir dari rahim pencerahan. Lahir pada waktu yang sama dengan kebangkitan ilmu-ilmu alam. Dengan semangat unifikasi ilmu dalam paradigma nomologis-empiris-analitis. Positivisme mendaku diri sebagai satu-satunya anak pencerahan yang sah dan yang tersayang. Anak emas yang paling sukses memberikan realitas kenyataan. Kenyataan yang tidak abstrak dan dapat dipahami oleh banyak orang. Kira-kira begitulah anggapan Ernst Mach. Fisikawan yang filsuf.[9]

Ketidakmungkinan filsafat oleh Mach ditunjukkan dengan mengembalikan pengetahuan manusia pada batasnya yang paling rasional, yaitu pada sensasi inderawi. Bahwa semua yang kita ketahui tidak lebih dan tidak dapat lebih dari proses sensasi-sensasi.[10] Pandangan ini tidak lebih dari radikalisasi pandangan empirisme via Kantian, yang berbeda dari Hegel, yang mengatasinya dengan menyatukan subjek-objek pada roh absolut, Mach malah membatasinya pada posisi fenomena.

Prinsip metodologis Mach untuk menutup pintu kritik filsafat cukup sederhana: 1) melegitimasi bahwa hanya indra yang menyediakan data nyata dengan memberikan landasan metafisis bahwa manusia adalah ada yang mengindera; 2) menjustifikasi masuknya konsep bantu (matematika, fisika yang tak terobservasi) dalam ranah ilmiah dengan memberikan syarat koherenitas hipotesis dengan temuan observasi; dan 3) menguatkan posisi hipotesis dengan meletakkannya dalam kerangka observatif dan intersubjektif. [11]

Dengan demikian, ilmu-positif yang dibangun Mach sebenarnya adalah kritik yang memiliki asumsi fundamental tentang realitas. Alias kritik metafisika. Kritik atas segala hal yang tidak faktawi, tidak dapat diindera, tidak dapat ditangkap secara objektif, dan tidak dapat dipikirkan dalam kerangka triade induksi-deduksi-abduksi dan observatif-intersubjektif sebagai kepalsuan.

Namun, karena ilmu-positif dianggap sudah selesai, maka tidak ada lagi tempat bagi konsepsi lain. Tidak ada lagi tempat bagi idea tertinggi (Plato), tidak ada lagi tempat bagi roh absolut (Hegel), dan tidak ada lagi tempat bagi Melody JKT48 ego-psikoanalitik (Freud). Itu disebabkan karena mereka dianggap hanya sebagai delusi mind-belief belaka.

Kritik yang keluar dari pemahaman ini kemudian bukanlah kritik dalam artian filosofis, melainkan kritik dalam artian transformatif yang dipatoki pagar-pagar objektif-positif. Dengan kata lain, kritik hanya dikatakan kritik jika itu inkonsisten dengan pandangan dunia ilmu-positif. Kritis berarti memverifikasi makna sesuatu dan mencocokkannya dengan fakta inderawi. Kritis berarti penyesuaian kalimat dengan prosedur ilmiah positif.[12] Kritik tidak perlu radikal. Kritik tidak butuh filsafat, karena filsafat lain sudah mati. Dengan itu, ilmu-positif mengeliminasi filsafat dalam artian metafisika.

Sekarang mari beralih ke kritik selanjutnya, Richard Rortry dan anti representasionalisme-fondasionalismenya.

Berbeda dengan positivisme yang lebih merupakan kritik metafisika, penganut anti representasionalisme-fondasionalisme, yang dalam hal ini saya wakilkan dengan pandangan Richard Rortry, lebih merupakan kritik epistemologi. (Perlu diingat bahwa saat berbicara tentang kritik metafisika ataupun epistemologi, pengandaian tentang keduanya sudah inheren dalam konsep tersebut, hanya saja penekanan dimensinya yang berbeda).

Kritik Rortry merupakan kebalikan dari bangunan filsafat yang dibangun Mach. Kita bisa katakan Mach sebagai seorang representasionalis, dalam artian manusia dapat merepresentasikan dunia via inderanya untuk dimengerti. Sedangkan bagi Rortry hal itu tidak mungkin. Pencerminan (representasi) tidak akan pernah akurat karena alam masuk sebagai pengetahuan ke ‘kita’ via justifikasi keyakinan masyarakat[13]. Penarikan kesimpulan ini ditentukan dengan cara penentuan apa yang terberi dan apa yang dibentuk oleh akal, sehingga dapat menentukan apa yang kontingen (dari yang terberi) dan apa yang niscaya (dari yang dibentuk).[14]

Ketidakmampuan untuk membedakan dua hal tersebutlah yang akhirnya menurut Rortry menjadi kebingungan filsafat. Kebingungan itu terejawantah dengan menjadikan epistemologi sebagai fondasi. Masalahnya, epistemologi mengandaikan adanya lompatan pengetahuan. Menarik diri secara reflektif, melampui yang empiris untuk menentukan basis dari pengetahuannya.[15]

Rortry menolak hal tersebut. Manusia selalu hidup dalam kultur, bahasa, sejarah dan lokalitas tertentu. Artinya manusia tidak dapat melampaui—meminjam bahasa Heidegger—faktisitasnya, sehingga akan ada banyak standpoint kebenaran. Akhirnya, hanya yang paling bergunalah yang benar karena masyarakatnya memilihnya sebagai sesuatu yang praktis untuk dirinya. Dengan hal tersebut, Rortry tidak hanya menyerang filsafat, tapi juga ilmu-positif dalam artian kemurniannya.[16]

Kritik filsafat dianggap oleh Rortry hanya sebagai sebuah monolog. Karena setiap filsuf berbicara dengan “permainan bahasanya” sendiri. Tidak ada kelanjutan argumentasi dalam komentar sejarah filsafat, kecuali komentar Kaelan dan Sri Soeprapto atas Notonagoro.[17] Selain itu filsafat yang mengandaikan adanya kritik epistemologi selalu terjebak dengan ungkapan investigasi terhadap syarat kemungkinan pengetahuan, tapi melupakan bahwa proposisi tersebut tidak masuk syarat yang dibuatnya[18].

Karenanya, dengan pandangan Rortry, kritik tidak dibunuh. Kritik tetap diperbolehkan, kritik tetap dimungkinan, tetapi hanya sebagai kritik sastra. Kritik yang membicarakan sesuatu dengan permaianan bahasa yang berbeda. Kritik menjadi gembos karena tidak berfaedah. Karena apapun hasilnya, yang menang adalah politik utilitas dalam masyarakat. Fondasionalisme sudah dilingserkan, yang berarti, kritik bernasib sama. Kritik hanya tentang inkonsistensi kebijakan politik dan keinginan masyarakat. Filsafat tak lebih dari cerita One Piece!

Membaca Ulang Kritik

Kita telah mengeksplitasi secara sederhana dua aliran yang bertolak belakang secara asumsi metafisik dan epistemologis, namun sama dalam tujuan eliminasi. Hasilnya: filsafat sudah mati dan atau menjadi Doraemon.

Sebelum memberi komentar atas dua serangan tersebut, kita perlu mengambil pola bagaimana argumentasi tulisan ini dibangun. Pertama, saya menggambarkan filsafat sebagai keterbukaan terhadap pertanyaan tentang realitas. Kemudian, saya mengklaim bahwa ia membangun sebuah pandangan dunia. Setelah selesai dengan pandangan dunianya, ia akan mengkritik pandangan dunia yang lain. Dengan kata lain ia mengeliminasi bahasa kebenaran yang lain sebagai bahasa kesalahan, yang membuatnya dapat berdiri di puncak dan menjadi the real truth. Dengan posisi tersebut ia dapat mengarahkan dunia pada yang seharusnya.

Argumen yang saya bangun ini menunjukan bahwa selama filsafat berusaha mencari the real truth, pembunuhan filsafat sebagai kritik oleh pandangan dunia filsafat yang lain adalah keniscayaan. Pembunuhan itu menjadi niscaya karena filsafat tidak memperbolehkan yang lain sebagai konsekuensi filsafat pertama. Usaha tidak terjebak dalam metafisika totaliter (kehadiran) tersebut pernah dicoba oleh Heidegger dengan meninggalkan kosa-kata filosofis. Meninggalkan warisan sejarah Da-Sein. Tapi ternyata tidak bisa. Bahasa metafisika tidak cukup. Derrida juga mencoba mengambil jalan ganda untuk tidak terjebak dalam interkoneksi inferensial kalimat, dan asosiasi inferensial kata, tapi tetap tidak dapat lepas dari warisan kosa-kata metafisis. Karenanya filsafat selalu meniadakan yang lain. Jadi bisa dikatakan: filsafat, di satu sisi yang membentuk kritik, di sisi lain menghancurkannya.

Apa artinya itu? Apakah jika kita ingin menyelamatkan kritik berarti kita harus meninggalkan filsafat? Saya rasa itu juga tidak, karena dengan begitu filsafat tidak lahir, sehingga justru membunuh kritik sejak dalam kandungan. Karenanya bagi saya artinya hanya satu: selama filsafat dipahami sebagai pembukaan diri terhadap pertanyaan tentang realitas, sebagai wujud kutukan pertama, maka kritik tidak bisa tidak mungkin. Sehingga masalahnya sekarang adalah bagaimana bentuk kemungkinan kritik itu berwujud yang dapat bermacam-macam, dan manakah kritik yang paling cocok. Itu urusan artikel lain.

Kita coba lihat hal tersebut dalam dua contoh yang kita sebutkan sebelumnya.

Apa argumen ilmu positif untuk membunuh filsafat? Indera dan metode ilmu alam. Tapi ternyata pada posisi ini kemungkinan filsafat sebagai kritik tetap terbuka lebar.

  1. Menjadi seorang revisionis. Itu artinya, filsafat sebagai kritik berada di belakang ilmu sebagai pendukung keberadaannya. Tugas revisionis adalah menjustifikasi ilmu dalam ranah ‘rawan kritik filsafat lain’. Contoh dari kritik model ini adalah, misalnya, justifikasi bahwa dunia ini tersusun dalam realitas yang berlapis dan hierarkis (Global Supervenience).[19] Abstraksi itu di luar wewenang ilmu yang dicanangkan Mach. Tapi dia membutuhkan hal tersebut agar ilmu tetap berjalan. Dalam posisi ini, Kritik adalah alat pertahanan ilmu untuk menyingkirkan pandangan metafisis yang tidak cocok dengan bangunan dan kelanjutan ilmu-positif.[20] Namun dengan menggunakan pandangan revisionis, ilmu-positif tidak lagi positif. Artinya, paradoks positivisme, positivisme dibangun tidak oleh prinsip positif.
  2. Menjadi seorang Marxis. Dalam posisi ini kritik adalah memperlihatkan keberpihakan-keberpihakan ilmu dalam struktur dunia kapitalis. Ilmu tidak dapat melihat ke arah mana dirinya disetir. Dunia ekonomi dan politik dapat menekan ilmu lewat struktur yang dibangun menuju apa yang sistem kapitalis mau (funding, kesadaran palsu masyarakat, ideologi ilmu). Terlebih, tadi belum dijelaskan, maaf lupa, ilmu positif menganggap metode itu bebas nilai. Hanya sebatas sebagai instrumen. Jadi wajar, jika orang-orang seperti Habermas dan Althusser malah dapat membantu ilmu menuju keilmiahannya yang rigid justru dengan konstruksi Marxisme. Jika ilmu kemudian menjadi was-was dengan jargon para Marxis tersebut, maka ilmu tidak lagi menjadi ilmu-positif dalam artian Mach. Tetapi menjadi ilmu marxis, yang katanya emansipatoris.

Saya rasa masih banyak cara lain, seperti menjadi Post-strukturalis atau Pancasilais. Dengan demikian, ilmu-positif tidak bisa membunuh filsafat dan memang tidak boleh. Karena saat dia membunuh filsafat, dia akan kehilangan fondasinya.

Namun bagaimana dengan kritik Rortry tentang filsafat yang monolog; bahwa kritik tidak akan menemukan titik temunya karena tiap filsuf memiliki bahasanya sendiri; bahwa filsafat dan ilmu tidak lebih dari karya sastra? Menurut saya pandangan ini juga tidak lepas dari kritik.

  1. Memang benar filsafat ada yang seperti karya sastra, tapi perlu ada pembedaan, misalnya perdebatan filsafat abad ke-19 dan perdebatan ilmu abad ini. Saat berbicara tentang DNA, misalnya, itu bukan justifikasi masyarakat, tapi benar-benar ada. Justru karena itu terepresentasi dan disepakati banyak orang, maka representasionalisme menjadi benar (Kritik representasionalis).
  1. Lalu bagaimana pada posisi kritik filosofis. Tentu saja hal tersebut hanya butuh penunjukan objek yang sama. Konsep filsafat menjadi berbeda justru karena mereka menunjuk suatu objek secara spesifik. Mengapa alienasi dalam artian Hegelian dan Marx berbeda. Ini bukan karena arbitari filsuf, tetapi karena objek yang ditunjuk berbeda. Marx menunjuk manusia dalam struktur kapitalis, sedangkan Hegel dalam relasi manusia dengan agama. Kritik dengan permainan bahasa yang sama masih bisa dilakukan, karena itulah ada komentator dalam perdebatan filsafat. Karena kritiknya bersifat imanen, dan tidak arbiter. Artinya melakukan kritik dalam kosakata yang dipahami oleh filsuf itu sendiri dengan menunjukkan perangkat pengukurannya, dan kalau salah, kesalahannya. Ini perlu dibedakan dengan membicarakan hal yang berbeda. Memang sulit, tapi hal tersebut masih dimungkinkan.

Tanggapan saya tersebut, mudah-mudahan sukses, memperlihatkan bahwa filsafat selama dipahami sebagai pembukaan diri, dan pembangunan sistem pandangan dunia, akan selalu dan tetap memungkinkan terjadinya kritik. Karena saat pandangan X tidak sama dengan Y, tapi keduanya memiliki justifikasi kebenarannya, maka kritik akan terus terjadi, untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Artinya, selama kondisi itu masih ada, kritik tidak mungkin untuk menjadi tidak mungkin.

Perjalanan dunia filsafat, karenanya adalah perjalanan berkembangnya kesadaran manusia terhadap dunia via kritik atau lewat pertempuran pandangan dunia yang dibentuk filsafat. Atau lewat kata yang dibenci oleh sebagian orang: negasi. Kritik mengambil posisi dan peran di sana, dan mendapatkan kemungkinannya di sana. Dengan kata lain kritik filosofis justru masih dibutuhkan. Sebagai usaha untuk mencapai level kesadaran manusia yang lebih tinggi, yang juga berarti, saya besok masih punya pekerjaan untuk tidak dibilang kurang gawean. Namanya Filsafat, dan dia ingin mencapai kesadaran manusia yang tertinggi. Masalah dikabulkan atau tidak keinginannya, hal itu saya serahkan pada Melody.[]

*Tulisan ini adalah teks pengantar untuk diskusi REMBUG FILSAFAT LSF COGITO yang diselenggarakan pada medio bulan September 2015 dengan tema “Melihat Masa Depan Filsafat”.


[1] Definisi ini saya ambil dari tafsir M. Heidegger terhadap alegori gua Plato dalam, The Essence of Truth: on Plato’s Cave Allegory and Theaetetus, Terjemahan Ted Sadler (New York/ London, Continuum, 2005), hal. 60.

[2] Perbandingan antara natur manusia dalam hubungannya dengan perdebatan dua pandangan tersebut lihat elaborasi A. Budiman, Sistem Perekonomian Pancasila dan Ideologi Ilmu Sosial di Indonesia (Jakarta, Gramedia, 1989) bab III.

[3] Lih. L.O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, terjemahan Soejono Soemargono (Yogyakarta, Tiara Wacana, 2004), hal. 12-13.

[4] Proyek Kant memang adalah usaha mencari syarat kemungkinan dari metafisika sehingga dia dapat menjadi ilmu seperti fisika. Dia berkata bahwa: I do not mean by this criticism of books and systems, but a critical inquiry into the faculty of reason, with reference to the cognitions to which it strives to attain without the aid of experience… in other words, the solution of the question regarding the possibility or impossibility of Metaphysics, and determination of the origin, as well as of the extent and limits of this science, I. Kant, The Citique of Pure Reaseon, terjemahan J.M.D. Meiklejohn (London, J.M. Dent & Sons LTD, 1959), hal. 3.

[5] Ibid., hal. 12.

[6] Penjelasan mengenai kesadaran yang membentuk dirinya sendiri lewat proses sejarah dalam filsafat Hegel Lih. H. Marcuse, Rasio dan Revolusi: Menyuguhkan Kembali Doktrin Hegel untuk Umum, Terjemahan Imam Baehaqie (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004), hal. 182-186. Sedangkan penjelasan Hegel sendiri mengenai kesadaran diri Lih. GWF. Hegel, Phenomenology of Spirit, terjemahan A.V. Miller (Oxford, Oxford University Press, 1977), hal. 111-118 tentang dialektika tuan budak,  488 & 493 tentang  pengetahuan absolut.

[7] H. Marcuse, Op. Cit., hal.185.

[8] F.B. Hardiman, Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan bersama Jürgen Habermas (Yogyakarta, Kanisius, 2009), hal. 127.

[9] Tentang E. Mach dan hubungannya dengan posisi fisika modern yang mulai tidak observable lihat H.D. Aiken, Abad Ideologi, terjemahan – (Yogyakarta, Relief, 2009), hal 291-301, sedangakn untuk tafsir Lenin atas representasionalisme Mach, lih. M. Suryajaya, Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer (Yogyakarta, Resist, 2012), hal. 43-48,

[10] E. Mach, The Science of Mechanics, dalam H.D. Aiken, Op. Cit., hal. 308.

[11] Ibid., hal. 295 & 299.

[12] Ini dilakukan oleh filsuf positivisme seperti A. J. Ayer, dia mengatakan bahwa tugas filsafat adalah“Philosopher who had no mastery of language would be as helpless as a mathematician who could not handle numerals… So the philosopher’s command of language was merely a necessary means to the investigation of the objective properties of concept.” Lih. A.J. Ayer, Philosophy and Language (Oxford: Clarendon Press, 1960), hal. 7.

[13] R. Rortry, Philosophy and the Mirror of nature (New Jersey, Princeton University Press), hal. 170.

[14] …if we do not have the distinction between what is “given” and what is “added by the mind,” or that between the “contingent” (because influenced by what is given) and the “necessary” (because entirely “within” the mind and under its control), then we will not know what would count as a “rational reconstruction” of our knowledge. We will not know what epistemology’s goal or method could be. Ibid., hal. 168-9.

[15] Ibid., hal. 132.

[16] E. Grippe, “Richard Rortry”, Internet  Encylopedia Philosophy (url: http://www.iep.utm.edu/rorty/)

[17] R. Rortry, Essay on Heidegger and Others (Cambridge, Cambridge University Press, 1991), hal.  126.

[18] “The condition making an expression intelligible…” despite the fact that proposition itself does not fulfill the condition it lists. Ibid., 91.

[19] Artikel yang dengan lengkap membahas Global Supervenience lih. R. Cranston Paull & Theodore Sider, “In Defense of Global Supervenience”, dalam Philo. Phen. Res. (1992), hal. 833-54.

[20] Untuk penjelasan lebih lanjut tentang hubungan filsafat dan ilmu dalam kerangka revisionis lih.”Metaphysic of Science, Between Metaphysic and Science”, dalam Grazer Philosophisce Studen (2007), hal. 199-213.

Banin D. Sukmono
Mahasiswa fakultas filsafat UGM, editor Jurnal Cogito, sedang mendalami metafisika ilmu.

LEAVE A REPLY