sumber gambar: https://www.newstatesman.com/2018/08/why-nietzsche-has-once-again-become-inspiration-far-right

Layaknya seniman, manusia selalu berusaha untuk mencipta dan berkreasi secara aktif. Hal ini merupakan bagian dari upaya kita untuk menafsirkan dan memahami realitas dalam setiap persentuhan kita kembali dengannya secara terus menerus. Pergumulan tersebut beranjak dari kebutuhan manusia untuk bertahan hidup sebagai sebuah spesies, keniscayaan untuk berinteraksi antara satu dengan yang lain, serta mengamati alam sekitaryang semua daripadanya merupakan bagian dari interaksi terhadap realitas itu sendiri. Seiring perjalanan waktu persentuhan manusia dengan realitas tersebut sudah sewajarnya melahirkan problematika tersendiri tatkala manusia mulai mencoba untuk bersikap reflektif-kritis, yang pada kenyataan kehidupan modern kini tampak mulai kembali ditinggalkan. Sedangkan di sisi lain, hampir segala produk dari proses pergumulan sejarah kini berakhir hanya sebagai sebuah tradisi yang diterima begitu saja (taken for granted) dan tidak lagi dipahami akar kedudukan dari hal-hal tersebut dalam sejarah kemunculannya.

Salah satu produk sejarah tersebut adalah ilmu pengetahuan saintifik atau sains. Pada kenyataan hari ini, sains memiliki kedudukan amat penting sebagai fondasi bangunan peradaban manusia. Sains terbukti telah berhasil meningkatkan keseluruhan taraf hidup manusia melalui penciptaan teknologi baru, peningkatan arus informasi dan jalur komunikasi, peningkatan efisiensi dalam kegiatan perekonomian, dan banyak aspek dari kehidupan manusia yang lain. Namun, dominasi sains dalam segala aspek kehidupan manusia yang telah sampai mengakar pada alam pikiran tiap individu telah menyebabkan penyempitan horizon pandang manusia terhadap realitas di mana ia berada dan juga berhadapan, termasuk di dalamnya yaitu kehidupan, kemanusiaan, masyarakat, spritualitas dan lain sebagainya. Maka dari itu, upaya untuk menggugat kedudukan sains secara radikal menjadi perlu. Dalam pembahasan kali ini, penulis menggunakan sudut pandang seorang filsuf Jerman, yaitu Friedrich Nietzsche.

Kehendak Manusia

Sebelum kelahiran filsafat, manusia senantiasa berupaya untuk mencari kepastian dalam dirinya sebagai sebuah bentuk pengobatan atas rasa “sakit” yang timbul dalam proses persentuhannya dengan realitas. Rasa “sakit” yang dimaksud di sini bukanlah suatu rasa yang bersifat fisik sebagaimana yang dialami seseorang tatkala terluka (misalnya setelah terjatuh dari sepeda), melainkan sebuah respon atas permasalahan dalam menghadapi realitas hidup yang timbul dalam diri individu—atau lebih dasar lagi, yaitu kelemahan “kehendak” individu atas ketidakpastian. “Kehendak” yang dimaksud dalam terma Nietzsche disinidengan mengembangkan konsep kehendak dari pemikiran Schopenhauermerupakan inti terdalam manusia yang sebenarnya hampir tak dapat tergambarkan oleh kata-kata, yaitu satu-kesatuan menyeluruh atas segala unsur dari diri manusia, termasuk di antaranya unsur organis, psikologis, rasio beserta perangkat epistemiknya, dan beragam lainnya, yang membentuk sebuah subjektifitas yang utuh.1

Adalah kebutuhan akan pegangan yang kemudian menuntun manusia untuk mencari sebuah kepastian untuk dipegang di hadapan realitas. Hal ini kemudian membuat manusia bersentuhan dengan “metafisika tradisional”, seperti misalnya mitos, takhayul, kepercayaan mistis, serta agama. Setelah kelahiran dan perkembangan filsafat sekalipun, manusia pada nyatanya tidak dapat terlepas dari upaya pencarian jawaban yang bersifat spekulatif-naif dalam arti mengadakan sesuatu hal atas dasar kebutuhan akan kepastian yang tidak lagi ditelaah secara terus menerussehingga ia tercerabut dari akar historisnya dan kemudian berakhir menjadi sebuah tradisi yang diterima begitu saja—atau dalam kata lain, menjadi dogmatis. Hal ini pun merupakan karakter utama dari metafisika tradisional. Persoalan tersebut dapat terlihat secara dominan dalam pergumulan epistemologis para filsuf sebelum abad Pencerahan (Aufklärung) yang seringkali berfokus pada isi pengetahuan dan bukannya pada syarat-syarat pengetahuan yang absah itu sendiri, sehingga metafisika dalam bangunan sistem filsafat menjadi sebuah dogma yang berakar pada kepercayaan naif.

Maka bagi Nietzsche, apa yang telah dengan penuh semangat dijelaskan oleh Comte dan jajaran pemikir Pencerahan lainnya di atas adalah sebuah mimpi di siang bolong. Artinya, kecenderungan manusia untuk percaya tidaklah hilang oleh kehadiran sains, bahkan manusia saintifik itu tidak jauh berbeda dengan kaum-kaum agamis dan metafisis.

Menuju Pencerahan

Dengan munculnya Pencerahan (Aufklärung) di sekitar abad ke-18, kebutuhan akan pegangan menuntun manusia untuk kemudian beralih pada ilmu pengetahuan saintifik atau sains untuk membebaskan diri mereka dari belenggu takhayul agama dan metafisika, salah satunya yang paling monumental yakni pendobrakan kredo teologi Gereja Katolik melalui revolusi Copernican. Para pemikir di zaman tersebut berpandangan bahwa agama dan metafisika adalah sebuah kesalahan infantil, bahwa segala bentuk kepercayaan adalah sesuatu yang irasional dan harus dibuang demi kemajuan umat manusia. Salah satu pemikir yang lahir dari semangat Pencerahan tersebut adalah Auguste Comteseorang yang amat menaruh rasa optimis terhadap kemajuan sejarah dan ilmu pengetahuan saintifik.

Comte berpandangan bahwa “pada awal sejarah ini, manusia mencari sebab untuk segala sesuatunya pada kuasa-kuasa ilahi yang di luar manusia. Selanjutnya, pada zaman tengah, manusia mulai meninggalkan kuasa mitis tersebut, dan mulai mengabstrakkan sebab akhir dalam konsep-konsep metafisis. Penyebab akhir bukan lagi sesuatu yang secara sewenang-wenang ada di luar manusia, melainkan sesuatu yang bisa dia pikirkan dan dia analisis secara rasional dalam konsep-konsep abstrak.”2 Setelah zaman-zaman tersebut berlalu, akan tiba suatu masa di mana duniameminjam peristilahan Webermengalami disenchantment, yakni ketika realitas ditelanjangi dari segala unsur magis dan metafisisnya3. Masa tersebut adalah masa di mana Comte hidup. Maka, “sains dan hukum-hukum positifnya yang bisa dibuktikan secara kasat mata dan bisa menjelaskan dengan eksak mekanisme penyebaban di alam semesta ini menjadi era baru di mana manusia percaya pada dirinya sendiri. Manusia rasional yang cerah tidak lagi mencari-cari sesuatu di luar dirinya, melainkan percaya pada apa yang ada di dalam dirinya sendiri.”4

Untuk menyamakan asumsi, perlu dijelaskan terlebih dahulu penggunaan istilah ilmu pengetahuan saintifik atau sains di sini. Sains dipahami sebagai bentuk khusus (species) dari ilmu pengetahuan sebagai bentuk yang lebih umum (genus), yang memiliki tiga ciri untuk dapat diklasifikasikan sebagai sains (science), yaitu:

  1. objek ontologis sains adalah segala sesuatu yang berada dalam ranah pengalaman empiris manusia;
  2. landasan epistemologis sains adalah metode ilmiah (logicohyphotetico-verification); dan
  3. landasan aksiologis sains adalah kemanfaatan bagi manusia.5

Sehingga, segala ilmu pengetahuan yang memiliki tiga ciri khusus di atas dapat disebut sains atau berhak dikatakan bersifat saintifik”. Ilmu pengetahuan sendiri selain merupakan bentuk lebih umum dari sains, juga merupakan bentuk khusus dari pengetahuan (knowledge). Dalam diskursus di dalam bahasa Indonesia, pembagian ini disebabkan oleh pengklasifikasian istilah “pengetahuan” yang terdiri dari “pengetahuan yang tidak terstruktur” dan “pengetahuan yang terstruktur”. “Pengetahuan tidak terstruktur” bisa disebut “pengetahuan biasa” (common sense), sedangkan “pengetahuan yang terstruktur” disebut dengan “ilmu pengetahuan”.6 Maka dalam struktur relasi antara pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan sains adalah berlapis tiga dengan pengetahuan merupakan bentuk paling umum, sedangkan sains adalah bentuk paling khusus. Hal ini berbeda dengan misalnya di dalam bahasa Inggris, di mana kita mengenal pembagian istilah menjadi dua saja, yaitu pengetahuan (knowledge) dan sains (science).

Agama dalam Bentuk Baru

Bagi Nietzsche, kepercayaan bukan hanya menyangkut perihal religiusitas (religiosity) pada doktrin agama maupun tradisi mistis. Kebutuhan akan pegangan dalam diri manusia mendorong kita untuk mencari sesuatu untuk dipercaya. Dengan kata lain, kebutuhan akan pegangan tak lain dalam hal ini adalah kebutuhan untuk percaya sebagai mekanisme penghendakan dalam diri subjek. Kepercayaan dapat melingkupi berbagai hal: agama, sains, ideologi politik, bahkan ateisme—yakni kepercayaan terhadap ketidakadaan Tuhan. Maka dari itu, sikap fanatik dapat ditemukan pada kalangan manapun, baik kaum agamawan yang percaya pada Tuhan maupun kaum ateis yang menyatakan dirinya tak percaya kepada Tuhan—termasuk dalam hal ini adalah kaum saintifik. Sains, tanpa pernah atau jarang kita sadari, adalah salah satu bentuk pegangan tersebut.

Maka bagi Nietzsche, apa yang telah dengan penuh semangat dijelaskan oleh Comte dan jajaran pemikir Pencerahan lainnya di atas adalah sebuah mimpi di siang bolong. Artinya, kecenderungan manusia untuk percaya tidaklah hilang oleh kehadiran sains, bahkan manusia saintifik itu tidak jauh berbeda dengan kaum-kaum agamis dan metafisis. Mereka yang menjadikan sains sebagai pegangan juga terbelenggu oleh sebuah bentuk kepercayaan, yaitu kepercayaan terhadap sains. Sains telah menjadi agama baru. Hal ini kemudian terbukti dalam bentuknya yang paling gamblang dengan berdirinya Gereja Saintologi di Amerika Serikat pada pertengahan abad lalu. Kepercayaan terhadap sains telah menjelma menjadi iman dengan sains layaknya sebuah agama. Nietzsche mengatakan:

“…Beberapa orang masih membutuhkan Metafisika; tetapi, secara deras luar biasa, keinginan akan kepastian meledak di kalangan massa saat ini dalam bentuknya yang saintifiko-positivistik. Ada keinginan hendak memiliki sesuatu yang stabil secara absolut dan dalam gelegak panas keinginan itu sendiri biasanya kita lalu tidak terlalu memperhatikan soal argumen yang seharusnya mendasari kepastian itu sendiri. Sekali lagi, itu semua adalah saksi akan kebutuhan sebuah pegangan, kebutuhan akan sandaran.”7

Di hadapan sains yang berpretensi untuk menemukan segala sesuatu secara objektif dan bebas kepentingan (interest free), ada upaya penyensoran secara intens terhadap apa pun dari segala bentuk kepercayaan, praduga, kecurigaan, maupun interpretasi-interpretasi psikologis lainnya, sehingga sains secara terang-terangan menunjukkan dirinya ingin melepaskan diri dari subjektivitas serta segala nilai yang menyertainya. Upaya penyensoran sains memaksa praduga-praduga tersebut untuk tunduk pada tuntutan saintifik, atau paling tidak, merendahkannya hingga sebatas hipotesis belaka. Sains telah menyatakan dirinya sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran yang universal, objektif dan pasti—dan oleh karena itu, manusia harus tunduk padanya.

Namun, sebenarnya di balik upaya penyensoran tersebut terdapat keyakinan diam-diam lain yang secara imperatif (memerintah) menginginkan dirinya menjadi satu-satunya instrumen untuk menafsirkan realitas. Dengan kata lain, ada sebuah kehendak akan interest free, kehendak akan objektivitas yang tak lain dan tak bukan adalah sebuah bentuk keyakinansebuah kepercayaan juga. Nietzsche melihat bahwa dalam sains ada sebuah kehendak absolut yang memaksakan metode saintifik pada segala hal, sedangkan ia sendiri lolos dari tuntutan prosedural kesaintifikan itu sendiri. Dengan tajam Nietzsche memperlihatkan di sini kontradiksi klaim sains: ia menginginkan dominasi rasio objektif, sedangkan ternyata keinginan itu sendiri berasal dari sesuatu yang tidak rasional dan tidak objektif, sebuah kepercayaan yang mendahului prosedur saintifik itu sendiri. Dengan kata lain, di belakang sains ada sebuah konstruksi metafisik dan ide moral—sebuah “agama”—yang bertindak sebagai hakim kebenaran.

Fiksasi Realitas

Kebutuhan untuk percaya menggerakkan manusia untuk mengidealkan sebuah konsepsi atas dunia dan kemudian mengkonstruksi realitas sebagaimana yang kita butuhkan, yakni yang terwujud dalam kehendak mati-matian akan kebenaran dalam sains. Idealisasi tersebut membuat manusia untuk kemudian menolak dunia sebagaimana apa adanya dan cenderung beralih pada dunia oposisi yang sebagaimana dalam metafisika tradisional dinarasikan sebagai dunia yang lebih riil, lebih sejati, lebih kekal, dan lebih sempurna. Kelemahan kehendak pada diri manusia seringkali mendorong kita untuk kabur pada dunia yang kita imajinasikan—entah ia terletak jauh di masa pasca-kematian maupun di masa kini—alih-alih menghadapi dengan lapang dada dunia sebagaimana adanya. Sikap tersebut, dalam kata lain, adalah sebuah bentuk eskapisme.

Nietzsche pun menganjurkan kita untuk bersikap bijaksana, yakni untuk tidak mengiyakan atau menidakkan sesuatu secara terburu-buru di hadapan realitas, sebuah kewaspadaan sudut pandang yang berjarak.

Realitas itu sendiri bagi Nietzsche—sebagaimana pandangan Herakleitos yang daripadanya ia terinspirasi—bersifat khaotis dan majemuk, sebuah hasil dari proses pertentangan abadi yang bersifat terus menerus, dan maka dari itu bersifat dinamis. Kemajemukan realitas tersebut kemudian disederhanakan dengan cara dipilah-pilah secara arbitrer, untuk kemudian diamputasi oleh kecenderungan manusia untuk membentuk sebuah idée fixe (ide yang fiksatif).8 Ide tersebut diidentifikasi secara fixed, dipejalkan dan dimampatkan sebagai yang akhir atau finalitas dari realitas yang seyogyanya tidak bisa dipejalkan maupun dimampatkan dalam sebuah ide yang membeku, yang bagi sebagian kaum agamawan dikatakan sebagai yang ilahi. Fiksasi ide pada akhirnya menuntun manusia pada fiksasi realitas, di mana realitas yang majemuk dan dinamis diamputasi menjadi realitas yang hitam-putih dan membeku oleh imajinasi kita. Sains—seperti halnya metafisika tradisional—kerap kali memperlakukan realitas secara sewenang-wenang. Ia memilah dan membelahnya secara tajam demi sebuah finalitas yang kemudian didukung oleh berbagai idée fixe yang luhur.

Penghendakan realitas secara separuh bahkan telah mengakar dalam tradisi sosial-masyarakat. Bagi Nietzsche, hal ini dapat dilihat dalam sejarah peradaban Eropa, di mana institusi Gereja Katolik telah membentuk sebuah logika beragama yang mendidik orang-orang untuk terbiasa tidak mau salah. Seseorang dibiasakan secara rigor untuk mencari sebuah kepastian secara terburu-buru dengan menyingkirkan segala kekeliruan. Maka dari itu, realitas dari kacamata orang-orang Eropa abad pertengahan dikehendaki secara separuh, yang berujung pada reduksi atas realitas yang majemuk dan kontradiktif. Kepastian yang berwujud kebenaran final tersebut kemudian terlepas dari status ilahinya, dan kemudian dicari serta diupayakan oleh sains dengan rigoritas yang sama. Semangat metodologi tersebut pada akhirnya melahirkan metode saintifik modern dan—sebagaimana yang Nietzsche ungkapkan—justru semangat saintifiko-positivistik tersebutlah yang pada akhirnya “membunuh Tuhan”.

Tradisi Kristen-platonik yang telah selama ratusan tahun mengalir dalam nadi masyarakat Eropa secara perlahan berusaha untuk menghabisi Tuhan yang selama itu pula mereka puja, dan dengan naiknya sains pada takhta isme-isme di dunia modern, manusia tanpa sadar kemudian membunuhNya. Nietzsche pun mewartakan kematian Tuhan melalui sebuah alegori: “Tuhan telah mati,” ujar si orang sinting di tengah pasar, “dan kita lah yang membunuhnya.”9

Melampaui Keterbatasan

Dalam masyarakat modern saat ini, lebih dari satu abad sejak Nietzsche meninggal, terdapat sebuah fenomen yang telah lama diwartakan oleh Nietzsche dalam berbagai risalah filsafatnya. Fenomen ini mengambil wujudnya sebagai saintisme, yaitu ”keyakinan sains pada dirinya sendiri: yakni, keyakinan bahwa kita tidak lagi bisa memahami sains sebagai salah satu bentuk pengetahuan yang dapat dicapai, tetapi kita malah lebih harus mengidentifikasi pengetahuan dengan sains.”10

Kehendak mati-matian akan kebenaran yang terdapat dalam sains telah mengakar sedemikian kuat pada kesadaran manusia modern dan membuat kita terdorong untuk kemudian secara aktif memilah-memilah dan menunjuk secara sewenang-wenang kebenaran-kebenaran yang bersembunyi di balik realitas majemuk yang kusut tersebut. Dengan menyatakan “ini adalah kebenaran” dan “itu adalah kebenaran”, realitas tidak lagi diterima secara utuh, sebab dalam realitas yang kontradiktif tersebut segalanya selalu dalam proses menjadi (becoming) dan kebenaran serta kesalahan adalah satu. Dalam hal ini, rigoritas saintifiko-positivistik dalam membatasi koridor kebenaran hanya pada realitas-realitas yang bersifat faktual (positif) tak lain adalah sebuah idée fixe yang kemudian menuntun manusia secara naif bukan pada kehendak akan kehidupan, melainkan kehendak akan kematian. Maka, melepaskan diri dari belenggu sains—dengan menempatkan ia di tempat yang seharusnya, yakni sebagai salah satu bentuk dari pengetahuan—berarti melepaskan diri dari belenggu kebencian dan ketakutan terhadap hidup itu sendiri.

Dalam menghadapi fenomen ini, adalah perlu bagi kita untuk kembali menyadari diri sendiri sebagai manusia dengan segala keterbatasan yang ada. Nietzsche pun menganjurkan kita untuk bersikap bijaksana, yakni untuk tidak mengiyakan atau menidakkan sesuatu secara terburu-buru di hadapan realitas, sebuah kewaspadaan sudut pandang yang berjarak. Kepercayaan terhadap sesuatu secara naif dapat terwujud baik pada tindakan mengiyakan (afirmasi) maupun menidakkan (negasi), yang keduanya termasuk sikap sewenang-wenang terhadap realitas. Oleh karena itu, dalam setiap upaya penolakan terhadap idée fixe itu sendiri dapat terwujud sebuah fiksasi dalam bentuk baru.

Kebijaksanaan di hadapan realitas berarti menyadari batas sekaligus ketakterbatasan aspirasi pemikiran, karena manusia dan realitas yang ia hadapi pada dasarnya selalu berada dalam proses saling membentuk dan dibentuksebuah pergumulan abadi. Dengan demikian, kita dapat lebih mengenal diri kita sendiri: sesosok manusia terbatas yang beraspirasi pada ketakterbatasan, yang tidak bersikap naif dan dapat menghargai kehidupan secara utuh—yakni dengan senantiasa berbahagia untuk berdansa mengikuti irama-irama kehidupan.


Catatan akhir:

1  Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil dalam A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche (Yogyakarta: Kanisius, 2017), hlm. 283-284.

2  Ibid., hlm.225-226.

3  Michael Pussey, Habermas: Dasar dan Konteks Pemikiran (Yogyakarta: Resist Book, 2011), hlm. 58.

4  Op.Cit., A. Setyo Wibowo, hlm. 225-226

5  Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007), hlm. 293-294.

6  Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 87.

7  Friedrich Nietzsche, The Gay Science dalam A. Setyo Wibowo, Op.Cit. hlm. 65.

8  Op. Cit., A. Setyo Wibowo, hlm, 23.

9  Ibid., Nietzsche dalam A. Setyo Wibowo, hlm. 334.

10  Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interest dalam Michael Pussey, Op. Cit., hlm. 12.

Facebook Comments
Dimas Aditya Wicaksono
Mahasiswa Filsafat UGM angkatan 2019. Pembaca filsafat penuh waktu. Pembaca sejarah dan sastra paruh waktu.