sumber: wallpaper-kid.com

Tugasnya selesai. Sebuah jam tangan akan beroperasi sendiri. Gerigi-gerigi pada mesinnya menggerakkan jarum jam, mengukir detik demi detik. Lalu pada gilirannya akan menjadi menit dan jam. Tukang jam yang duduk dengan kaca pembesar tidak lagi memantau. Ia biarkan jam itu bergerak, tanpa menjamin menunjukkan waktu sampai akhir.

Tentang tukang jam, sebuah analogi untuk mengatakan Harmonia Praestabilita secara gamblang. Leibniz berpendapat bahwa Tuhan hanya campur tangan pada awal penciptaan. Sisanya Tuhan diam. Dan manusia bergerak menurut hukum kebendaan dan hukum kejiwaan. Sekali Tuhan menetapkan keselarasan, monade bergerak sesuai unsur batianiah yang berjalan sendiri.

Pandangan Leibniz itu merupakan puncak deisme. Melanjutkan para perintis modernisme yang masih melihat relevansi Tuhan, seperti Descartes, Boyle, dan Newton. Meskipun relevansi Tuhan pada masanya hanya sebagai Deitas. Tetapi masih ada visi spiritualitas. Mereka masih menerima dualitas materi dan roh.

Tetapi pada tahap kemudian materialisme sangat berpengaruh. Sehingga banyak pandangan pemikir yang melihat realitas materi semata. Dan ilmu-ilmu seperti fisika juga berkembang pesat, yang memandang realitas dengan sudut materialisme total. Jika ditelisik secara empirik, Tuhan tidak bisa dialami, konsep mengawang dan susah dipahami. Maka bergeserlah spiritualitas abad modern. Menjadi semakin kuat dan kuat, karena didukung semangat rasionalitas, kebebasan, dan pengalaman empirik.

Ditambah lagi, bergesernya spiritualitas itu, menjadi-jadi karena kemudian muncul pemikiran konsep negatif terhadap Tuhan. Marx misalkan, menganggap Tuhan adalah khayalan orang-orang tertindas. Comte, menganggap Tuhan adalah cara primitif/paling dasar untuk menjelaskan realitas. Freud, menganggap Tuhan adalah hasil ilusi kekanak-kanakan. Durkheim, Tuhan hanya legitimasi norma dan tata sosial.

Lalu, apa akibatnya? Misalkan, jika Tuhan dianggap tidak ada, maka dasar objektivitas-universal norma-norma etik jadi hilang. Terjadilah relativisme etis, tidak ada lagi ukuran moral, dengan kata lain orang bebas berbuat apa saja. Konsekuensi lain yaitu jika segalanya materi, hidup hanya sebuah kesia-siaan, nihil, absurd dan kematian berarti kehancuran yang tak terjelaskan. Mau ngapain manusia? Bunuh diri?

Beberapa filsuf kontemporer, mencari visi spiritualitas baru. Menemukan kembali peran Tuhan dalam keberlangsungan kehidupan. Kalau dikatakan secara kasar, akibat kondisi krisis spritualitas abad modern itu, visi spiritual yang kabur, hidup ini kering. Semacam ladang pada musim kemarau, tandus. Menunggu hujan. Atau setidaknya, ada tukang kebun yang menyiram ladang tandus itu. Kita bisa sebut beberapa tukang kebun, seperti Alfred North Whitehead, Gabriel Marcel dan Teilhard de Chardin.

Pierre-Teilhard-de-Chardin

Saya akan memberi tempat pada Chardin. Khusus untuk ulasan kali ini. Kenapa? Pertama, ia bukan filsuf murni. Ia lebih dikenal sebagai geolog dan panteolog. Satu lagi, sebagai pastur. Kedua, ia berusaha mendamaikan kesenjangan ilmu dan agama. Ia berangkat dari pemikiran evolusionistik ke arah filsafat dan teologi. Usaha ini diharapkan memberi jawaban atas gugatan spiritualitas filsafat kontemporer.

Seperti banyak penganut teori evolusi, Teilhard yakin ada satu kesatuan fundamental atas segalanya. Kesatuan yang harus dimengerti secara dinamis, bahkan masih berlangsung. Kesatuan itu tentu memunculkan pertanyaan sulit, bagaimana dapat dimengerti peralihan dari tahap materi ke tahap kehidupan?

Dahulu, para filsuf maupun teolog percaya bahwa realitas seluruhnya diciptakan Tuhan. Kreasionisme ini, meneriakkan, tidak mungkin yang hidup berasal dari yang mati. Seperti yang dikatakan Louis Pasteur (1822-1895), generatio spontanea itu mustahil. Jadi tidak mungkin pula manusia berasal dari binatang. Manusia adalah makhluk rohani, kebebasan sebagai kodratnya.

Bagi Teilhard, pandangan tradisional itu terlalu ekstrem membedakan materi mati dan materi hidup. Pada prinsipnya, materi juga mengandung kehidupan maupun kesadaran. Teilhard merumuskan, materi dari awal sudah punya “segi dalam” (le dedans) dan “segi luar” (le dehors). Segi luar yaitu aspek fisis-kimiawi dari materi. Sedangkan “segi dalam” itu aspek hidup sadar. Kehidupan muncul dari intensitasnya yang cukup besar. Dan manusia muncul dari intensitas yang lebih besar lagi.

Berkaitan dengan segi dalam itu, Teilhard mengungkapkan ‘hukum komplesitas-kesadaran’ (la loi de complexite-conscience). Maksud hukum ini ialah menekankan kaitan kompleksitas struktur materi dan intensitas kesadaran. Segi dalam akan semakin intensif sejauh struktur materi lebih kompleks. Hal ini bisa ditandai dengan perkembangan otak, Teilhard menyebutnya kefalisasi (cephalisation). Dalam evolusi vetebrata menuju binatang menyesui (yang puncaknya manusia), volume otak semakin besar dan struktur otak semakin kompleks. Kefalisasi ini yang membedakan evolusi tahap tinggi atau rendah. Keduanya tak terpisahkan.

Pandangan evolusi Chardin tidak bertentangan dengan paham kreasionisme. Dalam paham penciptaan ini, ada dua aspek dan keduanya diterima oleh Chardin. Pertama, segala sesuatu yang diciptakan tergantung pada Sang Pencipta. Artinya, seluruh proses evolusi terjadi karena Allah meletakkan kemungkinan pada materi. Kedua, dunia mempunyai permulaan waktu. Kata Thomas Aquinas, hal itu hanya dapat diterima lewat kesaksian Al-Kitab, bukan pembuktian secara filosofis. Chardin berpendapat, evolusi kosmos itu sendiri menunjukan permulaan dalam waktu.

Evolusionisme Chardin berjalan linear. Sehingga tahap-tahap evolusi hanya terjadi sekali. Sehingga, proses evolusi dan sejarah harus ditafsirkan sebagai kemajuan. Hal ini terlihat pada taraf biologis, kompleksitas ditandai dengan bertambahnya kesadaran. Jika evolusi telah mencapai titik penghabisannya, maka manusia, adalah poros dan garis depan evolusi. karena manusia makhluk bebas, evolusi yang akan datang melibatkan kebebasan manusia itu. sehingga bisa jadi manusia akan memusnahkan kehidupan di bumi, termasuk dirinya.

Allah sebagai Pencipta merupakan awal proses evolusi, Alpha. Tapi Dia juga Omega. Bagi Chardin, seluruh proses evolusi mengarah ke titik omega. Seluruh evolusi dunia, termasuk sejarah manusia, menuju ke tujuan yang sama; titik Omega. Walaupun nantinya energi matahari akan habis, dan seluruh jagad raya akan habis pula, ini tidak menuju ke titik penghancuran. Melainkan ke Omega, Allah menjadi semua di dalam semua. Omega bukan hanya terjadi nanti, sekarang ia sudah aktif, menjadi permersatu atau mensintesiskan proses evolusi dan sejarah. Dalam pandangan ini, spiritualitas mencapai puncaknya.

Pandangan Chardin ini nampak sebagai usaha memperdamaikan ilmu pengetahuan dan agama. Selain itu, juga mengisis visi spiritualitas filsafat kontemporer. Sekaligus memberi sumbangan pada manusia untuk memahami peran dan relevansi Tuhan dalam evolusi kehidupan. Akhirnya, Tuhan tidak terus-terusan mendapat konotasi negatif, atau sekedar seperti tukang jam. (Khoiril Maqin, Mahasiswa Filsafat UGM 12′, Anggota Redaksi LSF Cogito)

Facebook Comments
Khoiril Maqin
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, editor Jurnal Cogito, fokus studi terkait isu sosiologi ilmu, perkembangan ilmu di Indonesia, dan sedang menulis pemikiran Thomas Kuhn.