sumber gambar: https://pxhere.com/en/photo/1232581

Dunia sedang mengalami krisis global. Ekonomi dunia anjlok. Setelah Cina berhasil meredam serangan Covid-19, Italia malah menjadi negara Eropa pertama yang gagal mengantisipasi laju penyebarannya. Amerika dianggap cukup santai dan paling banyak ngeyel sejak Covid-19 ini mulai menggerogoti dunia. Kini negara itu mengalami resesi ekonomi yang cukup serius. Diperkirakan tingkat penganggurannya bisa mencapai 20%– terburuk setelah Depresi Besar (the Great Depression) tahun 1930-an[1]. Di samping itu, negara-negara di seluruh Eropa kini sangat terpukul oleh krisis Covid-19 ini. Setidaknya 2.090.110 orang telah terinfeksi dan 139.469 meninggal dunia. Kendati demikian, Eropa mengalami penurunan kasus sehingga belakangan negara-negara itu mulai membuka kembali beberapa tempat umum[2].

Mentri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dalam harian the Jakarta Post, 15 April 2020, mengatakan, Indonesia akan menghadapi resesi besar, terparah setelah krisis ekonomi tahun 1998. Diperkirakan 3,78 juta masyarakat Indonesia akan jatuh dalam kemiskinan, dan 2,9 juta hingga 5,2 juta pekerja akan kehilangan pekerjaan[3]. Secara pasti krisis ini telah menghambat sekaligus mengguncang segenap pembangungan nasional. Karena itu, peran seorang pemimpin dalam perkara ini adalah kompas untuk meyakinkan kita bahwa pembagian tanggung jawab merupakan keperluan untuk keselamatan bersama.[4] Kebijakan-kebijakan pemerintah mestinya tidak hanya dioperasionalisasikan secara teknis melainkan perlu dipertanggungjawabkan secara etis. Dengan demikian, ketaatan kepada instruksi pemerintah bukan semata-mata karena ancaman otoritas teknis dan kecakapan saintis, melainkan secara etis pemerintah bisa bertanggung jawab atas keputusan-keputusan itu.

Pada Kamis, 2 April 2020, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, LuhutBinsar Pandjaitan, mengatakan bahwa COVID-19 diperkirakan tidak kuat dengan kondisi cuaca Indonesia. Warna pernyataan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelum makhluk renik itu masuk ke Indonesia, banyak pemimpin—mulai dari pemimpin negara sampai pembesar agama—kerap mengatakan bahwa Covid-19 ini adalah kutukan Tuhan. Maka, bisa diatasi dengan doa. Namun, tepatkah mengatakan demikian?

Tulisan ini akan menelaah gagasan bahwa “Covid-19 adalah kutukan Tuhan atas kebejatan manusia”. Apa yang hendak ditunjukan di sini adalah upaya pembuktian sistematis bahwa gagasan itu tidak memiliki landasan epistemik yang kuat. Maka, tulisan ini menawarkan cara pandang lain untuk menangguhkan paradigma semacam itu, lewat pembacaan kritis atas konsep rasionalitas modern-Pencerahan Budi dengan metanarasi emansipasi.

Oleh karena itu, meskipun objek kehendak adalah kebaikan (objek rasio adalah kebenaran), dimensi kehendak bebas itu merupakan suatu kemampuan dari roh yang ciri khasnya ialah dipimpin atau diterangi oleh intlek/rasio. Artinya rasio adalah dimensi jiwa yang tingkatanya lebih utama daripada kehendak bebas, sebab jika tidak demikian, kehendak bebas bisa mengarahkan manusia untuk bertindak secara banal dan brutal.

Covid-19 dan Tulah dari Tuhan

Gagasan bahwa “pandemi Covid-19 adalah hukuman Allah” menimbulkan perdebatan. Perdebatan ini tidak hanya muncul di tengah masyarakat awam melainkan juga di kalangan pembesar agama. Para Uskup dan Kardinal, misalnya dengan berpegang pada Kitab Suci ikut mempergunjingkan perkara itu[5]. Bahkan syak wasangka itu dipengaruhi juga oleh tafsiran atas pernyataan-pernyataan otoritatif. Pemimpin tertinggi umat Katolik di Roma, Paus Fransiskus, kerap mengajak umat Kristiani sejagat untuk senantiasa berdoa. Fenomena ini memicu dugaan bahwa Covid-19 ini adalah kutukan Allah sehingga cara terbaik yang bisa dilakukan adalah berdoa kepada-Nya, yang dianggap sebagai penyebab malapetaka hari ini. Tapi, apakah dugaan itu tepat?

Paus Fransiskus sendiri dalam doanya di Basilika St. Petrus pada 27 Maret 2020, menuturkan bahwa krisis hari ini pertama-tama bukan hukuman dari Allah melainkan semata-mata hukuman dari dalam diri manusia sendiri. Karena itu, di hadapan krisis ini manusia mesti cerdas memilih apa yang penting dan yang tidak penting. Paus Fransiskus tidak menuduh Allah sebagai penyebab munculnya Covid-19, dia menunjuk inti perkaranya: pilihan bebas manusia. Artinya apa yang terjadi saat ini bukan perkara kutukan Tuhan tetapi sebuah konsekuensi dari pilihan dan tindakan manusia sendiri.

Yuval Noah Harari, dalam South China Morning Post, pada Rabu, 1 April 2020, mengatakan, perkara hari ini perlu dibandingkan dengan apa yang terjadi pada era sebelumnya[6]. Ketika wabah pandemi terjadi pada masa pra-modern, manusia selain tidak memiliki kemampuan untuk melacak asal-muasal kemunculannya, juga tidak mampu menemukan cara menghentikan penyebarannya. Masyarakat pada masa itu, umumnya melihat fenomena itu sebagai murka dewa-dewi (angry gods) atau hasil ilmu hitam (black magic). Karena itu, hal terbaik yang dilakukan adalah berdoa kepada dewa-dewi yang dianggap sebagai penyebab malapetaka itu.

Terhadap fenomena itu bisa diajukan dua catatan. Pertama, terdapat kecenderungan yang menunjuk pada ketidaktahuan manusia dalam bersikap terhadap fenomena alam. Kondisi ini kerap membuat manusia tidak bisa bersikap kritis/skeptis terhadap fenomena alam. Manusia hanya berdaptasi dengan alam dan mengakui begitu saja sebagai tradisi yang turun-temurun sesuai dengan apa yang diyakininya dalam praktik ritual tradisional. Kedua, fenomena in se dikonstruksi dan direduksi sesuai dengan dugaan dan pengetahuan pribadi. Yang terakhir ini bisa menyesatkan karena paradigma pribadi menjadi idola bagi dirinya sendiri. Fakta itu, tentu berbeda dengan kondisi hari ini, ketika Covid-19 ini mulai terlacak di Wuhan, Cina, para ilmuan hanya membutuhkan waktu dua minggu untuk mengidentifikasi urutan genom dan langsung mengembangkan tes untuk mengidentifikasi orang-orang yang terinfeksi[7].

Pada Rabu, 8 April 2020 Paus Fransiskus kembali menyoroti secara spesifik penyebab Covid-19 ini dengan mengacu pada sikap acuh tak acuh manusia dalam menangani krisis ekologi global. Artinya kemajuan sains-teknologi dalam mengelola alam dan peradaban belum disertai dengan pengembangan manusia dalam hal tanggung jawab, nilai-nilai, dan hati nurani.[8] Karena itu, cukup masuk akal bila krisis hari ini dilihat sebagai buah dari brutalitas kehendak bebas manusia yang berkelindan dengan rasionalitas teknis kapitalis ketimbang mengatakan bahwa kutukan Tuhan. Namun, pernyataan semacam itu langsung kena sergap: Apakah kehendak bebas dan rasionalitas manusia itu salah? Apakah Covid-19 itu hasil silang selisih kepentingan manusia dalam proses produksi? Apa alasan etisnya

Kehendak Bebas dan Rasionalitas Manusia: Antara Mitos dan Barbarisme

Agustinus (354-430), filsuf cum teolog Kristen abad pertengahan meletakan kehendak (voluntas) sebagai bagian dari kesatuan substansi jiwa manusia—di samping mengingat (memoria) dan memahami (intelektus). Dengan kemampuan itu, seperti Platon (428-327 SM), ia meyakini bahwa jiwa adalah penggerak badan. Dengan demikian, jiwa mengatasi keterbatasan tubuh sebab kodrat jiwa adalah ia yang bergerak dari dirinya sendiri. Agustinus percaya bahwa manusia adalah ciptaan Allah dan kehendak bebasnya adalah rahmat Allah sendiri (the will is a gift of God).[9] Dengan rahmat kehendak bebas itu, Allah memberikan kapasitas kepada manusia untuk (tidak hanya) melakukan kebaikan melainkan juga kejahatan[10]. Lantas, apakah Allah harus dituduh untuk bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan manusia, di mana dengannya kejahatan itu ada di dalam dunia? Jawaban Agustinus lugas, kebebasan manusia memudar dari esensinya yang luhur ketika manusia menyerahkan dirinya kepada kekuatan buta dorongan bawah sadar, kebutuhan langsung, keegoisan dan kekerasan[11].

Nafsu, ketamakan, kesombongan, dan kebencian dalam diri manusialah yang menuntun dirinya untuk melakukan kejahatan dan melucuti keluhurannya. Semua sifat rendah-bawah sadar itu memperbudak kehendak manusia untuk melakukan apa pun yang dikehendakinya. Oleh karena itu, meskipun objek kehendak adalah kebaikan (objek rasio adalah kebenaran)[12] dimensi kehendak bebas itu merupakan suatu kemampuan dari roh yang ciri khasnya ialah dipimpin atau diterangi oleh intlek/rasio.[13] Artinya rasio adalah dimensi jiwa yang tingkatanya lebih utama daripada kehendak bebas, sebab jika tidak demikian, kehendak bebas bisa mengarahkan manusia untuk bertindak secara banal dan brutal.

Pada era modern, terutama sejak Renaisans (disebut juga Fajar Budi, Zaman Pencerahan) kekuatan rasio mendominasi aneka lini kehidupan (abad ke-17 dan ke-18). Rasio manusia dianggap sebagai agen yang bisa mengendalikan segalanya. Sains dengan hukum kausalitasnya, teknologi, ekonomi kapitalis, negara hukum dan demokrasi modern bermunculan dengan berpangkal pada serangkaian pemahaman filosofis: subjektivitas (rasionalitas), kemajuan (progres), dan kritik (skeptis).[14] Tiga bentuk kesadaran itu memicu pemberontakan intelektual atas bentuk-bentuk pemikiran abad pertengahan dengan menjunjung tinggi rasionalitas manusia sebagai subjek perubahan.[15] Kemajuan Renaisans dengan keperkasaan rasionalitas manusia itu menghancurkan wewenang tradisi dan pelbagai prasangka-prasangka mitos. Sejak itu, sains dengan rasionalitas disanjung sebagai agen pembaharuan zaman dan pembangunan peradaban yang berpangkal pada alat penguasaan itu.

Sketsa peradaban lantas ditandai dengan gagasan bahwa kemajuan di masa depan bukan lagi berpangkal pada kekuatan-kekuatan gaib melainkan berpegang pada rasionalitas-teknologi dan ilmu pengetahuan. Rasionalitas dan ilmu pengetahuan itu diyakini bisa membebaskan manusia dari belenggu mitos dan takhayul. Tekanan Pencerahan dan rasionalitas manusia disanjung sebagai sarana yang bisa membawa manusia pada kemajuan dan emansipasi.[16] Namun konsekuensinya jauh lebih luas. Tantangan yang cukup serius dan kritik tajam pada hidup beragama tidak bisa dihindari. Liberalisme dan sekularisasi menemukan bentuknya yang kuat. Oleh karena itu, dunia mengalami desakralisasi, sementara sains dan rasionalitas diimani sebagai subjek termasyur dalam peradaban manusia.

Namun beberapa filsuf dari Mazhab Frankfurt menampik kepercayan itu. Sekurang-kurangnya ada tiga tokoh: Max Hokheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse. Lewat teori kristis, para filosof ini menunjuk peran ilmu-ilmu positif yang disanjung sebagai hasil gemilang Aufklarung itu membawa cacat serius. Menurut Hokheimer dan Adorno, rasionalitas yang mengambil rupa sains dan teknologi tidak bisa dipercaya sebab sanjungan yang keterlaluan pada sains dan rasionalitas, telah menjadikan manusia terasing dari dirinya. Perubahan ini membawa kembali manusia kepada keadaan barbarisme.[17] Alih-alih manusia melepaskan dirinya dari mitos dan memeluk kemajuan dan emansipasi, rasionalitas malah berbalik menjadi mitos yang memaksa manusia untuk tunduk kembali padanya. Manusia kini menjadi objek penguasaan dirinya sendiri. Rasionalitas dan kemajuan sains tidak hanya memanipulasi dan mengeksploitasi alam melainkan juga—rasio instrumental itu—turut membendakan manusia layaknya komoditas yang diperdagangkan.

Keadaan ini tidak ditemukan pada periode lalu— zaman pra-modern (abad pertengahan)— di mana manusia memandang segala sesuatu dari sudut pandang Allah—tetapi pada masa kapitalis-industri (abad ke-19). Alam dan manusia dalam kerangka paradigma teknologi kapitalis dipandang sebagai komoditas yang bisa dieksploitasi, dimanipulasi, diinstrumentalisasi. Horor di kamp konsentrasi Nazi di Jerman (1941-1945) bisa menjadi contoh. Zygmunt Bauman (1925-2017) dengan mengacu pada peristiwa itu menulis: “Holocoust yang merenggut nyawa enam juta orang Yahudi itu, tidak hanya dilihat sebagai tragedi kelam dalam sejarah bangsa Yahudi, melainkan juga harus dibaca dalam terang masyarakat modern. Peristiwa itu terjadi tatkala manusia mencapai puncak rasionalitas dan kebudayaan mencapai tahap yang tertinggi, maka holocaust merupakan persoalan masyarakat modern, peradaban modern, dan kebudayaan modern”[18]. Seperti Bauman, Hokheimer dan Adorno melihat fenomena barbarisme itu tidak bisa dipisahkan dari proyek-proyek modernitas di bidang sains dan teknologi. Sebab lewat tragedi semacam itu rasionalitas Pencerahan Budi membuktikan dirinya sebagai alat pembunuh massal. Karena itu, usaha manusia membebaskan/mengemansipasi dirinya berkat terang akal budi ternyata gagal, dan justru manusia membuat dirinya berbalik menjadi objek.

Marcuse melihat rasionalitas semacam itu sebagai rasionalitas teknologis. Dalam paradigma teknologis, segala sesuatu—temasuk manusia—bisa diinstrumentalisasi, dioperasionalisasi dan dimanipulasi semata-mata berdasarkan kalkulasi ekonomis. Itulah sebabnya, bagi Marcuse, manusia dewasa ini adalah manusia berdimensi satu (one dimensional man): rasionalitas teknologis sebagai paradigma tunggal untuk melihat semua lini kehidupan; ekonomi-politik, kapitalisme maupun komunisme.[19] Oleh karena itu, cita-cita seperti kebebasan dan demokrasi hanya menjadi narasi utopis karena pemikiran berdimensi satu itu secara sistematis disebarkan juga oleh para elite politik, penguasa, pengusaha, yang dalam kenyataanya mengontrol media massa, dunia industri, dan pemerintahan. Dengan demikian, dewasa ini bukan lagi golongan tertentu yang menindas golongan lain, tetapi sistem teknologis yang merangkum seluruh realitas sosial dan alamiah sekaligus menjadi “penguasa totaliter” yang menindas manusia modern.[20].

Akhirnya, sikap yang cukup bijak adalah menerima kemajuan teknologi sebagai sarana dan rekan seperjalanan menuju tujuan yang lebih luhur: bonum commune. Hanya dengan itu rasionalitas teknis diganti menjadi rasionalitas etis, yakni sebuah imperatif etis dari semua orang untuk bekerja sama membangun peradaban yang mengutamakan humanitas dan komunitas ekosistem global.

Rasionalitas teknolgis ini mengekang gerak dan tingkah laku manusia sebab fungsi kritis nalar manusia tatkala di hadapan produksi dan konsumsi secara afirmatif mengikuti sistem teknologis itu. Rasio berfungsi instrumental sebagai alat yang tunduk pada naluri survival manusia belaka. Paradigma teknis itu membawa dampak yang jauh lebih mengkhawatirkan, sebab pada saat yang sama kita menyaksikan semacam perkembangan serupa pada gaya hidup boros dan konsumtif yang tentu berdampak secara langsung pada perubahan ekosistem global. Akumulasi sikap manipulatif itu telah membawa manusia ke titik terjauh dari perubahan: penderitaan manusia dan krisis ekologis.

Masalahnya Ada Di Sini

Covid-19 ini telah memaksa banyak orang untuk menyusun ulang rute pembangunan ke masa depan. Karena itu, tentu tidak ada yang menyarankan untuk kembali ke zaman batu. Tidak juga disarankan untuk tiba-tiba menjadi saleh dan kembali memeluk konsep transendental-spiritual. Bukan itu! Adalah sebuah harapan bahwa mungkin berguna jika di hadapan realitas hari ini, penting untuk memperlambat langkah untuk melihat realitas dengan cara berbeda, menyambut baik kemajuan yang positif dan berkelanjutan, dan pada saat yang sama memulihkan kembali nilai-nilai dan tujuan-tujuan agung yang hancur karena serangan antroposentrisme modern.

Dari sebab itu Covid-19 hari ini mesti dilihat dalam satu kesatuan dengan krisis global hari ini, yakni pertama, degradasi lingkungan yang berlangsung di sekitar kita; polusi udara, air, tanah, pengurasan sumber daya alam, hilangnya biodiversitas, dan perubahan iklim. Kedua silang selisih kalkulasi pembangunan yang berujung pada penderitaan manusia akibat peperangan dan persaingan teknologi dan ekonomi. Ketiga, perubahan tata lingkungan akibat munculnya penyakit baru yang berkelindan dengan uji coba senjata nuklir dalam laboratoirum-laboratorium rahasia. Keempat, kekuatan produksi kapitalis yang memicu hilangnya kepekaan terhadap martabat manusia dan tanggung jawab etis terhadap alam yang dalam banyak hal telah mengakibatkan krisis ekologi global. Jika semuanya saling terkait, fenomena apapun bisa terjadi, seperti keadaan kita hari ini, Covid-19.

Oleh karena itu, jika kita merenungkan fenomena hari ini segaris dengan aneka perubahan dan degradasi moral dalam sketsa sejarah manusia itu, cukup pasti penyebab Covid-19 ini bukan perkara hukuman Tuhan, juga bukan urusan kafir atau beriman, tetapi sebuah konsekuensi logis dari brutalitas kehendak dan barbarisme rasio instrumental manusia yang mengambil rupa kemajuan sains-teknologi modern, yang umumnya lebih mengutamakan kalkulasi teknis ekonomis. Di hadapan perkara ini manusia berhadapan dengan keadaan dilematis, sebab di satu sisi teknologi membuat intelektualitas dan moralitasnya terombang-ambing, namun di sisi lain manusia tidak bisa hidup tanpa teknologi[21]. Inilah tegangan abadi yang membingkai sketsa lintasan sejarah manusia.

Akhirnya, sikap yang cukup bijak adalah menerima kemajuan teknologi sebagai sarana dan rekan seperjalanan menuju tujuan yang lebih luhur: bonum commune. Hanya dengan itu rasionalitas teknis diganti menjadi rasionalitas etis, yakni sebuah imperatif etis dari semua orang untuk bekerja sama membangun peradaban yang mengutamakan humanitas dan komunitas ekosistem global. Maka, konsep pembangunan bukan lagi dilihat sebagai kompetisi arogansi manusia melawan alam, tetapi sebuah pembangunan integral yang berlandaskan pada konsep saling merawat dan memelihara.

Penutup: Jalan Keluar

Jalan keluar terhadap krisis ini mesti melibatkan suatu kerja sama dan solidaritas bersama, baik secara nasional maupun global. Karena itu, mungkin berguna ditawarkan tiga solusi untuk sejenak mengobati kegelisahan hari-hari ini.

Pertama, otoritas negara harus menunjuk klaim bahwa negara punya kekuasaan atas semua orang yang menjadi warga satu kedaulatan. Kewajiban pemerintah untuk melarang warganya keluyuran adalah bentuk legalitas otoritas praktis negara terlepas dari urusan suka tidak suka. Di hadapan kebebasan warga, negara harus menunjukkan fungsi kontrol yang lebih kuat (levithan) melalui tata aturan dan perangkat negara yang bisa dipertanggungjawabkan, baik secara saintis maupun etis. Dengan demikian, otoritas negara tidak hanya menggagalkan selera subjektif warganya, tetapi juga mengganti selera subjektif para warga dengan alasan etis yang memandu penalaran dan tindakan semua warga. Hanya dengan itu, perintah untuk tinggal di rumah saja, kerja dari rumah saja, dan belajar dari rumah saja efektif mengatasi mata rantai penyebaran Covid-19.

Kedua, keterbukaan dan kerja sama. Yuval Noah Harari, dalam tulisannya di Time 20 Maret 2020, mengatakan, cara terbaik pencegahan terhadap epidemi ini bukanlah segregasi, melainkan kooperasi[22]. Sikap kooperatif ini secara pasti menuntut sikap kerendahan hati untuk saling percaya, terbuka, saling belajar dan berbagi. Beberapa poin itu bisa dijalankan dengan berbagai cara, misalnya dengan berbagi informasi penting mengenai cara menekan laju penyebarannya, atau mengirim bantuan medis kepada daerah-daerah yang kini kekurangan perangkat medis.[23] Aneka upaya itu bisa berjalan baik, bila setiap negara menumbuhkan sikap kepedulisan dan saling percaya satu sama lain.

Ketiga, persaudaraan insani[24]. Pandemi ini menjadi kesempatan untuk merajut persaudaraan antar warga global. Atas nama hidup manusia, semua orang dituntun untuk melihat orang lain sebagai saudara laki-laki/perempuan yang harus didukung dan dicintai. Semua orang dipanggil untuk mengungkapkan rasa persaudaraan manusia dengan melestarikan keselamatan hidup bersama, terutama mereka yang miskin dan yang paling membutuhkan. Oleh karena itu, setiap orang diharapkan melepaskan jubah arogansi kultural dan konsep mayoritas-minoritas yang cenderung memperlebar disparitas etnis dan ras[25]. Di hadapan Covid-19, kita semua dituntut untuk menghidupi imajinasi persaudaraan yang melampaui sentimen etnis dan diskriminasi kelompok. Dengan demikian, keberagaman dan perbedaan menjadi amunisi bersama di dalam upaya mengatasi krisis hari ini.


Catatan akhir: 

[1] https://time.com/5822393/unemployment-benefit-coronavirus-us/diunduh pada Jumat, 17 April 2020. Pkl. 11.30 WIB

[2] https://time.com/5822470/countries-lifting-coronavirus-restrictions-europe/diunduh pada Sabtu, 18 April 2020. Pkl. 16.50 WIB.

[3]https://www.thejakartapost.com/news/2020/04/14/millions-to-lose-jobs-fall-into-poverty-as-indonesia-braces-for-recession.html?utm_campaign=os&utm_source=mobile&utm_medium=android, diunduh pada Jumat, 17 April 2020. Pkl. 11.30 WIB

[4] Rocky Gerung, “Pemimpin Peradaban” dalam The Dacing Leader: Hening, Mengalir, Bertindak, ed.Yusuf Sutanto dkk., (Jakarta: Penerbut Buku Kompas, 2010), 3.

[5] https://www.ncregister.com/daily-news/is-the-coronavirus-pandemic-a-judgment-from-god, diunduh pada 11 April, 2020. pkl. 22.15 WIB.

[6]https://www.scmp.com/news/china/article/3077960/homo-deus-author-yuval-harari-shares-pandemic-lessons-past-and-warnings?fbclid=IwAR2b6pMEt1Gj4mpsBjSapqwL79e_tg_76eL4MLL788WYGDgTGRDbkM1H8y8, diunduh pada Minggu, 12 April 2020, pkl. 10.30 WIB.

[7]https://www.scmp.com/news/china/article/3077960/homo-deus-author-yuval-harari-shares-pandemic-lessons-past-and-warnings?fbclid=IwAR2b6pMEt1Gj4mpsBjSapqwL79e_tg_76eL4MLL788WYGDgTGRDbkM1H8y8, diunduh pada Minggu, 12 April 2020, pkl. 10.30 WIB

[8] Martin Harun, Penerj., Laudato’ Si: Terpujilah Engkau, Ensiklik Paus Fransiskus, 24 Mei 2015, (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2016), 64.

[9] Ilham Dilman, Free Will: A Historical and Philosophical Introduction, (New York: Routledge, 1999), 71-71

[10] Ilham Dilman, Free Will, 71-72.

[11] Martin Harun, Penerj., Laudato’ Si 64.

[12] Peter s. Eardley And Carl n. Still, Aquinas: A Guid for Perplexed, (New York: Continuum, 2010), 40-42.

[13] Louis Leahy, Siapakah Manusia?: Sintesis Filosofis Tentang Manusia, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2001), 194.

[14] F. Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli sampai Nietszche, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2011), 2-11.

[15] F. Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang membentuk Dunia Modern: 5-7.

[16] Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006), 55-56

[17] K. Bertens, Filsafat Barat Dalam Abad XX, (Jakarta: Penerbit PT Gramesdia, 1981), 91-93.

[18] Zygmunt Bauman, Modernity and the Holocaust, (Chambridge: Polity Press, 1989), 7-10.

[19]  K. Bertens, Filsafat Barat Dalam Abad XX, 203-205.

[20]  K. Bertens, Filsafat Barat Dalam Abad XX, 205-209.

[21] Franz Magnis Suseno, Pijar-Pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), 25.

[22] https://time.com/5803225/yuval-noah-harari-coronavirus-humanity-leadership/, diunduh pada Rabu, 15 April 2020, Pkl. 0.37 WIB.

[23] https://amp.ft.com/content/19d90308-6858-11ea-a3c9-1fe6fedcca75. diunduh pada Rabu, 15 April 2020, Pkl. 0.30 WIB.

[24] Martin Harun, penerj. Dokumen Tentang Persaudaraan Manusia: Untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Manusia, (Jakarta: Penerbit Obor, 2019), 3-7.

[25] Martin Harun, penerj. Dokumen Tentang Persaudaraan Manusia, 3-5.


Daftar Rujukan

Sumber Buku

Bertens, K., Filsafat Barat Dalam Abad XX, Jakarta: Penerbit PT Gramesdia, 1981.

Bauman, Zygmunt, Modernity and the Holocaust, Chambridge: Polity Press, 1989.

Dilman, Ilham, Free Will: A Historical and Philosophical Introduction, New York:          Routledge, 1999.

Eardley, Peter s., And Carl n. Still, Aquinas: A Guid for Perplexed, New York: Continuum,          2010.

Gerung, Rocky, “Pemimpin Peradaban” dalam The Dacing Leader: Hening, Mengalir,                 Bertindak, ed.Yusuf Sutanto dkk., Jakarta: Penerbut Buku Kompas, 2010.

Leahy, Louis, Siapakah Manusia?: Sintesis Filosofis Tentang Manusia, Yogyakarta:         Penerbit             Kanisius, 2001.

Hardiman, F. Budi, Pemikiran-Pemikiran yang membentuk Dunia Modern: Dari Machiavelli       sampai Nietszche, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2011.

Harun, Martin, penerj. Dokumen Tentang Persaudaraan Manusia: Untuk Perdamaian Dunia       dan Hidup Manusia, Jakarta: Penerbit Obor, 2019.

—————–., Laudato’ Si: Terpujilah Engkau, Ensiklik Paus Fransiskus, 24 Mei                        2015, Jakarta:            Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2016

Suseno, Franz Magnis, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006.

—————————, Pijar-Pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari                         Adam Muller ke Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius, 2005.

Sumber Internet

https://time.com/5803225/yuval-noah-harari-coronavirus-humanity-leadership/diunduh pada        Rabu, 15 April 2020, Pkl. 0.37 WIB.

https://amp.ft.com/content/19d90308-6858-11ea-a3c9-1fe6fedcca75. diunduh pada Rabu, 15 April 2020, Pkl. 0.30 WIB.

https://www.ncregister.com/daily-news/is-the-coronavirus-pandemic-a-judgment-from-god,         diunduh pada 11 April, 2020. pkl. 22.15 WIB.

https://www.scmp.com/news/china/article/3077960/homo-deus-author-yuval-harari-shares-p         andemic-lessons-past-and-warnings?fbclid=IwAR2b6pMEt1Gj4mpsBjSapqwL79e_tg_7    6El            4MLL788WYGDgTGRDbkM1H8y8. Diunduh pada Minggu, 12 April 2020, pkl.             10.30   WIB.

https://time.com/5822393/unemployment-benefit-coronavirus-us/diunduh pada Jumat, 17 April 2020. Pkl. 11.30 WIB.

https://www.thejakartapost.com/news/2020/04/14/millions-to-lose-jobs-fall-into-poverty-as-i        ndonesia-braces-for-recession.html?utm_campaign=os&utm_source=mobile&utm_medi      um=android, diunduh pada Jumat, 17 April 2020. Pkl. 11.30 WIB.


 

Facebook Comments
Jefrino Fahik
Jefrino Fahik adalah mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Suka menulis dan gemar bermain musik.