(sumber gambar: https://cdn.kqed.org/wp-content/uploads/sites/23/2014/07/el-sistema.jpg)

Peranan pendidikan sangat penting dalam menghadapi pelbagai persoalan masyarakat modern, khususnya bagi mereka yang hidup dalam era digital. Kaum muda, atau Gen Z kalau mau dikatakan demikian, adalah salah satu kelompok yang harus diperhatikan eksistensinya agar tidak kehilangan makna akan kehidupannya secara holistik. Pendidikanlah jalan untuk menumbuhkan kesadaran kritis generasi tersebut. 

Pendidik di era ini berperan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peserta didik agar dapat berfikir logis dan mampu mengembangkan potensi dirinya, sehingga mampu secara kritis merespon kondisi sekitarnya. Di samping itu, pendidikan merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan bukan sekadar sarana sosialisasi, apalagi sekadar meneruskan informasi yang terlepas-lepas serta kosong dari makna, melainkan menurut Rousseau, pendidikan lebih berfungsi sebagai realisasi diri (self-realization) dari potensi-potensi manusia yang menjadi kenyataan di dalam tindakan. Hal yang semestinya terjadi dalam dunia pendidikan adalah proses teaching for understanding. Di dalam proses ini, guru menyampaikan materi dengan pendalaman dan metode setepat mungkin, sehingga setiap materi yang diberikannya dapat diserap baik oleh murid-muridnya. Yang perlu diperhatikan adalah, sebagai tenaga pendidik, guru tidak boleh apatis dengan usulan atau saran mengenai metode yang diberikan oleh peserta didik. Salah satu ciri yang menandai berlangsungnya proses ini adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan dari murid untuk memperdalam materi yang diberikan. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan bahwa pemahaman murid akan melebihi apa yang disampaikan oleh gurunya. 

Pada masa sekarang yang ditekankan adalah rasionalitas instrumental termasuk pembaharuan pendidikan yang memberi perhatian kepada administrasi, teknologi pendidikan, dan efisiensi sebagai kriteria perubahan dan kemajuan. Tuntutan administratif yang tidak meningkatkan kualitas pendidikan semakin hari kian membebankan.

Dasar Antropologi Pendidikan Kita

Dialektika yang tercipta dalam proses belajar mengajar menciptakan manusia yang semakin manusiawi, manusia yang semakin humanis. Ditambah lagi aspek nilai-nilai humaniora yang diberikan penekanan kepada peserta didik akan menambah mutu dan kualitas anak tersebut. Humaniora disini dimaksudkan dalam dua arti; yang pertama, sekumpulan ilmu-ilmu kemanusiaan seperti filsafat, sejarah, dan ilmu-ilmu bahasa. Kedua, cara pengajaran yang mencoba mengangkat unsur-unsur pemanusiaan dalam pengajaran. Driyarkara menyatakan bahwa jenis-jenis ilmu pengetahuan memiliki dasar antropologis yang disebut “kepentingan manusia”. Pertama, manusia memiliki kepentingan teknis untuk menguasai lingkungannya. Hal tersebut melahirkan ilmu-ilmu alam. Driyarkara menyebut ilmu-ilmu eksakta bertujuan menyelami dan menguasai dunia fisik. Di Indonesia dirasakan betapa sulit mengajarkan ilmu fisika dan matematika, karena kesadaran antropologis sebagai manusia yang berada dan berpartisipasi dalam alam semesta kurang dihayati. Manusia menurut Driyarkara, hanya menjadi manusia dengan “mendunia atau menduniakan material, termasuk dirinya”. (Karya Lengkap, 719). Kedua, manusia memiliki kepentingan praktis. Dan ketiga, manusia memiliki kepentingan untuk bebas dari segala belenggu yang mengikatnya melalui pemikiran kritis. Driyarkara menyebut pendidikan atau kebudayaan sebagai liberalisasi (Karya Lengkap, 705-730) atau pemerdekaan. Dengan demikian Driyarkara selalu berusaha melihat dasar antropologi pendidikan. Tidak hanya perlu dilihat oleh pendidik, tetapi juga peserta didik perlu menyadarinya melalui refleksi. Semuanya itu dilaksanakan dari fenomena  kepada esensi atau dari esensi kepada fenomena.

Humanisasi dan Rasionalitas Manusia 

Pada masa sekarang yang ditekankan adalah rasionalitas instrumental termasuk pembaharuan pendidikan yang memberi perhatian kepada administrasi, teknologi pendidikan dan efisiensi sebagai kriteria perubahan dan kemajuan. Tuntutan administratif yang tidak meningkatkan kualitas pendidikan semakin hari kian membebankan. Pengajaran melalui humaniora akan menekankan penajaman rasionalitas manusia seperti terungkap misalnya dalam suatu pernyataan, dan didalamnya telah termuat prinsip-prinsip etis yang harus dieksplisitasikan dan dipelihara. 

Belajar pada akhirnya adalah belajar menjadi dirinya sendiri. Belajar adalah sesuatu yang kita lakukan dalam diri kita dan bagi diri kita dalam kebebasan yang disadari. Ada empat imperatif etis pendidikan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Alison Mearns Benders yang mengutip Lonergan (Benders, 2007). Pertama, “be attentive“, perhatian (attention) adalah tindakan sadar untuk memperhatikan apa yang ada di sana. Ini berarti mengamati realita sebagaimana adanya. Menangkap pengalaman kita secara jernih dan tepat. Kedua, “be intelligent“, perintah ini mengarahkan kita untuk memahami pola pengalaman atau keseluruhan hidup kita dalam konteks sekeliling kita, sehingga menjadi bermakna. Dalam praktek ini berarti menggenggam keseluruhan tanpa terhalang oleh detail, “pahamilah secara penuh, sehingga kamu bisa belajar”. Ketiga, “be reasonable“, ini mengimplikasikan capaian suatu evaluasi tertentu tentang apa yang perlu kita putuskan melalui suatu penilaian kritis dari pilihan-pilihan yang terjadi, “tafsirkanlah secara hati-hati, sehingga kamu dapat belajar”. Keempat, “be responsible“, perintah terakhir ini menyempurnakan gerak dari imperatif lainnya. Sementara tanggung jawab atas tindakan merupakan hakikat martabat manusia, tetapi hal ini pada akhirnya terorientasi dan disempurnakan pada tanggung jawab kita pada orang lain, “bertindaklah secara benar, agar kamu bisa belajar”. Di sini apropriasi-diri adalah proses mengintegrasikan pengetahuan bagi perkembangan sosial.

Kesimpulan

Dengan mengacu pada Driyarkara, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa pendidikan yang memanusiakan pada hakikatnya akan membantu peserta didik mengembangkan gambaran-diri yang positifbahwa dirinya layak, penting, diterima, dan mampu. Semuanya ini merupakan prakondisi untuk menumbuhkan kepercayaan akan kemampuannya untuk menghayati hidup berkualitas dan bermakna. Selain itu, pendidikan model tersebut juga akan membantu siswa untuk mengembangkan intelegensi emosional dan kemampuannya untuk berempati, ugahari, dan penguasaan-diriserta mengembangkan keutamaan intelektual, kemampuan kritis dan reflektif, penilaian yang sehat, imajinasi kreatif, dan peka akan nilai. 

Humanisme sebagai visi pendidikan yang dikembangkan Driyarkara pada akhirnya bermuara pada kemanusiaan integral yang terus menerus harus disempurnakan. Inilah humanisme baru yang bercirikan memiliki kepekaan budaya (cultural sensibility)yang diwujudkan dalam menghargai pluralisme dan multikulturalisme, memperhatikan tantangan sejarah (historically attentive) yang terus berubah, mampu memprakarsai berbagai terobosan dan inovasi, serta menemukan makna baru dalam berbagai dimensi kehidupan (philosophically creative). Dengan demikian, institusi pendidikan pada hakikatnya merupakan tempat bagi pembangunan humanisme baru, dimana manusia mengalami transformasi eksistensi yang radikal.


Referensi:

Benders, Alison Mearns. Renewing the Identity of Catholic Colleges: Implementing Lonergan’s Method in Education. Teaching Theology and Religion, 10 (2007), No. 4, 215-222.

Driyarkara, N., Karya Lengkap Driyarkara. Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Penyunting: A. Sudiarja, G. Budi Subanar, St. Sunardi, T. Sarkim. Jakarta: Gramedia, 2006

Facebook Comments
Pranowo Yogie
Lahir di Jakarta pada tanggal 8 Juli 1989. Menyelesaikan studi magister Filsafat di STF Driyarkara tahun 2017. Buku yang sudah terbit antara lain: Perempuan, Moralitas, dan Seni (Ellunar Publisher, 2018), dan Peran Imajinasi dalam Karya Seni (Rua Aksara, 2018). Saat ini aktif menjadi sutradara teater, dan mengajar di beberapa kampus swasta, serta menjadi peneliti di Yayasan Pendidikan Santo Yakobus, Jakarta.