Richard Dawkins (Sumber: https://www.richarddawkins.net) Photograph: Jeremy Young 05-12-2006

Dimulai dengan pertanyaan sederhana, bagaimana mungkin konsep tentang Tuhan (transcendental-being) bisa bertahan dalam pengetahuan manusia sejak masa purba sampai sekarang?

Kita tentu bertanya-tanya bagaimana itu terjadi. Mungkinkah konsep tentang Tuhan dalam keyakinan kita merupakan self-propagating idea yang sengaja diciptakan yang kemudian dijaga dengan diturunkan dari generasi ke generasi? Dalam bab khusus meme[1], Dawkins menjelaskan ketika kamu menanamkan konsep atau ide yang subur dalam pikiranku, secara langsung ia menjadi parasit dalam otakku dan menjadikannya kendaraan bagi propaganda mememu sebagaimana virus yang bertindak sebagai parasit dalam suatu host sel[2], sehingga meme bagi Dawkins memiliki hukum dan bertindak layaknya virus biologikal, di mana penjangkitan pikiran terprogram secara baik melalui penyaluran berulang-ulang dan keyakinan dalam individu beralih menjadi epidemi―berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban atau mewabah

Perlu diingat bahwa meme ini bukan sesuatu yang istimewa dan hanya dimiliki manusia, sebab Dawkins menjelaskan dalam bukunya mengenai penelitian P. F. Jenkins tentang burung saddleback di Kepulauan Selandia Baru[3]. Meski burung saddleback di sana tergolong spesies yang sama, tetapi mereka berhasil mengembangkan sembilan jenis nyanyian, dan masing-masing burung saddleback di sana hanya mampu menyanyikan satu sampai dua jenis saja. Sehingga dalam penelitiannya P. F. Jenkins menggolongkan sembilan nyanyian ini sebagai dialek kebudayaan yang dikembangkan oleh peradaban burung saddleback di Kepualauan Selandia Baru[4]. Namun sebelum lebih jauh membahas meme dan upaya dalam menjawab pertanyaan di bagian pembuka, sebagai pengantar akan terlebih dulu dijelaskan mengenai penjangkitan pikiran dan bagaimana ia bekerja.

Pejangkitan Pikiran, Awal dan Cara Penularannya

Agar dapat menjawab pertanyaan di awal, ada baiknya untuk memahami penjangkitan pikiran (thought contagion) terlebih dulu. Istilah tersebut digunakan oleh Aaroh Lynch, seseorang cendekiawan yang berupaya meneruskan penelitian Richard Dawkins mengenai memetik―elemen dari suatu budaya yang dianggap diturunkan secara turun temurun di luar perihal genetik[5]. Dalam bukunya, Dawkins pernah mempertanyakan adakah sesuatu yang hidup[6] selain gen dalam kehidupan ini, dengan terang Dawkins menjawab ada, yakni konsep atau ide―nantinya membuka jalan bagi meme sebagai alat pelacak konsep atau idea dalam peradaban manusia. Konsep atau ide ini menyebar dari satu individu ke individu lain, dari satu tempat ke tempat lain, dari generasi ke generasi berikutnya, dan pemahaman itu kelak dipahami sebagai meme. Sebagaimana kita ketahui bahwa inovasi atau perkembangan atas suatu konsep atau ide tidak begitu saja muncul layaknya bak penyihir yang merapalkan mantra Abracadabra, ia terlahir dari konsep-konsep atau ide-ide sebelumnya yang terus menjangkit dan menurun dalam diri individu (sebagai host), dan pemahaman itu yang diberi julukan oleh Lynch sebagai pejangkitan pikiran.

Seiring dengan berjalannya waktu, meme yang dijangkitkan juga mengalami perkembangan. Terkadang muncul berbagai macam ide baru sebagai hasil dari rekombinasi ketika bersentuhan dengan wilayah-wilayah baru. Sebagaimana keyakinan Mormont yang merupakan perluasan dari keyakinan Kristiani. Pemeluk keyakinan Mormont percaya bahwa Yesus pernah mendatangani Amerika Utara.

Penjangkitan pikiran menyebar begitu saja, tanpa membawa syarat apakah ia berguna atau tidak, baik atau buruk, yang ia pedulikan adalah bagaimana ia bisa menjangkit dan menyebar sebanyak mungkin. Penjangkitan pikiran memiliki berbagai bentuk dan cara yang dikenal sebagai modes. Pertama, kuantitas induk (the quantity of parenthood), konsep tertanam dalam diri anak melalui indukan, sehingga indukan sebisa mungkin berupaya untuk memperbanyak keturunan, kelak dari anak tersebut (yang sudah tertanam dengan konsep yang diinginkan) dapat berperan sebagai indukan lain. Kedua, efisiensi induk (the efficiency of parenthood), mempunyai banyak keturunan tidak menjamin proses penanaman konsep benar-benar berjalan sesuai rencana atau yang dikatakan sebagai salah satu bentuk mutasi, ia memerlukan petunjuk dari indukan yang tepat, dan terkadang indukan perlu untuk mempelajari serangan-serangan dari luar yang dapat mengancam proses penanaman konsep tersebut, semisal dibentuk aturan yang mengikat supaya anak tidak menjalin kontak dengan di luar populasi yang inginkan dan terpusat pada satu populasi tertentu. Ketiga, merasulkan diri (proselytizing pays), indukan berusaha untuk menyebarkan konsep di luar selain perannya untuk menanamkan ke keturunannya, sehingga diharapkan mereka (nonhost) yang terjangkit dapat menyebarkan konsep yang telah tertanam ke anak yang dimilikinya atau individu yang lain, akan tetapi indukan tetap memiliki kewajiban untuk mendahulukan penanaman konsep pada generasinya langsung (host), sebab dengan demikian kunci mayoritas dapat dengan mudah dikendalikan[7], namun perlu untuk diingat bahwa terdapat barrier yang memperlambat proses penjangkitan baru bagi mereka yang sudah dewasa sebagai bentuk resistensi alami. Keempat, upaya pelestarian (preserving belief), di sini indukan berusaha mengenalkan peraturan bahwa tidak baik untuk mempertanyakan konsep yang ditanam, dengan kata lain sebisa mungkin pergerakan yang bersifat kritis dan skeptis terbatasi, sehingga konsep dapat tetap lestari. Kelima, menyalak (sabotaging the competition), terkadang dalam merasulkan diri kepada di luar generasi ditemukan mereka (nonhost) yang memiliki resistensi tinggi terhadap serangan penanaman konsep, atau yang disebut sebagai fanatik (zealot), sehingga diperlukan langkah yang agresif untuk mempenetrasi lebih dalam, dapat berupa sabotase gerakan atau menyerang langsung konsep yang dimiliki lawan[8]. Keenam, peran kognitif (cognitive advantage), bentuk ini baru dapat berjalan ketika kualitas induk, efisiensi induk, merasulkan diri, upaya pelestarian telah berjalan dengan baik, sebab bentuk peran kognitif lebih bersifat pasif, di mana ia membutuhkan keadaan mayoritas, sehingga testimoni-testimoni membuat mereka yakin untuk mengadopsi konsepsi tanpa perlu ditawarkan atau bahkan dipaksakan[9], sehingga bentuk ini lebih dikatakan sebagai manifestasi pikiran yang diprogandakan ketimbang mempropagandakan. Ketujuh, motif yang mendukung (motivational advantage), sama seperti peran kognitif, bentuk ini lebih cenderung pasif, di mana nonhost merasa dengan mengadopsi konsep yang ditawarkan memberikan diri mereka suatu keuntungan[10], motif yang mendukung dapat berperan sangat masif dan efisien ketika dilibatkan bersama efisiensi indukan, merasulkan diri, dan menyalak[11]. Perlu diingat bahwa beberapa modes umumnya terjadi secara bersamaan dan setiap modes memiliki kelebihan masing-masing dalam setiap situasi dan kondisi. Dengan mengetahui awal dan cara penjangkitan pikiran baru kita dapat memahami perkembangan meme dan peranannya lebih jauh.

Perkembangan Meme

Pada mulanya keyakninan akan sesuatu yang lain, menurut Daniel Dennett lahir sejak masa purba, disebabkan oleh ketakutan yang tidak rasional akan fenomena alam yang saat itu belum mampu mereka jelaskan[12]―petir, badai, hujan, dan lainnya, dengan menciptakan konsep atau ide yang sesuatu yang lain yang tidak terjelaskan dan melaksanakan ritual terhadapnya, membuat manusia masa purba merasa dilindungi dan diawasi―mengorbankan kambing sebelum berperang atau berburu, agar terhindar dari sasaran panah[13]. Konsep atau ide ini kemudian diturunkan dari generasi ke generasi melalui bahasa dan simbol[14], sehingga beralih menjadi meme. Seiring dengan berjalannya waktu, meme yang dijangkitkan juga mengalami perkembangan. Terkadang muncul berbagai macam ide baru sebagai hasil dari rekombinasi ketika bersentuhan dengan wilayah-wilayah baru. Sebagaimana keyakinan Mormont yang merupakan perluasan dari keyakinan Kristiani. Pemeluk keyakinan Mormont percaya bahwa Yesus pernah mendatangani Amerika Utara.

Sebagaimana persoalan genetik, meme juga menghadapi seleksi alam dan evolusi, bedanya yang seleksi alam yang dimaksud adalah seleksi meme. Seiring dengan berjalannya waktu dan meluasnya meme ke wilayah-wilayah baru, membuat dirinya berhadapan dengan seleksi meme.

Perluasan meme ini tidak dapat dibendung dan diperkirakan, sebab secara umum pemeluk Kristinani yang beriman mempercayai bahwa Yesus pernah mengunjungi Timur Tengah dan menyebarkan ajaran kasihnya di sana, dan tidak menutup kemungkinan pemeluk Kristinani yang taat lainnya di Amerika Utara juga meyakini bahwa Yesus melalui kasihnya juga mengunjungi Amerika Utara sehingga orang-orang di Amerika Utara dapat mengenal ajarannya. Atau misal lain tentang konsep hari akhir, keselamatan, dan surga-neraka. Hari akhir dan surga-neraka (ganjaran atas perbuatan yang dilakukan semasa hidup) merupakan hasil dari bentuk efisiensi induk dan upaya pelestarian. Bagi mereka (penganut keyakinan tersebut) mendapatkan keselamatan merupakan suatu keniscayaan, sehingga meski melakukan perbuatan buruk, atas seizin Tuhan yang diyakini, ia dapat dipindahkan ke surga. Atas dasar inilah, tidak jarang bagi para pemeluk suatu keyakinan akan berupaya untuk mengajak teman dan orang-orang yang mereka sayangi agar memeluk keyakinan yang sama[15]. Sehingga simpul yang dapat diambil tentu semakin banyak mereka yang terjangkiti suatu meme dan semakin jauh pula ia menyebar dan berinteraksi dengan wilayah-wilayah baru, maka semakin memungkinkan pula meme tersebut berkembang subur dan mengalami perluasan. Dawkins mencontohkan ini dengan kisah di mana ada anak pertama yang ditunjukkan suatu gambar tertentu, anggaplah gambar seekor naga, dan ia disuruh untuk menggambarkannya ulang. Kemudian gambar anak pertama ini ditunjukkan pada anak kedua dan diperintahkan hal yang sama seperti anak pertama. Lalu hal itu terus berlanjut sampai pada anak kedua puluh. Bahkan tanpa perlu melakukan eksperimen tersebut kita dapat mengetahui hasilnya, hasil gambaran anak kedua puluh dengan anak pertama tidak mungkin sama. Mutasi merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan[16]―dan tidak salah jika Dawkins menganggap meme ini kurang-lebih seperti gen. Sebab keduanya memiliki peran dan fungsional yang sama[17].

Sebagaimana persoalan genetik, meme juga menghadapi seleksi alam dan evolusi, bedanya yang seleksi alam yang dimaksud adalah seleksi meme. Seiring dengan berjalannya waktu dan meluasnya meme ke wilayah-wilayah baru, membuat dirinya berhadapan dengan seleksi meme. Senafas dengan Darwinian, seleksi meme ini terjadi seara acak dan tidak dapat dicegah atau bahkan diprediksi. Hasil akhirnya adalah, akankah meme itu bertahan dengan berbagai inovasi ide baru atau justru punah tergantikan oleh meme lain[18]. Jika konsep itu mampu bertahan tentu ia akan mengalami penguatan dalam suatu populasi. Perlu untuk diingat, karena sebab penjelasan sebelumnya begitu dekat dengan keyakinan, namun bukan berarti memetik ini hanya terbatas dan sesempit persoalan keyakinan, lebih dari itu memetik menyangkut segala persoalan tentang konsep atau pun ide―misal berupa ideologi, teori, peranan gender, bentuk pernikahan (monogami, poligami, poliandri, dsb.), ekonomi, adat atau kebudayaan, dan lain-lain[19].

Untuk mempermudah diberikan gambaran, bagaimana mungkin manusia berpuluh ribu tahun lalu yang memulai hidup sebagai pemburu dan peramu yang hidup secara berpindah-pindah sesuai dengan musim migrasi hewan buruan dapat beralih sepenuhnya menjadi peternak dan petani dengan kehidupan yang menetap? Apa karena praktik berternak dan bertani membuat hidup moyang kita menjadi lebih mudah dan bahagia? Colin Tudge dalam penelitiannya mengatakan bahwa peralihan moyang kita menjadi peternak dan petani justru tidak membuat hidup mereka menjadi lebih mudah dan bahagia, alih-alih Tudge menyebut peralihan itu sebagai the end of Eden, di mana penuh kesengsaraan[20]. Hal ini dibuktikan dengan melihat rangka tulang moyang kita di Mesir Kuno, di mana kaki dan punggung mereka mengalami pencacatan, kemungkinan oleh sebab menumbuk jagung dan rutinitas memikul benda dari jarak yang cukup jauh. Sedang moyang kita sebelum itu, pada masa paleolithic yang masih menerapkan praktik berburu dan meramu diketahui hampir setiap minggunya mereka menghabiskan waktu sekitar lima belas jam untuk mencari makanan dan sisanya digunakan sebagai waktu beristirahat, lain halnya dengan moyang kita di Mesir kuno yang harus terjerat dengan rutinitas membosankan. Bahkan moyang kita di masa berburu dan meramu tidak perlu takut menghadapi kelaparan akibat gagal panen atau kehausan akibat kekeringan sebagaimana moyang kita di Mesir Kuno alami, sebab dengan hidup berpindah-pindah menyesuaikan masa imigrasi hewan buruan dapat menyelamatkan mereka dari kelaparan dan kekeringan. Alasan mengapa moyang kita memilih menetap dan meninggalkan praktik berburu dan meramu adalah karena bentuk seleksi meme, di mana praktik bertani dirasa lebih dapat memproduksi makanan berdasarkan pemanfaatan lahan, dan oleh adanya surplus makanan, mereka mampu memproduksi banyak keturunan. Semata-mata karena mereka mampu memproduksi lebih banyak keturunan, dan itulah yang menjadi fokus utama dari gen dan meme, keinginan untuk terus menjangkit dan menurun.

Beralih ke beberapa milenia setelahnya, teknologi yang berkembang cepat memaksa pejangkitan pikiran berevolusi, melalui transportasi dan dalam berbagai media baik daring maupun luring dapat ditemukan propaganda-propaganda yang menginginkan untuk dijangkitkan[21]. Akan tetapi perlu diingat bahwa semakin konsep itu mengalami perkembangan, secara bersamaan akan timbul imunitas memetik dan upaya menolak jika terdapat serangan baru terhadap konsep yang dipahami sebelumnya[22]. Terlebih jika upaya yang dilancarkan mengandung langkah yang agresif dapat memicu penolakan yang lebih keras ketika bertemu dengan yang puritan. Sedang meme yang dibawa dan disebarkan melalui langkah pasif akan cenderung lebih sedikit menghadapi bentuk penolakan. Sedang dalam kasus teknologi dan oleh sifatnya yang pragmatis, meme dapat menyebar dengan masif ketika daya guna yang diberikan lebih besar dari sebelumnya. Begitu juga dengan kemudahan dalam mengoperasikan teknologi yang dimaksud akan membantu penyebaran meme dengan baik, hasil yang diberikan tentu akan terbalik jika teknologi yang dimaksud begitu kompleks dan susah untuk dioperasikan yang justru malah memperlambat penyebaran meme[23].

Meme, Perjuangan Agar Tetap Bertahan

Lantas kembali pada pertanyaan di awal, bagaimana mungkin konsep tentang Tuhan (transcendental-being) bisa bertahan dalam pengetahuan manusia sejak masa purba sampai sekarang? Bukankah sudah berbagai pemikir terdahulu memprediksi jika di masa kejayaan saintifik seperti sekarang ini, di mana ilmu pengetahuan sudah menjadi tombak peradaban manusia, sudah seharusnya agama terpojok hingga mungkin punah dengan segala praktiknya, namun yang terjadi, agama berhasil mematahkan ramalan tersebut, dan terus berkembang hingga memunculkan berbagai gerakan dan bentuk baru. Bahkan Charles Darwin dengan teori evolusi dan seleksi alamiah yang dahulu digadang-gadang menjadi sihir awal dalam menyingkirkan dogma-dogma agama sebagaimana meme kreasionis nyatanya tetap tidak demikian.

Guna memperjelas, meme Katolik mengajarkan Tuhan yang omnipotent sekaligus omniscient, dengan mempercayai Yesus Kristus merupakan anak dari Tuhan, yang lahir dari perawan Maria, yang kemudian dibangkitkan dari kematian setelah penyalibannya, dan sampai saat ini Yesus masih setia mendengarkan doa para penganutnya.

Susan Blackmore dalam bukunya The Meme Machine, menjelaskan kemungkinan ini melalui teori copying-the-product[24]. Ketimbang contoh yang dikemukakan Dawkins sebelumnya mengenai gambar naga. Blackmore menggambarkan ini sebagai instruksi manual, seperti sewaktu kita melipat origami. Dalam percobaan ini, anak pertama diberikan kertas lipat untuk membuat origami berbentuk burung dan kita sebagai mula mengajarkan caranya sampai anak pertama tadi benar-benar mampu membuat lipatan berbentuk burung. Setelah bisa, anak pertama diberikan perintah untuk mengajarkan cara melipat kertas menjadi berbentuk burung kepada anak kedua. Begitu seterusnya sampai anak kedua puluh. Dari anak pertama sampai anak kedua puluh tentu ditemukan hasil yang beragam, ada yang biasa saja, ada yang bagus, ada yang jelek, dan bahkan ada yang sempurna. Misal ditemukan hasil lipatan anak keenam bagus, anak kedelapan jelek, dan anak kedua puluh sempurna. Pada ranah hasil mutasi tentu terjadi, namun oleh sebab yang diturunkan adalah instruksi manual maka setiap generasi akan terus berusaha memperbaikinya. Jadi dalam percobaan lipat kertas ini, apa yang diturunkan ke generasi berikutnya bukanlah semata-mata bentuk hasil, melainkan instruksi manual untuk membuatnya. Perihal jelek, bagus, dan sempurna[25] tidak mungkin diturunkan pada generasi berikutnya sebab ia di luar dari meme, berbeda dengan percobaan gambar naga sebelumnya yang justru menganggap fenotipe dari setiap generasi sebagai genotipe. Mudahnya ketika anak kesembilan melihat hasil lipatan anak kedelapan jelek karena ternyata lipatannya tidak tepat ke tengah, ia tidak akan menyamainya sebab yang diturunkan adalah instruksi manual yang mengasumsikan anak kedelapan memang bermaksud untuk melipat kertas itu tepat ke tengah. Sehingga menurut Blackmore, instruksi manual tersebut bertindak sebagai self-normalising[26]. Akan tetapi perlu untuk diingat bahwa Blackmore mengoreksi pemahaman Dawkins yang mengatakan meme bertindak layaknya gen jika dipahami setengah matang dapat membuat kekeliruan yang fatal, walaupun koreksi ini tetap tidak mengubah prinsip dasar meme dan gen yang merupakan sama-sama penjangkit[27]. Blackmore menyatakan jika meski memiliki peran dan fungsional yang sama, meme tidak terbatas pada penurunan linier dari generasi ke generasi saja (horizontal atau vertikal saja), melainkan ia dapat menyebar di luar generasi sebagaimana upaya merasulkan diri[28] (horizontal dan vertikal)[29].

Perihal kebenaran yang terus dipertanyakan dalam agama dan adapun alasan mengapa agama masih saja bertahan, meski berbagai serangan dilancarkan oleh kemajuan ilmu, menurut Blackmore persoalan kebenaran dalam meme bukanlah faktor penentu ia akan punah atau tidak[30]. Blackmore mengungkapkan ini dengan sebuah mitos urban di Amerika, bermula ketika seorang perempuan sedang memandikan anjing poodle miliknya dan berusaha untuk mengeringkannya dengan microwave, sampai akhirnya peliharaannya tersebut mati. Kemudian perempuan itu menuntut pabrik microwave itu karena tidak menyertakan peringatan untuk tidak mengeringkan peliharaan di dalam microwave. Namun apa yang terjadi, perempuan itu justru menang di pengadilan. Kisah tersebut menyebar begitu cepat, sampai berjuta orang di Inggris telah mendengarnya, meski kisah yang mereka dengar tidak seutuhnya sama, seperti kucing di dalam microwave, Chihuahua di dalam microwave, atau bahkan mereka yang di Amerika sendiri mendengar kisah yang sama namun dengan tempat yang berbeda misal di New York atau Kansas City. Dari hal tersebut, kisah si perempuan dengan peliharaannya yang mati akibat pemanas itu akan tetap menyebar tanpa memperdulikan kebenaran, nilai, dan penting-tidaknya. Mungkin kisah itu bisa jadi hanya bualan belaka, namun kebenaran bukan syarat bagi meme sukses tertanam dan meluas. Sama halnya dengan agama, keyakinan tidak menyebar luas berdasarkan fakta sebagai penyokongnya, melainkan melalui berbagai transmisi kultural seperti yang dijelaskan oleh Lynch sebelumnya.

Guna memperjelas, meme Katolik mengajarkan Tuhan yang omnipotent sekaligus omniscient, dengan mempercayai Yesus Kristus merupakan anak dari Tuhan, yang lahir dari perawan Maria, yang kemudian dibangkitkan dari kematian setelah penyalibannya, dan sampai saat ini Yesus masih setia mendengarkan doa para penganutnya. Bagi mereka yang tidak terjangkit meme Kristiani, konsep seperti yang dijelaskan tadi tentu terdengar absurd, bagaimana mungkin Tuhan yang tidak terlihat dan terjamah manusia dapat berperan sebagai omnipotent sekaligus omniscient, siapa yang mempercayai cerita perawan yang tiba-tiba melahirkan, bagaimana mungkin untuk menghidupkan seseorang yang telah mati, jika pun kembali hidup di manakah dia sekarang, siapa yang dapat menjamin doa kita terwujud[31]? Walau demikian, di berbagai belahan dunia dengan terang banyak yang mengakui diri mereka sebagai penganut Katolik dan senantiasa berdoa kepada Yesus, perawan Maria, serta Bapak di Surga dan percaya bahwa Tuhan selalu mengawasi segala apa yang diperbuat di dunia dengan memberlakukan sistem reward and punishment―yang berlaku baik semasa hidupnya akan diizinkan memasuki surga, sedang yang berlaku buruk semasa hidupnya akan diberikan ganjaran neraka―sekalipun kebenaran ini sukar untuk dibuktikan, namun sukses tertanam secara masif. Sebab itu, umumnya keyakinan selalu diupayakan ditanam sejak kecil agar dapat memberikan ketakutan-ketakutan mempertanyakan kebenaran meme yang telah ditanam sebagaimana doktrin penganut yang taat adalah yang percaya tanpa mempertanyakan bukti[32]―sebagaimana ungkapan sesungguhnya Tuhan mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Sedang perihal kepunahan terjadi karena manusia secara alamiah memiliki sifat sebagai imitators dan selectors[33]. Manusia sebagai bagian dari organisme hidup, selain berperan sebagai mesin penjangkit―bila dalam gen sebelumnya dijelaskan bahwa organisme hidup hanyalah kendaraan yang digunakan untuk membawa dan melindungi materi genetik untuk sampai menjangkit dan menurun dalam bentuk organisme lain, sedang pada meme mesin ini diibaratkan sebagai gerobak yang bukan hanya berfungsi membawa barang dari satu tempat ke tempat lain tapi juga membawa konsep atau ide cemerlang tentang gerobak itu sendiri dari satu pikiran ke pikiran yang lain[34]―ia juga berperan sebagai penyortir yang selektif akan keberadaan meme. Mudahnya, semua agama besar lahir dari sekte keyakinan kecil (small cults) bersama dengan seorang pemuka yang berperan sebagai ibu dari meme yang ingin disebarluaskan ke berbagai penjuru dunia. Bayangkan, betapa banyaknya sekte keyakinan kecil dalam sejarah manusia hidup, dan yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa beberapa di antara sekte keyakinan kecil itu bisa mendominasi dan menjadi agama besar, sedang kebanyakan dari sekte keyakinan kecil mengalami kepunahan. Semua itu merupakan hasil penjangkitan dan penurunan dari satu ke yang lain dan beberapa di antaranya ada yang terjangkit dan menurun secara masif dan sering, ada pula yang sedikit dan jarang―sejalan dengan evolusi Darwinian. Semua bergantung dari usaha kesalingan faktor untuk menjaga meme keyakinan itu aman tersimpan dalam jutaan manusia, buku, bangunan-bangunan, dan berlangsung secara terus menerus[35]. Kesalingan itu berusaha untuk mewujudkan ikatan emosional melalui pengalaman, memberikan janji-janji yang membuai dan menciptakan aturan dari ketakutan untuk menutupi keraguan, sehingga beberapa keyakinan itu masih terjaga sampai saat ini dengan berjuta penganutnya[36]. Atas sebab itu, sampai saat ini, agama dalam peradaban manusia masih memiliki kekuatan yang besar.

 “Jika kamu ingin keyakinanmu memiliki tanah untuk berpijak, setidaknya dasar yang kuat untuk mencengkram, maka kamu harus berusaha untuk menyebarkan dan menanamkannya sebanyak mungkin. Sampai mereka benar-benar mewujudkan keadaan itu.”

 


Catatan Akhir:

[1] Meme merupakan konsep atau ide yang telah menjangkit dan diturunkan. Berasal dari kata Yunani, Mimeme, namun Dawkins ingin mencari padanan yang cukup mirip dengan gene, sehingga diperolehlah istilah meme. Lengkapnya, sila lihat Richard Dawkins, 2006, The Selfish Gene. New York: Oxford University Press, hal. 192-193.

[2] Lih. Ibid hal. 192.

[3] Lih. Ibid hal. 189.

[4] Lih. Ibid hal. 190-191.

[5] Lih. Susan Blackmore, 1999, The Meme Machine, New York: Oxford University Press, hal. viii.

[6] Perlu dipahami, Dawkins mendefinisikan hidup sebagai sesuatu yang memiliki kemampuan untuk mereplikasi, oleh sebabnya Dawkins mengatakan jika organisme hidup hanyalah mesin yang digunakan gen untuk mereplikasi diri dalam bentuk organisme baru. Tapi oleh penulis, penggunaan term replikasi sendiri memuat kontroversi, sebab replikasi mengandaikan hasil yang sama, namun Dawkins dalam teori memetiknya mendukung adanya mutasi, karena itu penulis sengaja mengubah term replikasi dengan istilah menjangkit sesuai pada rujukan Lynch.

[7] Nonhost yang telah terjangkiti dalam jumlah yang signifikan dapat mempermudah langkah merasulkan diri, sebab nonhost yang telah terjangkiti dapat berperan sebagai pemberi testimoni.

[8] Dalam keyakinan Islam, Allah akan memberikan hadiah lebih kepada mereka yang berperang di jalan Allah dan Islam, sebagaimana meme jihad dan fatwa untuk menumpas unbeliever.

[9] Meme kaum yang terpilih (the chosen people) misalnya membawa kenyamanan dan kebanggaan tersendiri. Tapi bagi mereka yang fanatik, meme ini dapat menjadi pisau yang mempertajam resistensi mereka yang dianggap sebagai kaum yang terabaikan (the unchosen people).

[10] Demo buruh soal kenaikan gaji misalnya. Mereka (buruh) merasa kenaikan gaji itu menguntungkan mereka, sehingga dengan mudah mereka akan mendukung konsep dan gerakan demo tersebut.

[11] Lih. Aaron Lynch, 1996, Thought Contagion: How Believe Spreads Through Society, New York: Basic Books, hal. 3-9.

[12] Lih. Daniel C. Dennett, 2007, Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon, London: Penguin Books, hal. 158-159.

[13] Lih. Ibid hal. 233.

[14] Lih. Ibid hal. 24.

[15] Lih. Aaron Lynch, 1996, Thought Contagion: How Believe Spreads Through Society, New York: Basic Books, hal. 10-12.

[16] Lih. Susan Blackmore, 1999, The Meme Machine, New York: Oxford University Press, hal. x.

[17] Dalam pemahaman, gen bertindak untuk dirinya sendiri, mereka hanya peduli terhadap kelangsungan penurunannya, yang mereka inginkan adalah untuk diturunkan ke generasi lainnya. Jadi selain gen, ada sesuatu yang lain yang juga hidup dan minta untuk diturunkan, yakni meme. Seperti itulah anggapan Dawkins.

[18] Lih. Susan Blackmore, 1999, The Meme Machine, New York: Oxford University Press, hal. 7.

[19] Sewaktu kecil, kita dikenalkan dengan pembagian mainan, misal boneka bayi, masak-masakan, dandan-dandanan untuk anak perempuan, sedang robot-robotan, superhero, dan berbagai macam olahraga untuk anak laki-laki. Ternyata ada maksud dan tujuan lain bagi Lynch dari pembagian tersebut, secara tidak langsung boneka bayi digunakan untuk mengajarkan anak perempuan mengenai peranan domestik atau setidaknya dibuat percaya secara emosional (make-believe attachment). Ketika dewasa tentu si perempuan akan merasa terlalu tua untuk bermain dengan boneka bayi, namun ikatan itu tetap ada yang membuat mereka menginginkan bayi sungguhan. Sedang anak laki-laki, sedari awal telah dikenalkan dengan robot-robotan dan superhero untuk memberi pemahaman bahwa laki-laki haruslah kuat, dengan begitu ia menjadi sosok ideal bagi pasangannya, dan soal kompetisi olahraga, mereka diajarkan bahwa yang menang dan yang berada dipuncaklah yang dapat memenangkan segalanya. Sehingga boneka bayi dan robot-robatan bukan permasalahan sepele, dibalik itu ada konsep kuat yang ingin dijangkitkan.

[20] Lih. Susan Blackmore, 1999, The Meme Machine, New York: Oxford University Press, hal. 26-27.

[21] Contohnya adalah ketika restoran McDonald dibilang mengganti daging burgernya dengan cacing dan tikus, atau olahan ayam Hisana itu memakai ayam tiren misalnya. Rumor sengaja ditanam untuk memainkan ketakutan dan kegelisahan, dan ia akan mewujud menjadi dua bentuk yang entah difungsikan sebagai barrier yang meresistensi atau justru untuk menyerang.

[22] Lih. Aaron Lynch, 1996, Thought Contagion: How Believe Spreads Through Society, New York: Basic Books, hal. 25-26.

[23] Lih. Ibid hal. 32.

[24] Lih. Susan Blackmore, 1999, The Meme Machine, New York: Oxford University Press, hal. xi.

[25] Dalam biologi dikenal sebagai fenotipe atau yang nampak.

[26] Lih. Susan Blackmore, 1999, The Meme Machine, New York: Oxford University Press, hal. xii.

[27] Lih. Ibid hal. 62.

[28] Lih. Ibid hal. 60-61.

[29] Untuk mempermudah, katakanlah kamu orang pertama yang berhasil meracik menu magelangan yang biasa disajikan di burjo-burjo, tentu resep magelangan ini tidak hanya semata-mata dapat diturunkan ke keturunanmu saja, melainkan dapat disebarluaskan ke nenek sebagai generasi di atasmu misalnya (horizontal), atau bahkan ke saya sebagai yang berada di luar generasimu (vertikal). Dalam upaya penyebarluasannya juga tidak terbatas pada pemahaman bahwa saya harus melihat kamu memasak magelangan di dapur, melainkan meme itu dapat menyebar luas dan tertanam dengan medium apa pun, seperti kartu pos, tayangan televisi, dari ungkapan mulut ke mulut, majalah, dan sebagainya.

[30] Lih. Susan Blackmore, 1999, The Meme Machine, New York: Oxford University Press, hal. 14.

[31] Lih. Ibid hal 187-188.

[32] Lih. Ibid hal 192.

[33] Lih. Ibid hal. 15.

[34] Lih. Ibid hal. 65.

[35] Buku, bangunan, ritus, budaya merupakan salah satu bentuk hasil dari ketakutan meme dari ancaman kepunahan, sehingga ia menciptakan hal-hal semacam itu agar keberadaannya lestari.

[36] Lih. Susan Blackmore, 1999, The Meme Machine, New York: Oxford University Press, hal. 192-193.

Daftar Pustaka

Blackmore, Susan. The Meme Machine. 1999. New York: Oxford University Press. Diambil Dari http://libgen.io/book/index.php?md5=9D0F3A113CEFA78217BEDC73985C38B7. Diakses Tanggal 13 November 2017.

Dawkins, Richard. 2006. The Selfish Gene. New York: Oxford University Press. Diambil Dari http://libgen.io/book/index.php?md5=BEF1567E6FB0CE47FD801A83D1A35254. Diakses Tanggal 10 November 2017.

Dennett, Daniel C.. 2007. Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon. London: Penguin Books. Diambil Dari http://libgen.io/book/index.php?md5=A789E1381B2D09B365781C8645B6E954. Diakses Tanggal 15 November 2017.

Lynch, Aaron. 1996. Thought Contagion: How Believe Spreads Through Society. New York: Basic Books. Diambil Dari http://libgen.io/book/index.php?md5=D7A3F5173CF10902A652F438BF09C49F. Diakses tanggal 11 November 2017.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY