sumber: https://novenanews.com/literature-peoples-faith-rejection-pandemic/

Predestinasi merupakan suatu konsep religius yang menjelaskan tentang keterlibatan Tuhan dengan ciptaan-Nya berdasarkan takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan. Banyak hal tentang predestinasi telah diperkuat dan direduksi oleh berbagai pemikiran baik teologis maupun rasionalis.

Gottfried Wilhem Leibniz merupakan seorang filsuf rasionalis yang menulis teori tentang monad sebagai “penyusun seluruh alam semesta”, yang bergerak sesuai persepsinya sendiri. Dengan membawa teorinya, Leibniz berusaha untuk tidak ingin menyangkal keberadaan kehendak bebas. Ia berusaha untuk membuktikan bentuk kompatibilisme—yakni pandangan yang memakai determinisme agar kompatibel atau cocok dengan kehendak bebas—berupa inteligensi, spontanitas, dan kontingensi atau keadaan tidak pasti yang berada di luar jangkauan, yang ia jelaskan sebagai nilai dari kebebasan.

Boethius, seorang filsuf Neo-Platonis pernah menulis, “Si Deus est, unde malum? Si non est, unde bonum?[1] Orang dahulu menghubungkan penyebab kejahatan dengan materi, yang mereka yakini tidak tercipta dan independen dari Tuhan. Namun bagi kita, sebagai makhluk ciptaan yang memperoleh segala sesuatu dari Tuhan: di mana kita akan menemukan sumber kejahatan jika bukan dari-Nya? Jawabannya adalah bahwa hal itu harus dicari dalam sifat ideal makhluk, sejauh sifat ini terkandung dalam kebenaran abadi yang ada dalam pemahaman Allah terlepas dari kehendaknya.

Menurut Leibniz, tidak akan ada makhluk lain bahkan sesama manusia sekalipun yang dapat menentukan maupun mempengaruhi seluruh tindakan spontan manusia, bahkan secara tidak langsung, sebab manusia tidak berhutang keberadaan pada zat-zat ciptaan lainnya. Begitu juga dengan hutang keberadaan kepada Tuhan, Leibniz memiliki jawaban bahwa “Tuhan tidak benar-benar menciptakan manusia. Dia hanya menemukan esensi manusia di dalam kecerdasannya, dan memilih untuk mengaktualisasikan manusia sebab manusia adalah anggota yang terbaik dari semua dunia yang mungkin.[2] Tuhan tidak bekerja sebagai insinyur yang mendesain lalu membangun mesin tertentu, melainkan insinyur yang menciptakan cetak biru lalu membangun mesin yang dijelaskan oleh cetak biru. Tuhan tidak secara tegas dan pasti memberikan manusia karakteristik tertentu. Sebagai gantinya, seluruh karakteristik yang manusia telah miliki sudah termasuk dalam esensi yang ditemukan Tuhan. Insinyur yang hanya menemukan cetak biru, tidak dapat dan tidak perlu bertanggung jawab atas fitur-fitur tertentu serta akibat dari pembuatan serta keberhasilan mesin dalam bekerja yang berasal dari desain yang ada. Dia hanya bisa dianggap bertanggung jawab atas keputusannya untuk membangun mesin itu.

James R. Payton Jr., seorang sejarawan, membahas pandangan Ortodoks Timur tentang perdebatan sinergisme vs monergisme sebagai berikut: “Elemen khas dalam pemahaman Ortodoks tentang bagaimana Roh Kudus bekerja di dalam diri kita adalah doktrin “sinergi” – “bekerja bersama.”  Kerja sama ini adalah kolaborasi anugerah Tuhan dan kehendak bebas (free-will) seseorang … Ortodoksi bersikukuh pada sinergi, namun pengajaran Ortodoks mendekati pertanyaan tentang rahmat ilahi dan kehendak manusia bekerja bersama dari perspektif yang sangat berbeda.”[3] Maka dari itu, segala hal yang terjadi di dunia ini sesungguhnya merupakan peran manusia yang “bergotong royong” bersama Tuhan, tanpa kita tahu apa saja yang “dibantu” oleh-Nya.

Agama tradisional memegang prinsip bahwa Tuhan merupakan penyebab segala sesuatu di kosmos dalam setidaknya tiga hal yang berbeda, sehingga diskusi tentang masalah kekudusan sering bercabang ke tiga arah yang berbeda secara bersamaan. Pertama, Tuhan dianggap sebagai penyebab kreatif segala sesuatu di alam semesta. Segala sesuatu yang ada secara kontingen muncul menjadi ada melalui kegiatan kreatif Allah. Kedua, dinyatakan bahwa Allah adalah penyebab kekekalan dari segala yang ada. Jadi Tuhan tidak hanya menciptakan setiap makhluk ciptaan, tetapi setiap makhluk ciptaan yang terus ada melakukannya juga karena Tuhan terus mempertahankan keberadaannya. Ketiga, setiap tindakan yang disebabkan oleh makhluk ciptaan membutuhkan aktivitas ilahi langsung sebagai penyebab bersamaan. Hal ini yang disebut “double predestination” yang dijelaskan dalam ajaran Kalvinisme atau disebut monergisme, yang bertolak belakang dengan ajaran sinergisme.

 Dengan menunjukkan bahwa Tuhan sangat erat terkait dengan kerja kosmos, masalah kekudusan justru semakin sulit dipecahkan. Orang dapat berpendapat bahwa Allah sengaja menciptakan dunia yang secara kausal terlibat dalam, misalnya, setiap tindakan tertentu  seperti pembunuhan, gempa bumi, dan setiap kematian yang disebabkan oleh wabah. Akibatnya, tanggapan terhadap masalah kekudusan berusaha untuk menjelaskan tidak hanya bagaimana Allah dapat tetap suci meskipun telah menciptakan dunia seperti kita, namun juga bagaimana dia bisa tetap suci meskipun melestarikan dunia yang ada dan bekerja sama secara kausal dengan semua peristiwa yang terjadi di dalamnya.

Maka dari itu Leibniz mengeluarkan banyak upaya untuk memecahkan masalah kekudusan, tetapi ia juga mengambil sesuatu yang mirip dengan masalah ateistik. Akan tetapi, akan ketinggalan zaman untuk mengklaim bahwa Leibniz terlibat dengan masalah ateistik, karena pada masanya keberadaan kejahatan dianggap sebagai argumen untuk bentuk teisme yang tidak memiliki landasan ajaran ortodoksi daripada argumen untuk ateisme.

Leibniz memberikan sebuah jawaban, bahwa dunia ini adalah yang terbaik dari semua dunia yang mungkin. Lalu, jika dunia ini adalah yang terbaik, bagaimana bisa ada wabah, serta segala kerugian yang diakibatkannya?

Hal demikian disebabkan oleh kehendak bebas manusia yang menyimpang. Tersebarnya virus secara masif diakibatkan oleh keteledoran manusia dalam memakan sesuatu, kemudian terjadi kelambatan penanganan, tidak mau saling membantu sesama di saat krisis dan justru berlomba-lomba membeli barang-barang yang sangat dibutuhkan, sampai sikap acuh tak acuh terhadap penyebaran wabah yang masif, adalah kesalahan manusia sendiri, sebab hal itu dilakukan secara sadar dan tanpa dikendalikan. Demikian pula kejahatan yang terjadi akibat wabah, itu terjadi atas kesadaran manusia.


Catatan akhir

[1] “Jika Tuhan ada, dari mana datangnya kejahatan? Jika dia tidak ada, dari mana asalnya kebaikan?” Lih. Boethius: The Consolation of Philosophy, buku 1, prosa 4.

[2] Lih. “Fifth Letter to Clarke,” dalam Correspondence [between Leibniz and Clarke], disunting oleh R. Ariew. p. 37 §6

[3] Lih. Payton Jr., James R. (2010). Light from the Christian East: An Introduction to the Orthodox Tradition. Illinois: InterVarsity Press. p. 151.


Daftar Pustaka

Adams, Robert. (1995). Leibniz: Determinist, Theist, Idealist, Oxford: Oxford University Press.

Cooper, W. V. (1902). Boethius: The Consolation of Philosophy. London: J. M. Dent and Company.

Jorati, J. (2017) The Routledge Companion to Free Will, ed.. Kevin Timpe, Meghan Griffith and Neil Levy. New York: Routledge.

Leibniz, G., Murray, M., & Wright, G. (2011). Dissertation of Predestination of Grace. New Haven, London: Yale University Press.

Leibniz, G., Clark, S. (2000). Correspondence (Between Leibniz amd Clarke), disunting oleh R. Ariew. Indianapolis: Hackett Publishing Company.

Mates, Benson. (1989). The Philosophy of Leibniz: Metaphysics and Language. New York: Oxford University Press.

Payton Jr., James R. (2010). Light from the Christian East: An Introduction to the Orthodox Tradition. Illinois: InterVarsity Press.

Rodriguez, P. (2020) Leibniz: Discourse of Metaphysics. New York: Oxford University Press.

Strickland, Lloyd. (2014). Leibniz’s Monadology: A New Translation and Guide. Edinburgh: Edinburgh University Press.

https://plato.stanford.edu/entries/leibniz-evil/ diakses pada 12 Juli 2020


 

Facebook Comments