€250k on champagne in Monte Carlo. Published by www.rt.com

“I exist only as a whole;

my only claim is to be natural, and the pleasure I feel in an action,

 I take as a sign that I ought to do it.”

-André Gide, The Immoralist

 

Sebagian remaja mungkin mengetahui dan mengikut isu fenomena Awkarin. Seorang remaja cantik (relatif) asal Lampung yang menjadi role model karena gaya dan perubahan drastis dirinya ketika menjadi anak kota metropolitan. Remaja yang bernama asli Karin Novilda ini, kerap mengunggah foto dan video yang kontroversial di social media Youtube dan Instagram. Stigma negatif pun banyak muncul dari penghuni dunia maya. Bahkan, media online pun tidak sedikit memuat informasi yang mengindikasikan tindakan Awkarin adalah contoh remaja hedonis, tidak mencerminkan budaya Indonesia yang sesungguhnya dan tidak pantas ditiru. Artikel ini mencoba mereinterpretasi anggapan di atas, terutama pada dua pertanyaan ini : Apakah “hedon” itu hidup dengan kekayaan material? Dan mengapa kata “hedon” ini menjadi sedemikian negatif, namun di saat yang sama, bukankah manusia diciptakan oleh Tuhan untuk bahagia (hedone)?

Berawal dari fenomena tersebut, saya teringat akan sebuah buku “A Hedonist Manifesto: The Power of Exist” karya Michel Onfray. Onfray mengatakan bahwa hedonisme (berasal dari kata hedone yang berarti kebahagiaan atau kesenangan) merupakan sikap introspektif diri seseorang dalam mencapai kebahagiaan. Pemikiran Onfray ini berakar dari Aristuppus dan Epicuros, dua filsuf Yunani antik yang mengungkapkan bahwa dalam mencapai kebahagiaan atau kesenangan harus ada pembatasan oleh individu. Epicuros mengatakan tujuan hidup bukanlah kesenangan, akan tetapi kedamaian (berhubungan dengan ataraxia). Untuk mencapai kedamaian itu, kita tidak boleh takut dengan mau dan yang gaib (dewa atau Tuhan). Maka dari itu untuk menghindari rasa takut, perlu adanya kesenangan dengan cara mengejar materi dalam hidup. Tetapi tetap harus ada pembatasan untuk meraih ataraxia (ketenteraman jiwa, kedamaian).

Saya berpendapat pembatasan yang dimaksud merupakan suatu cara dalam  mengantisipasi ketergantungan terhadap materi, maupun mengejar materi secara eksesif  yang dapat menimbulkan keresahan, ketidakpuasan, sekaligus kegelisahan. Kesederhanaan berkaitan dengan sikap bersyukur, menerima apa yang ada, dan mempertimbangkan terlebih dahulu terhadap apa yang akan dilakukan. Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa  konsep dan pemikiran hedonisme Epicurus lebih mengarah kepada kesenangan spiritual.

Dalam sejarah pemikiran dan pemaknaan hedonisme, ada pergeseran makna mengenai hedonisme yang dicetuskan oleh Epicuros dan penerapannya oleh sebagian kaum Epicurean.  Epicuros menyatakan orang yang bijaksana tidak akan memperbanyak kebutuhan, melainkan sebaliknya membatasi kebutuhan-kebutuhannya agar dengan membatasi diri, dapat menikmati kepuasaan,1 tetapi di sisi lain kaum Epicurean yang mendasarkan pemikirannya pada Epicuros menyikapi kebahagian atau kesenangan hendaknya tanpa aturan (yang membatasi) dikarenakan kebebasan yang bebas dianggap sebagai salah satu tujuan manusia dalam mencapai kesenangan atau kebahagian.

Mungkin dari pergeseran makna hedonisme itulah, masyarakat awam menganggap dan mengaitkan hedone /hedon dengan hidup yang bebas dan penuh kekayaan material. Orang kaya dengan tampilan glamour, serba kekinian, dan barang mahal yang melekat di badannya pun kerap diidentikkan dengan kehidupan hedonis. Anggapan kesenangan duniawi (materi) seperti itu mungkin saja  lahir dari masyarakat terdahulu yang mengumpulkan materi-materi dengan sebanyak-banyaknya agar menjadi orang yang dihormati maupun terpandang. Max Weber dalam buku Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme banyak menyingkap secara historis bagaimana budaya kapitalisme (menumpuk hasil, mengoleksi hasil, mengumpulkan hasil)  yang berangkat dari istilah “calling” yang timbul dari pemaknaan  ayat kitab suci injil menjadi sebuah  spirit dalam mengumpulkan dan menumpuk hasil, limpahan, maupun harta. Ya, mungkin saja saat ini kekayaan menjadi tolak ukur seseorang dalam meraih kenikmatan atau kesenangan maupun kebahagian hidupnya. Namun, jika hedonisme memiliki akar kata kebahagiaan, dapatkah kita menyimetrikan kebahagiaan dengan koleksi kekayaan material?

Sebuah Tawaran : Hedonisme Etis (Michael Onfray)

Michel Onfray dalam pemikirannya mengenai hedonisme (yang tak lain dipengaruhi oleh Epicurus), menyatakan “as an introspective attitude to life based on taking pleasure yourself and pleasuring others, without harming yourself  or anyone else.” 2 Di situ Onfray menjelaskan bahwa hedonisme etis ialah sikap introspektif untuk hidup berdasarkan  kesenangan diri sendiri dan kesenangan orang lain, tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain. Segala bentuk kebahagian haruslah juga bersifat pengamatan diri (koreksi diri) berdasarkan pikiran dan perasaan diri, boleh berdasarkan kesenangan atau kebahagian diri maupun lainnya, akan tetapi tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hedonisme etis yang berakar dari hedonisme Epicuros menganalogikan definisinya dengan pemisahan 1 orang (individu) dengan banyak orang lainnya pada ruang lingkupnya masing-masing, seperti yang tergambar pada skema “The Epicurean Garden”.

The Epicurean Garden (Michel Onfray) Philosophy : A Cosmic Responsibility (publish by UNESCO)
The Epicurean Garden (Michel Onfray)
Philosophy : A Cosmic Responsibility (publish by UNESCO)

Pada Bab 6 buku A Hedonist Manifesto yang berjudul Hedonist Intersubjectivity, Michael Onfray menulis :

“The brain is an instrument, a means, but never an end in itself. If neuronal training proceeds according to the potentialities of the nervous system, it has to have an aim. What does one train? Why? According to what criteria? Education has to have a plan. Without a clearly defined objective, ethics is useless. What rules of the game are worth the trouble of following? What makes the game appealing? “3

“The answer: a peaceful, joyous, happy intersubjectivity; a peace of mind and spirit; a tranquility in existing; easy relationships with others; comfortable interactions between men and women; artificializing relations and submitting them to the best elements of culture, such as refinement, politeness, courtesy, good faith, and keeping one’s word; and consistency between words and actions. In other words, ending war, overcoming the logics of dominance and servitude, refusing to fight for the sake of the real domination or the symbolic domination of territories, and eradicating everything that remains animal in us “.4

Pada pembuka Bab 6 itu Onfray menjelaskan hubungan otak (brain), sistem neuron, konten, serta tujuan (aim). Menurutnya sistem neuron akan bekerja jika ada konten (jika tidak ada konten maka akan tidak bekerja), dan otak adalah alat (sarana) agar konten itu “bekerja” atau mencapai sebuah tujuan. Jika sistem neuron ada kesesuaian dengan potensi sistem saraf, maka haruslah mempunyai suatu tujuan yang jelas. Tanpa tujuan yang jelas, maka etika akan tidak ada gunanya (useless).

Mengapa tujuan (aim) harus jelas? Tujuan (aim) yang dimaksud adalah sebagai hasil atau sikap akan hedone itu sendiri (dipengaruhi konten). Adanya kesesuaian antara neuron (yang berkerja karena adanya konten) dengan sistem-sistem saraf pastilah memiliki tujuan. Dalam proses tujuan (aim) itu tercapai dengan jelas (dalam konteks ini kebahagiaan), maka harus ada pertimbangan-pertimbangan yang mencakup nilai moral dan etis. Jika tujuan kebahagiaan tidak mempertimbangkan hal-hal seperti itu, dikhawatirkan terjadinya hedone non-etis yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Di sisi lain, Onfray juga berpendapat bahwa segala sesuatu itu menarik jika ada kebahagiaan, kegembiraan, ketenangan jiwa dan pemikiran, serta “easy relationship” antara laki-laki dan wanita. Dari kemenarikkan itulah kita harus mengirimkan unsur-unsur seperti perbaikan diri, kesopanan, sopan santun, itikad baik, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan yang dapat berguna dalam mengakhiri perselisihan serta mengatasi pemikiran dominasi dan perbudakan sekaligus mengatasi sikap hewani manusia.

Kemenarikkan yang dimaksud saya bahasakan seperti sesuatu sikap kepuasan atas terjadinya kebahagiaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “menarik” juga diidentikkan dengan menggirangkan, menyenangkan, menyukakan hati karena indahnya, dan sebagainya. Berarti dalam konteks kebahagiaan, kata menarik/kemenarikkan timbul ketika tercapainya konten kebahagiaan. Dari kemenarikkan itulah diharapkan terjadinya sikap positif terhadap diri.

Secara keseluruhan, hedonisme etis menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang menurut kita bahagia haruslah “mengirimkan” unsur-unsur yang bersifat baik, konstruktif, introspeksif terhadap diri dan khususnya mencakup nilai-nilai kebijaksanaan (wisdom). Hedonisme dapat didefinisikan secara positif sebagai pencarian untuk kebahagiaan, tetapi jika didefinisikan secara negatif dapat dikatakan hedonisme juga sebagai sikap menghindari ketidakbahagiaan.5 Karena adanya ketidakbahagiaan inilah, individu dapat mencari suatu kebahagiaan untuk menjaga stabilitas mental dan psikis, agar tercapainya ketenangan jiwa.

Hedonisme etis merupakan sebuah jalan pemikiran dalam mencapai kebahagiaan di tengah penderitaan dunia modern. Mempertimbangkan segala hal termasuk moral dan etis untuk mencapai hedone jangka panjang adalah esensi dari hedonisme etis. Tentunya kebahagiaan itu tidak sesaat saja, tapi menyelimuti seluruh kehidupan diri. Suatu kebahagiaan atau kesenangan dalam hedonisme etis, haruslah jelas tujuan kebahagiaannya. Tidak hanya terpaku pada  tujuan kebahagiaan, tetapi juga mempertimbangkan apakah kebahagiaan itu sudah mengandung itikad baik untuk individu dan orang lain, dan untuk sekarang dan nanti?

Catatan Akhir:

1Franz Magniz Suseno, 13 Tokoh Etika, (Yogyakarta : Kanisius,1997), hlm 50.

2David Olsen, 801 Things You Should Know : From Greek Philosophy to Today’s Technology, (USA : Adam Media, 2013), hlm 19.

3Michel Onfray, A Hedonist Manifesto : The Power Of Exist (New York : Columbia University Press), hlm 73.

4Ibid.,

5Ibid., hlm 74.


Daftar Pustaka:

Onfray, Michel. 2006. A Hedonist Manifesto : The Power of Exist (A Hedonist Intersubjectivity). New York : Columbia University Press.

UNESCO, 2007. Philosophy : A Cosmic Responsibility (Journal : The Unesco Courier). France : UNESCO.

Suseno, Magniz  Franz. 1997.  13 Tokoh Etika. Yogyakarta: Kanisius.

Bertens, K.Dr. 2000. Etika. Jakarta: Gramedia.

Suseno, Magniz Franz. 1987. Etika Dasar; Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.

Weber, Max. 2006. Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Olsen, David. 2013. 801 Things You Should Know : From Greek Philosophy to Today’s Technology. USA : Adam Media.

Azhar Jo
Jo adalah Mahasiswa Filsafat UGM 2016, telah dilantik menjadi cucu Mbah Roso. Jo tertarik mendalami bidang Etika--Kebahagiaan. Selain itu, baginya Sekre ialah Candu! "Ku tak bahagia bila tak bersamamu sayang".

LEAVE A REPLY