Ilustrasi (sumber: http://www.staceyeburke.com/blog/social-media-politics-and-protecting-your-digital-reputation)

Di tahun politik seperti sekarang ini, kegaduhan demi kegaduhan pastilah sulit dihindari. Berawal dari sikap fanatisme politik, seringkali kegaduhan itu tak dapat dikendalikan atau diprediksi sebelumnya. Padahal, dalam menghadapi Pilpres 2019 mendatang, sikap fanatisme sebenarnya tidaklah diperlukan.

Kegerahan politik juga bukanlah berasal dari Jokowi atau pun Prabowo selaku Capres, tetapi kitalah sebenarnya yang menciptakan rasa gerah yang membuat situasi politik makin memanas dan tak karuan. Selain itu, rasa takut kalah juga menjadi salah satu instrumen penting yang menyebabkan sikap politik kita menjadi begitu fanatik.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, perbincangan mengenai politik memang tidak lagi menjadi barang mewah yang hanya dimiliki oleh elite politik, para intelektual, pemerintah dan mahasiswa. Sekarang, semua orang bisa ngobrol masalah politik, mulai masyarakat yang ada di lapisan paling bawah sampai yang paling atas. Orang dapat ngomong apa saja, tanpa merasa bersalah atau keliru, dan gaya kepakaran pun seakan tidak lagi penting.

Dalam konteks politik, media sosial kita saat ini seakan menjadi ruang publik yang teramat sehat untuk mengekpresikan apa saja.

Jurgen Habermas, seorang filsuf kenamaan asal Jerman, pernah menggagas suatu ide pemikiran mengenai Public Sphare, istilah ini mengacu pada tempat atau ruang publik di mana semua orang dapat saling berpendapat dan berargumen tentang apa saja, terlebih soal politik. Dengan harapan, semua persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dapat dibicarakan secara langsung dan dicarikan solusinya secara bersama-sama.

Hemat saya, Public Sphare yang dicanangkan oleh Habermas itu, sekarang ini sudah “on going” ke dunia digital, atau tepatnya di media sosial. Dalam konteks politik, media sosial kita saat ini seakan menjadi ruang publik yang teramat sehat untuk mengekpresikan apa saja, semua orang bisa nimbrung dalam perbincangan politik, mulai dari kalangan intelektual, aktivis, politisi, anak-anak zaman now sampai emak-emak.

Namun, ruang publik politik di media sosial tak sesehat yang diharapkan. Public Sphare yang direkomendasikan oleh Habermas, ternyata tak sungguh-sungguh hadir di media sosial kita. Dunia maya seakan susah sekali dikontrol, ada begitu banyak subjek-subjek tak beridentitas, dan orang menjadi mudah berubah pikiran sesuai kondisi-kondisi politik yang menyertainya. Hal ini antara lain, disebabkan oleh pilihan politik yang fanatik dan rasa takut akan kekalahan.

Politik seakan menjadi mesin pabrik yang menciptakan ketakutan-ketakutan, yang pada gilirannya membuat kita saling membenci, mencaci-maki dan sebuah luapan emosi yang tak terkendali. Media sosial lalu menjadi ruang publik politik yang immoral dan banyak melahirkan subjek-subjek jahat.

Suka atau tidak, sadar atau tidak, begitulah fakta media sosial kita hari ini. Orang jadi mudah membenci satu sama lain berdasarkan alasan-alasan yang kadang tidak masuk akal. Sikap fanatisme politik, yang sebenarnya tidak diperlukan, adalah awal dari semua tindakan tak bermoral itu. Kebaikan dan kejahatan menjadi semakin absurd dan remang-remang akibat mesin dogmatik bernama politik kebencian.

Menurut Fitraya Ramadhanny (Detik, 15/9/18), disadari atau tidak, media sosial kita telah menjadi “fear factory” yang betul-betul terasa menebarkan ketakutan. Hal ini sebenarnya berawal dari hingar binger Pilpres 2014, berlanjut ke Pilkada DKI 2017, dan pasti akan berlanjut ke Pilpres 2019. Alih-alih mencerdaskan, media sosial kita justru dikuasai pasukan cyber yang menebarkan ketakutan ke semua orang, melalui berita-berita hoax yang terkesan mengadu-domba dan akhirnya mengganggu kenyamanan kita.

Akibat sikap fanatik yang berlebih-lebihan, kita menjadi kehilangan daya intelektualitas, otak kita seakan mengalami gagal fungsi untuk mengolah opini dan informasi. Dan, betapa mirisnya, kita yang dilabeli masyarakat bermoral, kalah dengan emosi, kebencian pun lalu tak dapat dikontrol. Gaya berpolitik kita, perlahan-lahan menjadi fanatik, dan lawan politik yang berbeda sudah dipastikan salah.

Keadaan semacam ini membuat kita menjadi teramat pragmatis, urusannya jadi hanya sekedar menang atau kalah. Padahal, senyatanya warganet selalu berada di dimensi yang jauh berbeda dengan elite politik. Mereka menganggap antara konflik, konsensus dan kompromi adalah sesuatu yang begitu dekat layaknya dunia politisi, meski sejatinya masih terlalu asing untuk masyarakat.

Sikap fanatisme politik, yang sebenarnya tidak diperlukan, adalah awal dari semua tindakan tak bermoral itu.

Kita tahu, dunia politik sebenarnya ya begitu-begitu saja dari dulu, lawan dan kawan hanyalah sementara, tidak ada yang abadi. Di arena politik sungguhan, konflik, kompromi dan konsensus adalah sesuatu yang cair dan dinamis. Komitmen politisi juga dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi yang melingkupinya, pindah kubu politik pun adalah praktik-praktik lama yang sudah biasa.

Tetapi, mengapa media sosial menjadi ruang publik politik yang begitu mudah memproduksi kebencian-kebencian? Mengapa pula kita begitu kecanduan untuk melebur di arena politik, yang sebenarnya bukan merupakan bagian dari kepentingan dan dunia kita. Ingat, kita jangan mau dibodohi lewat media sosial. Kita perlu bersikap rileks menyikapi drama politik dan jangan mudah diadu-domba hanya karena kita memiliki pandangan politik yang berbeda.

Sebagai pengguna aktif, kita perlu mengembalikan tugas dan fungsi media sosial pada peranan yang semestinya. Agar media sosial menjadi jembatan yang baik bagi rakyat untuk memahami gerak-gerik politik dan aktor-aktornya. Jika rakyat lebih cerdas, mereka akan bersikap bijak dalam menghadapi situasi apapun dalam politik, sehingga tak mudah termakan omongan atau pun konflik yang berlebih-lebihan.

Soal memilih Jokowi atau Prabowo, itu hanya masalah selera belaka. Kita hanya perlu bersikap lebih bijak dalam berpolitik, tak perlu bermanuver secara berlebih-lebihan. Apalagi, harus memainkan isu-isu tak jelas semacam anti-ulama, pro-komunis, islamis dan lain sebagainya, ribet.

Kita perlu membangun demokrasi yang sehat, suatu keterbukaan yang dinamis dan dapat menuntun kita menuju perubahan-perubahan yang signifikan. Ikutilah hati nurani, jangan bawa-bawa emosi untuk hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama. Karenanya, media sosial harus dimurnikan dari subjek-subjek immoral  yang dapat membuat suasana politik menjadi gaduh.

Facebook Comments