Nell (1)

Directed by Michael Apted
Produced by Jodie Foster
Renee Missel
Graham Place
Written by William Nicholson
Mark Handley
Based on Idioglossia
by Mark Handley
Starring Jodie Foster
Liam Neeson
Natasha Richardson
Richard Libertini
Nick Searcy
Music by Mark Isham
Cinematography Dante Spinotti
Edited by Jim Clark
Production
company
Distributed by 20th Century Fox
Release dates
  • December 16, 1994
Running time
113 minutes
Country United States
Language English

23.16, malam yang tak berbeda. Suara jangkrik, kering, dan petikan gitar tetangga kos yang sumbang. Semua campur jadi satu. Saya tidak berharap apapun yang berlebih, kecuali bisa terhindar dari hidup kacau yang selama ini saya jalani dan bisa bangun pagi untuk berangkat kuliah. Hingga pada 23:18, saya memutuskan menonton Nell, beberapa menit berselang, saya langsung ingin berkata pada Nell, “Let’s Talk to Me, Nell…”. Tanpa mengurangi rasa hormat saya atas kebijakan Dr. Jerry.

Let’s Talk to Me, Nell…

Dia tak kunjung bicara. Padahal saya tak memperkenalkan diri sebagai mahasiswa filsafat dan saya pengangguran. Pun bicara menggunakan bahasa filsafat yang arogan. Berbekal bacaan filsafat ilmu, psikologi humanistik yang dangkal, sisi kemanusiaan yang tersisa, dan percaya diri saya berusaha mendekati Nell, pelan-pelan.

Lebih menarik mungkin berbicara secara emosional, soal aleniasi, abnormalitas, penerimaan, dan hal-hal yang tak selesai. Terlepas dari latar belakang kehidupan  psikologis saya dan hubungannya dengan Nell. Melalui kerangka keilmuan barangkali juga tidak ada salahnya. Sebab saya pun tidak peduli dianggap evildoers oleh Nell. Saya juga tidak berharap jadi guardian angel bagi Nell, atau Nell-Nell yang lain di dunia ini.

***

Secara sederhana, saat seseorang menonton film, dua tanggapan awal yang akan diajukan terdiri dari dua bentuk: view dan meaning. Setidaknya itulah yang selama ini saya alami. View melibatkan faktor-faktor  kasar, seperti tokoh, penokohan, alur, termasuk juga teknik pengambilan gambar. Keakuratan view dapat mengantarkan pada penangkapan meaning.

Jodi Foster (Nell) memang  mengesankan. Ia telah menarik perhatian saya, sama halnya saat bermain di The Silent of the Lambs (1991) dan Taxi Driver (1976). Peran Jodi Foster yang artikulatif, penokohan yang presisi, alur yang unik, dan cinematografi yang tidak saya mengerti. Semua luar biasa. Tentu saja, sebagai film yang baik, tidak membiarkan penonton terbelenggu oleh kasus somatik semata, tapi juga pada makna. Nell, seperti film lain yang diperankan Foster, ialah sebuah jalan di mana kita dapat memaknai kehidupan ini.

Bukankah manusia selalu mencari makna? Nah, makna tersebut dapat kita dapat dari filsafat, ilmu, agama. Film selain hasil ilmu perfilman atau sinematografi, ia juga hasil refleksi pengarang atas kehidupan. Di dalam kehidupan yang  penuh atas pandangan filsafat, ilmu, dan agama. Tafsir atas film pun juga bisa dimulai dari prespektif mana saja. Saya sebagai akademisi pun, sah dalam kajian ini menggunakan perspektif filsafat, ilmu, dan gabungan keduanya; filsafat ilmu.

Film Nell, sebagaimana film ‘serius’ pada umumnya, berusaha menggambarkan  persoalan kehidupan yang disertai problem filosofis. Dalam kerangka filsafat ilmu, khususnya perdebatan nilai yang terlibat di dalam kerja ilmu (aksiologi ilmu), dapat ditarik beberapa persoalan; bagaimana hubungan subjek-objek dalam riset ilmiah? Apa saja problem nilai di dalamnya? Apa jawaban filsafat ilmu? Saya berusaha menganalisis persoalan tersebut.

Hubungan Subjek-Objek

Dalam riset ilmiah dalam bidang apapun, saya kira komunitas ilmiah sudah memiliki kode etik masing-masing. Kode etik tersebut mengatur bagaimana seharusnya tindakan ilmuan. Misalnya, dalam situs resmi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI)[1],  disebutkan Kode Etik Psikologi Indonesia merupakan ketentuan tertulis yang diharapkan menjadi pedoman dalam bersikap dan berperilaku, serta pegangan teguh seluruh Psikolog dan kelompok Ilmuwan Psikologi, dalam menjalankan aktivitas profesinya sesuai dengan kompetensi dan kewenangan masing- masing, guna menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.

Sama halnya dengan asosiasi psikologi internasional sekelas American Psychological Association (APA)[2], pedoman yang diatur di dalamnya harus dipatuhi anggota asosiasi. HIMPSI maupun APA, saya kira mempunyai prinsip etik umum yang hampir sama, yang membedakan HIMPSI berasaskan Pancasila. Prinsip etik tersebut seperti tanggung jawab, kompetensi, standar moral, kesejahteraan pengguna, relasi profesional, assesment, aktivitas riset, dsb.

Relasi profesional, hubungan subjek atau peneliti dengan objek yang diteliti atau subjek penelitian (Nell-Dr. Jerry), bahkan ilmuan dengan ilmuan lain (Dr, Jerry-Dr. Paula), diatur dengan baik dalam kode etik berdasarkan prinsip-prinsip etik.[3] Namun sejauh mana profesionalitas itu dapat dipegang? Bagaimana kasus ilmuan yang memiliki relasi emosional dengan subjek penelitian? Atau kolega? Di dunia-kehidupan, di lapangan riset, semua kode etik dapat kabur, dan pertanyaan-pertanyaan tersebut jadi nyata. Kasus dalam film Nell membuat kabur kode etik, dan membuktikan adanya pertanyaan tersebut serta segera meminta jawaban. Kasus Nell-Dr. Jerry dam Dr. Jerry-Dr. Paula bukan hanya dalam fiksi yang dibungkus dalam karya film ‘Nell’, ia nyata ada di dunia.

Jika profesionalitas dalam kerja ilmiah ialah alasan agar proses dan hasil ilmu objektif. Namun karena nilai (seperti hubungan emosional) selalu terlibat dalam kerja ilmiah, maka saya memilih jawaban yang ringkas: ilmuan sebisa mungkin harus mematuhi kode etik komunitas ilmiahnya, jika ada hubungan emosional dengan subjek yang tidak ada di kode etik, sejauh ilmuan tersebut berusaha profesional dimungkinkan. Sebab menurut saya Ide bahwa ilmu harus berdiri sendiri terbebas dari nilai nonepistemik hanya dalam pengertian deskriptif. Disain perangkat konseptual untuk membangun ilmu di masa depan harus terlepas dari nilai nonepistemik, dalam tanda kurung (kecuali sejauh memiliki konsekuensi praktis dari  putusan moral dan signifikansi sosial yang butuh untuk dipertimbangkan).

Problem Nilai

Ada beberapa problem aksiologis berkaitan dengan ilmu yang dapat kita temukan dalam film Nell. Seperti tanggung jawab, kompetensi, standar moral dan hukum, konfidensialitas, kesejahteraan klien/subjek, profesionalitas, dan penilaian ilmuan. Semua problem tersebut menarik didiskusikan, semenarik David B. Resnik mengulas beberapa problem-problem tersebut dalam bab Standards of Ethical Conduct in Science[4]. Di sini saya tertarik membicarakan kesejahteraan subjek penelitian dan hubungannya dengan diskursus psikologi abnormal.

Ilmuan dilarang mengganggu hak-hak dan martabat saat menggunakan subjek manusia dalam eksperimen.[5] Prinsip tersebut dapat dijustifikasi berdasarkan dasar-dasar moral umum. Namun, dalam praktik psikologi misalkan, khususnya psikologi abnormal yang sekaligus klinis, kurang memperhatikan prinsip ini. Sebab ideologi ilmu yang eksperimental seperti yang diterapkan dibanyak penanganan persoalan psikologi, begitu dominan. Seperti Dr. Alexander “Al” Paley yang menginginkan mempelajari Nell di dalam rumah sakit dengan kondisi lingkungan yang terkontrol.

Konsep Dr. Al tersebut, menurut saya justru menetapkan Nell sebagai ‘si sakit’ atau ‘the other’, yang justru menanggalkan kebebasan individu. Konsekuensinya si sakit terus merasa sakit karena dipahami sebagai penyakitan yang harus diobati secara klinis. Konsep Dr. Al senada dengan psikologi abnormal, untuk memahami perilaku abnormal psikolog menggunakan acuan DSM (Diagnostic and Statistical manual of mental disorder). DSM menggunakan criteria diagnostic specific untuk mengelompokkan pola–pola perilaku abnormal yang mempunyai ciri – ciri klinis yang sama dan suatu sistem evaluasi yang multiaksial. Penilaian perilaku abnormal dapat di telaah menggunakan berbagai metode, salah satunya metode assestment yang harus reliabel dan valid yang dapat diukur.

Memperlakukan subjek manusia dalam penelitian, yang hanya dipahami sebatas ‘objek’, menurut saya kurang ada dimensi menjunjung hak-hak dan martabat. Meskipun dalam kerja ilmiahnya menggunakan kode etik yang demikian, tentu masih ada pelaksaan yang kaku. Nilai plus bagi Dr. Jerry yang memperlakukan Nell sebagai pribadi yang penuh. Sampai membawanya lari dari rumah sakit. Bukannya saya kemudian ingin mengucapkan Alhamdulillah setelah momen tersebut, tapi psikologi abnormal memang terlalu kering. Pertimbangan pribadi yang penuh, bebas, mengaktualisasikan dirinya, harus juga dibawa. Sebagaimana digagasan oleh mahzab psikologi humanistik.

Dr. Jerry memang dari awal memilih sikap yang langsung terlibat dengan subjek. Memperlakukan Nell bukan sekedar objek penelitian. Memberikan pilihan ke mana Nell akan melangsungkan hidupnya. Disinilah salah satu poin meaning yang saya maksud diawal. Sebuah pertemuan ilmu dengan filsafat.

Apa yang dikatakan filsafat ilmu?

Pada akhirnya, kesimpulan saya ialah filsafat ilmu harus tetap pada posisinya sebagai kritik terhadap ilmu-ilmu yang berkembang. Kritik yang dimaksud dapat berupa kritik metodologis, kritik dialogis, dan kritik ke mana tujuan ilmu seharusnya (problem aksiologi ilmu).  Contohnya, kritik metodologi psikologi abnormal, dan mengarahkan ilmu tersebut agar berdialog dengan konsep psikologi lain, misalkan konsep psikologi humanistik.

***

Pukul 01:07, malam berusaha dingin. Saya matikan laptop. Dan “Let’s talk to me, Nell..”, ialah ungkapan bodoh. Batas saya, Nell sebagai tokoh fiksi, Nell sebagai keseluruhan film, dan Nell-Nell lain di dunia ini tidaklah jelas. Sebab saya pun tidak peduli dianggap evildoers oleh Nell. Saya juga tidak begitu berharap jadi guardian angel bagi Nell, atau Nell-Nell yang lain di dunia ini. Sebab filsafat ilmu yang saya pelajari, masih menyajikan wacana objektivitas yang belum saya pahami.

Catatan akhir:

[1] Lih. http://himpsi.or.id/index.php/organisasi/kode-etik-psikologi-indonesia lihat  juga lampirannya.

[2] Lih. http://www.apa.org/ethics/code/index.aspx

[3] Lih. Baik APA maupun HIMPSI, misal kaitanya dengan klien harus melindungi, menjaga privasi. Kalau sesama ilmuan harus saling menghormati.

[4] Lih. David B. Resnik, The Ethics of Science An Introduction (New York: Routledge, 1998).

[5] Lih. Ibid., h. 61

Facebook Comments