Ilustrasi (sumber: https://www.al-fanarmedia.org/2016/12/arabs-must-revive-teaching-arab-history/)

Bagaimana sebetulnya keterkaitan antara “sejarah” dan masa lampau? Bagaimana penulisan sejarah dan beragam penelitian dalam riset akademisnya mempertanggungjawabkan pengetahuan mengenai sejarah? Apakah sejarah merupakan sesuatu yang terbukti secara empiris dan dengan demikian merupakan sebuah korespondensi antara penulisan sejarah dan peristiwa yang sungguh terjadi di masa lampau? Atau, apakah sejarah lebih merupakan sesuatu yang diciptakan dan dibuat oleh sejarawan, melalui media bahasa (language), dengan kerangka berpikir tertentu, yang dengan demikian lebih menyerupai representasi daripada korespondensi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut secara masif terutama muncul di era postmodern dalam konteks penelitian sejarah. Salah satu kemungkinan muara dari beragam pertanyaan ini adalah isu berakhirnya sejarah (the end of history).

Berakhirnya sejarah merupakan sebuah isu tersendiri dalam ranah pemikiran mengenai sejarah yang gencar dipikirkan oleh para pemikir postmodern. Sejarah dikatakan “berakhir” (the end of) ketika mengalami krisis representasi (crisis of representation). Salah satu dari pemikir itu adalah Alun Munslow. Ia adalah seorang sejarawan yang dikenal dengan pendekatan dekonstruksionis dan postmodernisnya terhadap historiografi.[1] Terkait berakhirnya sejarah, Munslow mempertanyakan apakah kita sungguh dapat menjangkau realitas sejarah. Ia menjawab: tidak. Munslow berasumsi bahwa berakhirnya sejarah itu dimungkinkan sebab menurutnya sejarah telah jatuh pada sebuah korespondensi belaka antara penulisan sejarah dengan kejadian-kejadian yang per se terjadi di masa lampau. Posisinya tegas melawan para peneliti empiris yang berupaya memaparkan “past reality for what it actually was and what actually happened”.[2] Menurut Munslow lagi, bila cara bertindak demikian yang diikuti, maka berakhirlah sudah sejarah. Di dalam tulisan singkat berikut, penulis akan memaparkan posisi Alun Munslow ini melawan para pemikir empiris sejarah. Setelah itu, penulis akan menunjukkan bagaimana Munslow mencoba mengatasi krisis ini. Di akhir tulisan, penulis akan menyertakan kritik terhadap pemikiran Munslow ini yang diberikan oleh M.C. Lemon, serta tanggapan dari penulis pribadi.

Sejarah: Korespondensi Narasi dan Realitas?

Alun Munslow berpendapat bahwa di dalam dunia pemikiran kontemporer atau postmodern, permasalahan sejarah terletak pada sejarah yang kerapkali dipandang sebagai sebuah penelitian empiris yang didasarkan pada keakuratan korespondensi antara masa lalu, interpretasi sejarah, dan representasi narasinya. Padahal, lanjut Munslow, konsep seperti ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Munslow sendiri mengatakan demikian, “Instead of beginning with the past we should start with its representation, because it is only by doing this that we can challenge belief that there is a discoverable and accurately representable truthfulness in the reality of the past” (tekanan dari penulis).

Munslow menekankan bahwa sejarah harus menjadi sebuah refleksi diri yang terkait erat dengan pemikiran filosofis sebagai sebuah kerangka berpikir tersendiri dalam diri individu. Maka, menurut Munslow, kita tidak bisa naïf mengatakan bahwa penulisan sejarah benar-benar murni mencerminkan sebuah realitas peristiwa yang terjadi di masa lampau.

Pendapat Munslow tersebut sedikit banyak mencerminkan posisinya sebagai pemikir dekonstruksionis bahwa yang lebih kita butuhkan adalah proses dekonstruksi teks untuk mencapai kenyataan atau realitas sejarah melalui media bahasa. Dari pendapat Munslow tersebut, kita dapat melihat bahwa alih-alih memulai dengan masa lalu, kita haruslah memulai dengan representasi narasi. Mengapa demikian? Sebab bila kita memulai dengan representasi narasi, kita dapat betul-betul kritis melihat apakah representasi tersebut sungguh secara akurat merepresentasikan kebenaran akan realita yang terjadi di masa lalu. Kita benar-benar membongkar selubung-selubung realita masa lalu.[3] Dengan kata lain, bagi Munslow, realitas sejarah lebih merupakan sebuah titik akhir ketimbang titik keberangkatan. Dalam hal ini, Munslow tidak sendirian. Seorang sejarawan Amerika bernama Charles Beard bahkan mengatakan bahwa sejarah tidak pernah obyektif, sebab seorang sejarawan tidak pernah bisa melakukan observasi atas peristiwa-peristiwa sejarah sebagaimana seorang ilmuwan kimia melakukannya dalam observasi laboratorium. Hal ini terlebih disebabkan karena terfragmentasinya peristiwa-peristiwa sejarah dan seorang sejarawan harus memilah dan memilihnya berdasarkan kerangka pikir tertentu.[4]

Untuk mendukung tesisnya ini, Munslow mengajukan argumentasinya terkait penolakan terhadap pola pikir empirisme tersebut. Munslow (dan pemikir postmodernis secara umum) menolak pola berpikir empiris yang berusaha mendapatkan pengetahuan yang “benar” dan “objektif”. Bagi Munslow, para pemikir empiris (yang juga dianggap oleh Munslow sebagai tradisionalis) ini percaya bahwa ada pengetahuan tentang realitas sejarah yang independen terhadap pikiran para sejarawan. Dengan kata lain, subyek dan obyek dipandang terpisah satu sama lain sebagaimana pikiran dan realitas sejarah yang diasumsikan demikian pula. Alun Munslow dengan demikian menolak cara berpikir para empiris. Tidak hanya menolak, ia bahkan menilai bahwa para pemikir empiris gagal melihat adanya beragam interpretasi dari sebuah sejarah.

Bagi Munslow, realitas sejarah lebih merupakan sebuah titik akhir ketimbang titik keberangkatan. Dalam hal ini, Munslow tidak sendirian. Seorang sejarawan Amerika bernama Charles Beard bahkan mengatakan bahwa sejarah tidak pernah obyektif, sebab seorang sejarawan tidak pernah bisa melakukan observasi atas peristiwa-peristiwa sejarah sebagaimana seorang ilmuwan kimia melakukannya dalam observasi laboratorium.

Munslow melanjutkan bahwa pengetahuan tentang realitas sejarah sebetulnya tidak independen dengan pikiran sejarawan sebagaimana dikatakan para pemikir empiris. Ada keterkaitan di antara keduanya. Sebagaimana adanya keterkaitan antara pikiran sejarawan dan realitas sejarah, bermula dari representasi narasi, Munslow berpendapat bahwa kita kemudian dapat melihat pentingnya sebuah bahasa dalam melakukan mediasi di antara keduanya. Secara lebih spesifik, sebetulnya Munslow tertarik untuk melihat implikasi lebih jauhnya dalam narasi. Ia melihat bagaimana narasi memiliki kekuatan besar dalam mengisahkan sejarah. Bagaimanapun, persis di sinilah kita tahu bahwa narasi adalah sebuah pengisahan akan masa lalu, maka ia bukanlah benar-benar sejarah yang senyatanya terjadi (history as it actually happened). Narasi selalu merupakan ekspresi figuratif (figurative expression) dari masa lalu ketimbang representasi langsung darinya. Dengan kata lain, Munslow sebenarnya ingin bertanya: sungguhkah narasi sejarah yang dibuat oleh sejarawan sungguh per se adalah hal-hal yang terjadi di masa lalu?

Seorang ahli teori sejarah, Hayden White, menjawab pertanyaan Munslow itu dengan mengatakan bahwa tidak ada korespondensi sama sekali antara narasi sejarah sebagai sebuah bentuk dengan “isi” aktual dari pengalaman di masa lalu. White mengambil jalan yang sangat radikal. Alih-alih mengikuti White, Munslow sendiri mengatakan bahwa meskipun sebuah narasi sejarah merupakan sebuah karya literal, hal ini tidak berarti bahwa tidak ada kaitannya sama sekali antara narasi sejarah dan pengalaman aktual di masa lalu.

Berakhirkah Sejarah?

Posisi Munslow dengan tegas mengatakan bahwa sejarah tidak dapat lagi bertumpu pada suatu kebenaran yang tak terbantahkan, obyektif, dan faktual. Meski demikian, sejarah bukannya tanpa masa depan. Masih ada harapan bagi kita untuk mampu menggali pengetahuan yang benar akan masa lampau. Bagaimana lantas “sejarah” alternatif yang ditawarkan Munslow sebagai jalan keluar? Munslow menawarkan sebuah jalan “self reflexivity” sebagaimana ia katakan demikian,

“[G]ood history… is that which is self-reflexive enough to acknowledge its limits, especially aware that the writing of history is far more precarious and speculative than empiricists usually admit… [W]e may grasp more of the richness of historical analysis by incorporating into the study of the past the intertextual nature of history as a discourse. What it does mean is that he/she will write about a past within a self-conscious framework. It means accepting… the historian’s dialogue with sources that do not necessarily correspond to the past and acknowledge that they are not projections of what actually happened because they are non-referential.”[5] (tekanan dari penulis)

Dari kutipan tersebut, kita melihat bagaimana Munslow menekankan bahwa sejarah harus menjadi sebuah refleksi diri yang terkait erat dengan pemikiran filosofis sebagai sebuah kerangka berpikir tersendiri dalam diri individu. Maka, menurut Munslow, kita tidak bisa naïf mengatakan bahwa penulisan sejarah benar-benar murni mencerminkan sebuah realitas peristiwa yang terjadi di masa lampau. Realitas di masa lalu sebagai sebuah sejarah lebih merupakan sebuah proses interpretasi tanpa henti dari seorang sejarawan di mana tindak imajinasi, analisis, asumsi, dan gaya-gaya figuratif ambil bagian di dalamnya. Maka, bagi Munslow, sejarah selalu terkait dengan bukan hanya asumsi ideologis dan budaya dari pembaca dan penulis sejarah, tetapi juga terkait erat dengan terminologi dan bentuk bahasa yang digunakan.

Menurut Munslow, konsep sejarah lebih terkait erat dengan sebuah kesadaran diri akan komposisi narasi yang terjadi “kini dan di sini”, serta mengakui adanya bentuk-bentuk literal yang menjadi media kognitif dalam penyampaian narasi. Dengan demikian, sejarah tidak berarti hanya pelaporan kejadian semata (not merely its mode of report). Hal ini mengapa Munslow kemudian mengatakan bahwa masa lampau tidak sama dengan sejarah.

Munslow melanjutkan bahwa selalu ada kerangka berpikir yang digunakan untuk mengorganisir data dan fakta untuk menuliskan sejarah, misalnya saja pendekatan Marxisme terhadap sejarah. Entah seorang sejawaran itu sadar atau tidak, tetapi yang pasti mereka selalu menggunakan sebuah cara atau kerangka berpikir tertentu dalam menuliskan sejarah. Maka, sebetulnya kurang lebih Munslow hendak mengikuti ide dan cara berpikir Francis Fukuyama dalam bukunya yang berjudul The End of History and the Last Man, yang mengatakan bahwa fakta sejarah tidak pernah betul-betul murni dan bersifat “innocent”, sebab ia akan digunakan dalam cara berpikir dan konteks budaya tertentu oleh seorang sejarawan. Suatu hal yang mustahil untuk memisahkan seorang sejarawan dan cara berpikir yang pasti melekat dalam dirinya.[6]

Meskipun dari penjelasan di atas tampak bahwa kelihatannya konsep sejarah postmodern sama sekali tidak bertendensi untuk mengetahui masa lampau “sebagaimana nyatanya terjadi”, akan tetapi Munslow menekankan bahwa hal ini tidak berarti para pemikir postmodern adalah anti-sejarah. Bagi Munslow, konsep sejarah lebih terkait erat dengan sebuah kesadaran diri akan komposisi narasi yang terjadi “kini dan di sini”, serta mengakui adanya bentuk-bentuk literal yang menjadi media kognitif dalam penyampaian narasi. Dengan demikian, sejarah tidak berarti hanya pelaporan kejadian semata (not merely its mode of report). Hal ini mengapa Munslow kemudian mengatakan bahwa masa lampau tidak sama dengan sejarah. Ia mengutip Elizabeth Tonks yang memilih menggunakan frase kata “representations of pastness” daripada “history”.[7]

Kritik Lemon terhadap Munslow

Bagaimana lantas kita menimbang pemikiran Alun Munslow ini? Ada beberapa kritik yang diberikan oleh M.C. Lemon[8] terhadap pemikiran Munslow. Pertama, Lemon mengatakan bahwa Munslow mengajukan sebuah alternatif sejarah dalam konsep “self-reflexivity” atau kesadaran diri (self-awareness). Hal ini tentu mengandaikan para sejarawan selalu sadar (aware) dalam setiap situasi dan terutama sadar akan konteks yang mempengaruhi dirinya. Akan tetapi, Lemon berpendapat bahwa tidak mudah untuk melihat kontribusi usulan Munslow ini mengingat “self-reflexivity” mensyaratkan penilaian terus-menerus dalam tingkatnya yang paling dasar.

Kedua, akan tampak jelas bahwa di bawah panji era postmodern, banyak disiplin sejarah akan berbicara tentang tulisan-tulisan para sejarawan ketimbang menghasilkan tulisan sejarah itu sendiri. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang bersifat kontra-produktif, sebab kritik mengenai tulisan sejarah akan lebih banyak muncul daripada tulisan-tulisan sejarah itu sendiri yang seharusnya menjadi hal utama dalam isu mengenai sejarah.

Ketiga, kritik terkait dengan pertanyaan sentral Munslow, yakni tentang narasi. Munslow seharusnya dapat membedakan antara apa yang disebut dengan “mega histories” atau “blockbuster” dan kisah-kisah non-“mega histories”. Di dalam “mega histories”, seseorang berupaya untuk mengungkap kisah-kisah yang besar seperti sejarah Amerika Serikat, sejarah filsafat Barat, atau sejarah budaya Eropa. Tidak mungkin terjadi sebuah kontinuitas dalam pengkisahan sejarah. Padahal, menurut Lemon, tidak semua sejarah merupakan “mega histories”. Ada kisah-kisah non-“mega histories” yang mengandung sebuah sekuensi berkelanjutan dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Lemon menyebut sekuensi berkelanjutan ini sebagai “story-object” atau “narrative identity”.

Tanggapan Penulis

Setelah menelisik argumentasi Munslow dan melihat kritik Lemon terhadapnya, ada tiga tanggapan yang hendak penulis sampaikan dalam bagian penutup tulisan ini. Pertama, menurut penulis, apa yang dipikirkan oleh Munslow bukannya tidak memiliki daya guna. Usul Munslow untuk melihat adanya kerangka pemikiran dan konteks tertentu yang “bermain” di balik penulisan sejarah supaya sejarah tidak mencapai titik akhir (the end of history) itu penting. Konsep tersebut tentu berguna terutama bagi pembacaan sejarah secara kritis. Lanskap pemikiran yang ada di balik penulis sejarah tidak bisa dihilangkan begitu saja. Sadar atau tidak, lanskap tersebut memiliki pengaruh terhadap tulisan-tulisan sejarah yang dihasilkannya. Maka, sekali lagi, penulis pribadi menilai bahwa gagasan dasar untuk menilai sebuah constructed text atau interpretasi atas realitas sejarah itu penting.

Kedua, meski begitu, apakah dengan demikian sungguh tidak ada sejarah yang obyektif yang dapat dicapai dalam penelitian-penelitian sejarah? Tendensi para pemikir postmodern sejarah mengatakan bahwa terdapat beragam interpretasi atas peristiwa faktual yang terjadi di masa lampau. Kalau titik demikian yang melulu diberatkan, maka penulis menilai bahwa pemikiran ini rentan jatuh dalam relativisme sejarah. Maksudnya, tidak pernah ada sejarah yang betul-betul obyektif. Bagaimana lantas hal ini perlu dinilai?

Christopher Blake mengatakan bahwa alih-alih bertanya apakah sejarah itu obyektif, lebih baik mengajukan pertanyaan: “Apakah yang membuat sejarah obyektif?” atau “Obyektivitas macam apa yang kita harapkan dari para sejarawan?”. Perlu disadari terlebih dahulu bahwa terminologi “obyektif” (objective) tidak sama dengan “benar” (true) atau tidak betul-betul berarti “hormat terhadap kebenaran” (respectful of the truth), meskipun sifat obyektif merupakan bagian dari sebuah sikap hormat akan kebenaran.[9] Terkait obyektivitas sejarah ini, Max Fisch menggambarkan demikian,

“The historian is not blamed for praising and blaming, and praised for doing neither, but blamed if antecedent judgments of value blind him to contrary evidence, and praised if his selection and treatment of evidence is clearly not unbalanced by the desire to support judgments formed in advance of the search for evidence… Objectivity is not absence of criticism, but unreserved submission to further criticism, complete openness, withholding nothing from judgment.”[10]

Ketiga, terkait bahasa sebagai media penulisan sejarah. Munslow mengatakan bahwa bahasa merupakan unsur yang penting dalam penulisan sejarah. Lebih dari itu, setiap bentuk narasi, entah itu fakta maupun fiksi, selalu berada dalam plot yang mengandung romantika, komedi, tragedi, atau satir. Oleh karena itu, perlu disadari sungguh bahwa penggunaan bahasa untuk menggambarkan peristiwa sejarah tertentu rentan mengandung resiko distorsi, kesan berlebihan, dan dramatis. Maka, ada sebuah resiko perubahan fakta dan realitas menjadi fiksi di dalam sebuah penulisan sejarah.


Catatan Akhir:

[1] Alun Munslow, yang lahir pada tahun 1947, adalah seorang profesor emeritus dalam kajian sejarah dan teori sejarah di Universitas Staffordshire. Selain di sana, ia juga mengajar di Universitas Chichester.

[2] Bdk. M.C. Lemon, “Munslow: The Problem with Mainstream History,” dalam Philosophy of History: A Guide for Students (London: Routledge, 2003), 370.

[3] Pemikiran Munslow ini memang tampak sejalan dengan pemikiran Jacques Derrida. Derrida mengatakan bahwa ketika membaca sebuah teks sejarah, kita harus menyingkap selubung metafisika kehadiran. Dekonstruksi terjadi saat saya membaca, saya membiarkan makna yang lain dan tertunda (karena terbatasi kata-kata) itu muncul. Meski demikian, Munslow tidak betul-betul mengikuti Derrida. Dekonstruksi baginya adalah “metonymically stands for an intellectual skepticism with regards many predominating assumptions and presuppositions held immutable in Western thinking and culture”. Bdk. http://yakmax.com/review-of-alun-munslows-deconstruction-history/, diakses tanggal 15 April 2017, pukul 11.36 WIB.

[4] Bdk. William H. Dray, Philosophy of History (London: Prentice Hall Inc., 1964), 22.

[5] M.C. Lemon, “Munslow: The Problem with Mainstream History,” 374.

[6] Bdk. M.C. Lemon, “Munslow: The Problem with Mainstream History,” 372.

[7] Bdk. M.C. Lemon, “Munslow: The Problem with Mainstream History,” 375.

[8] M.C. Lemon adalah seorang pengajar dalam bidang sejarah pemikiran politik dan teori politik di Universitas Ulster. Buku lain yang juga dipublikasikannya berjudul The Discipline of History and the History of Thought (1995).

[9] William H. Dray, Philosophy of History, 39.

[10] William H. Dray, Philosophy of History, 40.

Daftar Pustaka:

Lemon, M.C. “Munslow: The Problem with Mainstream History.” Dalam Philosophy of History: A Guide for Students. London: Routledge, 2003, hlm. 370-378.

Baker, Bernadette. “The Purposes of History? Curriculum Studies, Invisible Objects, and Twenty-first Century Societies.” Dalam https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=30&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjM796SwqXTAhVBp48KHcZRCD84FBAWCFAwCQ&url=http%3A%2F%2Fjournal.jctonline.org%2Findex.php%2Fjct%2Farticle%2Fdownload%2F409%2Fpdf&usg=AFQjCNFPRS2RgBWXf4oZLG8W8dZuIjM9Bg&bvm=bv.152479541,d.c2I. Diakses tanggal 15 April 2017, pukul 10.30 WIB.

Dray, William H. Philosophy of History. London: Prentice Hall Inc., 1964.

Sartono Kartodirdjo. Ungkapan-ungkapan Filsafat Sejarah Barat dan Timur. Jakarta: Gramedia, 1986.

van der Meulen, W.J. Ilmu Sejarah dan Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1987.

Facebook Comments