The old black: A visitor looks at Malevich’s ‘Black Square’ at Tate Modern Micha Theiner (Sumber: http://www.independent.co.uk)

Pada siang hari yang malas, dan didorong oleh keingintahuan saya perihal postmodernisme mulailah saya menyalakan laptop, membuka youtube, lalu menuliskan keyword what is postmodernism?”.[1] Kita sering mendengar atau bahkan menggunakan term postmodernisme di berbagai bentuk kebudayaan. Misalnya saja dalam musik, arsitektur, film, lukisan, atau bahkan dalam periodisasi filsafat. Namun, apa itu postmodernisme sebenarnya? Secara banal kita sering kali menjawab, postmodernisme adalah pandangan yang menggantikan zaman modernisme. Sialnya, kita tak tahu apa yang sebenarnya apa definisi yang tepat untuk postmodernisme.

Aliran postmodernisme didasari oleh ketidakpercayaan terhadap aliran modernisme yang dianggap telah gagal mewujudkan cita-cita yang mereka agung-agungkan yaitu ingin menyejahterakan seluruh umat manusia, tetapi malah sebaliknya, aliran modernisme dianggap telah gagal dan merusak tatanan kehidupan masyarakat.

Tentu saja postmodernisme tidak hadir dalam ruang hampa. Postmodernisme juga memiliki konteks sejarah mengapa pandangan tersebut muncul. Di zaman Yunani Kuno alam dianggap sebagai sesuatu yang menyimpan banyak misteri. Manusia di zaman itu mengkultuskan dewa-dewi dan menyelubungi segala fenomena alam dengan mitos. Dengan adanya doktrin tersebut alam menjadi sesuatu yang agung dan jika manusia ingin menjadi orang yang bijaksana, dia harus bisa menyesuaikan diri dengan alam. Dengan kata lain, mengutamakan keharmonisan antara manusia dengan alam. Seiring berjalannya waktu, zaman pun ikut berubah.

Pada awal abad ke-16 sampai puncaknya di abad ke-18 muncullah abad Pencerahan (Aufklarung).  Pada zaman itu, manusia tidak lagi memandang alam sebagai sebuah misteri besar, melainkan alam yang dapat diukur dan dipahami sedetail mungkin dengan sains. Berkembangnya paham positivisme juga mulai menjangkiti masyarakat di Eropa kala itu, masyarakat tidak lagi percaya pada mitos-mitos, namun pada fakta empiris. Dengan hadirnya paham tersebut, fenomena alam mulai mendapatkan penjelasan ilmiahnya, dan jejak-jejak metafisik tentang alam mulai hilang tertiup angin.

Di abad ke-19 dan 20 dunia mengalami zaman modern yang penuh dengan hiruk-pikuk mulai dari pertarungan ideologi, Perang Dunia I dan II, kolonialisme, serta kekacauan yang hadir karena keponggahan manusia dalam memandang dunia hanya dengan melalui rasio. Dunia seolah dipilah-pilah oleh sains dan tidak ada tempat untuk mengutarakan pendapat atau emosi dari pihak subjek. Setelah itu lahirlah aliran postmodernisme yang didasari oleh ketidakpercayaan terhadap aliran modernisme yang dianggap telah gagal mewujudkan cita-cita yang mereka agung-agungkan yaitu ingin menyejahterakan seluruh umat manusia, tetapi malah sebaliknya, aliran modernisme dianggap telah gagal dan merusak tatanan kehidupan masyarakat. Modernisme malah menciptakan masyarakat yang terlalu individualistik, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan yang pintar membodohi orang yang bodoh, serta negara yang kuat menjajah negara yang lemah.

Francois Lyotard mengatakan bahwa postmodernisme merupakan intensifikasi yang dinamis, yang merupakan upaya terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar, berupa penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, seperti Hegelian, liberalisme, marxisme, dan lain-lain.

Postmodernisme di Tengah Kekecewaan

Wacana postmodern menjadi popular setelah Francois Lyotard (1924) menerbitkan bukunya The Postmodern Condition : A Report on Knowledge (1979). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa postmodernisme merupakan kritik terhadap arus modernisme yang semakin menggusur humanisme dari manusia sendiri, melahirkan materialisme dan konsumerisme yang merusak lingkungan dan menguras semangat serta nilai masyarakat. Postmodernisme beraksi terhadap inti filsafat modernisme; Idealisme Descartes, Empirisisme Locke, dan Eksistensialisme Husserl, analisis logis Newton dan metode ilmiah Prancis Bacon.

Francois Lyotard mengatakan bahwa postmodernisme merupakan intensifikasi yang dinamis, yang merupakan upaya terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar, berupa penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, seperti Hegelian, liberalisme, marxisme, dan lain-lain. Postmodernisme dalam bidang filsafat dapat diartikan segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.

Sederet kekecewaan kepada modernisme diajukan oleh para postmodernis.[2] Pertama, modernisme gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana diinginkan para pendukung fanatiknya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada preferensi-preferensi yang sering kali mendahului hasil penelitian. Ketiga, ada semacam kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan – yang sesungguhnya tidak berdasar– bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia dan lingkungannya; dan ternyata keyakinan ini keliru manakala kita menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus terjadi menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisik eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik individu. Dengan demikian, postmodernisme mendeklarasikan diri sebagai kritik atas modernisme dan memulai merasuki berbagai bentuk kebudayaan masyarakat saat ini.

Kritik atas Postmodernisme

Kita mengetahui bahwa pembahasan filsafat sejak paruh kedua abad ke-20 didomininasi oleh wacana pascamodern yang mengemuka dalam dua varian utama: pertama, matinya narasi besar[3] tentang subjek, kebenaran dan emansipasi; kedua, pengutamaan pada persoalan bahasa dengan makna (sens) sebagai kategori utamanya.[4] Manusia selalu tersituasikan dalam konteks sosio-historis tertentu melalui bahasa, maka kebenaran absolut dan emansipasi total tak akan mungkin tercapai. Kemudian yang tersisa bagi manusia adalah makna dari segala kerentanannya—begitulah menurut para filsuf postmodern. Gianni Vattimmo, seorang filsuf religius dari Italia mengatakan:

“segala yang kita jumpai dalam pengalaman kita tidaklah lebih maupun kurang daripada sebuah interpretasi—hal-ikhwal di dunia senantiasa ditafsirkan dalam nilai-nilai subjektif kita sendiri, dan oleh karenanya satu-satunya dunia yang dapat dimengerti adalah dunia perbedaan (yakni, sebuah dunia interpretasi).”[5]

Dengan demikian, zaman postmodern ialah zaman yang menundukkan narasi besar—atas nama interpretasi—pada pluralitas makna yang partikular. Ketika proyek emansipasi secara tergesa-gesa dicap “totaliter” dan dengan begitu sah untuk diabaikan, ketika tugas filsafat hanya sebatas interpretasi tentang dunia dan tidak berusaha untuk mengubahnya.

Postmodernisme tidaklah lagi sejalan dengan tujuan awalnya sebagai kritik atas modernisme, melainkan sebaliknya. Postmodernisme hanyalah nama lain penindasan yang ternyata dipenuhi selubung keberagaman, penghargaan atas subjek, dan sebatas merayakan perbedaan interpretasi tanpa mempertanyakan kebenaran universal.

Peter Hallward mencatat ada empat model pemikiran postmodernisme yang dilawan Alain Badiou.[6] Pertama, sofisme kontemporer. Para filsuf macam Nietzsche, Lyotard, Derrida, Wittgenstein “akhir” berakar pada pengutamaan atas partikularitas, dan cenderung menolak totalitas. Seperti kaum Sofis di era Sokrates, para filsuf ini merelatifkan segala yang niscaya.

Kedua, tradisi hermeneutika dan Heideggerian. Tendensi yang berakar dari problem makna dan interpretasi ala Heidegger yang memandang pertanyaan filsafat yang paling mendasar ialah petanyaan soal makna Ada. Pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab manusia selaku Dasein (ia yang “ada-di-sana”), melalui interpretasi yang terwujud dalam laku hidup sehari-hari. Dengan penggantian antara kategori “kebenaran” dengan “makna”, dan kategori “praxis” dengan “interpretasi”, filsafat diarahkan pada persoalan kegelisahan individual untuk menemukan makna hidup. Dengan demikian, mereduksi kemampuan manusia dalam mengakses segala yang universal.

Ketiga, tendensi anti-filsafat. Mendiskreditkan pemikiran menjadi sesuatu yang tak terpikirkan, seperti para filsuf macam Pascal, Rousseau, Kierkegaard, dan J. Lacan. Mereka semua membatasi kapasitas pemikiran dengan menutup semua akses langsung pada kebenaran. Kalau pun ada yang disebut kebenaran, bagi mereka, hal tersebut hanya dapat dicapai dengan alat yang non-rasional, baik itu lewat iman, intuisi estetis maupun ketidaksadaran.

Keempat, orientasi kemandirian. Tercakup dalam kategori komunitarian dan multikulturalis. Orientasi yang mempartikularkan yang universal dengan menjadikannya fenomena kultural yang beragam di masing-masing komunitas. Meminjam istilah Plato, hal ini sama saja dengan mengubah episteme (pengetahuan yang benar) menjadi doxa (opini umum). Konsekuensi politisnya ialah tunduk pada epistemik rezim yang berkuasa yang terinternalisasikan dan direproduksi ulang atas nama “norma masyarakat”.

Dengan demikian, postmodernisme tidaklah lagi sejalan dengan tujuan awalnya sebagai kritik atas modernisme, melainkan sebaliknya. Postmodernisme hanyalah nama lain penindasan yang ternyata dipenuhi selubung keberagaman, penghargaan atas subjek, dan sebatas merayakan perbedaan interpretasi tanpa mempertanyakan kebenaran universal.


Catatan Akhir:

[1] Berikut adalah judul video  Youtube yang saya tonton What the !@#$ is Postmodernism? Diupload oleh YumChunks pada 20 Januari 2013. Diakses pada hari Minggu, 27 Agustus 2017, di alamat link: https://www.youtube.com/watch?v=b9NkwlFK7UM

[2] Lih. Akbar S Ahmed, Postmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam, (Bandung: Mizan), 1992.

[3] Lih. Jean-Francois Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, terjemahan Geoff Bennington dan Brian Massumi, (Manchester: Manchester University Press), 1992, hal. xxiv.

[4] Lih. Jean Hyppolite, Logic and Existence, terjemahan Leonard Lawlor dan Amit Sen, (New York: SUNY Press), 1997, hal. 4-6.

[5] Lih. Gianni Vattimo, The Endo f Modernity: Nihilism and Hermeneutics in Post-modern Culture yang dikutip dalam Nicholas H Smith, Strong Hermeneutics: Contingency and Moral Identity, (London: Routledge), 1997, hal. 16.

[6] Peter Hallward, Badiou: A Subject to Truth, (Minneapolis: University of Minnesota Press), 2003, hal. 16-28.

LEAVE A REPLY