Sumber: blog.chinadaily.com.cn
Sumber: blog.chinadaily.com.cn

Kalender: Produk Sains dan Kebudayaan

Orang Jawa punya aturan kalender—penanggalan—sendiri, orang Sunda pun juga begitu. Tidak hanya dua sistem kerabat besar itu, hampir semua primordialitas kesukuan di Indonesia punya. Dalam rentang geografis yang sempit, kita ambil saja contoh Jawa. Oke, agar lebih ilmiah dan tidak merusak kredibilitas saya sebagai penggelut filsafat ilmu dan abdi dalem pem-filsafat-an kearifan lokal, Jawa yang dimaksud dalam tulisan ini adalah rentang Jawa Timur-Jawa Tengah-Jawa Barat; mengikuti pembagian Londo.

Secara legal-kultural seluruh daerah yang ada dalam struktur kekuasaan keraton Yogyakarta-Surakarta: seluruh Jawa kecuali Batavia, Banyuwangi, dan Banten, seharusnya mengikuti Kalender Saka—sering ditulis Caka—yang dibuat Sultan Agung. Tapi apa semua daerah kekuasaan beliau mengikuti sistem Kalender Saka? Kita jelaskan nanti, yang jelas Kalender Saka menjadi satu sistem penanggalan yang cerdas sebab memadukan sistem  Islam,  Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian. Sayang tulisan ini tidak hendak membahas bagaimana kecanggihan sistem matematiko-induktif dan kecermatan mata Sultan Agung melihat sudut langit menerka gerak bintang dan bulan.

Tulisan ini akan menggeser persoalan penentuan kalender yang dalam metodenya menggunakan pendekatan saintifik (matematik-astronomis) ke  dalam pendekatan kebudayaan, pendekatan makna sejauh makna dipahami sebagai ranah di luar sains fisiko-induktif. Kalender akan dilihat sebagai suatu produk budaya dalam rentang pemahaman kebudayaan sebagai domain yang berbeda dengan ranah saintifik empiris-objektif. Bodoh-bodohannya seperti ini: walaupun MUI telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 14 Desember, secara objektif-saintifik umat harusnya tersenyum menyambut hari kemenangan. Tapi bagi seorang mahasiswa filsafat tanggal itu adalah tanggal duka. 14 Desember adalah pertama kali saya dikhianati orang yang paling saya percaya.

14 Desember sebagai realitas objektif, jelasnya suatu basis ontologi yang menjadi penanda untuk kita mengenal, menjalankan, dan menandai aktivitas kita selama satu hari itu, memang sebuah produk saintifik ilmu penanggalan. Tetapi ketika kita memberi satu atribut tambahan pada esensialitas 14 Desember menjadi 14 Desember Berduka, maka pemaknaan atas realitas itu pun mesti dilakukan dengan satu pendekatan yang berbeda, yang tidak lagi saintifik-empiris. Sebab penambahan atribut pada sistem metafisik akan membawa pengaruh pada atribut kenampakan lainnya, walau secara esensial memang 14 Desember tetap hasil satu kesepakatan masyarakat ilmiah. Tetapi dalam ranah praksis, penambahan atribut ‘berduka’ pasti berpengaruh paling tidak pada kenampakan wajah subjek penambah atribut tersebut: wajahnya muram, cemberut, dan mulai sering up date status.

Dengan menambahkan satu atribut emosional-subjektif di belakang esensialitas produk sains, kita bisa mengafirmasi kekayaan sistem penanggalan berbagai suku yang ada di negeri ini secara ilmiah. Pun jika hendak ada yang mengkritik cara saya mengafirmasi, tidak apa-apa. Jika afirmasi dan kemudian justifikasi ilmiah tidak bisa dilakukan paling tidak saya telah mendapatkan satu penjelasan yang memadai mengapa ada kepercayaan tentang hari baik, tanggal baik, bulan baik  begitu merasuk mengalahkan segala otoritas ilmiah. Coba sekali-kali piknik ke Madura, dan berkelilinglah dari satu desa ke desa lain, setiap otoritas kiai sebagai manifestasi masyarakat ilmiah di Madura mempunyai peramalan hari baik yang berbeda-beda tiap desa, tergantung kiai-nya siapa. Tidak percaya, silakan tanya Kiai Taufiqurrahman. Hal ini juga menjelaskan mengapa sistem kalender Sultan Agung yang ilmiah juga mistik, kadang kalah populer dengan ramalan hari baik dukun-dukun semi kiai di Madura, padahal Madura berada dalam lingkup kekuasaan keraton. Memang dasar Madura! (Pelecehan, silakan lapor polisi!!!)

Ada Apa dengan September?

Tulisan pada sub-bab sebelumnya saya maksudkan untuk memberi latar pada pembahasan saya di sub-bab ini. Tanpa pemberian konteks dan pemahaman akan setiap pendekatan dalam konteks tertentu kita hanya akan memahami segala sesuatunya dengan otoriter. Secanggih apa pun taraf ke-filsufan saya, tanpa saya memahami berbagai macam konteks berikut juga model-model pendekatan khas setiap konteks, percayalah saya hanya akan jadi seorang anggota FPI, tentu saya tidak mau, mending jadi sales sepatu: ngotot tapi dapat uang.

Baiklah, langsung saja ke soal inti.

Bagi teman-teman aktivis semi intelektual, atau intelektual semi aktivis yang tahu sejarah, September adalah bulan darah, bulan berduka. Tepatnya pada medio 60-an terjadi satu malapetaka sejarah yang buntutnya membawa masalah hingga kini. Pembunuhan para jenderal utama angkatan darat yang kemudian dilanjutkan dengan tuduhan pada PKI sebagai dalang kejam yang membunuh dan menyiksa para jenderal menyebabkan satu malapetaka sosial-politik yang panjang. Simpatisan PKI ataupun yang dituduh berbau keringatnya D.N. Aidit atau Nyoto harus disikat habis.

Kekuasaan bergeser, masyarakat  berubah. Titik jangkau pengamatan kita atas dunia semakin menemui hal-hal baru. Kita pun dituntut memperluas atau melakukan alih ragam (transformation) cara kita mengamati kenyataan. Konsekuensi akhirnya adalah menerima kenyataan keharusan  untuk mengubah dan memperluas cakralawa kepengamatan atas dunia.

Singkat cerita, penyelidikan sejarah pasca reformasi membuktikan bahwa tuduhan PKI sebagai dalang di balik geger politik 1965, adalah palsu belaka. Literatur sejarah akhirnya membuat mata kita semakin jernih bahwa kejahatan yang sesungguhnya bukan pada pembunuhan para jenderal, melainkan pembunuhan massal terhadap orang biasa, rakyat kecil yang tak tahu apa-apa yang terjadi selepas pembunuhan elite AD. Sejak itu September bukan hanya penanda ontologis dari sebuah produk sains, atau realitas penanggalan saintifik, melainkan di belakang September ada atribut ‘berduka’, sebuah atribut kebudayaan. Tapi benarkah, ‘berduka’ yang diatributkan di belakang September adalah produk luapan emosional kebudayaan?

Dengan penambahan atribut, cara kita memahami September pun harus diubah.

Saya sering merasa lucu jika ada yang mengatakan aktivis kiri yang berteriak meminta keadilan atas kejahatan HAM masa lalu, sebagai orang kurang kerjaan, atau gagal move on lah atau berbagai macam bahasa moral lain. Salah satu fungsi bahasa moral adalah menunjuk atau merendahkan subjek. Dalam ranah diskusi ilmu pengetahuan pengunaan bahasa tersebut adalah bentuk solipsisme, tidak menjelaskan apa-apa, tetapi menyerang subjek, tidak menyasar inti argumentasi. Lihatlah, setiap yang berambut panjang di masa Orba selalu dikatakan tidak tertib, tidak baik, bahasa canggihnya dekaden lah yaww.

Memang secara objektif kita tidak pernah tahu bagaimana kepala-kepala bergelundungan, darah-darah tercecer di jalan-jalan bersama tubuh-tubuh koyak-moyak. Percayalah, tiada fakta objektif yang membuat kita sahih untuk mengatakan rekonsiliasi korban 1965, atau menulis artikel September Berduka. Olehnya, atribut ‘berduka’ di belakang term ‘September’ seperti juga kategori hari baik ala orang Madura: Senin baik untuk daftar sekolah; Rabu jangan nikah; galau hari Kamis saja.

Tapi ingat, rentang objektivitas itu luas. Pemahamannya memerlukan kontekstualisasi historis dan metodologis yang canggih. Oleh karenanya perlu separasi pada ranah epistemologis tentang model penanggalan hari baik, dengan soal September berduka. Hanya lewat separasi (pemisahan) pada ranah pemahaman tersebut kita dapat mendapatkan satu konteks argumen yang pas. Mereka yang mengatakan bahwa intelektual-aktivis muda yang menuntut keadilan atas sejarah pelanggaran HAM di masa lalu adalah kurang kerjaan atau tidak ada dasar objektif, tentu amat keliru dan bermasalah. Posisi saya pada penjelasan ini hanya sebagai abdi dalem kearifan lokal, ya… bukan aktipis, atau intelektual. Jika ada pretensi intelek percayalah itu caper!

Memang tidak ada konteks empiris (nampak, terindrai: nyata) yang kemudian menjadi basis utama penyandaran atribusi emosional kata ‘berduka’ setelah term ‘September’. Anak-anak muda yang ikut bergerak nyata menyuarakan keadilan atas kejahatan HAM di masa lalu itu, mengambil basis sikap objektifnya lewat hasil ilmu sejarah. Gampangnya kata ‘berduka’ yang mereka atribusikan setelah ‘September’ bukan hanya sebab galau atau gagal move on, tapi lebih pada sebab mereka tahu dan membaca sejarah. Jadi tidak tepat dan bermasalah jika kata ‘berduka’ kita pahami dalam definisi bahasa emosi atau moral. Perjuangan mereka bukan perjuangan moral baik-buruk, tetapi perjuangan objektivitas melawan kesewenangan-wenangan bahasa moral subjektif antek-antek Orba.

Kalender memang produk saintifik. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan kita sering menggabungkan unsur subjektif-emosional ke dalam satu kesetangkupan baru yaang memaksa sebuah pemahaman baru juga. Term ‘September berduka’ yang digunakan anak-anak muda untuk memprotes sikap pemerintah yang kemayu pada penanganan tragedi ‘65 dan kejahatan HAM masa lalu lainnya, adalah murni term objektif dari ilmu sejarah. Sejarah hadir pada mereka dalam bentuk hasil ilmu yang objektif (dalam skala humaniora) yang membuat mata anak muda itu melek dan sadar konteks. Suatu saat saya semoga bertemu salah satu dari mereka.

September berduka adalah pertemuan antara cakrawala objektivitas saintifik-empiris-matematik dengan objektivitas saintifik-humaniora. Sebuah simbiosis mutualisme yang kata Romo Sindung Kuliahsaja berbeda dengan simbiosis mutu ora mutu. Olehnya, anak muda dengan September berduka digerakkan oleh sebuah kenyataan masa lalu. Kenyataan yang mereka ketahui dari buku-buku John Rossa (Dalih Pemunuhan Massal) Fransiska Ria Susanti (Kembang Genjer) atau penyelidikan sejarah dengan pendekatan kritis-nya, Ruth McVey, Saskia Wierengga, Asvi Warman Adam, Bambang Purwanto, Hilmar Farid dan banyak lagi. Dengan itu mereka berdiri setiap kamis di depan istana negara: MELAWAN LUPA!!!

Menolak Lupa atau September Ceria

Novelis Ceko Milan Kundera, dalam satu novel semi esai-nya Kitab Lupa dan Gelak Tawa—yang menurut beberapa tafsiran—ingin menjawab: “Apa yang ditinggalkan manusia setelah dia mati?” Jawabanya adalah : masa lalu. Olehnya kata Kundera perjuangan melawan kezaliman rezim adalah perjuangan ingatan melawan pelupaan.

Mengapa anak-anak muda berteriak September berduka, sebab dia tahu impunitas (pemutihan) adalah strategi paling berbaya bagi setiap yang berusaha bersikap kritis-objektif terhadap masa lalu. Mekanisme impunitas terjadi lewat pelupaan yang dimobilisasi secara struktural. Contohnya, buku-buku sejarah untuk anak-anak sekolah hanya menceritakan masa lalu kejadian ‘65 sebagai keberhasilan Orde Baru menumpas PKI. Banyak sekali contoh tentang itu, silakan cari sendiri.

Saya tiba-tiba teringat lagu September Ceria dari tante Vina Panduwinata. Baiklah saya akan mengutip salah satu bait sesuai kepentingan saya. Sengaja kata kekasih saya ubah jadi sejarah:

Kasih Sejarah… kau sikap tirai kabut di hatiku

Isi harapan baru

Untuk menyongsong harapan bersama

Selain dorongan dari fakta objektif masa lalu kejahatan kemanusiaan di bulan September, anak muda menolak lupa juga didorong satu keinginan melihat masa depan untuk menyongsong harapan bersama. Indonesia sebagai sebuah nation menurut Om Ben Anderson mungkin ketika setiap bagian dari masyarakatnya memiliki kemampuan membayangkan suatu cita-cita bersama. Olehnya, nation sebagai komunitas adalah komunitas yang mampu membayangkan, berimajinasi, Immagined Communities. Tentu imajinasi yang digerakkan dari dan oleh yang nyata.

Akhirulkalam, entah sekarang Anda sedang berduka, ceria atau galau. Entah Anda kiri, kanan, tengah, atas, atau bawah, yang jelas ini bulan September. INI BULAN SEPTEMBER, AKHIR BULAN LAGI, apa yang ada dalam pikiranmu?

Bulaksumur 29/09/15

Danang TP
Pelaku sejarah, belajar filsafat ilmu, aktif mengorganisir diri sendiri.

LEAVE A REPLY