Sumber gambar: jrbenjamin.com

Dari ujian doktoral. Apa tugas semua perguruan tinggi?

Mengubah manusia menjadi mesin.

Dengan cara apa?

Dia harus belajar bagaiamana merasa bosan.

(Nietzsche, SB:PPMBW $29)

/1/

Bukan sebuah kebetulan, bahwa saya seharusnya diwisuda tepat pada tanggal kematian sang Hujjatul Falasifah, Syaikh Maulana Friedrich Nietzsche (Karomallahu wajhah) (25/08), dan hanya tersebabkan oleh alasan yang tak begitu masuk akal kemudian diajukan pada H-1 perayaan haul-nya (24/08/16).

Tentu, bagi seorang sarjana filsafat, ia tetap harus mempertanyakan apa arti sebuah tanggal jika sisa hari dari tahun kabisat pun masih saja terpatrikan secara arbitrer, dan perayaan semacam ini pun kemudian tak akan pernah memiliki pijakan ontologis yang cukup adequate, jika bukan tak masuk akal. Oleh sebab yang demikian, saya pun mengambil momentum lain yang mungkin cukup dapat menjadi kerangka alasan yang lebih filosofis, jika bukan sentimentil; bahwa saya baru saja menjadi seorang sarjana, sementara Nietzsche telah lama meninggalkan kesarjanaan itu. Karena bagi Nietzsche, para sarjana hanyalah kumpulan para ‘pemecah kacang’ (Nüsseknacken)[1].

Secara akademis, Nietzsche memang bukan lagi seorang sarjana semenjak menuliskan buku Die Geburt der Tragödie/Lahirnya Tragedi (DGT); buku yang sempat menuai kritik panjang dari teman sejawatnya, Ulrich von Wilamowitz. DGT tak lain merupakan catatan buruk dalam rekam jejak kesarjanaan Nietzsche yang menyulut kemarahan para filolog Jerman masa itu. Nietzsche, sebagai seorang profesor filologi dinilai telah menyalahi kode etik sebagai seorang akademisi karena mempermainkan kisah ‘Tragedi Yunani’ melalui spekulasi-spekulasi filosofis.

Apa yang salah dengan tradisi kesarjanaan Eropa saat itu sehingga Nietzsche dengan tegas menyatakan untuk keluar seraya berkata: Zu lange sass meine Seele hungrig an ihrem Tische (begitu lama jiwaku terduduk lapar di atas meja mereka—para sarjana)? Tentu banyak aspek dari proyek pencerahan yang ditolak Nietzsche, yang salah satu hal terpentingnya adalah proklamasi kemerdekaan sains dari filsafat[2].

Nietzsche sangat memandang sinis pada sains yang setelah keberhasilannya menghancurkan kredo teologi (gereja) melalui revolusi Copernican, kemudian mencoba untuk menciptakan hukum-hukum bagi filsafat. Tentu ini merupakan kritik atas proyek positivisme August Comte yang telah menginspirasi para ilmuwan muda, yang ambisius akan objektivitas dalam kotakan-kotakan kecil dari spesialisasi ilmu pengetahuan yang selalu diklaim sebagai satu-satunya pemilik kebenaran. “Dan pada akhirnya,” kata Nietzsche:

Bagaimana mungkin dapat terjadi sebaliknya? Sains adalah bunga pada hari ini, dan kesadaran baiknya tertulis semua pada wajahnya. Sementara, filsafat secara perlahan menjadi sampah, membangkitkan kesangsian dan kemurungan jika tidak dicemooh dan dilihat dengan pandangan penuh belas kasihan. Filsafat telah berubah menjadi suatu ‘teori pengetahuan’, sama sekali tidak lebih dari eposisme pemalu dan doktrin tentang pembuangan; filsafat yang bahkan tidak mampu keluar dari batas ini, yang dengan sangat hati-hati menolak hak masuk yang diberikan: ini adalah filsafat yang tengah menghembuskan nafas terakhirnya, sesuatu yang mengundang perasaan belas kasihan. Bagaimana mungkin filsafat seperti ini –dapat menjadi tuan?[3]

Masih banyak yang harus kita pertanyakan: apa yang sebenarnya kita sebut dengan prestasi? Apa yang sesungguhnya kita katakan sebagai moral? Tentu kita bukan anak kecil lagi untuk mencoba memahami perkara ini. Bahwa prestasi adalah ukuran dari segala keberhasilan yang kita peroleh, senyatanya kita tidak pernah atau bahkan enggan mempertanyakan perihal ketepatan asumsi ontologis dari ukuran yang kita gunakan.

Permusuhan Nietzsche terhadap zamannya juga tidak terlepas dari pandangannya bahwa seorang filsuf haruslah merupakan manusia esok dan lusa. Sehingga dengan demikian, ia akan selalu dan telah berada dalam konflik dengan sekarang[4]. Dapat dikatakan bahwa tugas seorang filsuf adalah menjadi musuh dari ‘kekinian’, bukan dengan semangat konservatif untuk memelihara kelokalan yang selalu dianggap arif, melainkan semangat kritis demi transformasi masa depan. Karena lagi-lagi bagi Nietzsche, filsuf adalah manusia masa depan, yang oleh karena itulah Nietzsche menyatakan bahwa seluruh tulisannya akan baru terpahami setelah 2 abad kematiannya.

/2/

Adalah sebuah keberuntungan bahwa saya bukanlah mahasiswa berprestasi sebagaimana Nietzsche yang pada usia 24 tahun telah diangkat menjadi profesor filologi tanpa harus menyelesaikan doktoralnya. Karena apabila demikian, sudah barang tentu saya akan ditunjuk sebagai wakil wisudawan untuk memberikan sambutan pada acara wisuda di Universitas, yang konsekuensinya saya akan menanggung dosa intelektuil yang begitu besar dengan menyebar dusta bahwa pendidikan kita dalam keadaan baik-baik saja, sebagaimana mungkin tercatat pada beberapa sambutan acara wisuda serta pelepasan kemarin (24/08/16); tentang prestasi, ambisi, dan moral yang harus dijunjung tinggi.

Masih banyak yang harus kita pertanyakan: apa yang sebenarnya kita sebut dengan prestasi? Apa yang sesungguhnya kita katakan sebagai moral? Tentu kita bukan anak kecil lagi untuk mencoba memahami perkara ini. Bahwa prestasi adalah ukuran dari segala keberhasilan yang kita peroleh, senyatanya kita tidak pernah atau bahkan enggan mempertanyakan perihal ketepatan asumsi ontologis dari ukuran yang kita gunakan. Bahwa moral yang selalu kita berhalakan, senyatanya hanya perkara tabulasi sentiment kita terhadap apa-apa yang tidak kita harapkan dari hidup dengan ragam kecukupan alasan: kebencian, kejijikan, kedengkian, keangkuhan, kecemasan, atau bahkan mungkin ketakutan.

Mengambil risiko bahwa moralisasi akan terbukti seperti apa yang telah terjadi selama ini dengan apa yang disebut Nietzsche montrer ses plaies (penyingkapan luka seseorang)[5], maka ‘kemajuan’ ilmu pengetahuan dan teknologi yang teramat sering kita elu-elukan sebagai tolok ukur peradaban, tak lebih sekadar pemenuhan hasrat atas diri kita yang lemah dan sakit, sehingga dari setiap upaya pemenuhan itu, detail dari luka kita akan hidup terbuka satu persatu. Kata Nietzsche, inilah dekadensi moral, jika bukan peradaban.

Baiklah. Kita selalu mengatakan bahwa inilah tuntutan zaman modern, jika bukan zaman edan. Tapi apakah ini semua yang sebenarnya kita inginkan? Lari tunggang-langgang berkejar waktu untuk dapat menjadi manusia-manusia ‘sukses’ (dunia+akhiroh—haha, sesederhana inikah?), sehingga motivasi-motivasi omong-kosong selalu kita hadirkan di seminar-seminar universitas maupun pembekalan-pembelakan penerima beasiswa, untuk dapat memacu para sarjana menjadi agent of change, agent of apparatus, alias budak kekuasaan, budak perekonomian (seolah hidup semata perkara itu belaka). Bukankah “kemerdekaan ialah hak segala bangsa” atau jangan-jangan “segala penguasa”?

Diakui atau tidak, dari kenyataan semacam itu ada kecenderungan spartanian yang tumbuh dalam sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan yang dikontrol penuh oleh negara dengan tujuan untuk menciptakan pasukan-pasukan pembunuh yang harus patuh dengan merta terhadap negara. Bersedia berkorban ‘se-penuh-jiwa-raga’ demi bangsa seraya tanah airnya. Dan konsekuensinya, pendidikan kemudian secara tidak langsung merupakan upaya perbudakan terselubung, bukan lagi merupakan ‘Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan’ sebagaimana dituliskan oleh Paulo Freire dalam perjuangan konsientisasi masyarakat buta huruf di Brazil beberapa tahun yang lalu.

Senyatanya, inilah mentalitas kita. Mentalitas negara dunia ketiga yang kepalang-tanggung sudah terlanjur merdeka dari jajahan asing, namun senyatanya penjajahan oleh bangsa sendiri tak pernah berakhir. Dan musuh dalam selimut memang selalu lebih berbahaya dari musuh-musuh yang sudah nyata menodongkan senjata.

/3/

Perang Peloponnesos (431-404 SM) adalah saksi betapa ketakutan Sparta akan kekuasaan Athena yang tumbuh kuat dengan ekonomi yang makmur mengantarkan pada peperangan panjang tak berarti. Benar bahwa pada akhirnya Sparta memenangkan peperangan setelah Athena menyerah pada 25/04 404 SM. Akan tetapi Sparta lupa, bahwa yang menjadikan Athena sebagai pusat peradaban Yunani Kuno adalah kedewasaan diri untuk dapat menentukan apa yang dikehendaki, bukan serdadu-serdadu yang diciptakan oleh negara untuk menjadi budak; sebagaimana apa yang menjadi kesalahan dari negara kita.

Saya selalu membayangkan rasanya belajar tanpa rasa takut akan masa depan sebagaimana pendidikan pada masa peradaban Athena. Bahwa negara tidak seharusnya memiliki hak untuk mengatur kurikulum pendidikan. Negara hanya bertugas mengawasi, sedangkan pendidikan sepenuhnya adalah urusan keluarga dan sekolah. Pendidikan pun tidak pernah dimaksudkan agar seseorang dapat mendapatkan pekerjaan lebih baik, gaji besar, uang banyak, rumah bagus, mobil mewah, wanita cantik, atau apalah itu. Omong kosong!

Saya pun rindu melihat anak-anak kecil yang asyik bermain dalam pengajaran gimnastik (keolahragaan) ala Athena sebagai wadah ekspresi dari semangat bermain masa kanak-kanak mereka. Sementara para remaja, seharusnya belajar musik sebagai pemenuhan ‘jiwa’ agar peka terhadap segala harmoni nada, setidaknya agar dapat membedakan nada fasl atau tidak. Dan orang-orang dewasa, seharusnya mulai belajar membaca dan menulis dengan baik sebagai bentuk pengekalan peradaban. Sayangnya, tidak ada lagi dunia yang semacam itu saat ini: yang ada hanyalah tawuran pelajar, kebutaan nada yang juga berdampak pada dis-harmoni sosial, dan terlebih budaya omong kosong karena tidak pernah belajar membaca dan menulis dengan baik.

Tentu, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Sementara, kita terlalu terburu-buru untuk melihat pekerjaan orang lain dan bernafsu untuk mengikuti bahkan merebutnya. Semoga saya tidak lantas ditunjuk untuk menggantikan menteri pendidikan yang saat ini kehilangan sebagian cita rasa seninya (jika bukan akal sehatnya), hanya karena menulis omong kosong ini. Semoga saja! []

Yogyakarta, Agustus 2016

*Ditulis dalam rangka memperingati haul Nietzsche yang ke-116 


[1] Istilah ini digunakan oleh Nietzsche pada bukunya Also Sprach Zarathusta (on scholars/Von den Gelehrten), sebuah judul buku yang merujuk pada salah satu puisi Richard Strauss. Saya menafsirkan istilah tersebut sebagaimana istilah ‘perajut jaring laba-laba’ yang digunakan oleh Nietzsche beberapa kali dalam Beyond Good and Evil dan Twillight of Idols, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai pemiskinan habis-habisan realitas melalui konsep-konsep dan metode ilmiah.

[2] Lih. BGE $204 par. 2

[3] Lih. BGE $204 par. 6

[4] Lih. BGE $212 par. 1

[5] Kalimat ini disadur dari We Scholars dalam buku Beyond Good and Evil (BGE $204).

1 COMMENT

LEAVE A REPLY