Ilustrasi (sumber: episcopalchurch.org/library/article/how-new-tax-laws-could-affect-episcopal-charitable-giving)

Tak ada lagi yang teguh dari Weber lewat diktumnya yang selalu terdengar masyur: kapitalisme disokong oleh kesalehan Kristiani.[1] Tidak lain dikarenakan diktum Weber dilahirkan dari rahim masyarakat Jerman sepanjang pergolakan industrial di Eropa dan diterbitkannya pada permulaan abad 20. Maka, Weber bukan tak lagi penting bagi masyarakat kita, melainkan semata tak relevan bagi perkembangan kesalehan “Timur” yang dilahirkan dari rahim kolonial. Karenanya, zaman kita bukanlah masa Pasca-Weber, atau masa setelah diktumnya lesap begitu saja sebagai stigma hari ini.

Kesalehan “Timur” sebagai umat Kristiani secara terang dikondisikan semenjak rezim VOC bercokol kuat dan Hindia Belanda melanjutkannya.[2] Hampir tak mungkin menolak kontekstualisasi Kristiani yang berbeda dengan Jerman nun jauh di Eropa, sehingga hampir tak mungkin juga menerima diktum Weber secara telak. Barangkali, satu titik pembeda terkait representasional dari kesalehan “Timur” Hindia Belanda ada pada diri Kyai Sadrach. Seorang bengal yang dikenal sebagai pintal antara kesalehan “Barat” dengan “Timur”, antara kontroversi dengan alegori.

kesalehan industrial umat Kristen-Protestan di Indonesia bernaung pada surga dan keselamatan di bawah ketiak Televangelist Gilbert Lumoindong hingga kultus barunya: Philip Mantofa.

Kyai Sadrach, kultus kesalehan dari Karangjoso bagi ribuan umat yang tegap berdiri pada gereja berdinding anyaman bambu dan beratap ilalang. Umat dapat menerimanya sebagai arsitektural kesalehan yang rapuh, tetapi tidak dengan kondisi dan naungan situasi yang sebenarnya hadir sesuai semangat zamannya. Sebuah zaman yang berusaha untuk lepas dari kungkungan kolonial, tak pelak sembilan ribu umat menamakan dirinya: Pasamuwan Jawi Kristen Merdika (Jemaat Kristen Jawa Merdeka)[3]. Oleh karenanya, dapatkah kita menawarkan titik pijak bahwa zaman ini sebagai masa Pasca-Sadrach?

Setelah Sadrach, setelah kesalehan Kristiani yang semakin tunggal dan universal pada rupa “Barat” pasca lepas dari kungkungan Hindia Belanda, kecenderungan ritus Kristen-Protestan hari ini kembali dipaksa untuk hanyut menuju masyarakat “Barat” yang universal melalui pergolakan industrial yang matang. Sebuah ritus Kristen-Protestan yang abai terhadap usaha-usaha pemahaman bagi kesalehan kultural dan kontekstual[4]. Kesalehan industrial yang menawarkan kebungkaman total dari gerakan emansipatoris dan justru tunduk pada rezim ekonomi global. Raut muram kesalehan industrial terhampar melalui setatap layar pada khotbah hari Minggu siang, atau yang dapat disebut sebagai Televangelism. Sebuah konsep komodifikasi agama, salah satunya Kristen-Protestan, yang dilahirkan dari rahim budaya populer di Amerika[5].

Televangelism merentang di antara kesalehan spiritual dan kecemasan masyarakat industrial, di antara media massa dan rezim ekonomi global. Rentangan kondisi dan situasi tersebut para Televangelist melalui khotbah seputar keselamatan dan kemakmurannya didapuk sebagai kultus yang mana harapan atas kecemasan disandarkan dan jalan keselamatan seolah-olah dipastikan. Selanjutnya, pendisiplinan yang ditubuhkan lewat perilaku santun sehari-hari untuk merengkuh kemakmuran individual sebagai hasil kepatuhan pada kesalehan industrial[6]. Pada upaya merengkuh kemakmuran individual tersebutlah rezim ekonomi global begitu saja lesap sebagai kecenderungan masyarakat Kristen-Protestan saat ini.

Joel Osteen, kultus global yang terus menerus menjaminkan surga dan keselamatan yang universal bagi setiap kita yang bersedia seturut dengan diktum-diktumnya yang tak ubahnya sebuah kelakar di media massa. Sedangkan kesalehan industrial umat Kristen-Protestan di Indonesia bernaung pada surga dan keselamatan di bawah ketiak Televangelist Gilbert Lumoindong hingga kultus barunya: Philip Mantofa. Keduanya adalah kultus global dan lokal yang menjadi satu tarikan kecenderungan bagi menguatnya kutub universal cum industrial.

Kyai Sadrach memintal kesalehan “Barat” dan “Timur” dengan konsep Kristologi yang didasarkan kedekatan pada dua sosok dan dua ajaran: Yesus  sebagai “Barat” dan Ratu Adil sebagai Jawa yang “Timur”.

Philip Mantofa, kultus yang seolah-olah melampaui teologi Kristen-Protestan lewat klaimnya penglihatan tentang neraka secara langsung dari dekat[7]. Pelampauan teologi melalui ketebalan subjektivitas yang hampir tidak mungkin dibuktikan secara rasional digunakan untuk membangun kecemasan, sekaligus alat uji kesalehan masyarakat industrial. Melalui penglihatan neraka, umat-umat yang tunduk diketiaknya didisiplinkan melalui hukum tabur-tuai dan berkat duniawi[8]. Philip Mantofa mengimajinasikan tentang kecenderungan destruktif kehidupan moral saat ini untuk kemudian berpatuh pada seloroh teologi kemakmurannya sebagai jalan kebenaran.

Usaha-usaha reflektif tentang kesalehan dihadirkan tepat melalui pertentangan antara kutub universal cum industrial untuk berhadapan dengan kutub partikular cum kultural. Jika Philip Mantofa adalah kutub universal, maka Kyai Sadrach adalah kutub partikular. Jika kutub yang universal sedang mendapati puncak popularitas dan kemakmurannya, kutub partikular hanyalah sejarah yang tenggelam dan hampir tak pernah diingat kembali. Pada pertentangan tersebutlah, relevansi dan kontekstualisasi dihadirkan guna membaca dan memahami kecenderungan rezim teologi keduanya. Fakta yang aktual dihadapkan dengan sejarah tak pernah kehilangan kebaruannya, kemakmuran dihadapkan dengan ingatan.

Kesalehan Kultural vis a vis Kesalehan Industrial

Kesalehan yang dilontarkan antara Kyai Sadrach dan Philip Mantofa diletakkan sebagai wacana sentral pada kecenderungan rezim teologi masing-masing. Maka, praktik diskursif dari kesalehan diletakkan pada khotbah dan ajaran keseharian oleh keduanya. Karena pada khotbah dan ajaran keseharian, terdapat endapan teks dan peristiwa. Kemudian, bentuk dari kesalehan diposisikan dalam dua narasi yang berbeda dan bertentangan. Jika Kyai Sadrach adalah narasi kesalehan kultural, maka Philip Mantofa adalah narasi kesalehan industrial.

Kyai Sadrach memintal kesalehan “Barat” dan “Timur” dengan konsep Kristologi yang didasarkan kedekatan pada dua sosok dan dua ajaran: Yesus  sebagai “Barat” dan Ratu Adil sebagai Jawa yang “Timur”[9]. Yesus tak lagi dipandang sebagai suara dari Belanda “Barat” yang jauh, Kyai Sadrach memintalnya dalam sosok Ratu Adil yang selalu dinantikan kehadirannya dalam mitologi Jawa. Kesalehan kultural Kristologi membawa jalan keselamatan yang ditawarkan oleh Kyai Sadrach bergerak sedari diktum-diktum kitab suci menuju perilaku sehari-hari. Tak mengherankan tersemat kata “Merdeka” bagi para jemaatnya yang tidak saja diperuntukkan bagi fondasi teologi yang lepas dari dua lemabaga resmi Kristen Hindia Belanda: NGZV (The Dutch Reformed Mission Organisation) dan ZGKN (Mission of the Reformed Church in Netherland), tetapi juga bagi kehidupan batin dan spiritual[10].

Memahami kesalehan kultural (Kristologi) Kyai Sadrach adalah pendar dari dua hal: ilmu sebagai wacana dan praktik diskursif. Bagi Kyai Sadrach keduanya hampir tidak mungkin dipisahkan karena tanpa ilmu, praktif diskursif hanya gerakan tanpa arah dan tanpa praktik diskursif, ilmu tak ubahnya asketisme semata. Salah satu wujud ilmu yang diwacanakan adalah melalui doa keseharian yang mendekatkan kesalehan dengan kondisi-kondisi alam yang kontekstual, lanskap lingkungan yang digunakan untuk kesinambungan hidup sehari-hari:

“Ya Allah, Bapa, Anak dan Roh Kudus, kami memohon Engkau menetralisir racun berbahaya dari tanaman ini sehingga mereka dapat digunakan untuk kepentingan kita; juga membuat para penghuni hutan ini tak lagi memiliki kuasa, sehingga tanah dapat dimanfaatkan untuk desa. Semoga berkat Tuhan Yesus Kristus,dan kedamaian-Nya di atas kita semua, Amin”[11]

Sedangkan praktif diskursif yang diwacanakan oleh Kyai Sadrach merentang secara kolektif. Sedari partisipasi jemaat untuk melebur bersama warga lainnya di daerah Karangjoso, melakukan upacara adat sedekah bumi, penggarapan lahan-lahan secara kolektif untuk kebutuhan bersama, hingga menampung anak yatim piatu. Selain juga kebijakan-kebijakan agama yang menempatkan dikotomi kesalehan dan dosa untuk menciptakan religiusitas dengan lebih dalam yang bertaut dengan kontroversi yang mengiringi seputar relasi-relasi sosial pernikahan[12].

Beranjak dari kesalehan kultural menuju kesalehan industrial melalui kultus televangelist Philip Mantofa yang mendasarkan kedangkalan pemahamannya pada Yesus yang melampaui segala hal, termasuk filsafat dan ilmu pengetahuan[13]. Seraya kuasa untuk menautkan antara legitimasi pribadi dengan distribusi kecemasan melalui klaim terhadap pengelihatan berjalan ke neraka[14].  Terdapat logika yang rumpang dari wacana yang ditawarkan Philip Mantofa, yaitu dari mana dipahaminya teologi Kristen-Protestan jika ilmu pengetahuan dilampaui? Sedangkan, apakah tanpa ilmu pengetahuan dan filsafat, Yesus tetap dipahami sebagai kuasa sentral dalam agama Kristen-Protestan? Sekaligus juga, apakah penglihatan berjalan ke neraka merupakan dalil yang kuat untuk melampaui teologi?

Kesalehan industrial yang diusung oleh rezim teologi kemakmuran dapat diposisikan sebagai wacana “kelahiran teologi baru” untuk melampaui tradisi (post-traditional world).

Mawar Sharon adalah aliran gerejawi tempat bernaungnya kesalehan industrial dari Philip Mantofa. Kesalehan industrial yang dimampatkan dalam konsep megachurch yang lahir dari rahim industrial Amerika tahun 1980an untuk tidak sekadar memupuk religiusitas yang meletup-letup bersama tangisan dan keimanan yang berlebihan, tetapi juga akumulasi kapital[15]. Maka tak heran, khotbah-khotbah yang disampaikan Philip Mantofa adalah usaha untuk mendisiplinkan setiap umat untuk bertekun dalam kenikmatan dan euforia duniawi.

Oleh karena itu, praktik diskursif yang diwartakan dari kecenderungan kesalehan industrial razim teologi kemakmuran Kristen-Protestan di Indonesia hari ini berusaha untuk mengedepankan kepatuhan self-help yang individualis. Demikian pula dengan usaha-usaha logika keimanan yang direpresentasikan melalui persembahan harian, bulanan, dan ucapan syukur kepada gereja (megachurch) yang tidak lagi berorientasi kolektif. Namun, logika akumulasi kapital yang betujuan untuk meningkatkan kemakmuran individual. Pun, sifatnya yang abai pada kondisi-kondisi struktural-kontekstual di Indonesia saat ini, dan sekedar berpesta di atas proses-proses pengembangan-diri[16].

Zaman Pasca-Sadrach: Kenikmatan Kapital-Industrial adalah Tuhan

Kesalehan ditempatkan pada wacana-historis sebagai teks dan juga sebagai konteks beroperasinya narasi teologi secara sosial. Konteks sejarah yang mengacu pada Kristologi Kyai Sadrach membunyikan kesalehan sebagai siasat kemerdekaan jemaat terhadap kolonialisme dengan berpijak pada lingkungan alam dan tradisi Jawa sebagai relevansi. Karenanya, agama dan teologi Kristen-Protestan benar-benar secara luwes berpijak di bumi tempatnya bernaung untuk kemudian diterima dan dimaknai ribuan umatnya tidak saja sebagai bentuk formal, tetapi juga lesap sebagai laku hidup keseharian.

Kesalehan industrial yang diusung oleh rezim teologi kemakmuran dapat diposisikan sebagai wacana “kelahiran teologi baru” untuk melampaui tradisi (post-traditional world). Tradisi hanya dimaknai sebagai sebagai sejarah beku yang patut dimatikan untuk tidak diperbincangkan kembali[17]. Kesalehan yang diciptakan rezim teologi kemakmuran Philip Mantofa telah abai terhadap narasi-narasi tradisi yang relevan dan kontekstual. Alhasil, pelampauan tradisi pada akhirnya mencair pada pilihan komodifikasi agama secara universal sebagai bentuk brand produk industrial melalui proses produksi, distribusi, hingga konsumsi[18].

Kesalehan Kristen-Protestan sebagai wacana-historis di Indonesia saat ini dengan gemblang menampakkan terjadinya pergeseran makna kontekstual pasca peristiwa Kristologi Sadrach. Kesalehan di Indonesia tidak lagi menciptakan religiusitas yang mendalam antara Tuhan, manusia, dan lingkungan alam. Namun, bergeser menuju kesalehan yang nikmat pada akumulasi kapital-industrial dari rezim ekonomi global sebagai Tuhan yang, mengutip Philip Mantofa, “melampaui filsafat dan ilmu pengetahuan”.


Catatan Akhir:

[1] Weber, M. (2001). The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. London and New York: Routledge. Halaman 3.

[2] Herwanto, L. (2002). Pikiran dan Aksi Kiai Sadrach; Gerakan Jemaat Kristen Jawa Merdeka. Yogyakarta: MataBangsa. Halaman 7.

[3] Ibid. Halaman 61.

[4] Singgih, E. G. (2015). A Postcolonial Biography of Sadrach; The Tragic Story of an Indigenous Missionary. Al-Jāmi‘ah: Journal of Islamic Studies Vol. 53, no. 2, 376-386. Halaman 370.

[5] Bekkering, D. J. (2018). American Televangelism and Participatory Cultures; Fans, Brands, and Play With Religious “Fakes”. Hampshire: Palgrave Macmillan. Halaman 3.

[6] Ibid. Halaman 19.

[7] Mantofa, P. (2018). YouTube. Diambil kembali dari: https://www.youtube.com/watch?v=AA3AWHC7FCg&t=316s

[8] Lie, B. (2014). YouTube. Diambil kembali dari https://www.youtube.com/watch?v=ceoA9dB0SIE.

[9] Partonadi, S. S. (1990). Sadrach’s Community and Its Contextual Roots: A Nineteenth Century Javanese Expression of Christianity. Amsterdam: Rodopi. Halaman 192.

[10] Singgih, E. G. (2015). A Postcolonial Biography of Sadrach; The Tragic Story of an Indigenous Missionary. Al-Jāmi‘ah: Journal of Islamic Studies Vol. 53, no. 2, 376-386. Halaman 381.

[11] Partonadi, S. S. (1990). Sadrach’s Community and Its Contextual Roots: A Nineteenth Century Javanese Expression of Christianity. Amsterdam: Rodopi. Halaman 67.

[12] Herwanto, L. (2002). Pikiran dan Aksi Kiai Sadrach; Gerakan Jemaat Kristen Jawa Merdeka. Yogyakarta: MataBangsa. Halaman 94.

[13] Mantofa, P. (2018). YouTube. Diambil kembali dari https://www.youtube.com/watch?v=AA3AWHC7FCg&t=316s

[14] Raymondjoeym. (2017). YouTube. Diambil kembali dari https://www.youtube.com/watch?v=zhX5d_zxTAA&t=29s

[15] Eagle, D. E. (2015). Historicizing the Megachurch. Journal of Social History vol. 48 no. 3, 589-604. Halaman 591.

[16] Rahardian, S. (2018). Tirto.id. Diambil kembali dari https://tirto.id/individualis-korup-amp-manipulatif-sisi-gelap-teologi-kemakmuran-c8mn

[17] Engllison, S. (2007). The Megachurch and The Mineline; Remaking Religious Tradition in The Twenty-First Century. Chicago: University Chicago Press. Halaman 24

[18] homas, P. N., & Lee, P. (2012). Global and Local Televangelism . Hamisphere: Palgrave Macmillan. Halaman 4.

Daftar Pustaka:

Bekkering, D. J. (2018). American Televangelism and Participatory Cultures; Fans, Brands, and Play With Religious “Fakes”. Hampshire: Palgrave Macmillan.

Candraningrum, D. (2018). Analisis Wacana-Historis Model Ruth Wodak. Dalam W. Udasmoro, Hamparan Wacana; Dari Praktik Ideologi, Media, hingga Kritik Poskolonial (hal. 55-81). Yogyakarta: Ombak.

Eagle, D. E. (2015). Historicizing the Megachurch. Journal of Social History vol. 48 no. 3, 589-604.

Engllison, S. (2007). The Megachurch and The Mineline; Remaking Religious Tradition in The Twenty-First Century. Chicago: University Chicago Press.

Herwanto, L. (2002). Pikiran dan Aksi Kiai Sadrach; Gerakan Jemaat Kristen Jawa Merdeka. Yogyakarta: MataBangsa.

Lie, B. (2014). YouTube. Diambil kembali dari https://www.youtube.com/watch?v=ceoA9dB0SIE.

Mantofa, P. (2017). YouTube. Diambil kembali dari https://www.youtube.com/watch?v=7qFvihtbQMQ&t=157s.

Mantofa, P. (2018). YouTube. Diambil kembali dari https://www.youtube.com/watch?v=AA3AWHC7FCg&t=316s

Partonadi, S. S. (1990). Sadrach’s Community and Its Contextual Roots: A Nineteenth Century Javanese Expression of Christianity. Amsterdam: Rodopi.

Rahardian, S. (2018). Tirto.id. Diambil kembali dari https://tirto.id/individualis-korup-amp-manipulatif-sisi-gelap-teologi-kemakmuran-c8mn

raymondjoeym. (2017). YouTube. Diambil kembali dari https://www.youtube.com/watch?v=zhX5d_zxTAA&t=29s

Singgih, E. G. (2015). A Postcolonial Biography of Sadrach; The Tragic Story of an Indigenous Missionary. Al-Jāmi‘ah: Journal of Islamic Studies Vol. 53, no. 2, 376-386.

Thomas, P. N., & Lee, P. (2012). Global and Local Televangelism . Hamisphere: Palgrave Macmillan.

Weber, M. (2001). The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. London and New York: Routledge.

 

Facebook Comments