Tearful fans gather to visit the mourning altar for Kim Jong-Hyun. (Sumber: Photo credit should read JUNG YEON-JE/AFP/Getty Images diakses via http://people.com/music/jonghyun-kim-jong-hyun-suspected-suicide-note/)

Kita tidak lagi hidup dalam era informasi yang lambat. Dan setidaknya kita harus bersyukur akan hal itu. Kita tidak bisa lagi menjadi bagian dari masyarakat global yang lambat mengetahui tentang apa-apa saja hal baru yang sedang hangat diperbincangkan saat ini. Hidup dalam informasi yang terbatas, lama dan lambat memang tak menguntungkan. Sayangnya, hidup dalam era informasi yang begitu cepat nyatanya sama tidak menguntungkannya. Salah satunya adalah bagaimana cara kita mencerap ragam informasi yang disuguhkan kepada kita oleh media.

Peristiwa demi peristiwa terjadi di seantero negara di dunia. Dari hal yang paling penting untuk diketahui hingga yang tidak penting untuk diketahui sama sekali. Barangkali bila mediumnya adalah radio dan televisi, kita masih memiliki jeda waktu untuk mengetahui rangkaian situasi terbaru dari sebuah peristiwa yang baru saja terjadi melalui program breaking news misalnya. Sialnya, sudah sejak beberapa tahun ini kita tidak lagi intens menggunakan medium digital tersebut melainkan smartphone yang sifatnya portable dikombinasikan dengan basis platform internet yang super cepat. Hal ini membuat kita mengetahui suatu informasi pada saat yang sama meski di tempat yang berbeda.

Zygmunt Bauman, seorang sosiolog asal Polandia secara jeli menyoroti hal ini. Ia mengatakan, “you can enter public arena just by moving your fingers and sitting in you room”. Kita tidak hanya terkoneksi oleh suatu peristiwa tetapi juga batin, rasa, emosi jiwa kita terkoneksi sekaligus bersinggungan dengan batin, rasa, emosi jiwa sang liyan, yakni netizen. Terbukti dari banyaknya peristiwa di dunia yang barangkali dapat sangat menyentuh nurani kita sebagai manusia. Sialnya, alih-alih harapannya kita melihat praktik humanisme universal ala-ala yang menggugah simpati dalam diri masing-masing individu malah yang terjadi justru sebaliknya. Muncul gejala sosial menarik untuk dibahas tentang prioritas simpati atas peristiwa yang sedang atau telah terjadi dan berpotensi mendorong ke arah disintegrasi dalam siklus interaksi ruang maya kita.

Prioritas Kesedihan

Seperti halnya baru-baru ini kita mengetahui ada dua peristiwa yang terjadi dan sebetulnya tak saling berkaitan satu sama lain: blunder kebijakan politik ala Trump yang mengklaim secara gegabah bahwa Yerusalem dijadikan ibu kota resmi bagi Israel, lalu tak lama kemudian muncul berita kematian salah satu personil grup band korea SHINee yaitu Jonghyun yang dikonfirmasi meninggal akibat bunuh diri. Terlampau jelas bahwa tidak ada kaitan apa pun dalam peristiwa tersebut kecuali satu hal: meningkatnya rasa simpati antar anggota dari masing-masing kelompok in-group.

Simpati kita sekadar menjadi luapan emosi sesaat. Kita hanya merasa sedih sepersekian menit untuk kemudian bersimpati lagi dengan suatu peristiwa lainnya yang merangsang batin nurani kita dan begitu seterusnya.

Tiba-tiba muncul lah individu dari kelompok yang masih berkabung untuk Palestina menyindir mereka yang berkabung atas kematian Jonghyun (terlepas dari apakah mereka adalah seorang K-Popers atau sekadar penikmat karyanya semata). Nyinyirannya jelas mengutarakan sindirian yang lebih tepat dikatakan sebuah tuduhan bahwa para K-popers itu lebih sedih dengan tokoh idolanya ketimbang sedih atas kondisi politik negara muslim yang seharusnya dibela, saya ambil contoh satu dari yang saya lihat sendiri dalam salah satu instastory berbunyi,”Semoga yang nangisin Jonghyun secepatnya nyusul dia biar bisa kopdar di akhirat”. Dari saling sindir itu percikan konflik tumbuh. Hingga tulisan ini selesai ditulis, terjadi respon “balasan” dari para fans Jonghyun dan Shawol (fans grup band SHINee) yang ternyata menggalang dana untuk membantu korban-korban di Palestina sebagai bukti (sekaligus counter-action) bahwa di samping mencintai idolanya, fans juga bersimpatik pada kondisi di Palestina.

Kiranya penulis menawarkan dua argumentasi utama mengapa kondisi absurd ini terjadi. Pertama, sejak awal individu tidak bisa sepenuhnya dapat mengolah informasi secara mendalam akibat terpapar oleh informasi yang tak berjeda. Kedua, ada celah narsistik yang dikonstruksikan dengan memanipulasi rasa simpati yang dirasakan sendiri dalam rangka penguatan identitas diri atau kelompok.

Simpati Reaksioner

Sejak awal, rasa simpati kita tidak lagi menjadi suatu rasa personal yang khidmat. Simpati kita sekadar menjadi luapan emosi sesaat. Kita hanya merasa sedih sepersekian menit untuk kemudian bersimpati lagi dengan suatu peristiwa lainnya yang merangsang batin nurani kita dan begitu seterusnya. Bahkan, boleh jadi sebetulnya kita tidak benar-benar bersimpati atas satu hal tertentu atau justru menjadikan rasa simpati mendalam sesaat kita sebagai sumber amarah untuk menghakimi perasaan orang lain terhadap peristiwa lainnya.

Hal ini sebetulnya tidak cukup mengherankan karena Bauman sendiri telah menjelaskan bahwa kita tidak memiliki banyak waktu untuk dapat memikirkan, memahami bahkan menganalisis tentang seluruh rangkaian berita yang kita dapatkan secara cepat. Bukan terburu-buru namun memang terlampau cepat. Segala bentuk pendasaran hampir mustahil dijejaki. Dan kita perlu ingat bahwa kemampuan masing-masing individu sangat berbeda dalam mencerap berbagai informasi yang ia terima, begitupun dengan segala interpretasinya.

Selain derasnya arus informasi, kita tidak boleh melupakan ada celah yang baik disengaja atau tidak mendorong ke arah permainan politik identitas kecil-kecilan dalam diri netizen yang sungguh sangat mengaburkan hal substansial yang seharusnya dibahas. Bila sebelumnya dijelaskan bahwa tiada pendasaran yang kokoh atas suatu permasalahan akibatnya derasnya informasi, maka kali ini esensi substansial tergeser karena simpati bukan lagi muncul dalam dorongan hati melainkan tak lebih dari sebuah konformitas semata.

Selalu ada celah narsistik untuk melakukan self-acclaimed ketika kita menaruh perhatian terhadap suatu hal.

Bagi mereka yang merasa muslim yang kaffah, sungguh memalukan untuk tidak berkabung, bersimpati dan merasa sedih mendengar klaim kebijakan semena-mena dari Trump itu. Bagi mereka yang masa kecilnya tumbuh bersama karya idola-idola dari negeri ginseng itu juga tentu aneh rasanya untuk kemudian tidak merasa berkabung terhadap kematian idolanya. Dalam batas ini, konformitas tersebut wajar dan simpati itu memang perlu.

Bahkan, rasanya tidak berlebihan bila saya berterima kasih atas reaksi simpati –meski sekali lagi tetap simpati, sesaat- di dua peristiwa itu. Dukungan simpati internasional terhadap rakyat Palestina dan protes pasca klaim ibu kota Yerusalem atas Israel jelas menyiratkan bahwa kita perlu mewaspadai pola kepemimpinan ugal-ugalan seorang Presiden yang tak patut dicontoh. Kedua, meski kita belum tahu pasti apa motif di balik bunuh diri sang idola, apa pun itu motifnya kita sama-sama menjadi sadar bahwa setiap orang memiliki tingkat depresi akut yang tidak terdeteksi dan kemudian berkecenderungan untuk bunuh diri. Itu mengapa kita harus memulai membangun komunikasi interpersonal lebih intens ketimbang mengedepankan citra diri antar individu.

Aneh justru ketika melihat kenyataan bagi mereka yang (mungkin Anda, mungkin mereka atau mungkin diri saya sendiri) justru memanfaatkan momen Palestina dan kematian Jonghyun maupun duka Palestina sebagai arena untuk mempublikasi privasi identitas semata-mata untuk membingkai citra diri di hadapan publik. Selalu ada celah narsistik untuk melakukan self-acclaimed ketika kita menaruh perhatian terhadap suatu hal. Tindakan sosial yang sering kita jumpai dalam laman ruang maya kita misalnya sekadar berganti border bingkai facebook atau sekadar posting dengan hastag-hastag yang menunjukkan bahwa dirinya benar-benar bersimpati atas hal tersebut.

Berkata #SavePalestine tetapi tidak pernah mengikuti perkembangan politik Timur-Tengah, berkata #SaveHumanity tetapi masih senang mem-bully mereka yang berbeda pandangan dengan dirinya, tak lupa misalnya, #LoveWins tapi ternyata seorang homophobic yang sering gagal membedakan orientasi gender dan identitas seksual. Satu hal yang mereka tahu adalah mereka merasa sudah ikut-ikutan berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan. Persis seperti apa yang dikatakan Bauman, “Our private intimate experience is the only capital we have as we can sell on publicity market”.

Dalam situasi seperti ini kita wajib merefleksikan diri kita sendiri seberapa jauh kita mampu menyadur mana informasi-informasi yang memang penting dan yang sebetulnya tidak penting. Hal ini penting dilakukan karena berkaitan dengan bagaimana nantinya kita harus mengambil sikap atas informasi yang kita terima. Kita perlu sadar bahwa memang sulit untuk menahan laju informasi tetapi setidaknya kita memiliki rasionalitas untuk mengelola perasaan dan akal kita sendiri dari tindakan-tindakan yang tidak perlu diaktualisasikan secara berlebihan.

Kita boleh jadi kehabisan waktu untuk memahami informasi tetapi kita tidak boleh kehabisan waktu untuk memahami perasaan kita sendiri. Dari situ konflik meredup dan rasa kemanusiaan menerang.

Facebook Comments