"Melancholy" (1894) by Edvard Munch

manusia pengembara kecil-500x500

Judul:  Manusia Pengembara
Penulis:  Fransiskus Borgias M
Penerbit:  Jalasutra
Cetakan:   I, 2013
ISBN:  978-602-8252-82-9

Melihat kekhasan manusia, kita pasti melihat selubung. Entah selubung ketubuhan atau berupa konsep abstrak. Selubung mengitari manusia dan membuat manusia menjadi dirinya. Selain itu, kategori persona melekat pada manusia. Artinya, persona atau dalam artian harfiahnya ‘topeng’ dapat menjaga ciri khas makhluk misterius. Hal ini kemudian menguatkan konsep misteri manusia Gabriel Marcel.

Fransiskus Borgias, saya kira tetap menjaga segi misterius manusia, sekaligus konsep misteri Marcel sebagai segi menarik pembahasan terkait manusia. Misteri dan selubung justru memunculkan pemikiran optimis Borgias tentang manusia. Manusia dalam kesimpulannya ialah menuju proses menjadi, dan proses tersebut bersifat transendental. Mengarah ke titik tertinggi, sebagai omega. Selubung demi selubung terkelupas dan menjadi satu identitas, yakni menuju Yang Satu. Tetapi bukan berarti model perkembangannya tertutup. Melalui judul Manusia Pengembara, penulis buku filsafat populer ini secara eksplisit menunjukkan proses terbuka.

“Hidup adalah pengembaraan dan aktivitas manusia di dunia ini hanya memberi makna kepada pengembaraan itu,” (hlm. 4). Mengapa penafsiran tentang manusia tidak pernah selesai, sebab pengembaraan ialah perjalanan jauh dan kita tidak pernah tahu apa aral yang menghadang, membuat kita terjatuh atau sekaligus mati di tempat. Pengakuan tentang hidup untuk memaknai pengembaraan tersebut menunjukkan posisi metodologis terkait pemahaman manusia agar selalu terbuka. Sebab apa yang sedang diteliti ialah subjek sekaligus objek yang menjadi. Posisi ini menjiwai seluruh kumpulan tulisan Borgias. Meskipun di satu sisi seperti menggali tanah, tanah dari perut bumi dikeluarkan tetapi ia menutup tanah dan rerumputan di sekitar lubang galian itu. Dilema penggalian hermeneutik ini justru menunjukkan itulah misteri dan keindahannya.

Selain misterius, manusia juga makhluk multidimensional. Penarikan aspek yang dibahas juga beragam, seperti aspek kehendak, kerinduan, keterkaitan dengan waktu, masa depan, bahasa, mistik, dan kerja. Selain konsekuensi dari posisi multidimenional, aspek-aspek tersebut ialah pilihan secara psikologis, atau ketertarikan pribadi. Ada beberapa tema pokok yang dapat diuraikan untuk menjelaskan aspek-aspek itu. Perlu ada evaluasi selain pada stand point penulis, yakni penjelasan kecil yang sarat akan kekaburan.

Bahasa dan Hubungan Romantis

Bahasa adalah alat sistematis manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya, terutama dengan rangkaian bunyi-bunyi yang memiliki referen konsep atau pemikiran. Manusia memperoleh bahasa dari lingkungan sekitarnya, mempelajari dari manusia lain. Teori perolehan bahasa behavioris tersebut bukanlah satu-satunya. Teori perolehan bahasa ala Chomskian dan Piagetan masih menjadi teori yang diakui secara ilmiah dan penerapannya.

Chomsky berkesimpulan bahwa teori behaviorisme tidak mampu menjelaskan proses pemerolehan bahasa dan kompetensi linguistiknya. Pemerolehan bahasa bukan didasarkan pada nurture (pemerolehan itu ditentukan oleh alam lingkungan) tetapi pada nature. Artinya manusia memperoleh bahasa seperti ia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Sedangkan Piaget hadir dengan usaha memperbaharui posisi perkembangan bahasa itu dan menambahkan rasionalitas dan logika kognitif. Mesti ada analisis logis dari setiap percakapan. Namun posisi behavioris di awal  membawa kepada tujuan eksplanasi yang lebih pragmatis. Barangkali karena pembahasannya memang langsung menohok persoalan relasi bahasa dan realitas sosial.

Ada tiga kapabilitas manusia karena adanya bahasa, yakni komunikasi, organisasi pemikiran, dan kemungkinan terlibat dalam proses sosial (hlm. 9). Tiga pemilihan itu menurut saya cukup diperdalam dengan mengajukan pertanyaan ontologis: Bagaimana relasi bahasa dan realitas eksternal? Apa konsekuensi logis adanya bahasa dalam dinamika sosial? Wittgenstein, seorang praktis-realis, mengungkap bahwa bahasa ialah gambaran atau pantulan realitas. Makna realitas ialah hasil penggambaran kondisi faktual di dalamnya dengan menggunakan kata. Makna berarti konsep tentang benda material yang ditandakannya. Menangkap konsep itu artinya mengerti atau berpikir menjadi mungkin dilakukan manusia. Pemahaman itulah sikap fundamental untuk interaksi, komunikasi antar manusia.

Sehingga bahasa mempunyai relevansi ontologis, membuat manusia dapat disebut sebagai ada yang relasional. Manusia hidup bersama ada-ada yang lain. Bagi manusia ada itu menampakan diri sebagai bahasa. Memungkinkan manusia memahami, melihat, dan mengalami ada.

Penyampaian Borgias tampak menunjuk pada fungsi bahasa saja. Bahasa sebagai alat komunikasi yang mujarab karena memiliki kemampuan sosio-politis. Kemampuan itu dibungkus melalui agenda utamanya ialah untuk tujuan legitimasi etis, seperti sarana dekolonisasi dan pembebasan kesadaran manusia. Dekolonisasi dari apa? Bisa manipulasi, kontrol sosial, dan kedok eufemisme sosio-politis yang membelenggu cara berpikir manusia (hlm. 15).

Contoh dapat diambil dari sejarah politik, perjuangan yang akhirnya mem-bahasa dan meng-kata seperti pencanangan komunisme-marxisme sebagai ideologi negara (Lenin-Stalin). Contoh lain ialah gerakan mahasiswa Prancis dengan liberate expression-nya, menghimbau masyarakat agar membebaskan penuturan, seolah belenggu penuturan akar kemandekan sosial. Hingga ditarik lebih jauh lagi ke Revolusi Prancis dengan penuturan revolusioner Liberte, Egalite, Fraternite! Bahasa dari sini berwarna revolusioner.  Penjelasan ini berada dalam tataran praktis dan memosisikan bahasa sekadar alat.

Apakah terjebak dalam pragmatisme semata? Di akhir tulisan dan beberapa bagian yang kurang diberi penekanan sebelumnya, penjelasan dan bangunan argumen bisa lolos dari keterjebakan itu. Ia merefleksikan dari beberapa kejadian revolusioner dan menggunakan bahasa sebagai tekanan, bahwa kalau ingin stabilitas sosial, pahamilah bahasa. Mulai dari dan dengan bahasa diri sendiri. Posisi ini mengajak pada pemahaman atas bahasa yang tidak melulu fungsional, tetapi kita harus mengalami bahasa.

Hal ini menarik hingga memakai pijakan Gadamerlah pas sebagai acuan. Gadamer mengakui juga realitas objektif susah diungkap lewat bahasa. Bukan karena keterbatasan bahasa, namun keberhinggan subjek manusiawi. Oleh karena itu, bahasa lebih dari alat komunikasi. Bahasa adalah ruang pengalaman bagi manusia, sesuatu embody, harus dialami manusia dengan manusia menuju hubungan ‘romantis’. Lebih lanjut bahasa mesti dialami seorang manusia dalam melukiskan kesejarahannya dalam bentuk komunikasi sesama.

Manusia yang Menyejarah

“Kesejarahan manusia sangat ditentukan oleh persepsi atau cara manusia memandang sejarahnya serta menilai kebersejarahannya,” (h. 59). Pernyataan tersebut mengarah pada penjelasan gerak sejarah di mana manusia ikut di dalamnya. Penjelasan tiga macam gerak sejarah sebagaimana kita baca dalam filsafat sejarah, cukup merangkum pemikiran manusia atas gerak itu. model siklis, linear, dan spiral memuat penilaian dan rasionalitas. Penilaian terkait dengan aras positif-negatif, baik-buruk. Sedangkan rasionalitas memuat struktur logis dari setiap pemahaman atas kesejarahannya. Penjelasan dalam bab “Manusia dan Waktu” bertendensi pada penilaian yang dibuat manusia. Di setiap model gerak sejarah terdapat dua sisi baik-buruk atas pemahaman tentang sejarahnya sendiri. Pada akhirnya berimplikasi pada tindakan dan sikap hidup manusia.

Misal penulis mengklaim bahwa ada dua unsur dalam setiap gerak, yakni membelenggu dan membebaskan manusia. Separasi itu dapat dilihat dari evaluasi atas model siklis. Gerak sejarah selalu berputar tanpa henti seperti roda pedati, kadang mencapai puncak dan puncak itu turun di posisi paling bawah, demikian seterusnya. Tiada akhir bagi model siklis. Artinya manusia juga terbelenggu dalam rantai rotasi dan repetisi, abadi dan terus menerus. Lalu, di mana letak kreativitas? (pertanyaan Borgias sendiri). Dalam persepsi siklis tentu saja mengandaikan penolakan atas kreativitas yang notabene sebagai sifat dasariah manusia. Manusia jadi keluar dari kodratnya sendiri. Belenggu ini bersifat negatif. Tetapi dari repetisi dan rotasi yang itu-itu saja terdapat sifat positifnya ialah manusia dapat memperbaiki diri. Melalui argumen tersebut, dalam benak saya muncul pertanyaan, sejauh mana manusia dapat memperbaiki diri jika kreativitas terpasung oleh lingkaran setan? Apakah dua sisi mata uang, positif dan negatifnya gerak siklis merupakan keniscayaan dalam keserentakan ataukah pilihan?

Gerak sejarah model linear juga memuat dua unsur tersebut. Manusia terbelenggu oleh orientasi masa depan saja. Sehingga meninggalkan dan melupakan masa lalu sebagai pelajaran. Manusia terjebak dalam mitos pembangunan. Di sisi lain, manusia tanpa ragu melangkah ke depan dengan percaya diri, ia bebas membentuk masa depannya. Klaim dua unsur sebagai analisa serta alat penilaian gerak sejarah, sebenarnya sangat ambigu. Bagaimana melupakan masa lalu bisa dianggap negatif? Bagaimana berorientasi hanya pada masa depan akhirnya tidak tenggelam pada proyek ambisius? Melalui dua model sejarah ini dapat kita lihat beberapa hal. Pertama soal kekurangan model siklis dan linear menjelaskan gerak dan kemewaktuan manusia. Kedua soal perlunya analisis logis dari gerak sejarah sebagai pemahaman manusia atas kesejarahannya. Perihal kedua kurang ditekankan Borgias.

Sampailah pada model spiral sebagai representasi pemahaman manusia yang memadai. Model ini mampu menyintesiskan kedua model sebelumnya. Sehingga gerak sejarah meskipun terjadi repetisi, tetapi berdasarkan repetisi itu dibangun sesuatu yang baru. Lintasan sejarah tidak melulu mendatar, ada tahapan-tahapan yang mesti dilalui melalui kontradiksi-kontradiksi. Kontradiksi bersifat dialektis dinamis sehingga sejarah dipahami sebagai sesuatu yang berjalan, berkembang dialektis. Tetapi ada ketakutan tersendiri, yakni pemutlakan kontradiksi atau konflik sebagai syarat gerak sejarah. Menurut Borgias, hal itu bisa jadi senjata makan tuan karena selalu ada yang tersisihkan secara sosial. Anehnya, lebih lanjut ia tidak mempertanyakan ke arah mana konflik itu? Atau  ke manakah tujuan dari sejarah itu? Walaupun fokus tulisan pada antropologi filsafat, pertanyaan filsafat sejarah tersebut penting untuk menunjang analisis logisnya. Selain itu, kesulitan dari penilaian berkutub positif-negatif dapat lebih ringan diatasi.

Meskipun demikian, optimisme dalam persoalan manusia dan waktu tetap terlihat gamblang. Optimisme ini menunjukkan konsistensi awal yang dibangun. “Adanya manusia dalam lintasan waktu terbedakan dengan jelas dari adanya selembar daun yang hari ini hijau muda, esok menguning, lusa terlepas dari rantingnya, lalu jatuh ke tanah tanpa menyadari seluruh  proses itu walaupun seluruh untaian kehadiran dan keberadaannya memberi sejumput makna kepada dunia sekitarnya.”

Mengembara Sambil Rindu

Bab “Manusia Subjek Kehendak” menyajikan penyingkapan manipulasi kehendak, manusia diselewengkan oleh kehendaknya yang tak murni. Imbas nyata dari kehendak dari luar, dalam arti tak murni dari diri ialah penggunaan pilihan sebagai otonomi menjadi otoriter. Menguasai diri dan kehendak murni sehingga bersifat dekstruktif. Borgias menyebut fenomena ini sebagai sebuah godaan dari subjek berkehendak. Tapi Lebih lanjut ia tidak menelusuri asal godaan itu, konsekuen dengan analisa yang menurun. Namun dari sini dapat dilihat godaan sebenarnya ialah manifestasi kehendak tak murni, berasal dari luar diri.

Puasa dan mati raga sebagai ritual lazim dapat menjadi solusi kehendak yang dibutakan. Alasannya lebih dari soal  religius-teologis, namun menyangkut ranah filsafat dan psikologi. Puasa dan mati raga ialah jalan penyadaran otonomi dan transendensi manusia sebagai subjek kehendak. Manusia mengambil jarak objektif-kritis terhadap berbagai macam objek kehendak. Ia mentransendensikan diri dan tidak hanyut dalam daya tarik imanentis benda-benda material. Puasa dalam kacamata ini berarti medan tantangan untuk mewujudkan otonomi dan transendensi subjektivitasnya. Inilah segi spiritualisme dari pengembaraan manusia, termasuk penulis buku ini. Memberi warna lain selain dominasi optimisme di setiap babnya.

Narasi spiritual-optimis masih mengalir di bab-bab akhir, misalnya dalam “Filsafat Kerinduan” dan “Menelusuri Mistik Musyawarah Burung”. Kedua judul itu sekaligus menjadi gambaran interpretasi manusia atas pengembaraannya. Di setiap pengembaran ia menyimpan kerinduan yang inheren menapaki tujuan menuju Yang Satu. Martin Buber menyebutnya terarah menuju relasi Aku-Engkau. Menurut Borgias, itulah spirit kerinduan yang membuat pengembaraan menjadi indah, dan bagi saya tidak ada dekandensi dalam interpretasi tersebut selama ia menjadi sebuah tindakan, lebih dari interpretasi tekstual. Melalui tindakan keseharian, hubungan relasional yang sebenarnya dibangun sejak awal dalam kumpulan tulisan ini, bukan sekadar wacana antropologi filsafat.[]

Khoiril Maqin
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, editor Jurnal Cogito, fokus studi terkait isu sosiologi ilmu, perkembangan ilmu di Indonesia, dan sedang menulis pemikiran Thomas Kuhn.

2 COMMENTS

  1. Interesting article when there is issue about terrorism to provoke a state of terror in the public. Ditunggu tulisan selanjutnya Maqin dan kawan-kawan Cogito lainnya!

LEAVE A REPLY