Dalam memilah-milah tubuh dunia, nalar kita terbentur pada ide tentang entitas otonom yang tak dapat terbagi lagi. Al-Qur’an menyebut entitas ini dzarrah, sains modern menyebutnya atom, dalam filsafat tersebutlah entitas tak dapat terpilah dan terbagi ini sebagai monade. Monade adalah neologi filosofis Gottfried Wilhelm Leibniz (1714), seorang filsuf modern. Ia dapat diuraikan sebagai entitas fundamental, elemen spiritual, unit metafisis, kekuatan mistik, dan “mesin atomik” yang memberi forma beragam macam materi yang ada di alam semesta. Tidak seperti atom yang tidak mengandung kualitas, ia selalu dipenuhi kualitas yang tidak sama.

Dalam membentuk sesuatu, monade bergerak secara otomatis, diistilahkan oleh Leibniz dengan incorporeal automata (Leibniz, Aphorism 18). Ia adalah mesin atomik yang bekerja di bawah kontrol Sang Maha Pemilik. Ia merupakan jiwa-jiwa otonom yang mempunyai tugas mengonstruksi alam semesta raya. Mesin atomik ini selalu tercipta dan mempunyai awal dan akhir (Aphorism 6). Seperti semua bentuk kehidupan ia juga dapat mati. Sebagai kekuatan mistik, ia tentunya bekerja secara “misterius”, kita tidak bisa tahu mengapa dan bagaimana ia membentuk planet Bumi dan Matahari. Kita hanya mengetahui hasilnya: keselarasan dunia yang kita tinggali dan betah hidup di dalamnya. Ia juga tidak dapat diprediksi cara kerjanya, karena dijelaskan sebagai ruang tertutup tak berjendela. Analog dengan sifat zat sub-atomik (elektron), mekanika kuantum, yang tak dapat diprediksi.

Seperti telah dijelaskan, ruang-waktu merupakan manifestasi kerja-kerja mesin atomik monade. Karena ia kekuatan misterius, ruang-waktu dapat menjelma menjadi kesatuan ruang mistik. Namun, ruang ini sebatas tatanan material yang belum tersingkap. Ruang yang tersingkap berada dalam relasi jiwa-jiwa partikular monade yang kemudian disadari eksistensinya. Manifestasi jiwa ini membasuh ruang-waktu menjadi ruang mistik. Hal ini dapat dimengerti lewat tafsir monadologis, yaitu jiwa-jiwa partikular yang menjadi keutuhan kesadaran. Jiwa manusia merupakan manifestasi kreativitas sekumpulan jiwa. William Barret dalam bukunya Death of the Soul: Philosophical Thought from Descartes to Computer (1986) dengan mengacu pada Leibniz menjelaskan tubuh yang membungkus jiwa merupakan komunitas monade yang merekat. Komunitas ini saling terhubung membentuk unit dan sub-struktur yang pada akhirnya membentuk keutuhan tubuh manusia.

Sebagai mesin (spiritual) atomik, ia dapat ditafsirkan mencipta kualitas ruang pada dirinya yang tertutup. Eksistensinya dapat dimengerti sebagai prinsip internal. Prinsip internal ini berbeda dengan prinsip (internal) penciptaan seperti dijelaskan Leibniz. Prinsip internal ini saya definisikan dengan ruang kesadaran. Contohnya, kita tidak mengetahui prinsip internal monade seekor macan. Artinya, apa yang terjadi (dirasakan) binatang buas itu khas dirasakan oleh dirinya. Seperti ketika punya kehendak, orang lain tidaklah bisa memprediksinya. Karena itu, entitas spiritual ini bukanlah ruang kosong, melainkan selalu dipenuhi kualitas.

Seturut dengan manifestasi kreativitas monade, manusia mencipta ruang dirinya. Ranah jiwa, ruang mewujud sebagai subjek sadar yang mempunyai kehendak, kebebasan dan kualitas-kualitas lainnya. Ranah tubuh, ruang menjadi relatif terdiri dari unit-unit sub-struktur kemanusiaan. Darah, hati, jantung, otak, mata, sel darah putih, dan bagian tubuh lainnya dapat dikatakan ruang yang berekstensi secara material. Mesin atomik membentuk harmoni yang akhirnya menghadirkan jiwa dominan, yaitu the Self.

Jiwa dominan individu tentulah hanya menyadari dirinya sendiri sebagai subjek (the Self) yang tak terpilah. Begitu juga sel-sel tubuh, kita tidak dapat mengintip ruang sel untuk mencari tahu apa motifnya dan bagaimana bisa menjadi harmonis. Sel-sel memiliki kehendaknya sendiri yang bekerja secara harmonis. Melalui sistem berpikir Leibnizian, sel juga individu yang mempunyai kualitas. Individu yang sudah cukup diri karena ada aksi internal yang membentuk keselarasan.

Jiwa dominan monade bersifat tertutup. Ruang ini biasanya disadari sebagai jiwa, ruang kesadaran. Walaupun ia ruang tak berjendela, dikatakan dapat melakukan koneksi dengan tatanan yang mengaturnya. Seperti dijelaskan Leibniz, setiap monade tercipta dan menjadi harmonis sesuai dengan ketentuan Sumber. Tepat ketika individu sudah sadar diri akan kemonadean-nya akan mengenal sang penciptanya. Ruang kesadaran tidak tertutup lagi.

Ruang mistik menghampiri kita sebagai state of mental yang menaungi cara pandang tentang dunia. Ia adalah ilusi tapi juga dapat dikatakan kenyataan. Kita mengatakannya ilusi karena tak dapat menyentuhnya secara indrawi. Ia disebut kenyataan karena kita merasakan dan mengalami ketersingkapan bahwa ada yang nyata di balik entitas material. Kendati ruang ini dipahami dalam konteks psyche, keberadaannya tidak seperti ruang imaji puisi, sebagaimana diistilahkan oleh Bachelard (Casey 1997: 285), karena dapat merentang ke wilayah kenyataan material. Merentang dalam arti memahami alam raya dalam kesatuan, yakni memahaminya terbatas pada atau dalam naungan ruang bundar kemonadean.

Monade sebagai ruang mistik dipahami dalam moda subjektif yang tertutup dan tak dapat didialogkan. Namun, ruang kesadaran ini mempunyai moda objektif. Moda objektif dapat dibangun berdasarkan komunikasi, sehingga terlihat adanya suatu argumen ia bukanlah ruang tertutup. Lewat komunikasi, misalnya, manusia dapat mencurahkan ruang kesadarannya. Karena itu sifat monadologis ruang jiwa seperti menjadi hilang. Melalui cara berpikir Leibnizian, sebenarnya dimensi eksternal yang dapat dikomunikasikan. Monade selalu tertutup tak berjendela dengan alasan bahwa suatu kehendak tak dapat diprediksi, yaitu potensi kebebasannya yang tak terhingga. Bisa saja kita mengomunikasikan kehendak bebas, tapi ini tidaklah menjadi ketentuan mutlak. Diketahui adanya potensi ruang mental untuk berbohong atau mengubah keputusan. Dalam arti ini ruang jiwa dikatakan tertutup tak berjendela.

Edward S. Casey dalam bukunya The Fate of Place: Philosophical History (1997: 167-179) menafsirkan ruang eksternal (material/tampakan luar) monade dalam konteks situasi dalam posisi lokalitas dan kuantitas. Dapat diproposisikan kemudian situasi dan kuantitas inilah yang sebenarnya dapat dikomunikasikan. Seperti dijelaskan Leibniz, ruang yang menjadi keluasan kuantitas bersifat relasional. Ketika berkomunikasi, ruang jiwa membentuk sistem relasional. Ia adalah tatanan eksternal yang terkondisikan tatanan internal. Komunikasi dapat juga dikatakan harmonisasi. Sekelompok manusia berkomunikasi saling membantu membentuk sesuatu itulah harmonisasi. Dapat dikatakan keselarasan terbentuk lewat komunikasi, ini yang dapat ditafsirkan sebagai tatanan eksternal monade.

Dalam konteks lain, tatanan internal (ruang kesadaran yang belum terkoneksi) dapat mengelak dari ketentuan yang telah dikomunikasikan tatanan Illahiah. Manusia yang diprogram oleh Allah untuk hidup harmoni dapat mengelak dan membantah. Tatanan Ilahiah menginginkan keharmonisan, tapi manusia dapat membantahnya atau menutup klep ruang mistiknya. Konkuensi dari hal ini adalah mungkin kehancuran. Pembantahan tentu tidak terjadi pada jiwa dominan saja. Dalam ilmu genetika, diketahui DNA (deoxyribonucleic acid), zat dasar yang mengonstruksi tubuh dapat membantah, secara keilmuan salah dan tak mau menerjemahkan kode-kode yang telah ditentukan tatanan harmonis. Karena pembantahan sel hasilnya sebuah anomali, tubuh tercipta secara tak sempurna.

Mengenali ruang mistik, tentu tidak semata-mata pengenalan yang memberikan pemahaman tentang pembasuhan ruang eksternal (material atau tampakan luar). Mengenali ruang ini berarti mengenali sepenuhnya jati diri. Ruang mistik tentunya juga dapat meluas ke masyarakat mengingat manifestasi monade adalah alam universal. Kita dapat menjelaskannya secara sosiologis melalui pemikiran Georg Simmel (1950). Menurut Simmel, masyarakat merupakan hasil perkembangan forma eksternal individu. Masyarakat terbentuk lewat fragmen-fragmen individu yang terbuka. Adat atau tradisi seseorang selalu merepresentasikan sebuah masyarakat.

Dari sini dapat diproposisikan sekelompok individu yang telah menyadari kemonadeannya dapat menjelma menjadi masyarakat mistik. Dalam masyarakat ini, harmoni menjadi sesuatu yang logis dan rasional. Masyarakat ini mempunyai jiwa dominan, individu-individu yang bekerja dalam keselarasan. Masyarakat mistik merupakan konsekuensi logis tatanan eksternal individu-individu yang berserah diri dalam keharmonisan ditentukan tatanan Illahiah. Seperti juga terbentuknya tubuh melalui mekanisme yang bekerja dalam keharmonisan. Karena itu, setelah masyarakat mistik terbentuk, melalui sistem berpikir monadologis, terbuka kemungkinan terbentuknya negara mistik. Negara yang sadar diri bahwa ia mengemban aturan monade primordial, yaitu keharmonisan, akan mengangkat nilai-nilai kebebasan, cinta, dan keadilan.

Postscript

Artikel ini dipublikasi Koran Tempo Minggu (8 Mei 2005) berdasarkan makalah seminar “Ruang dan Fragmentasi” dengan instruktur F. Budi Hardiman. Rasionalisme filsafat G.W. Leibniz seperti kita ketahui dibangun melalui sistem berpikir monadologis. Kebenaran tidak kita jumpai semata-mata pada materi elementer (atomistik) yang terbuktikan secara indrawi, tetapi pada substansi ratah dan metafisis bernama monade. Leibniz telah membuka jalan pada teori medan dalam ilmu fisika, realitas ultima menurutnya mekanisme energi yang mengatur diri bukan materi.

Selain itu, mesin atomik mendapat pembenarannya seiring dengan penemuan orbit elektron pada inti atom. Partikel elementer memiliki karakter mekanistik seperti diteorikan oleh Leibniz. Alam kehidupan menurut Leibniz diciptakan melalui suatu mekanisme mesin spiritual atomik (Aphorism 64). Berdasarkan prinsip monadologis, tumbuhan merupakan mesin yang terdiri dari mesin-mesin super halus yang tak dapat dipersepsikan. Pada masa kontemporer, mesin-mesin industri dirancang untuk mencipta dan menghasilkan banyak kebutuhan manusia, dari makanan sampai smartphone, seperti halnya monade mencipta alam kehidupan. Bisa juga kita bandingkan dengan teknologi nano di mana mesin dirancang dengan ukuran sedemikian kecilnya sehingga secara persepsional dapat berperan seperti layaknya monade.

 

Filsafat Leibniz tetap menarik untuk direfleksikan sebagai khazanah mahzab rasionalisme. Manusia dan mahkluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan, memiliki esensi yang sama yaitu adanya prinsip internal monadologis. Prinsip yang bersifat rasional ini berbeda dengan Decartes. Bila Descartes menyatakan adanya kekuatan jiwa yang mengontrol tubuh, Leibniz menyatakan adanya keseimbangan antara jiwa dan tubuh. Sebagaimana dikatakan olehnya “According to this system, bodies act as if (to suppose the impossible) there were no souls, and souls act as if there were no bodies, and both act as if each influenced the other.” (Aphorism 81). Tubuh manusia tidak hanya jiwanya yang dapat berpikir rasional.

 

Referensi

Barrett, William. (1986). Death of the Soul: Philosophical Thought from Descartes to Computer. Anchor Books.

Casey, Edward S. (1998). The Fate of Place. University California Press. Los Angeles and California.

Leibniz, G.W. (1714). “Monadology”. Dalam buku Philosophic Classics: Vol. III, Modern Philosophy. Editor Forres E. Baird dan Walter Kaufmann. Prentice Hall College Div. (September 19, 1996).

Simmel, George. (1950). The Sociology of George Simmel. Diedit dan terjemahkan oleh Kurt H. Wolf. The Free Press, Glencoe, Illinois.

LEAVE A REPLY