Pada zaman prasejarah kita menggunakan batu untuk bertahan hidup. Dari alat-alat sederhana yang terbuat dari batu lalu berkembang menjadi alat-alat yang terbuat dari tembaga, perunggu, dan besi yang memiliki materialitas lebih kuat. Alat-alat tersebut memiliki fungsi yang dapat disepadankan dengan tangan manusia. Lewis Mumford dalam “Tool-user vs Homo Sapiens and The Megamachines” (2003) mengatakan teknologi secara fungsional dibuat sesuai dengan fragmen-fragmen tubuh manusia atau biotechnic. Teknologi prasejarah tersebut secara historis menjadi prakondisi teknologi modern seperti infrastruktur, mesin, dan yang akan saya bahas dalam makalah ini, instrumen keilmuan.

Teknologi tidak akan hadir ke dunia tanpa adanya kecerdasan dan kreativitas. Dalam filsafat Martin Heidegger, penciptaan teknologi yang kemudian dipahami sebagai realitas merupakan esensi teknologi sebagai enframing. Enframing dapat dijelaskan sebagai techné yang merupakan akar kata teknologi, secara etimologis techné berasal dari kata Yunani kuno yang berarti poiesis, ia dapat dibandingkan dengan kreativitas dalam seni (Heidegger 1977). Esensi teknologi sebagai enframing selalu merupakan inovasi yang mengungkap kebaruan.

“Enframing means the gathering together of that setting-upon which sets upon man, i.e., challenges him forth, to reveal the real, in the mode of ordering, as standing-reserve. Enframing means that way of revealing which holds sway in the essence of modern technology and which is itself nothing technological.” (Heidegger 1977, 20).

Instrumen keilmuan merupakan realitas teknis yang dapat dikategorikan sebagai sebuah enframing. Meski ia memiliki fungsi tetap yang membuat dunia standing-reserve sebagai sumber ilmu, revolusi dalam ilmu selalu mengandaikan inovasi. Kita bisa lihat, dalam sejarah ilmu, eksperimen pompa udara Robert Boyle. Pompa udara dikonstruksi sedemikian rupa agar dapat menghisap udara sehingga ruang di dalam receiver pompa udara (bola kaca) menjadi hampa. Ruang hampa dalam receiver merupakan wadah di mana objek keilmuan kemudian diteliti.

Eksperimen Boyle pertama-tama tentang teknologi pompa udara yang dapat mensituasikan ruang hampa. Analisis teknis pompa udara menjadi sentral dalam filsafat eksperimentalnya (Shapin dan Schaffer 1985). Ia menjadi condition of possibility ruang hampa yang berpengaruh terhadap objek keilmuan. Contoh eksperimen Boyle, jarum magnet dalam receiver. Eksperimen ini membawa pada kesimpulan bahwa ruang hampa tidak memiliki pengaruh terhadap gaya magnetik. Eksperimen lainnya jam. Kita tidak bisa mendengar detak suara jam dalam ruang hampa, sehingga memberi kesimpulan bahwa suara dapat didengar melalui media udara (B. West 2005).

Seperti halnya Boyle, Galileo memperbaharui teknologi teleskop untuk mendukung teori heliosentris Copernicus.  Ia meningkatkan kualitas teleskop sebelum kemudian menggunakannya dalam observasi astronomi. Teleskopnya memiliki pembesaran visi tiga kali lebih jauh dibandingkan dengan teleskop konvensional pada masanya. Melalui proses teknologis, teleskop mengamplifikasi visi sehingga dapat terlihat benda-benda langit yang sebelumnya tidak terlihat. Teleskop Galileo terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti lensa dan tabung. Dengan teknik dan teori cahaya, lensa dan tabung kemudian bertransformasi secara teknologis. Teleskop menjadi faktor utama penemuan keilmuan dalam observasi astronomi Galileo. Ia melihat dengan teleskopnya kontur kasar permukaan Bulan, satelit Jupiter, dan cincin Saturnus yang merupakan bukti keilmuan yang merevolusi gagasan Bumi sebagai pusat alam semesta.

Dalam biologi, Robert Hooke dan Antony Leeuwenhoek meningkatkan kualitas mikroskop Zacharian Jansen. Inovasi mereka, seperti Galileo dengan teleskopnya, telah memunculkan ilmu baru yang mendasarkan pengetahuannya pada fenomena termediasi (instrumen optis). Hooke menemukan sel tumbuhan melalui mediasi mikroskop. Ia lalu menyimpulkan sel tidak hanya ada pada tumbuhan tetapi pada semua organisme hidup. Bukunya yang berjudul Micrographia (1665) berisi ilustrasi pengamatan mikroskopisnya. Ia mengilustrasikan dalam buku tersebut objek keilmuan yang ia lihat melalui mikroskop atau apa yang tidak bisa dilihat secara alami.

Konstruksi teknologis fenomena keilmuan menjadi ciri sains kontemporer. Materialitas objek keilmuan, meski pada dasarnya naturalistik, selalu merupakan konstruksi dan mediasi teknologis. Saya mengistilahkan interpretasi materialitas pengetahuan melalui konstruksi dan mediasi teknologi ini dengan hermeneutika instrumen. Argumennya saya elaborasi berdasarkan pascafenomenologi Don Ihde, khususnya fenomenologi instrumentasi, yang menjelaskan relasi-relasi manusia-teknologi. Intensionalitas meluas tidak semata kapasitas motorik tubuh dan daya persepsi. Dalam wacana filsafat ilmu, Ihde memformulasikan fenomenologi tentang relasi-relasi manusia-teknologi, fenomenologi ini menyatakan antara manusia dan dunia secara epistemologis terdapat mediator.

Menurut Ihde, ada dua macam relasi-relasi manusia-teknologi yang relevan diketahui untuk memahami materialitas ilmu: relasi kemenubuhan dan relasi hermeneutis (Ihde 1979, 28-33). Relasi kemenubuhan pertama kali dijelaskan oleh Maurice Merleau-Ponty dan Heidegger. Merleau-Ponty menjelaskan bahwa teknologi dapat berperan secara perseptual sebagai bagian dari tubuh. Ilustrasi fenomenologisnya: orang buta yang menggunakan tongkat untuk melihat dunia. Tongkat tidak lagi menjadi objek pengalaman bagi orang buta, melainkan ekstensi persepsi kebertubuhannya. Seperti Merleau-Ponty, Heidegger mengatakan pengetahuan praksis berada dalam relasi dengan teknologi. Menurut Heidegger, ia tidak hanya dipahami sebagai objek-objek belaka tetapi secara ontologis menjadi ready to hand. Ketika menggunakan instrumen tertentu, keberadaannya tercerabut sebagai objek pengalaman dan menjadi bagian dari adanya manusia.

Dalam relasi hermeneutis, kita membaca dunia melalui proses teknologis dari instrumen. Teknologi memediasi fenomena dalam bentuk teks. Instrumen keilmuan sains kontemporer sebagian besar berada dalam kategori relasi hermeneutis. Dalam relasi ini, fenomena tidak dicerap secara langsung. CO₂ Meter, misalnya, berada dalam kategori relasi hermeneutis. Kita melihat (atau mengukur) CO₂ di udara yang tidak dapat dipersepsikan dengan membaca CO₂ meter. Instrumen lainnya dalam kategori relasi hermeneutis adalah glucometer yang dapat mengukur glukosa melalui proses elektrokimia seperti halnya CO₂ meter. Glukosa dibaca oleh enzim elektroda yang mengandung glukosa oksidase dalam glucometer tersebut.

Relasi hermeneutis menghadirkan kualitas termediasi melalui proses teknologis, alih-alih pengalaman kebertubuhan seperti dalam relasi kemenubuhan. Merleau-Ponty mengatakan pengetahuan terkondisikan oleh pengalaman (Merleau-Ponty 1974, 197). Jika melihat suatu objek dari sudut pandang tertentu, hadir dalam kesadaran dimensi yang tak dapat dipersepsikan berasal dari pengalaman. Pengetahuan tentang sebuah objek tidak semata dari persepsi inderawi, tetapi menyejarah sebagai gestalt. Persepsi ini menurut Merleau-Ponty tidak bersifat mutlak atau tidak bisa membawa pada kebenaran. Ini menjadi metode untuk mengetahui relasi hermeneutis. Dalam mempersepsikan dunia, proses teknologis menggantikan kapasitas motorik tubuh.

Dari fenomenologi instrumentasi Ihde ini, dapat dinyatakan bahwa materialitas ilmu terkonstruksi berdasar relasi-relasi manusia-teknologi. Saya merujuk pada apa yang Ihde istilahkan dengan relasi transparansi dari relasi-relasi manusia-teknologi: (a) transparansi kemenubuhan dan (b) transparansi hermeneutis (Ihde 1990, 86-87). Relasi transparansi mentransformasikan pengalaman yang inheren barada pada tubuh (relasi kemenubuhan) dan teknologi (relasi hermeneutis). Relasi-relasi ini memberi wawasan bahwa materialitas ilmu bersifat teknologis. Tubuh, teknologi dan dunia dalam relasi transparansi dipahami sebagai kesatuan relasional.

Ilmu bersifat teknologis dalam arti terkonstruksi berdasarkan relasi-relasi manusia-teknologi. Interpretasi tidak berakhir pada fenomena termediasi tetapi meliputi materialitas teknis instrumen. Dimensi teknis instrumen, tidak hanya materialitas objek yang dimediasikannya, menjadi bagian dari kegiatan hermeneutis. Bruno Latour, misalnya, mengkritik ilmu yang hanya dihadirkan dalam bentuk inskripsi-inskripsi visual. Ia menggarisbawahi pentingnya perangkat inskripsi termasuk ilmuwan yang menggunakannya dalam praktik keilmuan (Latour 1987, 67-70). Dalam actor-network theory, ia menempatkan teknologi simetri dengan manusia dalam sebuah jaringan (network).

Dengan demikian, dapat dikategorikan adanya tiga macam relasi-relasi manusia-teknologi dalam ilmu: teknologi sebagai mediator, teknologi sebagai pengetahuan, dan teknologi sebagai fakta. Dalam pascafenomenologi Ihde, teknologi dipahami sebagai mediator. Realitas tidak langsung dicerap oleh tubuh. Teknologi sebagai mediator menempatkan teknologi standing-reserve atau digunakan karena memiliki fungsi tertentu yang memungkinkan suatu praksis keilmuan. Hal tersebut mengandaikan adanya kesatuan fungsional. Jika menggunakan mikroskop atau instrumen lainnya, sering kali kita mengabaikan dimensi teknisnya yang menjadi syarat hadirnya fenomena.

Teknologi sebagai pengetahuan berarti ia bagian dari ilmu. Materialitas ilmu, agar menjadi rasional harus meliputi teknologinya atau istilah Latour dan Woolgar perangkat inskripsi. Untuk mendapatkan suatu relasi transparansi, misalnya, instrumen keilmuan mesti memenuhi persyaratan teknis. Pengetahuan tentang karakteristik teknis instrumen membuka kemungkinan untuk inovasi teknologis yang kemudian menjadi prakondisi terjadinya revolusi dalam ilmu. Davis Baird (2002) mendefinisikan bagaimana melihat teknologi sebagai pengetahuan ini dengan thing knowledge. Teknologi dalam filsafatnya merupakan pengetahuan obyektif yang termaterialisasi, berbeda dengan pandangan tradisional ilmu yang melihatnya sebatas alat. Namun demikian, epistemologi materialnya berfokus pada fungsi yang membawa kebenaran, alih-alih fakta.

Kategori lain mengenai relasi-relasi manusia-teknologi dalam ilmu adalah materialitasnya. Jika merujuk pada relasi transparansi, ia dikatakan sebagai fakta. Steven Shapin dan Simon Schaffer, dalam mengomentari eksperimen pompa udara Boyle, mengategorikan pompa udara sebagai fakta (Shapin dan Schaffer 1985, 25). Pompa udara diciptakan dan menjadi syarat teknis ruang hampa untuk membuktikan materialitas pengetahuan dalam filsafat alam. Berbeda dengan fenomenologi instrumentasi Ihde, materialitas ilmu adalah variasi-variasi instrumental fenomenologis. Materialitas bukanlah realitas ultima yang keberadaannya terpisah, melainkan mewujud secara intensional melalui teknologi. Glucometer memediasi glukosa secara hermeneutis. Materialitas glukosa bukanlah glukosa sebagai realitas terpisah tetapi juga meliputi teknologinya.

Kesimpulannya, kemajuan ilmu selalu mengandaikan kemajuan perangkat teknologinya. Dalam perspektif pascafenomenologis, ilmu adalah suatu kegiatan menciptakan materialitas dalam wujud teknologi. Seperti konsep pengetahuan teknologis (atau ilmu-ilmu teknik/engineering science) sebagaimana diusulkan oleh Marc J. de Vries (2005) yang memiliki rasionalitasnya dibandingkan ilmu pada umumnya. Atau konsep the craft dalam sosiologi Ibn Khaldun (1377). The craft adalah pengetahuan praktis, termasuk seni, yang terdiri dari semua aspek teknis peradaban. Ihde mengatakan perbedaan antara filsafat ilmu dan pascafenomenologi adalah nilai eksperimentalnya dan teori yang menubuh dengan teknologi

Multistabilitas Instrumentasi Keilmuan

Teknologi sebagai bagian integral dari budaya atau tidak memiliki makna universal. Ciri kultural dalam melihat dan menggunakan teknologi dalam filsafat Don Ihde diistilahkan dengan multistabilitas teknologi-budaya. Ia menjelaskan bagaimana struktur persepsi menjadi dasar pemahaman tentang teknologi. Multistabilitas adalah bagaimana tubuh memiliki kapasitas persepsi dan daya motorik yang khas dalam relasinya dengan teknologi. Ihde mengatakan, “there I show both that bodily perception has a structure, but that very structure yields a polymorphy to perception. It is multistable” (Ihde 1990, 144).

Saya akan mendedah konsep multistabilitas berkenaan dengan instrumentasi keilmuan. Multistabilitas di sini bagaimana persepsi keilmuan kemudian menentukan fungsi suatu instrumen. Fungsi ditentukan oleh proyeksi pengetahuan yang diinginkan. Bentuk mediasional dan fungsional ini menyatakan ia dibentuk oleh ilmunya atau istilah Ihde makropersepsi. Multistabilitas di sini adalah ketika fungsi dipahami tidak hanya dari perspektif teknis tetapi meliputi ilmunya. Persepsi ilmiah yang dikategorikan oleh Ihde sebagai persepsi kultural (atau makropersepsi) menjadi prakondisi dari instrumentasi.

Mengacu pada relevansi makropersepsi, Ihde kemudian berpendapat tentang pentingnya memahami kesalingterhubungan antara persepsi keilmuan dan persepsi inderawi dalam menganalisa fenomena. Ia mengkritik Edmund Husserl yang menekankan hanya persepsi inderawi (atau mikropersepsi). Menurut Husserl, ilmu pasca-Galileo memiliki kecenderungan untuk mereduksi dunia menjadi sesuatu yang abstrak dan matematis. Ia mengatakan ilmu harus mendasarkan diri pada dunia pra-keilmuan atau dunia persepsi inderawi. Keutamaan dunia pra-keilmuan Husserl adalah cara pandang materialistik sains modern. Tapi pandangan Husserlian tentang materialitas ilmu ini, menurut Ihde, tidak mempertimbangkan persepsi keilmuan sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh pada bagaimana kita memahami fenomena (Ihde 1990, 34-36).

Ketersalinghubungan antara mikro dan makropersepsi sebagai cara untuk memahami dunia bisa diterapkan dalam memahami fungsi instrumen keilmuan. Pompa udara Boyle, misalnya, digunakan terbatas pada suatu komunitas keilmuan. Untuk memahami pompa udara, cara kerja dan fungsinya, kita harus mengetahui ilmunya dalam hal ini diskursus filsafat alam. Dengan kata lain, makropersepsi menentukan ciri teknis pompa udara. Pompa udara secara teknis mencipta ruang hampa. Ruang hampa belum dapat dikatakan sebagai sebuah ilmu, kita harus meletakkan benda-benda atau objek keilmuan dan kemudian melihat efek dari ruang hampa.

Dalam filsafat Ihde tentang multistabilitas, makropersepsi membentuk pemahaman tentang teknologi. Persepsi bersifat kultural ini dapat dijelaskan sebagai pengetahuan yang mewujud melalui perilaku dan juga mikro dan makropersepsi. Pengetahuan kultural (atau lokal) biasanya unik bila dibandingkan dengan pengetahuan keilmuan (atau global). Ia dikatakan lokal jika memiliki ciri terkondisikan oleh kebiasaan dan tradisi. Dari pandangan Ihde tentang multistabilitas, penting untuk digarisbawahi, karena multistabilitas persepsi, bahwa instrumentasi dalam ilmu terkonstruksi oleh budaya. Makropersepsi meski berasal dari persepsi keilmuan pada dasarnya bersifat kultural.

Kita bisa lihat inovasi agrikultural di Indramayu, Jawa Barat. Para petani berinovasi tentang metode pemuliaan tanaman seperti padi dan sayuran dengan menggali pengetahuan lokal yang hilang. Dalam pemuliaan tanaman, mereka tidak didukung oleh instrumen keilmuan terbaru, tetapi menggunakan keterampilan yang berasal dari tradisi. Kemampuan untuk memilih benih yang baik adalah unik; terbentuk melalui memori dan bersifat estetis (dan kultural). Multistabilitas dalam praktik pemuliaan tanaman adalah kemampuan petani untuk melihat mana benih yang baik. Kemampuan ini tidak dapat dijelaskan oleh metode keilmuan. Hal ini berbeda dengan benih penelitian yang dibuat di laboratorium yang selalu mengandaikan ilmu dan instrumentasi.

Tapi inovasi teknik bagaimana menghasilkan tanaman berkualitas baik tidak sepenuhnya kultural atau terbentuk oleh tradisi. Sebuah etnografi dilakukan oleh antropolog UI bekerjasama dengan para petani telah memberi wawasan adanya proses dialektis antara pengetahuan global dan lokal (Winarto et. Al. 2011). Seperti jelaskan oleh etnografi tersebut, mereka juga menggunakan metode keilmuan modern dalam pemuliaan tanaman. Adaptasi metode keilmuan modern dalam pemuliaan tanaman membawa petani pada penemuan varietas lokal yang hilang. Pengetahuan keilmuan (yang sering dikatakan sebagai pengetahuan global) memainkan peran penting dalam dinamika pengetahuan lokal.

Multistabilitas juga dapat ditemukan dalam praktik menyetem piano. Menurut pengalaman saya, stem piano dengan osiloskop (atau strobe tuner) tidak lebih baik dibandingkan dengan metode pendengaran. Stem piano melalui media osiloskop, khususnya untuk junior piano tuner atau orang awam, lebih dapat memahami suara dengan melihat indikator. Mereka membaca osiloskop untuk membuat skala temperamen. Tanpa osiloskop, mereka tidak bisa membedakan mana suara yang baik dan jelek. Senior piano tuner memiliki keterampilan mendengar frekuensi yang baik tanpa osiloskop. Relevan untuk diketahui keterampilan ini tidak didasarkan pada nilai estetis dan dapat dijelaskan secara keilmuan. Senior piano tuner mengetahui frekuensi yang baik melalui skala dan rasio. Kita memutuskan apakah suara itu benar atau salah dengan menghitung beats atau gelombang yang muncul dari dua sumber suara (hampir tidak bisa terdengar oleh orang awam).

Multistabilitas dalam praksis stem piano adalah kemampuan untuk memutuskan (atau mendengar) frekuensi suara yang tepat melalui persepsi inderawi dibandingkan dengan instrumen. Keterampilan bagaimana mendengar frekuensi suara yang baik tidak terbentuk melalui kebiasaan atau tradisi tetapi dengan belajar teori dan praktik sekaligus di lapangan. Piano tuner yang telah menguasai teknik stem piano dan memahami teori skala temperamen, tentu saja, mengetahui fungsi teknis osiloskop. Junior piano tuner atau orang awam mengetahui skala melalui osiloskop.

Dalam praktik keilmuan, ada ketersalinghubungan antara mikro dan makropersepsi. Tapi makropersepsi di sini bukanlah suatu budaya atau terbentuk oleh tradisi. Persepsi keilmuan, yang dikategorikan oleh Ihde sebagai makropersepsi, seperti data tertulis dan juga teori, membentuk pemahaman tentang materialitas ilmu dan instrumentasinya. Demikian pula, mikropersepsi, misalnya dalam menyetem piano, terbentuk melalui latihan atau pembelajaran daya pendengaran dan motorik tubuh. Mikropersepsi, khususnya dalam praktik keilmuan, bisa dipelajari meski bersifat multistabil. Mikro dan makropersepsi dalam praktik keilmuan tidak murni persepsi kultural yang bersifat unik.

Dikotomi pengetahuan lokal dan global, dengan mengacu pada inovasi agrikultural dan praktik menyetem piano, tidaklah relevan di era pascamodern sekarang ini. Tidak ada pengetahuan secara murni lokal maupun global. Kemajuan teknologi informasi telah mengondisikan pengetahuan plurikultural. Kita dapat menemukan banyak pengetahuan lokal dan global. Ada jembatan epistemologis antara kedua bentuk pengetahuan (lokal dan global). Selalu ada kemungkinan untuk mempelajari pengetahuan (embodied knowledge) baik itu secara kultural unik dan keilmuan atau pengetahuan yang pada dasarnya multistabil.

Realisme Fenomenologis Ruangsiber

Pada bagian ini akan dibahas gagasan tentang realisme fenomenologis ruangsiber. Konsep filosofis ini menjelaskan bagaimana instrumen-instrumen terhubung ke ruangsiber sehingga memperluas cakrawala tentang dunia termediasi dan juga tentang teknologi komputer yang memproses fenomena dan data. Ruangsiber menghadirkan fenomena melalui dua bentuk mediator: a) materialitas instrumen dan b) teknologi internet. Internet mendomestikasi instrumen-instrumen dengan teknologi robotis dalam ruang layar.

            Saya mengacu pada filsafat Ihde tentang realisme fenomenologis dan multistabilitas dalam rungsiber. Mediasi instrumental memperluas dan mengamplifikasi cakrawala dunia, instrumen menjadi kondisi yang memungkinkan suatu fenomena keilmuan. Dalam realisme fenomenologis (Ihde 1991), ia menyatakan bagaimana instrumen keilmuan menjadi prakondisi dari ilmu pengetahuan. Ilmu menurutnya harus didefinisikan sebagai suatu eksperimentasi dan instrumentasi, alih-alih teoritesasi. Berdasarkan realisme fenomenologis ini, saya mengistilahkan transformasi praksis melampaui materialitas instrumen tertentu dengan realisme fenomenologis ruangsiber.

Dunia tubuh dalam ruangsiber tereduksi dalam bentuk informasi digital. Ruang layar menghadirkan dunia termediasi yang pada dasarnya multistabil. Multistabilitas ruangsiber adalah bagaimana melihat realitas termediasi dalam ruang layar. Dalam pascafenomenologi Ihde, ada tiga bentuk multistabilitas dalam ruangsiber: a) tampilan ruang layar, b) non-netralitas internet, dan c) alternasi virtual/aktual (Ihde 2003). Tampilan ruang layar adalah variasi visual yang menampilkan ruang 2D dan 3D seperti teks, gambar, animasi (simulasi) dan video. Non-netralitas internet adalah email dan teknologi virtual yang membentuk realitas termediasi secara interaktif. Dengan internet kita bisa berinteraksi dan mengendalikan teknologi dalam ruangsiber. Non-netralitas ini kemudian menciptakan alternasi virtual/aktual. Informasi dalam ruangsiber (virtual) mengondisikan realitas aktual dan sebaliknya informasi realitas aktual mengubah realitas virtual.

Slooh Space Camera adalah contoh situs yang merepresentasikan gagasan tentang realitas pascafenomenologis dalam ruangsiber. Slooh adalah teleskop online yang memediasi benda-benda langit yang tak dapat dipersepsikan melalui internet. Kita mengakses aktivitas teleskop robotik yang berada di kepulauan Canaria lautan Atlantik secara online dalam situs ini. Teleskop terhubung secara global melalui mediasi internet. Materialitas teleskop terdomestikasi dalam ruang layar. Relasi teknologis melampaui relasi kemenubuhan. Jika memiliki keanggotaan di situs ini, diperbolehkan mengontrol teleskop secara pribadi. Teleskop online bersifat multistabil karena materialitas teknisnya dan dunia yang dimediasikannya berada dalam ruang layar. Non-netralitas teleskop online ketika dapat digunakan secara interaktif melalui dua bentuk relasi-relasi teknologis.

Situs lainnya adalah Accuweather. Situs ini memediasi pengetahuan tentang cuaca seperti kecepatan angin, kelembaban dan temperatur secara real time. Dunia berjarak dan global diketahui melalui instrumen cuaca yang terhubung ke internet. Dalam fenomenologi instrumentasi Ihde, dunia yang dihadirkan oleh Accuweather berada dalam kategori relasi hermeneutis. Dalam relasi ini, dunia dilihat sebagai sebuah teks.  Ciri non-netral ruangsiber memungkinkan kita mengontrol instrumen yang berjarak dalam relasi hermeneutis dan relasi kemenubuhan. Bentuk kontrol ini menjadi mungkin hanya melalui teknologi robotik. Setiap instrumen yang terkomputerisasi, baik dalam konteks kontrol on/off dan khususnya gerak robotisnya, dapat terintegrasi ke ruangsiber. Tanpa teknologi robotis tidak mungkin dapat mengendalikannya melalui internet.

Selain itu, melalui pendekatan pascafenomenologi tentang ruangsiber, komputer sebagai infrastruktur ruangsiber mesti dikategorikan ke dalam relasi instrumental yang berbeda. Karena ia tidak hanya memediasi, tapi juga mengubah dan mengalkulasi realitas termediasi dan data. Kita mempersepsikan fenomena atau mengumpulkan data, menyimpannya ke dalam komputer, lalu mengubahnya menjadi pengetahuan yang diproyeksikan. Dalam filsafat Ihde, kemampuan komputer untuk mengubah realitas di luar kondisi aktualnya disebut dengan intensionalitas instrumental. Intensionalitas tidak terbatas pada refleksi tubuh secara eksistensial seperti filsafat Husserl, Heidegger dan Merleau-Ponty. Intensionalitas meluas ke ranah teknologi. Instrumen keilmuan memiliki fungsi yang dapat mengonstruksi realitas sedemikian rupa sebagai pengetahuan. Intensionalitas instrumental dalam konteks ini adalah bagaimana instrumen secara relasional memiliki ciri khas atau fungsi teknis tertentu yang menentukan praktik keilmuan.

RTI (Reflectance Transformasional Imaging) adalah teknologi digunakan dalam ilmu arkeologi yang bisa menjelaskan intensionalitas instrumental dalam praktik keilmuan. Instrumen ini dirancang agar dapat menampilkan teks dan imaji arkeologis secara lebih jelas. Dengan teknologi komputasi, RTI mampu memberi cahaya pada permukaan batu atau inskripsi, detail inskripsi menjadi lebih jelas terlihat dengan mediasi teknologi fotografi komputasi. Teks dan gambar pada batu yang awalnya dipotret oleh kamera, kemudian diproses dan dimanipulasi oleh komputer sehingga menghasilkan teks dan gambar tanpa bayangan dan dapat dilihat dari perspektif berbeda. Contoh lainnya penginderaan jarak jauh (remote sensing/teknologi satelit) dan fotografi udara yang memiliki fungsi membaca permukaan bumi. Gambar dari atas diambil oleh kamera fotografi dan teknologi penginderaan jarak jauh lalu diproses oleh program komputer agar dapat memberikan informasi tertentu terkait permukaan bumi. GIS (sistem informasi geografis) adalah teknologi yang secara khusus berfungsi mentransformasikan realitas fotografis dan data menjadi informasi geografis.

Realitas pascafenomenologis dalam ruangsiber mewujud melalui dua bentuk mediasi teknologis. Materialitas instrumen kemudian diubah menjadi fenomena dalam bentuk hiperteks. Realisme fenomenologis ruangsiber dapat dipahami ketika komputer merepresentasikan realitas melalui teknologi informasi. Fenomena termediasi tereduksi menjadi data yang kemudian diolah oleh teknologi komputer.[]

*Terjemahan makalah konferensi The Society for Philosophy and Technology dengan tema “Technology and Innovation” dan subtema “Technology, Innovation and Epistemology (Local and Global Knowledge)” di Northeastern University, Shenyang, Republik Rakyat Tiongkok (2015). 


Referensi

Mumford, Lewis. (2003). “Tool-User Vs. Homo Sapiens and the Megamachines”, in Philosophy of Technology: The Technological Condition: An Anthology. Scharff, Robert C. and Dusek, Val Eds. US. Wiley-Blackwell.

Hartanto, Budi. (2013). Dunia Pasca-Manusia: Menjelajahi Tema-tema Kontemporer Filsafat Teknologi. Depok. Penerbit Kepik.

Heidegger, M. (1973). Being and Time. Translated by John Macquarrie & Edward Robinson. Oxford. Oxford Basil Blackwell.

————–. (1977). The Question Concerning Technology and Other Essays. Penerjemah: W. Lovitt. New York. Harper and Row.

Ihde, Don. (1979). Technic and Praxis. Holland dan Boston, USA. D Riedel Publishing Company.

————–. (1990). Technology and the Lifeworld: from Garden to Earth. Bloomington/Indianapolis. Indiana University Press.

————–. (1991). Instrumental Realism: The Interface between Philosophy of Science and Philosophy of Technology. Bloomington/Indianapolis. Indiana University Press.

————–. (1993). Postphenomenology: Essays in the Postmodern Context. Evanston, Illinois. Northwestern University Press.

————–. (1998). Expanding Hermeneutics: Visualisme in Science. Evanston, Illinois.  Northwestern University Press.

————-. (2003). Multistability in Cyberspace. Mikael Hard, Andreas Lösch, Dirk Verdicchio (editor): Transforming Spaces. The Topological Turn in Technology Studies. (Htttp://www. ifs.tu-darmstadt.de/gradkol/publikationen/transformingspaces.html).

Merleau-Ponty, Maurice. (1974).  Phenomenology, Language, and Sociology: Selected Essays of Maurice Merleau-Ponty. London. Heineman Educational.

Latour, Bruno & Woolgar, Steve. (1986). Laboratory Life: The Construction of Scientific Facts. Princeteon, New Jersey. Princenton University Press,

Latour, Bruno. (1987). Science in Action: How to Follow Scientists and Engineers through Society. Harvard University Press.

Shapin, Steven & Schaffer, Simon. (1985). Leviathan and the Air-Pump: Hobbes, Boyle and the Experimental Life. Princeton University Press.

  1. West, John. (2005). Robert Boyle’s Landmark Book of 1660 with the First Experiments on Rarified Air. J Appl Physiology. www.jap.org.

Winarto, Yunita T., et.al. (2011). Bisa Dewek: Kisah Perjuangan Petani Pemulia Tanaman di Indramayu. Jakarta. Gramata Publishing.

 

LEAVE A REPLY