Obrolan tentang manusia secara mendalam sering bertalian dengan filsafat manusia yang menyoroti hakikat/esensi manusia. Jalurnya dengan pertanyaan-pertanyaan esensi manusia dan alam serta pemahaman diri berdasarkan totalitas gejala dan kejadian manusia. Lalu menghasilkan pemahaman memadai tentang hakikat manusia.

Filsafat manusia seringkali menelaah hal-hal yang metafisis: hakikat manusia berupa jiwa, badan atau atom-atom. Namun, dalam tulisan ini, saya akan mencoba menelaah struktur dasar manusia dengan cara empirical-turn, kembali kepada yang-empiris! Tak usah terburu-buru untuk beyond-physic. Cukup letakan kenampakan dari fenomena manusia—saat ini khususnya.

Dalam kajian filsafat seringkali kita mengenal adanya tesis tentang zoon politikon (Aristotle), animal labouran (Hannah Arendt) dan animal symbolicum (Ernst Cassirer). Tesis-tesis untuk spesies manusia diciptakan langsung merujuk kepada berbagai aspek-karakter manusia seperti homo faber, homo ludens dan homo economicus.

Telah banyak tokoh yang membahas tesis-tesis manusia di atas. Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit memperkenalkan konsep tesis Homo Technologicus. Mengapa hal ini bagi saya menarik untuk dibahas? Jawabannya bukan karena saya tegila-gila dengan teknologi (technophilia) atau sebaliknya, takut akan teknologi (technophobia). Tetapi, saya merasa bahwa sekarang manusia lebih cocok dipanggil Homo Sapiens Technologicus, karena selama 24 jam manusia hidup dengan teknologi. Tunggu dulu, kita tidak dapat langsung menyimpulkan demikian dan perlu penyelidikan lebih lanjut. Mari saya antarkan pembaca menuju dunia manusia-teknologis.

Sebelum mengurai Homo Technologicus atau istilah saya manusia-teknologis, dimulai terlebih dahulu dengan mengenal lebih dekat manusia yaitu melalui teknik. Kapasitas manusia untuk memahami dunia di sekitarnya dengan melihat pola-pola kehidupan berdasarkan hukum sebab-akibat. Kemampuan manusia telah dibuktikan dengan teknik adaptasi pada lingkungan, jauh melampaui makhluk hidup lainnya. Tepatnya, dengan menengok terlebih dahulu Homo Technicus.

Homo Technicus

Homo technicus sebagai term konseptual pertama kali diungkapkan Galván pada tahun 2003 untuk membantu menyempurnakan definisi manusia secara lebih akurat. Technicus mencerminkan kondisi keterjalinan antara perkembangan manusia dengan masyarakat-teknologis. Acuan gagasan ini karena adanya manusia secara teknologis dibentuk oleh alam dan berkembang bersama dengan teknologi.

Galván menyatakan dalam On Technoethics: manusia tidak dapat menjauh dari dimensi teknis (technical dimension), sebab pada dasarnya manusia sudah terkonstitusi secara teknis. Teknologi bukan tambahan pada manusia, tetapi fakta manusia itu sendiri, sebagai salah satu pembeda manusia dengan makhluk lainnya.[i]

Luppicini membangun lebih dalam konsep homo technicus. Luppicini merasa bahwa gagasan homo technicus sebagai kontribusi terhadap konsepsi manusia sebagai technoselves (manusia-teknologis) dapat dilihat dengan dua cara. Pertama, membantu memperkuat gagasan teknologi sebagai komponen kunci mendefinisikan manusia dan masyarakat. Kedua, menunjukkan pentingnya teknologi sebagai ciptaan manusia sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.[ii]

Faber tidak sama dengan Technologicus

Galván yang memahami manusia melalui dimensi teknis, dan Luppicini yang memahami keterlibatan teknologi dengan manusia memberikan angin segar tersendiri atas konsep kemampuan teknik manusia. Tetapi, kemampuan teknik ini juga dimiliki oleh Homo Faber, sang pembuat alat. Selain manusia, kemampuan yang sama juga dimiliki oleh beberapa spesies dari kingdom animalia sebagai pencipta alat.

Kesamaan kemampuan tersebut tidak serta-merta membuat persamaan kemampuan manusia dalam menciptakan alat adalah sama dengan hewan. Terlihat sama, tetapi jelas berbeda. Luciano Floridi membangun konsep tentang tingkatan teknologi dari kemampuan dasar hingga lanjutan. Salah satu konsepnya yaitu first-order-technologies—memberikan pintu bahwa hewan juga memiliki kemampuan dalam menciptakan alat, sama seperti manusia. Namun, alat yang diciptakan oleh hewan sangat jauh berbeda dengan manusia dari segi inovasi. Benar spesies lain telah membangun sesuatu, tetapi hanya sebatas membuat sesuatu dan menggunakan artefak untuk berinteraksi dengan lingkungan mereka—hewan. Perbedaan antara manusia dengan spesies lain akan terlihat ketika penggunaan dan pengubahan bahasa natural menjadi bahasa buatan diterapkan pada alat ciptaannya seperti mesin.

Setelah soal manusia dengan hewan pembuat alat, perdebatan berlanjut apakah homo faber sama dengan homo technologicus, karena keduanya sama-sama berdekatan dengan alat. Bagi saya homo faber hanya sebatas sebagai makhluk pembuat alat, makhluk pekerja pada tataran first-order technologies (humanity-technology-nature). Sedangkan homo technologicus telah melampui hal tersebut—sebagai inventor dan pengguna second-order technologies (humanity–technology–technology), bahkan pada tataran lebih lanjut lagi yaitu (technology-technology-technology).[iii]  Konsep ke-antara-an Luciano Floridi, menggambarkan gerak evolusi pada teknologi itu sendiri yang berkaitan dengan manusia. Pada tataran kedua dan ketiga, teknologi bekerja kepada teknologi tidak lagi semata-mata tertuju pada alam.

Saya menempatkan homo faber dan hewan pada tataran pertama, bukan berarti menyamakan keduanya, justru memberikan gambaran penggunaan teknologi dan alat hanya pada taraf mengeksplorasi alam. Contoh sederhananya, laba-laba secara alamiah membuat jaring; simpanse dengan alat berupa kayu mencari makan; dan burung membuat sangkarnya sendiri. Kemampuan teknik ketiga hewan tersebut menandakan bahwa hewan mampu menciptakan alat pada tataran first-order-technology, karena penerapannya langsung pada alam. Itu berarti, Homo faber hanya mampu membuat alat langsung dari alam atau peruntukannya terhadap alam.

Homo faber hanya mampu berada pada tataran f-o-t dan tidak mampu lebih lanjut. Ketidakmampuannya untuk maju karena tesis faber hanya merujuk pada pekerja dan pembuat sesuatu, tepatnya alat tertentu. Sedangkan homo technologicus dapat diartikan sebagai manusia-teknologi, makhluk pengguna teknologi. Teknologi dan alat pun berbeda artinya. Secara ringkas, teknologi adalah pengetahuan tentang kemampuan membuat sesuatu. Nah, berbeda dengan alat merujuk penggunaan objek untuk menyelesaikan sesuatu, contohnya komputer.

Otomatis homo technologicus memiliki dua keunggulan sebagai pengguna teknologi juga mampu menggunakan alat dengan teknik tertentu seperti homo technicus. Contoh perkembangan dari first menuju third mampu memberikan gambaran perbedaan faber dengan technologicus. (1) Jika saya memiliki gunting, saya akan memotong bunga untuk kemudian saya jual ke pedagang; (2) saya memiliki guting, lalu saya memotong kertas; (3) adanya robot dan sepotong kain pada pabrik. Penjelasan pertama memberikan gambaran bahwa kita membuat gunting dari alam, dan langsung menerapkannya pada alam (humanity-technology-nature). Contoh pertama erat kaitannya dengan faber sebagai Man of Maker. Berikutnya, menggambarkan bahwa manusia-teknologis menggunakan teknologi untuk diterapkan langsung pada teknologi, karena kertas juga hasil teknik dari teknologi. Antara mobil dengan aspal, antara motor dengan bahan bakar dan seterusnya (humanity–technology–technology). Kemudian, terakhir, antara teknologi dengan dirinya sendiri (technology–technology–technology), berkembangnya ICT maupun robotika menandakan perkembangan lebih lanjut evolusi dari teknologi.

Bernostalgia sekitar 2,5 juta tahun lalu, genus homo spesies habilis telah menerapkan pengetahuannya dalam membuat alat secara sederhana melalui kemampuan tangannya secara alamiah. Awal sejarah besar manusia sebagai spesies technologicus, walaupun dalam pembuatan sang faber memiliki kemiripan kemampuan. Kemudian, lingkungan homo faber sebagai pekerja akan sangat dekat sekali dengan alienasi—terasing dari objek hasil kerja manusia itu sendiri. Penempatan faber pada f-o-t memberikan dampak keterasingan karena adanya ke-antara­-an dirinya, teknologi dan alam. Berbeda dengan technologicus, manusia mampu memproduksi dirinya sendiri sesuai dengan tujuannya dan untuk mencapai tujuannya melalui teknologi.

Homo Technologicus

Menurut sejarawan-sains Yves Gingras[iv], kita sekarang hidup dalam dunia dari produk akal (budi) manusia. Dunia teknologi terbentuk melalui kombinasi kemampuan teknik dan akal. Segala sesuatu dari keahlian kerja di sekitar manusia menjadi artifisial/buatan. Pengertian ini menjadi tepat, bahwa manusia perlu counter-nature (melawan alam), anti-alam, dan banyak bertentangan dengan produk alam. Manusia menjadi Homo Technologicus. Gingras memang memandang hal itu lazim sebagai anti alam dan tepat untuk Homo Technologicus. Ketepatan ini juga dimiliki oleh Homo Faber dalam mengeksplor alam melalui kemampuan tekniknya.

Gingras menggambarkan sosok manusia sebagai makhluk melawan alam karena mampu menciptakan lingkungan buatan dan dunia sendiri. Gagasan manusia Gingras tidak final, ada perbedaan pandangan dari salah satu filsuf Prancis, Michel Puech. Puech menjelaskan dan mempertanyakan human being we want to become. Tesis Puech dan Gingras memiliki perbedaan dalam penyebutan nama. Gingras langsung menyebut homo technologicus, sedangkan Puech memberikan tambahan sapiens di atara homo technologicus. Jika Gingras memandang manusia melawan alam dengan teknologinya, Puech justru mempertanyakan masalah homo sapiens technologicus.

Puech menilik manusia dan teknologi dengan menyingkirkan dua gagasan pandangan teknologi dari kacamata manusia, baik secara positif (technophilia) maupun negatif (technopobhia). Kedua gagasan itu telah menjebak manusia ke dalam cara bersikap terhadap teknologi. Padahal teknologi bersifat independen dengan ‘alam’ manusia mencoba untuk mempertalikan dengan teknologi ‘buatan’. Singkatnya dari alam menuju artifisial tanpa ada masalah karena bebas dan netral.

Puech beraliran pascapositivis (post-positivist) serta mengadaptasi model empirical turn  dari filsuf-filsuf Amerika dalam mengkaji manusia-teknologis.[v] Dari situ, homo sapiens technologicus dibangun oleh Puech dengan memberinya suatu pondasi ke arah co-evolutionary thesis atau tesis tentang co-evolusioner. Co-evolusioner berarti manusia dipandang sebagai cara bekerja dari alam (nature) dan perkakas-artefak (artefact). Manusia hidup dan berevolusi secara serentak dengan teknologi dan alam.

Melalui model empirical investigation, artefak dalam kerja konkret lewat konteks sosial menunjukkan bahwa manusia selalu tinggal bersamaan di sebuah lingkungan secara alami (nature) maupun buatan (artificial). Hasilnya menunjukan perbedaan terhadap gagasan kontra-alam Gigras. Dari perkakas, mesin uap dan wifi, telah menunjukkan sepanjang sejarah bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari teknologi mereka; teknologi membuat manusia menjadi manusia.

Komentator Puech antara lain Tamar Sharon, Bregham Dalgliesh dan Goeminne. Mereka memberikan komentar terkait bangunan tesis Homo Sapiens Technologicus. Tamar Sharon menjelaskan kembali bahwa logos dan techne membentuk asal-usul manusia. Dua konsep tersebut saling terkait; teknologi sebagai sebuah kontak dengan benda-benda di luar dirinya, dan hubungan khusus dengan manusia dalam relasi terhadap dunia. Pandangan terhadap teknik dan teknologi yang (dianggap) tidak manusiawi; justru bekerja di dalam proses humanisasi dari manusia, yaitu bahwa ada-manusia adalah tentang menjadi-manusia, menggambarkan sebuah co-evolusioner antara manusia, teknologi dan alam[vi].

Letak masalah bukan lagi dengan membandingkan antara nature dan artificial yang dilalui oleh teknologi, tetapi lebih tepatnya memikirkan kebutuhan serta tujuan manusia. Puech memandang dalam bentuk baru dimensi eksistensial atau bentuk kehidupan. Bregham Dalgliesh memberikan padangan ontologis bahwa kita tergolong hidup dalam peradaban teknologis secara “ontological coexistence” antara manusia dan artefak.

Goeminne menambahkan gagasan dari bentuk kehidupan tercermin dari bentuk praktik sosio-material sebagai hal utama dalam konsentrasi berkelanjutan permasalahan Homo sapiens Technologicus. Konsepsi yang mendasari Puech adalah filsafat subjek-humanis secara implist, sebagai suatu gagasan dan pendekatan untuk mengagumi-diri, martabat, tanggung jawab dan keselarasan antara ide-ide dan tindakan[vii].

Micro-action

Komentator sebelumnya memberikan pemahaman soal keselarasan techne dan logos untuk eksis secara bersamaan di dalam bentuk praktik sosio-material. Puech menambahkan bahwa homo sapiens technologicus tidak hanya sebagai konsep belaka, namun mampu mengambil tindakan secara praktis dalam dunia kehidupan. Bernama Micr­o-action atau tindakan individu dalam mengambil sebuah tanggung jawab dengan teknologi dan alam. Tindakan individu ini menjadi sebuah resolusi konsisten atas putusan untuk membebaskan diri dari keusangan dan membangun akses menuju dunia kontemporer.

Menurut Puech, teknologi adalah sebuah tindakan (action) dalam dunia-nyata (real-world), dan bukan sebuah diskursus[viii]. Pandangan manusia sebagai sesuatu dapat disempurnakan dengan bertanggung jawab untuk kesempurnaannya sendiri, dan agar menjadi-manusia [ix] harus terlibat dalam proyek konstruksi-diri berbasis pada kesadaran-diri dan perawatan-diri. Gagasan proyek perawatan–diri menjadi manusia bukanlah hal baru, gagasan peduli dengan diri sendiri dan secara asli manusia berhubungan dengan teknologi beserta dunianya.

Contoh tindakan umum Homo Technologicus, misalnya ketika sudah melakukan aksi melalui media/teknologi untuk melawan perubahan iklim justru secara bersamaan dirinya mempertahankan kebiasaan tetap mengonsumsi energi alam secara berlebihan. Inilah kemampuan manusia dan teknologi yang tidak menerapkan prinsip berkelanjutan dan tanggung jawab.

Menurut saya, alasan term sapiens dipakai Puech karena mendaku bahwa Homo Sapiens Technologicus mampu memiliki nilai-kebijaksaan daripada Homo Technologicus semata. Proses mendapatkan kebijaksaan yaitu melalui kapasitas untuk mejadi-diri. Homo Sapien Technologicus berlatih sendiri dengan orang-orang dahulu seperti kerendahan hati dan kesederhanaan, meskipun disesuaikan dengan saat ini di mana teknologi memaksa kita untuk menjadi bijaksana[x].

Titik tumpuan teknologi bagi Puech mampu membawa manusia menjadi bijaksana dalam bertindak. Disinggung oleh dua filsuf teknologi mengenai hubungan antara manusia dan teknologi dari sudut pandang lain. Mereka adalah Martin Heidegger dan Don Ihde. Gingras membawa teknologi sebagai anti-alam dan Puech sudah puas dengan manusia-teknologis nan bijak melalui tesis co-evolusioner. Pandangan Gingras dan Puech memang terlihat berlawanan, tetapi justru memberikan pondasi Homo Technologicus: pada dasarnya manusia akan terus bercengkerama dengan dunia-kehidupan apapun bentuknya baik dalam realitas alami maupun buatan.

Heidegger memberikan perhatian khusus pada peranan alat yang mampu mengungkap hubungan manusia dengan dunianya. Bahkan teknologi mampu melakukan penyingkapan terhadap Ada serta membantu manusia dalam proses pembingkaian, yaitu cara orientasi manusia terhadap alamnya.[xi] Kemudian, Ihde menyeleraskan kembali dengan melihat aspek subjektif penggunaan ataupun aspek situasi objektif di mana alat diterapkan. Kedua aspek subjektif dan objektif pada alat tidak dapat dipisahkan karena saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain. Dengan demikian dapat menemukan jalan untuk memeriksa dan menganalisis secara empiris peran dari teknologi di dalam kemajemukan hubungan sosial, personal, dan kebudayaan diakibatkan oleh relasi teknologi.[xii]

Melalui pascafenomenologi Ihde memahami dunia secara eksistensial dengan kehadiran instrumen teknologi yang bersifat relasional. Dalam hal ini, bukan lagi aku berada dalam tubuhku, melainkan tubuhku sebagai aku untuk memahami dunia.[xiii] Gagasan pokok pascafenomenologi Ihde dapat membentuk horizon dunia-kehidupan melalui empat relasi manusia dan teknologi. Keempat hubungan tersebut ialah relasi kebertubuhan (embodiment relations), relasi hermeneutis (hemeneutical relations), relasi alteritas/keberlainan (alterity relations) dan relasi latar belakang (background relations).[xiv]

 

Perluasan diri manusia

Kemunculan Heidegger dalam mengulas teknik dan Ihde melalui relasi antar manusia dan instrumen menandakan semakin eksploratifnya relasi teknologi dengan manusia sebagai manifestasi pembacaan dunia kehidupan atas realitas. Pembacaan ini memperlihatkan bahwa esensi manusia tidak terbatas pada konsep “mind-body”, namun mampu menjadi “mind-body-extensive”. Semangat efektifitas dan efisiensi menyebabkannya mampu melakukan perluasan diri.

Linnda R. Caporael[xv] melihat bahwa teknologi telah menghubungkan tubuh dengan habitat/lingkungan. Perkembangan kehidupan manusia telah terakomodasi oleh teknologi. Bagaimanapun teknologi lebih berperan besar daripada efek biologis manusia dalam proses evolusi. Semua itu terkait dengan “mind-extensive” teknologi beserta proses adaptasi sosial  sedangkan “body-extensive” manusia sebagai pengguna teknologi.

Sekarang, keluasan manusia mampu menjangkau melebihi kemampuan alaminya telah menjadi hal wajar. Akibatnya menjadi semakin mudah, cepat, efektif dan efisien dalam mengakses sarana dan prasana kehidupan. Contohnya adalah sarana komunikasi, transportasi, informasi bahkan merasuk ke dalam berbagai bidang kehidupan seperti kedokteran dan  pengobatan melalui biotechnology dan nanotechnology.

Kritik klasik yang muncul melawan Homo Technologicus tearah pada ketidak-alamiahan diri sebab membawa teknologi dalam diri manusia. Makhluk pencipta kedua selain alam, pembuat realitas buatan serta mampu merusak alam dan merasa menjadi penguasa-alam. Kehendak dan keinginan mampu mengarahkan tujuan dasariah manusia-teknologi menjadi manusia yang menggunakan teknologi-atas-kuasa-lain. Misalnya, perang, percobaan nuklir bahkan percobaan persilangan hasil teknologi berupa transhuman maupun posthuman. Hanya untuk menunjukkan eksistensi-diri sebagai manusia.

Meski kritik sebelumnya menandakan gagasan bahwa manusia tidak dapat terlepas dari teknologi, manusia secara ontologis, tetap sebagai makhluk pengguna, hidup dan bekerja sama dengan teknologi. Di samping itu, penggunaan teknologi yang akan menciptakan situasi kontra-alam pun adalah hal yang wajar, karena sejatinya terbentuk oleh co-evolusioner dan co-eksistensi. Bersamaan dan serentak untuk melakukan evolusi dan eksis di dalam dunia kehidupan.

Di bidang etika, Micro-action dapat memberikan pandangan agar manusia mampu bertanggung jawab atas setiap tindakannya. Manusia juga memiliki kemampuan untuk merefleksikan dirinya, bersamaan dengan teknologi dan alamnya. Permasalahan muncul ketika manusia belum mampu mengolah alam dan dirinya dengan teknologi yang tepat guna. Karena pencarian fix-technology masih terus dilakukan oleh Homo Technologicus.

Tidak dapat dinafikan seandainya manusia-teknologis akan berkembang seiring dengan perubahan zamannya. Hal itu atas pandangan manusia-teknologis berprinsip sekarang dan ke depan—futuristik. Dibuktikan dengan usaha menyingkap dirinya bersamaan sekaligus dengan realitas pada alam maupun realitas buatannya.

Sejenak terlintas, benarkah kita mampu terbebas dari teknologi, sedangkan Homo Technologicus sangat erat dengan teknologi. Meminjam istilah latent telic Ihde sekaligus menjawab determinasi teknologi terhadap manusia. Latent telic menandai alat terhadap manusia mampu mengarahkan pengalaman manusia ke arah tertentu karena pola dan bentuk (design) alat tersebut. Latent telic hanya mengarahkan manusia pada kecenderungan tujuan tidak disadari. Contohnya, ketika manusia menulis dengan komputer dan menulis dengan pena. Kecenderungan menulis secara pelan dan hati-hati lebih tidak sadar dimiliki pengguna pena ketimbang pengguna komputer. Inilah konsekuensi logis dari teknologi-manusia, atau(kah) manusia-teknologis.

 

[i] José M Galván. “On Technoethic, IEEE Robotics and Automation Magazine, 2003: h 58–63.

[ii]Luppicini, Handbook of Research on Technoself: Identity in a Technological Society, (Hershey, PA: Information Science Reference. 2013), h. 15-16.

[iii] Luciano Floridi. “Technology’s In-Betweeness”, Philosophy & Technology, Vol. 26, Issues 26, Juni 2013: h. 111-115.

[iv] Yves Gingras, Éloge de l’homo techno-logicus, (Saint-Laurent, Québec: Les Editions Fides. 2005).

[v]Goeminne, dkk. “Book Symposium on Homo sapiens Technologicus: Philosophie de la Technologie Contemporaine, Philosophie de la Sagesse Contemporaine By Michel Puech Editions Le Pommier, 2008”, Philosophy & Technology, Volume 27, Issues 4, December 2014: h. 528-283.

[vi]Lih Michel Puech. Homo Sapiens Technologicus: Philosophie de la Technologie Contemporaine, Philosophie de la Sagesse Contemporaine, (Paris: Editions Le Pommier. 2008): h. 55.

[vii] Ibid., h.320.

[viii] Ibid., h.21.

[ix] Ibid., h.333.

[x] Ibid., h.381.

[xi] Francis Lim. Filsafat Teknologi: Don Ihde tentang Manusia dan Alat, (Yogyakarta: Kanisius. 2008) h.43-47.

[xii] Ibid., h. 24-26

[xiii]Budi Hartanto. Dunia Pasca-Manusia: Menjelajahi Tema-tema Kontemporer Filsafat Teknologi, (Depok: Kepik. 2013), h. 5.

[xiv] Don Ihde. Technic and Praxis. Boston, (USA: Dordrecht Reidel Publishing Company, 1979), h. 4-14.

[xv]Linnda R. Caporael. “Homo Sapiens, Homo Faber, Homo Socians: Technology and the Social Animal”, Evolutionary Epistemology, ed. W. Callebaut and R. Pinxten.(D.Reidel Publishing Company.1987) h.233-244.

Facebook Comments
Rangga Kala Mahaswa
Mahasiswa Filsafat UGM, sedang meniti jalan pulang sembari membaca pergerakan teknologi.