Sumber: philosophy.thereitis.org
Sumber: philosophy.thereitis.org

Tokoh sejarah rata-rata mati dua kali. Pertama kali ia dimakamkan. Kedua kali ketika ia dibangun sebagai monumen. Sebuah lead yang dibangun Goenawan Mohamad di dalam esainya, monumen. Memang tesis GM seperti mencekik, tapi tak sepenuhnya benar. Jika tokoh sejarah yang dimaksud ialah orang yang berpengaruh dalam sejarah politik (Mandela dan Soekarno), bisa jadi akhirnya akan dipuja saja. Ketika kita bicara Descartes yang termasuk tokoh sejarah, tesis tersebut benar-benar akan diuji.

Kenapa begitu? Intinya pada pemikiran yang menggurita. Pemikiran yang membuat gejolak diberbagai lini, dan tak lekang dimakan zaman. Jika Hemingway menulis A Moveable Feast sebuah cerita memoar tentang Paris, melukiskan keindahan di Paris tiada berakhir. Maka saya mengusulkan A Moveable Feast juga, bukan sebatas cerita memoar, namun lebih berbicara implikasi pemikiran Descartes pada perkembangan filsafat dan ilmu.

Cakupan pemikiran Descartes yang luas. Ia bicara fisika, matematika, optik, geometri, psikologi termasuk juga filsafat. Seperti tercermin dalam karya-karyanya; Discourse on the Method of Rightly Conducting the Reason and seeking for Truth in the Sciences (beserta esai terkait meteor, geometri, dan optik) 1637, the Rules for the Direction of The Mind 1628, Meditations on First Philosophy 1641, principles of Philosophy 1644, The Passions of the Soul 1649, dan karya yang tak selesai The Search after Truth by the Light of Nature (1701).[1] Maka, di sini saya akan berfokus pada gagasan dan metode yang telah dibangun Descartes, dari karyanya dan beberapa penafsir, khususnya terkait persoalan-persoalan filsafat akal budi dan psikologi. Kemudian saya akan coba gali lebih spesifik menggunakan pisau filsafat ilmu psikologi.

Untuk sampai ke sana, kita perlu langkah yang jelas dan terpilah. Berusaha menghindari lompatan logika. Sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti butuh pijakan. Langkah tersebut merupakan penjelasan mengenai epistemologi Cartesius terkait kaidah metode yang dapat digunakan pada semua bidang. Langkah tersebut bertujuan menggambarkan perubahan paradigmatis dan penerapan metodologi beserta implikasinya bagi perkembangan psikologi modern.

Menganalisis pemikiran filsuf, pertama-pertama perlu pendekatan cinta-kasih, bukan metode akademis. Untuk itu saya sarankan baca Descartes His Life and Times[2] karya Elizabeth S. Haldane, seorang penafsir Descates yang ulung, agar lebih dekat. Baru kemudiaan metodologi, dalam tulisan ini saya menggunakan metode hermeneutika filosofis, data kepustakaan diinterpretasi dan direfleksikan.

Prinsip Metodologi yang Pasti

Dalam Discourse on the Method of Rightly Conducting the Reason and seeking for Truth in the Sciences, yang terdiri dari 6 bagian, Descartes bertujuan untuk menerapkan metode ilmu pasti dalam segala bidang ilmu, karena dianggap jelas. Seperti yang telah diikhtisarkan Toety Heraty[3] untuk memudahkan penangkapan kita (kemudian saya juga berusaha merujuk pada sumber aslinya[4]):

Bagian I: Menjelaskan masalah ilmu-ilmu yang diawali dengan menyebutkan akal sehat (common-sense) yang pada umumnya dimiliki semua orang. Menurut Descartes, akal sehat ada yang kurang, ada pula yang lebih banyak memilikinya, namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah. Bukan bermaksud mengungulkan dirinya. Metode yang ia coba temukan itu merupakan upaya untuk mengarahkan nalarnya sendiri secara optimal. Descartes menandaskan bahwa pengetahuan budaya itu tetap kabur, pengetahuan bahasa memang berguna, puisi itu memang indah tetapi memerlukan bakat. Ia lebih tertarik kepada bidang matematika yang dianggap belum dimanfaatkan secara optimal kemungkinannya yang cemerlang. Filsafat bagi Descartes rancu dengan gagasan yang acap kali bertentangan. Akhirnya disimpulkan olehnya akan melepaskan diri dari cengkraman otoritas kaum guru, belajar dari buku alam raya dan mempelajari dirinya sendiri saja.

“Then as to the other sciences, inasmuch as they derive their principles form philosophy, i judged that one could have built nothing solid on foundations so far from firm.”[5]

“This is why, as soon as age permitted me to emerge from the control of my tutors, i entirely quitted study of letters. And resolving to seek no other science than that which could be found in myself, or at least in the great book of the world.”[6]

Bagian II: Menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam aktivitas ilmiah. Bagi Descartes, sesuatu yang dikerjakan oleh satu orang lebih sempurna dari pada yang dikerjakan oleh kelompok orang secara patungan. But like one who walks alone and in the twilight i resolve to go so slowly, …… at least i guarded myself well from falling.[7] Dalam hal ini Descartes menajukan empat langkah atau aturan yang mendukung metode yang dimaksud sebagai berikut:

Pertama, jangan pernah menerima pengetahuan dan informasi sebagai kebenaran jika anda tidak mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai pengetahuannya. Maksudnya, hindari kesimpulan yang tergesa-gesa sampai anda meneliti sendiri dan dapat menemukan kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya.

Kedua, pilah-pilah setiap kesulitan yang anda rasakan menjadi bagian-bagian sebanyak mungkin. Kemudian kelompokkan tingkat kesulitan tersebut mulai teringan sampai yang terberat.

Ketiga, pecahkan tingkat kesulitan tersebut dimulai dari tingkat yang paling ringan, sederhana dan mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit kesulitan yang paling berat dan komplek.

Keempat, buatlah penomoran untuk seluruh permasalahan selengkap mungkin dan tinjau ulang secara menyeluruh sehingga Anda dapat merasa pasti tidak satupun yang ketinggalan.[8]

Langkah-langkah yang dikemukakan tersebut mengambarkan suatu sikap skeptis-metodis dalam upaya memperoleh kebenaran yang pasti. Karena itulah metode filsafat Descartes sering juga disebut dengan metode skeptis, artinya meragukan segala sesuatu sebelum ditemukan kebenaran yang pasti.

Bagian III: Menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode sebagai berikut:

Mematuhi undang-undang dan adat istiadat negeri, sambil berpegang pada agama yang diajarkan sejak masa kanak-kanak.

Bertindak tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun yang paling meragukan.

Berusaha lebih mengubah diri sendiri dari pada merombak tatanang dunia.[9]

Bagian IV: Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acap terkecoh oleh indera. Kita memang dapat membayangkan diri kita tidak bertubuh, namun kita tidak dapat membayangkan diri kita tidak bereksistensi, karena terbukti kita dapat menyangsikan kebenaran pendapat orang lain. Oleh karena itu, tutur Descartes, kita dapat meragukan segala sesuatu, namun kita tidak mungkin meragukan diri sendiri yang sedang dalam keadaan ragu-ragu, cogito ergo sum.

“…. and remarking that this truth ‘i think, therefore i am’ was so certain and so assured that all the most extravagant suppositions brought forward by the sceptics were incapable of shaking it, i came to the conclusion that i could receive it without scruple as the first principle of the philosophy for which i was seeking.”[10]

Bagian V: Menegaskan perihal dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua subtansi, yaitu res cogitans (jiwa bernalar) dan res extensa (jasmani yang meluas). Tubuh (res extensa) diibaratkan dengan mesin, yang tentunya karena ciptaan Tuhan maka tertata lebih baik. Ketergantungan antara dua kodrat ialah bahwa jiwa bernalar dan kodrat jasmani, jiwa secara kodrati tidak mungkin mati bersama dengan tubuh. Jiwa manusia itu abadi.

Bagian VI: Dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan spekulatif dan pengetahuan praktis. Pengetahuan praktis terkait dengan objek-objek konkret seperti api, air, udara, planet, dan lain-lain; sedang pengetahuan spekulatif menyangkut hal-hal yang bersifat filosofis. Berkat kedua pengetahuan inilah manusia menjadi penguasa alam.

Pandangan risalah Descartes ini memang menarik, karena mengeksplisitkan metode ilmu-ilmu, mengetengahkan sifat spekulatif hipotesis dan pentingnya temuan-temuan lewat eksperimen. Meskipun Descartes seorang rasionalis, namun masih melihat nalar axiomatis yang diturunkan dari logika dan matematika. Sekaligus merupakan semacam kode etik ilmuan dan metodologi yang berlaku secara umum untuk ilmu-ilmu, suatu meta-metodologi.[11]

Discourse on Method: Tonggak Modernisme dan Kontribusi Metodologi Baru

Semangat yang dibawakan Descartes adalah semangat modernisme. Pemikirannya menjadi Zeitgeist pada zaman itu dan setelahnya. Sampai mempengaruhi psikologi modern.

Apa itu modernisme? Kenapa Descartes menjadi tonggak filsafat dan ilmu modern? Hal ini penting untuk dipaparkan untuk menjadi titik tolak kita  membicarakan epistemologi dan metode keilmuan modern.

Konsep Descartes mengenai relasi pikiran dan materi, masing-masing dari keduanya dijadikan realitas tersendiri. Pikiran ia sebut sebagai res cogitans, yakni pengamat yang berpikir. Sementara materi ia sebut sebagai res extensa, yakni realitas luar yang diamati. Jadi bagi Descartes pikiran adalah subjek, sedangkan materi adalah objek. Konsep lain, cogito ergo sum menunjukkan bahwa segala sesuatu itu tidak ada kecuali saya, pikirkan. Maka Descartes mengunggulkan ratio. Apapun yang tidak bisa dijelaskan secara rasional adalah tidak ada.

Kedua konsep yang disebutkan di atas, kemudian menjadi dasar perkembangan filsafat modern dan pemikiran modern lainnya (termasuk psikologi). Beberapa karakteristik dasar kemodernan muncul dari konsep-konsep Descartes seperti: rasionalisme, individualisme, subjektivisme, kebenaran objektif, bahkan juga materialisme, terutama rasionalisme yang diadopsi ke dalam sains.[12]

Descartes juga melakukan studi tentang matematika, dari proses tersebut ia memberi kesimpulan bahwa dengan matematika kemajuan sains dan pengetahuan mendasar tentang alam dapat diraih. Sebab, alam sebenarnya ialah mekanisme yang diatur oleh hukum matematis. Jika hukum itu dapat ditemukan, maka dunia dapat terpahami. Hal ini jelas mengacu pada konsepnya tentang pribadi individual (res cogitans) sebagai entitias yang terpisah dari alam (res extensa).[13]

Discourse on Method, menjadi bukti tertulis tonggak Modernisme. Selain itu juga merupakan kontribusi Descartes terhadap psikologi modern, terkait pergeseran paradigma dan timbulnya metodologi baru dalam ilmu (psikologi) sebagai pijakan metode dan berkembangnya berbagai ilmu. Pertama, saya akan menjelaskan pergantian paradigma, selanjutnya disusul implikasi metodologisnya.

Seperti yang telah saya paparkan dalam bab tonggak modernisme. Rasionalisasi pergantian paradigma juga tidak lepas dari kontek sejarah modernisme yang digerakan renaissance dan aufklärung. Catatan penting dari sejarah tersebut ialah: berkurangnya otoritas gereja dan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan.

Mengacu pada pengertian paradigma Kuhnian, meskipun Kuhn tidak mengartikan paradigma secara tegas, secara umum Kuhn mengartikannya sebagai beberapa contoh praktek ilmiah aktual yang diterima, seperti: hukum, teori, aplikasi dan instrumen yang diterima bersama, sehingga merupakan model yang dijadikan sumber dan tradisi-tradisi yang mantap dalam riset-riset ilmiah khusus. Paradigma berarti pola, model, atau skema pemahaman aspek-aspek tertentu tentang realitas.[14]

Jika demikian keilmuan Abad Pertengahan harus dibawah pengawasan dan otoritas Gereja. Filsafat ataupun ilmu harus mau ditunggangi oleh Teologi. Dapat dikatakan paradigma teologislah yang mewarnai perkembangan keilmuan Abad tengah, kemudian digeser oleh paradigma rasional yang dibawa oleh zeitgeist modern dan Metode Descartes.

Kenapa paradigma rasional dan Descartes? Banyak ahli menduga, boleh jadi revolusi ilmu alamlah yang sebenarnya menjadi perintis bagi perkembangan pemikiran modern. Bukti-bukti lain dari revolusi sains ialah: pertama, gagasan Francis Bacon bahwa pengetahuan sains dan matematika harus dipakai untuk menguasai alam. Kedua, gagasan Galileo bahwa materi itu harus dipelajari dalam aspek kuantitatifnya, dan pengetahuan sejati harus dapat dipahami secara matematis. Ketiga, gagasan Newton bahwa materi itu diperluas ke dalam ruang, dan realitas itu terdiri dari objek-objek konkret yang bergerak dalam ruang dan waktu.

Alasannya kenapa Descates ialah karena ia pendiri bapak filsafat modern, disebut demikian alasannya terkait usahanya mencari satu-satunya metode untuk semua cabang penyelidikan manusia, dan memperkenalkan metode tersebut pada filsafat juga. Metode Descartes dimaksudkan sebagai metode penelitian rasional mana saja. Revolusi ilmiah yang dibawa Descartes ini memungkinkah berkembangnya berbagai ilmu, termasuk psikologi, yang bahkan psikologi dapat inspirasi langsung dari filsafat Descartes.

Mengacu pada Discourse on Method, metodologi yang ditawarkan ialah observasi empiris dan eksperimentasi. Karena ia menginginkan metode yang pasti seperti matematika, untuk meneliti alam. Ia sendiri mengatakan untuk meneliti alam langsung, “And resolving to seek no other science than that which could be found in myself, or at least in the great book of the world.”[15] Dengan demikian Descartes berkontribusi langsung kepada sejarah psikologi modern. Hasil karyanya telah membantu membebaskan penyelidikan ilmiah dari kekangan teologis dan keyakinan intelektual yang kaku selama berabad-abad, dan dia telah menerapkan gagasan mekanisme kerja jam terhadap tubuh manusia. Atas dasar alasan itu ia secara resmi memulai era psikologi modern.

Metode observasi dan eksperimentasi diterapkan oleh psikologi baru, psikologi ekperimental pertama kali di lingkaran Jerman. Tokohnya ialah Helmholtz, Ernst Weber, Fechner, dan Wunt. Pengaruh psikologi ekperimental dapat dirasakan hingga saat ini.

sumber: grandearte.net
sumber: grandearte.net

Penerapan Metode Lebih Lanjut

Minat Descartes pada ilmu pasti menghasilkan suatu keyakinan mengenai tepatnya metode ilmu pasti untuk digunakan secara lebih luas mencakup segala pengetahuan. Untuk itu Descartes menyusun Discourse on method, memberikan kaidah-kaidah metode yang benar. Lebih lanjut, kaidah tersebut diterapkan dan dikuatkan dalam Meditations yang ditulisnya untuk membuktikan adanya Tuhan serta kemudian membedakan unsur jiwa-badan pada manusia (yang akan dibahas di artikel selanjutnya).

Diskusi terkait dualisme Descartes, dapat kita ajukan pertanyaan seperti What can I know with certainty? Am I alone in the world? Who or what made me? Is there a God? Am I the same thing as my body? If I am not, then how am I related to it?

Sebelum descartes teori yang diterima adalah bahwa interaksi antara pikiran dan tubuh sebetulnya mengalir dalam satu arah yang sama. Pikiran dapat memberikan pengaruh besar pada tubuh, tapi tubuh tidak banyak mempengaruhi pikiran. Jadi mirip hubungan seperti wayang yang dimainkan oleh dalangnya. Copleston mengilustrasikan konsep relasi pikiran-tubuh Aristotelian seperti kapten pilot yang mengendalikan kapalnya. Tapi prinsip Descartes terkait relasi ini jauh lebih rumit.[16]

Descartes menerima posisi ini dalam pandangannya, pikiran dan tubuh sebenarnya memang memiliki intisari yang berbeda. Tetapi dia memiliki pemikiran yang berbeda dari tradisi dengan mendefinisikan kembali hubungan ini. Menurutnya, pikiran memang memang mempengaruhi tubuh, tetapi tubuh memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pikiran dibandingkan dengan apa yang diperkirakan sebelumnya. Interaksi yang terjadi tidak hanya bersifat satu arah, lebih merupakan interaksi dua arah.[17] Gagasan ini memiliki implikasi penting pada psikologi.

Sebagai contoh, sebelum Descartes pikiran diyakini bertanggung jawab terhadap bukan hanya pemikiran dan alasan, tetapi juga terhadap reproduksi, persepsi dan gerakan. Descartes membantah keyakinan ini, dan berpendapat bahwa pikiran hanya memiliki satu fungsi, yakni berpikir. Semua proses lainnya merupakan fungsi-fungsi tubuh.

Meskipun sebenarnya Descartes mengalami kesulitan karena berbentur dengan kriteria jelas and terpilah, namun He was aware, in other words, that the soul is influenced by the body and the body by the soul and that they must in some sense constitute a unity. He was not prepared to deny the facts of interaction, and, as is well known, he tried to ascertain the point of interaction.[18]

Sehinga, para ilmuan menerima pendapat bahwa pikiran dan tubuh itu sebagai dua entitas yang berbeda. Materi, yakni substansi material tubuh, dapat dikatakan sebagai memilki perluasan(dalam hal membutuhkan ruang) dan bekerja sesuai prinsip-prinsip mekanis. Sedangkan pikiran itu bersifat bebas, ia tidak mengalami perluasan dan tidak memiliki substansi fisik. Gagasan revolusioner Descartes adalah bahwa pikiran dan tubuh meskipun berbeda, mempu berinteraksi di dalam organisme manusia. Pikiran dapat mempengaruhi tubuh, tubuh dapat mempengaruhi pikiran.

Hakikat tubuh manusia

Karena tubuh terdiri dari materi fisik, ia pasti memiliki karakteristik-karakteristik yang biasanya dimiliki oleh semua materi yakni, menempati ruang dan bergerak. Jika tubuh itu adalah materi, hukum-hukum fisika dan mekanik yang bertanggung jawab atas gerakan dan aksi dalam dunia fisik pasti juga berlaku pada tubuh manusia. Karena itu, tubuh seperti sebuah mesin yang pengoperasiannya dapat dijelaskan dengan menggunakan hukum-hukum mekanis yang mengatur gerakan semua semua objek dalam ruang. Dari penalaran ini, Descartes melanjutkan dengan menjelaskan pemungsian fisologis tubuh dari sudut pandang fisika.

Dari alur berpikir seperti ini munculah gagasan tentang undulatio reflexa, sebuah gerakan yang yang tidak dikenalikan atau ditentukan oleh keinginan sadar untuk bergerak. Untuk konsepsi ini, Descartes sering disebut sebagai pencetus teori aksi refleks. Teori ini adalah perintis psikologi perilaku stimulus-respon modern.

Doktrin ide

Doktrin ide descartes juga memberi pengaruh besar pada psikologi modern. Dia mengusulkan bahwa pikiran itu menghasilkan dua macam ide: derive (turunan) dan innate (bawaan). Ide turunan muncul dari aplikasi langsung terhadap sebuah stimulus eksternal, karena turun merupakan produk pengalaman indera.

Ide-ide bawaan (innate ideas) tidak dihasilkan oleh objek-objek di dalam dunia eksternal yang melampaui batas indera tetapi terbangun di luar pikiran atau kesadaran. Meskipun potensi eksistensi ide-ide bawaan terlepas dari pengalaman inderawi, mereka dapat dikenali di dalam pengalaman-pengalaman yang sesuai. Ide tersebut ialah Tuhan, diri, kesempurnaan, dan ketidakterbatasan.

Ide-ide bawaan ini menuntun ke teori nativistik persepi dan juga mempengaruhi aliran Psikologi Gestalt.

Meskipun jika dilihat sekarang akurasi dan kelengkapan penjelasan fisiologis kurang, namun fokus kita bukanlah ke situ, lebih pada dukungannya terhadap interpretasi mekanis terhadap tubuh.

Duane P. Schultz dan Sydney Ellen Schultz mencatat beberapa kontribusi pemikiran Descartes. Mereka menyebut Descartes menjadi sebuah katalis bagi banyak tren yang akan bertemu di dalam psikologi modern. Beberapa kontribusi tersebut ialah:[19]

  • Konsepsi mekanistik tubuh
  • Teori aksi refleks
  • Interaksi pikiran (jiwa)-tubuh
  • Lokalisasi fungsi-fungsi mental di dalam otak
  • Doktrin ide-ide bawaan

Interaksi Filsafat dan Psikologi

Sebenarnya di sini agak susah membedakan wilayah filsafat ilmu psikologi dan filsafat itu sendiri. Membedakannya kita pasti tidak luput dari interaksi keduanya, agar dapat dipilah. Memang secara historis filsafat dan psikologi terbukti selalu berinteraksi. Namun sejarah apa pun selalu berkembang, maka secara historis hubungan filsafat dan psikologi dapat dikatakan kadang jauh kadang dekat.

Setelah menganalisis implikasi pemikiran Descartes terhadap psikologi modern, seperti yang telah dipaparkan di paragraf-paragraf sebelumnya, saya mengusulkan: pertama, penyelidikan historis hubungan filsafat-psikologi sebagai justifikasi atas adanya interaksi; interaksi tak lepas dari pergeseran paradigma dan timbulnya metodologi baru dalam ilmu (psikologi) akibat pengaruh Descartes. Kedua, penyelidikan tersebut untuk mempertegas peran filsafat ilmu psikologi di tengah persoalan-persoalan psikologi yang memang membutuhkan peran filsuf ilmu psikologi, setidaknya sebagai kontrol atas metodologi yang digunakan. Alasan lain, bahwa implikasi filosofis pemikiran-pemikiran dalam psikologi juga mempengaruhi konsepsi epistemologi masyarakat.

Hubungan filsafat-psikologi secara umum digambarkan dalam introduksi buku Philosophy of Psychology yang mengutip gagasan Harre dan Secord:[20]

The relation between psychology and philosophy has had a long and checkered career, indeed a long pass but a short history since the respective did not become separated, at least institutionally, until quite recently. But whenever we mark this great divide, it can certainly be said that the relation between the two field have been one of ‘love-hate’ or ‘approach-avoidance’.

Bukti hubungan yang seperti itu ialah kemunculan behaviorisme pada 1920-an, pemisahan antara filsafat dan psikologi menjadi begitu ideologis dengan klaim psikologi ialah ilmu bediri sendiri. Semangat yang digaungkan oleh Watson, Weiss, Hunter, Lashley ialah psikologi secara radikal berbeda dari filsafat, khususnya dalam objek kajian (mind vs behavior) dan metode (observasi empiris vs intropeksi dan spekulasi).

Kemunculan neo-behaviorisme pada 1930-an s.d. 40-an yang dibawa oleh Hull, Spence, Guthrie, Skinner, Tolman merubah situasi sebelumnya. Bagaimana bisa? Sebab positivisme logis menjadi basis filosofis neo-behaviorisme. Ada hubungan timbal balik. Psikologi melihat diskursus filsafat untuk inspirasi dan landasan filosofis. Sebaliknya, para positivis logis seperti Carnap, Hempel, Feigl dan Bergman, melihat psikologi untuk menjawab pertanyaan empiris dan ilustrasi pandangan filsafat mereka.

Selama hubungan harmonis tersebut, empirisme logis merumuskan standar relasi filsafat dengan psikologi, sampai sekarang secara diam-diam masih dipakai psikolog dan filsuf. Pandangan relasional tersebut digagas oleh Frege.

Walaupun perbedaan fundamental antara filsafat dan psikologi begitu jelas. Psikologi empiris, natural science, menemukan hakikat kenyataan melalui standar metode yang empiris (observasi dan eksperimentasi) dan penarikan kesimpulan (induksi dan hypothetico-deductivism). Filsafat: nampak sebagai higher-order, meta-level disiplin, menaruh perhatian pada linguistic-turn. Selain itu studinya juga terkait linguistik dan persolan konseptual, meneliti apakah pernyataan kita meaningful, dsb. Oleh karena relasinya ialah; psikologi membuat penemuan-penemuan empiris dan filsafat membantu psikolog mengatakan hasilnya secara hati-hati dan adekuat. Karena psikologi bermain pada objek level bahasa, dan filsafat lebih ke meta-bahasa. Maka, tidak ada kompetisi di antara keduanya.[21]

Menegaskan relasi di atas, saya menambahkan argumen Robert A. Wilson:

What further complicates any simple characterization of work in the philosophy of psychology, and to some extent what distinguishes it from the other “philosophy of x” studies within the philosophy of science, is its close relationship to a traditional area of philosophy, the philosophy of mind, that has not typically viewed itself as a part of the philosophy of science at all. Thus, many of the topics that philosophers of psychology discuss that arise from their reflection on the cognitive sciences have analogues in traditional philosophy of mind.[22]

Dalam artikel tersebut Wilson menjelaskan lebih lanjut bahwa adanya ‘interaksi’ terus menerus karena hakikat pikiran ialah persoalan pokok dalam metafisika dan epistemologi sepanjang sejarah filsafat. Hubungan antara filsafat ilmu psikologi dan filsafat lebih general dari pada filsafat ilmu khusus lain. Akhirnya, juga dapat mempengaruhi konsepsi epistemologi masyarakat manusia secara luas dan akan mengundang telaah filsafat. (Khoiril Maqin, Redaktur Jurnal Filsafat Cogito, Mahasiswa Filsafat UGM ’12)

[1] Frederick Copleston, S.J., A History of Philoshopy vol. !V Descartes to Leibniz, (London: Search Press, 1971), hal. 65.

[2] Elizabeth S. Haldane, Descartes His Life and Times (London: John Murray, 1905).

[3] Toeti Heraty Noerhadi, Dialog Filsafat dengan Ilmu-Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Universitas Indonesia, 1994), hal. 3-6.

[4] Descartes, R., The philosophical Works of Descartes, Volume I, diterjemahkan oleh Elizabeth S. Haldane dan G.R.T. Ross (Cambridge University Press, 1981).

[5] Ibid., hal. 86.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid., hal. 92.

[9] Ibid., hal. 95.

[10] Ibid., hal. 101.

[11] Toeti Heraty, Op. Cit., 1994, hal. 7.

[12]Emanuel Wora, Perenialisme Kritik Atas Modernisme dan Postmodernisme (Yogyakarta: Kanisius, 2010), hal. 41.

[13] Ibid., hal. 41.

[14] Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu dan Metodologi Postmodernis (Bogor: AkaDemiA, 2004), hal. 7.

[15][15] Descartes, Op. Cit., hal. 98.

[16] Frederick Copleston, Op. Cit.,  hal. 120.

[17] Ibid., hal. 121 dan lihat juga Duane P. Schultz dan Sydney Ellen Schultz, Sejarah Psikologi Modern, diterjemahkan oleh Lita Hardian (Bandung: Pustaka Nusa Media, 2014), hal. 53.

[18] Frederick Copleston, Op. Cit., hal. 121.

[19] Duane P. Schultz dan Sydney Ellen Schultz, Op. Cit., hal. 54.

[20] William O’Donohue dan Richard F. Kitchener, Op. Cit., hal. xiii.

[21] Ibid., hal. xiv.

[22] Robert A. Wilson, Philosophy of Psychology, dalam S. Sarkar (ed.), The Philosophy of Science: An Encyclopedia (New York: Routledge Press, 2005).

Khoiril Maqin
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, editor Jurnal Cogito, fokus studi terkait isu sosiologi ilmu, perkembangan ilmu di Indonesia, dan sedang menulis pemikiran Thomas Kuhn.

LEAVE A REPLY