Ilustrasi (sumber: https://imgur.com/gallery/FNpEWwL)

Runtuhnya tembok Berlin sebagai batas simbolik geo-politik yang memisahkan Jerman secara ideologis memulai fragmentasi negara-negara Uni Soviet sebagai salah satu kekuatan politik juga militer sejak revolusi merah 1917. Peristiwa tersebut mengakibatkan melemahnya pertarungan ideologis antara liberalisme dan sosialisme. Simplifikasi Francis Fukuyama tentang akhir sejarah yang dimenangkan liberalisme menjadi tamparan sekaligus tantangan terhadap siapa saja yang masih percaya terhadap cita-cita komunisme. Konsekuensi praktis dari runtuhnya ideologi komunisme internasional seakan terang terlihat di ladang alam yang luas menyajikan sesuatu pertarungan liar antar kelompok yang secara mendasar pada dirinya berbeda seperti agama, etnik, seks, dan konsensus serta kepercayaan atas kebudayaan tertentu lainnya. Dalam politik identitas, logika pendekatan tradisional marxis yang biasanya menekan pada pertentangan kelas akan sulit untuk menemukan inti permasalahan, yang kerap muncul justru persekutuan lintas-kelas. Dengan kata lain, isu identitas dalam wacana kebudayaan dewasa ini kian serius.

Filsuf asal Slovenia, Slavoj Žižek, adalah salah satu pemikir kontemporer yang mencoba keluar dari lilitan krisis internal Marxisme di aras konseptual ini. Žižek sendiri sebenarnya lebih sering menyebut diri sebagai seorang Hegelian dan Lacanian, karena usaha intelektualnya – seperti yang ia sebut dalam magnum opusnya The Sublime Object of Ideology adalah, untuk melawan distorsi terhadap pemikiran Lacan yang sering kali disebut sebagai pemikiran pasca-strukturalisme dan mengaktualisasikan kembali dialektika Hegel dengan kacamata psikonalisis Lacanian untuk membuka pendekatan baru terhadap teori ideologi.

Sejatinya, komoditas sebagai hasil konkret dari pekerjaan manusia haruslah mencerminkan hubungan antar manusia. Akan tetapi, dalam masyarakat kapitalis, komoditas tampil sebagai berhala yang menyamarkan asal-usul sosialnya.

Žižek menganggap bahwa pemikiran Lacan merupakan pemikiran yang paling radikal dari era pencerahan. Namun, dalam usahanya untuk merumuskan teori baru tentang refleksi ideologi dalam masyarakat dengan maksud mencoba “kembali ke Hegel”, Žižek menganggap bahwa orang pertama yang membaca gejala ideologis di masyarakat tak lain adalah Marx sendiri. Pendekatan Marxis tentang ideologi pun ia campurkan dengan teori psikoanalisis Lacan yang intinya berpusat pada bahasa. Tentu saja, teori kebudayaan Marxis yang diangkat Žižek bukan sesuatu yang dibangun dari teori pertentangan kelas yang ekonomis. Namun, Žižek dalam hal ini memfokuskan diri pada analisis lain dari ideologi dalam wujud fetisisme komoditas yang mencerminkan hubungan sosial tertentu dalam masyarakat kapitalis-akhir dewasa ini. Oleh karena itu, dalam artikel ini penulis akan memaparkan pandangan Žižek tentang fetisisme komoditas dan permasalahan ideologi, yang menurutnya seakan masih terus menghantui dan lebih relevan untuk kita hari ini.

Tentang pentingnya konsep yang gejalanya ditemukan oleh Marx ini, seperti ditulisnya dalam harian Independent, Žižek menegaskan, “Marx’s theories are thus not simply alive: Marx is a ghost who continues to haunt us – and the only way to keep him alive is to focus on those of his insight whice are today more than true than in his own time”.  Dengan demikian, teori-teori Marx tidak hanya hidup: Marx adalah hantu yang masih gentayangan dalam benak kita – dan satu-satunya cara untuk membuatnya tetap hidup adalah dengan fokus pada gagasanya yang pada hari ini lebih nyata dan terasa dari pada saat era di mana ia hidup.

Fetisisme Komoditas Marx yang Tetap Menghantui

Di era pasca-industri, tuntutan gaya hidup dalam masyarakat kian beragam dan berwarna. Seiring berkembangnya zaman – dengan melimpahnya sumber daya dan banyaknya waktu luang yang diisi dengan “hiburan”, kecenderungan perilaku konsumerisme kian meningkat. Peran dari media juga tak kalah pentingnya dalam membentuk masyarakat konsumerisme ini. Media, baik dalam bentuknya yang paling konvensional maupun dalam rupa terbaru seperti Instagram, Twitter, dan Facebook, seakan menjadi kebun pesan terselubung bagi iklan, opini, bujuk, dan kata-kata manis lainnya dengan tujuan tak lain adalah ilusi suatu pengejaran keinginan: Just Do It! Konsumsi, konsumsi, dan konsumsi. Kultur kenyamanan dan keterbukaan dewasa ini, suka tidak suka berhasil mengubah sudut pandang masyarakat kekinian. Afirmasi terhadap citra-citra gaya hidup yang populer pada puncaknya memunculkan praktik pemujaan dan nafsu keinginan konsumeristis untuk meraih kenikmatan yang tertinggi. Menyetujui Žižek, dalam sudut pandang ini, penulis beranggapan bahwa pembacaan ulang terhadap formula dasar Marx tentang fetisisme komoditas menjadi kian penting.

Fenomena fetisisme komoditas di sini ialah semacam misrecognition atau penulis menyebutnya sebagai ‘kesalahmengertian’ terhadap realitas sosial sebagai bagian integral dari realitas itu sendiri.

Seperti yang telah disebutkan, Marx adalah orang pertama yang memantik teori dan kritik ideologi yang berkembang dalam ilmu sosial klasik dan diskursus kebudayaan dewasa ini. Marx (1979) menyebut fetisisme komoditas sebagai, “the definite social relation between men themselves which assumes here, for them, the fantastic form of a relation between things” (Hal.165). Sejatinya, komoditas sebagai hasil konkret dari pekerjaan manusia haruslah mencerminkan hubungan antar manusia. Akan tetapi, dalam masyarakat kapitalis, komoditas tampil sebagai berhala yang menyamarkan asal-usul sosialnya. Komoditas muncul sebagai barang hasil dari kalkulasi investasi modal dan pada akhirnya menghasilkan akumulasi modal. Hal tersebut bukan sesederhana penggantian manusia dengan benda-benda. Namun bagi Žižek (1989), “It consists of a certain misrecognition which concerns the relation between a structured network and one of its elements: what is really a structural effect, an effect of the network of relations between elements, appears as an immediate property of one of the elements, as if this property also belongs to it outside its relation with other elements” (Hal.19). Dengan kata lain, perhatian Marx terhadap fetisisme komoditas adalah untuk menyiratkan subjek yang terikat dengan komoditas yang memiliki semacam kekuatan dan daya pikat yang mengaburkan atau menyembunyikan koneksinya dengan pekerja. Komoditas hanya menjadi relasi antara benda-benda mati dan komoditas di bawah kapitalisme tampaknya memiliki nilai bagi konsumen yang tampaknya intrinsik dengan bentuknya dan tampaknya tidak tergantung pada konstruksi historisnya. Konsumen entah bagaimana terpesona oleh benda-benda sedemikian rupa yang muncul apa adanya sehingga kemungkinan dan hubungan historis mereka dengan pekerja menjadi terdistorsi.

Žižek (1989) menyatakan, dalam tahap ini, “The very concept of ideology implies a kind of basic, constitutive naivete: the misrecognition of its own presuppositions, of its own effective conditions, a distance, a divergence between so-called social reality and our distorted representation, our false consciousness of it” (Hal.24). Dengan wujud kritiknya, kita diharapkan melihat komoditas sebagaimana mereka adanya, ilusi yang diciptakan tidak akan lagi menipu dan nilai komoditas bukan lagi hal yang kabur dalam tahap ini. Namun, persoalan ini tidak hanya pengertian terhadap ilusi, akan tetapi pengertian terhadap distorsi yang juga terbangun dari jalinan objek yang telah ada. Žižek (1989) menegaskan “it is not just a question of seeing things (that is, social reality) as they ‘really are’, of throwing away the distorting spectacles of ideology; the main point is to see how the reality itself cannot reproduce itself without this so called ideological mystification. The mask is not simply hiding the real state of things; the ideological distortion is written into its very essence.” (Hal.25). Fenomena fetisisme komoditas di sini ialah semacam misrecognition atau penulis menyebutnya sebagai ‘kesalahmengertian’ terhadap realitas sosial sebagai bagian integral dari realitas itu sendiri. Seperti contoh, kesalahmengertian di sini adalah bahwa sepatu hypebeast dan komputer canggih tentu tidak membuat diri mereka sendiri, akan tetapi nilai mereka tergantung pada suatu realitas historis sebagai produk usaha manusia.

Apa yang dipermasalahkan dalam konflik ideologi justru adalah point de capiton – yang menandakan (misalnya, ‘komunisme’, ‘fasisme’, ‘kapitalisme’, dan sebagainya) akan memenangkan hak untuk menyelimuti bidang ideologis (misalnya, ‘kebebasan’, ‘demokrasi’, ‘hak asasi manusia’ dan sebagainya).

Bagi Žižek, konsep marx tentang fetisisme komoditas tidak akan pernah usang dan lebih subversive dari pada para pemikir kontemporer yang mendiskreditkan gagasan ini. Dialektika ini, masih sangat penting dan membantu kita dalam memahami fenomena yang disebut “totalitarianisme”. Namun dalam hal ini, gagasan ini tidak lagi bisa dikaitkan dengan sumber dasar ideologi sebagai keterikatan dogmatis dari apa yang di sebut Marx sebagai kesadaran palsu. Žižek (1989) memberikan pembacaannya kepada buku Umberto Eco berjudul “Name of the Rose”:

What is really disturbing about ‘The Name of the Rose’, however, is the underlying belief in the liberating, anti-totalitarian force of laughter, of ironic distance. Our thesis here is almost the exact opposite of this underlying premiss of Eco’s novel: in contemporary societies, democratic or totalitarian, that cynical distance, laughter, irony, are, so to speak, part of the game. The ruling ideology is not meant to be taken seriously or literally. Perhaps the greatest danger for totalitarianism is people who take its ideology literally” (Hal.24)

Untuk lebih mudah memahaminya, menurut Žižek, meminjam istilah Lacan, ideologi semacam itu (suatu kesadaran palsu, yand dogmatis dan lain sebagainya) sudah diselimuti oleh apa yang disebut Lacan dengan point de capiton. Žižek berpendapat bahwa point de capiton adalah penanda yang menghentikan makna dari tergelincir di dalam selimut ideologis. Dengan kata lain, point de capiton menyatukan bidang ideologis dan memberinya identitas. Myers (2003) memberikan contoh yang bagus di sini, ‘kebebasan’ itu sendiri adalah kata terbuka, yang maknanya dapat tergelincir tergantung pada konteks penggunaannya. Penafsiran sayap kanan atas kata itu mungkin menggunakannya untuk menunjuk kebebasan berspekulasi di pasar, sedangkan penafsiran sayap kiri tentang kata itu mungkin menggunakannya untuk menunjuk kebebasan dari ketidaksetaraan pasar. Karena itu, kata ‘kebebasan’ tidak berarti hal yang sama di semua dunia yang memungkinkan; yang tidak berarti adalah point de capiton dari ‘sayap kanan’ atau ‘sayap kiri’. Apa yang dipermasalahkan dalam konflik ideologi justru adalah point de capiton – yang menandakan (misalnya, ‘komunisme’, ‘fasisme’, ‘kapitalisme’, dan sebagainya) akan memenangkan hak untuk menyelimuti bidang ideologis (misalnya, ‘kebebasan’, ‘demokrasi’, ‘hak asasi manusia’ dan sebagainya).

Semua yang diperlukan untuk mencerahkan subjek yang membingungkan adalah menunjukkan kepada mereka bagaimana pemahaman mereka tentang realitas terdistorsi. Pada titik ini, Seperti diungkapkan Myers (2003), “as soon as ideology is recognized as ideology, that is, as a distorted version of the truth, it disappears.” (Hal.64). Tepat pada kondisi seperti ini-lah Žižek menunjukan, bahwa kita sudah sadar ketika kita hari ini menerima realitas yang terdistorsi. Dan hari ini, kita terlalu dingin dan sadar diri untuk dibodohi oleh aura mitis dan ilusi komoditas yang dikemukakan Marx. Tidak ada ruginya bagi kita saat ini, bahwa produk-produk kita yang kita buat misalnya, disatukan di pabrik-pabrik daerah dengan harga murah kemudian dikirim ke luar negeri dan dijual dengan harga lima puluh kali lipat dari yang seharusnya dibuat ketika tidak ada yang melihat kantong pembuat aslinya. Tidak ada “kesalahmengertian”, tidak ada “ilusi” atau “topeng” dari signifikansi historis suatu komoditas, tetapi meskipun demikian, kita masih menganggap benda-benda itu dengan tingkat kekaguman dan daya tarik yang sama seolah-olah kita tidak mengetahui sejarah mereka dalam contoh pabrik sepatu di atas. Pada kondisi seperti inilah, mengikuti Peter Sloterdijk, Žižek menyebut kita semua adalah subjek yang sinis.

Sinisisme sebagai Ideologi Masyarakat Kapitalisme Akhir

The most elementary definition of ideology” tulis Žižek (1989) “is probably the well-know phrase from Marx’s Capital: ‘sie wissen das nicht, aber sie tun es’ – ‘they don’t know it, but they are doing it” (Hal.24). “Mereka tidak mengetahuinya, tetapi mereka melakukannya”. Namun seperti yang sudah dijelaskan di atas, konsep tersebut adalah konsep ideologi sebagai kesadaran palsu, yang bagi Žižek muncul sebagai kesalahmengertian terhadap realitas sosial yang merupakan bagian dari realitas itu sendiri. Žižek sendiri mengajukan pertanyaan terkait konsep ini: Apakah konsep ideologi sebagai kesadaran yang naif seperti itu masih relevan? Dan apakah masih berlaku hari ini?

Sikap sinis ini bukanlah posisi langsung dari imoralitas, ini lebih seperti moralitas yang digunakan dalam pelayanan imoralitas – model kebijaksanaan sinis adalah untuk memahami kejujuran, integritas, sebagai bentuk tertinggi dari ketidakjujuran dan moral sebagai bentuk tertinggi dari pemborosan, serta kebenaran sebagai bentuk kebohongan yang paling efektif.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Žižek banyak terbantu oleh filsuf asal Jerman, Peter Sloterdijk – khususnya dalam magnum opusnya Critique of Cynical Reason yang menjelaskan bagimana cara ideologi dominan hari ini berfungsi secara sinis. Tesis Sloterdijk yang coba diangkat oleh Žižek ini menjadikan prosedur kritik ideologi klasik mustahil dan sia-sia jika kita terapkan pada kebudayaan konsumeristis dewasa ini. Žižek (1989) menerangkan “the cynical subject is quite aware of distance between the ideological mask and the social reality, but he nonetheless still insist upon the mask” (Hal.25). Formula yang pas, untuk memahami ideologi dewasa ini, seperti diusulkan Sloterdijk akan menjadi: ‘they know very well what they are doing, but still, they are doing it’. Mereka mengetahui betul apa yang mereka lakukan, tapi tetap saja, mereka melakukannya. Žižek (1989) menegaskan “Cynical reason is no longer naïve but is a paradox of an enlightened false consciousness: one knows the falsehood very well, one is well aware of a particular interest hidden behind an ideological universality, but still one does not renounce it” (Hal.25). Kita sudah mengetahui, bahwa kita pergi kuliah sebagai tenaga kerja atau mesin korporat dan membuat sistem terus berjalan. Kita sudah tahu, bahwa saat kita rela mati sebagai cebong atau kampret dan memilih kandidat pujaan kita di TPS itu secara fundamental tidak akan merubah kondisi politik apa pun, akan tetapi masih saja, kita melakukannya.

Di sini, kita harus membedakan secara ketat posisi sinis ini (dalam bahasa Inggris Cynical) dengan apa yang Sloterdjik sebut Kynicism. Žižek (1989) memaparkan ”Kynicism represents the popular, plebeian rejection of the official culture by means of irony and sarcasm: the classical kynical procedure is to confront the pathetic phrases of the ruling official ideology – its solemn, grave tonality – with everyday banality and to hold them up to ridicule, thus exposing behind the sublime noblesse of the ideological phrases the egotistical interests, the violence, the brutal claims to power” (Hal.25). Prosedurnya lebih pragmatis dibanding argumentatif: ia seakan menumbangkan proposisi resmi dengan menghadapi situasi dari pengucapannya. Žižek memberikan contoh misalnya ketika seorang politisi mengajarkan tugas pengorbanan patriotik, kynicism memperlihatkan keuntungan pribadi yang ia dapatkan dari pengorbanan orang lain. Apa yang coba Sloterdijk dan Žižek sampaikan di sini adalah, kynicism semacam itu sudah menjadi bagian dari kalkulasi budaya kapitalis itu sendiri. Bagi Žižek, sinisme adalah jawaban dari budaya yang berkuasa terhadap subversi kynical ini: ia mengakui, memperhitungkan, kepentingan khusus di balik universalitas ideologis, jarak antara topeng ideologis dan kenyataan, tetapi ia masih menemukan alasan untuk mempertahankan topeng itu. Oleh karena itu, menurut Žižek (1989), sinisisme semacam ini adalah, “a kind of perverted ‘negation of the negation’ of the official ideology: confronted with illegal enrichment, with robbery, the cynical reaction consists in saying that legal enrichment is a lot more effective and, moreover, protected by the law” (Hal.26). Sikap sinis ini bukanlah posisi langsung dari imoralitas, ini lebih seperti moralitas yang digunakan dalam pelayanan imoralitas – model kebijaksanaan sinis adalah untuk memahami kejujuran, integritas, sebagai bentuk tertinggi dari ketidakjujuran dan moral sebagai bentuk tertinggi dari pemborosan, serta kebenaran sebagai bentuk kebohongan yang paling efektif.

Dengan ini, apakah kritik ideologi dengan pengertian klasik dapat dilanjutkan? Jawabannya, menurut Žižek, (1989) adalah ‘tidak’. “We can no longer subject the ideological text to ‘symptomatic reading’, confronting it with its blank spots, with what it must repress to organize itself, to preserve its consistency – cynical reason takes this distance into account in advance” (Hal.27). Lantas, jika kita tidak dapat menunjukkan kepada subjek dalam ideologi bahwa mereka disesatkan, karena mereka sudah mengetahuinya, apakah ini berarti bahwa kita hidup di dunia pasca-ideologi, di mana perbedaan antara ideologi dan kenyataan tidak lagi penting? Ia sampai pada kesimpulan, bahwa ideologi sesungguhnya hanyalah sebuah sistem yang membuat klaim kebenaran – yaitu, yang tidak hanya sebuah kebohongan tetapi kebohongan yang dialami sebagai kebenaran, sebuah kebohongan yang berpura-pura dianggap serius. Ideologi totaliter tidak lagi memiliki pretensi ini. Itu tidak lagi dimaksudkan, bahkan oleh penulisnya, untuk dianggap serius – statusnya hanyalah sarana manipulasi, murni eksternal dan instrumental; aturannya dijamin bukan oleh nilai kebenarannya tetapi dengan kekerasan ideologis ekstra sederhana dan janji untuk mendapatkan keuntungan.

Pada titik inilah, Žižek (1989) kemudian mengenalkan pembedaan dari gejala dan fantasi untuk menunjukan bahwa kesimpulan tentang bagaimana hari ini kita hidup dalam masyarakat pasca-ideologi terlalu cepat: “cynical reason, with all its ironic detachment, leaves untouched the fundamental level of ideological fantasy, the level on which ideology structures the social reality itself” (Hal.27).

Fantasi Ideologis

Untuk memperkuat dalilnya, Žižek pada titik ini kembali lagi mempertanyakan konsep kesadaran palsu seperti kasus ‘mereka tidak mengetahuinya, tetapi tetap saja, mereka melakukannya’. Dalam tradisi klasik, hal ini adalah masalah tentang mengetahui, an epistemological problem, maka bagi Žižek (1989), ini adalah masalah ketidaksesuaian antara apa yang orang lakukan secara efektif dan apa yang mereka pikir sedang mereka lakukan – “ideology consists in the very fact that the people ‘do not know what they are really doing’, that they have a false representation of the social reality to which they belong (the distortion produced, of course, by the same reality)” (Hal.27).

Jarak sinis hanyalah satu dari banyak cara untuk membutakan diri kita sendiri terhadap kekuatan struktur fantasi ideologis: bahkan jika kita tidak menganggap segala sesuatu dengan serius, bahkan jika kita menjaga jarak ironis, kita masih melakukannya.

Penulis di sini membawa contoh dalam bentuk ‘uang’ yang disampaikan Žižek sendiri. Uang pada kenyataannya hanyalah kondensasi, perwujudan dari jaringan hubungan sosial – fakta, bahwa ia berfungsi sebagai padanan universal semua komoditas dikondisikan oleh posisinya dalam tekstur hubungan sosial. Tetapi bagi individu-individu itu sendiri, fungsi uang ini – untuk menjadi perwujudan kekayaan – muncul sebagai properti alami yang segera dari sesuatu yang disebut ‘uang’, seolah-olah uang sudah ada dalam dirinya sendiri, dalam realitas material langsungnya, perwujudan kekayaan. Di sini, kita telah menyentuh motif Marxis klasik tentang ‘reifikasi’: di balik hal-hal, hubungan di antara hal-hal, kita harus mendeteksi hubungan sosial, hubungan antara subjek manusia. Akan tetapi, pembacaan formula semacam itu bagi Žižek (1989) “leaves out an illusion, an error, a distortion which is already at work in the social reality itself, at the level of what the individuals are doing, and not only what they think or know they are doing” (Hal.28). Ketika individu menggunakan uang, mereka tahu betul bahwa tidak ada yang ajaib tentang uang itu – bahwa uang, dalam materialnya, hanyalah ekspresi dari hubungan sosial. Ideologi spontan sehari-hari mereduksi uang menjadi tanda sederhana yang memberi individu memiliki hak atas bagian tertentu dari produk sosial. Jadi, pada tingkat sehari-hari, individu-individu itu tahu betul, bahwa ada hubungan antara orang-orang di belakang hubungan di antara benda-benda. Žižek (1989) menegaskan “The problem is that in their social activity itself, in what they are doing, they are acting as if money, in its material reality, is the immediate embodiment of wealth as such. They are fetishists in practice, not in theory. What they ‘do not know’, what they misrecognize, is the fact that in their social reality itself, in their social activity – in the act of commodity exchange – they are guided by the fetishistic illusion.” (Hal. 28). Penulis di sini kemudian memahami, bahwa dalam pemikiran Žižek, meskipun ada semacam ilusi ideologis, tetapi ideologi hanya bekerja dalam ‘tindakan’ yang berkelanjutan sehingga seseorang berpikir bahwa seolah-olah tidak ada kondisi semacam itu. Ideologi, dengan demikian berkaitan dengan ‘tindakan’ atau dalam dimensi praktis, bukan ‘mengetahui’ atau dalam teoritis epistemologis seperti gagasan klasik Marx.

Dengan suatu pembacaan baru tentang kesadaran palsu, Žižek berada dalam posisi yang radikal. Ilusi dari kesadaran palsu bukan dari pengetahuan kita, tetapi sudah berdiri di atas kaki realitas itu sendiri, dari apa yang dilakukan setiap orang. Bagi Žižek (1989) “What they do not know is that their social reality itself, their activity, is guided by an illusion, by a fetishistic inversion. What they overlook, what they misrecognize, is not the reality but the illusion which is structuring their reality, their real social activity.” (Hal.30). Mereka tahu betul bagaimana hal-hal di sekeliling mereka bekerja, tetapi mereka tetap melakukannya seolah-olah tidak mengetahuinya. Karenanya ilusi itu berlipat ganda: ilusi yang terdiri atas penglihatan terhadap ilusi yang menyusun hubungan kita yang nyata, hubungan efektif kita dengan kenyataan. Dan ilusi bawah sadar yang terabaikan ini yang Žižek sebut sebagai fantasi ideologis.

Jika kita tetap bertahan tentang konsep ideologi klasik di mana ilusi terletak dalam pengetahuan, maka masyarakat saat ini harus muncul pasca-ideologis: ideologi yang berlaku adalah sinisme; orang tidak lagi percaya pada kebenaran ideologi, mereka tidak menganggap serius proposisi ideologis. Namun bagi Žižek (1989), tahap yang paling mendasar dari ideologi adalah “is not that of an illusion masking the real state of things but that of an (unconscious) fantasy structuring our social reality itself. And at this level, we are of course far from being a post-ideological society.” (Hal.30) Jarak sinis hanyalah satu dari banyak cara untuk membutakan diri kita sendiri terhadap kekuatan struktur fantasi ideologis: bahkan jika kita tidak menganggap segala sesuatu dengan serius, bahkan jika kita menjaga jarak ironis, kita masih melakukannya.

Dari sudut pandang inilah Žižek (1989) dapat menjelaskan formula atau memformulasikan ulang alasan sinis yang diajukan oleh Sloterdijk:

If the illusion were on the side of knowledge, then the cynical position would really be a post ideological position, simply a position without illusions: ‘they know what they are doing, and they are doing it’. But if the place of the illusion is in the reality of doing itself, then this formula can be read in quite another way: ‘they know that, in their activity, they are following an illusion, but still, they are doing it’” (Hal.30)

‘Mereka tahu betul apa yang mereka lakukan, tetapi tetap saja, mereka melakukannya’. Jika ilusi berada dalam proses mengetahui, maka posisi sinis akan benar-benar menjadi posisi pasca-ideologis, hanya posisi tanpa ilusi: ‘mereka tahu apa yang mereka lakukan, dan mereka melakukannya’. Tetapi jika tempat ilusi itu dalam kenyataannya melakukan sendiri, maka rumus ini dapat dibaca dengan cara lain: ‘mereka tahu bahwa, dalam kegiatan mereka, mereka mengikuti ilusi, tetapi tetap saja, mereka melakukannya’. Žižek sendiri memberikan contoh misalnya, mereka tahu bahwa gagasan mereka tentang ‘kebebasan’ menutupi suatu bentuk eksploitasi tertentu, tetapi mereka masih terus mengikuti gagasan ‘Kebebasan’ ini.

Penutup

Krisis ekistensial massal masyarakat kontemporer memang menyebabkan tak menentunya pakem dasar tindakan yang dapat menjadi fondasi bagi suatu keputusan tertentu, hal ini kemudian memuncak dalam konflik seperti politik identitas yang masif dewasa ini. Kutipan dari Dostoevsky misalnya, “Jika Tuhan tidak ada, segalanya diperbolehkan” seakan menjadi napas penuh risiko masyarakat pascamodern ini. Hilangnya Tuhan sebagai “the big Other” (yang-Lain besar), kemudian diambil alih oleh kapitalisme itu sendiri dengan tujuan tak lain dan tak bukan untuk “mendaki setiap gunung” untuk menikmati dunia sepuas-puasnya. Jouissance, dalam istilah Lacan yang berarti ‘kenikmatan’, cocok dengan kultur kapitalis konsumeris dewasa ini. Dampaknya sangat fatal, kapitalisme yang eksploitatif seolah-olah dianggap sebagai fenomena alamiah dan tak ada yang mempertanyakan, “adakah sistem alternatif yang lain?”. Sangat berbeda dengan abad ke-20 di mana orang sibuk menghayal, berargumen, sampai dengan perang tentang wujud berbeda baik dari segi politik maupun ekonomi. Mengikuti Lacan, membalikkan diktum Dostoevsky, Žižek (2012) dalam ABC menulis, “if there is a God, then anything is permitted”, ‘jika ada Tuhan, maka segalanya diperbolehkan’. Hari ini, pada era di mana satu-satunya hal yang kita percaya adalah ‘menikmati hidup’ dan tujuannya adalah merealisasikan hidup yang otentik, tak heran bahwa agama ada dalam posisi yang ‘unik’ untuk memotivasi kekerasan dengan alasan-alasan yang kudus.

Oleh karena itu, bagi penulis, pembacaan ulang Žižek terhadap gagasan fetisisme komoditas yang didiskreditkan oleh kaum intelektual dalam tradisi marxis, adalah suatu langkah radikal yang memberikan sudut pandang baru tentang bagaimana kekuasaan di masyarakat kontemporer ini beroperasi. Kekonyolan masyarakat kontemporer yang larut dalam permainan kesejahteraan dan ilusi keinginan dengan dalih kebahagiaan telah kehilangan daya negasinya.  Fetisisme komoditas sebagai wujud utama yang serius dan inheren dalam realitas ekonomi adalah konsekuensi nyata dari kesadaran sinis masyarakat hari ini. Life-World sudah tergenggam oleh kekuasaan sampai ke dasar bumi sambil menikmati hasilnya dan mempertahankan sistem dengan memperluasnya. Kondisi ini tidak asing bagi Marx dan justru lebih relevan meskipun dengan arti yang lebih harfiah dari apa yang ia maksudkan.

Realitas selalu dikonstitusikan oleh yang-simbolik dan yang-simbolik adalah di mana fantasi mengambil wujud samar-samar kebenaran. Faktanya, satu-satunya tempat non-ideologis tersedia adalah dalam yang-riil – antagonis dari yang-riil, suatu posisi yang tidak bisa kita tempati.

Bagi Žižek, fetisisme komoditas bukan berada di dalam pikiran kita sebagai kesadaran palsu, ilusi, atau cara kita yang salah memandang realitas dan lain sebagainya. Akan tetapi, dalam realitas sosial kita sendiri. Kita mungkin tahu kebenarannya, tetapi kita bertindak seolah-olah kita tidak mengetahuinya. Di dalam kondisi seperti ini, kemudian, pertanyaan dalam permasalahan ideologi selalu datang, seperti: “Apakah pada titik ini kita bisa membedakan apa yang disebut ideologi dengan realitas itu sendiri? Bisakah kita melangkah keluar dari apa yang disebut ideologi tersebut dan hidup dalam dunia non-ideologis?”

Dalam Mapping Ideology, sesuai dengan analisis Hegel tentang agama (yang bagi Marx agama adalah sebagai ideologi par excellence), Žižek menaksir ideologi menjadi tiga aspek: doktrin (in-itself), kepercayaan (for-itself), dan ritual (in-and-for-itself). Menjelaskannya secara singkat dan berurutan, Žižek (1994) sendiri menjelaskan:

one is thus tempted to dispose the multitude of notions associated with the term ‘ideology’ around these three axes: ideology as a complex of ideas (theories, convictions, beliefs, argumentative procedures); ideology in its externality, that is, the materiality of ideology, Ideological State Apparatuses; and finally, the most elusive domain, the ‘spontaneous’ ideology at work at the heart of social ‘reality’ itself (it is highly questionable if the term ‘ideology’ is at all appropriate to designate this domain — here it is exemplary that, apropos of commodity fetishism, Marx never used the term ‘ideology’)” (Hal.9)

Mengambil lagi contoh yang ia gunakan tentang liberalisme: liberalisme adalah sebuah doktrin (yang berkembang dari Locke sampai Hayek) dimaterialisasikan dalam ritual-ritual dan aparatus-aparatus (kebebasan pers, lembaga pemilihan umum, pasar, dan lain lain) dan akitf secara spontan dalam pengalaman-diri subjek sebagai ‘individu bebas’.

Di dalam masing-masing tiga aspek dalam narasi ideologis tersebut, Žižek pun kesulitan untuk membedakan antara dimensi realitas dan ideologi. Tidak ada jalan keluar yang dapat diakses dengan mudah. Baginya setiap gerak-gerik kita, juga cara kita keluar dari ideologi pun adalah gestur ideologis. Meskipun tidak ada garis demarkasi yang jelas membedakan realitas dan ideologi, meskipun ideologi sudah bekerja di dalam setiap pengalaman kita yang kita sebut ‘realitas’, namun bagaimanapun bagi Žižek, kita harus tetap selalu mempertahankan tensi dan memberikan asa ‘kritik ideologi’ untuk selalu tetap hidup. Oleh karena itu, Žižek mengajukan suatu tempat di mana kita dapat memisahkan yang ideologis dari yang non-ideologis. Akan tetapi tempat ini adalah harus tetap kosong – tempat tersebut adalah suatu wujud tanpa isi. Mengikuti langkah Kant, Žižek (1994) menulis “ideology is not all; it is possible to assume a place that enables us to maintain a distance from it, but this place from which one can denounce ideology must remain empty, it cannot be occupied by any positively determined reality” (Hal.17). Bagaimana, kemudian, penjelasan secara spefifik tentang tempat kosong ini?

Hantu ideologi secara diam-diam selalu mengunjungi realitas. Dengan ini, lebih jauh penulis memahami bahwa sifat ideologi baginya bagaikan suplemen gaib untuk realitas itu sendiri. Baginya, hal ini tak lain adalah kepercayaan kita sendiri tentang pembedaan antara realitas dan yang-riil. Myers (2003) menjelaskan “We have no access to the Real because our world is always mediated by the Symbolic. Reality, as we know it, therefore, is always Symbolic.” (Hal.73). Dari psikoanalisis Lacan, ia beranggapan bahwa, simbolisasi yang-riil tidak akan pernah menjadi lengkap. Yang-simbolik tidak akan pernah bisa memenuhi yang-riil, oleh karena itu, konsekuensinya selalu ada beberapa bagian dari yang-riil yang tetap tak-tersimbolisasi. Pada titik ini, tahap simbolik tidak dapat atau gagal menghasilkan semacam antagonisme fundamental – bagian dari yang-riil yang kembali untuk menghantui realitas secara samar-samar sebagai suplemen gaib tadi. Mengomentari Žižek, Myers (2003) menyebutkan “The spectre conceals the piece of the Real which has to be forsaken if reality (in the guise of the Symbolic) is to exist. And it is here, in the spectral supplement, that Žižek locates the foundation or kernel of all ideologies. All of which is another way of saying that reality and ideology are mutually implicated in each other. One cannot exist without the other.” (Hal.74).

Masalah politik kontemporer dewasa ini, seperti yang ia tekankan, bahwa hari ini situasinya serba non-politis – menerima sepenuhnya struktur masyarakat kapitalis yang ada.

Lantas, untuk menjawab pertanyaan ‘bagaimana kita mebedakan realitas dari ideologi?’ Bagi Žižek jawabannya adalah realitas selalu dikonstitusikan oleh yang-simbolik dan yang-simbolik adalah di mana fantasi mengambil wujud samar-samar kebenaran. Faktanya, satu-satunya tempat non-ideologis tersedia adalah dalam yang-riil – antagonis dari yang-riil, suatu posisi yang tidak bisa kita tempati. Tentang ini Žižek (1994) menuliskan “so that the ultimate support of the critique of ideology – the extra-ideological point of reference that authorizes us to denounce the content of our immediate experience as ‘ideological’ — is not ‘reality’ but the ‘repressed’ real of antagonism” (Hal.25). Di sini, meskipun terlalu abstrak, Žižek memberikan contoh dalam bentuk konkret tentang pertentangan kelas. Baginya, pertentangan kelas adalah tata tertib yang-riil. Kita hanya menjumpainya melalui simbolisasi. Sebagaimana pertentangan kelas itu nyata, dirinya membentuk sebuah rintangan dalam yang-simbolik yang mewujudkan dirinya dalam percobaan lain untuk men-simbolisasi-nya, untuk memulihkan diri dalam realitas. Tentang ini, Myers (2003) mengomentari “The very visible absence of class struggle right now is, for Žižek, evidence of a struggle in which one side has (temporarily) won. The class struggle does not objectively exist-we can only see it or not see it from a particular, subjective or ideological point of view” (Hal.74).

Penulis kemudian di sini menyimpulkan, bahwa menurut Žižek, begitulah ideologi bekerja pada era sinis kita; Kita tidak perlu betul-betul mempercayainya. Kita semua tahu betul bagaimana korupsi di era demokrasi bekerja, akan tetapi kita tetap menjalankannya (sistem demokrasi) – kita tetap menunjukan rasa percaya kita terhadap sistem tersebut karena kita menganggap bahwa sistem akan dengan baik bekerja meskipun kita tidak mempercayainya. Pembedaan realitas dan ideologi bagi Žižek ada hanya untuk sajian teoritis saja. Dia tidak menyatakan bahwa ia menawarkan kebenaran ‘objektif’, akan tetapi ideologi tersebut harus diasumsikan menjadi ada jika kita menerima realitas dibentuk oleh sebuah antagonisme konstitutif. Proyek Žižek adalah untuk memberi asa kepada kritik ideologi dan keluar dari momen pasca-ideologi. Masalah politik kontemporer dewasa ini, seperti yang ia tekankan, bahwa hari ini situasinya serba non-politis – menerima sepenuhnya struktur masyarakat kapitalis yang ada. Dengan penuh harapan, Žižek (1994) menulis “we encounter the inherent limit of social reality, what has to be foreclosed if the consistent field of reality is to emerge, precisely in the guise of the problematic of ideology, of a ‘superstructure’, of something that appears to be a mere epiphenomenon, a mirror-reflection, of ‘true’ social life.” (Hal.30). Meskipun komunisme abad ke dua puluh sudah gagal total, namun sangat penting untuk menjaga mimpi kita tetap hidup. Kegagalan Marx, adalah sekaligus kemenangannya.  Dengan mengganti cara kita bermimpi, kita bisa memikirkan ulang, mensimbolisasikan ulang dan memulihkan harapan-harapan kita. Terutama jika kita melihat krisis dan kebuntuan dari sistem kapitalisme dewasa ini yang dampaknya jelas terlihat, seperti kelaparan di Afrika, krisis ekologi, kemiskinan, korupsi, bentrok antar agama, teror, pengendalian digital, bioteknologi, relasi seksual, dan lain sebagainya. Namun justru, pada situasi yang sangat berbahaya inilah, kita harus mengingat motto klasik Mao Zedong, “there is a great disorder under Heaven, so the situation is excellent!

 


 

Daftar Pustaka:

Marx, Karl. (1979). Capital: Critique of Political Economy Volume 1. Terj. Ben Fowkes. London: Penguin

Myers, Tony. (2003). Slavoj Žižek. London: Routledge

Žižek, Slavoj. (1989). The Sublime Object of Ideology. London: Verso

Žižek, Slavoj. (1994). Mapping Ideology. London: Verso

Žižek, Slavoj. (17 Juli, 2012). If there is a god, then anything is permitted. ABC. Hal. A1. Diakses dari https://www.abc.net.au/religion/if-there-is-a-god-then-anything-is-permitted/10100616

Žižek, Slavoj. (4 Mei, 2018). 200 years later, we can say that Marx was very often right – but in a much more literal way than he intended. Independent. Diakses dari https://www.independent.co.uk/voices/karl-marx-200-years-uk-politics-elections-working-class-slavoj-Žižek-a8335931.html

 

Facebook Comments