vol. 4 No. 2 Oktober 2017

Kematian Tuhan
Tentang Bahasa, Logika, dan Metafisika

Oleh: Risalatul Hukmi

INTISARI

Artikel ini dilatarbelakangi oleh beberapa kesalahan pembacaan terhadap Nietzsche mengenai ide tentang kematian Tuhan. Kesalahan tersebut terletak pada upaya apologetis untuk mempertahankan eksistensi Tuhan yang telah mati. Tentu saja seluruh upaya tersebut akan selalu gagal jika kematian Tuhan dipahami melulu dalam kerangka teologis, karena pada akhirnya akan terjerembab kembali ke dalam asumsi metafisis yang sedari awal telah ditolak oleh Nietzsche. Tulisan ini merupakan suatu penawaran cara pandang baru terhadap ide tentang ‘kematian Tuhan’ dalam kaitannya dengan logika, bahasa, dan metafisika sebagai pokok penting dalam diskursus filosofis. Dengan memahami seluruh dasar argumentasi tersebut diharapkan tidak ada lagi upaya yang ceroboh untuk kembali menghidupkan Tuhan yang kematiannya begitu niscaya.

Kata Kunci: Tuhan, Bahasa, Logika, Metafisika

Kategori the Social dalam Filsafat
Politik Hannah Arendt

Oleh : St. I Nyoman A.W

INTISARI

Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi secara reflektif kategori the social yang merupakan unsur reflektif di dalam pemikiran politik Hannah Arendt. Kategori the social, sebagai sebuah unsur reflektif, merupakan konsekuensi teoretis dari analisis Aristotelian Hannah Arendt terhadap gejala modernitas dan sejarah Revolusi Amerika dan Prancis. Analisis Aristotelian yang berbasis pada metode pembedaan institusional memberi bentuk spesifik bagi kategori the social yang berbasis pada demarkasi ontologi dan epistemologi di antara ruang privat dan ruang publik. Kategori the social yang dikonseptualisasikan oleh Hannah Arendt merujuk pada keadaan atau tendensi hilangnya demarkasi institusional di antara ruang privat dan ruang publik. Pada lokus konseptual inilah, visi kajian artikel diarahkan untuk membaca secara baru kategori the social yang didasarkan pada horizon kompleksitas realitas politik kontemporer. Di dalam rangka memenuhi visi kajian tersebut, penulis mencoba menghadirkan refleksi Seyla Benhabib, di dalam menemukan kemungkinan-kemungkinan pembacaan yang baru terhadap kategori the social. Kajian yang mengikuti beberapa ekses teoretis dari tradisi republikanisme ini—filsafat politik
Hannah Arendt, diharapakan dapat memberi pemahaman reflektif mengenai filsafat republikanisme, ketika refleksivitas tradisi republikanisme absen di republik ini.

Kata Kunci: the Social, Yang-Politis, Poiesis, Praxis, Pembedaan Institusional, Modus Attitudinal

Kegagalan Positivisme Hukum
Memahami Ketidaksepakatan Teoretis
Kritik Dworkin atas Konsep Filsafat Hukum Hart
dalam Law’s Empire

Oleh : Redemptus B. Gora

INTISARI

Filsafat hukum merupakan salah satu cabang filsafat yang berfokus pada substansi. Pencarian esensi atau substansi hukum banyak digeluti oleh filsuf hukum seperti H.L.A Hart (positivisme hukum) dan Ronald Dworkin. Kedua filsuf ini berusaha menelanjangi apa itu hukum agar mencapai kepastian konseptual, sekalipun melalui perdebatan sengit dan panjang. Dworkin meyakini bahwa refleksi Hart atas hukum yang hanya terbatas pada pandangan fakta telanjang (plain fact-view), yaitu dasar hukum ditetapkan berdasarkan
kesepakatan, sangatlah rapuh. Kerapuhan itu sangat tampak ketika persoalan hukum dikabuti oleh apa yang disebut Dworkin sebagai ketidaksepakatan teoritis (theoretical disagreement). Oleh sebab itu, Dworkin mengritik Hart karena ia percaya bahwa hukum seharusnya tidak hanya bersandar pada aturan (rules), tetapi juga pada prinsip-prinsip (principles).

Kata Kunci: Pandangan Fakta Telanjang, Ketidaksepakatan Teoretis, Aturan dan Prinsip

Lingkar Magis
Permainan Realitas Visual

Oleh : Rino Dwicahyo

INTISARI

Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan adanya konsep lingkar magis dalam permainan realitas virtual. Lingkar magis dalam artikel ini merujuk pada pengertian Johan Huizinga yang menitikberatkan perpindahan pelaku permainan dari dunia sehari-hari ke dunia baru imajiner. Sedangkan, realitas virtual diartikan sebagai dunia tiga dimensi (3d) yang diciptakan dengan tampilan grafis interaktif dalam waktu sebenarnya, menggunakan teknologi penampil yang mampu memberikan pengguna ‘ketenggelaman’ dalam dunia model tersebut yang juga dapat dimanipulasi secara langsung. Artikel ini memiliki dua latar belakang: pertama, telah berubahnya cara bermain dengan hadirnya realitas virtual yang secara teknologi menekankan pada ketenggelaman (immersion) dan kehadiran (presence) pelaku pada dunia virtual. Kedua, untuk merejustifikasi relevansi pandangan tentang bermain, yang pada artikel ini diwakili oleh pandangan Huizinga, dalam kehidupan teknologi modern. Artikel ini memiliki dua kesimpulan utama. Pertama, permainan realitas virtual mengafirmasi konsepsi Huizinga tentang lingkar magis, dengan indikator dimensi ilusi dan imajiner. Kesimpulan ini juga menunjukkan bahwa permainan realitas virtual adalah sebuah lingkar magis. Kedua, permainan realitas virtual memberikan pandangan baru terhadap lingkar magis karena permainan realitas virtual benar-benar memindahkan pelaku permainan ke dunia baru yang ilusif secara inderawi lewat teknologi.

Kata Kunci: Permainan, Realitas Virtual, Lingkar Magis, Ketenggelaman