sumber: blog.defgrip.net

Mari kita lihat sejenak. Ada wabah yang sedang melanda kampus kita. Hampir semua mahasiswa terjangkit wabah ini. Wabah yang menyerang tanpa ampun, mereka melihat kita, menuntun, tapi kita tidak sadar. Barangkali sudah menjadi banal, tampak biasa, dan laiknya tak terjadi apa-apa. Tapi ia bersarang di sini, di lingkungan kampus kita, sebuah wabah kedangkalan.

Kedangkalan yang saya maksud ialah terkait budaya kampus sehari-hari. Idealnya, sebuah lingkungan akademisi yang edukatif ialah mencerminkan produktivitas wacana yang tinggi. Tidak kering dan macet. Paling minimal, budaya kampus di mana para akademisi atau mahasiswa sendiri yang mencipta budaya itu, dan sekaligus berada di dalamnya, mempunyai ciri baca tulis dan kegiatan diskusi yang terus hidup. Apa sekarang? Apa yang tersisa? Dan kita mau berbuat apa? Baca-tulis-diskusi hampir-hampir sirna, tinggal segelintir mahasiswa yang tekun saja. Wabah kedangkalan yang menyerang mayoritas mahasiswa ini menyebabkan klise massal.

Ciri klise massal itu, yang paling utama, ialah berisi kultus gaya hidup. Sosoknya rapi, tampilannya apik, harganya mahal. Ia dipasang sebagai status simbol dan prestise. Misal gadget dan fashion, semua barang itu tidak punya arti dalam dirinya. Mereka diburu karena mereka memberi status. Barang atau jasa itu diburu karena rasa ‘memiliki’ memberi rasa eksklusif. Akhirnya, klise itu berisi penggerusan kapasitas berpikir. Ia jadi tong kosong. Enggan baca-tulis-diskusi sebagai proses dialektis menuju yang ber-isi.
Memang kita tidak boleh menolak perkembangan teknologi yang pesat.

Jika menolak perkembangan, kemajuan, kita masih dikungkung oleh kekolotan. Mengikuti perkembangan zaman perlu, dan mesti dilakukan di dalam kehidupan modern ini. Sebagai mahasiswa, kita tentu saja tidak boleh berhenti pada pemahaman sebatas ini. Coba renungkan dulu, apa di balik perkembangan teknologi yang pesat itu? Kemanakah arah perkembangannya? Apakah ada landasan moral yang mendampingi kepesatan ini? Jangan-jangan apa yang telah kita yakini selama ini, bahwa teknologi membawa kemudahan dan menghubungkan manusia dari jarak jauh dengan cepat, membawa pada keadaan destruktif. Hal ini sudah terbukti dengan persoalan yang sepele, soal mengendurnya semangat diskusi di kalangan mahasiswa.

Daya pikir kita harus lebih kritis, bukan Cuma sebagai tuntutan mindset yang harus dimiliki penuntut ilmu tingkat atas, tetapi berpikir kritis harus dibawa ke ranah implementasi atau praktik di kehidupan sehari-hari. Sehingga apa yang kita perbuat bukan suatu yang klise, ia hasil ungkapan diri kita sendiri, bukan hasil tiruan.

Cara berpikir yang kritis tentu tidak datang begitu saja. Perlu pembiasaan dan latihan-latihan layaknya otot-otot pada tubuh. Menguatkan kembali budaya baca-tulis-diskusi merupakan gerbang menuju cara berpikir kritis. Membaca menambah wawasan kita, menulis berarti menuangkan gagasan dan wawasan yang sudah didapatkan ke dalam bentuk tulisan, sedangkan diskusi menuntut refleksi lebih dalam dari sekedar membaca dan menulis. Kegiatan diskusi meneguhkan wawasan kita, sekaligus einrichment. .karena dalam diskusi dituntut memegang pendapat pribadi, menerima pendapat, serta mengkritisi pendapat orang lain. Sehingga dalam keseharian bisa tanggap dalam membaca realitas diri dan sekitar kita.

Wabah itu jangan dibiarkan menular. Harus segera ditanggulangi dengan cepat. Mengingat kita mahasiswa sebagai generasi penerus yang membawa misi mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.

Khoiril Maqin
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, editor Jurnal Cogito, fokus studi terkait isu sosiologi ilmu, perkembangan ilmu di Indonesia, dan sedang menulis pemikiran Thomas Kuhn.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY