spot_img
More

    2016 dan Spekulasi Keliru tentang Masyarakat

    Featured in:

    Apakah kebiasaan mengucapkan Selamat Tahun Baru, dilanjutkan dengan selebrasi kembang api dan trompet telolet ada anjuran tertulisnya dalam kitab  suci? Atau adakah aturannya dalam adat-tradisi keseharian masyarakat Timur? Jika perayaan itu adalah pesta makan-minum dan memutar musik keras-keras, duh jangan dilakukan; itu jelas hampir-hampir tidak bisa kita temui aturan yuridis maupun tak tertulisnya di kitab hukum masyarakat Timur.

    Tapi bolehlah, kita berefleksi. Merenungkan berbagai kesalahan juga pencapaian-kesalihan di tahun yang telah lalu. Kalau merenung, berefleksi, mempertajam akal, menghaluskan hati itu hobi dan kebiasaan kita sekali. Yaa latiif… yaa latiif…yaa latiif….yaa latiif…; Oh Tuhan yang Maha Lembut dibaca 2.678 kali. Begitu ijazah amalan dari Tuan Jacques Ngabdullah Panatagama, disingkat JaDulMa, Guru Spiritual yang kita sayangi hidup mati.

    Walau namanya campuran, dia ini orang Indonesia asli, sedikit kosmopolit, telihat dari susunan namanya. Tuan kita ini pribumi tulen! Bukan Cina peranakan, apalagi totok! Masyarakat yang ndak bisa bahasa Perancis meng-Inggris-kan nama Tuan Jacques jadi Jacky. Yang ndak bisa bahasa Inggris dan bahasa Perancis sebab percaya bahasa Arab adalah bahasa surge, meng-arab-kannya jadi Zaki. Lantas karena masih ada orang-orang tua yang lidahnya terlanjur pakai ejaan Suwandi, Tuan Jacques, Jacky, Zaki menjadi Djeki. Kok jadi kedengaran seperti nama anjing kampung?!

    ***

    Baiklah, agar refleksi dan renungan kita lebih khusyuk saya akan membantu mendaftar beberapa kejadian pada tahun 2016 yang menghebohkan, walau kadang tak asyik, kecuali sebagai tontonan. Jika nanti catatan akhir tahun ini terkesan subjektif dan semena-mena, hal itu semata karena tulisan ini dirangkai dari berbagai macam hal yang saya dengar, rasakan, beberapa kali juga saya pikirkan.

    Dasarnya adalah fenomena kemasyarakatan yang terjadi mulai dari Januari hingga Desember 2016. Semuanya saya ketahui dari media sosial, kemudian tulisan ini berdasar ingatan saya akan berita-berita tersebut. Spekulasi-spekulasi tentang berbagai macam kejadian akan menjadi alur utama tulisan ini. Mari kita mulai sambil tetap merapal ijazah dari Tuan Jacques Ngabdullah Panatagama.

    1. Ahok menistakan agama Islam. FPI dan ormas Islam lainnya berhasil mengkoordinir sebagian umat Islam untuk berbondong-bondong mendemo Cina Bangka Belitung yang mungkin masih ada keturunan si Cina Mukmin petualang CengHo yang sohor itu. Kabar terakhir Ahok menangis saat membaca nota keberatan di depan pengadilan.
    2. Amerika melegalkan gay married, dan isu itu hanggat di awal sampai pertengahan tahun 2016. Bermula dari tuduhan bermasalah pada SGRC UI sebab mencomot logo kampus untuk organisasi yang dikira menjadi tempat kumpul homo-homo intelek di ibu kota. Selanjutnya menteri M. Natsir –karomaallahuwajhah- menyambut isu LGBT dengan statemen melarang LGBT masuk kampus. Ciap-ciap tuan Natsir diikuti Ibunda ibu-ibu muslimat NU sekaligus Cagub gagal Pilkadal Jawa Timur —yang kata kyai Said Aqil tak akan goyah imannya walaupun 90.000 Lady Gaga datang ke Indonesia—Khofifah Indarparawansa dengan berkata: “LGBT penyimpangan, tapi bisa disembuhkan dengan direbus” (“intel rebus LGBT satu A’,” pesan seorang mahasiswa di warung burjo dekat kampus).
    1. Masalah semen dan eksploitasi ekologis lainnya semakin memanas.
    2. Munculnya tokoh-tokoh masyarakat baru di media sosial. Anak-anak muda dengan derajat kepedulian sosial-politik tinggi. Mulai dari yang suka menyebar berita hoax sampai membagikan berita atau beropini dengan akal sehat dan cukup waras. Berbagai macam soal jadi ladang baru bagi mereka: menolak pengusuran Bukit Duri, reklamasi Jakarta dan Teluk Benoa, pendirian Pabrik Semen di rembang, yang punya nyali cukup besar pro-LGBT. Akan tetapi yang menyebar berita anti-Cina, anti-Amerika, sentimen anti aseng, asing dan pokonya yang ndak pribumi dan ndak islam juga semakin marak.

    ***

    Mari kita merenung, saya akan berspekulasi mulai dari poin ke 5 dan seterusnya akan seenaknya dari poin ke poin.

    Siapa sebenarnya mereka yang suka menyebar berita hoax sampai membagikan berita atau beropini dengan akal sehat dan cukup waras? Jawabannya sebenarnya sudah jelas: MASYARAKAT. Tapi kita butuh suatu gambaran yang zakelijk, saklek kata orang jawa. Baiklah mari ikuti saya.

    Yang jelas mereka bukan bagian kelas sosial muda yang disebut-sebut lagu revolusioner ciptaan komposer Indo-Manado yang menetap di New York, James F. Sundah dan dipopulerkan Ruth Sahanaya “ASTAGA”: Astaga

    Hendak kemana semua ini

    Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli

    Mudah putus asa dan kehilangan arah

    Hanya mengejar

    Kepentingan diri sendiri

    Lalu cuek akan derita sekitarnya

    Lantas, mungkinkah mereka ini bagian dari kelas yang disebut Benedict Anderson sebagai pemudaisme?

    Kelompok muda yang terbukti ikut andil dalam revolusi nasional, yang ternyata kata Anderson adalah revolusi sosial yang tak mesti menggantungkan perubahan konjungtur sejarah pada sikap dan tindakan elite politik nasional. Yang lebih penting adalah massa rakyat, pemuda salah satunya. Mereka yang mengusahakan perubahan sejarah dari titik konjungtur history from below.

    Rasionalitas tidak menjamin perubahan tindakan jika ia tidak menyentuh bagian paling emosional dari manusia.

    Saya tidak tahu apakah mungkin berbagai macam hal setelah revolusi internet mengondisikan suasana bagi terbentuknya kelas muda revolusioner sebagaimana tesis Anderson.

    Sebagai fakta, bagi saya ini cukup membuat hari-hari yang hambar dan begitu-begitu saja, menjadi tambah menegangkan sebab dipenuhi serang sana, serang sini, kafir sana, kafir sini, komunis sana, komunis sini. Masyarakat memang suatu tontonan yang menghibur. Hidup masyarakat!Yang jelas intuisi spekulatif saya: pertama, bagi saya mereka para komentator hoax maupun tak hoax di media sosial adalah bagian dari elan vital zaman ini. Suatu fakta yang tidak bisa diingkari bahwa mereka, apa pun sikap politiknya, jelas adalah kelas yang anti-ORBA sebab menolak KB: dua anak tidak cukup, ada dan berlipat ganda !!.

     

    ***

    Untuk soal LGBT, hmmm… bagaimana ya, ini agak berat. Kalau saya PRO-LGBT, masyarakat bisa melayangkan tuduhan saya adalah bagian dari kaum yang harus direbus Ibu Khofifah. Hal itu tentu akan mengurangi daya tawar saya sebagai calon sarjana di depan masyarakat.

    Saya bisa mulia di depan Tuhan sebab mengasihi umat manusia tanpa pilih kasih. Sebagaimana Tuhan kasih oksigen gratis ke homo-homo  kampus sampai santri-santri yang sedang hafalan qiro’ah sab’ah di pesantren Krapyak. Tapi sayang, lebih dari posisi mulai di depan Tuhan adalah posisi mulia di depan masyarakat. Tuhan mau kasih firman sejelas apa pun kalau masyarakat dan tokoh-tokohnya bilang Ahok menista kitab suci, maka Tuhan mesti minggir dulu: “Mohon maaf, Han. Ini urusan umat, lu istirahat dulu dah”.

    Kalau saya anti-LGBT pasti dapat dukungan dari mayoritas masyarakat. Tapi teman-teman saya pasti ada yang bilang “hmmm… sudah kuliah lebih dari 8 semester kok masih begitu”. Maka mengertilah “rasionalitas tidak menjamin perubahan tindakan jika ia tidak menyentuh bagian paling emosional dari manusia,” begitu kata teoretikus Martha Nussbaum yang pernah kecewa sebab ternyata cowok yang diidamkannya homo, ndak suka rambutan, tapi suka duren.

    Mengapa masyarakat rela bondong-bondong sampai terbodong-bodong demo anti-Ahok, anti-Cina, anti-kapir, anti-komunis, mulai dari tukang cukur, dosen, birokrat, sampai mahasiswa filsafat 2013, 2014, 2015?

    Suatu siang pada 2 Desember 2016, saat pulang dari jihad menuntut ilmu berpayung sayap malaikat sebagaimana hadist riwayat Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi dari Abu Darda’, sontak saya dan teman saya Jofi terkaget ada lima orang lebih di perempatan jalan Kaliurang berbaju gamis putih sebagaimana baju Abu Jahal –lanknatullahalaih- membawa poster kain putih (sepertinya bekas mukena), bertuliskan “Penjarakan penista agama Ahok”; “Tolak pemimpin kafir!” .

    Jelas mereka lupa ini Yogyakarta atau imajinasi spasial mereka memang melintas batas geografis. Bukankah Ahok itu urusan Pilkadal DKI? Tapi sebagai bentuk solidaritas ini jelas mununjukkan suatu pola bahwa solidaritas iman-religius memang dikondisikan untuk melintang-batas provinsi.

    Mengapa solidaritas macam itu bisa terjadi? Jawabnnya bagi saya jelas mengikuti Nussbaum bahwa Habib Rizieq cs–athola allahu baqoah–  berhasil menyampaikan pengetahuan melampaui tata pikir ilmiah-rasional, sebab menyentuh emosi para pendengarnya. Epistemologi Rizieq berhasil menggerakkan tindakan orang, mengubah berbagai macam pertimbangan rasional. Sesuatu yang sulit dilakukan oleh para penggerak massa lainnya, atau oleh model-model pengajaran di kampus-kampus.

    Corak pengetahuan dan model penyampaian yang bisa menyentuh emosi subjek adalah jaminan bagi segala perubahan yang kita idamkan. Selebihnya, mau fafifufafifu panjang lebar jika tidak bisa seperti bagaimana Rizieq membuat mahasiswa filsafat yang sudah lulus kuliah epistemologi, pekerja kantoran yang dicurangi atasan, mas-mas di Jogja yang dipimpin sistem kesultanan ndak Islami, melupakan semua masalah indvidualnya dan berani bergerak bondong-bondong mengikuti seruan Rizieq cs : ALLAHU AKBAR, PENJARAKAN PENISTA AGAMA, TOLAK PEMIMPIN KAFIR CINA !!

    ***

    Sudah dulu refleksi akhir tahun dan spekulasinya.

    Suatu hari saya pernah membayangkan masyarakat yang adil, makmur, ndak romantis, ndak gampang tersinggung dan yang penting diridhoi Allah. Begini detailnya:

    Ada seorang peranakan Cina, homo, kristen, komunis, sedang duduk nongkrong ngopi di Starbucks. Di sudut lain ada seorang berbaju gamis, berjenggot. Jelas seorang muslim taat dengan bekas sujud sehitam blackhole di jidatnya. Datang seorang lagi murid Tuan Jacques, yang pasti dia seorang priyayi Jawa, sebagaimana guru spiritual yang kita sayangi itu yang masih berdarah Keraton itu.

    Si muslim taat berjidat hitam menyapa si Cina : “Hai lu udah Cina, kafir, komunis, homo lagi”. Si Cina menimpali: “Hai…hai… Apa kabar onta padang pasir, doyan juga lu ngopi di starbuck kapitalis ini?”. Si Jawa priyayi diam dan tetap kalem, lalu bertitahlah dia “Husst… jangan rebut. Dasar sunda!”. “Apasih lu Jawa feodal, ke Starbucks kok pakai blangkon dan jarit begitu, ndak mengikuti perkembangan zaman kau ahhh,” timpal si Cina dan si Muslim kepada si Jawa Priyayi yang sedang menyeruput kopi dengan khusyuk.

    Mereka lantas bergabung satu meja, dan tak henti-hentinya ngobrol sambil terlontar umpatan-umpatan gaul: “ehhh dasar cina homo….”; “ahh kau onta gila seks poligami….” Si Jawa sambil merapal amalan ya latif….bilang: “hmm… yang sopan dong. Tingkah lakunya dikondisikan…”

    Dan saya masih membayangkan suatu hari…iya suatu hari….

    Dengan atau tanpa apa dan siapa, Selamat Tahun Baru 2017, ya masyarakat!

    -Kaliurang 31 Desember 2017-

     

    Author

    Find us on

    Latest articles

    spot_img

    Related articles

    Sebuah Hikayat dari Tanah Para Pencari Kebenaran Dunia

    Tulisan ini merupakan potongan dari Laporan Pertanggungjawaban Pemimpin Redaksi LSF Cogito 2022 yang disampaikan pada 11 Februari...

    Ampun, Romo Bertens: Argumen Absolutis Anda Bermasalah

    Buang semua asumsi moral dan pengetahuan yang kita dapat dari peradaban modern ini untuk sementara. Mari bayangkan...

    Polemik Hermeneutis Gadamer dan Habermas

    “Kalau Anda ingin mendengarkan Heidegger dengan lebih mudah, bacalah (tulisan) Gadamer.” Begitulah ucapan Fransisco Budi Hardiman saat...

    Metalearning? Di Balik Cognitive Load Theory

    Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari keberadaan seorang guru dalam melakukan pengajaran. Isu tentang pentingnya keberadaan seorang...

    Kultur Toksik Pengabdian Kampus: Mempertanyakan Kembali Makna Keberlanjutan

    Pengabdian kepada masyarakat merupakan serangkaian pola pikir dan tindakan dengan dasar sukarela untuk membantu korban dari...

    Seni AI dan Artstyle Manusia

    Setiap seniman memiliki gaya mereka sendiri dalam berkarya. Hal tersebut merupakan unsur yang membuat sebuah karya memperoleh...