spot_img
More

    Seni AI dan Artstyle Manusia

    Featured in:

    Setiap seniman memiliki gaya mereka sendiri dalam berkarya. Hal tersebut merupakan unsur yang membuat sebuah karya memperoleh jiwa yang membuat keberadaan objek seni dan pelaku seni saling terikat. Gaya, dalam berkarya seni, mengacu kepada kombinasi teknik, proses, dan keputusan seorang seniman yang unik. Gaya dalam berkarya bersifat dinamis: berkembang selama masa hidup seorang seniman. Banyak orang bisa mengenali karya Vincent van Gogh tanpa perlu melihat namanya. Alasannya adalah keunikan suatu gaya dalam berkarya menandai identitas seorang seniman (Scott, 2022).

    Gaya tidak ditemukan oleh seseorang dengan mudah. Gaya berasal dari beberapa faktor yang berkaitan dengan pengalaman hidup sang seniman. Pengalaman hidup seorang manusia adalah perjalanan yang kompleks dan unik. Setiap individu menemukan dan mengalami berbagai macam hal yang kemudian membentuk persepsi mereka terhadap kenyataan di sekitarnya. Setiap individu datang dari latar belakang budaya, pendidikan, kondisi sosial, dan faktor-faktor lain yang berbeda. Akibatnya, suatu upaya mengekspresikan diri melalui medium seni akan menghasilkan perwujudan dari kehidupan yang unik. Melakukan eksperimen dan eksplorasi terhadap berbagai pendekatan seni merupakan proses yang menyenangkan sekaligus cukup esensial bagi seorang seniman dalam menemukan identitas kreatif mereka. Hal ini lantaran gaya dalam seni (artstyle) memberikan bukti tentang keberadaan manusia sebagai pelaku dari objek seni.

    Cara kerja AI dalam mengonsumsi sejumlah data gambar memiliki kesamaan dengan cara manusia menghasilkan gambarnya.

    Di sisi lain, kecerdasan buatan (AI) kini telah mampu memproduksi gambar hanya dengan memasukkan perintah berupa deskripsi tentang visual yang ingin dihasilkan. Kita bisa memahami cara kerja AI dengan cara yang hampir sama seperti kerja otak manusia dalam menghasilkan gambar, yaitu menganalisis dan menyimpan informasi dari contoh-contoh yang pernah kita lihat lalu menemukan inspirasi dan menciptakannya untuk diri kita sendiri. Hanya saja, AI tidak perlu melewati proses panjang untuk mempelajari dan melatih diri dalam menjadikan informasi tadi sebagai kemampuan dirinya. Sebagai contoh, fitur tools image synthesis membuatnya mampu memproduksi gambar dengan menganalisis jutaan gambar yang tersedia di internet dan mengombinasikan gambar-gambar yang sesuai dengan deskripsi sehingga menjadi satu kesatuan.

    Kemudian, kita sampai ke persoalan utama, “Apakah gambar yang diciptakan AI (AI-generated images) memiliki artstyle?” Hal ini menjadi persoalan mengingat cara kerja AI dalam mengonsumsi sejumlah data gambar untuk mampu menghasilkan satu gambar baru secara mandiri memiliki kesamaan dengan cara manusia menghasilkan gambarnya. Meskipun proses pembelajaran oleh AI berjalan lebih cepat, proses yang sama merupakan cara manusia menemukan gaya mereka sendiri dalam berkarya. 

    Gaya dalam berkarya berkaitan erat dengan pengalaman hidup seorang seniman dan terdapat faktor-faktor, seperti preferensi, inspirasi, dan referensi yang dipelajari sebelum seorang seniman mampu menggagaskan identitas kreatifnya sendiri. Mereka mempelajari teknik atau pendekatan seni dengan menganalisis dan menyimpan informasi tersebut ke dalam pikiran dan imajinasi mereka agar kemudian bisa menghasilkan karya seni yang baru. Gambar hasil dari AI memang merupakan gabungan dari karya-karya para seniman dengan artstyle mereka masing-masing menjadi satu kesatuan. Namun, lagi-lagi, manusia juga memerlukan hasil kerja manusia lain sebagai bahan pembelajarannya dan—dengan maksud tertentu—kita bisa mengatakan bahwa hasilnya merupakan gabungan dari gaya-gaya para seniman yang menjadi inspirasinya.

    Untuk lebih mengetahui asal kecenderungan-kecenderungan AI dalam memproduksi sebuah gambar, kita perlu mengetahui cara kerja AI-generated images sesungguhnya. AI-generated images bekerja dengan teknik machine learning, yakni sebuah model mesin dengan rancangan program untuk bisa mengembangkan dirinya secara mandiri. Di sini, AI menggunakan model generatif, seperti Variational Autoencoders (VAE) atau Generative Adversarial Networks (GANs). Model generatif memerlukan konsumsi data dalam jumlah besar agar mampu mempelajari dan menciptakan gambar realistis. Data-data ini bisa berupa berbagai jenis gambar, seperti foto manusia, pemandangan alam, atau objek-objek lain. Langkah pertama dalam membuat generator seni AI adalah seleksi kumpulan data, yaitu memilih kumpulan data (dataset) karya-karya seni yang tersedia dan dapat digunakan melalui sistem algoritma machine learning untuk mempelajari gaya dan pola-pola seni. Setelah kumpulan data (dataset) terpilih, tahap selanjutnya adalah data training. Algoritma machine learning dilatih dengan gambar-gambar dalam kumpulan data. Proses tersebut melibatkan pemberian asupan kepada program berupa gambar-gambar melalui jaringan neural yang mempelajari fitur dan pola yang umum di karya-karya seni di dataset (McFadden, 2023).

    AI akan selalu terikat dengan seperangkat peraturan dan, pada akhirnya, menunjukkan kecenderungan-kecenderungan tertentu.

    Setelah algoritma machine learning dilatih sampai tahap tersebut, algoritma ini dapat digunakan untuk memproduksi suatu “karya seni” baru. Proses ini melibatkan pemasukan seed acak atau input yang diinginkan dan membiarkan algoritma membuat output berdasarkan pola dan fitur yang telah dipelajari dari data training. Proses terakhir adalah refinement, yaitu proses penyempurnaan melalui algoritma dan teknik-teknik tambahan, seperti transfer style atau pemfilteran gambar, untuk membuat gambar akhir yang lebih estetis (McFadden, 2023).

    Hal terpenting dari pemaparan tentang cara kerja AI dalam memproduksi gambar di sini adalah bahwa AI akan selalu mengikuti langkah-langkah umum tersebut untuk bisa menghasilkan gambar atau karya seni visual. Di samping kemampuan yang mengesankan untuk mewujudkan rancangan visual dari imajinasi seseorang dengan artstyle manapun, dia akan selalu terikat dengan seperangkat peraturan dan, pada akhirnya, menunjukkan kecenderungan-kecenderungan tertentu.

    AI tidak memiliki sesuatu yang kita sebut sebagai artstyle karena dia tidak melewati proses kreatif sebagaimana manusia yang cenderung mewujudkan keunikan diri daripada mengikuti tuntutan dari luar diri dalam proses menghasilkan suatu produk. Pernyataan itu benar dalam hal menunjukkan peran manusia sebagai makhluk yang memiliki perasaan dan kesadaran. Hal ini lantaran gambar-gambar tersebut diproduksi oleh mesin dengan sistem logika yang tetap dan tidak melewati penyaluran emosi manusia. Terlebih, karya AI, pada dasarnya, hanya merupakan gabungan dari gambar-gambar hasil dari berbagai seniman dengan bantuan sistem algoritma komputer, tanpa gairah kemanusiaan. Di sini, kita bisa mengatakan bahwa artstyle hasil dari AI memiliki pengertian yang berbeda dengan artstyle hasil seorang manusia. Kesamaan-kesamaan yang mungkin kita temukan di dalam karya seni AI bukanlah cerminan dari gaya dalam berkarya, melainkan kecenderungan untuk mengikuti sejumlah instruksi dalam program yang strict dan tidak berubah. Kesamaan itu bisa berupa cara AI menggabungkan bagian satu dengan bagian lain; atau cara dia mengartikan kata per kata dalam kalimat; atau bagian dalam programnya yang tidak dirancang untuk berkembang. Hal tersebut mungkin menjadi bagian dari gambar-gambar AI yang seringkali kita sebut sebagai gaya dalam berkarya milik AI. Namun, sesungguhnya, gaya seorang seniman adalah ekspresi diri atau cerminan kehidupan seorang manusia yang unik.

    Referensi

    Scott, D. (2023). Art styles. Draw Paint Academy. https://drawpaintacademy.com/art-styles/

    McFadden, C. (2023, 5 Maret). The rise of AI art: What is it, and is it really art?. Interesting Engineering. https://interestingengineering.com/culture/what-is-ai-generated-art

    Author

    Find us on

    Latest articles

    spot_img

    Related articles

    Polemik Hermeneutis Gadamer dan Habermas

    “Kalau Anda ingin mendengarkan Heidegger dengan lebih mudah, bacalah (tulisan) Gadamer.” Begitulah ucapan Fransisco Budi Hardiman saat...

    Metalearning? Di Balik Cognitive Load Theory

    Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari keberadaan seorang guru dalam melakukan pengajaran. Isu tentang pentingnya keberadaan seorang...

    Kultur Toksik Pengabdian Kampus: Mempertanyakan Kembali Makna Keberlanjutan

    Pengabdian kepada masyarakat merupakan serangkaian pola pikir dan tindakan dengan dasar sukarela untuk membantu korban dari...

    Banal Semakin Binal: Romantika Absurditas

    Absurditas dan Yang-Absurd   Seberapa keras usaha manusia dalam hidup, ia akan tetap menemui kematian sebagai akhir. Namun, manusia...

    Menggugat Artefaktualitas sebagai Kondisi Niscaya Seni (AI)

    Gagasan bahwa karya seni harus merupakan artefak adalah asumsi yang perlu ditilik kembali. Gagasan itu terlihat pada...

    Sebuah Paksaan untuk Menang: Perenungan atas Kontingensi

    Kemenangan dapat menjadi pengalaman kuat yang dapat menginspirasi perasaan puas dan gembira. Hal itu bisa menjadi puncak...