Pendahuluan

“Aku ideal adalah aku yang literasionis” merupakan pernyataan yang menjadi substansi fundamen dari keseluruhan tulisan ini yang sengaja digunakan penulis untuk mengelaborasikan kedudukan eksistensi manusia dalam kerangka literasi. Penulis hendak memosisikan lebih dalam autentisitas manusia sebagai bagian dari hasil konstruksi literasi. Penulis melihat dan meyakini bahwa literasi memiliki kontribusi dalam proyek pemanusiaan manusia yang ideal. Penulis juga hendak mempersempit ruang kajian hanya pada seputar lingkup literasi digital, mengingat bahwa faktum dinamika manusia hic et nunc adalah mengada dalam poros digital.  Aktus manusia yang dinamis, terus berubah-ubah, menjadi, dan  fiery dalam pelbagai dimensi manusia direduksi ke dalam kontrol digital. Aspek rasionalitas, relasionalitas, moralitas, kulturalitas, dan religiusitas manusia dikonstruksikan secara bertahap oleh adanya media digital, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa dunia kita sedang mengalami digitalisasi oleh media.

Ketersediaan materi literasi yang dihadirkan pula oleh media digital merupakan sumbangan yang besar bagi produktivitas manusia. Segala hal yang disediakan oleh media digital adalah materi literasi yang seyogianya menjadi substratum dalam proyek pemanusiaan aku yang ideal. Keyakinan ini becermin pada pengertian: literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, historis, dan kebudayaan untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan-hubungan tersebut. Karena peka dengan maksud, literasi bersifat dinamis dan dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas serta kebudayaan. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan kebudayaan.[1]

Dalam konteks literasi digital, ketersediaan materi literasi bukan hanya saja kompleks, melainkan juga dapat diakses secara cepat di mana saja dan kapan saja. Tak dapat disangkal bahwa segala sesuatu yang dihidangkan media digital berpotensi baik sekaligus buruk untuk dikonsumsi publik. Pada titik inilah nalar kritis manusia dipertaruhkan dalam memilah materi yang dihadirkan media digital tersebut. Kekritisan rasio adalah salah satu daya untuk mengonstruksikan materi yang dihadirkan media digital sebagai bentuk pemanusiaan aku yang ideal. Penulis meyakini bahwa literasi digital merupakan salah satu cara paling sederhana untuk memanusiakan manusia. Namun, perlulah kita telaah lebih mendalam terkait apakah literasi digital itu dapat menjadikan aku yang ideal? Akankah autentisitas aku diperkaya lagi dengan adanya kontribusi aktus literasi digital tersebut?

Literasi Digital: Ruang Relasionalitas Aku dan Teks

Tesis utama adalah literasi digital sebagai aktus relasionalitas aku dan teks. Pertama-tama, penulis hendak mengafirmasi bahwa media digital di sini dipahami sebagai ruang interpretasi aku dan teks (dalam bentuk aktus literasi). Penulis mengajak kita untuk menggarisbawahi dinamika relasionalitas tersebut. Dalam bahasa Latin, literasi—atau dalam bahasa Inggris yang berarti literacy—dapat disebut juga littera (huruf) yang diartikan sebagai keaksaraan. Jika dilihat dari makna harfiah, literasi berarti kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis. Dalam hal ini, aktus literasi (digital) merujuk pada suatu kemampuan dialogis aku-teks, tempat subjek menciptakan suatu aktivitas relasional  dengan teks digital tersebut yang hadir di hadapannya.

Suatu relasionalitas antara aku dan teks terimplisit dalam dan melalui dinamika literasi. Dengan basis digital, fakta menunjukkan bahwa literasi memungkinkan terjadinya relasi dialogis antara aku dan teks. Ditekankan kembali bahwa media digital dalam konteks ini dipahami sebagai ruang relasionalitas. Ruang digital adalah sebagai locus pertemuan relasional antara aku dan teks.[2] Materi digital merupakan “teks” yang menjadi basis adanya kesadaran “dialogal” antara aku dan teks. Pembacaan teks (digital) dengan demikian menjadi semacam “dialog” duniaku (dan dunia teks). Setiap upaya interpretasi mengandaikan kesadaran “dialogal” ini.[3] Selain itu, setiap penggapaian makna selalu merupakan elaborasi atas dunia subjektif dan dunia teks.

Penekanan kesadaran “dialogal” aku dan teks (digital) ini hendak mengafirmasi kesadaran manusia sebagai makhluk pencari makna. Manusia (aku) mencari makna hidup, tata hidup bersama, dan relasi dengan Tuhan, yang semuanya akan ditemukan dalam teks (ruang digital). Orientasi pencarian makna di sini dimaksudkan sebagai suatu proyek penziarahan. Pencarian makna ini disebut sebagai sebuah journey. Keterkaitan aku dan teks (digital) tidak berakhir hanya pada suatu pemahaman. Artinya, pemahaman bukan merupakan suatu pelabuhan terakhir dari relasionalitas aku dan teks (digital). Senada dengan Paul Ricoeur bahwa teks adalah “ruang penziarahan” aku yang endless. Artinya, subjek aku dalam penziarahannya menjumpai dirinya sebagai “disciple of the text“ yang tak pernah tuntas. Subjek mengenal dan memasuki dunia teks (digital), dan lantas terus-menerus memperbaharui dirinya. Artinya, teks (digital) tidak habis dalam kategori pemahaman, melainkan berlanjut dalam penghayatan dan cara hidup yang lebih baru, lebih baik, lebih toleran, lebih menghormati aku yang lain, lebih menjunjung nilai-nilai etika, dan lebih meyakinkan.[4] Maka dari itu, bersama Ricoeur disepakati bahwa dalam relasionalitas aku dan teks, subjek tidak boleh hanya sebagai “interpreter“ teks, melainkan harus tampil sebagai “disciple“ dari teks.

Aku yang Berziarah dalam Teks (Digital)

Berdiri sebagai Ricoeurian, aktivitas menjejaki dunia digital (literasi) merupakan suatu penziarahan, journey. Dalam menziarahi teks digital memang sangat diperlukan interpretasi. Interpretasi dimaksudkan sebagai strategi untuk menemukan makna di balik peristiwa. Dalam konsep Ricoeur, relasi aku dan teks memiliki tiga tahapan skematis, yakni: Tahap pertama, Eksplanasi (the world of explanation). Pada tahap ini, pembaca (aku) berhadapan dengan the internal world of text. Teks memiliki “dunia internal“-nya sendiri yang tidak serta merta mudah diakses oleh pembaca karena ada jarak waktu dan konteks dengan pembaca dan setiap teks merupakan discourse fixed in writing.[5]

Tahap kedua, Interpretasi. Ketika berhadapan dengan teks (digital), pembaca (aku) memasuki dunia interpretasi. Interpretasi adalah aktivitas mental untuk menemukan understanding. Tujuan interpretasi adalah mengejar pengertian. Dalam tahap ini, perkaranya sudah melibatkan pembaca (what does it mean to me). Teks dalam tahap interpretasi lantas memiliki kepentingan beyond dunia konteks historisnya di satu pihak dan di lain pihak, pembaca lantas seakan memiliki keterkaitan dengan “dunia” teks. Pembaca (aku) menampilkan diri sebagai subjek yang berhadap-hadapan dengan teks. Tahap ketiga, Apropriasi diri (self-appropriation). Pada tahap terakhir ini, pembaca seperti sedang memasuki suatu journey of the self within text. Hal ini dimengerti sebagai aktus penziarahan diri dalam teks. Saat sebelum memasuki teks, aku adalah master of myself. Ketika aku masuk dan menelusurinya, aku keluar sebagai disciple of the text. Artinya, ketika aku sedang membaca dan mencari makna teks, aku mengalami suatu proses pembaruan diri. Aku semakin memahami diriku sendiri dalam cara yang baru.

Refleksi Autentisitas Manusia sebagai Konstruksi Literasi Digital

Berbasiskan argumen fundamen di atas, dapat dipertegas bahwa proyek keautentisitasan manusia ditentukan oleh adanya keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani. Kejujuran dan keberanian dalam mengekspresikan naluri-naluri dan potensi-potensinya akan menjadikan manusia sebagai manusia autentik yang unggul.[6] Keberanian dalam merealisasikan potensialitas khas individu menjadi salah satu alternatif dalam mengonstruksikan autentisitas manusia. Kedudukan rasa keberanian dan kejujuran diaktualisasikan dalam dinamika relasional aku dan teks (media digital). Subjek yang berani dan jujur membangun serta menciptakan suatu paradigma relasional tersebut, sebenarnya ia telah menciptakan pula suatu habitus dalam proyek kemenjadiannya sebagai aku autentik.

Keterpautan antara aku dan teks (digital) ada dalam media digital yang dalam konteks ini dipahami sebagai ruang. Ruang digital tersebut dikolaborasikan dengan nalar kreatif manusia (aku) sehingga dapat melahirkan suatu hal positif yang bermakna bagi produktivitas manusia (aku). Perlu diperluas lagi bahwa konsepsi ruang digital sejatinya bukan hanya berurusan dengan proyek subjektivitas aku, melainkan juga hendaknya dipahami secara demikian: sebagai ruang rasionalitas, ruang relasionalitas, ruang subjektivitas, ruang kulturalitas-religiusitas, ruang lifeworld, ruang hic et nunc hidup manusia, dan ruang kultural etis.[7] Cakupan ruang-ruang tersebut merupakan locus bagi manusia untuk berproses menjadi. Finalitas kemenjadian aku dalam ruang-ruang tersebut adalah terbentuknya aku yang autentik dan ideal.

Berdiri sebagai manusia Heideggerian, kompleksitas media digital sebagai ruang menjadikan manusia (aku) dapat mengada dan menjadi sebagai Being-in-the-world. Konsep Being-in-the-world merupakan kebenaran bahwa manusia memiliki keterbukaan yang nyata kepada dunia. Dia-ada-di-dunia memungkinkan kesadaran-kesadaran dinamis akan dunianya[8] sehingga dalam tindakan literasi digital sebenarnya “aku” sedang menjadi pengolah dan pencipta sejarah di dunia bagi diriku sendiri. Maka dari itu, literasi digital dalam konteks ini hendaknya dipahami sebagai proses ber-eksistensi manusia dalam memaknai dunianya.

Penutup

Manusia sebagai pengada adalah suatu satuan aktual yang—dalam hubungan dengan alam dunia bersama dengan makhluk-makhluk infrahuman, dan juga Allah—mengada dengan menjadi secara terus-menerus, fiery, dan dinamis. Kondisi eksistensial yang terus menjadi dan mengada tentu ada dalam dunia. Penjelajahan dunia hic et nunc telah beralih dalam poros digital. Manusia menjelajahi dunianya dengan menjejakinya secara digital. Penjejakan dunia manusia dalam media digital salah satunya adalah dalam dan melalui aktus literasi. Literasi (digital) merupakan proyek manusia menziarahi dunia dan menemukan kebermaknaan dirinya.

Ketika berhadapan dengan media digital, terjadi aktivitas relasional antara manusia dan teks. Dalam dinamika relasionalitas tersebut, manusia memasuki dunia teks, melakukan interpretasi, dan keluar sebagai disciple of the text. Setelah membangun relasionalitas dengan teks (digital), manusia keluar sebagai “murid” teks yang baru dengan menyuarakan kebenaran. Ada transformasi “aku“ ketika berhadapan dan menyelam dalam teks. Ketika berjumpa dengan teks (digital), “aku“ menyelami dan menemukan makna yang membawa aku pada jejak transformasi diri: aku ideal—aku autentik yang tak lain adalah aku literasionis.


Catatan Akhir:

[1] Literacy is the use of socially, historically, and culturally situated practices of creating and interpreting meaning through texts. It entails at least a tacit awareness of the relationship between textual conventions and their contexts of use and, ideally, the ability to reflect critically on those relationships. Because it is purposesensitive, literacy is dynamic-not static-and variable across and within discourse communities and cultures. It draws on a wide range of cognitive abilities, on knowledge of written and spoken language, on knowledge of genres, and on cultural knowledge, dalam R. Kern, Literacy and Language Teaching, (Oxford: Oxford University Press, 2000), hlm. 16.

[2] Tom van Weert  and Arthur Tatnall, Information and Communication Technologies and Real-Life Learning: New Education for the Knowledge Society, (Oxford: Oxford University Press, 2003), hlm. 16.

[3]  Armada Riyanto, CM, Relasionalitas (Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen), (Yogyakarta: Kanisius, 2018), hlm. 1.

[4] Ibid., hlm. 4

[5] Merujuk pada pengertian bahwa setiap teks itu merupakan sebuah diskursus dalam tulisan parafrase. Menurut Paul Ricoeur, setiap teks sesungguhnya merupakan sebuah discourse yang dibakukan dalam suatu tulisan. Konteks diskursus di sini dipahami bahwa teks itu memiliki kompleksitas isi dan gramatika sedemikian rupa, yang ditampilkan dalam tulisan jadi. Lih. Armada Riyanto, CM, Op. Cit., hlm. 109.

[6] Dr. Zainal Abidin, M.Si, Analisis Eksistensialis: Sebuah Pendekatan Alternatif untuk Psikologi dan Psikiatri, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 10.

[7] Paul Gilster, Digital Literacy, (Raleigh: North Carolina, 1998), hlm. 45

[8] Haryoatmoko, Etika Komunikasi, (Jakarta: Kanisius, 2007), hlm. 43


Daftar Pustaka

Abidin, Zainal., Analisis Eksistensialis: Sebuah Pendekatan Alternatif untuk Psikologi dan Psikiatri, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.

Haryoatmoko., Etika Komunikasi, Jakarta: Kanisius, 2007.

Gilster, Paul., Digital Literacy, Raleigh: North Carolina, 1998

Riyanto, Armada., Relasionalitas (Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen), Yogyakarta: Kanisius, 2018.

Tom van Weert, and Tatnall, Arthur., Information and Communication Technologies and Real-Life Learing: New Education for the Knowledge Society, Oxford: Oxford University Press, 2003.

Kern, R., Literacy and Languange Teaching, Oxford: Oxford University Press, 2000.

A.A Wattimena, Reza., Filsafat Sebagai Revolusi Hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Facebook Comments