Danang TP

Danang TP
13 POSTS 0 COMMENTS
Pelaku sejarah, belajar filsafat ilmu, aktif mengorganisir diri sendiri.
Apakah kebiasaan mengucapkan Selamat Tahun Baru, dilanjutkan dengan selebrasi kembang api dan trompet telolet ada anjuran tertulisnya dalam kitab  suci? Atau adakah aturannya dalam adat-tradisi keseharian masyarakat Timur? Jika perayaan itu adalah pesta makan-minum dan memutar musik keras-keras, duh jangan dilakukan; itu jelas hampir-hampir tidak bisa kita temui aturan yuridis maupun tak tertulisnya di kitab hukum masyarakat Timur. Tapi bolehlah,...
Reminisensi delapan tahun kematian Onghokham Indonesia masuk gelangang perang dunia kedua pada 10 Mei 1940 bertepatan dengan serbuan tentara Jerman ke negeri Belanda. Ratu Belanda mengungsi ke London pada 14 Mei 1940, selanjutnya 15 Mei Belanda menyerah pada Jerman. Amsterdam diduduki Jerman. Kini nasib Hindia Belanda tergantung dan ditentukan oleh konteks global kala itu.  Sementara, sejak akhir abad 19 Jepang  tumbuh...
Kampung tak selamanya bertaut dengan pulang dan ruang keindahan yang memancing kangen. Apa yang ada dalam kampung? Orang berbincang tentang susila, politik, dan agama, seperti soal-soal yang dikuasai. Setiap orang ingin jadi hakim. Tukang jamu disambut dengan hangat. Ocehan lebih berharga dari renungan. Curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya. Kampung dilukiskan nyaris tanpa keindahan yang biasa menarik orang...
Memori tidak gampang mati. Ia maujud dari peristiwa di waktu lampau yang telah hilang. Tapi ia hidup dan ada sepanjang usia manusia. Maujudnya bisa terorkestrasi dalam macam-macam  “suara” pengalaman maknawi manusia. Bisa berupa perasaan nyaman (enjoyment) yang menggembirakan, tak jarang ia juga berwujud teror, rasa traumatik yang sulit dihilangkan. Soal mengenang kebahagiaan, orang dengan gampang bisa memilih caranya sendiri. Memanggil...
“ Nge-game lah masa belajar terus” Ketika ujaran itu terlontar pas di depan muka, saya terdiam sebentar. Tiba-tiba seolah saya tokoh pangeran kecil, berusaha bercakap dengan seekor rubah, dalam cerita masyhur Le petit Prince (1943), karya penulis Prancis Antoine de Saint Exupery. Saya tidak sedang bercakap dengan seekor rubah. Di depan saya seorang teman baru. Rentang umur kami cukup...
Ruangan ukuran 3 X 3 ini tak tertata rapi. Kertas berserakan di pojok ruangan dekat sebuah cermin yang digantung. Pakaian-pakaian tertumpuk di sudut lain. Ada aroma sambel pecel, menyatu dengan bau keringat pada kasur. Ada setumpuk peralatan masak di bawah meja, saya tidak tahu itu barang bersih atau kotor. Di sisi tembok ruang bagian timur, sebuah gorden warna hijau...
Kalender: Produk Sains dan Kebudayaan Orang Jawa punya aturan kalender—penanggalan—sendiri, orang Sunda pun juga begitu. Tidak hanya dua sistem kerabat besar itu, hampir semua primordialitas kesukuan di Indonesia punya. Dalam rentang geografis yang sempit, kita ambil saja contoh Jawa. Oke, agar lebih ilmiah dan tidak merusak kredibilitas saya sebagai penggelut filsafat ilmu dan abdi dalem pem-filsafat-an kearifan lokal, Jawa yang...
Spesialisasi Ilmu: Hidup Bukan Hanya Soal Gigi Beberapa waktu lalu, menjelang subuh, seorang teman bercerita: “Betapa sulitnya hidup di tengah jeratan kapitalisme”. Ketika itu di benak saya “Ah, biasa”, kapitalisme seperti juga istilah populer lain: postmodernisme, nihilisme, kritisisme dan segudang isme-isme lainnya sudah lama menjadi atribut kecentilan intelektual kelas menengah kita. Jangan gampang terpesona dengan omongan seorang yang sering mengaku...
Sekelompok remaja dalam sebuah kelas duduk menghadapi selembar kertas. Beberapa pertanyaan sudah terjawab, tapi masih juga ada yang kosong. Waktu ujian tinggal 15 menit lagi. Mereka memeras otak, mengingat segala hafalan, mulai dari rumus matematika sampai tanggal-tanggal peristiwa bersejarah. Begitulah cara kita mendidik generasi muda, mengajari mereka tentang berbagai ilmu dengan pertanyaan-pertanyaan ringkas. Barangkali bukan sebuah kebetulan biasa, saat hari...
Kita dan Kemungkinan Solidaritas untuk Krisis Rohingnya Semoga saya tidak amat lancang menggunakan kata “kita”. Seolah saya dan anda berada dalam satu garis pikir dan rasa. Tapi biarlah, jika akhirnya saya memang teramat lancang menyatukan subjek diri saya dengan anda lewat kata “kita”. Sejak awal, saya memang hendak mengajak anda dan tentu diri saya sendiri memahami posisi “kita” sebagai kesatuan...
Instagram
WhatsApp