Muhammad Nur Alam Tejo

Muhammad Nur Alam Tejo
14 POSTS 0 COMMENTS
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Mengais sisa-sisa revolusi lewat secangkir kopi.
  Situasi kehidupan yang dinamis mengharuskan demokrasi liberal untuk menyusun ulang strategi guna mengatasi tantangan zaman. - M. Nur Alam Tejo kebenaran dan kekuasaan acapkali dicampuradukkan dalam praktik keseharian. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda untuk bisa dipukul rata, namun akhir-akhir ini kita mengalami kesulitan membedakan kedua hal itu. Memang tapal batas antara keduanya seringkali rancu dan abu-abu, namun nyatanya sejarah manusia...
Diskursus perdebatan antara komunitarianisme vis a vis liberalisme sebenarnya tidak terhitung baru di Indonesia, apalagi dalam wacana politik global. Pada saat berdirinya republik ini diskusi dengan nuansa yang sama muncul saat perdebatan antara Soepomo dengan konsep negara integralistiknya dan Muhamad Hatta yang memperjuangkan agar hak-hak individual dimasukkan ke dalam UUD 45. Komunitarisme itu sendiri adalah sebuah mazhab filsafat yang...
Liberalisme sebagai sebuah paham dalam pemikiran politik tentu sudah tidak asing lagi di dalam lingkup akademis. Paham liberal (liberalisme) kurang lebih memuat pengertian sebagai suatu paham atau kepercayaan bahwa kebaikan atau nilai tertinggi ialah kesejahteraan individu, dan bahwa kesejahteraan perseorangan ini bisa dicapai melalui kebebasan dan persamaan. Liberalisme juga mengacu pada pengertian yang sangat luas menyangkut doktrin, ideologi, pandangan...
Dalam kehidupan masyarakat kapitalis, pembentukan division of labour adalah suatu hal yang dianggap sudah dari sananya, sesuatu yang alamiah, dan barangkali sudah jadi dogma. Kita dapat melihat justifikasi itu mulai dari pandangan Thomas Hobbes, J. J. Rousseau, John Locke, dan para filsuf lainnya perihal state of nature. Tapi benarkah hal tersebut alamiah? Jangan-jangan hal tersebut hanya merupakan dongeng yang...
Tantangan terbesar jurnalisme kontemporer adalah bagaimana ia membersihkan kembali fakta dari selubung teknologi manipulatif. Bahasa jurnalistik akhir-akhir ini dipenuhi dengan judul bombastis guna mendulang klik (clickbait). Hal ini tentu menggelisahkan kita, pasalnya dengan judul yang bombastis makna dari suatu peristiwa bisa saja menjadi kabur atau bahkan hilang. Tentu saja banyak pengaruh negatif dari bergesernya makna dalam kehidupan keseharian kita, salah...
Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan judul film yang akhir-akhir ini sedang ngetrend. Film seperti Marlina Pembunuh dalam Empat Babak dan Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran adalah segelintir film yang berjudul panjang. Sebelumnya kita pasti tidak asing dengan judul film semacam Borat: Cultural Learnings of America for Make Benefit Glorious Nation of Kazakhstan, atau film dengan judul terpanjang di...
Pada siang hari yang malas, dan didorong oleh keingintahuan saya perihal postmodernisme mulailah saya menyalakan laptop, membuka youtube, lalu menuliskan keyword “what is postmodernism?”. Kita sering mendengar atau bahkan menggunakan term postmodernisme di berbagai bentuk kebudayaan. Misalnya saja dalam musik, arsitektur, film, lukisan, atau bahkan dalam periodisasi filsafat. Namun, apa itu postmodernisme sebenarnya? Secara banal kita sering kali menjawab,...
Edson Arantes do Nascimento adalah salah satu talenta terbaik dunia persepakbolaan. Seorang bocah miskin yang lahir di Tres Coracos, Brasil, pada 1940 itu mendapat nama panggilan Pelé di masa kecilnya. Nama tersebut tak memiliki arti khusus dalam bahasa Portugis yang mereka gunakan—belakangan diketahui bahwa Pelé adalah nama dewi gunung berapi dalam mitologi Hawai dan dalam bahasa Ibrani, Pelé berarti...
Belajar tidak lagi menjadi kata kerja primer sebagai bagian dari identitas sekolah baik dimaknai guru dan juga murid. Menurut saya, hal ini terjadi karena konstruksi makna atas kata “belajar” direduksi menjadi sekadar kebutuhan pragmatis pendidikan semata yang dibentuk oleh aktor pendidikan di sekolah. Belajar, kini lebih tepat menjadi sebuah kata suruhan, bukan ajakan. Kita akan lebih sering mendengar “belajar!” dan “ayo belajar!”...
Mabuk yang paling membuat saya sempoyongan adalah mabuk pendidikan. Bayangkan saja jika mabuk miras bisa reda hanya dengan istirahat yang cukup, sedangkan mabuk pendidikan pusingnya tak mungkin selesai minimal 12 tahun sekolah. Hal itu pun tak salah juga, bukankah pendidikan dapat meningkatkan derajat hidup seseorang? Beda hal jika memang kita sudah terlanjur muak dengan pendidikan. Itu juga jika kita...
Instagram
WhatsApp