Muhammad Nur Alam Tejo

0 POSTS 0 COMMENTS
Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM. Mengais sisa-sisa revolusi lewat secangkir kopi.
Tolong izinkanlah saya (si tuna-asmara) menulis sedikit kegetiran dan kegamangan rasa yang selama ini saya kubur dalam-dalam. Ya, izinkanlah saya menulis tentang cinta. Cinta bagi saya adalah sesuatu yang tak akan pernah selesai. Suatu keadaan di mana perdebatan panjang antara perasaan dan logika bertempur sengit tiap malam. Jujur saya tak paham-paham betul apa itu cinta dan bagaimana bisa seseorang jatuh...
Televisi beberapa tahun belakangan selalu menjadi pihak yang bersalah. Kotak pandora yang kerap dituding mendoktrin generasi muda dengan kekerasan, pelecehan seksual, rasa jijik akan politik, dan segudang dakwaan lainnya. Kehadirannya seolah menjadi penyebab utama kelahiran generasi digital native yang lebih mementingkan “citra” segala sesuatu ketimbang “substansi” yang bisa didapatkan. George Gerbner di dalam karyanya, Living with Television: The Violence Profile...
Pada masa pascareformasi saat ini, apa yang telah kita dapat dari realitas politik kita? Jawaban yang kita peroleh pastilah beragam, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bagi ‘orang kanan’, dengan bangga pasti menyebut bahwa liberalisasi politik saat ini sebagai sebuah prestasi yang membanggakan. Sebaliknya, ‘orang kiri’ barangkali menyebut bahwa perjuangan reformasi kita telah tersandera oleh pihak korporat menuju demokrasi...
Di perpustakaan Fakultas Filsafat apa pun bisa terjadi. Ini adalah suatu pernyataan spekulatif dari saya, sebab memang segala pemikiran tokoh-tokoh besar tertata rapi di jajaran rak-rak buku. Luar biasa pikir saya. Di tengah kebingungan ingin melakukan aktivitas apa guna mengisi jeda pergantian dari mata kuliah yang satu ke mata kuliah lainnya, saya sengaja memilih perpustakaan kampus untuk mengisi waktu...