Risalatul Hukmi

0 POSTS 0 COMMENTS
Alumnus Fakultas Filsafat UGM, sedang menulis pemikiran Nietzsche dan kekerasan agama. Novel pertamanya terbit dengan judul "Alenia".
Barangkali akan ada begitu banyak hal yang hilang dan luput dari keseluruhan proses alih-bahasa ini; gaya, nada, jika bukan malah makna. Namun bagaimanapun juga, Nietzsche tetap  harus kita baca, kita terjemahkan ke dalam semesta tanda yang mampu masuk ke dalam pemahaman dan kesadaran kita. Bukan hanya karena namanya yang, tak disangsikan lagi, begitu besar dalam sejarah filsafat Barat, tetapi...
    Judul         : Enduring Agonism: Between Individuality and Plurality Penulis      : Helen McManus Sumber     : Jurnal Polity, Vol. 40 No. 4 (Oct., 2008) hlm. 509-525 Link           : http://www.jstor.org/stable/40213520   Ada sebuah persoalan yang cukup serius dalam konsep politik agonisme, yakni sebuah persaingan tiada henti tanpa sebuah kemungkinan harapan dan kesepakatan akhir, dengan demikian konflik...
Dari ujian doktoral. Apa tugas semua perguruan tinggi? Mengubah manusia menjadi mesin. Dengan cara apa? Dia harus belajar bagaiamana merasa bosan. (Nietzsche, SB:PPMBW $29) /1/ Bukan sebuah kebetulan, bahwa saya seharusnya diwisuda tepat pada tanggal kematian sang Hujjatul Falasifah, Syaikh Maulana Friedrich Nietzsche (Karomallahu wajhah) (25/08), dan hanya tersebabkan oleh alasan yang tak begitu masuk akal kemudian diajukan pada H-1 perayaan haul-nya (24/08/16). Tentu, bagi...
“if you look down on something, you do not need to wage war”. (Nietzsche, Ecce Homo) Musuh terbesar filsafat negasi  adalah sejarah, sejauh dipahami dalam kerangka finalitas ‘yang dikehendaki untuk ada’. Mengapa demikian? Karena filsafat negasi tidak dapat bersilat-kata dengan bahasa-bahasa langit sebagai bentuk kesombongan intelektual untuk menilai sesuatu yang tidak faktual. Manakala filsafat menilai sejarah, maka filsafat membutuhkan suatu metodologi...
Islam sejauh dipandang sebagai jalan hidup, tentu mengandaikan fleksibilitas yang memungkinkan untuk mampu bertahan di setiap terpaan badai budaya, juga di segala arus zaman yang tak begitu jelas ke mana arahnya. Dengan demikian, fleksibilitas tersebut dapat dipahami kemudian bahwa Islam membutuhkan suatu reinterpretasi tiada henti dan upaya-upaya rekontekstualisasi. Akan tetapi, upaya-upaya tersebut tentu bukan perkara yang mudah. Berbicara interpretasi, dengan...
/prolog/ “Berapa butir ‘paracetamol’ lagi yang harus kita telan bersama air penawar pahit? Masih adakah rasa nyeri dalam diri kita yang tak sanggup kita lawan sendiri? Ah, barangkali kita telah terlalu lelah melawan nyeri-nyeri yang selalu menyerang diri kita, dan satu-satunya jalan yang kita ketahui adalah menenggak butir-butir ‘analgesia’ hingga dosis yang paling tinggi. Lantas apa efek samping dari semua...
Sebuah tanggapan atas tulisan Danang Tp. ‘Siapakah Kita di antara Pengungsi Rohingya?’ Semoga saya tak lantas menjadi Tuhan seketika, saat menertawakan ke‘latah’an manusia-manusia dekaden yang berteriak ataupun menangis sendu membisikkan kata ‘kemanusiaan’. Padahal ‘kemanusiaan’ sudah lama mati bersama Tuhan di ujung pena orang Jerman yang anti Jerman. Bukankah sudah terlalu bising gendang telinga kita dengan suara-suara tangisan manusia seperti itu?...
Pengantar Tidak seperti teks-teks berbahasa Inggris lainnya, saya merasa teks Simmel yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris ini sangat sulit untuk bisa dipahami secara keseluruhan. Terutama kesulitan yang saya alami adalah ketika banyak istilah asing walaupun beberapa saya tahu makna harfiahnya, tetapi menurut saya jarang sekali digunakan dalam teks-teks bahasa Inggris lainnya. Di sinilah saya baru menyadari bahwa memang benar ‘bahasa...