Judul: Mitos Pribumi Malas; Citra Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam
Kapitalisme Kolonial (The Myth of Lazy Native)

Penulis/Penerjemah: S. H. Alatas/Achamd Rofi’ie

Penerbit: LP3ES

Tahun Terbit: 1988

Jumlah Halaman: x + 358

Bahasa: Indonesia

ISBN: 979-8015-40-1

Artikel ini mengulas Mitos Pribumi Malas pada dua fokus. Pertama, definisi dari sifat kapitalisme kolonial yang diajukan oleh Syed Hussein Alatas (1988, p. 3). Definisi tersebut relevan untuk diulas karena kemampuannya membuka ruang konseptual bagi pendekatan dekolonisasi pengetahuan dalam konteks Asia Tenggara. Kedua, kritik terhadap citra kemalasan yang dikonstruksikan para ilmuwan kolonial mengenai eksploitasi kerja modern di Jawa, Melayu, dan Filipina (Alatas S. H., 1988, pp. 97-114). Kritik diulas sebagai cara berpikir yang mampu memberikan posisi bagi Mitos Pribumi Malas dalam kajian dekolonisasi.

Kedua fokus diulas dalam pendekatan dekolonisasi dengan menggunakan konsep epistemic disobedience. Dekolonisasi diterapkan karena sifat pluri-versal yang dapat menautkan beberapa titik/peristiwa sebagai fondasi kritik pada sejarah kolonialisme (Mignolo, 2011). Oleh karenanya, dekolonisasi dioperasikan dengan definisi sebagai “the energy that does not allow the operation of the logic of coloniality nor believes the fairy tales of the rhetoric of modernity. Therefore, decoloniality has a varied range of manifestations … and decolonial thinking is, then, thinking that de-links and opens … to the possibilities hidden (colonized and discredited, such as the traditional, barbarian, primitive, mystic, etc.) by the modern rationality that is mounted and enclosed by categories of Greek, Latin, and the six modern imperial European languages,” (Mignolo, 2011).

Sedangkan epistemic disobedience didefinisikan sebagai “delink from the illusion of the zero point epistemology” (Mignolo, 2009) yang diterapkan dengan tujuan untuk “leads us to decolonial options as a set of projects that have in common the effects experienced by all the inhabitants of the globe that were at the receiving end of global designs to colonize the economy (appropriation of land and natural resources), authority (management by the Monarch, the State, or the Church), and police and military enforcement (coloniality of power), to colonize knowledges (languages, categories of thoughts, belief systems, etc.) and beings (subjectivity),” (Mignolo, 2011). Maka dari itu, epistemic disobedience dapat menempatkan gagasan Mitos Pribumi Malas pada “different place, to a different ‘beginning’ (not in Greece, but in the responses to the ‘conquest and colonization’ of America and the massive trade of enslaved Africans), to spatial sites of struggles and building rather than to a new temporality within the same space,” (Mignolo, 2011).

Analisis Mitos Pribumi Malas dalam epistemic disobedience dibagi ke dalam dua bagian sesuai dengan kedua fokus yang ditawarkan. Analisis pertama mengarah pada upaya pembalikan cara berpikir dekolonial dalam sepuluh ciri kapitalisme kolonial sebagai penyesuaian konseptual sekaligus fondasi kritik. Analisis berikutnya mengarah pada kritik mitos kemalasan sebagai opsi dekolonial untuk menyingkap pembungkaman epistemik.

Terdapat dua tujuan sederhana dari penulisan artikel ini. Tujuan pertama diawali untuk mengintroduksi  relevansi Mitos Pribumi Malas pada konteks reproduksi pengetahuan ilmu sosial hari ini. Dilanjutkan dengan upaya memosisikan Mitos Pribumi Malas sebagai literatur dekolonisasi di Asia Tenggara yang mampu memantik opsi dekolonial. Kedua tujuan tersebut ditawarkan sebagai respons terhadap gelombang dekolonisasi antarnegara  Selatan Global  untuk merengkuh solidaritas dan dialog produksi pengetahuan dengan negara Utara Global.

Kedua tujuan tersebut menjadi dasar bagi pembedaan posisi dengan tiga kajian sebelumnya. Kajian pertama adalah ‘Sly Civility’ in the Colonized Malay World: Applying Bhaba to The Myth of The Lazy Native (Naidu, 2018) yang menarasikan kemalasan sebagai aksi perlawanan (resistance) terhadap penjajah sebagai tuntutan naratif. Berikutnya adalah Translation as Incest: Patronage and Neocolonialism in the Malay Translation of Syed Hussein Alatas’ The Myth of the Lazy Native (Bahrawi, 2010) yang menyoal politik penerjemahan bagi Malaysia dengan perbandingan Indonesia sebagai wujud neokolonialisme melalui kekerasan bahasa (inses) karena faktor reproduksi kekuasaan struktural. Terakhir, Electronic Orientalism? the afterlife of Syed Hussein Alatas’ The Myth of the Lazy Native in online databases (Graf, 2010). Kajian ini membahas bias pembaratan dan diskriminasi global dalam basis data daring bagi kajian dari negara bekas koloni yang timpang dengan kajian dari negara Barat—melalui kasus terbitan bahasa Inggris Mitos Pribumi Malas.

Kapitalisme Kolonial

Syed Hussein Alatas mengajukan definisi kapitalisme kolonial dengan mempertimbangkan kondisi empiris historis sebagai fondasi konseptual. Pertimbangan tersebut memungkinkan sebagai pembuka cara berpikir dekolonial yang didasari oleh dua hal. Di satu sisi, negara Utara Global dengan Selatan Global mengalami ketimpangan produksi pengetahuan konseptual dalam ilmu sosial. Di sisi lain, konseptualisasi teoretis dalam kerangka dekolonisasi tidak serta-merta  melenyapkan konsep-konsep dari negara Utara Global. Oleh karenanya, kesepuluh ciri kapitalisme kolonial menjadi dialog untuk membuka opsi dekolonial.

Kesepuluh ciri kapitalisme kolonial yaitu: (1) penguasaan  yang menonjol dan pengerahan modal oleh kekuatan ekonomi asing (alien), (2) penguasaan terhadap koloni oleh suatu pemerintahan yang dijalankan oleh kelompok kekuatan asing (alien), yang bertindak menurut kepentingannya sendiri, (3) tingkat tertinggi dari bisnis perdagangan dan industri yang ditangani oleh komunitas penguasa asing (alien), (4) arah perdagangan ekspor dan impor negara yang disesuaikan dengan kepentingan penguasa asing (alien), (5) kecenderungan kapitalisme kolonial  pada pola produksi pertanian dibanding  industri, (6) sangat sedikitnya pengembangan keterampilan teknologi dan ilmu pengetahuan, (7) pelibatan organisasi produksi semi-free labour , (8) ketiadaan  serikat kerja atau organisasi buruh untuk mencegah tindakan pemerasan, (9) ketidakterlibatan langsung sebagian besar penduduk dalam perusahaan kapitalis, dan (10) berlakunya seperangkat antitesis  dalam masyarakat koloni yang diterangkan dengan istilah dualisme (Alatas S. H., 1988, p. 3).

Definisi di atas menjadi fondasi untuk membuka kemungkinan  tersembunyi dari rasionalitas modern melalui tiga fokus yang menjadi titik tekan cara berpikir dekolonial. Fokus pertama adalah kolonisasi ekonomi (economy) sebagai desain global modernisasi dari negara Utara Global . Kolonisasi ekonomi menjadikan penguasaan terhadap tanah dan sumber daya alam dari koloni (poin 1, 2, 5, 9, dan 10) tak terhindarkan. Oleh karenanya, kolonisasi ekonomi merupakan struktur universal penyokong modernisasi bagi negara-negara Selatan Global  pada abad ke-18 hingga 19. Struktur universal dioperasikan dengan sifat pemaksaan yang menghasilkan tegangan kekuasaan vertikal antara penjajah dengan koloni.

Fokus kedua adalah pembedaan posisi relasi kuasa global (authority). Pembedaan didasarkan pada  dua hal. Pertama, berpijak dari struktur universal kolonisasi ekonomi, tegangan kekuasaan vertikal dihasilkan oleh penjajah yang didefinisikan sebagai yang “asing” (poin 1-4). Definisi “asing” merujuk pada terjemahan dari bahasa  Inggris “alien” pada terbitan pertama kali The Myth of The Lazy Native tahun 1977 oleh Frank Cass, London (Alatas S. H., 1977, p. 2). Maka dari itu, definisi memisahkan antara yang asing dengan yang asali dalam konteks legalitas kekuasaan. Kedua, pembedaan memberikan posisi sudut pandang global pada yang asing sebagai sumber awal mula cara berpikir (zero point epistemology). Alien atau yang asing dianggap sebagai sumber dan pokok penghasil pengetahuan yang lebih otoritatif. Posisi pembedaan itulah yang menghasilkan otoritas global produksi pengetahuan antara Utara Global  dengan Selatan Global  dalam konteks kolonialisme (poin 6 dan 10).

Berikutnya adalah fokus kolonisasi pengetahuan (knowledge) yang didasarkan pada pembedaan posisi otoritas global sebagai peristiwa pencipta ketimpangan produksi pengetahuan. Di satu sisi, negara-negara penjajah yang memiliki otoritas menciptakan pembatasan reproduksi pengetahuan universal terhadap koloni (poin 6 dan 9) untuk mempertahankan tegangan kekuasaan vertikal. Di sisi lain, pembatasan menerapkan nalar kategoris untuk menormalisasi struktur kolonial melalui dualisme ekonomi antara  tradisional dengan modern (poin 10). Imbas dari kedua sisi adalah minimnya pengembangan keterampilan teknologi dan ilmu pengetahuan (poin 6), kerentanan kerja warga koloni (poin 7 dan 9), dan tentu saja ketiadaan serikat  buruh (poin 8).

Definisi kapitalisme kolonial melalui kolonisasi ekonomi (economy), relasi kuasa global (authority), dan pengetahuan (knowledge) menunjukkan pembalikan cara berpikir dekolonial (decolonial turn) dalam logika konseptualisasi teoretis. Pembalikan merujuk pada kecenderungan konseptualisasi modern yang bermula dari konsep yang bertujuan untuk diterapkan pada realitas empiris. Proses pembalikan dilangsungkan pada pembacaan arsip-arsip empiris historis untuk dirumuskan menuju definisi kapitalisme kolonial sebagai bentuk dialog produksi pengetahuan dari Selatan Global  kepada Utara Global. Proses dialog tertuju pada bentuk penyesuaian antara kondisi empiris historis yang bersifat kontekstual dengan  konsep teoretis kapitalisme yang bersifat universal. Maka dari itu, proses pembalikan dapat menghasilkan analisis yang relevan dengan kondisi ketimpangan dan pembedaan struktur pengetahuan global.

Definisi kapitalisme kolonial tersebutlah yang diterapkan dalam Mitos Pribumi Malas untuk melakukan kritik mengenai citra kemalasan yang disematkan pada warga koloni di Jawa, Melayu, dan Filipina. Kritik diposisikan dengan menempatkan citra kemalasan sebagai pandangan subjektif dari ilmuwan-ilmuwan kolonial terhadap warga koloni, sehingga, ketiga fokus dari definisi kapitalisme kolonial mengarah pada fokus keempat yang merupakan gagasan pokok, yaitu kritik terhadap kolonisasi hakikat subjektif (beings).

Mitos Kemalasan

Cara berpikir dekolonial diterapkan dengan dua langkah. Pertama, dengan menyingkap cara pandang kapitalisme kolonial tentang kemalasan. Langkah pertama diterapkan dengan memosisikan unsur kemalasan sebagai kolonisasi hakikat subjektif (beings) pada dimensi negatif. Keenam unsur adalah: (1) tidak ada kecintaan dalam bekerja, (2) tidak ada kemauan untuk bekerja, (3) tidak ada kekuatan atau semangat yang terwujud dalam suatu usaha, (4) tidak memperhatikan hasil dari suatu usaha, (5) tidak memedulikan keuntungan dari suatu usaha (6) tidak memperhatikan kebutuhan yang mendorong usaha tersebut (Alatas S. H., 1988, p. 98).

Keenam unsur menunjukkan bentuk pembungkaman epistemik dari kapitalisme kolonial. Pembungkaman dipraktikkan dengan membingkai warga koloni pada kategorisasi kerja dalam masyarakat industri Eropa. Maka dari itu, keenam unsur menciptakan dan mereproduksi mitos kemalasan sistemik yang dijustifikasi secara subjektif oleh ilmuwan kolonial pada sifat-sifat individual. Justifikasi berimbas pada mitos kemalasan yang dicitrakan sebagai kondisi alamiah warga koloni dalam konteks relasi kerja melalui ketiadaan  (dimensi negatif): kecintaan (poin 1), kemauan (poin 2), semangat (poin 3), dan perhatian (poin 4-6).

Langkah kedua dioperasikan dengan menelusuri kondisi empiris historis dari warga koloni pada abad ke-18 hingga 19. Penelusuran menghasilkan perbedaan epistemik antara kondisi masyarakat Eropa yang memiliki basis industrialisasi dalam area perkotaan dengan warga koloni yang melangsungkan hidup dalam sistem perkebunan. Kapitalisme kolonial merebut  sistem perkebunan sebagai basis industrialisasi di daerah koloni sebagai model sistem penguasaan. Perebutan tersebut berimbas pada dua kondisi. Di satu sisi, penciptaan relasi kerja ideal disesuaikan dengan kebutuhan industri melalui upaya komodifikasi warga koloni sebagai tenaga kerja di perkebunan. Di sisi lain, relasi kerja ideal senyatanya menciptakan perbudakan besar-besaran dengan mempraktikkan mitos keuletan sebagai “… mampu melakukan tugas terberat dalam keadaan yang paling sulit; ….” (Alatas S. H., 1988, p. 106)

Kedua imbas direspons oleh warga koloni dengan penolakan pada sistem industri perkebunan. Penolakan tersebutlah yang diketengahkan dalam Mitos Pribumi Malas sebagai asal usul sosiologis kemalasan warga koloni. Maka dari itu, pemaparan mengenai penolakan dapat diekspos sebagai bentuk pembangkangan sipil (civil disobedience) dari warga koloni terhadap sistem industrialisasi modern yang menghasilkan perbudakan oleh kolonialisme Inggris, Spanyol, dan Belanda di Asia Tenggara.

Penyingkapan citra kemalasan sebagai penolakan terhadap perbudakan yang menjadikan warga koloni sebagai penyangga sektor industri kapitalisme kolonial menjadi langkah menuju opsi dekolonial. Langkah tersebut diawali dengan menempatkan luka kolonial (colonial wound) melalui nalar pengklasifikasian pada perbudakan secara ekonomi dan kemalasan secara mental, dan kemudian menuju pada penolakan secara definitif mengenai klasifikasi dari kolonialisme di Asia Tenggara sebagai titik nol atau awal mula cara berpikir. Oleh karena itu, Mitos Pribumi Malas menawarkan opsi dekolonial untuk mengkritik narasi kolonial dan modernisasi yang bersifat Eropasentris menuju upaya regenerasi secara historis kondisi-kondisi empiris pada abad ke-18 hingga 19. Opsi tersebut memiliki sifat pluri-versal untuk menjalin keterhubungan dengan kondisi-kondisi empiris historis antarnegara Selatan Global  sebagai imbas dari kolonialisme.

Mitos Pribumi Malas sebagai Literatur Dekolonisasi

Mitos Pribumi Malas dapat diposisikan sebagai eksemplar literatur dekolonisasi dalam konteks Asia Tenggara melalui cara berpikir dan opsi dekolonial yang ditawarkan. Pemosisian pertama tertuju pada cara berpikir dan opsi dekolonial yang menunjukkan totalitas dari konseptualisasi kolonial atau modernitas (Quijano, 2010). Pemosisian dimaksudkan untuk mengetengahkan kembali pemikiran  Syed Hussein Alatas dalam upaya pembentukan formasi dekolonisasi yang kontekstual. Pemosisian didasarkan pada tegangan basis epistemik dan kategorisasi kolonial sebagai basis industrialisasi dalam Mitos Pribumi Malas yang mampu menunjukkan relasi linear dari kolonialisme dengan rasionalitas modern. Karenanya, Mitos Pribumi Malas memberikan pemahaman kolonialisme sebagai gagasan totalisasi universal Eropa di Asia Tenggara melalui penyingkapan perbudakan dan citra kemalasan. Pada penjabaran tersebut, Mitos Pribumi Malas dapat diposisikan sebagai eksemplar dasar bagi dekolonisasi Asia Tenggara.

Kedua, pemosisian Mitos Pribumi Malas sebagai konektor awal literatur dekolonisasi ilmu sosial Asia Tenggara kepada negara-negara Selatan (South to South). Pemosisian ditujukan sebagai kritik terhadap fondasi universalisme epistemologi ilmu sosial modern yang hegemonik di negara Selatan Global. Koneksi dibangun dengan mempertimbangkan luka kolonial sebagai latar belakang  bersama antarnegara Selatan Global. Melalui kedekatan latar belakang historis, kritik dari cara berpikir totalisasi kolonial menjadi relevan sebagai konteks untuk menghadirkan epistemologi antikolonial yang dibingkai dalam nalar solidaritas bagi Asia Tenggara.


Daftar Pustaka

Alatas, S. H. (1977). The Myth of Lazy Native; A study of the image of the Malays, Filipinos and Javanese from the 16th to the 20th century and its function in the ideology of colonial capitalism. London: Frank Cass.

Alatas, S. H. (1988). Mitos Pribumi Malas; Citra Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Kolonial. Jakarta: LP3ES.

Bahrawi, N. (2010, December 15-17). Translation as Incest: Patronage and Neocolonialism in the Malay Translation of Syed Hussein Alatas’ The Myth of the Lazy Native. Retrieved from Academia.edu: https://www.academia.edu/1685884/Translation_as_Incest_Patronage_and_Neocolonialism_in_the_Malay_Translation_of_Syed_Hussein_Alatas_The_Myth_of_the_Lazy_Native

Graf, A. (2010). Electronic Orientalism? the afterlife of Syed Hussein Alatas’ The Myth of the Lazy Native in online databases. new media & society, 12(5), 835–854.

Mignolo, W. D. (2009). Epistemic Disobedience, Independent Thought and Decolonial Freedom. Theory, Culture & Society, 26(7-8), 159–181.

Mignolo, W. D. (2011). Epistemic Disobedience and the Decolonial Option: A Manifesto. Tansmodernity, 1(2), 44-66.

Naidu, N. (2018). ‘Sly Civility’ in the Colonized Malay World: Applying Bhabha to The Myth of the Lazy Native. Retrieved from Academia.edu: https://www.academia.edu/38055716/_Sly_Civility_in_the_Colonized_Malay_World_Applying_Bhabha_to_The_Myth_of_the_Lazy_Native

Quijano, A. (2010). Coloniality and Modernity/Rationality. Cultural Studies, 21(2), 168-178.

Facebook Comments

Author

  • Sedang menempuh pendidikan Pasca Sarjana di Sosiologi Fisipol UGM dengan fokus riset kritik epistemik teks kanon ilmu sosial Indonesia dan menghadirkan pendekatan biopolitis sebagai modus penciptaan teks bagi pengetahuan politis "Global South". Terlibat dalam proses penciptaan kreatif secara intensif di Studio Malya.