Sumber Gambar: World Vision

Emmanuel Levinas (1906-1995) adalah salah satu filsuf Yahudi dan tokoh etika kontemporer yang sulit diabaikan. Menurutnya, etika adalah “filsafat pertama” (prote philosophia). Inti etika Levinas ialah tanggung jawab terhadap Yang Lain (The Other) yang melampaui lapisan realitas ontologis. Oleh karena itu, konsep etika Levinas tidak berbicara mengenai sederet prinsip tingkah laku, melainkan keterbukaan total kepada Yang Lain sebagai posisi eksistensial manusia. Baginya, yang etis melampaui konsep. Etika melampaui ontologi atau berada di seberang esensi. Pertanyaannya ialah, bagaimana kita memahami tanggung jawab terhadap Yang Lain sebagai posisi eksistensial atau struktur diri manusia?

Tanggung Jawab terhadap Orang Lain: dari Ontologi ke Metafisika (Etika)

Dengan mengambil inspirasi dari fenomenologi Husserl yang sudah dikembangkan sedemikian rupa di tangan Heidegger, Levinas menolak pendekatan totalistis terhadap realitas yang mewarnai seluruh filsafat Barat. Ia beralih dari ontologi ke metafisika. Menurutnya, sementara ontologi berbicara mengenai Ada, metafisika membuka ruang bagi dimensi tak berhingga, “yang lain daripada Ada” (otherwise than being) yang tidak dapat ditundukkan pada pemahaman egologis.

Salah satu tesis pokok Levinas ialah bahwa metafisika harus diprioritaskan di atas ontologi, sebab metafisika pada kodratnya bersifat etis. Berseberangan dengan Heidegger, metafisika, bagi Levinas, menekankan relasi dengan manusia dan dunia secara konkret, dan menghindari sikap teoretis. Sebaliknya, ontologi mereduksi atau menotalisasi realitas ke dalam konsep atau pemahaman egologis dan mengorbankan eksistensi konkret demi ide-ide. Padahal, bagi Levinas, yang utama bukanlah upaya mencari pemahaman, melainkan relasi etis kita dengan Yang Lain. Relasi-relasi konkret itu selalu mendahului konsep-konsep. Sebagaimana Plato, ide “baik” harus diletakkan di seberang ide “Ada”. Dengan demikian, tampak jelas bahwa filsafat Levinas tidak lain adalah etika.

Wajah yang dimaksud bukanlah hal fisis atau empiris yang terdiri dari hidung, mata, mulut, dan seterusnya. Konsep Wajah merujuk pada keberlainan Orang Lain sebagai  Yang Lain, yang luput dari segala tematisasi atau pengonsepan.

Titik berangkat etika Levinas ialah “Yang Lain” sebagai “Yang Tak Berhingga”. Dalam Totalité et infini: essai sur l’extériorité (1961), Levinas menjelaskan bahwa pada dasarnya segala totalitas didobrak oleh sesuatu yang ia sebut sebagai “Yang Tak Berhingga”, suatu realitas yang secara prinsipiel tidak mungkin dimasukkan ke dalam lingkup pengetahuan dan kemampuan saya (baca: diri), yakni “Orang Lain” (Autrui, l’Autre). Sesuai subjudul buku tersebut, pembahasan filsafat Levinas tidak lagi berbicara tentang “filsafat mengenai yang sama” (la philosophie du mȇme) dengan “ego” sebagai pusatnya, melainkan mengenai Yang Lain, suatu eksterioritas (l’extériorité) yang disebut Yang Tak Berhingga itu. Orang Lain bukan merupakan bagian dari suatu totalitas. Orang lain tidak dapat menjadi tema. Ia tidak dapat dimasukkan ke dalam keseluruhan, tidak takluk pada konsep, selalu sendiri, selalu mempertahankan otonomi dan kepadatan yang tak terselami. Dengan kata lain, relasi dengan Orang Lain menyibak wilayah etis, sebab ia tak takluk pada konsep. Itulah sebab filsafat Levinas menerjang pagar ontologi menuju metafisika.

Kehadiran Orang Lain ini, oleh Levinas, disebut dengan istilah “Wajah”. Istilah Wajah digunakan untuk menggambarkan kehadiran langsung tanpa perantara, penengah, atau konteks. Dengan kata lain, perjumpaan dengan Orang Lain ini tidak berlangsung dalam taraf pengenalan teoretis, melainkan dalam taraf praktis. Perjumpaan langsung dengan Wajah melahirkan satu relasi etis, sebab Wajah Orang Lain merobohkan egoisme saya Wajah yang dimaksud bukanlah hal fisis atau empiris yang terdiri dari hidung, mata, mulut, dan seterusnya. Konsep Wajah merujuk pada keberlainan Orang Lain sebagai  Yang Lain, yang luput dari segala tematisasi atau pengonsepan.

 Untuk dapat menjumpainya, saya dipaksa keluar dari imanensi saya. Dengan kata lain, dalam perjumpaan dengan Wajah, subjeklah yang “takluk” pada Yang Asing (l’Etranger) itu. Itulah etika atau “yang etis” bagi Levinas, yakni satu relasi yang bermula dari runtuhnya egoisme subjek. Maka, relasi etis hanya terbentuk dalam perjumpaan dengan Orang Lain. Relasi tersebut disebut etis persis karena ia tidak berciri resiprokal atau timbal balik, melainkan satu arah saja, yakni saya kepada Orang Lain secara asimetris. 

Levinas menjelaskan bahwa tampilnya Orang Lain mengakibatkan saya bertanggung jawab. Wajah menyapa saya dan saya tidak boleh tinggal tak acuh saja. Ia (Wajah) mewajibkan saya, tetapi saya tidak boleh menuntut balas terhadapnya (asimetris). Relasi asimetris itulah relasi etis yang sesungguhnya menurut Levinas dimaksudkan sebagai relasi yang terus keluar menuju Orang Lain dan tidak pernah kembali lagi kepada saya. Di sini, Levinas mengajukan sebuah cara berfilsafat yang lain, satu etika yang mendasarkan diri pada penglihatan atas Yang Lain dan pengutamaan artas Yang Lain untuk mengembalikan “ireduktibilitas Yang Lain” itu. “Tanggung jawab tanpa pamrih” inilah yang menjadi inti etika Levinas, yang membedakannya dari relasi timbal balik I-Thou (Aku-Engkau) milik Martin Buber. 

Akan tetapi, ide tanggung jawab Levinas ini bagi kebanyakan orang terkesan eksentrik. Sebab, kita biasanya memahami tanggung jawab sebagai sesuatu yang linier terhadap kebebasan, bahwa saya bertanggung jawab hanya terhadap hal-hal yang memungkinkan saya menjadi penyebab atasnya. Dalam arti itu, pemahaman atas tanggung jawab terhadap Orang Lain secara begitu saja yang diwajibkan kepada seseorang, seperti yang dipikirkan oleh Levinas, nyatanya sulit untuk diaktualisasikan. Bertolak dari persoalan itu, muncullah pertanyaan-pertanyaan. Atas dasar apakah tanggung jawab yang radikal itu didasarkan? Mengapa Yang Lain begitu saja menjadi tanggung jawab diri? Berikut kita akan membahas persoalan tersebut.

Asal-usul Tanggung Jawab terhadap Orang Lain

Gagasan etika Levinas memang sulit dimengerti oleh pola pikir yuridis kita yang selalu menyetarakan tanggung jawab dengan kebebasan. Untuk memahami kedalaman diskusi etika Levinas, kita perlu keluar dari domain Ada (Being) dan masuk ke suatu wilayah yang belum pernah sungguh-sungguh dipikirkan dalam filsafat Barat, yakni wilayah yang mendahului kesadaran, pengetahuan, atau konsep (pra-reflektif). Di sanalah titik pijak pembicaraan etika itu, sekaligus asal-usul tanggung jawab terhadap Orang Lain. Levinas sendiri dengan terang menulis bahwa saya (I) sudah terarah (bertanggung jawab) kepada Orang Lain (Thou) dan mendahului kemunculan atau asal-usul (pre-original), segala pengetahuan, kesadaran, serta “cogito” Descartes dan Husserl (Strasser, 2004: 45).

Hal itu dijelaskan secara rinci oleh Levinas dalam buku Otherwise than Being or Beyond Essence (1974). Dalam buku tersebut, Levinas secara khusus mengupayakan suatu refleksi yang lebih radikal lagi tentang subjektivitas (the Self). Mengenai the Self, Levinas menulis bahwa ia  merupakan sesuatu yang melampaui masa lalu yang dapat kita ingat, atau dengan kata lain, mendahului kesadaran. The Self melampaui segala ingatan. Ia sama sekali tidak bisa dibawa ke dalam ranah kesadaran (Levinas, 1991: 104). Ia merupakan sisi yang berada di seberang waktu sekarang, tempat segala identitas yang teridentifikasi dalam perkataan terbentuk (Levinas, 1991: 105). Realitas inilah yang Levinas sebut dengan Self, I, Ego (Levinas, 1991: 106). Jadi, karakter dasar “saya“, sebagai diri, yang pertama-tama adalah sebagai satu primordialitas yang tak berdinding. Ia melampaui ingatan. Sejak saat itu pula, saya telah terarah begitu saja terhadap Yang Lain.

Dengan kata lain, tanggung jawab terhadap Yang Lain adalah struktur esensial, utama, dan fundamental dari subjektivitas yang melampaui intensionalitas atau pertimbangan sadar subjek.

Pembahasan tentang subjektivitas (the Self) tersebut diterangkan Levinas pada bagian ke-IV buku Otherwise than Being or Beyond Essence. Di sana, Levinas lebih dulu mengkritik kecenderungan filsafat Barat yang menganggap subjek dan kesadaran sebagai satu hal yang sama (Levinas, 1991: 103).  Baginya, ego ataupun the Self sama sekali tidak bisa direduksi menjadi sekadar kesadaran (consciousness). The Self tidak mempunyai ekspresi apa pun dalam Ada (expelled from being, outside of being), ia tereduksi menjadi dirinya sendiri. Inilah yang disebut dengan “subjektivitas sebagai pasivitas” itu.

Refleksi kunci Levinas mengenai keterarahan eksistensial saya kepada “Yang Lain” timbul setelah identifikasi subjektivitas sebagai suatu pasivitas primordial. Levinas merangsek masuk ke pokok pemikirannya itu dengan mengajukan ragam pertanyaan. Bukankah sesuatu yang tanpa bentuk, tak terekspresikan, yang hanya dirinya sendiri (pasivitas), bukanlah apa-apa? Bukankah hal itu berarti ketiadaan? Atau justru sebaliknya, bahwa “pengenyahan diri dari diri sendiri” tersebut merupakan substitusi bagi Yang Lain? Apakah berarti bahwa dengan keluar dari diri sendiri atau “yang sama” (the same), seseorang menjadi terbuka pada Yang Lain (the Other)? Bukankah demikian yang dimaksudkan dengan “the self emptying itself from itself?12 

Jadi, bagi Levinas, semakin saya melampaui diri sendiri atau “yang sama” (the same), saya menemukan bahwa saya bertanggung jawab bagi Yang Lain. Itu artinya bahwa subjektivitas sebagai pasivitas yang dimaksud tidak mempunyai nama lain selain “tanggung jawab terhadap Yang Lain”.

Dengan demikian, tanggung jawab terhadap Yang Lain, berarti “suatu situasi tersandera”: saya sudah selalu dituntut untuk bertanggung jawab terhadap Yang Lain sebelum tindakan sadar atau intensionalitas saya. Jadi, dengan adanya pasivitas, dimaksudkan bahwa tanggung jawab terhadap Yang Lain ini dipahami bukan sebagai tindakan (action) intensional saya, melainkan sebagai suatu hal yang dikenakan begitu saja pada diri manusia. Dengan kata lain, bagian terdalam diri manusia sudah terikat pada sesuatu “Yang serba Lain” (The absolutely Other) di luar keputusannya. Ia tersandera. Tersandera berarti bahwa ia hanya mendapati dirinya terstruktur demikian tanpa bisa mengelak kecuali menjawab tuntutan tanggung jawab itu (Levinas, 1991: 111). Meskipun demikian, tanggung jawab terhadap Orang Lain dalam arti tertentu, alih-alih merupakan sebuah kesewenangan, justru merupakan aktualisasi diri subjek itu sendiri.

Oleh sebab itu, bagi Levinas, pertanyaan-pertanyaan seperti  “mengapa Yang Lain menjadi tanggung jawabku?” atau “apakah saya penjaga saudara saya?” muncul dari pengandaian bahwa ego saya hanya memperhatikan dirinya sendiri. Kita lupa bahwa ego dalam keadaan pra-historisnya tidak lain merupakan tanggung jawab terhadap Yang Lain. Posisi tanggung jawab di sini melebihi egoisme atau altruisme. Bagi Levinas, hal itu merupakan religiusitas dari the Self, bahwa sejak kondisi pra-historisnya, subjek telah tersubstitusi bagi Yang Lain (I am an Other) (Levinas, 1991: 118). Dengan kata lain, tanggung jawab terhadap Yang Lain adalah struktur esensial, utama, dan fundamental dari subjektivitas yang melampaui intensionalitas atau pertimbangan sadar subjek (Levinas, 1985: 95). Jadi, bagi Levinas, jika seseorang masih menimbang apakah ia akan bertanggung jawab terhadap orang lain atau tidak, ia sudah tidak berlaku etis. 

Dari sifat dasar the Self yang merupakan keterbukaan total pada Yang Lain itu, Levinas lalu menjabarkan luasnya tanggung jawab yang muncul. Menurutnya, the Self is sub-junctum. Ia menanggung beban alam semesta, bertanggung jawab untuk apa pun termasuk tanggung jawab terhadap tanggung jawab Orang Lain. Menjadi oneself berarti menjadi diri yang selalu memiliki tanggung jawab satu tingkat lebih besar terhadap Yang Lain (Levinas, 1991: 117).

Catatan Kritis

Etika Levinas pada dasarnya menempatkan tanggung jawab kepada Yang Lain sebagai struktur atau identitas subjek. Tanggung jawab itu mendahului komitmen atau keputusan bebas saya, bahwa saya hanya menemukan diri saya terstruktur demikian. Artinya, tanggung jawab kepada Yang Lain bebas dari kepentingan saya, dan karenanya menjadi sepenuhnya tentang Yang Lain. Inilah etika yang sesungguhnya bagi Levinas. Sedangkan, tindakan-tindakan intensional, betapapun baiknya, tidaklah termasuk yang etis, sebab tindakan etis menunjuk pada tanggung jawab yang benar-benar transenden, bukan pura-pura transenden tetapi kembali ke diri sendiri (resiprokal).

Di satu sisi, Levinas, dengan metafisikanya, memang berhasil mendudukkan etika pada posisi yang sulit dibantah. Tanggung jawab terhadap orang lain sebagai semacam “determinisme” eksistensial menempatkan setiap orang pada tuntutan etis itu. Dengan kata lain, tidak ada alasan untuk tidak bertanggung jawab terhadap Orang Lain, sebab tanggung jawab mendahului komitmen bebas saya. Ia tidak bisa disetujui ataupun ditolak.

Akan tetapi, di sisi lain, bangunan etika Levinas menyimpan kelemahan tertentu. Simon Lumsden, dalam artikelnya yang berjudul Absolute Difference and Social Ontology: Levinas Face to Face with Buber and Fichte, mengajukan kritik bahwa Levinas, menyangkut konsepnya mengenai keberlainan Yang Lain, pada kenyataannya tidak sepenuhnya keluar dari ontologi yang ia kritik (Lumsden, 2000). Dengan menempatkan Yang Lain sebagai Yang Tak Berhingga, Levinas ingin meruntuhkan “proyek pemahaman” (project of comprehension) yang menurutnya merupakan karakter tradisi filsafat Barat. 

Levinas menyebut bahwa Yang Lain sama sekali tidak bisa dipahami. Ia hanya hadir sebagai “pewahyuan” (revelation). Karena itu, istilah-istilah seperti “Wajah”, “Orang Asing”, atau bahkan Yang Lain hanyalah ekspresi terbatas tentang yang tak berhingga itu. Oleh karena itu, Levinas menolak segala konsep penengah, penghubung, atau perantara. Tak ada mediasi dalam relasi dengan Yang Lain itu. Yang Lain tidak bisa ditembus. Menurut Lumsden, ketakterhubungan (ketakterpahaman) Yang Lain itulah problem pemikiran Levinas. Masalah bagi Yang Lain itu berkaitan dengan absoluditasnya, problem yang persis ada seperti  pada ontologi yang ingin ia hindari.

_____________________

Referensi

Bertens, K. Filsafat Kontemporer Jilid II Prancis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014.

Levinas, Emmanuel. Ethics and Infinity. Trans. R. Cohen. Pittsburgh: Duquesne University Press, 1985.

________________. Otherwise than Being. Netherland: Cluwer Academic Publisher, 1991.

Lumsden, Simon. “Absolute Difference and Social Ontology: Levinas Face to Face with Buber and Fichte”. Human Studies, Vol. 23, No. 3 (2000): 227-241.

Strasser, Stephan. “Philosophical Reflections on an Opposition”. In Levinas and Buber: Dialogue and Difference, edited by Peter Atterton, Matthew Calarco, and Maurice Friedman, 37-48. Pittsburg: Duquesne University Press, 2004.

Facebook Comments
Author Profile
Patritius Arifin

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.