https://www.vanityfair.com/hollywood/2020/02/portrait-of-a-lady-on-fire

Hasrat untuk mencintai dan dicintai, menurut pandangan Simone de Beauvoir, merupakan bagian dari struktur eksistensi manusia. Terkadang hal tersebut menjadi serba salah, tetapi di sisi lain juga menjadi salah satu medium bagi individu yang ingin bebas. Masyarakat modern-kontemporer banyak terpaku pada oposisi biner seperti menghadirkan perempuan dan laki-laki sebagai pasangan. Sebagian besar masyarakat menganggap cinta heteroseksual sebagai satu-satunya cinta yang normal, dan menganggap cinta biseksual atau homoseksual sebagai cinta yang abnormal.

Simone de Beauvoir menganalisis homoseksualitas dalam karyanya yang paling terkenal, yaitu The Second Sex (1949). Pokok dari bahasan de Beauvoir berawal dari pertanyaan mengenai pembentukan perempuan yang disesuaikan dengan aturan normatif. Hal ini dipahami sebagai persoalan bahwa perempuan selalu menjadi the second sex atau masyarakat kelas dua. Apabila perempuan heteroseksual dianggap sebagai the second sex, maka para perempuan lesbian akan lebih terpinggirkan dan mungkin menjadi the third atau fourth sex. Secara keseluruhan, ia mengeklaim bahwa perempuan bukan lesbian karena “takdir” anatomis, tetapi karena konteks sosial mereka. Ia menjelaskan bahwa homoseksualitas tidak bisa dinilai lebih baik atau lebih buruk daripada heteroseksualitas, melainkan sebagai respons terhadap kondisi sosial tertentu. Bentuk penyisihan perempuan sebagai masyarakat kelas dua lainnya adalah fakta bahwa perempuan diharapkan menjadi pasif secara seksual ketika mereka berada dalam hubungan heteroseksual. Cinta antarwanita dapat dikatakan lebih setara, tetapi juga lebih bergejolak, karena wanita terbuka satu sama lain dengan cara yang tidak dilakukan kepada pria (Beauvoir, 1949).

Hubungan yang tidak timbal balik atau tidak setara menjadi suatu permasalahan dari paradigma cinta antara perempuan dan laki-laki. Ketidaksetaraan yang juga menjadi permasalahan kaum feminis ini tidak lepas dari pemikiran yang didominasi oleh budaya patriarki. Gerakan-gerakan yang berupaya mengubah stereotip hingga diskusi intelektual terhadap budaya patriarki terus dilakukan oleh para feminis hingga sekarang. Perjuangan ini memiliki visi untuk menyetarakan posisi perempuan dan laki-laki—yang kemudian akan mendukung lepasnya perempuan dari jeratan dominasi patriarki. Hal ini tergambar dengan sangat baik dan artistik dalam film hasil garapan sutradara Céline Sciamma yang berjudul “Portrait of A Lady on Fire”.

Céline Sciamma adalah seorang sutradara feminis yang dikenal dengan film-filmnya yang tidak bertaburan dialog, termasuk “Portrait of A Lady on Fire”. Film ini banyak mengandung unsur kritik dan kampanye anarkisme terhadap budaya patriarki yang sejak dahulu kala mengutamakan laki-laki dan membatasi kebebasan perempuan dalam berekspresi. Selain itu, film ini juga merepresentasikan penolakan kelas. Sciamma mengatakan, dalam wawancaranya dengan VOX pada Februari 2020, bahwa ia banyak memikirkan film “Titanic” saat membuat filmnya sendiri. Film “Titanic” menjadi sebuah inspirasi bagi Sciamma dalam membuat bagaimana kisah cinta klasik itu tumbuh, tetapi diam-diam mengandung kesan radikal terhadap gender dan politik kelasnya.

Dengan latar belakang abad ke-18, tepatnya pada tahun 1760 di Pulau Brittany, Prancis, film ini mengisahkan gelora cinta yang tumbuh antara pelukis muda perempuan bernama Marianne dan seorang putri aristokrat Prancis bernama Héloïse. Cerita diawali dengan Marianne yang ditugaskan untuk berlaku sebagai teman yang disewa untuk Héloïse agar ia bisa melukisnya secara diam-diam. Lukisan tersebut akan dikirimkan kepada calon suami Héloïse, seorang lelaki bangsawan asal Milan. Héloïse harus menanggung beban perjodohan setelah kakaknya meloloskan diri dari nasib yang sama dengan terjun dari tebing di dekat kediaman mereka. Héloïse telah menghabiskan waktu dengan tinggal di biara, sebelum akhirnya ibunya membawa pulang dan mengurungnya di dalam rumah agar Héloïse tidak turut mengikuti jejak kakaknya. Film ini mengisahkan gelora cinta dalam hubungan antara dua wanita, khususnya seorang seniman dengan muse[1]-nya.

Akar Penindasan Perempuan terhadap Eksistensi Diri

Segala sesuatu yang manusia hadapi dalam hidupnya—seperti pengalaman, tindakan, dan keputusan yang diambil—adalah hasil dari pilihan manusia tersebut. Manusia sering kali membangun kediriannya berdasarkan sumber daya tiap individu dan sumber daya yang diberikan masyarakat. Simone de Beauvoir, meskipun diakui sebagai eksistensialis, membatasi gagasan eksistensialis yang sentral mengenai penciptaan diri dan definisi diri—mengenai kualifikasi kebebasan mutlak yang dikemukakan Jean-Paul Sartre dalam Being and Nothingness. Sebaliknya, Simone de Beauvoir menyajikan gambaran ambigu mengenai kebebasan manusia, spesifiknya terhadap perempuan yang berjuang melawan kerugian yang tampak dari kebertubuhan perempuan.

Dengan memulai dari pertanyaan bagaimana nasib perwujudan perempuan yang tertindas di dunia, de Beauvoir banyak menghasilkan pemikiran eksistensialis bagi perempuan yang dirugikan karena proses internalisasi melalui “mitos”. Budaya patriarki memulai riwayat penindasan terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarki yang menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Tubuh perempuan yang sudah dilekati nilai-nilai patriarki ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta penerimaan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial seperti keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan negara. Contoh mitos-mitos yang disebarkan adalah  ketidakrasionalan perempuan, kompleksitas perempuan dalam mengambil keputusan, sulit dimengertinya perempuan, dan lain-lain.

Seperti kutipan Simone de Beauvoir yang terkenal, yaitu “One is not born, but rather becomes, a woman,” memiliki maksud bahwa perempuan itu bukan dilahirkan, tetapi dibentuk. Perempuan dan laki-laki adalah suatu proses pembentukan dan bukan semata-mata kodrat atau takdir. Proses “becoming woman” dibentuk berdasarkan kondisi atau peran sosial dalam mengonstruksi peran perempuan di lingkungannya. Pada bagian History di dalam The Second Sex, dijelaskan adanya kekangan tubuh perempuan di dalam masyarakat sosial sehingga mereka tidak mendapat kebebasan akan pengalaman yang setara dengan laki-laki.

Dalam film “Portrait of A Lady on Fire”, Héloïse sebagai perempuan yang akan menikah dengan lelaki yang tidak ia ketahui, enggan untuk dilukis oleh seorang seniman sebelum Marianne datang. Hal ini pun berakhir buruk karena seniman tersebut tidak menyelesaikan lukisannya. Marianne, sebagai seniman berikutnya yang bertugas untuk melukis Héloïse, menunjukkan hasil lukisannya yang berujung pada kekecewaan Héloïse. Marianne menjelaskan bahwa ada konvensi, aturan, dan ide-ide artistik klasik yang harus diikuti—yang dibentuk para seniman pria sebagai pihak dominan di bidang seni pada masa itu. Héloïse berpikir bahwa potret ini sangatlah sederhana, dan tatapan subjek di dalam potret tersebut dirasa tidak memiliki substansi. Ia benci dipandang dan diobjektifikasi sebagai sesuatu yang kurang dari dirinya. Dengan kata lain, Héloïse tidak senang bahwa lukisan itu dilakukan sesuai dengan norma atau harapan masyarakat saat itu yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari. Héloïse juga berpikir, bahwa ia akan menikah dengan seorang pria yang hampir tidak ia kenal berdasarkan aturan perjodohan di kalangan bangsawan yang

lazim dilakukan. Hal ini berimbas pada penyimpulan bahwa kebebasan perempuan dalam menentukan jalan hidupnya dirampas secara tidak adil. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup Héloïse, memaksanya untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya.

Dalam buku The Ethics of Ambiguity (1948), Simone de Beauvoir menekankan bahwa setiap orang memiliki kebebasan dalam memilih tujuan hidup untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Para feminis eksistensialis menganjurkan perempuan untuk eksis sebagai dirinya dengan hidup secara autentik, yakni memunculkan kesadaran bahwa pada hakikatnya mereka bebas dan tidak terikat, serta membebaskan diri dari segala aturan, hukum, nilai, norma, dan stereotip  yang  dibuat  oleh  kaum  laki-laki  (Beauvoir,  1948).  Dalam  hal  ini,  para feminis eksistensialis  menilai  bahwa  perempuan  menjadi  la  mauvaise  foi  atau  bad  faith[2]  dalam eksistensialisme Sartrean, yaitu perempuan yang terjebak dalam bentuk-bentuk stereotip dan cenderung menjadi inferior di hadapan laki-laki.

Jalan Pembebasan melalui Kesetaraan Cinta

Dalam hubungan heteroseksual, de Beauvoir percaya bahwa laki-laki tetap menjadi “subjek yang berdaulat” dalam cinta, bahwa mereka menghargai perempuan dengan tidak utuh. Sebaliknya, bagi perempuan, cinta diharapkan menjadi keseluruhan hidup mereka, yang de Beauvoir ungkapkan dengan istilah pengabdian total demi keuntungan seorang master(Beauvoir, 1949). Dalam pandangan de Beauvoir, hukum alam tidak memiliki hubungan dengan hal tersebut, karena masalahnya berada di hukum budaya. Laki-laki dibesarkan dalam masyarakat agar dapat bergerak aktif di dunia—untuk mencintai, tetapi juga menjadi ambisius dan bertindak di segala bidang yang diminati. Di sisi lain, perempuan dibesarkan dalam masyarakat yang mengajari mereka bahwa kebernilaian seorang perempuan—yang menjadi penentu hidupnya— memiliki syarat, yaitu kondisi dicintai oleh seorang laki-laki. Konsep hubungan heteroseksual ini yang membuat para perempuan memimpikan dirinya seperti yang terlihat di mata laki-laki, dan percaya bahwa ia akhirnya menemukan dirinya sendiri jika diandaikan bersama laki-laki.

Dalam film, setelah akhirnya Marianne menerima kritik dari Héloïse terhadap hasil karyanya, ia mulai menggambar Héloïse kembali. Mereka berdua melakukannya bukan dengan cara yang standar, melainkan dengan mulai berkolaborasi dalam proses.  Marianne dan Héloïse banyak menghabiskan waktu bersama, dan mereka benar-benar mengutarakan siapa diri mereka yang sebenarnya. Bentuk sederhana inilah yang menyiratkan tumbuhnya cinta dan kesetiaan satu sama lain. Secara spontan hubungan mereka menjadi lebih setara, baik sebagai kekasih maupun sebagai pelukis dan muse-nya. Bahkan Héloïse mengatakan kepada Marianne bahwa “kesetaraan adalah perasaan yang menyenangkan”.

Wanita harus berurusan dengan banyaknya penindasan di abad ke-18. Hal ini digambarkan dalam buku A Vindication of the Rights of Women (1792) oleh Mary Wollstonecraft, seorang filsuf dan feminis Britania Raya, dengan bahasan mengenai masyarakat Eropa yang sedang mengalami kemunduran. Bentuk kemunduran ini adalah keadaan di mana perempuan dikekang di dalam rumah dan tidak diberikan kesempatan untuk masuk pasar tenaga kerja, sedangkan laki-laki diberikan kebebasannya untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin. Nilai-nilai kemanusiaan perempuan terdegradasi dan dipandang lebih inferior dibanding nilai-nilai kemanusiaan yang dinikmati oleh laki-laki—apalagi masyarakat pada saat itu cenderung menempatkan kaum laki-laki di ranah publik, dan kaum perempuan di ranah domestik.

Ketidakbebasan perempuan digambarkan jelas dalam film. Héloïse memiliki seorang pelayan perempuan bernama Sofie. Sofie adalah teman baik yang hadir di antara hubungan Marianne dan Héloïse. Sofie menyadari bahwa ia tengah mengalami kehamilan yang tidak diinginkan dan mengharuskannya untuk aborsi. Sama seperti hubungan terlarang antara Marianne dan Héloïse, aborsi juga dianggap tabu. Berdasarkan hasil pertimbangan pada sistem yang berlaku di masyarakat, akhirnya Marianne, Héloïse, dan Sofie menentang sistem dan merayakan individualitasnya. Hal ini dilakukan dengan membantu Sofie untuk melakukan aborsi sebagai bentuk keberhasilan dari penentangan terhadap sistem.

Meskipun sosok lelaki sangat jarang ditampilkan sepanjang film, mereka tetap membatasi dan mengontrol kehidupan para perempuan yang menjadi tokoh utama. Sebagai contoh adalah ketika karier Marianne menjadi seorang pelukis ditentukan dari kesuksesan ayahnya sebagai seniman, bahkan untuk menampilkan lukisannya dalam suatu pameran, Marianne juga harus menggunakan nama ayahnya. Héloïse dan Marianne menemukan kebebasan dalam rasa cinta terhadap satu sama lain, yang didasari pada persetujuan (consent), kesetaraan, dan kesepahaman. Tindakan yang banyak dilakukan, serta hubungan yang dijalani antara Marianne dan Héloïse lah yang menjadi jalan pembebasan pada diri mereka masing-masing.

Penutup

Pada akhirnya, Marianne dan Héloïse bersama-sama menyelesaikan lukisan yang harus dibawa kepada calon suami Héloïse sebagai syarat pernikahan. Lukisan kali kedua ini lebih memuaskan bagi mereka berdua. Bagi Héloïse, lukisan tersebut bukan lagi objektifikasi, melainkan isyarat untuk cinta dan sarana indah yang dapat mengingatkan rasa saling mencintai di antara mereka. Mereka berdua menatap lukisan tersebut sambil mengingat bahwa kali ini benar-benar selesai, dan bukti bahwa mereka akan segera berpisah. Marianne dan Héloïse menghabiskan waktu bersama di saat-saat terakhir. Marianne membuat sketsa gambar masing-masing mereka untuk saling mengingat. Ia membuat sketsa dirinya di dalam buku bacaan Héloïse tepat di halaman 28.

Di akhir film, terdapat sebuah pameran lukisan dan menyoroti Marianne sebagai pelukis sukses. Marianne menemukan sebuah karya baru di dinding, yaitu lukisan Héloïse. Walaupun mereka saling menatap satu sama lain, lukisan di dinding adalah potret yang terjebak dalam waktu yang secara fisik tidak memiliki koneksi. Akan tetapi, kamera menyoroti nomor halaman buku Héloïse yang ia buka. Halaman yang ia buka adalah halaman 28, halaman yang Marianne gunakan untuk membuat sketsa dirinya di hari terakhir bersama Héloïse. Dapat dikatakan, Marianne mengetahui bahwa Héloïse melihatnya kembali melalui ingatan di luar ruang dan waktu mereka yang sebenarnya saling terhubung.

Ketika Marianne dan Héloïse menjadi mitra dalam menyelesaikan lukisan bersama, terjadi suatu pergeseran perspektif dari Marianne. Pergeseran yang merupakan perwujudan dari apa yang disebut sebagai “the female gaze”. Tidak banyak film yang mengangkat pasangan homoseksual, terutama lesbian sebagai tokoh utama. Film arus utama yang mengangkat tema lesbian umumnya dikonstruksikan melalui “the male gaze” atau pandangan kaum lelaki heteroseksual, yang sangat berbeda dari Portrait of A Lady on Fire.

Narasi film ini didasarkan pada kesetaraan suatu kisah cinta karena tidak adanya dominasi gender. Mewujudkan kesetaraan dalam dialog cinta dapat menjadi imbauan bagi banyak orang. Selain itu, visual dalam film menyuguhkan soal perbedaan kelas di tengah dinamika kehidupan sebagai upaya penghapusan hierarki sosial—terutama pada kelompok kecil melalui persahabatan. Penutup pada tulisan ini akan menekankan jalan pembebasan bagi seorang perempuan dalam bereksistensi. Perlu adanya penyisihan stigma-stigma yang melemahkan perempuan. Dalam kasus perwujudan perempuan, maksud dari de Beauvoir yang mengatakan bahwa kebebasan membutuhkan ruang untuk bergerak adalah sering kali tidak ada ruang bagi perempuan untuk benar-benar melihat melalui pandangan mereka sendiri. Apa yang ingin dilakukan oleh para filsuf feminis seperti de Beauvoir adalah membuka ruang bagi kebebasan untuk berkembang.


Catatan Akhir:

[1] Muse masuk ke dalam kata benda yang memiliki arti sebagai seseorang, terutama wanita, yang merupakan sumber inspirasi artistik seorang seniman.

[2] La mauvaise foi atau bad faith adalah keadaan ketika seseorang bertindak tidak autentik, dan menempelkan dirinya pada suatu hal yang lebih besar hingga ia melupakan kesadaran dirinya sendiri. Term ini dipakai oleh Eksistensialisme Sartrean.


Referensi

Beauvoir, Simone de. (1948). The Ethics of Ambiguity. Translated by Bernard Frechtman. 120 Enterprise Ave. Secaucus: Citadel Press.

—. (1949). The Second Sex. Translated by Constance Borde and Sheila Malovany Chevallier. New York: Vintage Books.

Putri, Retno Daru Dewi G. S. (2018). “Penolakan Konsep Ketubuhan Patriarki dalam Proses Menjadi Perempuan Melalui Pemikiran Merleau-Ponty dan Simone de Beauvoir.” Jurnal Filsafat 28 (2): 200-219. doi:10.22146/jf.31812.

Tong, Rosemarie Putnam. (2009). Feminist Thought: A Comprehensive Introduction. Colorado: Westview Press.

Walker, Michelle Boulous. (2010). “Love, Ethics, and Authenticity: Beauvoir’s Lesson in What It Means to Read.” Hypatia 25 (2): 334-356. https://www.jstor.org/stable/40602709.

Werff, Emily Van Der. (2020, February 19). Portrait of a Lady on Fire: Céline Sciamma on her romantic masterpiece. Retrieved September 18, 2021, from Vox website: https://www.vox.com/culture/2020/2/19/21137213/portrait-of-a-lady-on-fire-celine-sciamma-interview

Facebook Comments