spot_img
More

    Kemacetan Ilmu Ekonomi

    Featured in:

    Sebuah prosedur pemahaman. Jenis pertanyaan lain yang harus dijawab oleh para ilmuwan adalah: mengapa sesuatu itu terjadi? Mengapa situasi itu ada? Mengapa suatu peristiwa mengikuti prosedur mereka? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian rasional dari penyelidikan para ilmuwan. Dengan kekuatan pikirannya, ilmuwan harus membuat tatanan yang masuk akal ke dalam kejadian dan hal-hal yang ia amati.

    (Frisch, dalam Boumans dan Dupont, 2011, hlm. 1)

    Ilmu ekonomi pada hari ini telah tertutupi oleh noda kotor. Noda kotor, yang dapat secara kasar penulis sebut, menyaratkan gelagat masalah darurat bagi topografi ilmu ekonomi itu sendiri. Namun, celakanya, noda kotor itu sudah menyebar kemana-mana dan tertuai dalam buah permasalahan-permasalahan praktis yang berhubungan dengan ilmu ekonomi. Diseminasi permasalahan pelik ini dapat diamati dari berbagai insiden bernada tendensif  yang menyembul dalam kurun beberapa dekade terakhir. Di kancah global, laman-laman ruang publikasi ekonomi dan ilmiah populer telah mencoba menyerukan ini terhitung sejak tirai penghujung abad ke-20, misalnya New Scientist (31 Oktober 1992) dan UK Observer Magazine (20 September 1992). Scott Moss (2022), dalam kritik pedasnya yang dipublikasikan oleh The Guardian, menanggapi krisis finansial Britania Raya dan gelombang sikap pesimistis masyarakat Inggris atas proposal Liz Struss (mantan perdana menteri Inggris) dan Rishi Sunak (perdana menteri Inggris), pun baru-baru ini menulis:

    Para ekonom mengklaim bahwa teori dan metode mereka diuji oleh keakuratan prediksi mereka dan bukan oleh realisme asumsi mereka. Faktanya, asumsi yang lebih realistis tentang interaksi sosial dan ekonomi mengarah pada (dan menjelaskan) prediksi yang benar bahwa model mereka tidak dapat meramalkan titik balik seperti kehancuran 2008 dan krisis ekonomi saat ini.

    Jika menoleh ke belakang, intisari dari penyakit kronis ilmu ekonomi yang digaungkan aneka media tersebut dikemas secara ringkas oleh petisi protes sekelompok mahasiswa dan pengajar ilmu ekonomi Prancis yang terasosiasi dalam Grande École pada pertengahan tahun 2000. Secara spesifik, rincian target gugatan petisi tersebut meliputi:

    1.kurangnya dimensi realisme dalam pengajaran ilmu ekonomi;

    2. penggunaan ilmu ekonomi yang tak terkendali dan perlakuan matematika sebagai tujuan ilmu ekonomi itu sendiri, dengan hasil bahwa ekonomi telah menjadi “ilmu autistik”, dan hilang di dunia imajiner;

    3.dominasi represif ilmu ekonomi neoklasik dan pendekatan turunannya dalam kurikulum ilmu ekonomi di ragam universitas; serta

    4. gaya pengajaran dogmatis dalam dimensi ilmu ekonomi, yang tidak menyisakan tempat untuk pemikiran kritis dan reflektif.

    (Fullbrook, 2006, hlm. 1)

    Penekenan petisi tersebut bergema di seluruh media publikasi Prancis, bahkan Le Monde (dalam Fullbrook, 2006, hlm. 2) selaku salah satu koran harian terbesar Prancis saat itu menulis: petisi ini merupakan wujud galangan simpati bagi mahasiswa ilmu ekonomi dan para ekonom perlu menanggapinya

    Inti sorakan protes yang digencarkan kala itu berkaitan dengan kurikulum ilmu ekonomi di berbagai universitas di Eropa dan dunia yang nyatanya kian terjerembab dalam abstraksi matematis (Fullbrook, 2006, hlm. 12-13). “Abstraksi matematis” merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada konsep abstraksi (abstraction) dalam kajian ilmu matematika (mathematics). Sebagai eksplanasi lebih lanjut, abstraksi dalam kajian matematika merupakan proses ekstraksi struktur, pola, atau properti yang mendasari konsep/teori dalam matematika. Proses ekstraksi tersebut ditujukan untuk menghilangkan ketergantungan konsep/teori matematika dengan objek dunia nyata yang mungkin awalnya terhubung dan menggeneralisasi konsep/teori matematika itu supaya memiliki nilai aplikatif yang lebih luas dengan objek dunia nyata lainnya (Russel, 1903, hlm. 219).

    Abtraksi matematis yang dipegang para ekonometrikawan bertendensi menutup laju perkembangan ilmu ekonomi yang difondasikan oleh kenyataan yang sebenarnya.

    Tak cukup sampai di situ, para ekonom dan peneliti ilmu ekonomi kontemporer juga mencantumkan tinjauan kritis senada, khususnya berkaitan dengan ekonometrika dan modelnya selaku saduran dari abstraksi matematis dalam ilmu ekonomi.1 Untuk meninjau contoh-contoh kritik para ekonom tersebut, mari sejenak kita berjalan-jalan ke bentang alam abad ke-20. Pemilihan pembabakan waktu abad ke-20 bukan tanpa alasan, sebab pada kurun waktu inilah kritik-kritik terhadap ekonometrika nyatanya berserakan, berbarengan dengan lahirnya aneka model ekonometrika per se.2

    Edward Emory Leamer, Profesor Ilmu Ekonomi dan Statistik Universitas California pada saat itu, dalam Specification Searches, menyatakan bahwa ekonometrika yang ditumpukan pada abstraksi matematis sesungguhnya irelevan dengan aneka praktik ekonomi. Bagi Leamer (1978, hlm. vi), penumpuan tersebut niscaya menciptakan gap antara model ekonometrika dan praktik ekonometrika. Corak yang selaras dengan kritik Leamer juga dilontarkan oleh Wassily Wassilyevich Leontief, Profesor Ilmu Ekonomi Universitas Harvard pada 1932–1946. Di sini, Leontief (1982, hlm. 104) menyampaikan bahwa abtraksi matematis yang dipegang para ekonometrikawan bertendensi menutup laju perkembangan ilmu ekonomi yang difondasikan oleh kenyataan yang sebenarnya. 

    Beberapa tahun setelahnya, Tony Lawson, Profesor Ilmu Ekonomi dan Filsafat Universitas Cambridge, menggelorakan kembali napas yang telah diembuskan oleh Leamer dan Leontief. Lawson (1997, hlm. 30-31) (2019, hlm. 5), dalam Economics and Reality dan The Nature of Social Reality, menggarisbawahi kalau inkonsistensi abstraksi matematis, ekonometrika, dan praktik ekonometrika dalam realitas sosial bermuara di level metodologi ilmu ekonomi. Pada level metodologi ilmu ekonomi inilah filsafat ilmu bersemayam sebagai dinamo penggerak, sekaligus pengacau, kinerja ilmu ekonomi yang berkembang pada beberapa dekade terakhir.

    Sebagai catatan pengantar, Lawson merupakan tokoh yang penting untuk dicermati ketika kita menyoal faktor-faktor inkonsistensi ekonometrika dan praktik ekonometrika dalam realitas sosial. Oleh sebab itu, ia akan menjadi salah satu tokoh yang argumennya menjadi poros dalam tulisan ini. Peletakan Lawson dalam tulisan ini dipilih sebagaimana argumennya yang menarasikan faktor-faktor tersebut via cara yang berbeda dibandingkan para ekonom non-arus utama pada umumnya, yang cenderung menggunakan istilah-istilah teknis dan paradigma ilmu ekonomi itu sendiri. Melalui Lawson, dan Roy Bhaskar secara lebih jauh, kita dapat melihat bahwa kerusakan di dimensi filsafat ilmu yang diamini para penganut ekonometrika memiliki porsi krusial yang patut diinvestigasi.3

    Posisi Kritik Lawson

    Dalam rangka menggugat posisi filsafat ilmu dalam diskursus ilmu ekonomi, Lawson beranjak dari dua pertanyaan mendasar: 

    (1) bagaimana masalah dan kegagalan ekonomi hari ini dijelaskan, dan

    (2) diselesaikan?

    Bagi salah satu penggawa Cambridge Social Ontology Group (CSOG) itu, cara memperoleh jawabannya hanya dapat ditempuh melalui dua jalan (Lawson, 1997, hlm. 34).4 Jalan pertama, menganalisis ulang konsepsi ilmu yang dipegang oleh para penghamba ilmu ekonomi yang nyatanya cacat itu. Jalan kedua, mengganti konsepsi ilmu tersebut dengan konsepsi yang lebih memadai, yang diturunkan dan mengadopsi orientasi realis secara eksplisit. 

    Sebagai pembatas, tulisan ini hanya akan berfokus pada tawaran “jalan pertama” Lawson “secara penuh” dan “jalan kedua” Lawson “secara sebagian”. Jalan pertama difungsikan untuk menganalisis dasar ilmu yang menyebabkan keusangan ilmu ekonomi kontemporer. Separuh jalan kedua ditujukan untuk melihat dasar kerangka analisis Lawson, yang termanifestasi secara konkret lewat argumen Bhaskar. Separuh jalan kedua yang lain, yakni solusi mandiri Lawson untuk ilmu ekonomi kontemporer secara umum dan penggunaan ekonometrika secara khusus, tidak akan dibahas dalam tulisan ini untuk mencegah meluasnya aspek pembahasan.

    Inilah orientasi realis yang dimaksud, yaitu posisi Lawson sebagai seorang realis kritis, berikut gaya analisis dan cara pengentasan masalah yang bermotif realisme kritis.

    Menanggapi kedua jawaban tersebut, Lawson (1997, hlm. 34) berpendapat bahwa pengadopsian orientasi realis secara signifikan diperlukan untuk memfasilitasi ilmu ekonomi supaya lebih relevan daripada yang digunakan pada hari ini. Dengan pengadopsian orientasi realis yang telah dipaparkan di muka pula, Lawson (2003, hlm. 3) dapat memetakan titik-titik problem ilmu ekonomi kontemporer, sebagaimana ia mencatat dalam Reorienting Economics:

    1. Ilmu ekonomi saat ini didominasi oleh tradisi ilmu ekonomi arus utama (mainstream economics) atau ortodoksi, yang intinya adalah ilmu ekonomi itu dinaungi oleh metode pemodelan matematika-deduktivis.

    2. Proyek arus utama sedang berada dalam kondisi yang tidak terlalu sehat.

    3. Alasan utama proyek ilmu ekonomi arus utama berkinerja sangat buruk adalah metode matematika-deduktivis diterapkan dalam kondisi yang tidak sesuai dengan realitasnya.

    4. Terlepas dari ambisi yang berlawanan, proyek ilmu ekonomi arus utama saat ini sebagian besar berfungsi untuk membatasi ilmu ekonomi untuk tidak hanya kuat secara eksplanatoris, tetapi juga ilmiah dalam arti ilmu alam (natural sciences).

    Namun, lantas yang menjadi persoalan adalah orientasi realis yang seperti apa?

    Meskipun kritik Lawson terhadap ilmu ekonomi telah berkumandang kira-kira sepuluh tahun sebelum ia bertemu Bhaskar tetapi kritiknya kepada ilmu ekonomi hari ini secara konsisten didudukkan dengan mewarisi tradisi realisme kritis (critical realism) yang dibangun Bhaskar, berikut alat analisis dan solusi yang diajukan bagi ilmu ekonomi (Hirsch dan DesRoches, 2009, hlm. 102). Sebelum pembacaannya atas Bhaskar, Lawson mengatakan kalau dirinya tidak memiliki posisi realis yang pasti. Ia hanya mempelajari realisme dengan mengikuti teks-teks Aristoteles, Karl Marx, G. W. F. Hegel, Immanuel Kant, David Hume (pra-Bhaskar), dan Alfred North Whitehead—serta Bas van Fraassen untuk keperluan pembacaan atas antirealisme (Hirsch dan DesRoches, 2009, hlm. 102). 

    Hal ini juga diperkuat oleh karya-karyanya mengenai ilmu ekonomi, seperti Economics and Reality (1997), Reorienting Economics (2003), Keynes Economics: Methodological Issues (2009), Essays On: The Nature and State of Modern Economics (2015), dan The Nature of Social Reality: Issues in Social Ontology (2019), yang terbit setelah magnum opus Bhaskar. Magnum opus Bhaskar di sini dipahami sebagai tulisan-tulisan utama Bhaskar mengenai proyek realisme kritisnya, seperti A Realist Theory of Science (1975) dan The Possibility of Naturalism: A Philosophical Critique of the Contemporary Human Sciences (1979), dan bukan tulisan-tulisan Bhaskar setelah palingan mistisismenya. Inilah orientasi realis yang dimaksud, yaitu posisi Lawson sebagai seorang realis kritis, berikut gaya analisis dan cara pengentasan masalah yang bermotif realisme kritis.

    Menyoal Kemapanan Deduktivisme

    Dalam kritiknya yang pertama, Lawson (2003, hlm. 3) memproyeksikan bahwa model ekonometrika yang dipakai ilmu ekonomi kontemporer, yang ia sebut dengan “ilmu ekonomi arus utama”, telah terjerat dalam kesalahan penggunaan metode pemodelan matematika-deduktivis (methods of mathematic-deductivist modelling). Justifikasi ini merujuk secara ketat pada inkonsistensi penurunan model hukum penutup (covering law model), atau lebih sering dikenal sebagai model deduktif-nomologis (model D-N) Popper-Hempel, terhadap ragam model-prediktif dalam aneka model ekonometrika.5 Sebagai paparan ekstra, model hukum penutup juga kerap diistilahkan sebagai “model induktif-probabilistik” (Model I-P) dalam kasus “hukum statistik” (statisctic law). Penjabaran ini penting untuk dituturkan, oleh sebab ekonometrika juga terkomposisi atas pendekatan statistika selain pendekatan matematika. 

    Pengadopsian eksplanasi model hukum penutup memungkinkan terjadinya pengalihwahanaan hal tersebut sebagai fondasi daya eksplanasi ilmu, atau lebih komprehensifnya eksplanasi ekonometrika dalam ilmu ekonomi.

    Secara sederhana, model hukum penutup berbicara tentang “formulasi teoretis” yang acap kali diistilahkan dengan “hukum” (law), atau dalam hemat model hukum penutup adalah “hukum penutup” (covering law), yang dikonstitusikan dalam “konjungsi konstan atas peristiwa” (constant conjunction of events). Dalam pandangan ini, hukum penutup mengungkapkan keteraturan yang dapat dirumuskan melalui pernyataan postulatif “setiap kali peristiwa x maka peristiwa y” (whenever event x then event y). Sebagai parameter pembacaan, formulasi ini harus ditafsirkan secara umum. Dengan demikian, “peristiwa x” dapat menjadi gabungan dari banyak peristiwa, misalnya, dan hubungan yang ditempatkan di antara setiap peristiwa dapat bersifat probabilistik (sehingga y dapat diartikan sebagai peristiwa dalam konteks rata-rata (average) atau batas/limit (limit) dari suatu deret (series)) atau deterministik (Lawson, 1997, hlm. 36).

    Dengan mengekstrak penjelasan Carl Gustav Hempel (1942), Lawson (1997, hlm. 36-37) memproyeksikan keterkaitan model hukum penutup dengan aspek analisis prediktif dan probabilistik atas suatu peristiwa melalui rangkaian modus penalaran deduksi-logis eksplanasi model hukum penutup:

    Misalkan, saya ingin menggunakan model D-N (model hukum penutup) untuk menjelaskan kejadian radiator mobil saya terkena es pagi ini. Saya memerlukan seperangkat kondisi awal (initial conditions) dan setidaknya satu “hukum penutup” universal yang secara logis memerlukan peristiwa tersebut. Variabel yang mungkin untuk saya aplikasikan dalam penjelasan terdiri dari rangkaian kondisi awal sebagai berikut: (1) radiator mobil saya berisi air kemarin, (2) radiator saya tidak bocor, (3) suhu turun di bawah 0°C tadi malam, bersama dengan justifikasi empiris: air membeku pada suhu 0°C.

    Dalam praktiknya, penjelasan saya kemudian dikemukakan dalam eksplanasi model hukum penutup sebagai berikut:

    1  kondisi awal

    2  hukum (hukum penutup) atau teori

    _________________________________________

    3  fenomena yang dijelaskan dan/atau diprediksikan

    Dengan demikian, contoh peristiwa yang baru saja diberikan dapat disusun dengan cara berikut:

    I1   radiator mobil saya berisi air kemarin

    I2   radiator mobil saya tidak bocor

    I3   suhu turun di bawah 0°C tadi malam

    L1  air membeku pada suhu 0°C

    _________________________________________

    P1  radiator mobil saya berisi es pagi ini

    Keabsahan seluruh rangkaian alur berpikir yang telah dijelaskan di atas, yang mengadopsi eksplanasi model hukum penutup, memungkinkan terjadinya pengalihwahanaan hal tersebut sebagai fondasi daya eksplanasi ilmu, atau lebih komprehensifnya eksplanasi ekonometrika dalam ilmu ekonomi. Analisis Lawson terhadap eksplanasi model hukum penutup atau model D-N Popper-Hempel bermuara dari problem yang disebut Bhaskar sebagai masalah akan kenyataan yang diandaikan melalui “sistem tertutup” (closed system). Di sinilah konjungsi konstan atas peristiwa bermukim (Bhaskar, 1978, hlm. 64). Term sistem tertutup difungsikannya untuk menjelaskan kenyataan yang seakan-akan tertutup secara eksperimental, bak laboratorium yang digunakan para ilmuwan. Bagi Bhaskar, kenyataan yang sesungguhnya harus diandaikan melalui “sistem terbuka” (open system), yang memungkinkan kita berada di sebuah kenyataan yang terbuka dan hukum kausal dari ragam peristiwa di kenyataan, seharusnya, saling memengaruhi satu sama lain.

    Tepat pada fase ini, Lawson dengan cekatan menyebut bahwa ilmu ekonomi hari ini telah jatuh pada “deduktivisme”.6 Kejatuhan ini sejatinya telah dicermati sudah sejak lama. Beberapa dasawarsa sebelum Lawson, para ekonom yang kontra terhadap ilmu ekonomi arus utama sudah mewanti-wanti hal tersebut dengan keras, misalnya Frank Hahn (1985, hlm. 5), ekonom Britania Raya, yang telah memperingatkan kejatuhan ini sebagai sesuatu yang berbahaya. 

    Kendati mempertanyakan ulang koherensi modus penalaran deduksi-logis, yang terkristalkan dalam penggunaan model hukum penutup, para ekonometrikawan justru malah menginovasikan model-model ekonometrika yang berfondasikan model hukum penutup. Kritik terhadap modus penalaran adalah sesuatu yang tampaknya jarang direnungkan dalam ilmu ekonomi kontemporer, dan relevansi deduktivisme tidak pernah dipertanyakan. Penempatan label konjungsi keteraturan atas peristiwa, yang biasanya dipahami sebagai “aksioma” atau “asumsi”, secara implisit seolah diterima begitu saja secara universal. Fenomena pengkultusan ini tentunya mengkhawatirkan.

    Realisme Empiris sebagai Akar

    Telaah Lawson dalam mengukur kelumpuhan yang dialami model hukum penutup sejalan dengan hipotesis Bhaskar ketika menggugat identitas ilmu dewasa ini (Lawson, 1997, hlm. 38). Di level ini, Lawson mengungkapkan bahwa  identitas ilmu itulah pilar penyangganya. Ilmu, dalam dapur pemikiran Bhaskar, dikerudungi oleh pengaruh besar dua tradisi pemikiran dominan yang nyatanya saling bertentangan. Untuk memagari posisi Bhaskar, deskripsi atas kedua tradisi yang diperangi Bhaskar itu perlu disampaikan secara gamblang.

    Pertama, tradisi empirisisme klasik (classical empiricism) David Hume (Bhaskar, 1978, hlm. 24). Cakrawala yang terwariskan dalam semangat positivisme dan positivisme-logis Lingkaran Wina itu memercayai bahwa kenyataan adalah impresi indrawi yang terberi dalam pengamatan langsung. Realitas, dalam tradisi empirisisme klasik, terakit oleh atom-atom yang teramati dan seluruh peristiwa dalam alam dapat diterangkan berdasarkan penjelasan atas interaksi elementer antaratom yang dapat diamati itu (Suryajaya, 2014). Kedua, tradisi idealisme transendental (transcendental idealism) Immanuel Kant (Bhaskar, 1978, hlm. 25). Paradigma yang terwariskan dalam bendera neo-Kantian dan posmodernisme itu memercayai kenyataan sebagai implikasi dari perantara pengetahuan manusia. Kenyataan adalah hasil mediasi manusia, sehingga adanya manusia bersifat konstitutif terhadap adanya kenyataan. Dalam pandangan ini, adanya kenyataan dijelaskan oleh adanya “kenyataan yang dialami secara subjektif” oleh manusia itu sendiri (Suryajaya, 2014).

    Didasari konstruksi realisme kritisnya (yang akan dipaparkan di bawah), Bhaskar menemukan adanya tendensi reduksionis dari kedua tradisi ini. Secara general, keduanya terjerembab pada sesuatu yang disebut Bhaskar sebagai “kekeliruan epistemik” (epistemic fallacy) (Bhaskar, 1978, hlm. 16). Secara spesifik, konsep ini berbicara mengenai pemaksaan pemahaman, yang seharusnya, bercorak ontologis ke pemahaman yang bernuansa epistemologis. Pada akhirnya, keduanya telah terjerumus ke dalam lubang antirealisme. Klaim ini dapat dimengerti sebagaimana kedua tradisi tersebut bergantung pada keberadaan pengamat selaku poros atas kenyataan. Kedua tradisi tersebut telah gagal mengasumsikan adanya kenyataan yang mandiri tanpa adanya manusia.

    Menegaskan posisinya atas ilmu, serta menanggulangi kebobrokan dua tradisi tersebut, Bhaskar kemudian menerangkan dua syarat kemungkinan bagi ilmu. Pertama, ilmu haruslah mempunyai “objek transitif atas ilmu pengetahuan” (transitive objects of knowledge) (Bhaskar, 1978, hlm. 21). Syarat ini menguraikan bahwa ilmu dapat dimungkinkan sebagai ilmu jika ia merupakan produk sosial dari historisitas diskusi di komunitas sosial. Sebagai contoh, seseorang yang ingin meneliti magma di gunung berapi haruslah memiliki modal pengetahuan mengenai solfatar, fumarol, dan mofet dari diskusi-diskusi di kajian geologi dan geografi. Kedua, ilmu haruslah memiliki “objek intransitif atas ilmu pengetahuan” (intransitive objects of knowledge) (Bhaskar, 1978, hlm. 21). Syarat ini mengelaborasikan bahwa ilmu dapat dimungkinkan sebagai ilmu jika ia memiliki objek dan objek itu dapat tetap ada dengan atau tanpa adanya ilmu. Sebagai contoh; tanpa adanya Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, ataupun Galileo Galilei, para pelopor model heliosentris dalam ilmu astronomi, gerak revolusi bumi terhadap matahari tetap dapat berjalan secara mandiri. 

    Meskipun kedua syarat tersebut tampak paradoksal, Bhaskar (1978, hlm. 28-29) mengajukan suatu pertanyaan untuk mengentaskannya: harus seperti apakah dunia agar pengetahuan tentang dunia itu dimungkinkan? Di sini, Bhaskar membalik kesalahan reduksionis empirisisme klasik dan idealisme transendental dengan mengajukan solusi pendasaran epistemologi ke ontologi. Hal ini terwujud secara eksplisit dalam bingkai intransitif dalam pengetahuan, tempat pengetahuan itu sendiri dimungkinkan, berikut dengan bingkai transitifnya. Dengan kata lain, “ada”-nya ilmu ditopang oleh “ilmu itu sendiri yang sejatinya realis”. 

    Dari pemaparan tersebut, Bhaskar, dan juga Lawson, dapat membuktikan bahwa ilmu yang ditutupi oleh pengaruh empirisisme klasik dan idealisme transendental pada hari ini telah terselimuti oleh haluan realisme empiris, suatu pendekatan realisme yang menyamakan (1) “sesuatu yang ada” dengan “sesuatu yang terindra” atau (2) “sesuatu yang ada” dengan “sesuatu terorientasi subjek”. Pendekatan realisme seperti ini berefek pada pengaburan konsepsi ilmu pada realitasnya, sebagaimana telah disampaikan Lawson pada kritik ketiganya. Dari pemaparan ini juga, kita akan belayar menuju solusi yang dianjurkan oleh Lawson, tentunya dengan mengikuti Bhaskar, untuk menyubtitusikan rel ilmu ekonomi yang telah dihantui oleh realisme empiris.

    Tawaran Realisme Transendental

    Realisme empiris mesti diganti dengan realisme transendental. Inilah klimaks tanggapan Lawson atas penyakit fondasi ilmu ekonomi. Realisme transendental, yang merupakan produk proposal realisme kritis Bhaskar, adalah filsafat ilmu bercorak realis yang disandarkan pada konsep ontologi yang terformulasi secara hierarkis. Pendeknya, kenyataan dalam perspektif realisme transendental diyakini dalam domain yang bertingkat-tingkat (Lawson, 1997, hlm. 40-41) (Bhaskar, 1978, hlm. 13). Lawson memakai tiga domain ini untuk menggulingkan penyeretan asumsi ilmu ekonomi dengan ilmu alam, sebagaimana kritik keempatnya atas ilmu ekonomi arus utama. 

    Berbekalkan realisme transendental, Lawson menyadari ilmu ekonomi sudah sepantasnya meninggalkan penyamarataan kedudukan asumsinya dengan asumsi ilmu alam.

    Ada tiga domain kenyataan yang tersusun secara hierarkis; secara berturut-turut dari yang paling general, yaitu domain riil (domain of real), domain aktual (domain of actual), dan domain empiris (domain of empirical). Secara ketat, Bhaskar (1978, hlm. 13) mengilustrasikan keberlakuan domain kenyataan ini atas mekanisme (mechanisms), peristiwa (events), dan pengalaman (experiences) yang patut diperhatikan oleh para ilmuwan melalui tabel di bawah ini.

    Domain riil adalah area mekanisme atau hukum kausal (causal laws) yang terkandung dalam kenyataan tetapi tidak teramati dalam pengamatan empiris. Domain ini menjadi syarat bagi keberadaan aktualitas peristiwa dan pengamatan empiris. Sebagai contoh dalam ilmu alam, domain riil mewujud dalam hukum-hukum kausal alam, misalnya gaya gravitasi. Sebagai contoh dalam ilmu sosial, domain riil mewujud dalam hukum-hukum kausal metodologis; misalnya sistem ekonomi yang memungkinkan aktivitas pertukaran komoditas antarpelaku ekonomi, sistem bahasa yang memfasilitasi tindak tutur manusia, atau sistem hukum yang mewadahi justifikasi hukum positif masyarakat di suatu negara.

    Domain aktual adalah area peristiwa-peristiwa selaku implikasi mekanisme atau hukum kausal yang ada di domain riil. Domain ini dapat diamati dan menjadi syarat bagi keberadaan pengalaman dalam pengamatan empiris. Sebagai contoh dalam ilmu alam, domain aktual mewujud dalam aneka peristiwa alam yang dapat kita amati; misalnya peristiwa daun tertiup angin, apel jatuh dari pohon, atau gerak bulan mengelilingi bumi. Sebagai contoh dalam ilmu sosial, domain aktual mewujud dalam aneka peristiwa sosial yang dapat kita amati;  misalnya peristiwa ayah membeli setandan pisang di pasar, seorang tenaga didik berbicara dengan bahasa Inggris pada muridnya, atau seorang penjahat yang diadili di pengadilan.

    Sedangkan, domain empiris adalah area objek-objek peristiwa yang ada di domain aktual. Domain ini dapat diamati melalui pengalaman dalam pengamatan empiris. Sebagai contoh; misalnya daun, bulan, pisang, buku pelajaran, atau palu hakim. Menambahkan penjelasan atas polemik realisme empiris di atas, domain empiris inilah yang merupakan pendasaran asumsinya. Implikasi nyata dari pendasaran ini berujung pada problem aktualisme (actualism), yakni masalah pereduksian hukum kausal yang ada di domain riel ke peristiwa-peristiwa di domain aktual (Bhaskar, 1978, hlm. 92). Aktivitas pereduksian ini sangat lumrah ditemui dalam kajian-kajian mereka yang bersindikat dengan realisme empiris, terutama kaum positivis. Domain riil yang dituduh sebagai “metafisika” dengan cepat ditinggalkan dan tak disentuh sama sekali.

    Berbekalkan realisme transendental, Lawson menyadari ilmu ekonomi sudah sepantasnya meninggalkan penyamarataan kedudukan asumsinya dengan asumsi ilmu alam. Hal tersebut dapat dipraktiskan kalau ilmu ekonomi hari ini memutus rantai penghubung dari dosa fondasi ilmu alam, yang berada dalam naungan problem aktualisme. Buktinya sudah ada, kemungkinan penerapannya pun terbuka lebar. Hal itu diterangkan melalui contoh konkret yang digambarkan Bhaskar lewat konsep ontologi yang terstratifikasi, yang apabila ingin dinarasikan lebih gamblang: ontologi yang terstratifikasi dengan senjata epistemologi yang bersifat relativis.

    Prediksi Lawson mengenai kecocokan penerapan realisme transendental dalam ilmu ekonomi berpangkal dari sikap skeptis Bhaskar tentang cara kerja ilmu alam, atau lebih lugasnya: proses eksperimental ilmuwan dalam menanggapi ilmu alam. Bhaskar sadar bahwa proses eksperimen ilmu alam terbangun atas pengisolasian variabel alam melalui hukum kausal alam. Variabel-variabel alam itu bergerak dengan mandiri dan lepas dari keberadaan manusia. Akan tetapi, ilmu sosial tentunya secara kontras bersebrangan dengan hal itu. Ilmu sosial tersusun atas variabel-variabel yang berelasi dengan manusia ataupun komunitas sosial tempat manusia berada (Lawson, 1997, hlm. 179). Oleh karena itu, proses eksperimental ilmuwan ketika menanggapi ilmu sosial (misalnya seperti ilmu ekonomi, antropologi, psikologi, dan seterusnya) niscaya berbeda dengan praanggapan ilmu alam (misalnya seperti ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu astronomi, dan seterusnya). 

    Kini, semakin jelas bahwa sesungguhnya realisme empiris telah mengaburkan praanggapan ilmu alam dan ilmu sosial. Ia menciptakan, masalah yang Lawson sebut sebagai, “atomisme sosial” (social atomism). Dari kesalahan ideologi konservatif realisme empiris, kita dapat dengan mudahnya menyejajarkan ilmu fisika atau ilmu kimia dengan ilmu ekonomi (Bhaskar, 1978, hlm. 243). Pencermatan sejenis, mengenai problem bercorak reduktif sebagaimana yang diprihatinkan Bhaskar dan Lawson terhadap hubungan antarilmu, juga muncul dari tradisi yang bersebrangan, misalnya proyek metafisika pluralistik John Dupré di bukunya yang berjudul The Disorder of Things (1993). Berbeda dengan Lawson dan Bhaskar, Dupré memakai kritik atas kalangan reduksionis untuk membumihanguskan konsep supervenience dalam filsafat biologi. 

    Menjawab sikap skeptis Bhaskar atas cara kerja ilmu alam, Lawson merincikan bahwa variabel-variabel yang bertebaran dalam dimensi sosial dipengaruhi secara kuat oleh, utamanya, agensi intensional manusia (human intentional agency). Aneka variabel ini bersifat terbuka, dan mustahil untuk diandaikan bersifat tertutup seperti yang dibayangkan ilmu ekonomi dengan, misalnya, pembakuan dalam mekanisme hukum penutup. Variabel-variabel ini, menurut Lawson, pada gilirannya haruslah ditopang oleh sesuatu yang ia istilahkan sebagai “contrastive demi-regularities” dalam laku eksperimental.

    Lawson telah membuka angin segar bagi ilmu ekonomi yang tampaknya,  dengan kasar penulis sebut, “jelas tidak sehat”. Setelah memahami kritik Lawson terhadap ilmu ekonomi kontemporer, babak baru atas argumen Lawson akan menjadi kelanjutan masa depan ilmu ekonomi, terutama argumen Lawson mengenai agensi intensional manusia dan contrastive demi-regularities. Inilah separuh jalan kedua Lawson yang belum penulis bahas dalam tulisan ini. Agensi intensional manusia akan menjadi tolakan menuju solusi alternatif ilmu ekonomi hari ini. Konsep ini juga berlaku sebagai salah satu pokok dalam keseluruhan rangkaian proyek ontologi sosial Lawson, yang bersaing dengan proyek ontologi sosial Margaret S. Archer atau murid-murid Bhasakar lainnya. Setelah merunut analisis Lawson, melanjutkan pendapat Moss (2022) yang dipublikasikan oleh The Guardian, mungkin kita perlu sedikit ragu dalam merespons proposal Rishi Sunak yang telah dilantik sebagai perdana menteri Inggris 25 Oktober lalu. Mari kita lihat, apakah penulis akan mendeskripsikan argumen Lawson tersebut via rubrik yang sama di lsf.cogito.org ini atau artikel Jurnal Mahasiswa Filsafat “Cogito”.

    ____________________

    Referensi

    Bhaskar, R. (1978). A Realist Theory of Science. Harvester Press.

    Boumans, M. J. dan Dupont, A. (2011). A History of the Histories of Econometrics. History of Political Economy, 43(1). 5-31. https://doi.org/10.1215/00182702-1158781 

    Fullbrook, E. (2006). The Crisis in Economics: The Post-Autistic Economics Movement: The First 600 Days. Routledge.

    Gujarati, D. N. dan Porter, D. C. (2009). Basic Econometrics. McGraw-Hill.

    Hahn, F. (1985). ‘In Praise of Economic Theory’, The 1984 Jevons Memorial Fund Lecture. University College.

    Hempel, C. G. (1942). The Function of General Laws in History. The Journal of Philosophy, 39(2). 35-48. https://doi.org/10.2307/2017635 

    Hirsch, C. dan DesRoches, C. T. (2009). Cambridge Social Ontology: An Interview with Tony Lawson. Erasmus Journal for Philosophy and Economics, 2(1). 100-122. https://doi.org/10.23941/ejpe.v2i1.26 

    Lawson, T. (1997). Economics and Reality. Routledge.

    Lawson, T. (2003). Reorienting Economics. Routledge.

    Lawson, T. (2019). The Nature of Social Reality: Issues in Social Ontology. Routledge.

    Leamer, E. E. (1978). Specification Searches: Ad hoc Inferences with Non-experimental Data. John Wiley and Sons.

    Leontief, W. W. Letters. https://www.science.org/doi/10.1126/science.217.4555.104 

    Mills, A. J., Durepos, G., dan Wiebe, E. (2010). Encyclopedia of Case Study Research. SAGE Publications.

    Morgan, M. S. (1990). A History of Econometric Ideas. Cambridge University Press.

    Moss, S. (2022). Why Economic Models Have Never Been Able to Predict a Downturn. https://www.theguardian.com/business/2022/aug/12/why-economic-models-have-never-been-able-to-predict-a-downturn 

    Russel, B. (1903). The Principles of Mathematics, Vol. I. Cambridge University Press.

    Suryajaya, M. (2014). Warisan Pemikiran Roy Bhaskar. https://indoprogress.com/2014/12/warisan-pemikiran-roy-bhaskar/ 

    Theil, H. (1971). Principles of Econometrics. John Wiley & Sons.

    Author

    Footnotes

    1. Ekonometrika” adalah analisis statistis (menggunakan pendekatan statistika) dan matematis (menggunakan pendekatan matematika) dari hubungan ekonomi (economic relationship). Singkatnya, ekonometrika adalah alat pengukuran dalam menanggapi masalah-masalah ekonomi dengan basis determinasi empiris hukum kausal ekonomi (Gujarati dan Porter, 2009, hlm. 1) (Theil, 1971, hlm. 1). Konsep ini biasanya digunakan oleh para ilmuwan ekonomi yang menggunakan ekonometrika (ekonometrikawan) sebagai dasar  untuk memprediksi berbagai variabel dalam lanskap ekonomi makro dan ekonomi mikro secara praktis. Dalam konteks ekonomi makro, biasanya ekonometrika digunakan untuk memprediksi Produk Domestik Bruto (PDB), laju inflasi, angka pengangguran, agregat kemiskinan, dan sebagainya di suatu negara tertentu. Dalam konteks ekonomi mikro, biasanya penggunaan ekonometrika cenderung difokuskan untuk, misalnya memprediksi kecocokan mesin dalam aktivitas produksi, kesesuaian sumber daya manusia dalam aktivitas distribusi, keselarasan produk dengan konsumen dalam aktvitas konsumsi, dan sebagainya di suatu perusahaan tertentu. Di sisi lain, istilah “model ekonometrika” mengacu pada model-model atau teori-teori dalam ekonometrika yang dialamatkan untuk merelevansikan suatu teori dan metode ilmu ekonomi ke dalam aneka fenomena di realitas sosial.
    2. Sejarah dan perkembangan awal ekonometrika dalam kajian ilmu ekonomi dapat ditelusuri sejak diskursus para aktor “revolusi marginal” di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Nama-nama seperti William Stanley Jevons, Henry Ludwell Moore, Wesley Clair Mitchell, dan Tjalling Charles Koopmans mengonsepkan basis ekonometrika dengan modal konsep teori nilai-utilitas (utility theory of value) selaku kritik atas teori nilai-kerja (labour theory of value) pasca-William Petty dan beberapa filsuf ilmu ekonomi turunannya, seperti Adam Smith dan David Ricardo (Morgan, 1990).
    3. Ram Roy Bhaskar (Roy Bhaskar) (1944-2014) adalah pendiri tradisi realisme kritis yang mengajar di University of London. Karya monumentalnya adalah A Realist Theory of Science (1975) dan Possibility of Naturalism: A Philosophical Critique of the Contemporary Human Sciences (1979). Di sisi lain, karya-karya lainya yang juga sangat layak untuk dibaca adalah Scientific Realism and Human Emancipation (1986), Reclaiming Reality: A Critical Introduction to Contemporary Philosophy (1989), dan Philosophy and the Idea of Freedom (1991). Tradisi realisme kritis yang dipelopori Bhaskar telah melahirkan sederet filsuf berhaluan emansipatoris ternama; misalnya Tony Lawson, Margaret S. Archer, Bob Jessop, dan Alex Callinicos.
    4. Cambridge Social Ontology Group adalah komunitas yang dibentuk dengan tujuan mengkaji ontologi sosial, studi sistematis tentang sifat dan struktur dasar realitas sosial. Komunitas yang berbasis di University of Cambridge ini menspesifikkan konsentrasi risetnya menjadi dua, yaitu ontologi filosofis (philosophical ontology) dan ontologi ilmiah (scientific ontology). Ontologi filosofis adalah studi yang berkaitan dengan ciri-ciri umum setiap fenomena atas suatu domain realitas. Di sisi lain, ontologi ilmiah adalah studi yang berkaitan dengan fenomena spesifik dari  suatu domain realitas (Cambridge Social Ontology, 2022).
    5. Penggunaan istilah “model hukum penutup” (covering law model) biasanya disalahartikan dengan perujukan ke model deduktif-nomologis Popper-Hempel. Penyelarasan istilah model hukum penutup lebih tepat apabila mengacu pada model deduktif-nomologis Hempel-Oppenheim, contohnya sebagaimana dicatat Fred Eidlin (dalam Mills, Durepos, dan Wiebe, 2010, hlm. 285). Lawson, khususnya dalam Economics and Reality, masih belum menanggapi kritik ini. Oleh karena itu, penyelarasan istilah model hukum penutup dengan model deduktif-nomologis Popper-Hempel dalam tulisan ini masih tetap dilakukan, dengan tetap menekankan pembaca untuk mempertimbangkan kritik atas kekeliruan rujukan seperti yang sudah disampaikan oleh Eidlin.
    6. By deductivism I simply mean the collection of theories (of science, explanation, scientific progress, and so forth) that is erected upon the event regularity conception of laws in conjunction with the just noted principle of theory assessment ‘Yang saya maksud dengan deduktivisme adalah kumpulan teori (ilmu pengetahuan, penjelasan, kemajuan ilmiah, dan sebagainya) yang dibangun di atas konsepsi hukum keteraturan peristiwa dalam hubungannya dengan prinsip penilaian teori yang baru saja dicatat (merujuk pada eksplanasi model hukum penutup)’ (Lawson, 1997, hlm. 36).

    Find us on

    Latest articles

    spot_img

    Related articles

    Post-Truth: Konsekuensi atas Keruntuhan Modernitas

    Seperempat paruh awal abad ke-21 ini, manusia dihadapkan kepada pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendisrupsi masyarakat....

    Hausu dan Hauntopoanalisis

    Rumah bukanlah sekadar bangunan fisik yang memiliki wujud konkret, melainkan ruang metafisik yang abstrak dan memiliki agensi...

    Sebuah Hikayat dari Tanah Para Pencari Kebenaran Dunia

    Tulisan ini merupakan potongan dari Laporan Pertanggungjawaban Pemimpin Redaksi LSF Cogito 2022 yang disampaikan pada 11 Februari...

    Ampun, Romo Bertens: Argumen Absolutis Anda Bermasalah

    Buang semua asumsi moral dan pengetahuan yang kita dapat dari peradaban modern ini untuk sementara. Mari bayangkan...

    Polemik Hermeneutis Gadamer dan Habermas

    “Kalau Anda ingin mendengarkan Heidegger dengan lebih mudah, bacalah (tulisan) Gadamer.” Begitulah ucapan Fransisco Budi Hardiman saat...

    Metalearning? Di Balik Cognitive Load Theory

    Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari keberadaan seorang guru dalam melakukan pengajaran. Isu tentang pentingnya keberadaan seorang...