Sebagai suatu bentuk gagasan, kosmopolitanisme menjadi salah satu kekuatan untuk menciptakan lingkungan dunia yang damai dan sejahtera tanpa ada konflik dan pembedaan. Sebagai sebuah konsep yang bermula dari kaum Stoik dan dikembangkan lebih jauh oleh Immanuel Kant dalam esainya Perpetual Peace pada tahun 1795, kosmopolitanisme menjadi sebuah semangat untuk menggairahkan etika dan moral baik serta mulia manusia dalam menanggapi kehadiran manusia lain yang beragam di dunia (Nussbaum, 1997: 3-4). Alih-alih menjadi sebuah pemisah, kosmopolitanisme hadir sebagai sebuah penghubung relasi antarmanusia di dunia; sebagai sebuah harapan akan terbentuknya dunia yang lebih baik (Skrbiš dan Woodward, 2013: 1). Kosmopolitanisme mengusung dan menjunjung semangat moralitas yang inklusif dan kolektif, relasi ekonomi yang baik untuk sesama, dan juga dialog politik yang ada untuk kepentingan bersama. Dari sini, ujung tombak keberadaan kosmopolitanisme sebagai sebuah semangat dalam masyarakat adalah terciptanya masyarakat yang integral untuk saling menghargai satu dengan yang lain dalam keberagaman dunia. 

Kaum Stoik dan Kant: Kosmopolitanisme dari Penjajakan Historis

Secara etimologis, kosmou berarti dunia dan politês berarti warga dalam bahasa Yunani. Dalam sejarahnya, sebuah konsep yang dikenal dengan kosmopolitanisme lahir di tanah Athena, Yunani dan dikemukakan oleh kaum Mazhab Sinisme bernama Diogenes. Ucapan dari Diogenes yang paling terkenal adalah ketika dia ditanya berasal dari mana, Diogenes berdiskresi untuk menjawab, “aku adalah warga dunia” (Nussbaum, 1997: 5). Kaum Stoik dari Roma melihat bahwa Diogenes menolak keberadaan orisinalitas eksistensi manusia yang dikotakkan melalui adanya daerah asal, adat istiadat yang mengikat, dan tergabungnya manusia dalam grup lokal yang berbeda-beda. Menanggapi Diogenes, kaum Stoik kembali melihat bahwa keberadaan manusia bisa berada di dua komunitas, pertama adalah komunitas dirinya sendiri terkait dari mana ia berasal, dan kedua adalah komunitas tempat manusia itu tinggal dengan berargumentasi dengan masyarakat lain (Nussbaum, 1997: 6). Salah satu kaum Stoik, Hierokles mengembangkan suatu paham kosmopolitanisme dengan memberikan lingkaran pusat pada dirinya sendiri, lalu dilanjutkan dengan lingkaran-lingkaran berikutnya sampai terciptalah manusia sebagai satu kesatuan warga dunia (Nussbaum, 1997: 9-10). Lingkaran yang pertama adalah diri sendiri, lalu disambung dengan keluarga, pertemanan, lingkungan rumah, lingkungan organisasi, sampai nanti akan bermuara pada warga dunia. Konsekuensi dari adanya lingkaran ini akan memunculkan suatu kedekatan dan bela rasa antarmanusia yang melihat bahwa mereka hidup pada satu lingkaran yang sama—lingkaran warga dunia. Kesadaran ini, sebagaimana bagi kaum Stoik, adalah suatu bentuk tercapainya manusia yang memanusiakan manusia lain. 

Dalam pandangan modern, Kant melihat kosmopolitanisme sebagai bagian dari pemikiran humanismenya, yang mengarah pada pendekatan moral dan etika manusia. Kosmopolitanisme mengalami perkembangan yang signifikan melalui pemikiran dan pembahasan Kant—melanjutkan kosmopolitanisme dari kaum Stoik. Menilik kosmopolitanisme dari kaum Stoik, menurut Nussbaum (1997: 7; 12) Kant lebih menekankan pada kesetaraan tataran kemanusiaan yang hidup dalam satu dunia tanpa harus melihat seorang manusia lahir dari mana atau besar di mana—selagi ia hidup di dunia, ia hidup sebagai warga dunia. Semangat kosmopolitan yang dibawa Kant merupakan bagian dari humanisme untuk mengedepankan pelayanan dan kenyamanan (hospitality). Berbeda dengan kaum Stoik, Kant sangat menolak keberadaan kolonialisme karena berlawanan dengan etika dan moral humanisme yang dia pahami (Nussbaum, 1997: 14). Dengan demikian, Kant mengeluarkan suatu gagasan hukum kosmopolitan (ius cosmopoliticum), yaitu saat manusia berada pada satu ikatan hukum universal Pelanggaran hukum ini tidak hanya dirasakan satu daerah melainkan seluruh umat manusia yang hidup di satu dunia (Kant, 1795: 107-108 dalam Nussbaum 1997: 13). 

Sebuah penjajakan historis yang berawal dari pemikiran klasik menuju modern tentang kosmopolitanisme menunjukkan adanya suatu paham bahwa manusia akan terintegrasi dalam satu ikatan universal. Baik pemikiran kaum Stoik maupun Kant tentang kosmopolitanisme berawal dari adanya kontemplasi kemanusiaan yang hidup tanpa memedulikan ikatan komunitas lokal—pada akhirnya mengarah pada ikatan komunitas global. Menilik hal ini, Nussbaum (1997: 25) berpendapat bahwa kontemplasi keduanya tidak akan berbuah apa-apa tanpa adanya aksi yang nyata untuk menghidupi kosmopolitanisme ini. Sebagai sebuah pandangan dan pikiran, kosmopolitanisme bisa dijadikan semangat untuk memanusiakan manusia tanpa mempertanyakan identitas asal dan menghargai mereka sebagai manusia—implementasi pandangan kaum Stoik. Sebagai pelengkap, kosmopolitanisme juga dipandang dan perlu diwujudkan sebagai elemen humanisme untuk memberikan keramahan universal (universal hospitality) kepada manusia dengan kehormatan dan kemuliaan—implementasi pandangan Kant. 

Kosmopolitanisme sebagai Semangat Toleransi Masa Kini 

Kenyataan atas keadaan kosmopolitanistik ini membawa suatu pandangan yang kontemporer dengan memajukan kepentingan bersama sebagai manusia. Tidak heran, setelah PD II, banyak sekali aktivis menggaungkan adanya human rights atau HAM. Melansir kompasiana.com, salah seorang pemuka HAM pada tahun 1945-an ialah Eleanor Roosevelt yang memiliki pengaruh kuat di Amerika Serikat. Istri Franklin D. Roosevelt ini secara masif mempropagandakan kesatuan umat manusia di dunia dengan mengedepankan hak asasi. Peristiwa holocaust dan kehancuran antarmanusia karena perang justru menodai integrasi dunia. HAM sebagai hukum internasional muncul dan diterima oleh seluruh warga dunia sebagai adanya ius cosmopoliticum di dunia. Skrbiš dan Woodward (2013) berpendapat bahwa hal ini didukung dengan wujud berbagi untuk memenuhi kebutuhan manusia dari beragam belahan dunia. Demi kemanusiaan, Appiah (2006) menambahkan bahwa moral universal dalam kosmopolitanisme hadir dengan percaya bahwa semua manusia—terlepas dari identitas dan privilese yang dimiliki—berasal dari standar moral yang sama dan harus saling menghormati. Adam Smith dalam Forman-Barzilai (2009: 56-71) melihat kosmopolitanisme harus terwujud dari kesadaran diri sendiri agar kelak ia bisa menjadi bentuk natural—kosmopolitanitas sebagai aktivitas naluri manusia.

Salah satu poros utama dalam memandang kosmopolitanisme pada zaman sekarang ialah dengan semangat toleransi dalam keberagaman. Toleransi dalam keberagaman ini tidak mengarah lagi pada suku, ras, bangsa, dan bahkan penduduk suatu negara atau daerah, tetapi lebih mengarah pada keberadaan manusia itu sendiri (Skrbiš dan Woodward, 2013: 29-39). Orientasi etis ini lebih menekankan untuk tidak memedulikan asal-usul seorang individu atau bahkan kelompok. Kekuatan toleransi ini mampu membawa manusia pada satu kesatuan peradaban dunia yang maju. Menilik kembali apa yang dikatakan Adam Smith dalam Forman-Barzilai (2009: 86) etika ini berangkat dari adanya hati nurani. Dengan hati nurani yang benar dan bela rasa yang independen, manusia bisa hidup rukun dan damai dalam keberagaman yang ada. Sudah menjadi klise, saat toleransi itu tidak terbentuk, perpecahan akan menodai semangat persatuan yang kosmopolitan.   

Dalam hal ini, saya dapat merefleksikan bahwa kosmopolitanisme merupakan pandangan yang bisa dijadikan tujuan utama untuk mewujudkan dunia yang integral. Dalam hal ini, saya melihat bahwa manusia sudah tidak lagi penting untuk dipandang melalui ragam asal-usul, ras, pekerjaan, tempat tinggal, bahkan agama. Selagi dirinya adalah manusia, maka dia pantas untuk dimanusiakan tanpa perlu diidentifikasi dalam kategori-kategori lainnya. Etika untuk mencintai satu sama lain perlu untuk digaungkan secara bersama-sama agar tercipta dunia yang damai. Tidak perlu melihat latar belakang identitas manusia lain karena setiap manusia bebas memilih identitas mereka di dunia ini. Dengan beragamnya identitas, perlu ada toleransi untuk menghargai dan menghormati keberagaman mereka di dunia. Berdasarkan refleksi singkat saya, terciptanya manusia dalam dunia yang satu bukanlah suatu paradoks atau impian utopis. Tindakan kosmopolitan—antara lain, berawal dari hati nurani yang benar dengan semangat berbagi tanpa perlu memandang latar belakang manusia lain; mau bertoleransi tanpa alasan apa pun; dan memberikan kebebasan kepada orang lain untuk memilih identitas mereka sendiri—hendak dengan sadar melihat manusia sebagai manusia, dan pada akhirnya mampu membawa kita pada persatuan warga dunia yang rukun, indah, dan damai.


Daftar Pustaka

Buku

Abdullah, Irwan. (2015). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Appiah, Kwame Anthony. (2006). Cosmopolitanism: Ethics in a World of Strangers. New York: W.W. Norton & Company, Inc. 

Forman-Barzilai, Fonna. (2009). Adam Smith and The Circles of Sympathy: Cosmopolitanism and Moral Theory. New York: Cambridge University Press.

Skrbiš, Zlatko., & Woordward, Ian. (2013). Cosmopolitanism: Uses of The Idea. Los Angeles; London; New Delhi; Singapore; Washington DC: Sage Publications. 

Jurnal

Nussbaum, M. C. (1997). “Kant and Stoic Cosmopolitanism” dalam Journal of Political Philosophy, 5(1). Hlm. 1-25.

Wattimena, R. A. (2018). “How to Be a Nationalist in The Cosmopolitan Era?: A Historical and Scientific Reflection” Dipublikasi di The Ary Suta Center Series on Strategic Management. April. Vol. 41.

Internet

Qur, Rohman. (2020). “Woman Days: Kilas Sejarah Eleanor Roosevelt sang Pemerhati HAM di USA”. Dalam https://www.kompasiana.com/qurrohman/5e676bffd541df1d19209003/woman-days-kilas-sejarah-eleanor-roosevelt-sang-pemerhati-ham-di-usa. Diakses pada tanggal 04 April 2021. 14.25 WIB. 

 

Facebook Comments

Author

  • Valentino Yovenky Ardi Bentarangga

    Valentino Yovenky Ardi Bentarangga kerap disapa Valent atau Pengky atau Pengki atau Pakdhe atau Om dan lain sebagainya. Seorang mahasiswa aktif S1 Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada. Sang pemburu kuliner dan kopi. Seorang pendengar dan pengerti. Calon antropolog yang independen pada masa yang akan datang. Apabila ingin berteman dengannya, dapat menghubungi dia melalui valentinoyovenky27@gmail.com