Sumber gambar: https://wallpaperaccess.com/download/multiverse-20406

Cuplikan film Spider-Man: No Way Home tayang 23 Agustus lalu. Dalam 24 jam, video tersebut telah ditonton 355,5 juta kali dan mencetak rekor sebagai cuplikan dengan penonton terbanyak. Dari cuplikan tersebut, tampak bahwa film Spider-Man terbaru itu akan membawa penonton bertualang ke dalam multiverse atau multi-jagat (jagat majemuk) yang mempertemukan beberapa dunia. Ada irisan antara kisah Spider-Man di Marvel Cinematic Universe terkini dengan kisah di film-film Spider-Man sebelumnya.

Selain di film ataupun komik terbitan Marvel, skema multi-jagat juga pernah dimuat dalam alur cerita film dan komik terbitan DC. Misalnya, dalam serial komik Crisis tahun 1985 yang dijadikan film animasi anak-anak di tahun 2010 dengan judul Crisis on Two Earths, keberadaan multi-jagat diakui. Dikisahkan Superman dan para pahlawan super lainnya harus pergi ke suatu tempat bernama Bumi Dua di jagat paralel yang serba berkebalikan dengan bumi aktual. Apa yang baik di bumi aktual menjadi jahat di Bumi Dua. Superman harus bertarung mengalahkan Superman jahat di Bumi Dua yang berencana menghancurkan bumi aktual.

Di luar dunia fiksi ilmiah komik, karya sastra, dan film, skema multi-jagat merupakan diskursus serius yang terus berlangsung di kalangan kosmolog dan fisikawan. Diskursus itu menjadi populer lantaran menyangkut keingintahuan abadi tentang teka-teki mengenai asal-muasal alam semesta. Namun, terdapat pertanyaan-pertanyaan yang sering memancing perdebatan, seperti “Apakah multi-jagat benar-benar ada, ataukah sekadar konsep metafisis dan fiksi ilmiah? Bagaimana sesuatu yang belum mungkin diamati, diuji, dan difalsifikasi bisa dikategorikan sebagai sains?” Melalui studi pustaka, tulisan ini bermaksud mengulas sejarah perkembangan skema multi-jagat dan perdebatan-perdebatan di baliknya, terutama bagaimana secara tidak langsung terjadi dialog antara kosmologi dan sains-filsafat-teologi.

  1. Sejarah Perkembangan Multi-Jagat

Alam Semesta (Universe) adalah segala sesuatu di dalam ruang-waktu, termasuk manusia yang memikirkannya.[1] Agar Alam Semesta dapat dipahami, diperlukan model-model alam semesta (universe) yang dibangun berdasarkan teori dan data. Dalam kaitannya dengan jagat majemuk, menurut George Gale, sebuah alam semesta/jagat bisa dikatakan tunggal (universe) ditinjau dari keterpisahannya dengan alam semesta lain dan kelengkapannya (completeness) sebagai suatu alam semesta mandiri.[2] Dengan demikian, jagat majemuk—atau dalam istilah lain dikenal dengan sebutan ‘multi-jagat’, ‘pluri-jagat’, dan ‘jagat mega’—adalah skema yang menampung sejumlah jagat tunggal. Helge Kragh merangkum bahwa paling tidak sejak tahun 1990 terdapat tiga ide mengenai bagaimana multi-jagat dapat terjadi, yakni “Beberapa berdasarkan teori inflasi, yang lain berdasarkan hipotesis jagat tunggal yang siklis, dan lainnya lagi berdasarkan interpretasi mekanika kuantum akan dunia-majemuk.”[3]

Namun, apa yang dipahami Kragh di abad XXI tentang multi-jagat telah melalui perjalanan sejarah yang panjang. Menurut Bernard Carr, ditinjau secara historis, dugaan tentang multi-jagat merupakan titik kulminasi dari upaya-upaya manusia memahami fisika dunia ini dari skala besar hingga kecil.[4] Carr mengistilahkannya sebagai suatu “perjalanan ke luar”, yakni perkembangan kosmologi dari pandangan geosentris, heliosentris, galaktosentris, kosmosentris, hingga sampai ke sebuah pemahaman tentang multi-jagat. Selain itu, terdapat pula “perjalanan ke dalam” yang menunjukkan perkembangan pemahaman di dunia atom, subatomik, hingga kuantum yang memungkinkan gagasan multi-jagat muncul ke permukaan.

Spekulasi tentang adanya dunia-dunia lain yang saling terpisah sudah ada sejak zaman filsuf Pra-Sokratik. Anaximandros menawarkan model alam semesta daur ulang di mana ada lebih dari satu kosmos. Dalam kosmologinya, akan selalu terdapat kosmos baru yang menggantikan kosmos yang telah menua. Oleh Gale, model ini disebut sebagai multi-jagat temporal (temporally-multiple universes). Selain Anaximandros, terdapat pula para atomis (Leukippos, Demokritus, dan Epikuros) yang menyatakan bahwa sangat mungkin terdapat kosmos dengan jumlah ananta (aperoi kosmoi) karena jumlah atom di semesta yang juga ananta[5].

Akan tetapi, segala imajinasi dan spekulasi itu terhenti ketika Aristoteles “memaku” bumi sebagai pusat gerak semesta. Dalam De caelo, sebagaimana diuraikan Steven Dick, Aristoteles berargumen bahwa seandainya ada lebih dari satu dunia—dalam hal ini, lebih dari satu bumi—gerak semesta akan kacau karena ada lebih dari satu pusat.[6] Bumi dapat bergerak naik turun ke pusat-pusat lain. Supaya semuanya tetap teratur, tidak mungkin ada dunia, kosmos, atau bumi lain. Langit, sebagai takhta benda-benda angkasa ilahiah, tidak boleh dan tidak mungkin berubah. Model alam semesta Aristoteles menjadikan kosmos ini anta dan geming

Setelah Revolusi Copernican (terbitnya De revolutionibus, 1542), seorang rahib Dominikan dan filsuf alam bernama Giordano Bruno menggulirkan kembali pemikiran bahwa kosmos ini ananta dengan tidak menjadikan matahari sebagai pusat kosmos. Kosmos ananta ini membuka kemungkinan adanya kosmos-kosmos lain. Bruno membuat pembedaan antara alam semesta, dunia, dan bumi. Baginya, hanya ada satu alam semesta, tetapi dengan banyak dunia di dalamnya, bahkan mungkin pula terdapat banyak bumi. Ia mengatakan bahwa keanantaan semesta hanya dapat dipahami oleh akal-budi manusia. Karena berkaitan dengan ruang ananta yang mengandung banyak semesta, Gale menyebut model Bruno sebagai multi-jagat spasial (spatially-multiple universe). Model multi-jagat seperti ini mirip dengan model para atomis. Dalam perkembangannya, ide multi-jagat spasial tersebut melahirkan model dunia di dalam dunia. Gale mengambil contoh korespondensi antara Jean Bernoulli dan Gottfried Wilhelm Leibniz, di mana Bernoulli mengomentari penemuan mikroorganisme van Leeuwenhoek dan memikirkan tentang kemungkinan adanya makhluk Pepperlings yang tinggal di dalam dunia biji lada (pepper).[7]

Selanjutnya, Gale juga menerangkan bahwa dari Leibniz, dalam Discourse on Metaphysics muncul pula gagasan tentang multi-jagat berdimensi lain (other-dimensionally-multiple universes). Leibniz membayangkan adanya dunia-dunia yang mengada bersama-sama, tetapi berbeda satu sama lain. Misalnya, di dunia A, Yesus dikhianati Yudas, tetapi di dunia B, Yesus tidak dikhianati Yudas. Leibniz memandang hal tersebut masuk akal mengingat kemahakuasaan Tuhan dalam doktrin kristiani. Ketika Allah memilih untuk menciptakan dunia seperti ini, berarti ada kemungkinan terdapat dunia-dunia lain yang tidak dipilih-Nya.

Setelah tahap heliosentris Copernican, berkembanglah paradigma galaktosentris. Spekulasi Galileo Galilei bahwa Bimasakti terdiri dari bintang-bintang seperti matahari—yang tertuang dalam The Starry Messenger (1610)—semakin menggeser keyakinan bahwa matahari adalah pusat semesta. Dengan demikian, ukuran semesta semakin bertambah luas dalam cakrawala pemahaman manusia. Berikutnya, Isaac Newton mengikat bentangan semesta yang luas itu dengan hukum gravitasi yang sama.

Singkat cerita, setelah model alam semesta mekanistik Newton, diskusi mengenai multi-jagat semakin marak dalam kosmologi abad XX. Kemarakan diskusi tersebut terpicu oleh mekanika kuantum tafsir Everett (1957), juga didukung oleh Teori Relativitas Umum (TRU) Einstein dan model alam semesta big bang. Sebelum skema inflasi dikenal, multi-jagat dalam pengertian TRU baru berupa model siklik. Sesudah skema inflasi dikenal pada sekitar tahun 1980, adanya multi-jagat semakin dimungkinkan dengan pengandaian bahwa terjadi banyak big bang di ruang-waktu lain sehingga menghasilkan kosmos-kosmos yang berlainan pula. Selain itu, skema multi-jagat juga terdukung oleh model Lemaître-Eddington karena dalam model tersebut ruang kosmos terus memuai sehingga menghasilkan jarak yang memutus kosmos dan membaginya menjadi beberapa jagat.

Memasuki kosmologi kontemporer, ketiga klasifikasi multi-jagat Gale mendapatkan wajah baru. Misalnya, multi-jagat temporal dalam spekulasi Anaximandros muncul dalam gagasan John Archibald Wheeler tentang Big Crunch. Dalam skenario Wheeler, alam semesta akan mengerut dan diproses kembali dalam keruntuhan gravitasi selama pengerutan terjadi. Siklus tersebut dan keruntuhan gravitasi akan menghasilkan jagat baru yang terpisah dari jagat sebelumnya. Kragh menjelaskan bahwa pada mulanya gagasan tentang alam semesta yang bersiklus telah didiskusikan oleh Alexander Friedmann dalam makalah ilmiahnya yang terbit pada tahun 1922. Pemikiran Friedmann tentang siklus semesta yang terjadi sekali kemudian dikembangkan oleh fisikawan Jepang Tokio Takeuci menjadi siklus yang terjadi secara tak terhingga.[8]

Kendati mulai dikenal publik melalui berbagai media, termasuk melalui buku-buku populer seperti Other Worlds karya Paul Davies tahun 1980, ide-ide tentang multi-jagat yang mengemuka sebelum tahun 1980 kurang diminati oleh para kosmolog. Menurut Kragh, “Mereka menganggap model-model tersebut terlalu spekulatif dan heterodoks.”[9] Salah satunya ialah proposal Brandon Carter pada tahun 1974 tentang suatu “ansambel dunia” (world ensemble)—di mana terdapat banyak alam semesta yang dibentuk dengan pelbagai kondisi permulaan dan konstanta-konstanta fundamental—yang menjadi fondasi asas antropiknya.

Pemikiran dua fisikawan Rusia, Andrei Linde dan Alexander Vilenkin tentang teori inflasi pada awal tahun 1980, mulai mengubah jalannya diskursus tentang multi-jagat. Inflasi adalah suatu periode hipotetis di awal sejarah kosmos setelah peristiwa big bang, di mana terjadi ekspansi alam semesta yang cepat dan dipercepat.[10] Kragh menulis bahwa menurut Linde, setelah tahap inflasi, seluruh Alam Semesta terbagi ke dalam gelembung-gelembung semesta yang ananta di dalam ruang yang ananta pula. Gelembung-gelembung itu mengembang menjadi jagat-jagat yang berbeda satu sama lain. Pada akhirnya, definisi multi-jagat kadang-kadang disamakan dengan suatu gugus kumpulan jagat paralel (seperti dalam pemikiran Leibniz), walaupun sebenarnya kedua hal tersebut berbeda. Multi-jagat tidak selalu merupakan jagat paralel.

Berdasarkan konsep gelembung tersebut, perkiraan jumlah terjadinya big bang, konstanta-konstanta fisika, dan asumsi adanya dunia-dunia yang paralel, menurut Max Tegmark paling tidak terdapat tiga (atau empat) tingkat multi-jagat. Oleh karena tingkat-tingkat tersebut cukup rumit untuk dijelaskan, penulis akan merangkum penjelasan singkat Carr tentang klasifikasi Tegmark.[11] Tingkat I adalah multi-jagat yang terjadi karena satu big bang. Dalam tingkat ini, terdapat jagat-jagat lain di luar kemampuan observasi manusia, melampaui volume Hubble. Sebagai ilustrasi, di luar alam semesta yang dapat diobservasi, seorang manusia di planet bumi bisa memiliki kembaran di jagat lain. Lalu, tingkat II adalah multi-jagat yang terjadi karena lebih dari satu big bang. Berbeda dengan tingkat I-II yang mengandalkan teori inflasi, tingkat III adalah multi-jagat yang berdasarkan interpretasi dunia majemuk teori mekanika kuantum Hugh Everett (1957). Interpretasi ini menjelaskan keberadaan  jagat paralel yang saling tumpang-tindih di dalam ruang-waktu yang sama. Ilustrasi yang sering digunakan adalah kucing Schrödinger yang mati-hidup secara simultan.Tingkat yang terakhir adalah tingkat IV, yakni suatu multi-jagat yang memiliki struktur-struktur matematika dan hukum-hukum alam yang sama sekali berbeda satu sama lain.

  1. Pro dan Kontra Multi-Jagat

Meskipun popularitas skema multi-jagat terus berkembang, Carr mengatakan bahwa harus diakui terdapat banyak fisikawan yang masih terusik dengannya.[12] Gagasan multi-jagat terlalu spekulatif dan keberadaannya tidak bisa diuji dalam suatu eksperimen, baik dari perspektif kosmologi maupun fisika partikel. Tidak ada teleskop yang mampu meneropong multi-jagat. Tidak ada laboratorium yang bisa dibuat untuk bereksperimen dengan galaksi atau bintang-bintang. Kompleksitas model-model multi-jagat yang ada juga seakan-akan mengkhianati sifat ratah alam semesta yang diyakini para ilmuwan.

Menurut Carr, kepercayaan atas ide multi-jagat sejauh ini masih berbasis “iman” dan pertimbangan estetis (misalnya, keindahan matematika di baliknya) bukan data hasil eksperimen atau observasi langsung.[13] Carr menyebut tokoh seperti Paul Davies yang menganggap skema multi-jagat sebagai konsep metafisis, sama seperti gagasan adanya seorang Pencipta yang menala alam semesta ini hingga memungkinkan eksistensi manusia. Menurut Davies, untuk memercayai multi-jagat, dibutuhkan lompatan iman yang sama dengan saat berbicara mengenai Tuhan.

Kragh menambahkan bahwa upaya menggunakan falsifikasi Popperian untuk membenarkan skenario multi-jagat juga digagalkan karena tidak ada teori multi-jagat yang spesifik/ mendetail. Misalnya, suatu teori tentang multi-jagat di mana tidak ada satu pun jagat yang memiliki oksigen, atau suatu teori tentang multi-jagat yang memprediksi bahwa tidak satu pun dari alam semesta yang ada di dalamnya memiliki sifat-sifat yang dapat diamati di bumi. Mengutip penjelasan Tegmark, menurut Kragh, kedua contoh tersebut dapat dengan mudah difalsifikasi dan pasti akan membuat multi-jagat terbukti salah.[14] Di lain pihak, mereka yang setia mendukung skema multi-jagat pada umumnya berpendapat bahwa falsifikasi Popperian bukan satu-satunya cara untuk melegitimasi suatu kebenaran.

George Ellis, kosmolog terkenal dari Afrika Selatan, menilai bahwa pembelaan atas hipotesis multi-jagat sangat berbahaya bagi sains. Menyelidiki sesuatu di luar batas kemampuan observasi kemungkinan besar menyesatkan. Ellis menyatakan bahwa keanantaan alam semesta yang memungkinkannya untuk menampung suatu multi-jagat ananta disalahartikan sebagai angka yang terlampau besar. Seharusnya, keanantaan adalah suatu keadaan yang tidak bisa dicapai (unattainable state[15]), atau dengan kata lain, suatu kemustahilan. Teori inflasi yang dinilai paling masuk akal untuk menjelaskan asal mula multi-jagat juga belum merupakan suatu teori yang baku. Kalau teori inflasi saja masih sebatas hipotesis, apalagi skema multi-jagat. Dengan demikian, ia bersikeras, multi-jagat bukanlah sains. Multi-jagat mungkin ada benarnya, tetapi tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Ellis bertanya, “Mana yang lebih penting dalam kosmologi, teori (penjelasan) atau observasi (pengujian terhadap realitas)?” Tampaknya, hipotesis multi-jagat mendahulukan teori atas observasi. Dengan cara seperti itu, tentunya seseorang bisa menjelaskan apa saja secara sah. Sesuatu yang tidak mentak bisa dibuat seolah-olah mentak.

Dalam artikelnya, Kragh menjelaskan kegelisahan Ellis bahwa dengan menerima kebenaran spekulasi multi-jagat, manusia memasuki kembali era “mitos kosmologi”, suatu era di mana cerita-cerita bisa menjelaskan realitas, tetapi tidak pernah bisa dibuktikan.[16] Ellis memberikan suatu analogi:

Saya bisa menyatakan bahwa terdapat banyak macan tutul yang bersembunyi di pegunungan Skotlandia. Mereka sangat pemalu sehingga mereka bersembunyi dan tidak ada seorang pun yang pernah melihat mereka. Akan tetapi, Anda bisa mengatakan bahwa mereka ada karena setiap tahun ada domba-domba yang hilang tanpa jejak. Saya bisa membuat sebuah proyek yang akan meneliti statistik hilangnya domba-domba di Skotlandia selama 50 tahun terakhir, dan dengan demikian membuktikan keberadaan macan tutul pegunungan yang langka.[17]

Di lain pihak, para pendukung multi-jagat juga memiliki argumennya. Astrofisikawan Martin Rees mengungkapkan bahwa terdapat “transisi yang kabur antara apa yang bisa diamati secara langsung dan apa yang secara ketat tidak dapat teramati.”[18] Oleh karena itu, pertanyaan mengenai ada-tidaknya jagat lain tetap merupakan urusan sains. Lebih lanjut, menurut Rees, soal pembuktian mengenai kebenaran multi-jagat tinggal menunggu ditemukannya alat-alat yang canggih. Rees berketetapan bahwa perkara teramati atau tidak hanyalah segi kuantitatif (cepat atau lambat, fungsi waktu) yang tidak akan mengubah status epistemologis benda-benda angkasa.

Keragu-raguan terhadap multi-jagat sebagai sesuatu yang ilmiah sebenarnya juga berpangkal pada keragu-raguan terhadap kosmologi sebagai bagian dari sains-empiris. Kosmologi selalu tampak beririsan dengan metafisika. Memang benar bahwa semenjak kelahiran Teori Relativitas Umum 1915, kosmologi mendapatkan landasan matematisnya yang kokoh. Di sekitar tahun 1920, penemuan bahwa alam semesta memuai juga memberikan kosmologi fondasi empirisnya. Akan tetapi, tidak akan pernah ada orang yang bisa bereksperimen dengan alam semesta serta mengujinya secara ilmiah. Dengan demikian, fisikawan konservatif selalu menempatkan kosmologi di luar sains akibat cirinya yang spekulatif.

Keberadaan asas antropik Brandon Carter (1974) semakin membuat mereka puas dengan posisi mereka. Asas ini menganggap bahwa alam semesta mengandung kebetulan-kebetulan yang tertala sehingga memungkinkannya menjadi seperti sekarang ini, sebagai tempat para manusia mengada. Kendati tidak bisa diuji secara fisik, asas antropik tetap menggiurkan, terutama dalam tafsir-tafsir yang telah melampaui definisi Carter sendiri. Misalnya, argumen yang secara matematis-fisis menyatakan bahwa terdapat konstanta-konstanta di alam yang tetap dan seakan-akan menjadi “resep” untuk menghadirkan manusia di bumi ini.

Rees mengatakan bahwa terdapat tiga reaksi terhadap kemungkinan adanya ketertalaan-halus di alam semesta, “Kita bisa mengabaikannya sebagai suatu kebetulan belaka; kita bisa merayakannya sebagai karya penyelenggaraan Ilahi; atau (kecenderungan saya) kita bisa menerka bahwa alam semesta kita adalah daerah terpilih di dalam suatu multi-jagat yang masih lebih luas.”[19] Minat yang berkembang atas skema multi-jagat mendorong orang kembali memikirkan bahwa asas antropik dapat memiliki penjelasan fisika. Oleh karena itu, multi-jagat sering dianggap sebagai justifikasi terhadap asas antropik. Bagi para fisikawan garis keras, multi-jagat mungkin belum sepenuhnya ilmiah, tetapi paling tidak lebih disukai daripada kehadiran seorang Pencipta yang menala semesta. Carr mengutip Neil Manson (2003) yang mengeklaim bahwa “multi-jagat adalah pilihan terakhir para ateis yang putus asa.”[20]

Meskipun begitu, skenario multi-jagat juga menarik bagi para pendukung asas antropik yang teistik karena membuat mereka semakin yakin bahwa Tuhan diperlukan untuk merancang multi-jagat. Dalam kacamata teistik, Tuhan selalu dipandang sebagai seorang Pencipta yang memiliki kreativitas tanpa batas. Oleh karena itu, keberadaan jagat majemuk yang ananta dan harmonis cocok dengan sifat Tuhan yang mahakuasa itu. Hal ini terlukiskan dengan indah dalam kata-kata Giordano Bruno yang dikutip Robin Collins mengenai bagaimana “Tuhan dimuliakan… tidak hanya di satu bumi, tetapi ribuan, kataku, dalam dunia-dunia ananta.”[21] Sehubungan dengan asas antropik, multi-jagat menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai pilihan ketika menciptakan alam semesta ini.

Namun demikian, menurut Carr, pada kenyataannya sains tidak akan pernah dapat membuktikan atau menyangkal keberadaan Tuhan karena isu tentang “Tuhan” bukanlah cakupan sains. Keyakinan akan eksistensi Tuhan pastilah berasal dari “dalam” diri manusia, bukan dari “luar”.[22] Martin Rees menambahkan bahwa pertanyaan mengenai mengapa segala sesuatu ada daripada tidak ada, atau mengapa terdapat suatu alam semesta atau multi-jagat, pastinya adalah ruang kajian metafisika.[23]

Pada akhirnya, Carr menilai multi-jagat sebagai tanda kemajuan ilmu pengetahuan.[24] Secara historis, menurut Carr, alam semesta selalu membesar dalam cakrawala pemahaman manusia. Dalam perkembangan dari tahap geosentris, heliosentris, galaktosentris telah terdapat suatu masa di mana para ilmuwan konservatif mengatakan “Ini bukan sains” terhadap penemuan-penemuan baru dalam telaah alam semesta.

Dalam Astronomy and Geophysics, Carr mengutip Auguste Comte yang pernah berkomentar bahwa komposisi kimia Alam Semesta tidak bisa dipelajari. Oleh karena itu, menurut Comte, ruang lingkup filsafat positif hanya berada di dalam tata surya karena Alam Semesta secara keseluruhan tidak bisa diakses oleh sains manapun. Akan tetapi, Comte tidak sempat menjadi saksi dari kelahiran spektroskopi Gustav Kirchoff yang mampu menunjukkan elemen kimiawi melalui garis-garis hitam dalam spektrum matahari. Oleh karena itu, ketika ada orang yang menolak multi-jagat, ia hanya mengulang kekeliruan yang dibuat para ilmuwan konservatif di masa lalu. Bagi Carr, mereka yang menolak hipotesis multi-jagat berada di sisi sejarah yang salah.

  1. Menembus Batas-Batas Netra

Tulisan ini diawali dengan pertanyaan, apakah multi-jagat ada dan bisa dikatakan sebagai sains? Diskursus mengenai kebenaran adanya multi-jagat belum menemukan tanda titik. Ditinjau secara historis dari Yunani kuno sampai dengan abad XXI, skema multi-jagat tampak seperti rajutan sains, metafisika, teologi, dan fiksi ilmiah.

Di satu sisi, keberadaan multi-jagat menggugat fondasi sains empiris, tetapi di sisi lain menunjukkan imajinasi manusia yang tidak terbendung oleh penemuan-penemuan yang sudah ada. Di satu pihak, multi-jagat belum dapat teruji dengan falsifikasi Popperian, tetapi di lain pihak sudah menyediakan jawaban filosofis/metafisis yang dinilai masuk akal untuk menjelaskan asas antropik. Berhadapan dengan teologi, skenario multi-jagat dapat memuaskan para ateis maupun teis.

Berbicara tentang multi-jagat adalah suatu petualangan intelektual di antara tegangan-tegangan. Persis inilah yang juga yang mencirikan kosmologi sebagai ilmu yang mengkajinya. Kosmologi berdiri dengan lebih dari satu kaki, tidak murni hitam atau putih, tidak murni empiris atau metafisis, tetapi menelaah alam semesta secara menyeluruh. Tidak mengherankan bahwa kosmologi terus menggugah manusia untuk berpikir mengenai tempatnya di jagat raya ini dan menginspirasinya sehingga mau melampaui batas-batas netra, mengarungi lautan bintang, menembus jagat majemuk, bahkan sampai menuangkan segala ketakjubannya dalam karya-karya seperti komik dan film fiksi ilmiah.


Catatan Akhir:

[1] Edward Robert Harrison, Cosmology: The Science of the Universe, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 2000), 13.

[2] George Gale, “Multiple Universes,” in Cosmology: Historical, Literary, Philosophical, Religious, and Scientific Perspectives, ed. Norriss S. Hetherington (New York, NY: Routledge, 2008), 534.

[3] Helge Kragh, “Contemporary History of Cosmology and the Controversy over the Multiverse,” Annals of Science 66, no. 4 (2009): 537.

[4] Bernard Carr, “Introduction and overview,” in Universe or Multiverse?, ed. Bernard Carr (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 7.

[5]  istilah ‘ananta’ berarti ‘tak terhingga’

[6] Steven J. Dick, “Plurality of Worlds,” in Cosmology: Historical, Literary, Philosophical, Religious, and Scientific Perspectives, ed. Norriss S. Hetherington (New York, NY: Routledge, 2008), 517.

[7] Gale, “Multiple,” 536.

[8] Kragh, “Contemporary,” 535.

[9] Kragh, “Contemporary,” 536.

[10] Delia Perlov and Alex Vilenkin, Cosmology for the Curious (Cham, Switzerland: Springer, 2017), 344.

[11] Bernard Carr, “Universe or multiverse?,”  Astronomy and Geophysics 49, issue 2 (2008): 2.29–2.31.

[12] Carr, “Introduction,” 14–16.

[13] Carr, “Introduction,” 14.

[14] Kragh, “Contemporary,” 542.

[15] George Ellis, “Opposing the multiverse,” Astronomy and Geophysics 49, issue 2 (2008): 2.33–2.35.

[16] Kragh, “Contemporary,” 550.

[17] Ellis, “Opposing,” 2.35

[18] Martin Rees, “Other Universes: A scientific persepective,” in God and Design: The Teleological Argument and Modern Science, ed. Neil A. Manson (New York, NY: Routledge, 2003), 214

[19] Rees, “Other,” 212.

[20] Carr, “Introduction,” 16.

[21] Robin Collins, “The multiverse hypothesis: a theistic perspective,” in Universe or Multiverse?, ed. Bernard Carr (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), 461.

[22] Carr, “Introduction,” 17.

[23] Rees, “Other,” 220.

[24] Bernard Carr, “Defending the multiverse,” Astronomy and Geophysics 49, issue 2 (2008): 2.36.


Daftar Pustaka

Carr, Bernard. “Introduction and overview.” In Universe or Multiverse?, edited by Bernard Carr, 3–28. Cambridge: Cambridge University Press, 2007.

______. “Universe or multiverse?.”  Astronomy and Geophysics 49, issue 2 (2008): 2.29–2.33.

______. “Defending the multiverse.” Astronomy and Geophysics 49, issue 2 (2008): 2.36–2.37.

Collins, Robin “The multiverse hypothesis: a theistic perspective.” In Universe or Multiverse?, edited by Bernard Carr, 459–480. Cambridge: Cambridge University Press, 2007.

Dick, Steven J. “Plurality of Worlds.” In Cosmology: Historical, Literary, Philosophical, Religious, and Scientific Perspectives, edited by Norriss S. Hetherington, 515–532. New York, NY: Routledge, 2008.

Ellis, George. “Opposing the multiverse,” Astronomy and Geophysics 49, issue 2 (2008): 2.33–2.35.

Gale, George. “Multiple Universes.” In Cosmology: Historical, Literary, Philosophical, Religious, and Scientific Perspectives, edited by Norriss S. Hetherington, 533–545. New York, NY: Routledge, 2008.

Harrison, Edward Robert. Cosmology: The Science of the Universe. 2nd ed. Cambridge: Cambridge University Press, 2000.

Kragh, Helge. “Contemporary History of Cosmology and the Controversy over the Multiverse.” Annals of Science 66, no. 4 (2009): 530–551.

Perlov, Delia, and Alex Vilenkin. Cosmology for the Curious. Cham, Switzerland: Springer, 2017.

Rees, Martin. “Other Universes: A scientific persepective.” In God and Design: The Teleological Argument and Modern Science, edited by Neil A. Manson, 211–233. New York, NY: Routledge, 2003.

Facebook Comments

Author