spot_img
More

    Nietzsche dan Totalitas Sains: Sebuah Upaya untuk Mengamputasi Realitas

    Featured in:

    Layaknya seniman, manusia selalu berusaha untuk mencipta dan berkreasi secara aktif. Hidup sudah selalu merupakan upaya untuk menafsirkan dan memahami realitas dalam setiap persentuhan kembali dengannya secara terus menerus—setidaknya, demikian lah kira-kira apa yang terkandung dalam aspirasi Friedrich Nietzsche. Pergumulan tersebut beranjak dari kebutuhan manusia atas suatu hal yang lebih mendasar, yakni: untuk bertahan hidup (survival). Maka, untuk bertahan adalah untuk berdansa dengan kehidupan. Namun, persentuhan dengan kenyataan tersebut bukannya terbebas dari segala problem dan dilematika. Manusia tak selamanya sadar bahwa mereka sedang berhadapan dan bertemu ingat dengan apa yang berada di luar “aku”—kebanyakan justru hanya menerimanya begitu saja (taking for granted) dan tak lagi mengajukan pertanyaan mendasar seperti “apa” dan bagaimana “bagaimana”. Kenyataan telah membeku dan tak lagi mengalir layaknya sungai Herakletian.

    Salah satu hal yang membeku dalam aliran sungai sejarah tersebut adalah ilmu pengetahuan atau sains. Pada kenyataan hari ini, sains memiliki kedudukan amat penting sebagai fondasi bangunan peradaban manusia—yang tanpanya, peradaban modern bukan lagi sesuatu hal yang mungkin. Sains terbukti telah berhasil meningkatkan keseluruhan taraf hidup manusia melalui penciptaan dan perkembangan teknologi, efisiensi proses produksi dan distribusi, pemudahan jalur komunikasi dan informasi, dsb. Namun, dominasi sains dalam segala aspek kehidupan manusia pada nyatanya toh telah sampai mengakar pada alam pikiran tiap individu, dan hal ini telah menyebabkan penyempitan horizon pandang manusia terhadap kenyataan itu seutuhnya. Sains telah menampuk dirinya sebagai juru bicara atas kenyataan satu-satunya, dan disini lah persoalan muncul. Maka dari itu, upaya untuk menggugat kedudukan sains secara radikal menjadi perlu. Dalam pembahasan kali ini, penulis akan mengangkat pandangan Friedrich Nietzsche, dan bagaimana ia melalui teori filsafatnya dapat menggugat posisi sains sebagai juru bicara kenyataan.

    Kehendak Manusia

    Nietzsche memaparkan bahwa, sebelum kelahiran filsafat, manusia senantiasa berupaya untuk mencari kepastian sebagai sebuah bentuk pengobatan atas rasa “sakit” yang timbul dalam proses persentuhannya dengan realitas. Rasa “sakit” yang dimaksud di sini bukanlah suatu rasa yang bersifat fisikal sebagaimana yang dialami seseorang tatkala terluka (misalnya setelah terjatuh dari sepeda atau tertusuk duri), melainkan sebuah respons psikologis atas permasalahan diri individu dalam menghadapi realitas itu sendiri. Rasa sakit itu tak lain merupakan sifat lemah dari “kehendak” (will) individu dalam menghadapi ketidakpastian kenyataan. Perlu dijelaskan, bahwa terma “kehendak” (will) yang dimaksud dalam peristilahan teoritis Nietzsche di sinidengan mengembangkan konsep “kehendak” dari pemikiran Arthur Schopenhauerdapat dipahami sebagai inti atau esensi terdalam manusia melampaui upaya investigasi empiris ataupun deskripsi melalui bahasa. Namun secara umum, kita dapat memahami kehendak sebagai satu-kesatuan menyeluruh atas segala unsur dari diri manusia, termasuk di antaranya unsur organis-biologis, mental-psikologis, rasionalitas beserta perangkat epistemiknya,dsb.—yang seluruhnya membentuk sebuah subjektifitas yang utuh bagi individu manusia.1

    Adalah kebutuhan akan pegangan yang kemudian menuntun manusia sebagai sebuah dorongan untuk mencari sebuah kepastian di hadapan realitas. Melalui ini lah kita dapat memahami bagaimana dalam sejarah peradabannya, orang-orang pada zaman dahulu kemudian bersentuhan dengan “metafisika tradisional”, seperti misalnya mitos, takhayul, kepercayaan mistis, serta agama. Setelah kelahiran dan perkembangan filsafat sekalipun, manusia pada nyatanya tidak dapat terlepas dari upaya pencarian jawaban yang bersifat spekulatif-naif, yakni dalam arti mengadakan sesuatu entitas atas dasar kebutuhan akan kepastian itu sendiri yang tidak lagi ditelaah secara terus menerus. Entitas metafisik itu lah yang kemudian tercerabut dari akar historisnya dan kemudian berakhir menjadi sebuah tradisi yang diterima begitu saja (taken for granted)—atau dengan kata lain, menjadi sebuah dogma. Dogmatisme pun merupakan karakter utama dari metafisika tradisional. Persoalan tersebut dapat terlihat secara dominan dalam pergumulan filosofis para intelektual-filsuf sebelum abad Pencerahan (Aufklärung) yang seringkali berfokus, dalam ungkapan Kant, pada isi atau materi dari pengetahuan dan bukannya pada kondisi kemungkinan bagi pengetahuan yang absah itu sendiri. Dengan demikian, metafisika dalam bangunan sistem filsafat menjadi sebuah dogma yang berakar pada kepercayaan naif oleh karena dorongan lemahnya kehendak individu.

    Nietzsche pun berpandangan, apa yang telah dengan penuh semangat dijelaskan oleh Comte dan jajaran pemikir Pencerahan lainnya di atas adalah sebuah mimpi di siang bolong. Artinya, kecenderungan manusia untuk percaya tidaklah hilang oleh kehadiran sains, bahkan manusia saintifik itu tidak jauh berbeda dengan kaum-kaum agamis dan metafisis.

    Menuju Pencerahan

    Dengan hadirnya Pencerahan (Aufklärung) di sekitar abad ke-18 Eropa, kebutuhan akan pegangan menuntun manusia untuk kemudian beralih pada ilmu pengetahuan atau sains untuk membebaskan diri mereka dari belenggu takhayul agama dan metafisika tradisional. Salah satu fenomena peralihan paling monumental dalam hal ini yakni pendobrakan kredo teologi Gereja Katolik melalui revolusi Kopernican. Para pemikir di zaman tersebut berpandangan bahwa agama dan metafisika adalah sebuah kesalahan infantil, bahwa segala bentuk kepercayaan adalah sesuatu yang irasional dan harus dibuang demi kemajuan umat manusia. Salah satu pemikir yang lahir dari semangat Pencerahan tersebut adalah Auguste Comteseorang yang amat menaruh rasa optimis terhadap kemajuan sejarah dengan sains sebagai panglimanya.

    Dalam pandangannya mengenai gerak sejarah peradaban manusia, Comte mengungkapkan bahwa, “pada awal sejarah ini, manusia mencari sebab untuk segala sesuatunya pada kuasa-kuasa ilahi yang di luar manusia. Selanjutnya, pada zaman tengah, manusia mulai meninggalkan kuasa mitis tersebut, dan mulai mengabstrakkan sebab akhir dalam konsep-konsep metafisis. Penyebab akhir bukan lagi sesuatu yang secara sewenang-wenang ada di luar manusia, melainkan sesuatu yang bisa dia pikirkan dan dia analisis secara rasional dalam konsep-konsep abstrak.”2 Setelah zaman-zaman tersebut berlalu, akan tiba suatu masa di mana duniameminjam peristilahan Max Webermengalami disenchantment, yakni ketika realitas ditelanjangi dari segala unsur magis dan metafisisnya3. Masa tersebut adalah masa manakala Comte hidup—tatkala revolusi Prancis mengubah secara radikal segala tatanan kehidupan, dengan gaung yang bahkan terdengar hingga ke seluruh Eropa dan bahkan melampauinya. Maka, “sains dan hukum-hukum positifnya yang bisa dibuktikan secara kasat mata dan bisa menjelaskan dengan eksak mekanisme penyebaban di alam semesta ini menjadi era baru manakala manusia percaya pada dirinya sendiri. Manusia rasional yang tercerahkan tidak lagi mencari-cari sesuatu di luar dirinya, melainkan percaya pada apa yang ada di dalam dirinya sendiri.”4

    Namun apa yang dimaksud dengan sains? Meski hingga kini belumlah ada garis pembatas yang jelas dan diterima secara mendunia atas definisi sains, kita dapat memahaminya sebagaimana berikut: sains dapat dipahami sebagai bentuk khusus (species) dari pengetahuan (knowledge)—sebagai bentuk yang lebih umum (genus)—, yang memiliki tiga ciri untuk dapat diklasifikasikan sebagai sains (science), yaitu:

    1. objek ontologis sains adalah segala sesuatu yang berada dalam ranah pengalaman empiris manusia;
    2. landasan epistemologis sains adalah metode ilmiah (logicohyphotetico-verification); dan
    3. landasan aksiologis sains adalah kemanfaatan bagi manusia.5

    Dengan demikian, segala pengetahuan yang memiliki tiga ciri khusus di atas dapat disebut ilmu pengetahuan atau sains, atau berhak dikatakan bersifat saintifik”. Dalam beberapa pandangan, ilmu pengetahuan sendiri dapat dipahami sebagai selain merupakan bentuk lebih umum dari sains, juga merupakan bentuk khusus dari pengetahuan (knowledge). Dalam diskursus umum di Indonesia, pembagian ini disebabkan oleh pengklasifikasian istilah “pengetahuan” yang terdiri dari “pengetahuan yang tidak terstruktur” dan “pengetahuan yang terstruktur”. “Pengetahuan tidak terstruktur” bisa disebut “pengetahuan biasa” (common sense), sedangkan “pengetahuan yang terstruktur” disebut dengan “ilmu pengetahuan”.6 Maka dalam struktur relasi antara pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan sains adalah berlapis tiga dengan pengetahuan merupakan bentuk paling umum, sedangkan sains adalah bentuk paling khusus. Hal ini berbeda dengan misalnya di dalam bahasa Inggris, di mana kita mengenal pembagian istilah menjadi dua saja, yaitu pengetahuan (knowledge) dan sains (science). Hal ini tentunya oleh karena latar belakang tradisi di belahan dunia non-Eropa yang tidak menyusuri trajektori sejarah perkembangan ilmu yang sama selayaknya peradaban Barat, dengan model sains yang sangat menitik-tekankan unsur empiris-analitis. Namun, sebagaimana tidak adanya indikator yang jelas terkait pendefinisian sains untuk menghindari perdebatan identitas dan tradisi dikotomi Barat-Timur, pembahasan sains di sini akan dibatasi sejauh pemahaman terhadap sains sebagaimana yang dipaparkan di awal.

    Agama dalam Bentuk Baru

    Bagi Nietzsche, kepercayaan bukan hanya menyangkut perihal religiusitas (religiosity) pada doktrin agama maupun tradisi mistis. Kebutuhan akan pegangan dalam diri manusia mendorong kita untuk mencari sesuatu untuk dipercaya. Dengan kata lain, kebutuhan akan pegangan tak lain dalam hal ini adalah kebutuhan untuk percaya sebagai mekanisme penghendakan dalam diri subjek. Oleh karena itu, kepercayaan dapat melingkupi berbagai hal: agama, sains, ideologi politik, bahkan ateisme—yakni kepercayaan terhadap ketidakadaan Tuhan. Maka dari itu, sikap fanatik dapat ditemukan pada kalangan manapun, baik kaum agamawan yang percaya pada Tuhan maupun kaum ateis yang menyatakan dirinya tak percaya kepada Tuhan—termasuk dalam hal ini adalah kaum saintifik. Sains, tanpa pernah atau jarang kita sadari, adalah salah satu bentuk pegangan atau objek kepercayaan tersebut. Pendefinisian ulang atas laku mempercayai, dengan demikian, menjadi krusial dalam upaya kita untuk memahami gugatan terhadap sains.

    Nietzsche pun berpandangan, apa yang telah dengan penuh semangat dijelaskan oleh Comte dan jajaran pemikir Pencerahan lainnya di atas adalah sebuah mimpi di siang bolong. Artinya, kecenderungan manusia untuk percaya tidaklah hilang oleh kehadiran sains, bahkan manusia saintifik itu tidak jauh berbeda dengan kaum-kaum agamis dan metafisik. Mereka yang menjadikan sains sebagai pegangan juga terbelenggu oleh sebuah bentuk kepercayaan, yaitu kepercayaan terhadap sains. Sains telah menjadi agama dalam bentuk baru. Hal ini kemudian terbukti dalam bentuknya yang paling gamblang dengan berdirinya Gereja Saintologi di Amerika Serikat pada pertengahan abad lalu. Kepercayaan terhadap sains telah menjelma menjadi iman dengan sains layaknya Tuhan dalam doktrin agama. Nietzsche mengatakan:

    “…Beberapa orang masih membutuhkan Metafisika; tetapi, secara deras luar biasa, keinginan akan kepastian meledak di kalangan massa saat ini dalam bentuknya yang saintifiko-positivistik. Ada keinginan hendak memiliki sesuatu yang stabil secara absolut dan dalam gelegak panas keinginan itu sendiri biasanya kita lalu tidak terlalu memperhatikan soal argumen yang seharusnya mendasari kepastian itu sendiri. Sekali lagi, itu semua adalah saksi akan kebutuhan sebuah pegangan, kebutuhan akan sandaran.”7

    Di hadapan sains yang berpretensi untuk menemukan segala sesuatu secara objektif dan bebas kepentingan (interest free), ada upaya penyensoran secara intens terhadap apa pun dari segala bentuk kepercayaan, praduga, kecurigaan, maupun interpretasi-interpretasi psikologis lainnya, sehingga sains secara terang-terangan menunjukkan dirinya ingin melepaskan diri dari subjektivitas serta segala nilai yang menyertainya. Upaya penyensoran sains memaksa praduga-praduga tersebut untuk tunduk pada tuntutan saintifik, atau paling tidak, merendahkannya hingga sebatas hipotesis belaka. Sains telah menyatakan dirinya sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran yang universal, objektif dan pasti, dan oleh karena itu manusia harus tunduk padanya—bahkan Tuhan sekalipun.

    Namun sesungguhnya, di balik upaya penyensoran tersebut terdapat keyakinan diam-diam lain yang secara imperatif menginginkan dirinya menjadi satu-satunya instrumen untuk menafsirkan realitas. Dengan kata lain, ada sebuah kehendak akan interest free, kehendak akan objektivitas yang tak lain dan tak bukan adalah sebuah bentuk keyakinansebuah kepercayaan juga. Nietzsche melihat bahwa dalam sains ada sebuah kehendak absolut yang memaksakan metode saintifik pada segala hal, sedangkan ia sendiri lolos dari tuntutan prosedural kesaintifikan itu sendiri. Dengan tajam Nietzsche memperlihatkan di sini kontradiksi klaim sains: ia menginginkan dominasi rasio objektif, sedangkan ternyata keinginan itu sendiri berasal dari sesuatu yang tidak rasional dan tidak objektif, sebuah kepercayaan yang mendahului prosedur saintifik itu sendiri. Dengan kata lain, di belakang sains ada sebuah konstruksi metafisik dan ide moral—sebuah “agama”—yang bertindak sebagai hakim kebenaran.

    Fiksasi Realitas

    Kebutuhan untuk percaya menggerakkan manusia untuk mengidealkan sebuah konsepsi atas dunia dan kemudian mengkonstruksi realitas sebagaimana yang kita butuhkan, yakni yang terwujud dalam kehendak mati-matian akan kebenaran dalam sains. Idealisasi tersebut mendorong manusia untuk kemudian menolak dunia sebagaimana apa adanya dan cenderung beralih pada dunia oposisi yang sebagaimana dalam metafisika tradisional dinarasikan sebagai dunia yang lebih riil, lebih sejati, lebih kekal, dan lebih sempurna. Kelemahan kehendak pada diri manusia seringkali mendorong kita untuk kabur pada dunia yang kita imajinasikan—entah ia terletak jauh di masa pasca-kematian maupun di masa kini—alih-alih menghadapi dengan lapang dada dunia sebagaimana adanya. Sikap tersebut, dalam kata lain, adalah sebuah bentuk eskapisme.

    Nietzsche pun menganjurkan kita untuk bersikap bijaksana, yakni untuk tidak mengiyakan atau menidakkan sesuatu secara terburu-buru di hadapan realitas, sebuah kewaspadaan sudut pandang yang berjarak.

    Realitas itu sendiri bagi Nietzsche—sebagaimana pandangan Herakleitos yang daripadanya ia terinspirasi—bersifat kaotis dan majemuk, sebuah hasil dari proses pertentangan abadi yang bersifat terus menerus, dan maka dari itu bersifat dinamis. Kemajemukan realitas tersebut kemudian disederhanakan dengan cara dipilah-pilah secara arbitrer, untuk kemudian diamputasi oleh kecenderungan manusia untuk membentuk sebuah idée fixe (ide yang fiksatif atau membeku).8 Ide tersebut diidentifikasi secara fixed, dipejalkan dan dimampatkan sebagai yang akhir atau final dari realitas yang seyogyanya tidak bisa dipejalkan maupun dimampatkan dalam sebuah ide yang membeku, yang bagi sebagian kaum agamawan dikatakan sebagai yang-ilahi. Fiksasi ide pada akhirnya menuntun manusia pada fiksasi realitas, manakala realitas yang majemuk dan dinamis diamputasi menjadi realitas yang hitam-putih dan membeku oleh imajinasi kita. Sains—seperti halnya metafisika tradisional—kerap kali memperlakukan realitas secara sewenang-wenang. Ia memilah dan membelahnya secara tajam demi sebuah finalitas yang kemudian didukung oleh berbagai idée fixe yang luhur.

    Penghendakan realitas secara separuh bahkan telah mengakar dalam tradisi sosial-masyarakat. Bagi Nietzsche, hal ini dapat dilihat dalam sejarah peradaban Eropa, manakala institusi Gereja Katolik telah membentuk sebuah logika beragama yang mendidik orang-orang untuk terbiasa tidak mau salah. Seseorang dibiasakan secara rigor untuk mencari sebuah kepastian secara terburu-buru dengan menyingkirkan segala kekeliruan. Maka dari itu, realitas dari kacamata orang-orang Eropa abad pertengahan dikehendaki secara separuh, yang berujung pada reduksi atas realitas yang majemuk. Kepastian yang berwujud kebenaran final tersebut kemudian terlepas dari status ilahinya melalui Pencerahan, dan kemudian dicari serta diupayakan oleh sains dengan rigoritas yang sama. Semangat metodologis tersebut pada akhirnya melahirkan metode saintifik modern dan—sebagaimana yang Nietzsche ungkapkan—justru semangat saintifiko-positivistik tersebutlah yang pada akhirnya “membunuh Tuhan”.

    Tradisi Kristen-platonik yang telah selama ratusan tahun mengalir dalam nadi masyarakat Eropa secara perlahan berusaha untuk menghabisi Tuhan yang selama itu pula mereka puja, dan dengan naiknya sains pada takhta isme-isme di dunia modern, manusia tanpa sadar kemudian membunuhNya. Tanpa sains, kita adalah sama halnya dengan orang-orang pra-modern yang kehilangan arah tatkala berhala-berhala mereka dihancurkan, ataupun ketika mereka dirundungi rasa takut dalam menghadapi fenomena alam seperti petir dan gemuruh badai—tatkala kenyataan hadir dalam kemisteriusannya, dan kita harus tunduk dalam ketelanjangan menghadapnya. Nietzsche pun mewartakan kematian Tuhan melalui sebuah alegori: “Tuhan telah mati,” ujar si orang sinting di tengah pasar, “dan kita lah yang membunuhnya.”9Namun Tuhan tidak lah pernah benar-benar mati, ia pada nyatanya hadir dalam bentuk yang lain—yakni dalam rupa sains yang pada hari ini kita puja-puja di balik kelemahan kehendak diri.

    Melampaui Keterbatasan

    Dalam masyarakat modern saat ini, lebih dari satu abad sejak Nietzsche meninggal, terdapat sebuah fenomen yang telah lama diwartakan oleh Nietzsche dalam berbagai risalah filsafatnya. Fenomen ini mengambil wujudnya sebagai saintisme, yaitu ”keyakinan sains pada dirinya sendiri: keyakinan bahwa kita tidak lagi bisa memahami sains sebagai salah satu bentuk pengetahuan yang dapat dicapai, tetapi kita malah lebih harus mengidentifikasi pengetahuan dengan sains.”10

    Kehendak mati-matian akan kebenaran yang terdapat dalam sains telah mengakar sedemikian kuat pada kesadaran manusia modern dan membuat kita terdorong untuk kemudian secara aktif memilah-memilah dan menunjuk secara sewenang-wenang kebenaran-kebenaran yang bersembunyi di balik realitas majemuk yang kusut tersebut. Dengan menyatakan “ini adalah kebenaran” dan “itu adalah kebenaran”, realitas tidak lagi diterima secara utuh, sebab dalam realitas yang kontradiktif tersebut segalanya selalu dalam proses menjadi (becoming). Dalam hal ini, rigoritas saintifiko-positivistik dalam membatasi koridor kebenaran hanya pada realitas-realitas yang bersifat faktual (positif) tak lain adalah sebuah idée fixe yang menuntun manusia secara naif bukan pada kehendak akan kehidupan, melainkan kehendak akan “kematian”—sebuah kesia-siaan yang menanti di ujung pengelanaan sains modern. Maka, melepaskan diri dari belenggu sains—dengan menempatkan ia di tempat yang seharusnya, yakni sebagai salah satu bentuk dari pengetahuan—berarti melepaskan diri dari belenggu kebencian dan ketakutan terhadap hidup itu sendiri.

    Dalam menghadapi fenomena ini, adalah perlu bagi kita untuk kembali menyadari diri sendiri sebagai manusia dengan segala keterbatasan yang ada di hadapan realitas. Nietzsche pun menganjurkan kita untuk bersikap bijaksana, yakni untuk tidak mengiyakan atau menidakkan sesuatu secara terburu-buru di hadapan realitas—sebuah kewaspadaan sudut pandang yang berjarak. Kepercayaan terhadap sesuatu secara naif dapat terwujud baik pada tindakan mengiyakan (afirmasi) maupun menidakkan (negasi), yang keduanya termasuk sikap sewenang-wenang terhadap realitas. Oleh karena itu, dalam setiap upaya penolakan terhadap idée fixe itu sendiri dapat terwujud sebuah fiksasi dalam bentuk baru.

    Kebijaksanaan di hadapan realitas berarti menyadari batas sekaligus ketakterbatasan aspirasi pemikiran, karena manusia dan realitas yang ia hadapi pada dasarnya selalu berada dalam proses saling membentuk dan dibentuksebuah pergumulan abadi. Dengan demikian, kita dapat lebih mengenal diri kita sendiri: sesosok manusia terbatas yang beraspirasi pada ketakterbatasan, yang tidak bersikap naif dan dapat menghargai kehidupan secara utuh—yakni dengan senantiasa berbahagia untuk berdansa mengikuti irama-irama kehidupan.


    Catatan akhir:

    1  Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil dalam A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche (Yogyakarta: Kanisius, 2017), hlm. 283-284.

    2  Ibid., hlm.225-226.

    3  Michael Pussey, Habermas: Dasar dan Konteks Pemikiran (Yogyakarta: Resist Book, 2011), hlm. 58.

    4  Op.Cit., A. Setyo Wibowo, hlm. 225-226

    5  Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007), hlm. 293-294.

    6  Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 87.

    7  Friedrich Nietzsche, The Gay Science dalam A. Setyo Wibowo, Op.Cit. hlm. 65.

    8  Op. Cit., A. Setyo Wibowo, hlm, 23.

    9  Ibid., Nietzsche dalam A. Setyo Wibowo, hlm. 334.

    10  Jürgen Habermas, Knowledge and Human Interest dalam Michael Pussey, Op. Cit., hlm. 12.


    Referensi

    Wibowo, A. S. (2017). Gaya Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Kanisius.

    Nietzsche, F. (2018). The Gay Science (Sains Yang Mengasyikkan). Yogyakarta: Antinomi Institute.

    Nietzsche, F. (2003). Beyond Good and Evil diterjemahkan oleh R. J. Hollingdale. London: Penguin Book.

    Suriasumantri, J. S. (2007). Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

    Bakhtiar A. (2013). Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Pers.

    Pussey, M. (2011). Habermas: Dasar dan Konteks Pemikiran. Yogyakarta: Resist Book.

     

    Author

    Find us on

    Latest articles

    spot_img

    Related articles

    Sebuah Hikayat dari Tanah Para Pencari Kebenaran Dunia

    Tulisan ini merupakan potongan dari Laporan Pertanggungjawaban Pemimpin Redaksi LSF Cogito 2022 yang disampaikan pada 11 Februari...

    Ampun, Romo Bertens: Argumen Absolutis Anda Bermasalah

    Buang semua asumsi moral dan pengetahuan yang kita dapat dari peradaban modern ini untuk sementara. Mari bayangkan...

    Polemik Hermeneutis Gadamer dan Habermas

    “Kalau Anda ingin mendengarkan Heidegger dengan lebih mudah, bacalah (tulisan) Gadamer.” Begitulah ucapan Fransisco Budi Hardiman saat...

    Metalearning? Di Balik Cognitive Load Theory

    Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari keberadaan seorang guru dalam melakukan pengajaran. Isu tentang pentingnya keberadaan seorang...

    Kultur Toksik Pengabdian Kampus: Mempertanyakan Kembali Makna Keberlanjutan

    Pengabdian kepada masyarakat merupakan serangkaian pola pikir dan tindakan dengan dasar sukarela untuk membantu korban dari...

    Seni AI dan Artstyle Manusia

    Setiap seniman memiliki gaya mereka sendiri dalam berkarya. Hal tersebut merupakan unsur yang membuat sebuah karya memperoleh...