spot_img
More

    Sebuah Paksaan untuk Menang: Perenungan atas Kontingensi

    Featured in:

    Kemenangan dapat menjadi pengalaman kuat yang dapat menginspirasi perasaan puas dan gembira. Hal itu bisa menjadi puncak dari kerja keras dan dedikasi selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Bagi sebagian orang, kemenangan adalah pengesahan atas usaha mereka dan tanda bahwa kerja keras mereka telah membuahkan hasil. Namun, bagi orang lain, kemenangan bisa sulit dipahami dan pengejarannya bisa menjadi sumber frustrasi dan kekecewaan. Baru-baru ini, saya menerima kekalahan dari dua orang teman saya dalam permainan konsol sepak bola, yaitu e-Football. Saat permainan berakhir, saya merasa kecewa. Pikiran saya mulai kosong dan saya mendapati diri saya mempertanyakan kemampuan saya sebagai pemain. Saya bertanya-tanya, “Apakah saya telah membuat keputusan yang tepat selama pertandingan? Apakah saya dapat melakukan sesuatu yang berbeda untuk mengamankan kemenangan?” Di tengah perasaan resah saya ini, saya akan membahas tentang kemenangan yang saya telaah dari salah satu karya Albert Camus, yaitu The Myth of Sisyphus.

    Nyatanya, kesuksesan sering kali sulit dipahami dan kemenangan tidak pernah dijamin.

    Karya Camus mengeksplorasi konsep absurd, yakni gagasan bahwa pencarian manusia akan makna dan tujuan pada akhirnya sia-sia. Dia berpendapat bahwa alam semesta pada dasarnya tidak berarti dan pencarian makna adalah bentuk penipuan diri. The Myth of Sisyphus, kisah tentang seorang pria yang dikutuk untuk tanpa henti mendorong batu besar ke atas bukit hanya untuk tergelinding kembali, digunakan sebagai metafora untuk kondisi manusia. Dalam konteks kekalahan saya baru-baru ini dalam permainan konsol sepak bola, gagasan Camus tentang hal-hal yang absurd sangat relevan. Mengejar kemenangan, disandingkan seperti mengejar makna, bisa dikatakan sebagai usaha yang sia-sia. Tidak peduli berapa banyak usaha yang kita lakukan, tidak ada jaminan kesuksesan. Nyatanya, kesuksesan sering kali sulit dipahami dan kemenangan tidak pernah dijamin. Gagasan ini bisa membebaskan sekaligus menakutkan. Di satu sisi, itu membebaskan kita dari tekanan untuk terus berjuang meraih kemenangan. Kita dapat melepaskan gagasan bahwa kesuksesan adalah tujuan akhir dan berfokus kepada proses itu sendiri. Kita dapat menemukan kegembiraan dalam pengejaran, bukan hanya hasil akhirnya. Di sisi lain, menyadari bahwa kemenangan bukanlah sesuatu yang terjamin bisa menjadi hal yang mengecewakan. Hal ini bisa terasa seperti kita terus-menerus berjuang keras tanpa harapan untuk mencapai puncak.

    Camus berpendapat bahwa kunci untuk menemukan makna dalam absurditas hidup adalah dengan merangkulnya. Alih-alih mencoba melarikan diri dari yang absurd, kita harus menerimanya dan menemukan kegembiraan dalam perjuangan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Camus (1973, hlm. 74), “The struggle itself towards the heights is enough to fill a man’s heart. One must imagine Sisyphus happy.” Gagasan ini juga dapat diterapkan pada pengejaran kita akan kemenangan. Kita bisa menemukan kegembiraan dalam perjuangan itu sendiri, alih-alih hanya berfokus kepada tujuan akhir. Kita dapat menghargai upaya yang dilakukan dalam setiap permainan, setiap passing, dan setiap tackle. Kita dapat menikmati tantangan untuk mencoba mengakali lawan kita. Namun, dalam permainan yang menuntut kita untuk berada di dalam kubu yang sama dengan lawan kita, kita harus rela dan bekerja sama sebagai sebuah tim. Tentu saja, ini lebih mudah untuk diucapkan daripada dilakukan. Kehilangan bisa menjadi pengalaman yang sulit dan menyakitkan dan juga yang bisa membuat kita putus asa dan kecewa. Namun, gagasan Camus menjadi yang paling penting justru pada saat-saat kekalahan ini. Kita dapat memilih untuk merangkul absurditas situasi, alih-alih memikirkan kerugian. Kita dapat menyadari bahwa kemenangan bukanlah sesuatu yang diberikan begitu saja, bahkan terkadang kita akan kalah meskipun telah berusaha sebaik mungkin. Hal ini tidak berarti bahwa kita harus menyerah untuk mencoba menang. Sebaliknya, itu berarti kita harus fokus kepada proses itu sendiri, bukan hasilnya. Kita harus berusaha untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan kita dalam bermain dan menikmati permainan apa adanya. Kita harus menemukan kegembiraan dalam perjuangan, bahkan ketika kemenangan tampak di luar jangkauan.

    Kontingensi kehidupan membuka jalan bagi berbagai fenomena di masa depan yang bisa saja membahagiakan atau tidak sama sekali.

    Dalam banyak hal, gagasan Camus tentang kemenangan adalah pengingat bahwa pengejaran kita akan kesuksesan sering kali didorong oleh tekanan dan tuntutan masyarakat daripada keinginan dan motivasi kita sendiri. Kita diberi tahu bahwa menang adalah segalanya dan merupakan nilai kita sebagai individu. Namun, pada kenyataannya, kemenangan hanyalah salah satu aspek dari gambaran yang jauh lebih besar. Kita perlu mengingat bahwa kita lebih dari sekadar akumulasi jumlah kesuksesan dan kegagalan kita. Selain itu, filsafat Camus dapat membantu kita mengatasi kemunduran dan kekecewaan yang tak terelakkan yang datang dengan pengejaran apa pun. Baik itu kalah dalam permainan, gagal dalam ujian, maupun mengalami kemunduran dalam kehidupan pribadi atau profesional kita, kita dapat menggunakan idenya untuk menemukan makna dalam perjuangan kita. Kita dapat menyadari bahwa hidup pada dasarnya tidak masuk akal dan mengejar kesuksesan hanyalah salah satu bagian dari absurditas itu.

    Satu hal perlu diingat ketika kita berbicara mengenai kehidupan, terlebih ketika kita merenungkan kemalangan yang menimpa Sisyphus: kontingensi menjadi tanda bagi kehidupan kita. Kejatuhan yang menimpa diri kita bukanlah akhir dari kebahagiaan, melainkan sebuah titik tolak untuk memperbaiki diri dan menemukan cara baru untuk mengusahakan kebahagiaan. Hal tersebut dikarenakan kontingensi kehidupan membuka jalan bagi berbagai fenomena di masa depan yang bisa saja membahagiakan atau tidak sama sekali. Oleh karena itu, tugas kita ketika kekalahan menimpa adalah mengingat bahwa masa depan layaknya lembaran kosong yang dapat kita tulis dengan kisah apapun. Kewajiban kita selanjutnya adalah mengusahakan yang terbaik agar kisah yang tertulis di masa depan adalah kisah-kisah manis dengan kisah keterpurukan seminimal mungkin. 

    Akan tetapi, sebagaimana disampaikan di atas, pengisian akan kisah-kisah baik tersebut tidak boleh kita jadikan sebagai tujuan utama. Usaha tetap perlu dilakukan dengan asumsi bahwa usaha tersebut akan menghasilkan kebahagiaan, kesuksesan, kemenangan, dan lain-lain, tetapi kita tetap perlu menginsafi bahwa kontingensi lebih berkuasa daripada rencana yang kita buat. Hal tersebut tidak lantas menyiratkan bahwa usaha kita akan sia-sia. Pesimisme jenis ini mengesampingkan keagungan kontingensi. Oleh karena itu, sikap yang perlu diambil adalah berusaha semaksimal mungkin, tetapi tetap menerima dengan lapang dada konsekuensi apapun yang akan diperoleh. Bila nantinya kegagalan diperoleh lagi, kontingensi perlu diingat kembali dan menjadi motivasi untuk mewujudkan hal-hal baik di masa yang akan datang dan demikian seterusnya. 

    Setelah berkaca kepada refleksi di atas sembari mengenangkan kemalangan yang menimpa Sisyphus, setidaknya terdapat satu hal yang dapat kita tangkap: kekalahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sarana untuk memperbaiki diri dan—lebih jauh—memperoleh kemenangan yang lebih besar. Kemenangan tersebut merupakan wujud dari usaha terus menerus yang dilandasi kesadaran bahwa masa depan tidak terbentang layaknya hutan Kalimantan yang lebat dan senantiasa telah terisi, tetapi ia laksana lapangan sepak bola yang menunggu untuk diisi oleh pemain, pelatih, dan strategi yang lebih optimal dari sebelumnya. Lord Illingworth dalam A Woman of No Importance karya Wilde berkata,Every saint has a past, every sinner has a future.” Senada dengan itu: every winner was once a loser, every loser is a future winner.

    Referensi

    Camus, A. (1973). The myth of Sisyphus (O’Brien, J., Penerjemah). London: Hamish Hamilton.

    Wilde, O. (1919). A woman of no importance (edisi ke-8). Project Gutenberg. Diakses pada 24 Mei 2022 dari: https://www.gutenberg.org/files/854/854-h/854-h.htm.

     

    Author

    Find us on

    Latest articles

    spot_img

    Related articles

    Polemik Hermeneutis Gadamer dan Habermas

    “Kalau Anda ingin mendengarkan Heidegger dengan lebih mudah, bacalah (tulisan) Gadamer.” Begitulah ucapan Fransisco Budi Hardiman saat...

    Metalearning? Di Balik Cognitive Load Theory

    Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari keberadaan seorang guru dalam melakukan pengajaran. Isu tentang pentingnya keberadaan seorang...

    Kultur Toksik Pengabdian Kampus: Mempertanyakan Kembali Makna Keberlanjutan

    Pengabdian kepada masyarakat merupakan serangkaian pola pikir dan tindakan dengan dasar sukarela untuk membantu korban dari...

    Seni AI dan Artstyle Manusia

    Setiap seniman memiliki gaya mereka sendiri dalam berkarya. Hal tersebut merupakan unsur yang membuat sebuah karya memperoleh...

    Banal Semakin Binal: Romantika Absurditas

    Absurditas dan Yang-Absurd   Seberapa keras usaha manusia dalam hidup, ia akan tetap menemui kematian sebagai akhir. Namun, manusia...

    Menggugat Artefaktualitas sebagai Kondisi Niscaya Seni (AI)

    Gagasan bahwa karya seni harus merupakan artefak adalah asumsi yang perlu ditilik kembali. Gagasan itu terlihat pada...