Sumber Gambar : Getty Images

Dewasa ini, krisis lingkungan terjadi hampir di seluruh penjuru dunia. Krisis ini merupakan hasil dari tindakan eksploitatif manusia. Eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam di planet bumi datang secara bersamaan dengan Revolusi Industri kurang lebih 200 tahun lalu (Borrong, 2000: 47-49). Dalam bahasa kosmologi, tindakan manusia sudah merusak keseimbangan kosmik. Perlu adanya kesadaran akan pentingnya penjagaan kesimbangan alam semesta agar kelestarian lingkungan sungguh terjamin. Menurut Arne Naess,  sebagaimana dikutip Sonny Keraf, krisis lingkungan dewasa ini hanya bisa diatasi dengan mengubah cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam yang fundamental dan radikal (Keraf, 2002: xvi). Dibutuhkan gaya hidup baru yang membuat manusia lebih mencintai kelestarian alam. Tulisan ini mengambil inspirasi dari materi tentang “kosmo-ekoteologi”. Secara khusus, penulis ingin mendalami keselarasan antara kosmologi kontemporer dan kosmologi lokal “Jawa” sebagai salah satu tambahan untuk memperkaya landasan filosofis etika lingkungan.

Kosmologi kontemporer menekankan dirinya pada keteraturan alam semesta yang memungkinkan manusia dapat hidup, tumbuh, dan berkembang. Kosmologi kontemporer merujuk pada kosmologi Barat yang bercorak empiris. Pada saat yang sama, di bagian Timur (Asia), Jawa khususnya, mempunyai kosmologinya sendiri. Kosmologi Jawa tentu berbeda dengan kosmologi Barat. Kosmologi Jawa lebih menekankan pada basis rasa. Pertanyaan yang ingin penulis dalami dalam tulisan ini adalah: apakah hal yang empiris sebagaimana dipahami oleh orang Barat (kosmologi kontemporer) bisa dipahami oleh orang-orang lokal? Jawabannya tentu saja bisa. Dalam kearifan lokal, orang melihat dan memperlakukan alam secara baik. Kosmologi Jawa sangat menekankan keteraturan dan keharmonisan hidup. Oleh sebab itu, jika masyarakat Jawa ingin hidup damai dan harmonis, mereka wajib menjaga kelestarian lingkungan. Lingkungan hidup menjadi bagian penting dari hidup masyarakat Jawa. Tentu masyarakat Barat dan masyarakat Jawa memiliki cara memahami alam yang berbeda. Kendati demikian, tujuan dan cara mereka memperlakukan alam tetaplah sama, yakni agar alam dan manusia menjadi harmonis dan satu. Dengan demikian, kosmologi Jawa dapat menjadi landasan baru bagi etika lingkungan untuk mengatasi krisis lingkungan.  

Kosmologi Kontemporer

Secara etimologi, kata kosmologi berasal dari kata kosmos yang berarti “keteraturan” “alam semesta”, serta “dunia” (order) dan logos yang berarti “rasio” atau “akal budi”. Secara terminologi, kosmologi dipahami sebagai ilmu yang mempelajari alam (dunia). Kosmologi pertama kali dipakai untuk menggambarkan keteraturan dan keindahan benda-benda langit. Kata “kosmos” digunakan untuk menyebut segala kejadian di alam semesta atau jagad raya yang penuh dengan keteraturan dan keharmonisan (Cox, 1987: 18). Dalam kosmologi, pengertian “alam semesta” secara kritis dimaknai sebagai alam semesta yang didasarkan pada prinsip-prinsip kosmologis. Model-model kosmologi inilah yang menyediakan kaidah atas “ungkapan alam semesta keseluruhan” yang akan dipakai pada setiap tahap penyelidikan ilmiah (Supelli, 2011: 47). 

Karlina Supelli, dalam tulisannya yang berjudul Ciri Antropis Pengetahuan, dalam Dari Kosmologi ke Dialog, menuliskan satu dari tiga alasan kosmologi mampu membantu dalam menyingkap cakrawala intrinsik manusia dalam usaha untuk memahami alam semesta (Supelli, 2011: 23). Tulisan tersebut menjelaskan bahwa kendati kosmologi merupakan bagian dari ilmu-ilmu empirik, ia tidak menghapus tradisi yang melahirkannya, yaitu upaya-upaya mistis, religius, dan filosofisyang bermaksud menjawab kerinduan manusia akan asal-usul alam semesta. Supelli pun menuliskan bahwa kosmos merupakan sebuah kerinduan untuk memahami peralihan realitas tanpa ruang-waktu ke realitas relatif dalam ruang-waktu. 

Kata kosmologi pertama kali dipakai oleh Phytagoras (580-500 SM) untuk menggambarkan keteraturan dan keselarasan benda-benda langit. Meskipun demikian, penggambaran itu masih belum sempurna dan menimbulkan pertanyaan akan sejumlah fenomena benda-benda langit yang belum dipahami dan digambarkan secara tuntas sehingga terus menimbulkan penyelidikan lanjutan. Proses pencarian itu berlangsung terus menerus dan menghasilkan sejumlah model kosmologi sampai dengan kosmologi kontemporer dengan Teori Big Bang.

Kosmologi kontemporer mendasarkan dirinya pada Teori Big Bang dan penalaran antropik. Teori Big Bang, atau Teori Ledakan Dahsyat, membuat kehidupan menjadi mungkin dalam alam semesta melalui adanya prinsip-prinsip mendasar alam semesta. Prinsip-prinsip mendasar ini memungkinkan evolusi berlangsung dari tingkat kehidupan paling rendah sampai yang paling tinggi (berkesadaran reflektif), dan memungkinkan adanya kondisi pendukung untuk menunjang keberlangsungan kehidupan.

Dalam kerangka pemahaman evolusi kosmik yang melibatkan penalaran antropik, manusia, di satu sisi, adalah bagian alami dari alam semesta.

Sains kontemporer tidak dapat membuktikan bahwa evolusi menuju taraf manusia berkesadaran reflektif adalah mutlak. Kosmologi menunjukkan bahwa nyatanya sangat mengherankan bila evolusi dan munculnya manusia berkesadaran reflektif tidak diterima, saat penelitian telah mendasarkan diri pada struktur dasar fenomena alam semesta dan syarat-syarat yang diperlukan agar kehidupan di alam semesta menjadi mungkin. 

Hal ini mengantarkan pengamat pada tilikan bahwa alam semesta seakan-akan “mendukung” munculnya kehidupan. Tentu tidak ada bukti empiris langsung bagi tilikan ini. Namun, evolusi kosmik memperlihatkan bahwa senyawa-senyawa dasar yang berproses menjadi bahan kehidupan adalah hasil sintesis berbagai unsur kimia organik yang melingkupi Bumi awal. Adapun, kondisi tersebut hanya mungkin terjadi karena tersedianya lingkungan permukaan dan nonpermukaan Bumi yang mendukung proses itu. Rantai organik yang terjalin sedemikian rupa oleh tetapan-tetapan alam “yang tepat” pada akhirnya memicu daya-daya hidup. Sekali daya hidup terlepas dan menemukan lingkungan hidup yang sesuai, maka daya-daya hidup tersebut mampu mempertahankan kestabilannya demi keberlangsungan evolusi.

Dalam konteks ini, evolusi dapat dipahami sebagai proses menuju kompleksitas yang semakin tinggi dan berlangsung dalam individu yang mandiri, tetapi tetap dalam hubungan yang erat dengan lingkungan. Dengan kata lain, sementara evolusi didesak oleh daya internal kreatif, ketersediaan lingkungan yang mendukung merupakan hal pokok yang memungkinkan kombinasi molekul yang tepat bisa terus berjalan dengan baik. Lingkungan yang tepat menjadi syarat pokok agar evolusi tetap berjalan dengan baik. Ketika bertemu dengan kondisi-kondisi lingkungan yang menguntungkan, satuan-satuan tersebut memperoleh kesempatan untuk merealisasikan kemungkinan terpendam yang berbeda-beda untuk berkembang ke arah yang lebih kompleks.

Dalam kerangka pemahaman evolusi kosmik yang melibatkan penalaran antropik, manusia, di satu sisi, adalah bagian alami dari alam semesta. Sebab, manusia dilahirkan dari unsur-unsur alami yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Manusia adalah hasil evolusi, hasil pelangsungan dan peningkatan alam melalui daya-daya internal dan eksternal. Di sisi lain, manusia terlibat aktif dalam proses evolusi alamiah tersebut untuk memanusiakan diri dan menjadikan kediriannya semakin tercelikkan dalam proses-proses alam terpahami. Oleh karenanya, manusia bersifat alami dan manusiawi, ia tidak mengatasi alam tetapi merupakan bagian integral dari alam.

Kosmologi Jawa

Kosmologi Jawa merupakan konsep mengenai kehidupan mistis masyarakat Jawa yang dipadukan dengan kepercayaan akan kekuatan-kekuatan supranatural di luar dirinya, baik kekuatan alam maupun Tuhan (Pitana, 2007). Dalam pandangan Jawa, alam semesta disebut sebagai jagad gedhe (makrokosmos), sedangkan manusia merupakan representasi dari jagad cilik (mikrokosmos). Keduanya memiliki hubungan erat yang tidak terpisahkan. Hubungan antara jagad gedhe dengan jagad cilik inilah yang merupakan manifestasi dari persoalan-persoalan dalam kosmologi Jawa.

Masyarakat Jawa memiliki konsep tentang kepercayaan, mitos, norma, dan pandangan hidup yang di dalamnya terkandung sebuah keyakinan tentang adanya jagad cilik dan jagad gedhe. Jagad cilik dan jagad gedhe berpengaruh pada semua aspek kehidupan karena terdapat kemanunggalan kekuatan. Kemanunggalan tersebut dapat dimaknai bahwa manusia telah menjalin hubungan dengan kekuatan di luar dirinya yang jauh lebih besar, dengan harapan akan dapat terus dipertahankan dalam rangka meningkatkan kekuatan dirinya. Oleh karena itu, masyarakat Jawa senantiasa menjaga keseimbangan dan keselarasan antara mikrokosmos dan makrokosmos, karena seluruh aspek kehidupannya dipengaruhi oleh dua kekuatan tersebut (Haryati, 2017: 181). 

Masyarakat Jawa meyakini bahwa di alam empiris inilah kekuatan-kekuatan abstrak atau supranatural itu berada.

Kosmologi Jawa memandang kehidupan di dunia ini sebagai “satu kesatuan eksistensi” (Mulder, 1996: 19). Hal tersebut mengartikan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia berhubungan satu sama lain dan berkaitan erat dengan alam itu sendiri. Magnis-Suseno, dalam Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, menuliskan bahwa kesatuan eksistensi disebut sebagai kesatuan numinus (baca: pengalaman khas religius yang menyangkut atas kesatuan dengan Yang Ilahi, Yang Adikodrati, dan sebagainya)  yang meliputi alam empiris, manusia, dan alam adikodrati (meta-empiris) yang gaib dan keramat (Magnis-Suseno, 1993: 83-86). Setiap peristiwa yang terjadi, tidak semata-mata merepresentasikan sesuatu yang tampak secara material, melainkan merupakan representasi dimensi yang bercorak transenden—alam gaib yang penuh misteri—dan sekaligus tempat yang memungkinkan manusia untuk menggantungkan dirinya dan menemukan eksistensinya.

Dengan demikian, sesuatu yang nyata adalah alam meta-empiris atau batin. Meskipun alam  bersifat empiris, ia tidak bersifat semu. Ia bersifat riil, kendati realitasnya dangkal tanpa kekuatan. Masyarakat Jawa meyakini bahwa di alam empiris inilah kekuatan-kekuatan abstrak atau supranatural itu berada. Masyarakat Jawa memandang bahwa kehidupan dalam kesatuan eksistensi adalah sebuah eksponen, suatu wayangan atau bayangan dari sesuatu yang lebih tinggi. Mulder mendefinisikan konsep tersebut sebagai sebuah kesatuan dari sebuah keseluruhan yang terkoordinasi, serta sebagai tatanan yang terintegrasi secara hierarkis dan tunduk pada hukum kosmik yang tidak terelakkan (ukum pinesthi) (Mulder, 1996: 19)

Ukum pinesthi tersebut adalah bagian dari sebuah perencanaan besar yang di dalamnya tersusun secara teratur. Segala sesuatu terjadi karena sebuah keharusan. Ia bukan kebetulan semata, karena setiap unsur terkoordinasi dan terintegrasi secara universal dengan semua gejala dalam kosmos. Manusia harus menyesuaikan diri dan hidup selaras dengan hukum alam, melewati garis yang sudah ditetapkan dan tidak bisa mengelak dari apa yang sudah digariskan (Haryati, 2017: 182).  

Hidup selaras dengan alam adalah sebuah kebijaksanaan karena merupakan representasi penjagaan keseimbangan alam semesta. Dalam pandangan Jawa, terdapat dua bagian kosmos ketika merefleksikan keseimbangan, yakni pangiwa dan panengen (Mulder, 1996: 26). Pangiwa mencakup segala unsur jahat, kasar, dan nafsu untuk menghancurkan. Sedangkan panengen mencakup segala unsur yang baik, halus, tenang, dan nafsu untuk membangun. Bagi masyarakat Jawa, sumber malapetaka dan bencana berasal dari bagian pangiwa, yang melingkupi segala unsur jahat. 

Meskipun demikian, bukan berarti bagian pangiwa harus dilenyapkan. Bagaimanapun juga, bagian tersebut secara absolut harus ada di dimensi kosmos. Karenanya, sikap yang harus diambil terhadap malapetaka adalah dengan melindungi diri melalui cara-cara tertentu, seperti “pusaka” dan “sistem tradisi”. Sistem pusaka mendasarkan dirinya pada kesaktian yang terkandung di dalamnya, dengan tujuan untuk melindungi diri individu, kerabat, serta masyarakat desa dan kerajaan dari pangiwa. Adapun, sistem tradisi mendasarkan dirinya sebagai suatu hal yang sakral, serta hal yang harus dihormati dan dikultuskan. Di sisi lain, sanksi-sanksi bercorak religius magis, seperti kuwalat, juga mewarnai keyakinan masyarakat Jawa yang melanggar tradisi.

Semua usaha itu dilakukan dalam rangka menyelaraskan diri dengan keselarasan seluruh realitas dalam kosmos dan berhubungan dengan keyakinan bahwa rancangan kosmis telah “ditetapkan”. Ketetapan tersebut memungkinkan manusia dapat mengetahui kejadian di masa depan. Caranya adalah melalui sebuah sistem klasifikasi menyeluruh yang secara prinsipil memuat gejala pengalaman dan hubungan setiap unsur dengan unsur lainnya (Mulder, 1996: 26).

Klasifikasi ini, menurut Franz Magnis-Suseno, menjadi dasar dari primbon yang di dalamnya memuat sistem perhitungan pétungan, digunakan untuk mengetahui koordinat yang tepat agar manusia mendapat keselamatan dunia dan terhindar dari malapetaka (Magnis-Suseno, 1993: 93). Di samping itu, pétungan  memengaruhi kehidupan sehari-hari orang Jawa dan merupakan sarana yang dapat memberikan harapan serta kedamaian terhadap sesuatu yang akan dilakukan cocok secara kosmis atau tidak. Pétungan memuat konsep-konsep dan rumus-rumus suci yang dapat digunakan untuk mengatasi suatu masalah. Sebuah masalah akan terselesaikan jika dikonseptualisasikan ke dalam bentuk yang cocok dalam sebuah koordinat kosmis yang tepat. Penguasaan manusia terhadap hukum kosmis dapat menjamin eksistensi manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, menurut Magnis-Suseno, Orang Jawa tidak memandang adanya perbedaan antara sikap religius, sikap terhadap alam, dan interaksi sosial di masyarakat (Magnis-Suseno, 1993: 85). Jika manusia mengganggu keselarasan sosial, maka secara kosmik dia membahayakan dirinya sendiri dan anggota masyarakat lainnya. Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh manusia adalah menjaga tatanan sosial dan keteraturan kosmis. Masyarakat seperti itu merupakan cita cita masyarakat Jawa, yaitu sebuah keadaan tata tentrem karta raharja atau keadaan sejahtera, tentram, dan selaras dengan alam serta masyarakat.

Herusatoto, dalam Mitologi Jawa, menuliskan bahwa Orang Jawa tidak akan gegabah dalam bertindak, karena setiap permasalahan tidak terbatas pada dimensi sosial alamiah dan selalu berhubungan erat dengan dimensi meta-empiris (Herusatoto, 2011: vii). Dalam setiap tindakannya, seseorang dituntut untuk bersikap sedemikian rupa sehingga tidak bertabrakan dengan dimensi meta-empiris yang memungkinkan hukum kosmis berlaku di dalamnya. Bagi masyarakat Jawa, hidup selaras dengan alam merupakan sebuah keutamaan. Sehingga, manusia mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan tatanan alam semesta secara selaras. Pergulatan manusia dengan alam empiris (lahir) memungkinkan manusia menemukan kesadaran diri dengan menyelami keadaan batinnya sendiri. Kesadaran ini bukan semata-mata teori mistik yang bersifat spekulatif, melainkan sungguh-sungguh dialami sebagai pengalaman spiritual mendalam melalui rasa (rasa).

Dalam pandangan Magnis-Suseno, rasa, didefinisikan sebagai pengalaman dalam segala dimensi perasaan, yang meliputi perasaan indrawi (perasaan akan kedudukannya dalam medan interaksi), perasaan kesatuan dengan alam semesta, perasaan penentuan eksistensi diri melalui takdir, dan pada akhirnya kesadaran akan kelakuannya sendiri (Magnis-Suseno, 1993: 130-131). Melalui rasa, ruang numinus terbuka lebar bagi manusia untuk diselami karena rasa juga berarti éling (ingat) akan asal usul dirinya sendiri, yakni Yang Ilahi.

Berbagai dimensi rasa dalam ruang numinus mengantarkan manusia pada titik puncak dan pusat segala sesuatu, yakni “Yang Maha Esa” (Hyang Sukma) dan “Hidup” (urip), yang memungkinkan semua eksistensi berasal dan kepada-Nya harus kembali. Pengetahuan akan konsep tersebut disebut sebagai kawruh sangkan paraning dumadi (pengetahuan tentang asal dan tujuan akan segala sesuatu yang diciptakan). “Urip” itu sendirilah yang menghidupkan susunan alam semesta. Susunan alam semesta bersifat hierarkis, berawal dari eksponen eksistensi yang paling kasar, sampai manifestasi yang lebih halus, dan lebih dekat kepada hakikat kebenaran. Hakikat itu biasa disebut “Tuhan”. Namun, apa pun sebutannya, ia tetap merupakan sesuatu yang paling rahasia, paling samar-samar, dan paling hakiki dari semua gagasan (Magnis-Suseno, 1993: 120).  

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa dalam konsep kosmologi masyarakat Jawa, alam memiliki posisi yang penting. Semakin manusia menghayati dirinya sebagai bagian dari alam semesta, dan betapa bermanfaatnya alam bagi hidupnya, manusia akan menemukan keseimbangan batin melalui segi-segi lahiriah alam semesta. Pada akhirnya, manusia akan dengan sendirinya merasa bahwa dirinya memiliki kewajiban moral untuk menghormati alam dan segala sesuatu di dalam keseluruhan susunan kosmos. Mereka akan menerima kehidupan sebagaimana adanya dengan turut mengikuti keselarasan irama alam untuk menumbuhkan kedamaian jiwa dan ketenangan emosi. 

Jika dibandingkan, sesungguhnya kosmologi kontemporer ataupun kosmologi Jawa sejalan dan tidak bertentangan. Keduanya memiliki pandangan yang sama tentang pentingnya keselarasan dan keharmonian di alam semesta. Perbedaannya, masyarakat Barat memahami alam  secara empiris, sedangkan masyarakat Jawa, dengan kearifan lokalnya, memahami alam dengan menggunakan rasa. Kendati demikian, tujuan kedua model kosmologi ini sama, yakni membawa orang pada sikap penghormatan dan penjagaan akan keharmonisan alam semesta. 

Manfaat Kosmologi  Jawa terhadap Etika Lingkungan

Secara teoretis, etika mempunyai dua pengertian (Bertens, 1994: 4-6). Pertama, secara etimologi, etika berasal dari kata ethos dalam bahasa Yunani. Dalam bentuk tunggal, ethos berarti kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan sikap, dan cara berpikir. Dalam bentuk jamak, ethos berarti adat kebiasaan. Dalam arti jamak etika inilah ethos dipakai untuk mendefinisikan filsafat moral. Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, atau tata cara hidup yang baik, terhadap diri seseorang atau masyarakat (Keraf, 2002: 2).

Kedua, etika dipahami sebagai refleksi kritis tentang cara manusia harus hidup dan bertindak dalam situasi konkret atau situasi khusus tertentu. Etika adalah filsafat moral, atau ilmu yang membahas dan mengkaji secara kritis persoalan benar dan salah secara moral, atau tentang cara manusia harus bertindak dalam situasi konkret. Etika juga  mengkaji pandangan manusia tentang manusia, alam, dan hubungannya dengan sesama manusia. 

Etika lingkungan ada pada pengertian kedua. Etika lingkungan, dalam pandangan mayoritas para filsuf moral, merupakan sebuah disiplin filsafat yang berbicara mengenai hubungan moral antara manusia dengan lingkungan atau alam semesta, dan perilaku manusia yang seharusnya terhadap alam. Dalam perkembangan terbaru, etika lingkungan dipandang sebagai sebuah kritik atas etika yang selama ini dianut manusia yang dibatasi pada komunitas sosial manusia (Keraf, 2002: 25-27).  Etika lingkungan juga berbicara mengenai relasi antarsemua kehidupan di alam semesta, yakni dinamika antarmanusia yang mempunyai dampak pada alam dan dinamika antarmanusia dengan makhluk hidup lain. 

Prinsip Etika Lingkungan

Menurut Sonny Keraf, terdapat beberapa prinsip etika lingkungan (Keraf, 2002: 165-178). Pertama, prinsip sikap hormat terhadap alam (respect for nature). Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari keseluruhan alam semesta. Kedua, prinsip tanggung jawab (moral responsibility for future). Secara ontologi, manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Kenyataan ini melahirkan sebuah prinsip moral bahwa manusia mempunyai tanggung jawab terhadap keberadaan dan kelestarian setiap bagian-bagian dalam alam semesta, khususnya setiap makhluk hidup. 

Ketiga, prinsip solidaritas kosmik (cosmic solidarity). Prinsip ini muncul dari kenyataan bahwa  manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Manusia memiliki kedudukan yang setara dengan alam dan semua makhluk hidup lain. Karena kedudukannya setara, muncullah rasa solider, atau rasa sepenanggungan dengan alam dan sesama makhluk hidup lain. Keempat, prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam (caring for nature). Sebagai anggota komunitas  ekologis yang setara, manusia tergugah untuk mencintai, menyayangi, dan memedulikan alam dan seluruh isinya tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. 

Kelima, prinsip tidak merugikan (no harm). Menurut Peter Singer, manusia diperkenankan memanfaatkan isi alam semesta, termasuk binatang, dan tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hanya saja, hal ini perlu dilakukan secara bijaksana (tidak menyakiti binatang, tidak menyebabkan musnahnya spesies tertentu, tidak menyebabkan keanekaragaman rusak, dan tindakan lainnya yang berlebihan dan merusak) dengan tetap menghargai hak binatang serta tumbuhan untuk hidup dan hanya dilakukan sejauh memenuhi kebutuhan hidup manusia yang paling vital.  

Keenam, prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam. Prinsip ini mementingkan nilai, kualitas, serta cara hidup yang baik, dan menomorduakan kekayaan, sarana, serta standar material. Prinsip ini menekankan mutu kehidupan yang baik. Alam telah menyediakan sumber dayanya secara terbatas sehingga kesederhanaan menjadi prinsip fundamental. Bersamaan dengan itu, manusia perlu hidup seadanya sebagaimana alam itu. Manusia harus mengikuti  hukum alam sebagaimana narasi etika lingkungan, yaitu hidup dengan memanfaatkan alam sejauh dibutuhkan dan hidup selaras dengan tuntutan alam itu sendiri.

Keenam prinsip di atas menunjukkan dengan tegas kemampuan manusia dan cara manusia dalam menjaga serta memelihara keselarasan alam dengan tidak melakukan tindakan yang merusak dalam bentuk apa pun terhadap hukum-hukum alam yang menjadi pusat etika lingkungan. Hidup selaras dengan alam artinya menikmati alam  tanpa merusaknya karena alam adalah  tempat manusia hidup-berkembang dan merupakan bentuk sikap hormat pada alam yang sudah menopang kehidupan manusia. Dengan adanya sikap yang demikian, kesimbangan alam semesta terjadi dan keseluruhan kosmos terpelihara. 

Kontribusi Kosmologi Jawa bagi Etika Lingkungan

Di hadapan alam, manusia memiliki tuntutan moral dalam melaksanakan hal yang menjadi kewajibannya sesuai kedudukannya di alam semesta. Hal ini diketahui dan ditemui manusia dalam batinnya sendiri. Keberadaan dimensi rasa-perasaannya menjadi penting, karena dengan rasa itulah dia akan sampai pada Hyang Sukma (Yang Ilahi) atau urip (hidup) sebagai sangkan paraning dumadi. Pengalaman manusia tentang Yang Ilahi yang suci, sakral, dan bernilai memuncak saat hakikat realitas memanifestasikan diri pada alam (Haryati, 2017: 185). Dengan adanya paradigma tersebut, manusia dapat mengubah perilakunya kepada alam sehingga interaksi keduanya menghasilkan harmony in nature. Pentingnya dimensi rasa-perasaan ini penting untuk mengisi adanya krisis batin manusia yang juga digarisbawahi oleh Alfred Gore. Dalam tulisannya berjudul Earth in Balance: Ecology and the Human Spirit, Gore menjelaskan bahwa krisis lingkungan merupakan manifestasi krisis batin karena manusia kehilangan spiritualitas dalam dirinya (Gore, 1993). Ketika manusia kehilangan spiritualitasnya, manusia mengalami kehilangan roh yang selalu menggerakkan. Manusia seolah tercerabut dari identitas dan kesadaran akan siapa dia sebenarnya di tengah alam semesta.

Oleh sebab itu, dapat dilihat bahwa kosmologi Jawa memberikan kontribusi penting dan memperkaya landasan filosofis etika lingkungan (Haryati, 2017: 185-186). Pertama, dalam lanskap ontologi, kosmologi Jawa mengajarkan bahwa di antara manusia dan alam semesta terdapat basis kesatuan. Pandangan ini memberikan bangunan etika lingkungan yang berdasarkan kesadaran bahwa tidak ada jarak antara subjek dan objek sehingga menimbulkan perilaku apresiatif terhadap lingkungan. Semua makhluk di alam semesta memiliki ikatan hidup satu sama lain. Selain itu, nilai-nilai spiritual Jawa dapat mengisi kekosongan pandangan kosmologi yang cenderung antroposentris-positivis yang menjadi mentalitas Pencerahan yang melihat alam tidak lebih dari sekadar materi atau objek.

Kedua, secara epistemologi, kosmologi Jawa memiliki basis rasa yang merupakan sistematisasi pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan yang penuh misteri. Hal ini mampu mengantarkan manusia kepada pengetahuan tentang Tuhan pencipta alam semesta. Oleh karenanya, alam tidak lagi semata-mata bersifat fisik, melainkan juga manifestasi dari Yang Metafisik (Ilahi). Alam akan diperlakukan dan dihormati sebagaimana manusia menghormati Yang Ilahi.

Ketiga, secara praktis, kosmologi Jawa bermuara pada harmony in nature. Hal tersebut merupakan sebuah sikap apresiatif terhadap alam yang merefleksikan tidak adanya jurang pemisah antara subjek dan objek. Refleksi tersebut memungkinkan dilaksanakannya aturan-aturan norma yang dijadikan pedoman perilaku hidup bersama dan tuntutan kebutuhan praktis yang sejalan dengan dimensi etis-antropologis. Kondisi ini memungkinkan inteligensi manusia dapat berperan secara aktif dalam menciptakan sains dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Oleh karenanya, jika dilihat secara cermat sesungguhnya tidak mematikan daya kreatif manusia sekaligus tidak membendung keinginan-keinginan manusia dalam melakukan eksploitasi terhadap alam secara bijaksana.

Refleksi Pribadi

Pertama, gagasan yang benar tentang kosmos amatlah penting. Gagasan menentukan tingkah laku manusia di hadapan alam semesta. Ketika manusia salah memahami, hal-hal buruk yang bisa merusak kosmos maupun manusia itu sendiri menjadi tidak terhindarkan.

Kedua, alam dan manusia setara. Pandangan ini bagi saya amat berkesan karena sebagai manusia kadang saya merasa lebih bermartabat, mulia, dan berkuasa dari segala nonmanusia (hewan, tumbuhan, dsb.). Oleh karenanya, tidak ada rasa hormat dan penghargaan terhadap alam dan makhluk ciptaan lain di alam semesta.  

Ketiga, alam semesta dan isinya adalah misteri. Masih ada banyak di alam semesta yang belum saya pahami sepenuhnya. Masih terdapat sejumlah misteri yang membingungkan. Oleh sebab itu, perspektif menarasikan bahwa manusia adalah segalanya dan bebas menggunakan alam semesta seenaknya adalah sebuah kekeliruan, karena seolah-olah manusia sudah menguasai alam. Padahal, hal yang saya lihat dan pahami baru sangat sedikit.

Keempat, kosmos adalah karya Ilahi. Sudah banyak ilmuwan yang mencoba menganalisis dan mendefinisikan alam semesta. Meskipun demikian, jawaban yang ditemukan masih selalu meninggalkan ruang kosong atau misteri yang sukar dipecahkan. Pada saat yang sama, alam semesta serta segala hal yang menyokongnya berjalan bagaikan sebuah mahakarya yang luar biasa. Mereka berjalan secara teratur, tertata, dan sempurna sehingga memungkinkan saya dan makhluk hidup lain tetap bisa hidup di alam semesta ini. 

Kelima, cinta terhadap alam semesta. Dari kosmologi Jawa, penulis belajar untuk mencintai alam semesta. Mengapa? Karena sejak lahir, sepanjang hidup penulis, sampai akhirnya penulis harus meninggalkan kehidupan ini, penulis berpijak dan menggantungkan diri pada kemurahan hati alam semesta. Aktivitas perusakan alam semesta adalah sebuah tindakan yang merusak dan merugikan diri sendiri. Dengan kata lain, tindakan mencintai alam semesta adalah sebuah keharusan. Sebab, alam adalah diri penulis juga dan penulis pun ada di alam semesta yang maha indah ini. 

Kesimpulan

Pandangan kosmologi Jawa secara jelas menunjukkan bahwa asal-usul kehidupan berasal dari Allah Yang Maha Esa atau Hyang Sukma sebagai asal-usul dan tujuan manusia diciptakan. Kosmologi Jawa membuat pemahaman akan memahami posisi manusia di alam menjadi lebih jelas. Oleh sebab itu, jika manusia sadar akan posisinya di alam secara tepat (sesuai pandangan Jawa), maka manusia akan mengalami perubahan sikap menjadi lebih hormat, bijak, apresiatif, dan mencintai alam. Manusia akan memperlakukan alam bukan lagi sebagai objek pemuas hasrat tak terbatasnya, melainkan sebagai bagian dari dirinya sendiri yang perlu dijaga, dirawat, dan dihormati kelestariannya. Hal ini menunjukkan bahwa ada keselarasan antara kosmologi kontemporer dan kosmologi Jawa dalam memandang alam semesta. Kendati keduanya memiliki perbedaan dalam cara memahami, kosmologi kontemporer menggunakan pendekatan empiris dan kosmologi Jawa menggunakan rasa, keduanya sama-sama melihat alam sebagai suatu kesatuan dan tak dapat dipisahkan. Dengan demikian, manusia sebagai entitas yang hidup di alam wajib menjaga dan melestarikan keharmonisan alam semesta.

_______________________

Referensi

Bertens, K. Etika. Gramedia: Jakarta, 1994. 

Borrong, R. P. Etika Bumi Baru; Ekses Etika dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. BPK Gunung Mulia: Jakarta, Cet. ke-2, 2000.

Cox , H. The Secular City. Macmillan Publishing: New York, 1987.

Gore, A.  “Earth in Balance: Ecology and the Human Spirit” dalam Journal of Leisure Research, 25/2, 1993. 

Hardin, G. “Extensions of: The Tragedy of the Commons” dalam Science. 280/5364 1998

Keraf, A. S.  Etika Lingkungan. Kompas: Jakarta, 2002.

Mulder, N. 1996. Pribadi dan Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Haryati, T. A.. “Etika Jawa Sebagai Landasan Filosofis Etika Lingkungan,” dalam Journal Religia: ISSN 1411-1632. Vol. 20, No.2, 2017.

Pals, D. L.  (Ed). Seven Theories of Religion. New York: Oxford University Press, 1996.

Supelli, K. Dari Kosmologi ke Dialog: Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme. Mizan: Jakarta, 2011.

Supelli, K. “Kosmologi: Bercanda dengan Tuhan” dalam Zainal Abidin Bagir, dkk.ed, Ilmu, Etika, dan Agama – Menyingkap Tabir Alam dan Manusia. Yogyakarta: Center for Religious and Cross-Cultural Studies Graduate School Universitas Gadjah Mada, 2006. 

Suseno, F. M.  Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia, 1993.

Tjahya, T. H. Kosmos: tanda Keagungan Allah-refleksi Menurut Louis Bouyer. Kanisius: Yogyakarta, 2002.

Wood, H.  J. “Modern Pantheism as an Approach to Environmental Ethics” dalam Jurnal Environmental Ethics, 7/2, 1985.

Facebook Comments
Author Profile

Peminat filsafat dan ilmu-ilmu Sosial, tinggal di Jakarta